Mungkin,
ini adalah latte yang sama seperti yang biasa dia nikmati dua tahun lalu. Latte
yang di atas permukaannya terdapat lukisan hati yang sempurna, latte yang
begitu hangat dan tak terlalu manis yang menyeruakkan aroma kopi ke hidungnya.
Tapi mungkin juga bukan latte yang sama, entah kenapa dia merasakan latte yang
dia minum semenjak hari itu tak lagi sama. Semenjak dua tahun lamanya mereka
berpisah.
Latte di dalam cangkir itu mengepul-ngepulkan
asap ke udara. Lanang memandangi gambar hati di permukaannya lalu kembali melirik jam tangan. Sudah
setengah jam lebih dia menunggu Steve, kawan lamanya. Di kafe tersebut, mereka
biasa bertemu untuk sekedar bercakap-cakap.
Dia
coba mendekatkan latte yang masih panas itu ke bibirnya. Agak sedikit tersengat
dia paksakan menyeruput kopi susu itu. Gambar hati di atas permukaan latte itu
kini sedikit berubah bentuknya. Sudah begitu lama ia menunggu Steve, setengah
jam lebih adalah waktu yang lama bagi Lanang untuk menunggu. Dia melihat ke arah
pintu namun penampakan Steve belum juga terlihat. Tapi sebenarnya tidak hanya
kemunculan wajah teman lamanya itu yang diharapkannya hadir, juga wajah seorang
wanita yang begitu dekat yang setiap ukiran wajahnya begitu ia hapal seperti
gambar hati pada cangkir latte itu.
Dari
balik pintu, seorang wanita cantik masuk sambil bergandengan dengan kekasihnya,
seorang wanita berkulit bersih dan putih dengan rok pendek berwarna terang
dengan baju lengan pendek berwarna
cerah seperti gula-gula. Di belakang pasangan tersebut Steve masuk, dengan
pakaian kasual,
berjalan santai memandang ke arah
meja Lanang berada. Steve tersenyum lalu menyapa Lanang dengan mengangkat
tangannya.
“Sori
telat. Sudah lama nunggu? Tadi aku habis bersama Rana, menemani dia shopping.” Steve duduk di bangku di
hadapan Lanang
berada. Dia mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyembulkan sebatang. Melihat
itu Lanang menyodorkan mancisnya lalu membakar rokok yang telah menyempil di
bibir Steve.
“Aduh,
dia si Rana itu, dia hobi sekali shopping,
setiap kami jalan selalu saja aku harus mengawaninya shopping. Seperti orang
gila yang tidak bisa hidup tanpa sepatu atau tas saja,” keluh Steve akan kegilaan
kekasihnya yang satu itu terhadap berbelanja.
“Ternyata
kau tidak berhenti berpetualang. Apakah Rana wanitamu yang terbaru?”
“Ya,
tidak cuma Rana. Ada April juga Putri,” Steve menghisap rokoknya dalam
lalu menghembuskannya ke udara.
“Ini
pengalaman baru bagiku. Dengan sosial media yang sudah begitu banyak. Aku bisa
mendapatkan wanita dari mana saja. Kau kenapa tidak mencoba. Mau berapa lama
kau menunggu dia terus di kafe ini?” Steve kembali menghisap rokoknya lalu
menghembuskannya. Seketika dia teringat belum memesan minuman. Dia beranjak dari
kursinya berjalan
menuju bar untuk memesan kopi. Lanang memandanginya sedang berbicara dengan
barista yang ada di dalam kombini
bar, dan dia menyeruput latte yang sudah tak
terlalu panas. Kembali dipandanginya hati di permukaan kopi itu, bentuknya
sudah mengembang tak karuan.
Steve
kembali dengan menggenggam minuman dingin, segelas ice mocca. “Kau tahu! Semalam
aku tidur di apartemen Putri. Kami melakukannya empat kali. Dia begitu liar di
ranjang seperti kuda betina yang sudah lama tak menemukan pejantannya. Aku
hampir kewalahan dibuatnya.”
Selalu,
pembukaan percakapan mereka di kafe itu adalah aksi ranjangnya bersama
wanitanya malam sebelum mereka bertemu. Ceritanya mengenai kisah percintaannya
dengan wanita seperti sudah jadi sebuah ritual yang wajib dilakukan sebagai
pembuka percakapan. Bahkan Lanang sudah agak jenuh dibuatnya. Steve selalu
bercerita tentang kencannya dengan gadis-gadis yang berbeda setiap mereka
bertemu. Steve juga menjelaskan bagaimana dia menjerat wanita-wanitanya. Gaya
apa yang dipakainya waktu bercinta dan
bagaimana kemolekan tubuh wanita-wanita itu tak luput untuk diceritakannya.
Steve
masih terus bercerita, kali ini tentang permainan panasnya dengan Rana malam
minggu kemarin. “Rana
Lan, dia memiliki kemolekan tubuh yang belum pernah aku temui selama ini.”
Mata
Lanang justru tertuju kepada pasangan yang
tadi dilihatnya masuk bersama Steve. Pasangan itu tampak sedang
bercengkrama satu sama lain dengan mesra. Si
lelaki tampak asyik menyimak kekasihnya bercerita dan wanitanya bercerita
dengan mengelus-elus tangan si lelaki.
Kali
ini Steve mengganti tokoh cerita menjadi April.
“Kau
tahu April, kami tidak menjalin kasih. Dia juga telah memiliki pacar. Tetapi
dia malah menghubungi aku ketika sedang pengen,” kata Steve menyeruput moka dinginnya, lalu
melanjutkan, “terakhir aku menjemputnya ke rumah orangtuanya kami ke
kontrakanku. Kau tahu, kami bermain dua jam nonstop. Bahkan Aku melakukannya
sambil merokok,” dia tertawa. Lalu dia membakar rokoknya yang baru.
“Yang
unik dari April, dia selalu menyebut nama Tuhan di puncak rasa nikmatnya.” Lanang tidak mendengarkan, bertelekan dagu dia masih
memandangi pasangan yang bercengkrama itu. Sekonyong-konyong
wanita itu menangis sesenggukan dan kekasihnya mencondongkan badannya ke depan dan membelai rambut si wanita.
Tangan laki-laki itu seketika ditepis si wanita dan dia berteriak ke wajah lelaki itu. Mereka
jadi bertengkar dan lelaki itu
menampar wajah wanita berpakaian gula-gula itu lalu dia tertunduk dengan memegangi
wajahnya sedang tubuhnya gemetar menahan tangis. Kini lelaki itu yang meradang ke
arah wanitanya dan wanita itu seketika beranjak dan kursi tempat dia duduk jatuh terjengkang. Wanita
itu berlari keluar seperti gula-gula yang tercampak. Di pintu itu juga, seorang
kakek masuk bersama cucunya lalu langsung berjalan menuju bar. Sekarang lelaki yang ditinggalkan kekasihnya sedang bergeming, dan dia mengeluarkan sebatang
rokok, lalu menyulutnya.
Suasana kafe itu masih sama. Steve masih terus bercerita seakan tidak pernah
terjadi apa-apa.
“Kau
tahu Steve. Bagaimana menurutmu jika aku mengganti agama?” sekonyong-konyongnya
dia berhenti bercerita dan Lanang mengulangi pertanyaannya.
“Kenapa kau berkata
seperti itu? Apakah ada yang salah dengan agamamu?”
“Aku tidak tahu. Hanya
saja aku sudah tidak bisa lagi menjalankan perintah agamaku. Dan berita-berita
di televisi itu dan khotbah-khotbah itu. Aku hanya merasa Tuhanku penuh
kemarahan, penuh kebencian. Aku menginginkan Tuhan yang menenangkan Steve.”
Steve
tertawa dan menekan-nekan
puntung rokok
yang sudah sampai pangkalnya itu ke asbak.
“Dengarkan
aku. Yang pemarah dan penuh kebencian itu bukan Tuhanmu melainkan Tuhan mereka.
Tuhan yang penuh amarah kepada orang-orang yang mereka anggap sesat.” Steve
membakar rokoknya yang baru lalu lanjut bercerita,”Tuhan itu maha adil kawan.
Kau tidak bisa menilai apakah orang tersebut dekat dengan Tuhan atau tidak dari
perkataan atau pun perbuatannya meskipun orang tersebut mengatasnamakan Tuhan.
Cuma Tuhan yang bisa menilai. Mungkin bagi orang-orang tersebut perbuatan
mereka adalah jalan Tuhan. Tapi kita tidak akan pernah tahu. Aku sendiri kau
tahu, tak akan ada yang bisa menggoncang imanku kepada Tuhan. Aku selalu
percaya pada-Nya. Aku selalu percaya pada-Nya.”
Steve
terus berkotbah mengenai keyakinannya kepada Tuhannya laiknya
pengkotbah-pengkotbah yang merasa Tuhan lebih dekat dari urat nadi. Seperti
biasa dia selalu bisa menjawab pertanyaan seperti apa pun. Selalu membuat
Lanang menjadi ragu atas pertanyaan dan pernyataannya sendiri mengenai apa pun. Sesekali dia
berusaha berargumen namun tetap saja Steve dengan gampang mematahkan
pernyataannya. Sehingga sering dia memilih menjadi pendengar yang baik. Lanang masih
menyimak ceramah Steve tentang agama dan Tuhan. Dan Tuhan yang Maha Cinta dan
Tuhan pemberi ampunan.
“Kau tahu April, dia
selalu menyebut nama Tuhan di setiap puncak rasa nikmatnya. Aku selalu suka
mendengar kata-kata itu darinya.”
Lanang
hanya mengangguk lemah. Kini latte di dalam cangkirnya telah dingin. Dia
menyeruputnya sedang Steve bercerita bahwa tak ada agama yang mengajarkan
kejahatan. Di sudut kafe Lanang memerhatikan kakek dan cucu tadi. Si Kakek
tersenyum memandangi cucunya yang sedang bermain tablet sambil menyeruput es
berwarna gula kapas.
Kafe yang tadi agak sepi kini sudah sedikit ramai. Di meja lain lelaki yang tadi
bertengkar dan ditinggal kekasihnya,
sekarang,
sudah bersama wanita lain yang tak kalah manis. Mereka berciuman dengan mesra.
Cahaya matahari senja masuk dari luar jendela membuat suasana Kafe itu menjadi
hangat dan berwarna jingga.
Di
sudut ruangan kakek tadi telah tengadah ke arah langit-langit dengan mulut
menganga dan baju berlumuran darah. Cucunya sudah tidak lagi berada di sana. Di
atas mejanya Cotton Candy sudah tinggal seperempat gelas dan
di sebelahnya sebilah
pisau berlumuran darah tergeletak begitu saja. Orang-orang di Kafe itu masih
sibuk bercengkrama dan mengobrol satu sama lain. Barista yang bertugas tampak
sedang meracik kopi dengan cekatan layaknya robot dari balik mesin Mastrena sedang antrian
panjang pelanggan mengular hingga
keluar kafe. Tak ada yang aneh dari pemandangan di
dalam Kafe itu, seperti
rutinitas sehari-hari yang biasa
dikunjungi Steve dan Lanang di tempat itu dan orang-orang seperti membicarakan
hal yang sama dan barista mengerjakan kegiatan yang sama. Mereka selalu memesan
minuman yang sama setiap kali berkunjung.
Steve
kembali bercerita mengenai Rana, mengenai April dan Putri serta
petualangan-petualangan
mereka seperti menyaksikan adegan drama yang biasa ditampilkan di televisi.
Lanang tidak begitu menyimak, dia malah teringat kekasihnya dulu juga sering berkunjung
ke kafe ini bersamanya.
Dan hari ini tepat dua tahun mereka berpisah. Masih teringat jelas kemeja putih motif bunga
yang dipakai, aroma rosella dari
tubuhnya, gaya bicara kekasihnya malam itu. Dia
juga teringat
kekasihnya yang
berkata bahwa jangan hubungi aku lagi. Lalu berdiri meninggalkannya sendirian
di meja yang sama itu.
Tiba-tiba
Steve membuyarkan lamunannya, “hei, aku harus pergi sekarang. Putri memintaku
ke apartemennya. Dia bilang sudah kangen kepadaku. Kau masih ingin di sini?”
“Ya,
aku ingin memesan segelas latte lagi.”
“Kalau
begitu aku harus pergi.” Dan
mereka bersalaman lalu Steve beranjak dari sana berjalan ke arah pintu. Setelah
dua tahun lalu,
pintu kafe itu tak pernah lagi sama, pintu yang baru saja dilewati Steve, pintu
yang dua tahun lalu punggung kekasihnya menghilang, pintu yang sampai sekarang masih
diharapkannya terbuka lalu muncul wajah yang sangat dia kenal seperti
mengenal bunyi
degup
jantungnya sendiri. Kini, setiap wajah yang lalu-lalang di pintu itu selalu sama,
wajah-wajah orang yang hanya singgah untuk sekadar menikmati secangkir kopi, lalu pergi. Para
pengunjung, barista-barista yang bertugas bahkan Steve, teman karibnya, yang setiap mereka
bertemu selalu membawa kisah yang sama. Bahkan Latte yang biasa dia pesan tak lagi
sehangat dulu, tak lagi semanis dulu. Sebenarnyalah Lanang bukanlah penggemar latte yang
terlalu manis, dia lebih suka manis yang sedang dengan tetap terasa pahit
kopinya. Namun kini entah kenapa latte yang biasa dia pesan begitu cepat
sekali menjadi dingin dan begitu pahit.
Latte
di dalam cangkirnya sudah hampir tandas. Di permukaan sudah tidak terlihat lagi
gambar hati seperti yang biasa dia
nikmati sebelum diminum. Hanya warna coklat lumpur yang ia sendiri sudah enggan
untuk menghabiskannya. Akankah dia
memesan latte yang baru dengan gambar hati yang baru dan sempurna dan hangat
mengepul-ngepulkan aroma kopi ke udara. Entahlah. Dia hanya ingin tetap duduk di sana sembari perlahan-lahan
menikmati cahaya senja yang masuk dari jendela yang pelan-pelan
berganti kelam.
-Hizbul Ridho, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar