Jumat, 25 Desember 2015

Lelaki Porselen





Maka, aku pastikan kau tak akan pernah mendengar kisah yang sebentar lagi akan kau denger dariku. Ia adalah lelaki porselen. Tak ada hubungannya dengan lelaki yang dikutuk ibunya jadi batu itu. Lelaki ini menjadi porselen bukan karena durhaka kepada ibunya. Mungkin, ia hanya hidup di dunia yang salah.

Jujur, aku tak tega untuk menyebut nama aslinya, karena ia adalah sahabatku sejak kecil. Jadi di sini, aku akan menyamarkan namanya demi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari setelah kisah ini dibaca banyak orang. Kau boleh menganggap cerita ini hanya karanganku belaka. Tapi aku bersumpah demi ibu yang telah melahirkanku bahwa cerita ini aku ceritakan apa adanya seperti yang aku dengar langsung dari empunya kisah. Baiklah, kuberi ia nama Udin. Cukup familiarkan? Mungkin kau jadi teringat kepada tetangga atau keluargamu sendiri yang bernama akhiran -udin. Atau jangan-jangan namamu sendiri berakhiran -udin. Tapi jika benar begitu, tentu saja itu adalah kebetulan seperti yang selalu disampaikan sinetron di televisi sebelum ia tayang.

Kita bisa menyebut Udin hari ini adalah Udin yang sukses menurut anggapan umum—memiliki banyak uang, memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan satu istri dan sepasang anak yang masih lucu. Maksudku hingga kisah ini ia sampaikan kepadaku di sebuah kafe dua minggu yang lalu. Pertemuanku dengan Udin di kafe itu menjadi pertemuan pertama kami setelah sepuluh tahun kami tidak bertemu. Awalnya aku agak pangling melihatnya, karena ia berpenampilan berbeda sekali dari terakhir kali kami bertemu, dengan mengenakan stelan kemeja dan rambut klimis yang disisir ke belakang. Aku juga terkejut bahwa sekarang ia dapat dengan lancar menyampaikan apa yang ia ingat dan pikirkan dan rasakan selama ini. Bahkan ia menceritakannya dengan teknik yang memukau, yang menjadikan ia tampak seperti pendongeng ulung. Padahal, aku ingat betul bahwa dulu ia sebenarnya adalah anak yang tertutup dan pendiam dan kalau berbicara pun terdengar seperti orang yang mengigau.

“Orang-orang berubah James. Pengalaman menjadikan seseorang menjadi pribadi yang baru bahkan asing sama sekali dengan pribadinya yang lama,” ujarnya seperti mengutip perkataan tokoh terkenal setelah aku menyampaikan betapa ia tak lagi seperti Udin yang dulu aku kenal.

Dulu aku mengenalnya sebagai pribadi yang pendiam dan sulit untuk didekati. Ia selalu memandang curiga terhadap setiap mata asing yang ditemuinya. Namun aku tahu ia sebenarnya orang baik. Aku mengetahuinya saat aku tersenyum dan mengajaknya bermain ketika kami masihlah dua bocah ingusan. Tapi ia tak bisa akrab dengan teman-temanku yang lain, terutama terhadap beberapa temanku yang memang usil dan suka mem-bully anak lain yang terlihat lemah. Pada waktu itu ia memang terlihat bodoh dan lemah tapi aku menikmati bermain dengannya. Ia tipikal anak yang setia dan mau mendengar setiap ocehanmu tentang apa pun sekalipun itu membosankan.

Belakangan aku baru mengetahui bahwa Ia membenci orang lain. “Kau tidak bisa percaya kepada siapa pun seratus persen James. Bisa jadi musuh terbaik kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Bisa jadi ia teman karibmu. Atau bahkan ayahmu sendiri.” Aku seperti sering mendengar kutipan seperti itu. Di kafe dua minggu lalu aku bertemu dengannya barulah ia bercerita bahwa sikapnya yang sulit ditembus orang lain untuk didekati itu dikarenakan ayahnya yang meninggalkan keluarganya sewaktu pikiran bocahnya belum lagi terang. Awalnya Udin adalah anak pertama dari sepasang bersaudara yang tumbuh di dalam keluarga kecil seperti yang selalu diidamkan setiap mertua terhadap anak-anaknya yang memulai keluarga baru. Ia menjadi anak yang lincah, riang dan cepat meniru apa pun yang diajarkan olah ayahnya. Bahkan ibunya selalu membanggakan kecerdasan Udin kepada teman-teman arisannya. Namun suatu hari ayahnya meninggalkan mereka begitu saja tanpa sebab setelah satu bulan tak pernah pulang ke rumah. Ia belum lagi paham perkara waktu itu. Ayahnya berselingkuh dengan teman sekantornya yang menjadikan Ibunya depresi untuk tiga tahun lamanya. Kejiwaan Udin kecil terguncang melihat ayahnya yang pergi meninggalkan ibunya seperti itu, yang menjadikannya menutup diri terhadap dunia masa kecil yang seharusnya menyenangkan. 

“Aku terkena disleksia,” terangnya kepadaku menjelaskan kenapa sewaktu kecil ia sulit sekali belajar dan mengungkapkan kata-kata sendiri. Semenjak kepergian ayahnya itu jugalah, ia menjadi sulit percaya kepada orang lain sampai ia tumbuh menjadi seorang remaja tampan.

“Aku selalu yakin bahwa semua orang adalah penipu pada awalnya. Hingga orang-orang menyingkap topengnya dan mewujudkan wajah aslinya. Tapi hingga hari ini aku justru kesulitan bertemu orang yang memiliki wajah asli. Kebanyakan orang memang sudah lengket kepada topengnya. Tapi tidak dirimu James. Aku tahu kau adalah orang baik dari pertama kali kita bertemu sewaktu bocah dulu.” Ia menepuk-nepuk pundakku lalu menyeruput cappuccinonya yang sudah tak terlalu panas.

Udin yang tumbuh remaja adalah Udin seperti kebanyakan gambaran gadis tentang sosok pemuda tampan namun misterius sehingga memunculkan fantasi liar semenjak pertama kali bertemu mata dengannya. Mungkin kau akan teringat dengan tokoh Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta atau dengan Clark Kent remaja sebelum jadi Superman dalam serial Smallville. Tapi Udin tidaklah suka menulis puisi sewaktu SMA, dia juga bukanlah seorang anak dari planet Kripton. Ia hanyalah seorang lelaki tampan penyendiri yang lebih senang membaca buku dan mencoret-coret buku pelajaran dengan gambar yang ia anggap sketsa abstrak.

Setiap pulang sekolah sudah menjadi rutinitasnya untuk membuang ke tong sampah setiap surat asing berwarna merah jambu yang tiba-tiba saja tersesat ke dalam tasnya. Namun hingga ia memasuki jurusan ilmu budaya di sebuah universitas negeri tak ada satu pun gadis yang dapat menarik perhatiannya. Meskipun gadis yang menginginkannya begitu banyak (belum lagi pengagum rahasia yang diam-diam memimpikan bercinta dengannya). Tidak sebelum ia bertemu Ranti, seorang gadis kenes dan pintar dan agresif yang terkurung dengannya pada suatu program Kuliah Kerja Nyata dua tahun sebelum ia sarjana.

Udin yang pendiam adalah udin yang sesungguhnya seorang pengamat yang baik. Diamnya bukanlah ketertenggelaman ke dalam kotak khayalan melainkan diam yang membuka segela indranya untuk menyerap sekelilingnya. Dan Ranti yang berada bersamanya di kampung tempat ia Kuliah Kerja Nyata adalah Ranti yang memesona di setiap gerik, perkataan dan caranya memperlakukan orang lain. Ia lupa bagaimana caranya hingga mereka menjadi begitu dekat dan semakin dekat dan lekat dari hari ke hari. Ia hanya bisa mengingat seberkas cahaya di setiap Ranti memandang matanya. Udin melihat Ranti sebagai sekuntum bunga anyelir yang merekah di tengah gurun kering kesadarannya. Mereka menjadi akrab dari hari ke hari hingga muncul konsep ini di kepala Udin mahasiswa: pasti ia jodohku yang digariskan Tuhan untuk bertemu denganku.

“Jadi, Ranti adalah istrimu yang sekarang?” tanyaku singkat dengan sedikit menyembunyikan wajah antusias.

“Hampir. Setidaknya Istriku yang sekarang adalah tiruannya. Atau jika memang manusia diciptakan dengan tujuh orang kembarannya yang tersebur di seluruh dunia, Maya istriku yang sekarang memiliki keutamaan yang dimiliki Ranti.”

Aku masih takjub dengan caranya mengungkapkan ide dan bercerita. Aku sendiri hampir-hampir tidak yakin kalau kisahnya yang disampaikan kepadaku adalah nyata. Tapi sedari bocah aku mengenal ia adalah pribadi yang jujur.

Ia melanjutkan kisah percintaanya dengan Ranti. Udin bercerita hari-hari saat ia menjalin kasih dengan Ranti adalah hari-hari yang indah. “Tai kucing serasa coklat.” Tambahnya sambil tertawa. Ungkapan yang klise tapi pas untuk menggambarkan sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara.

“Tapi tai kucing tak selamanya jadi coklat. Setelah kasmaran usai, tai kucing adalah tai kucing.” Aku tertawa mendengarnya berkelakar. Aku tak peduli jika tawaku ini terdengar dibuat-buat.

“Kami bertengkar dengan hebat lalu bercinta dengan hebat. Begitu terus menerus hingga kami jengah. Di kemudian hari aku baru tahu, ia adalah pengidap temper tantrum, orang yang histeria jika keinginannya tak terpenuhi. Jadi, aku yang memiliki trauma hubungan di masa lalu menjadi kacau bersamanya. Pada suatu hari aku memutuskan meninggalkannya. Keadaan kami semakin kacau sehingga tak mungkin lagi bersama. Tapi belum lagi sebulan kami putus sebuah lubang besar menganga di dadaku. Sebuah lubang besar yang semakin hari semakin besar hingga menelanku bulat-bulat. Aku sadar telah kehilangannya lalu memutuskan untuk kembali bersamanya. Tapi kau tahu, apa yang terjadi saat aku menemuinya?” Udin berhenti sejenak untuk menciptakan suasana tegang. Ia tak juga melanjutkan ceritanya dan memilih menyeruput cappuccino. Ah, pandai sekali ia membuatku penasaran. Ia tersenyum mendapati mataku yang tak bisa tenang menunggu ceritanya. Ia melanjutkan:

“Ia mengaku telah dipinang lelaki lain. Seseorang yang mendekatinya pada saat kami masih menjalin hubungan. Pada saat itu juga diriku hancur berkeping-keping seperti sebuah patung porselen. Seharusnya dari awal aku menyadari, tak ada seorang pun yang dapat dipercayai.”

“Termasuk aku?”

“Bisa jadi. Hanya waktu yang bisa membuktikan.”

“Kau tadi bilang, dirimu hancur berkeping-keping seperti porselen yang indah tapi rapuh.”

“Keinginan bunuh diri selalu muncul kepermukaan kesadaranku. Namun pada akhirnya aku berhasil melewati masa-masa sulit itu dan justru menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Meskipun untuk urusan wanita, aku selalu menghindar.”

Aku menduga bahwa kisahnya itu adalah kisah-kisah klise seperti kebanyakan yang ditayangkan film drama romantis dari Hollywood, yang tentu saja berakhir bahagia. Udin yang terpuruk lalu berusaha bangkit melawan kehancurannya sendiri. Dan pada akhirnya ia berhasil bangkit lalu bertemu pasangan hidupnya yang selama ini ia cari. Itu yang aku yakini pada saat pertemuanku dengannya di kafe itu setelah sepuluh tahun kami tak bertemu: Memiliki karir yang baik pada sebuah perusahaan multinasional, memiliki istri yang cantik dan anak-anak yang menggemaskan.

Tapi hingga kisah ini aku sampaikan kepadamu, dengan menyesal aku menyampaikan bahwa ia kembali ditinggalkan. Istrinya pergi membawa serta kedua anaknya. Sebelum itu, Istrinya kedapatan menjalin hubungan dengan pria lain. Ia menjadi temperamental hingga berdampak buruk terhadap pekerjaannya dan hubungannya dengan Istrinya dan anak-anaknya. Ia dipecat dari perusahaannya sebelum sempat menceraikan istrinya. Kini ia lebih sering mabuk-mabukkan tepat di bar ini. Ia sering datang pada pukul segini untuk sekadar menimang-nimang apakah ingin mengakhiri saja hidupnya atau berusaha bangkit lagi seperti dulu pernah ia lakukan. Oleh karena itu aku ingin bertemu dengannya untuk terus memberinya motivasi. Kau heran kenapa aku akrab betul dengan kisah temanku ini? Jadi kau curiga kalau kisah ini adalah milikku sendiri? Tidak kawan, ini hanyalah kisah seorang teman akrab yang aku kenal betul sedari kecil. Sekali lagi kau boleh percaya atau kau boleh menganggapnya fiksi belaka. Aku ingin mengingatkan kepadamu pada pukul segini seharusnya ia sudah datang, memesan segelas bir lalu bercerita kepada seorang asing yang duduk di sebelahnya untuk sekadar memperpanjang hidup.

-Hizbul Ridho, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar