Sudah dua puluh empat tahun lamanya ia
menyaksikan ibunya menganyam rumput—ibunya pernah bercerita saat Esha masih
dalam kandungan pun ibunya sudah mulai menganyam sambil si jabang bayi
menendang-nendang perut. Namun hingga kini ia tumbuh menjadi seorang pemuda, ia
tak pernah mendapat jawaban bagaiamana ibunya bisa menganyam begitu
profesional. Meskipun di zaman serba canggih ini ia tak pernah mendengar bahwa
penganyam rumput adalah pekerjaan yang profesional, ibunya bisa menganyam hampir sambil
melakukan apa pun.
Seringkali ia menyaksikan ibunya yang
sedang menganyam dengan wajah yang sedang tertidur. Ia ragu apakah ibunya
benar-benar tertidur atau hanya pura-pura tidur sambil menganyam. Wajah ibunya
seperti benar-benar tertidur namun tangannya masih gesit saja merajut dua bilah
rumput menjadi sebuah pola anyaman yang fungsional—Esha tak pernah menyebutnya
artistik karena hasil anyaman ibu memang untuk dijual di pasar. Sebuah anyaman
yang fungsinya praktis saja, seperti tikar atau tas. Ia lalu bertanya tentang
kebiasaan ibunya tersebut.
“Ibu memang tertidur.”
“Tapi itu tangan ibu masih terus
menganyam?”
“Ibu juga memang menganyam.”
Esha garuk-garuk kepala tak mengerti.
Ibunya juga tak melanjutkan kenapa ia bisa melakukannya seperti itu. Dalam hal
berbicara pun ibunya juga termasuk pribadi yang praktis, ia tak berbicara yang
tak perlu seperti seorang ibu yang cerewet seharusnya. Ibu selalu menganyam
hampir-hampir dalam keadaan diam. Terkadang ia lakukan sambil memasak lauk
makan mereka, terkadang ia juga melakukannya sambil mengasuh si kembar yang
masih balita—lebih sering sambil menonton televisi. Sosialita-sosialita di
televisi menyebutnya multitasking.
Meskipun istilah multitasking terlalu
modern untuk bisa disematkan kepada kebiasaan ibunya ini.
Semakin bertambahnya hari, guratan
kerut di wajah ibu juga semakin kuat detailnya, seperti anyaman yang ia
kerjakan sendiri. Esha sebagai anak pertama dan Dewi adiknya yang duduk di
bangku kelas dua SMA hanya bisa membantu sedikit-sedikit saja. Keikutsertaan mereka menolong
ibu jika digabungkan, taklah sampai dua puluh persen kemampuan ibu. Bahkan jika
boleh dikatakan jujur,
Esha dan Dewi
justru hanya merepotkan ibunya. Namun mereka berdua, Esha khususnya tak sampai
hati melihat ibu mengerjakannya sendiri.
“Bagaimana penjualan tikar dan tas ibu
di pasar?”
“Cukuplah untuk makan kita berlima dan
untuk biaya sekolah adikmu.”
“Tapi semakin lama umur ibu semakin
tua. Dan Si Kembar masihlah kecil. Dewi juga masih setahun lagi hingga dia
lulus dan bisa mencari kerja. Minggu lalu ibu sampai tak menganyam karena
sakit.”
“Tak usahlah menjadi melowdramatis
seperti itu. Ibu masih sanggup hingga sepuluh tahun lagi.”
Akhir-akhir ini muncul bahasa aneh-aneh
dari mulut ibu. Ia juga gemar menganyam sambil menonton sinetron. Meskipun
hemat berkata, tak jarang ia melontarkan kalimat seperti sosialita-sosialita di
televisi itu.
“Kau sendiri apakah tulisanmu sudah
dimuat koran?”
“Hehe. Belum, Bu. Tapi Esha yakin pasti akan dimuat
cepat atau lambat.”
“Kerjaanmu itu baca terus, nulis terus. Tapi enggak ada yang
dimuat-muat. Mbok punya pekerjaan ya realistis aja.”
Esha bercita-cita menjadi penulis.
Memang, cita-cita tersebut terlalu mewah untuk dirinya yang tumbuh dalam keluarga
berekonomi pas-pasan. Namun semenjak SD dulu ia yakin, cita-citanya bukanlah
menjadi dokter atau polisi atau presiden seperti teman-temannya selalu
sebutkan. Ketika teman-teman sebayanya baru pandai menulis: Ibu pergi ke pasar.
Esha sudah bisa menulis: Ibu menganyam hidup dengan rumput. Tak hanya itu, Esha
memiliki mimpi yang sedari bocah
masih diingatnya, yaitu terbang di atas pesawat kertas yang dibikinnya sendiri.
Ia yakin, mimpi itu adalah isyarat Tuhan tentang arti hadirnya di dunia.
“Sudahlah, mbok ijazah SMA-mu itu
dipakai buat ngelamar di pabrik saja. Pabrik biskuit di depan itu sedang buka
lowongan. Teman sebayamu saja sekarang sudah jadi supervisor.”
Sebenarnya Esha sudah sering mendengar
sindiran ibunya yang membangga-banggakan teman-temannya yang telah berhasil;
menjadi supervisor, menjadi pegawai bank atau menjadi PNS—berhasil menurut Ibu
adalah memiliki pekerjaan tetap dan gaji tetap bulanan. Tapi Esha hanya bisa
diam mendengar sindiran ibunya tersebut. Ia yakin menulis adalah jalan hidupnya
persis seperti menganyam rumput adalah jalan hidup ibu.
Di waktu seperti ini adalah waktu
ketika Dewi pulang dari sekolahnya dan tepat lima menit kemudian si kembar
bangun dari tidurnya. Dewi yang baru pulang sekolah dan belum lagi sempat
berganti baju langsung berinisiatif untuk menggantikan ibunya mengasuh adik-adiknya.
Ibunya masih terus menganyam sambil matanya mengikuti setiap gerik anak
keduanya itu masuk pintu tanpa ucapan salam. Ibunya memerhatikan Dewi sedang sibuk
menekurkan kepala di telpon-pintar
buatan Cina yang dibelinya dalam kondisi second.
Kadang Ibunya menyaksikan Dewi cekikikan sendirian mengutak-atik telpon-pintarnya. Dewi
juga multitasking. Sama seperti ibu,
ia hampir melakukan setiap pekerjaan secara bersamaan dalam satu waktu.
Bedanya, ibu melakukannya sambil menganyam sedang Dewi asyik sambil bermain
telpon-pintarnya itu.
“Bagaimana, apakah ada orang di
sekolahmu yang memesan tikar atau tas ibu?”
“Hmmm, belum ada, Bu. Enggak
tau. Enggak
ada yang minat kali.”
“Loh apakah sudah kau bilang ke
guru-guru dan teman-temanmu?”
“Udah kok. Tapi kayaknya gak ada yang
tertarik. Mereka lebih suka tikar atau tas dari bahan pabrikan.”
“Mereka belum lihat saja buatan ibu.
Belum ngerasain ademnya duduk di tikar rumput ini.”
Tapi Dewi tak melanjutkan percakapan
dengan Ibu. Ia terlihat lebih asyik tenggelam dalam telepon-pintar buatan Cina
itu. Itu adalah percakapan yang hampir setiap hari terjadi di dalam keluarga
ini. Meskipun tidak bisa dikatakan seperti rekaman video yang diulang-ulang,
hanya pilihan kata dan diksi saja yang berbeda dengan tetap membawa muatan
pesan yang sama. Tak berapa lama setelah itu pula, kedua adik kembar mereka merengek
meminta dibikinkan susu instan kental manis. Dewi yang saat itu sedang
bersantai sepulang sekolah langsung berdiri untuk menuju sumber suara yang
sebenarnya sangat mengganggu telinga. Tapi karena suara bising itu pun sudah
menjadi rutinitas, mereka pun menanggapinya dengan biasa sama seperti
orang-orang telah terbiasa berada di tengah kegaduhan lalu lintas yang macet
dan bising.
Si kembar yang sudah hampir berumur
lima tahun sering bertanya ke siapa pun anggota keluarga tersebut, tentang
bapak. Semuanya sepakat menjawab; bapak telah mati. Meskipun bapak mereka
sebenarnya masih hidup dan tak tahu di mana, bagi keluarga itu bapak sudahlah
tak ada di dunia ini.
Esha masih teringat, adegan dramatis
terakhir bapaknya berada di rumah itu. Waktu itu ibu sedang hamil delapan bulan.
Perut ibu lebih besar dari perut ibu hamil biasanya. Dua bulan menjelang
lahirnya si kembar ibu sempat menghentikan kegiatan menganyamnya. Perut ibu
sering kontraksi yang mengakibatkan ia sering kesakitan tak berdaya. Namun ibu
sadar, jika ia tak menganyam keluarga mereka taklah bisa makan. Sedangkan bapak
selalu pulang dalam keadaan bau arak menjelang pagi merekah.
Masih membekas jelas di dalam ingatannya
cara bapak menampar ibu. Raut wajah bapak yang dirasuki setan itu terus menghantui mimpi-mimpinya
di kemudian hari—yang menginspirasi setiap cerpen yang dibuatnya. Esha senang
sekali menulis cerpen di mana setiap tokohnya adalah seseorang atau sebuah
keluarga yang kepala rumahtangganya lebih senang mabuk-mabukan dan bermain
dengan perempuan dibanding menjadi bapak rumahtangga yang bertanggungjawab
terhadap keluarganya. Apa pun tema ceritanya selalu saja ada tokoh yang seperti
itu. Baginya itu seperti sebuah puisi gelap yang terus datang ke dalam mimpi
lalu mau tak mau harus dituliskan agar tak membuatnya uring-uringan setiap
hari.
Berkali-kali ceritanya jatuh menjadi
cerita yang melowdramatis di
mana sang keluarga menjadi hidup susah yang menerbitkan
perasaan harunya sendiri. Mungkin itu sebabnya cerpen-cerpennya yang jumlahnya
puluhan itu belum lagi ada yang dimuat. Mungkin redaktur cerpen minggu yang
membaca setiap kisahnya berpendapat setiap kisah yang dikirim Esha adalah
sebuah klise. Tapi bagi Esha, mau bagaimana lagi, hanya itulah gagasan yang
sering muncul di kepalanya yang membuatnya begitu lancar menulis seperti orang
kesurupan.
Keluarganya sendiri taklah
semenyedihkan seperti cerpen-cerpen yang ditulisnya. Di sela-sela kesibukan,
mereka sekeluarga senang berkelakar mengenai barang-barang yang ingin mereka
miliki ketika sudah sukses nanti. Dewi sangat hapal merek-merek gadget terkini. Di setiap kesempatan
mereka berkumpul tak pernah ketinggalan ia menyebarkan informasi ke telinga ibu
atau kakaknya tentang perang gadget
perusahaan raksasa ponsel-pintar antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.
“Aku ingin membeli yang seperti ini.
Fiturnya keren. Layarnya lebar tapi tetap ringan di tangan. Aku ingin
membelinya kalau sudah kerja nanti.”
“Memangnya ada masalah dengan hapemu
yang sekarang?”
“Enggak
ada. Cuma ini sudah ketinggalan zaman.”
Terkadang mereka juga bercerita tentang
memiliki mobil. Menurut Dewi dengan punya mobil usaha ibu pun akan lebih mudah
terdistribusi. Terkadang juga membicarakan perabotan canggih yang mereka saksikan
di iklan televisi. Mereka membicarakan tetek-bengek itu dengan biasa saja, sama
seperti mereka membicarakan panasnya cuaca atau hujan yang tak tahu kapan akan
berhenti, berganti.
Tanpa menyinggung-nyinggung perihal
bapak mereka kalau si kembar luput bertanya
di mana bapaknya saat ini. Tapi jika ditanya demikian mereka sepakat, kalau bapak sudah
mati.
Dan seiring berjalannya waktu dan
rutinitas, Esha mulai kesulitan menulis. Jika biasanya dalam sebulan ia bisa
menghasilkan delapan cerpen, di bulan ini ia hanya menulis satu cerpen dan
itu pun belum selesai. Sekarang ia lebih rajin untuk membantu ibunya menganyam
sambil sekali-sekali mencoba melamar pekerjaan. Semakin dilihat gurat wajah ibu
semakin tegas dan terpola garis dan kerutnya seperti anyaman yang dibuatnya
sendiri. Esha mulai resah kalau ia hanya melulu hidup di dalam mimpinya, melayang-layang di atas pesawat kertas di siang bolong saat ibunya terus
menganyam hidup keluarga mereka. Mungkin untuk waktu yang tak terlalu lama
lagi.
-Hizbul Ridho, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar