Jumat, 25 Desember 2015

Kanvas





Sebuah pukulan counter tangan kiri tepat menghantam rahang lawannya sesaat sebelum sebuah jab menyentuh wajahnya dan seketika itu juga lawannya goyah kehilangan kuda-kuda. Itu adalah pukulan pamungkas setelah sebelumnya tiga buah jab di wajah dan sebuah blow keras di hulu hati dan sebuah straight menghujani lawannya yang sudah kehilangan stamina dan kewalahan menghentikan manuvernya yang seperti petinju lelaki itu. Dan lawannya itu langsung roboh mencium kanvas setelah tiga ronde dua menit tiga puluh enam detik berlalu semenjak ronde pertama. Sebuah lonceng tanda pertandingan berakhir KO berdentang tiga kali menggema di seisi Sasana. Lawannya masih terbaring tak sadarkan diri di permukaan kanvas. Ia memandangi wajah lawannya yang lebam itu dengan penuh penyesalan. Ani berharap ialah yang terkapar di sana.

Ini adalah kemenangan Ani yang ketiga belas semenjak pertama kali ia ikut kejuaraan nasional. Dan yang ketiga kalinya ia menyesali kemenangannya. Dengan rekor kemenangannya yang berturut-turut itu (dua kali menang poin, tiga kali TKO dan delapan kali KO) semakin nyata di matanya bahwa wanita adalah makhluk yang lemah. Di kemenangannya yang ketigabelas itu ia kembali enggan berdiri di depan podium untuk menerima medali emas dan meminta pelatih mewakilinya.

Ani langsung menuju ruang ganti dan menyibukkan pikiran di bawah pancuran air hangat. Uap panas menyeruak dari tubuhnya bersamaan dengan menyeruaknya ingatan terhadap ibunya yang meninggalkan Ani bayi dan ayahnya yang seorang petinju bayaran. Sebuah mimpi buruk yang selalu menghantuinya di setiap curahan air hangat shower.

Meskipun saat itu Ani masihlah seorang balita yang belum sadar betul terhadap keberadaan dirinya, adegan-adegan samar di dalam rumah itu tergores kuat dalam alam bawah sadarnya. Sebuah lenguhan panjang dan jerit kenikmatan dan derap-derap kaki tegas lelaki-lelaki asing yang berbeda setiap harinya. Jauh setelah ia mulai menyadari bahwa ibunya melacurkan diri, perlahan-lahan perasaan itu tumbuh dalam dirinya, kebencian terhadap seorang manusia yang melahirkannya sendiri ke dunia.

“Ayahmu hanyalah seorang pecundang.” 

Ia ingat kata-kata itu. Atau hanya prasangkanya sendiri bahwa ibunya pernah berbicara seperti itu kepada Ani kecil yang baru pandai berbicara. “Ibu mau kemana?” Tanya Ani kepada ibunya yang membuka pintu sambil membawa sebuah koper dan sebuah tas jinjing. Namun ibunya tak menggubris pertanyaan itu. Tinggalah bersama ayahmu yang pecundang itu. Ayahmu hanyalah seorang petinju yang kalah.

Ani tahu ayahnya hanyalah seorang petinju bayaran. Petinju yang rela kalah demi beberapa lembar uang. Namun baginya ayah bukanlah seorang pecundang. Tak seperti ibu, ayah tak pernah meninggalkan Ani. Setelah ibunya meninggalkan Ani dan ayahnya sendirian, ayahnya sering mengajaknya untuk menonton sebuah pertandingan tinju, baik itu melalui rekaman maupun pertandingan langsung. Adegan-adengan seperti baku hantam dan cipratan darah dan tubuh yang berdentam di permukaan kanvas bukanlah tontonan brutal bagi Ani kecil. Matanya berbinar-binar menyaksikan setiap detail adegan seperti seorang anak kecil yang girang diajak ke pasar malam oleh orangtuanya. Secara tak sadar, tinju menjadi semacam obsesi yang tumbuh perlahan-lahan di setiap pembuluh darahnya. Ani mulai memukul-mukul samsak yang tergantung di ruang latihan pribadi ayahnya di rumah, menirukan setiap pertandingan yang terekam di kepalanya.

Beberapa tahun kemudian, setelah ia bersekolah, datang sepucuk surat ke tangan ayahnya. Surat itu diberikan langsung oleh wali kelas Ani. Kedatangan surat tersebut ke genggaman ayahnya membuat Ani jadi tampak kikuk sesampainya ia di rumah. Secara bergantian, ayahnya memandang wajah Ani yang gelisah dan isi surat yang sedang dibacanya.

Esok harinya, ayahnya dan Ani sudah duduk berhadapan dengan guru konseling dan wali kelasnya di salah satu ruangan guru. Ani duduk tertunduk dan tampak menyesal. Diceritakanlah oleh Bu Siti, guru konseling berjilbab ungu, mengenai kejadian tempo hari. Ani berkelahi dengan dua orang teman lelakinya, kata Bu Siti dengan nada simpati. Peristiwa ini tidaklah biasa untuk seorang gadis sekolah dasar, lanjut Bu Siti. Ayahnya yang tak percaya begitu saja, langsung bertanya kepada Ani yang masih tertunduk, apakah benar itu An? “Mereka mengatai ibu pelacur,” kata Ani yang nyaris tak menggerakkan bibir masih dalam keadaan tertunduk. Tak ada air mata yang menitik di pipinya.

Setelah pertemuan itu, seminggu kemudian, Ani kembali berkelahi (tepatnya memukuli). Dengan alasan yang sama Ani melayangkan tinju mungilnya kepada teman laki-lakinya. Ayahnya yang cemas melihat bibit kebrutalan tumbuh pada anak gadisnya mulai mengajak Ani berlatih taikwondo. Dibutuhkan sebuah wadah yang sehat untuk menetralkan bibit penyakit yang mulai mengikis kejiwaan anak gadisnya. Ayahnya tak mengizinkan anak gadisnya itu berlatih tinju karena menurutnya seorang gadis manis tak pantas berlatih olahraga brutal seperti tinju.

Semenjak itu, tak lagi ada kabar dari sekolahnya Ani bertengkar dengan teman laki-lakinya—atau barangkali tak lagi sampai ke telinga gurunya. Di perguruan taikwondo ia begitu cepat belajar segala jurus tendangan dan pukulan. Ia begitu cepat naik sabuk ke tingkat-tingkat berikutnya. Berbagai kejuaraan taikwondo pun ia ikuti dengan kemenangan gemilang. Taikwondo menjadi cepat membosankan bagi Ani. Lalu dia pun menjajal bela diri lain seperti karate dan pencak silat. Seperti halnya berlatih taikwondo berlatih bela diri yang lain sama membosankannya bagi Ani. Ia merasa tak lagi memiliki lawan hingga ia beranjak menjadi seorang gadis remaja yang duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas.

Sepanjang ia berlatih beladiri tak bosan-bosannya Ani meminta ayahnya untuk melatihnya tinju. Baginya, tak ada olahraga tarung yang begitu memukau selain tinju. Entahlah, mungkin baginya tinju adalah olahraga di mana para petarungnya adalah pria—bukankah segala macam bela diri selalu didominasi oleh pria? Atau tak ada yang seberani tinju dalam melakukan full body contact (benturan keras antara daging dan tulang oleh kedua lawan yang bertarung) atau kebiasaannya untuk tak bosan-bosan memutar video pertandingan Laila Ali. Atau kebenciannya sendiri kepada stereotip bahwa wanita adalah makhluk yang lemah? Entahlah, ia tak paham betul. Yang ia tahu tinju begitu menggairahkan. Tapi tetap saja, ayahnya menanggapi permintaan Ani sambil lalu. Bahkan tak berani untuk sekadar melontarkan janji kosong kepada anak gadis semata wayangnya itu.

“Kenapa kau tak juga memberiku izin untuk mengikuti tinju Pap?”

Ayahnya hanya diam tak menggubris permintaan anaknya itu. Ditatapnya wajah anaknya itu lekat-lekat lalu ia kembali menoleh ke arah televisi yang menyiarkan berita olahraga. Ia tak berani mamandang wajah anaknya lama-lama. Pada wajah anaknya itu terdapat sepasang mata yang persis sama seperti yang dimiliki oleh mantan istrinya. Sepasang mata yang tak hanya berkerlip bercahaya namun cahaya yang menari-nari seperti api di atas pucuk lilin.

“Matamu itu mengingatkanku akan seseorang,” kata ayahnya setelah menengok wajah Ani sekilas lalu melanjutkan siaran olahraga favoritnya. Penyiar di program olahraga tersebut menyiarkan petinju asal Filipina Manny Pacquiao kalah KO berturut-turut untuk kedua kalinya.

“Itukah kenapa Pap berhenti bertinju dan lebih memilih mabuk-mabukkan dan bermain gila bersama wanita liar?”

Ani menjawab pernyataan ayahnya itu dengan pertanyaan yang tidak digubris oleh ayahnya. Di televisi Pacquiao berbicara kepada wartawan bahwa ia akan tetap bertinju. “Ah, sudahlah. Lanjutkan saja karir politikmu” dumel ayahnya ke arah televisi sambil mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja. Diintipnya bungkus itu dan hanya tersisa satu batang rokok yang dibakar dan dihisapnya dengan segera. Ani masih di belakang punggung ayahnya memandangi punggung yang tak lagi kokoh itu. Ayahnya kembali menghisap rokok dan seketika terbatuk.

“Kau tahu Sasana Kemuning Gading?”

“Aku tahu. Bukankah Pap dulu sering mengajakku ke sana untuk menemui teman Pap yang pelatih tinju itu?”

Sasana Kemuning Gading adalah sepetak ruangan tempat berlatih tinju atlet lokal di kota Ani tinggal. Berada di belakang Balai Kota di sudut kompleks gedung pemerintahan dearah. Ruangan itu tak lebih besar dari garasi mobil milik Walikota yang memerintah kota tersebut. Jika di dalamnya tak teronggok sebidang ring tinju, sebatang samsak dan sejuntai tali tambang yang digantung di sisinya, bolehlah Sasana Kemuning gading cocok disebut gudang perlengkapan kantor Balai Kota yang terbengkalai.

Ani datang ke Sasana tersebut setelah ayahnya memberi alamat lengkapnya. Sesampainya di sana ia masih sedikit merasakan kenangannya sewaktu ayahnya masih senang membawanya ke Sasana ini. Dibanding dulu, ruangan ini tampak lebih sempit. Jika bukanlah dua orang berkulit legam mengkilat yang terlihat grasa-grusu di atas ring, Ani tak yakin ruangan ini pantas disebut sasana.

Ani berdiri tepat di sisi ring tempat dua orang petinju sedang jual-beli pukulan. Dilihatnya sekeliling tak ditemukan teman ayahnya yang dulu melatih di sasana ini. Mungkin paman itu telah pensiun, pikirnya. Tiba-tiba seberkas darah menciprati wajahnya, yang membuatnya kembali tersadar akan pertandingan yang berlangsung. Baku-hantam semakin intens padahal itu bisa jadi hanya pertandingan persahabatan. Petinju di sebelah kanan yang tubuhnya lebih pendek dan gempal, yang kilapan keringatnya semakin menonjolkan ruas ototnya tampak kewalahan menangkis setiap jab yang coba dilancarkan lawannya. Petinju satunya yang lebih tinggi dan ramping, menyembulkan wajah beringas kesurupan setan, berupaya menghancurkan pertahanan peek a boo yang diperagakan oleh lawannya. Seketika petinju yang lebih tinggi menghentikan serangan. Lawannya yang lebih pendek, dari celah peek a boo, melihat lawannya menurunkan pertahan dan mendadak melancarkan serangan balasan yang mengenai tepat di hidung lawannya, lalu ke hulu hati dan kembali ke rahang dengan hook dan kembali menyerang rusuk kiri dengan blow yang diimprovisasi. Badan petinju yang lebih tinggi itu seketika tertekuk dan petinju yang lebih pendek tak mau menyianyiakan kesempatan sasaran empuk yang begitu terbukanya di wajah lawannya. Seperti mencomot goreng ikan tongkol balado dari bawah tudung yang sengaja terbuka, petinju yang lebih pendek dan gempal itu melesatkan uppercut pamungkas ke rahang lawannya sekuat tenaga yang dibantu oleh putaran pinggang. Dan darah kembali menciprat ke wajah Ani. Wasit memutuskan menghentikan pertandingan setelah petinju yang lebih tinggi itu terkulai tak sadarkan diri di atas kanvas.

Mata Ani bergerak liar menyaksikan jibaku yang singkat antara dua orang petarung itu. Lututnya lemas. Bukan pertama kalinya Ani menyaksikan tinju yang berdarah-darah seperti ini. Ia paham seharusnya tidak lagi kaget melihat pertandingan yang brutal itu. Namun baru kali ini kesadarannya begitu nyata menyaksikan pertandingan tinju yang sengit seperti barusan dan sedikit menyiutkan nyalinya. Sesudah pertandingan persahabatan tersebut Ani menyapa seseorang yang mengaku pelatih dan memuji pertandingan barusan. Ani bertanya apakah di Sasana ini ada petinju wanita dan tanpa berpikir panjang sang pelatih berkata, ”Tak pernah ada. Wanita di kota ini lebih senang bersolek.”

Itu kisah tujuh tahun lalu. Keputusan awalnya untuk mengarungi kerasnya olahraga tinju dan menjadi satu-satunya petinju wanita di kota itu. Sesudah beberapa minggu berlatih di Sasana tersebut barulah ia tahu, ternyata, di kota-kota lain pun terdapat beberapa petinju wanita yang tangguh yang membuatnya semakin bergairah untuk berlatih dan berhadapan dengan mereka.

Selesai mandi dibawah pancuran air hangat Ani mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih yang lembut dan bersih. Badannya serasa segar kembali. Ani membalut dadanya dengan kain putih panjang serupa membalut luka dengan perban untuk menutupi payudaranya yang tidak bisa disebut buah dada. Semenjak berlatih di Sasana tujuh tahun lalu dan merasakan dadanya mulai mengembang, ia melilitkannya dengan kencang untuk menghentikan pertumbuhannya. Ani tak pernah memakai bra dan benci dengan buah dada yang menggelantung besar di dada wanita. Baginya buah dada yang menggelantung adalah beban.

Kendati demikian, Ani tak bisa menyangkal kenikmatan yang datang dari bagian tubuhnya yang hanya bisa didapat dari bersentuhan dengan lelaki. Ia memiliki seorang kekasih yang bukanlah petinju. Namanya Andre dan hanyalah seorang penonton yang senang menyaksikan setiap pertandingannya. Suatu hari selepas Ani bertanding dan kembali menang KO Andre menyapanya.

“Pertandingan yang hebat sekali. Aku jadi sempat berpikir bahwa kau sebenarnya adalah laki-laki yang menyamar jadi wanita. Jangan tersinggung! Ini hanya caraku memujimu.

“Apa maksudmu?” jawab Ani singkat dengan pertanyaan. Pipinya merona merah seketika. Ia belum pernah mendapat pujian seperti itu dari ayahnya atau pelatihnya atau teman-teman latihannya sekalipun. Perasaan aneh di dada ini membuat Ani berkata di dalam hati, brengsek sekali cowok ini.

“Ya. Aku terlalu mudah jatuh hati terhadap atlet wanita yang bermain hebat di pertandingannya. Tapi kau jangan salah paham dulu. Mungkin ini hanya kekagumanku saja. Tak lebih.”

“Terserah kamulah.”

Dan mereka pun tertawa bersama.

Beberapa bulan kemudian mereka pun sudah tidur bersama—di tempat indekost Andre. Ani tak tahu apa yang dialaminya barusan. Perasaan yang aneh namun panas dan ngilu dan nikmat. Ia seperti mengalami kekalahan dan kemenangan sekaligus. Tapi perasaan ini taklah sama dengan bertanding tinju, pikir Ani. Dan ia pun menjadi tak bisa berhenti melakukannya lagi dan lagi.

Awalnya Andre memperlakukan Ani dengan lembut namun semakin sering mereka melakukannya semakin menampakkan tanda penaklukan Andre pada tubuh Ani. Andre mulai menambahkan tamparan-tamparan ringan ke bagian tubuh Ani dan Ani pun awalnya merasa ini adalah bagian dari permainan. Tapi semakin hari, semakin Andre melakukannya dengan kasar ditambah jambakan di rambut lalu umpatan kasar yang hanya bisa kau dengar di pasar anyar yang bau pesing. Ani merasa tak bisa berontak namun tak lagi merasakan perasaan kemenangan dan kekalahan sekaligus itu. Yang ia rasakan sekarang hanyalah kekalahan dan ditaklukan.

Lama setelah Ani selalu menang di atas ring pelatihnya berbicara kepadanya seusai sesi latihan. “Kau harus merasakan kekalahan Ani. Kekalahan itu tak buruk. Dengan merasakan kekalahan kau bisa merasakan perasaan luar biasa pada saat kau kembali menang.”

Dan itulah yang dilakukannya pada setiap pertandingannya: keinginan untuk kalah. Tetapi setelah berada di atas ring dan berhadap-hadapan dengan lawan keinginan itu tak bisa benar-benar diraihnya. Di matanya, setiap gerakan yang dilakukan oleh lawannya itu begitu lambat seperti adegan slow motion the Matrix. Dan kalah oleh lawan seperti ini ia pikir tak akan mendapat kenikmatan seperti yang disampaikan pelatihnya itu. Ani ingin kalah oleh lawan yang lebih kuat darinya.

Setiap pertandingan ia lalui masih dengan kemenangan-kemenangan. Sebaliknya, bersama Andre ia semakin kalah dan terhina. Malam itu Andre semakin kuasa saja terhadap tubuhnya. Ani melakukannya tidak lagi dengan kenikmatan sedangkan Andre melakukannya seperti orang kesurupan. Ani hampir-hampir pedih di sekujur tubuhnya. Tapi ia tetap berpura-pura melenguh dan Andre menjambak rambut Ani semakin kasar dan tiba-tiba saja melayangkan tamparan ke wajah Ani.

“Hei, apa yang kau perbuat?”

“Maaf sayang. Aku jadi semakin bersemangat.”

“Aku pikir sudah saatnya aku menang darimu.”

“Apa sayang, menang? Kau pikir ini tinju? Tidak sayang. Di ranjang, kau memang harus kalah olehku. Kau harus menyerah. Karena di situlah letak kenikmatannya...”

Dan melayanglah kepalan tinju kiri Ani ke wajah Andre yang membuatnya terjengkang. Ani senang sekali menggunakan tangan kirinya itu di pertandingan. Sebab itu adalah kejutan untuk musuh yang mengiranya petinju kanan. Andre merasakan sebuah batu besar menghantam wajahnya. Lalu dengan perlahan seperti gerakan gemulai kucing Ani menduduki tubuh Andre yang masih belum sadar betul sensasi neraka yang didapatnya di wajah.

“O, kau ingin bermain di atas sekarang. Lakukan itu pelacurku sayang! Bawa kudamu ini menuju langit ketujuh!”

“Tentu. Akan aku bawa kau ke neraka ketujuh.”

Dan kembali hantaman di wajah lalu di hulu hati dan kembali ke wajah dan bibir dan mata lalu pelipis. Ani melakukannya seperti ketika ia berlatih memukul samsak di Sasana Kemuning Gading. Pelatihnya mencatat, Ani berhasil melesakkan seratus duapuluh tiga pukulan dalam satu menit dan itu adalah rekor terbarunya. Dan di atas tubuh Andre, Ani melepaskan pukulannya selama tiga menit. Setelah itu, Ani menghentikan pukulannya, dan terengah-engah dan turun dari ranjang. Dalam keadaan telanjang bersimbah peluh ia berdiri dan melihat tubuh yang tak bergerak lagi milik Andre di atas ranjang kusut masai tersebut. Darah kental menetes ke lantai dari ujung kepalan tinjunya.


Ani berjalan perlahan ke arah kamar mandi dan tak lama kemudian, terdengar suara air yang menderas.

-Hizbul Ridho, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar