Jumat, 25 Desember 2015

Anyaman Rumput Ibu





Sudah dua puluh empat tahun lamanya ia menyaksikan ibunya menganyam rumput—ibunya pernah bercerita saat Esha masih dalam kandungan pun ibunya sudah mulai menganyam sambil si jabang bayi menendang-nendang perut. Namun hingga kini ia tumbuh menjadi seorang pemuda, ia tak pernah mendapat jawaban bagaiamana ibunya bisa menganyam begitu profesional. Meskipun di zaman serba canggih ini ia tak pernah mendengar bahwa penganyam rumput adalah pekerjaan yang profesional, ibunya bisa menganyam hampir sambil melakukan apa pun.

Seringkali ia menyaksikan ibunya yang sedang menganyam dengan wajah yang sedang tertidur. Ia ragu apakah ibunya benar-benar tertidur atau hanya pura-pura tidur sambil menganyam. Wajah ibunya seperti benar-benar tertidur namun tangannya masih gesit saja merajut dua bilah rumput menjadi sebuah pola anyaman yang fungsional—Esha tak pernah menyebutnya artistik karena hasil anyaman ibu memang untuk dijual di pasar. Sebuah anyaman yang fungsinya praktis saja, seperti tikar atau tas. Ia lalu bertanya tentang kebiasaan ibunya tersebut.

“Ibu memang tertidur.”

“Tapi itu tangan ibu masih terus menganyam?”

“Ibu juga memang menganyam.”

Esha garuk-garuk kepala tak mengerti. Ibunya juga tak melanjutkan kenapa ia bisa melakukannya seperti itu. Dalam hal berbicara pun ibunya juga termasuk pribadi yang praktis, ia tak berbicara yang tak perlu seperti seorang ibu yang cerewet seharusnya. Ibu selalu menganyam hampir-hampir dalam keadaan diam. Terkadang ia lakukan sambil memasak lauk makan mereka, terkadang ia juga melakukannya sambil mengasuh si kembar yang masih balita—lebih sering sambil menonton televisi. Sosialita-sosialita di televisi menyebutnya multitasking. Meskipun istilah multitasking terlalu modern untuk bisa disematkan kepada kebiasaan ibunya ini.

Semakin bertambahnya hari, guratan kerut di wajah ibu juga semakin kuat detailnya, seperti anyaman yang ia kerjakan sendiri. Esha sebagai anak pertama dan Dewi adiknya yang duduk di bangku kelas dua SMA hanya bisa membantu sedikit-sedikit saja. Keikutsertaan mereka menolong ibu jika digabungkan, taklah sampai dua puluh persen kemampuan ibu. Bahkan jika boleh dikatakan jujur, Esha dan Dewi justru hanya merepotkan ibunya. Namun mereka berdua, Esha khususnya tak sampai hati melihat ibu mengerjakannya sendiri.

“Bagaimana penjualan tikar dan tas ibu di pasar?”

“Cukuplah untuk makan kita berlima dan untuk biaya sekolah adikmu.”

“Tapi semakin lama umur ibu semakin tua. Dan Si Kembar masihlah kecil. Dewi juga masih setahun lagi hingga dia lulus dan bisa mencari kerja. Minggu lalu ibu sampai tak menganyam karena sakit.”

“Tak usahlah menjadi melowdramatis seperti itu. Ibu masih sanggup hingga sepuluh tahun lagi.”

Akhir-akhir ini muncul bahasa aneh-aneh dari mulut ibu. Ia juga gemar menganyam sambil menonton sinetron. Meskipun hemat berkata, tak jarang ia melontarkan kalimat seperti sosialita-sosialita di televisi itu.

“Kau sendiri apakah tulisanmu sudah dimuat koran?”

“Hehe. Belum, Bu. Tapi Esha yakin pasti akan dimuat cepat atau lambat.”

“Kerjaanmu itu baca terus, nulis terus. Tapi enggak ada yang dimuat-muat. Mbok punya pekerjaan ya realistis aja.”

Esha bercita-cita menjadi penulis. Memang, cita-cita tersebut terlalu mewah untuk dirinya yang tumbuh dalam keluarga berekonomi pas-pasan. Namun semenjak SD dulu ia yakin, cita-citanya bukanlah menjadi dokter atau polisi atau presiden seperti teman-temannya selalu sebutkan. Ketika teman-teman sebayanya baru pandai menulis: Ibu pergi ke pasar. Esha sudah bisa menulis: Ibu menganyam hidup dengan rumput. Tak hanya itu, Esha memiliki mimpi yang sedari bocah masih diingatnya, yaitu terbang di atas pesawat kertas yang dibikinnya sendiri. Ia yakin, mimpi itu adalah isyarat Tuhan tentang arti hadirnya di dunia.

“Sudahlah, mbok ijazah SMA-mu itu dipakai buat ngelamar di pabrik saja. Pabrik biskuit di depan itu sedang buka lowongan. Teman sebayamu saja sekarang sudah jadi supervisor.”

Sebenarnya Esha sudah sering mendengar sindiran ibunya yang membangga-banggakan teman-temannya yang telah berhasil; menjadi supervisor, menjadi pegawai bank atau menjadi PNS—berhasil menurut Ibu adalah memiliki pekerjaan tetap dan gaji tetap bulanan. Tapi Esha hanya bisa diam mendengar sindiran ibunya tersebut. Ia yakin menulis adalah jalan hidupnya persis seperti menganyam rumput adalah jalan hidup ibu.

Di waktu seperti ini adalah waktu ketika Dewi pulang dari sekolahnya dan tepat lima menit kemudian si kembar bangun dari tidurnya. Dewi yang baru pulang sekolah dan belum lagi sempat berganti baju langsung berinisiatif untuk menggantikan ibunya mengasuh adik-adiknya. Ibunya masih terus menganyam sambil matanya mengikuti setiap gerik anak keduanya itu masuk pintu tanpa ucapan salam. Ibunya memerhatikan Dewi sedang sibuk menekurkan kepala di telpon-pintar buatan Cina yang dibelinya dalam kondisi second. Kadang Ibunya menyaksikan Dewi cekikikan sendirian mengutak-atik telpon-pintarnya. Dewi juga multitasking. Sama seperti ibu, ia hampir melakukan setiap pekerjaan secara bersamaan dalam satu waktu. Bedanya, ibu melakukannya sambil menganyam sedang Dewi asyik sambil bermain telpon-pintarnya itu.

“Bagaimana, apakah ada orang di sekolahmu yang memesan tikar atau tas ibu?”

“Hmmm, belum ada, Bu. Enggak tau. Enggak ada yang minat kali.”

“Loh apakah sudah kau bilang ke guru-guru dan teman-temanmu?”

“Udah kok. Tapi kayaknya gak ada yang tertarik. Mereka lebih suka tikar atau tas dari bahan pabrikan.”

“Mereka belum lihat saja buatan ibu. Belum ngerasain ademnya duduk di tikar rumput ini.”

Tapi Dewi tak melanjutkan percakapan dengan Ibu. Ia terlihat lebih asyik tenggelam dalam telepon-pintar buatan Cina itu. Itu adalah percakapan yang hampir setiap hari terjadi di dalam keluarga ini. Meskipun tidak bisa dikatakan seperti rekaman video yang diulang-ulang, hanya pilihan kata dan diksi saja yang berbeda dengan tetap membawa muatan pesan yang sama. Tak berapa lama setelah itu pula, kedua adik kembar mereka merengek meminta dibikinkan susu instan kental manis. Dewi yang saat itu sedang bersantai sepulang sekolah langsung berdiri untuk menuju sumber suara yang sebenarnya sangat mengganggu telinga. Tapi karena suara bising itu pun sudah menjadi rutinitas, mereka pun menanggapinya dengan biasa sama seperti orang-orang telah terbiasa berada di tengah kegaduhan lalu lintas yang macet dan bising.

Si kembar yang sudah hampir berumur lima tahun sering bertanya ke siapa pun anggota keluarga tersebut, tentang bapak. Semuanya sepakat menjawab; bapak telah mati. Meskipun bapak mereka sebenarnya masih hidup dan tak tahu di mana, bagi keluarga itu bapak sudahlah tak ada di dunia ini.

Esha masih teringat, adegan dramatis terakhir bapaknya berada di rumah itu. Waktu itu ibu sedang hamil delapan bulan. Perut ibu lebih besar dari perut ibu hamil biasanya. Dua bulan menjelang lahirnya si kembar ibu sempat menghentikan kegiatan menganyamnya. Perut ibu sering kontraksi yang mengakibatkan ia sering kesakitan tak berdaya. Namun ibu sadar, jika ia tak menganyam keluarga mereka taklah bisa makan. Sedangkan bapak selalu pulang dalam keadaan bau arak menjelang pagi merekah.

Masih membekas jelas di dalam ingatannya cara bapak menampar ibu. Raut wajah bapak yang dirasuki setan itu terus menghantui mimpi-mimpinya di kemudian hari—yang menginspirasi setiap cerpen yang dibuatnya. Esha senang sekali menulis cerpen di mana setiap tokohnya adalah seseorang atau sebuah keluarga yang kepala rumahtangganya lebih senang mabuk-mabukan dan bermain dengan perempuan dibanding menjadi bapak rumahtangga yang bertanggungjawab terhadap keluarganya. Apa pun tema ceritanya selalu saja ada tokoh yang seperti itu. Baginya itu seperti sebuah puisi gelap yang terus datang ke dalam mimpi lalu mau tak mau harus dituliskan agar tak membuatnya uring-uringan setiap hari.

Berkali-kali ceritanya jatuh menjadi cerita yang melowdramatis di mana sang keluarga menjadi hidup susah yang menerbitkan perasaan harunya sendiri. Mungkin itu sebabnya cerpen-cerpennya yang jumlahnya puluhan itu belum lagi ada yang dimuat. Mungkin redaktur cerpen minggu yang membaca setiap kisahnya berpendapat setiap kisah yang dikirim Esha adalah sebuah klise. Tapi bagi Esha, mau bagaimana lagi, hanya itulah gagasan yang sering muncul di kepalanya yang membuatnya begitu lancar menulis seperti orang kesurupan.

Keluarganya sendiri taklah semenyedihkan seperti cerpen-cerpen yang ditulisnya. Di sela-sela kesibukan, mereka sekeluarga senang berkelakar mengenai barang-barang yang ingin mereka miliki ketika sudah sukses nanti. Dewi sangat hapal merek-merek gadget terkini. Di setiap kesempatan mereka berkumpul tak pernah ketinggalan ia menyebarkan informasi ke telinga ibu atau kakaknya tentang perang gadget perusahaan raksasa ponsel-pintar antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.

“Aku ingin membeli yang seperti ini. Fiturnya keren. Layarnya lebar tapi tetap ringan di tangan. Aku ingin membelinya kalau sudah kerja nanti.”

“Memangnya ada masalah dengan hapemu yang sekarang?”

Enggak ada. Cuma ini sudah ketinggalan zaman.”

Terkadang mereka juga bercerita tentang memiliki mobil. Menurut Dewi dengan punya mobil usaha ibu pun akan lebih mudah terdistribusi. Terkadang juga membicarakan perabotan canggih yang mereka saksikan di iklan televisi. Mereka membicarakan tetek-bengek itu dengan biasa saja, sama seperti mereka membicarakan panasnya cuaca atau hujan yang tak tahu kapan akan berhenti, berganti. Tanpa menyinggung-nyinggung perihal bapak mereka kalau si kembar luput bertanya di mana bapaknya saat ini. Tapi jika ditanya demikian mereka sepakat, kalau bapak sudah mati.


Dan seiring berjalannya waktu dan rutinitas, Esha mulai kesulitan menulis. Jika biasanya dalam sebulan ia bisa menghasilkan delapan cerpen, di bulan ini ia hanya menulis satu cerpen dan itu pun belum selesai. Sekarang ia lebih rajin untuk membantu ibunya menganyam sambil sekali-sekali mencoba melamar pekerjaan. Semakin dilihat gurat wajah ibu semakin tegas dan terpola garis dan kerutnya seperti anyaman yang dibuatnya sendiri. Esha mulai resah kalau ia hanya melulu hidup di dalam mimpinya, melayang-layang di atas pesawat kertas di siang bolong saat ibunya terus menganyam hidup keluarga mereka. Mungkin untuk waktu yang tak terlalu lama lagi.

-Hizbul Ridho, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar