Jumat, 25 Desember 2015

Kekasih yang Menunggu Cangkir Latte Kedua





Mungkin, ini adalah latte yang sama seperti yang biasa dia nikmati dua tahun lalu. Latte yang di atas permukaannya terdapat lukisan hati yang sempurna, latte yang begitu hangat dan tak terlalu manis yang menyeruakkan aroma kopi ke hidungnya. Tapi mungkin juga bukan latte yang sama, entah kenapa dia merasakan latte yang dia minum semenjak hari itu tak lagi sama. Semenjak dua tahun lamanya mereka berpisah.

Latte di dalam cangkir itu mengepul-ngepulkan asap ke udara. Lanang memandangi gambar hati di permukaannya lalu kembali melirik jam tangan. Sudah setengah jam lebih dia menunggu Steve, kawan lamanya. Di kafe tersebut, mereka biasa bertemu untuk sekedar bercakap-cakap.

Dia coba mendekatkan latte yang masih panas itu ke bibirnya. Agak sedikit tersengat dia paksakan menyeruput kopi susu itu. Gambar hati di atas permukaan latte itu kini sedikit berubah bentuknya. Sudah begitu lama ia menunggu Steve, setengah jam lebih adalah waktu yang lama bagi Lanang untuk menunggu. Dia melihat ke arah pintu namun penampakan Steve belum juga terlihat. Tapi sebenarnya tidak hanya kemunculan wajah teman lamanya itu yang diharapkannya hadir, juga wajah seorang wanita yang begitu dekat yang setiap ukiran wajahnya begitu ia hapal seperti gambar hati pada cangkir latte itu.

Dari balik pintu, seorang wanita cantik masuk sambil bergandengan dengan kekasihnya, seorang wanita berkulit bersih dan putih dengan rok pendek berwarna terang dengan baju lengan pendek berwarna cerah seperti gula-gula. Di belakang pasangan tersebut Steve masuk, dengan pakaian kasual, berjalan santai memandang ke arah meja Lanang berada. Steve tersenyum lalu menyapa Lanang dengan mengangkat tangannya.

“Sori telat. Sudah lama nunggu? Tadi aku habis bersama Rana, menemani dia shopping.” Steve duduk di bangku di hadapan Lanang berada. Dia mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyembulkan sebatang. Melihat itu Lanang menyodorkan mancisnya lalu membakar rokok yang telah menyempil di bibir Steve.

“Aduh, dia si Rana itu, dia hobi sekali shopping, setiap kami jalan selalu saja aku harus mengawaninya shopping. Seperti orang gila yang tidak bisa hidup tanpa sepatu atau tas saja,” keluh Steve akan kegilaan kekasihnya yang satu itu terhadap berbelanja.

“Ternyata kau tidak berhenti berpetualang. Apakah Rana wanitamu yang terbaru?”

“Ya, tidak cuma Rana. Ada April juga Putri,” Steve menghisap rokoknya dalam lalu menghembuskannya ke udara.

“Ini pengalaman baru bagiku. Dengan sosial media yang sudah begitu banyak. Aku bisa mendapatkan wanita dari mana saja. Kau kenapa tidak mencoba. Mau berapa lama kau menunggu dia terus di kafe ini?” Steve kembali menghisap rokoknya lalu menghembuskannya. Seketika dia teringat belum memesan minuman. Dia beranjak dari kursinya berjalan menuju bar untuk memesan kopi. Lanang memandanginya sedang berbicara dengan barista yang ada di dalam kombini bar, dan dia menyeruput latte yang sudah tak terlalu panas. Kembali dipandanginya hati di permukaan kopi itu, bentuknya sudah mengembang tak karuan.

Steve kembali dengan menggenggam minuman dingin, segelas ice mocca. “Kau tahu! Semalam aku tidur di apartemen Putri. Kami melakukannya empat kali. Dia begitu liar di ranjang seperti kuda betina yang sudah lama tak menemukan pejantannya. Aku hampir kewalahan dibuatnya.”

Selalu, pembukaan percakapan mereka di kafe itu adalah aksi ranjangnya bersama wanitanya malam sebelum mereka bertemu. Ceritanya mengenai kisah percintaannya dengan wanita seperti sudah jadi sebuah ritual yang wajib dilakukan sebagai pembuka percakapan. Bahkan Lanang sudah agak jenuh dibuatnya. Steve selalu bercerita tentang kencannya dengan gadis-gadis yang berbeda setiap mereka bertemu. Steve juga menjelaskan bagaimana dia menjerat wanita-wanitanya. Gaya apa yang dipakainya waktu bercinta dan bagaimana kemolekan tubuh wanita-wanita itu tak luput untuk diceritakannya.

Steve masih terus bercerita, kali ini tentang permainan panasnya dengan Rana malam minggu kemarin. Rana Lan, dia memiliki kemolekan tubuh yang belum pernah aku temui selama ini.”

Mata Lanang justru tertuju kepada pasangan yang tadi dilihatnya masuk bersama Steve. Pasangan itu tampak sedang bercengkrama satu sama lain dengan mesra. Si lelaki tampak asyik menyimak kekasihnya bercerita dan wanitanya bercerita dengan mengelus-elus tangan si lelaki.

Kali ini Steve mengganti tokoh cerita menjadi April.

“Kau tahu April, kami tidak menjalin kasih. Dia juga telah memiliki pacar. Tetapi dia malah menghubungi aku ketika sedang pengen,” kata Steve menyeruput moka dinginnya, lalu melanjutkan, “terakhir aku menjemputnya ke rumah orangtuanya kami ke kontrakanku. Kau tahu, kami bermain dua jam nonstop. Bahkan Aku melakukannya sambil merokok,” dia tertawa. Lalu dia membakar rokoknya yang baru.

“Yang unik dari April, dia selalu menyebut nama Tuhan di puncak rasa nikmatnya.” Lanang tidak mendengarkan, bertelekan dagu dia masih memandangi pasangan yang bercengkrama itu. Sekonyong-konyong wanita itu menangis sesenggukan dan kekasihnya mencondongkan badannya ke depan dan membelai rambut si wanita. Tangan laki-laki itu seketika ditepis si wanita dan dia berteriak ke wajah lelaki itu. Mereka jadi bertengkar dan lelaki itu menampar wajah wanita berpakaian gula-gula itu lalu dia tertunduk dengan memegangi wajahnya sedang tubuhnya gemetar menahan tangis. Kini lelaki itu yang meradang ke arah wanitanya dan wanita itu seketika beranjak dan kursi tempat dia duduk jatuh terjengkang. Wanita itu berlari keluar seperti gula-gula yang tercampak. Di pintu itu juga, seorang kakek masuk bersama cucunya lalu langsung berjalan menuju bar. Sekarang lelaki yang ditinggalkan kekasihnya sedang bergeming, dan dia mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya. Suasana kafe itu masih sama. Steve masih terus bercerita seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

“Kau tahu Steve. Bagaimana menurutmu jika aku mengganti agama?” sekonyong-konyongnya dia berhenti bercerita dan Lanang mengulangi pertanyaannya.

Kenapa kau berkata seperti itu? Apakah ada yang salah dengan agamamu?”

Aku tidak tahu. Hanya saja aku sudah tidak bisa lagi menjalankan perintah agamaku. Dan berita-berita di televisi itu dan khotbah-khotbah itu. Aku hanya merasa Tuhanku penuh kemarahan, penuh kebencian. Aku menginginkan Tuhan yang menenangkan Steve.”

Steve tertawa dan menekan-nekan puntung rokok yang sudah sampai pangkalnya itu ke asbak. 

Dengarkan aku. Yang pemarah dan penuh kebencian itu bukan Tuhanmu melainkan Tuhan mereka. Tuhan yang penuh amarah kepada orang-orang yang mereka anggap sesat.” Steve membakar rokoknya yang baru lalu lanjut bercerita,”Tuhan itu maha adil kawan. Kau tidak bisa menilai apakah orang tersebut dekat dengan Tuhan atau tidak dari perkataan atau pun perbuatannya meskipun orang tersebut mengatasnamakan Tuhan. Cuma Tuhan yang bisa menilai. Mungkin bagi orang-orang tersebut perbuatan mereka adalah jalan Tuhan. Tapi kita tidak akan pernah tahu. Aku sendiri kau tahu, tak akan ada yang bisa menggoncang imanku kepada Tuhan. Aku selalu percaya pada-Nya. Aku selalu percaya pada-Nya.”

Steve terus berkotbah mengenai keyakinannya kepada Tuhannya laiknya pengkotbah-pengkotbah yang merasa Tuhan lebih dekat dari urat nadi. Seperti biasa dia selalu bisa menjawab pertanyaan seperti apa pun. Selalu membuat Lanang menjadi ragu atas pertanyaan dan pernyataannya sendiri mengenai apa pun. Sesekali dia berusaha berargumen namun tetap saja Steve dengan gampang mematahkan pernyataannya. Sehingga sering dia memilih menjadi pendengar yang baik. Lanang masih menyimak ceramah Steve tentang agama dan Tuhan. Dan Tuhan yang Maha Cinta dan Tuhan pemberi ampunan.

Kau tahu April, dia selalu menyebut nama Tuhan di setiap puncak rasa nikmatnya. Aku selalu suka mendengar kata-kata itu darinya.”

Lanang hanya mengangguk lemah. Kini latte di dalam cangkirnya telah dingin. Dia menyeruputnya sedang Steve bercerita bahwa tak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Di sudut kafe Lanang memerhatikan kakek dan cucu tadi. Si Kakek tersenyum memandangi cucunya yang sedang bermain tablet sambil menyeruput es berwarna gula kapas. Kafe yang tadi agak sepi kini sudah sedikit ramai. Di meja lain lelaki yang tadi bertengkar dan ditinggal kekasihnya, sekarang, sudah bersama wanita lain yang tak kalah manis. Mereka berciuman dengan mesra. Cahaya matahari senja masuk dari luar jendela membuat suasana Kafe itu menjadi hangat dan berwarna jingga.

Di sudut ruangan kakek tadi telah tengadah ke arah langit-langit dengan mulut menganga dan baju berlumuran darah. Cucunya sudah tidak lagi berada di sana. Di atas mejanya Cotton Candy sudah tinggal seperempat gelas dan di sebelahnya sebilah pisau berlumuran darah tergeletak begitu saja. Orang-orang di Kafe itu masih sibuk bercengkrama dan mengobrol satu sama lain. Barista yang bertugas tampak sedang meracik kopi dengan cekatan layaknya robot dari balik mesin Mastrena sedang antrian panjang pelanggan mengular hingga keluar kafe. Tak ada yang aneh dari pemandangan di dalam Kafe itu, seperti rutinitas sehari-hari yang biasa dikunjungi Steve dan Lanang di tempat itu dan orang-orang seperti membicarakan hal yang sama dan barista mengerjakan kegiatan yang sama. Mereka selalu memesan minuman yang sama setiap kali berkunjung.

Steve kembali bercerita mengenai Rana, mengenai April dan Putri serta petualangan-petualangan mereka seperti menyaksikan adegan drama yang biasa ditampilkan di televisi. Lanang tidak begitu menyimak, dia malah teringat kekasihnya dulu juga sering berkunjung ke kafe ini bersamanya. Dan hari ini tepat dua tahun mereka berpisah. Masih teringat jelas kemeja putih motif bunga yang dipakai, aroma rosella dari tubuhnya, gaya bicara kekasihnya malam itu. Dia juga teringat kekasihnya yang berkata bahwa jangan hubungi aku lagi. Lalu berdiri meninggalkannya sendirian di meja yang sama itu.

Tiba-tiba Steve membuyarkan lamunannya, “hei, aku harus pergi sekarang. Putri memintaku ke apartemennya. Dia bilang sudah kangen kepadaku. Kau masih ingin di sini?”

“Ya, aku ingin memesan segelas latte lagi.”

“Kalau begitu aku harus pergi.” Dan mereka bersalaman lalu Steve beranjak dari sana berjalan ke arah pintu. Setelah dua tahun lalu, pintu kafe itu tak pernah lagi sama, pintu yang baru saja dilewati Steve, pintu yang dua tahun lalu punggung kekasihnya menghilang, pintu yang sampai sekarang masih diharapkannya terbuka lalu muncul wajah yang sangat dia kenal seperti mengenal bunyi degup jantungnya sendiri. Kini, setiap wajah yang lalu-lalang di pintu itu selalu sama, wajah-wajah orang yang hanya singgah untuk sekadar menikmati secangkir kopi, lalu pergi. Para pengunjung, barista-barista yang bertugas bahkan Steve, teman karibnya, yang setiap mereka bertemu selalu membawa kisah yang sama. Bahkan Latte yang biasa dia pesan tak lagi sehangat dulu, tak lagi semanis dulu. Sebenarnyalah Lanang bukanlah penggemar latte yang terlalu manis, dia lebih suka manis yang sedang dengan tetap terasa pahit kopinya. Namun kini entah kenapa latte yang biasa dia pesan begitu cepat sekali menjadi dingin dan begitu pahit.


Latte di dalam cangkirnya sudah hampir tandas. Di permukaan sudah tidak terlihat lagi gambar hati seperti yang biasa dia nikmati sebelum diminum. Hanya warna coklat lumpur yang ia sendiri sudah enggan untuk menghabiskannya. Akankah dia memesan latte yang baru dengan gambar hati yang baru dan sempurna dan hangat mengepul-ngepulkan aroma kopi ke udara. Entahlah. Dia hanya ingin tetap duduk di sana sembari perlahan-lahan menikmati cahaya senja yang masuk dari jendela yang pelan-pelan berganti kelam.

-Hizbul Ridho, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar