Maka,
aku pastikan kau tak akan pernah mendengar kisah yang sebentar lagi akan kau
denger dariku. Ia adalah lelaki porselen. Tak ada hubungannya dengan lelaki
yang dikutuk ibunya jadi batu itu. Lelaki ini menjadi porselen bukan karena
durhaka kepada ibunya. Mungkin, ia hanya hidup di dunia yang salah.
Jujur,
aku tak tega untuk menyebut nama aslinya, karena ia adalah sahabatku sejak
kecil. Jadi di sini,
aku akan menyamarkan namanya demi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari
setelah kisah ini dibaca banyak orang. Kau boleh menganggap cerita ini hanya
karanganku belaka. Tapi aku bersumpah demi ibu yang telah melahirkanku bahwa
cerita ini aku ceritakan apa adanya seperti yang aku dengar langsung dari
empunya kisah. Baiklah,
kuberi ia nama Udin. Cukup familiarkan? Mungkin kau jadi teringat kepada
tetangga atau keluargamu sendiri yang bernama akhiran -udin. Atau jangan-jangan
namamu sendiri berakhiran -udin. Tapi jika benar begitu, tentu saja itu adalah
kebetulan seperti yang selalu disampaikan sinetron di televisi sebelum ia
tayang.
Kita
bisa menyebut Udin hari ini adalah Udin yang sukses menurut anggapan
umum—memiliki banyak uang, memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan satu
istri dan sepasang anak yang masih lucu. Maksudku hingga kisah ini ia sampaikan
kepadaku di sebuah kafe dua minggu yang lalu. Pertemuanku dengan Udin di kafe
itu menjadi pertemuan pertama kami setelah sepuluh tahun kami tidak bertemu.
Awalnya aku agak pangling melihatnya, karena ia berpenampilan berbeda sekali
dari terakhir kali kami bertemu, dengan mengenakan stelan kemeja dan rambut
klimis yang disisir ke belakang. Aku juga terkejut bahwa sekarang ia dapat
dengan lancar menyampaikan apa yang ia ingat dan pikirkan dan rasakan selama
ini. Bahkan ia menceritakannya dengan teknik yang memukau, yang menjadikan ia
tampak seperti pendongeng ulung. Padahal,
aku ingat betul bahwa dulu ia sebenarnya adalah anak yang tertutup dan pendiam
dan kalau berbicara pun terdengar seperti orang yang mengigau.
“Orang-orang
berubah James. Pengalaman menjadikan seseorang menjadi pribadi yang baru bahkan
asing sama sekali dengan pribadinya yang lama,” ujarnya seperti mengutip perkataan
tokoh terkenal setelah aku menyampaikan betapa ia tak lagi seperti Udin yang
dulu aku kenal.
Dulu
aku mengenalnya sebagai pribadi yang pendiam dan sulit untuk didekati. Ia
selalu memandang curiga terhadap setiap mata asing yang ditemuinya. Namun aku
tahu ia sebenarnya orang baik. Aku mengetahuinya saat aku tersenyum dan
mengajaknya bermain ketika kami masihlah dua bocah ingusan. Tapi ia tak bisa
akrab dengan teman-temanku yang lain, terutama terhadap beberapa temanku yang
memang usil dan suka mem-bully anak
lain yang terlihat lemah. Pada waktu itu ia memang terlihat bodoh dan lemah
tapi aku menikmati bermain dengannya. Ia tipikal anak yang setia dan mau mendengar
setiap ocehanmu tentang apa
pun sekalipun itu membosankan.
Belakangan aku baru mengetahui bahwa Ia
membenci orang lain. “Kau tidak bisa percaya kepada siapa pun seratus persen
James. Bisa jadi musuh terbaik kita adalah orang yang paling dekat dengan kita.
Bisa jadi ia teman karibmu. Atau bahkan ayahmu sendiri.” Aku seperti sering
mendengar kutipan seperti itu. Di kafe dua minggu lalu aku bertemu dengannya
barulah ia bercerita bahwa sikapnya yang sulit ditembus orang lain untuk
didekati itu dikarenakan ayahnya yang meninggalkan keluarganya sewaktu pikiran
bocahnya belum lagi terang. Awalnya Udin adalah anak pertama dari sepasang
bersaudara yang tumbuh di dalam keluarga kecil seperti yang selalu diidamkan
setiap mertua terhadap anak-anaknya yang memulai keluarga baru. Ia menjadi anak
yang lincah, riang dan cepat meniru apa pun yang diajarkan olah ayahnya. Bahkan
ibunya selalu membanggakan kecerdasan Udin kepada teman-teman arisannya. Namun
suatu hari ayahnya meninggalkan mereka begitu saja tanpa sebab setelah satu
bulan tak pernah pulang ke rumah. Ia belum lagi paham perkara waktu itu.
Ayahnya berselingkuh dengan teman sekantornya yang menjadikan Ibunya depresi
untuk tiga tahun lamanya. Kejiwaan Udin kecil terguncang melihat ayahnya yang
pergi meninggalkan ibunya seperti itu, yang menjadikannya menutup diri terhadap
dunia masa kecil yang seharusnya menyenangkan.
“Aku terkena disleksia,”
terangnya kepadaku menjelaskan kenapa sewaktu kecil ia sulit sekali belajar dan
mengungkapkan kata-kata sendiri. Semenjak kepergian ayahnya itu jugalah, ia menjadi sulit
percaya kepada orang lain sampai ia tumbuh menjadi seorang remaja tampan.
“Aku
selalu yakin bahwa semua orang adalah penipu pada awalnya. Hingga orang-orang
menyingkap topengnya dan mewujudkan wajah aslinya. Tapi hingga hari ini aku
justru kesulitan bertemu orang yang memiliki wajah asli. Kebanyakan orang
memang sudah lengket kepada topengnya. Tapi tidak dirimu James. Aku tahu kau
adalah orang baik dari pertama kali kita bertemu sewaktu bocah dulu.” Ia
menepuk-nepuk pundakku lalu menyeruput cappuccinonya yang sudah tak terlalu
panas.
Udin
yang tumbuh remaja adalah Udin seperti kebanyakan gambaran gadis tentang sosok
pemuda tampan namun misterius sehingga memunculkan fantasi liar semenjak
pertama kali bertemu mata dengannya. Mungkin kau akan teringat dengan tokoh
Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta atau dengan Clark Kent
remaja sebelum jadi Superman dalam serial Smallville. Tapi Udin tidaklah suka
menulis puisi sewaktu SMA, dia juga bukanlah seorang anak dari planet Kripton.
Ia hanyalah seorang lelaki tampan penyendiri yang lebih senang membaca buku dan
mencoret-coret buku pelajaran dengan gambar yang ia anggap sketsa abstrak.
Setiap
pulang sekolah sudah menjadi rutinitasnya untuk membuang ke tong sampah setiap
surat asing berwarna merah jambu yang tiba-tiba saja tersesat ke dalam tasnya.
Namun hingga ia memasuki jurusan ilmu budaya di sebuah universitas negeri tak
ada satu pun gadis yang dapat menarik perhatiannya. Meskipun gadis yang
menginginkannya begitu banyak (belum lagi pengagum rahasia yang diam-diam
memimpikan bercinta dengannya). Tidak sebelum ia bertemu Ranti, seorang gadis
kenes dan pintar dan agresif yang terkurung dengannya pada suatu program Kuliah Kerja Nyata
dua tahun sebelum ia sarjana.
Udin
yang pendiam adalah udin yang sesungguhnya seorang pengamat yang baik. Diamnya
bukanlah ketertenggelaman ke dalam kotak khayalan melainkan diam yang membuka
segela indranya untuk menyerap sekelilingnya. Dan Ranti yang berada bersamanya
di kampung tempat ia Kuliah Kerja
Nyata adalah Ranti yang memesona di setiap gerik, perkataan dan
caranya memperlakukan orang lain. Ia lupa bagaimana caranya hingga mereka
menjadi begitu dekat dan semakin dekat
dan lekat dari hari ke hari. Ia hanya bisa
mengingat seberkas cahaya di setiap Ranti memandang matanya. Udin melihat Ranti
sebagai sekuntum bunga anyelir yang merekah di tengah gurun kering
kesadarannya. Mereka menjadi akrab dari hari ke hari hingga muncul konsep ini
di kepala Udin mahasiswa: pasti ia jodohku yang digariskan Tuhan untuk bertemu
denganku.
“Jadi,
Ranti adalah istrimu yang sekarang?” tanyaku singkat dengan sedikit
menyembunyikan wajah antusias.
“Hampir.
Setidaknya Istriku yang sekarang adalah tiruannya. Atau jika memang manusia
diciptakan dengan tujuh orang kembarannya yang tersebur di seluruh dunia, Maya
istriku yang sekarang memiliki keutamaan yang dimiliki Ranti.”
Aku
masih takjub dengan caranya mengungkapkan ide dan bercerita. Aku sendiri
hampir-hampir tidak yakin kalau kisahnya yang disampaikan kepadaku adalah
nyata. Tapi sedari bocah aku mengenal ia adalah pribadi yang jujur.
Ia
melanjutkan kisah percintaanya dengan Ranti. Udin bercerita hari-hari saat ia
menjalin kasih dengan Ranti adalah hari-hari yang indah. “Tai kucing serasa
coklat.” Tambahnya sambil tertawa. Ungkapan yang klise tapi pas untuk
menggambarkan sepasang muda-mudi yang dimabuk asmara.
“Tapi
tai kucing tak selamanya jadi coklat. Setelah kasmaran usai, tai kucing adalah
tai kucing.” Aku tertawa mendengarnya berkelakar. Aku tak peduli jika tawaku
ini terdengar dibuat-buat.
“Kami
bertengkar dengan hebat lalu bercinta dengan hebat. Begitu terus menerus hingga
kami jengah. Di kemudian hari aku baru tahu, ia adalah pengidap temper tantrum,
orang yang histeria jika keinginannya tak terpenuhi. Jadi, aku yang memiliki
trauma hubungan di masa lalu menjadi kacau bersamanya. Pada suatu hari aku
memutuskan meninggalkannya. Keadaan kami semakin kacau sehingga tak mungkin
lagi bersama. Tapi belum lagi sebulan kami putus sebuah lubang besar menganga
di dadaku. Sebuah lubang besar yang semakin hari semakin besar hingga menelanku
bulat-bulat. Aku sadar telah kehilangannya lalu memutuskan untuk kembali
bersamanya. Tapi kau tahu, apa yang terjadi saat aku menemuinya?” Udin berhenti
sejenak untuk menciptakan suasana tegang. Ia tak juga melanjutkan ceritanya dan
memilih menyeruput cappuccino.
Ah, pandai sekali ia membuatku penasaran. Ia tersenyum mendapati mataku yang
tak bisa tenang menunggu ceritanya. Ia melanjutkan:
“Ia
mengaku telah dipinang lelaki lain. Seseorang yang mendekatinya pada saat kami
masih menjalin hubungan. Pada saat itu juga diriku hancur berkeping-keping
seperti sebuah patung porselen. Seharusnya dari awal aku menyadari, tak ada seorang pun yang dapat dipercayai.”
“Termasuk
aku?”
“Bisa
jadi. Hanya waktu yang bisa membuktikan.”
“Kau
tadi bilang, dirimu hancur berkeping-keping seperti porselen yang indah tapi
rapuh.”
“Keinginan
bunuh diri selalu muncul kepermukaan kesadaranku. Namun pada akhirnya aku
berhasil melewati masa-masa sulit itu dan justru menjadi pribadi yang lebih
baik lagi. Meskipun untuk urusan wanita, aku selalu menghindar.”
Aku
menduga bahwa kisahnya itu adalah kisah-kisah klise seperti kebanyakan yang
ditayangkan film drama romantis dari Hollywood, yang tentu saja berakhir
bahagia. Udin yang terpuruk lalu berusaha bangkit melawan kehancurannya
sendiri. Dan pada akhirnya ia berhasil bangkit lalu bertemu pasangan hidupnya
yang selama ini ia cari. Itu yang aku yakini pada saat pertemuanku dengannya di
kafe itu setelah sepuluh tahun kami tak bertemu: Memiliki karir yang baik pada
sebuah perusahaan multinasional, memiliki istri yang cantik dan anak-anak yang
menggemaskan.
Tapi
hingga kisah ini aku sampaikan kepadamu, dengan menyesal aku menyampaikan bahwa
ia kembali ditinggalkan. Istrinya pergi membawa serta kedua anaknya. Sebelum
itu, Istrinya kedapatan
menjalin hubungan dengan pria lain. Ia menjadi temperamental hingga berdampak
buruk terhadap pekerjaannya dan hubungannya dengan Istrinya dan anak-anaknya.
Ia dipecat dari perusahaannya sebelum sempat menceraikan istrinya. Kini ia
lebih sering mabuk-mabukkan tepat di bar ini. Ia sering datang pada pukul segini
untuk sekadar menimang-nimang apakah ingin mengakhiri saja hidupnya atau
berusaha bangkit lagi seperti dulu pernah ia lakukan. Oleh karena itu aku ingin
bertemu dengannya untuk terus memberinya motivasi. Kau heran kenapa aku akrab
betul dengan kisah temanku ini? Jadi kau curiga kalau kisah ini adalah milikku
sendiri? Tidak kawan, ini hanyalah kisah seorang teman akrab yang aku kenal
betul sedari kecil.
Sekali lagi kau boleh percaya atau kau boleh menganggapnya fiksi belaka. Aku
ingin mengingatkan kepadamu pada pukul segini seharusnya ia sudah datang, memesan
segelas bir lalu bercerita kepada seorang asing yang duduk di sebelahnya untuk
sekadar memperpanjang hidup.
-Hizbul Ridho, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar