Aku tidak tahu banyak tentang
keluarga yang membeliku dan menjadikanku sebagai bagian dari mereka. Tapi aku
bisa menceritakan kepadamu riwayat diriku sendiri pada saat aku diletakkan
keluarga ini di sudut dapur yang tak terlalu besar, hingga delapan tahun
kemudian aku dijual kembali kepada seseorang yang menumpuk benda sepertiku. Sebelum aku memulai cerita, aku ingin memberitahumu bahwa aku hanyalah sebuah kulkas.
Aku tak mengerti banyak mengenai
perasaan manusia. Tentunya, karena aku adalah kulkas. Aku memandang segala
kegiatan pemilikku dengan kedinginan es yang menempel di langit-langitku.
Meskipun pantatku sendiri panas, bahkan menjadi sangat panas dalam keadaan
tertentu. Konsep waktu aku pahami sesederhana palenteolog mengerti umur sebuah fosil atau
bebatuan dari materi-materi yang dikandungnya. Begitu juga aku mengerti konsep
waktu dengan mengukur karat yang ada di bokongku, serta lumut dan kuman dan
bakteri yang menempel di setiap sudut dalam perutku. Tapi aku sedikit bohong
mengenai tak mengerti perasaan manusia, meskipun aku memandang mereka dengan acuh tak acuh, aku bisa memahaminya dari
apa saja yang mereka simpan di dalam perutku.
Aku dibeli oleh sepasang pemuda berumur 20an dari sebuah toko elektronik milik seorang pedagang Cina. Aku diletakkan
oleh mereka di sudut dapur di dalam rumah yang sepertinya baru mereka tempati. Aku
mengetahuinya dari cat rumah itu yang masih tampak baru, serta perabotan lain
seperti ranjang, meja, sofa, televisi, vas bunga, kompor gas, dan lain-lain,
bersamaan saat mereka membawaku ke rumah yang sama. Meskipun kami tinggal di
rumah yang sama, tapi antara perabotan rumah, kami tak saling bicara, bahkan
sekadar tegur sapa. Entahlah, aku tak tahu cara berbicara dengan mereka semua.
Padamulanya aku memiliki kondisi yang
baik. Pemilikku yang sepertinya seorang wanita rajin membersihkanku setiap
seminggu sekali. Pemilikku yang satunya lagi, seorang lelaki, hanya kadang-kadang
saja membersihkanku. Ia lebih
sering membukaku hanya untuk mencari minuman dingin. Berbicara soal minuman
dingin, itu
adalah satu-satunya minuman berpengawet yang terdapat di dalam perutku, sebut
saja Cola, Fanta dan sejenisnya. Selebihnya perutku lebih sering diisi oleh
bahan-bahan
makanan segar seperti ikan, daging ayam atau daging sapi, berbagai macam sayuran seperti
bayam, kangkung, sesin, rebung. Selain itu, pemilikku yang wanita juga sering
meletakkan cabai, tomat, mentimun, juga buah-buahan seperti mangga, apel, jeruk, terkadang semangka atau melon. Setidaknya hingga tiga tahun aku berada di rumah
ini, variasi dari bahan makanan segar itu hampir pasti selalu ada, dengan
beberapa kaleng minuman dingin tentunya.
“Kau harus mulai mengurangi minuman
ini, Sayang,” kata pemilikku yang wanita pada saat membuka pintuku. Wanita ini
memanggil lelakinya, Sayang. “Ini tidak baik untuk kesehatanmu, pemicu diabetes
dan obesitas nomor satu. Kalau kau tidak berhenti, aku bisa menjamin tiga tahun
kemudian kau akan menjadi bapak berperut tambun.”
“Ambilkan saja Cola itu, Cinta,” kata
sebuah suara lelaki yang bernama Sayang itu di ujung sana, kepada wanita yang
dipanggilnya Cinta.
“Aku akan mengangsur untuk menguranginya. Hei, setidaknya aku tidak minum bir
atau sejenisnya.”
“Aku ikut lega mendengarnya. Tapi kau
selalu saja bilang ingin berhenti. Setiap pulang bekerja kau langsung meminum
minuman tak sehat ini. Lihatlah perutmu sekarang, sudah mulai membulat,” kata
Cinta kepada Sayang sambil perlahan menutup pintuku.
Pada saat pintuku tertutup aku
mendengar Sayang berkata, “Cinta, perutmu juga sudah semakin membulat sekarang.”
Lalu aku melihat mereka melakukan apa yang disebut manusia sebagai berpelukan dan
berciuman. Aku tak tahu bagaimana rasanya berpelukan dan berciuman. Karena aku
tak bisa membayangkan melakukannya dengan sesama kulkas.
Setelah setahun berlalu, secara
bertahap daging ayam, ikan atau daging sapi semakin jarang berada di perutku.
Entah kenapa, Cinta semakin jarang meletakkannya. Ia menggantinya dengan bahan
makanan seperti daging nugget, daging ham kalengan dan sejenisnya. “Kau tak bisa tahan
hingga berminggu-minggu. Baumu busuk!” kata Cinta suatu hari saat membuka
pintuku dan membuang bahan-bahan makanan yang sudah lama tak tersentuh di dalamku. “Lagian karena
sekarang sering lembur, suamiku lebih sering makan di luar.”
Selain bahan-bahan makanan segar yang
sudah jarang ada, di dalam perutku sekarang terdapat beberapa makanan seperti
bubur atau susu bubuk yang terbungkus di dalam kotak, yang di permukaannya
terdapat gambar wanita sedang menggendong seorang manusia kecil. Cinta akan
buru-buru membukaku dan mengambil kotak itu saat suara seorang manusia kecil
merengek terdengar dari kejauhan. Mungkin itu anggota baru keluarga ini. Cinta
akan berkata, “Sebentar, Sayang. Mama akan mengambilkan susumu,” lalu menutupku.
Tiga tahun kemudian, seorang bocah manusia
membuka pintuku, matanya menjelajahi isi perutku seperti sedang mencari
sesuatu. Bocah ini juga disebut Sayang oleh Cinta, sama seperti yang
dilakukannya kepada lelaki yang lebih besar di keluarga ini. Seorang Sayang
junior.
“Mama. Di mana kau letakkan agar-agarnya?”
kata Sayang junior, matanya masih memindai isi perutku.
“Coba kau cari di rak nomor dua dari
atas. Di belakang kaleng-kaleng daging!” kata suara seseorang yang dipanggil
anak itu Mama, sepertinya itu suara Cinta.
Sepasang mata anak itu berbinar menemukan makanan
yang dicarinya, ia semringah lalu menutupku. Baiklah, sekarang di
dalam perutku juga ada agar-agar, terkadang puding atau jelly. Di dalam
pendinginku juga sering ada tumpukan es dalam bungkus kecil yang berwarna
merah, kuning, hijau. Semenjak itu, Sayang junior sering bolak-balik kepadaku
untuk mengambil makanan-makanan itu. Cinta sesekali masih memasukkan cabai dan
tomat, meskipun hanya sesekali ia mengambil mereka. Sehingga seringkali,
bahan-bahan makanan itu menjadi membusuk di dalam diriku. Aku ingin memberitahumu,
empat tahun berlalu semenjak keberadaanku di keluarga ini, semakin jarang saja
ia membersihkanku. Terkadang sebulan sekali ia sempatkan melakukannya. Tapi, lebih sering tiga
bulan sampai lima bulan, ia baru ingat untuk membersihkanku, ketika dinding-dindingku sudah penuh
dengan lumut yang membeku dan cairan entah apa tertumpah di sana-sini.
Pada suatu hari, tiba-tiba saja
pendinginku mati. Aku merasa sudah terlalu lelah mendinginkan bahan makanan untuk
bertahun-tahun. Seandainya saja Cinta rutin merawat dan membersihkanku seperti
awal-awal aku berada di rumah ini, umurku mungkin bisa lebih panjang. Semua isi di
dalam perutku dikeluarkan, lalu aku
dibawa oleh dua orang yang tak kukenal ke sebuah tempat, tempat kulkas-kulkas sepertiku
berada. Kulkas-kulkas yang sepertinya berumur lebih tua dariku. Kami tidak
berbicara satu sama lain. Meskipun sesama kulkas, kami tidak menemukan cara
untuk berkomunikasi.
Setelah berminggu-minggu aku berada
di sana dan seseorang yang tak kukenal mempreteli kulit dan pantatku, lalu
mencopot beberapa mur dan mengganti sesuatu di dalamnya, aku dibawa kembali kepada
keluarga ini. Aku tak paham seperti apa perasaan bahagia yang terkadang disebut-sebut oleh
Cinta dan Sayang dengan suara tinggi. Tapi aku menemukan arti keberadaanku di
dalam keluarga ini, saat Cinta menggunakanku sebagai tempat penyimpanan
makanannya sehari-hari.
Sudah lama aku tak pernah bertemu
dengan Sayang, dan pada suatu malam tiba-tiba ia membuka pintuku. Perutnya benar-benar membulat, wajahnya
terlihat dingin, sebeku es yang menempel di pendinginku.
“Brengsek. Kemana kau taruh soft drink-ku? Kenapa di dalam kulkas
sialan ini tidak ada bir atau semacamnya?” kata Sayang dengan suara tinggi.
“Kenapa kau pulang selarut ini? dan
sejak kapan kau minum Bir? Kau pasti mabuk! Mulutmu bau alkohol dan pelacur!”
balas Cinta tak kalah sengit.
“Diam saja kau. Kau hanya ibu rumah tangga.
Tahu apa kau mengenaiku!” kata Sayang dengan membanting pintuku keras-keras.
Beberapa hari kemudian isi perutku
hanya depenuhi berbagai macam bir, melulu bir, lebih sering Bir Bintang atau
Heineken. Bahan makanan segar yang telah berada lebih dulu dibiarkan saja membusuk, dan tak pernah lagi aku melihat
Cinta menyentuhnya.
Untuk beberapa waktu yang cukup lama aku tak lagi menemukan Cinta membuka
pintuku. Tapi pada suatu malam, seorang wanita lain yang sebelumnya tak pernah
berada di rumah ini membukaku dan
mengambil dua kaleng bir yang berada di dalam.
“Bir kita tinggal satu, Honey,” kata suara wanita itu suatu
kali. “Apakah aku perlu membelinya lagi di supermarket terdekat. Ya ampun. Isi
kulkasmu ini sudah kotor sekali. Suruhlah seseorang membersihkannya! Atau kau
ganti saja dengan yang lain. Dengan yang lebih besar. Siang ini aku melihat
sebuah kulkas tiga pintu yang cantik di Mal.”
Ia meninggalkanku dalam keadaan pintuku
terbuka lebar. Esok hari, wanita itu kembali dengan membawa plastik berisi bir-bir kalengan. “Ya ampun. Semalaman aku lupa
menutupnya,”
katanya lalu berjongkok dan meletakkan kaleng-kaleng bir itu di dalamku.
“Berikan aku satu, Honey,” kata Sayang dari belakang. Mereka
memanggil satu sama lain dengan nama Honey.
“Bagaimana kalau besok kita melihat-lihat kulkas yang tempo hari kau lihat itu.
Kulkas ini sudah begitu usang dan sudah layak dibuang.”
“Benarkah, Honey. Aku tahu aku sangat mencintaimu,” kata
wanita itu memeluk Sayang dan memagut
bibirnya. Tetap saja ia membiarkan pintuku terbuka.
Delapan tahun berlalu dan aku
tak lagi bertemu dengan Cinta dan Sayang junior. Sudah tiga tahun berselang
semenjak Cinta mengambil tomat terakhir yang membusuk di dalam perutku. Sepertinya Cinta dan
Sayang junior sudah tak tinggal lagi di rumah ini. Aku lebih sering bertemu
dengan wanita asing yang dipanggil Sayang dengan sebutan Honey. Dan demi Tukang yang Menciptakanku, ia selalu lupa menutup
pintuku. Belakangan aku juga sering mati tanpa sebab. Dan dengan sedikit
memukul dan menendang tubuhku, Sayang berhasil membuat dinginku berfungsi
kembali. Beberapa perabotan yang dulu datang bersamaku kini sudah
tidak ada, berganti dengan perabotan baru yang
terlihat lebih cantik dan modern. Dan kau tahu, sudah dua hari di sebelahku
terletak sebuah kulkas berwarna merah dengan ukuran dua kali lebih besar
tubuhku. Aku ingin bertanya namanya tapi aku tak tahu cara melakukannya. Kita
seperti sepasang kulkas yang tak saling kenal.
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar