Sebuah
pukulan counter tangan kiri tepat
menghantam rahang lawannya sesaat sebelum sebuah jab menyentuh wajahnya dan seketika itu juga lawannya goyah
kehilangan kuda-kuda. Itu adalah pukulan pamungkas setelah sebelumnya tiga buah
jab di wajah dan sebuah blow keras di hulu hati dan sebuah straight menghujani lawannya yang sudah
kehilangan stamina dan kewalahan menghentikan manuvernya yang seperti petinju
lelaki itu. Dan lawannya itu langsung roboh mencium kanvas setelah tiga ronde
dua menit tiga puluh enam detik berlalu semenjak ronde pertama. Sebuah lonceng
tanda pertandingan berakhir KO berdentang tiga kali menggema di seisi Sasana.
Lawannya masih terbaring tak sadarkan diri di permukaan kanvas. Ia memandangi
wajah lawannya yang lebam itu dengan penuh penyesalan. Ani berharap ialah yang
terkapar di sana.
Ini
adalah kemenangan Ani yang ketiga belas semenjak pertama kali ia ikut kejuaraan
nasional. Dan yang ketiga kalinya ia menyesali kemenangannya. Dengan rekor
kemenangannya yang berturut-turut itu (dua kali menang poin, tiga kali TKO dan
delapan kali KO) semakin nyata di matanya bahwa wanita adalah makhluk yang
lemah. Di kemenangannya yang ketigabelas itu ia kembali enggan berdiri di depan
podium untuk menerima medali emas dan meminta pelatih mewakilinya.
Ani
langsung menuju ruang ganti dan menyibukkan pikiran di bawah pancuran air
hangat. Uap panas menyeruak dari tubuhnya bersamaan dengan menyeruaknya ingatan
terhadap ibunya yang meninggalkan Ani bayi dan ayahnya yang seorang petinju
bayaran. Sebuah mimpi buruk yang selalu menghantuinya di setiap curahan air
hangat shower.
Meskipun
saat itu Ani masihlah seorang balita yang belum sadar betul terhadap keberadaan
dirinya, adegan-adegan samar di dalam rumah itu tergores kuat dalam alam bawah
sadarnya. Sebuah lenguhan panjang dan jerit kenikmatan dan derap-derap kaki
tegas lelaki-lelaki asing yang berbeda setiap harinya. Jauh
setelah ia mulai menyadari bahwa ibunya melacurkan diri, perlahan-lahan
perasaan itu tumbuh dalam dirinya, kebencian terhadap seorang manusia yang
melahirkannya sendiri ke dunia.
“Ayahmu
hanyalah seorang pecundang.”
Ia ingat kata-kata itu. Atau hanya prasangkanya
sendiri bahwa ibunya pernah berbicara seperti itu kepada Ani kecil yang baru
pandai berbicara. “Ibu mau kemana?” Tanya Ani kepada ibunya yang membuka pintu
sambil membawa sebuah koper dan sebuah tas jinjing. Namun ibunya tak menggubris
pertanyaan itu. Tinggalah bersama ayahmu yang pecundang itu. Ayahmu hanyalah
seorang petinju yang kalah.
Ani
tahu ayahnya hanyalah seorang petinju bayaran. Petinju yang rela kalah demi
beberapa lembar uang. Namun baginya ayah bukanlah seorang pecundang. Tak
seperti ibu, ayah tak pernah meninggalkan Ani. Setelah ibunya meninggalkan Ani
dan ayahnya sendirian, ayahnya sering mengajaknya untuk menonton sebuah
pertandingan tinju, baik itu melalui rekaman maupun pertandingan langsung.
Adegan-adengan seperti baku hantam dan cipratan darah dan tubuh yang berdentam
di permukaan kanvas bukanlah tontonan brutal bagi Ani kecil. Matanya
berbinar-binar menyaksikan setiap detail adegan seperti seorang anak kecil yang
girang diajak ke pasar malam oleh orangtuanya. Secara tak sadar, tinju menjadi
semacam obsesi yang tumbuh perlahan-lahan di setiap pembuluh darahnya. Ani
mulai memukul-mukul samsak yang tergantung di ruang latihan pribadi ayahnya di
rumah, menirukan setiap pertandingan yang terekam di kepalanya.
Beberapa
tahun kemudian, setelah ia bersekolah, datang sepucuk surat ke tangan ayahnya.
Surat itu diberikan langsung oleh wali kelas Ani. Kedatangan surat tersebut ke
genggaman ayahnya membuat Ani jadi tampak kikuk sesampainya ia di rumah. Secara
bergantian, ayahnya memandang wajah Ani yang gelisah dan isi surat yang sedang
dibacanya.
Esok
harinya, ayahnya dan Ani sudah duduk berhadapan dengan guru konseling dan wali
kelasnya di salah satu ruangan guru. Ani duduk tertunduk dan tampak menyesal.
Diceritakanlah oleh Bu Siti, guru konseling berjilbab ungu, mengenai kejadian
tempo hari. Ani berkelahi dengan dua orang teman lelakinya, kata Bu Siti dengan
nada simpati. Peristiwa ini tidaklah biasa untuk seorang gadis sekolah dasar,
lanjut Bu Siti. Ayahnya yang tak percaya begitu saja, langsung bertanya kepada
Ani yang masih tertunduk, apakah benar itu An? “Mereka mengatai ibu pelacur,”
kata Ani yang nyaris tak menggerakkan bibir masih dalam keadaan
tertunduk. Tak ada air mata yang menitik di pipinya.
Setelah
pertemuan itu, seminggu kemudian, Ani kembali berkelahi (tepatnya memukuli).
Dengan alasan yang sama Ani melayangkan tinju mungilnya kepada teman
laki-lakinya. Ayahnya yang cemas melihat bibit kebrutalan tumbuh pada anak
gadisnya mulai mengajak Ani berlatih taikwondo. Dibutuhkan sebuah wadah yang
sehat untuk menetralkan bibit penyakit yang mulai mengikis kejiwaan anak
gadisnya. Ayahnya tak mengizinkan anak gadisnya itu berlatih tinju karena menurutnya
seorang gadis manis tak pantas berlatih olahraga brutal seperti tinju.
Semenjak
itu, tak lagi ada kabar dari sekolahnya Ani bertengkar dengan teman
laki-lakinya—atau barangkali tak lagi sampai ke telinga gurunya. Di perguruan
taikwondo ia begitu cepat belajar segala jurus tendangan dan pukulan. Ia begitu
cepat naik sabuk ke tingkat-tingkat berikutnya. Berbagai kejuaraan taikwondo
pun ia ikuti dengan kemenangan gemilang. Taikwondo menjadi cepat membosankan
bagi Ani. Lalu dia pun menjajal bela diri lain seperti karate
dan
pencak silat. Seperti halnya berlatih taikwondo berlatih bela diri yang lain
sama membosankannya bagi Ani. Ia merasa tak lagi memiliki lawan hingga ia
beranjak menjadi seorang gadis remaja yang duduk di bangku kelas dua Sekolah
Menengah Atas.
Sepanjang
ia berlatih beladiri tak bosan-bosannya Ani meminta ayahnya untuk melatihnya
tinju. Baginya, tak ada olahraga tarung yang begitu memukau selain tinju.
Entahlah, mungkin baginya tinju adalah olahraga di mana para petarungnya adalah
pria—bukankah segala macam bela diri selalu didominasi oleh pria? Atau tak ada
yang seberani tinju dalam melakukan full
body contact (benturan keras antara daging dan tulang oleh kedua lawan yang
bertarung) atau kebiasaannya untuk tak bosan-bosan memutar video pertandingan
Laila Ali. Atau kebenciannya sendiri kepada stereotip bahwa wanita adalah
makhluk yang lemah? Entahlah, ia tak paham betul. Yang ia tahu tinju begitu
menggairahkan. Tapi tetap saja, ayahnya menanggapi permintaan Ani sambil lalu.
Bahkan tak berani untuk sekadar melontarkan janji kosong kepada anak gadis
semata wayangnya itu.
“Kenapa
kau tak juga memberiku izin untuk mengikuti tinju Pap?”
Ayahnya
hanya diam tak menggubris permintaan anaknya itu. Ditatapnya wajah anaknya itu
lekat-lekat lalu ia kembali menoleh ke arah televisi yang menyiarkan berita
olahraga. Ia tak berani mamandang wajah anaknya lama-lama. Pada wajah anaknya
itu terdapat sepasang mata yang persis sama seperti yang dimiliki oleh mantan
istrinya. Sepasang mata yang tak hanya berkerlip bercahaya namun cahaya
yang menari-nari seperti api di atas pucuk lilin.
“Matamu
itu mengingatkanku akan seseorang,” kata ayahnya setelah
menengok wajah Ani sekilas lalu melanjutkan siaran olahraga favoritnya. Penyiar
di program olahraga tersebut menyiarkan petinju asal Filipina Manny Pacquiao
kalah KO berturut-turut untuk kedua kalinya.
“Itukah
kenapa Pap berhenti bertinju dan lebih memilih mabuk-mabukkan dan bermain gila
bersama wanita liar?”
Ani
menjawab pernyataan ayahnya itu dengan pertanyaan yang tidak digubris oleh
ayahnya. Di televisi Pacquiao berbicara kepada wartawan bahwa ia akan tetap
bertinju. “Ah, sudahlah. Lanjutkan saja karir politikmu” dumel ayahnya ke arah
televisi sambil mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja.
Diintipnya bungkus itu dan hanya tersisa satu batang rokok yang dibakar dan
dihisapnya dengan segera. Ani masih di belakang punggung ayahnya memandangi
punggung yang tak lagi kokoh itu. Ayahnya kembali menghisap rokok dan seketika
terbatuk.
“Kau
tahu Sasana Kemuning Gading?”
“Aku
tahu. Bukankah Pap dulu sering mengajakku ke sana untuk menemui teman Pap yang
pelatih tinju itu?”
Sasana
Kemuning Gading adalah sepetak ruangan tempat berlatih tinju atlet lokal di kota Ani
tinggal. Berada di belakang Balai Kota di sudut kompleks gedung pemerintahan
dearah.
Ruangan itu tak lebih besar dari garasi mobil milik Walikota yang memerintah kota
tersebut. Jika di dalamnya tak teronggok sebidang ring tinju, sebatang samsak dan sejuntai tali
tambang yang digantung di sisinya, bolehlah Sasana Kemuning gading cocok
disebut gudang perlengkapan kantor Balai Kota yang terbengkalai.
Ani
datang ke Sasana tersebut setelah ayahnya memberi alamat lengkapnya.
Sesampainya di sana ia masih sedikit merasakan kenangannya sewaktu ayahnya
masih senang membawanya ke Sasana ini. Dibanding dulu, ruangan ini tampak lebih
sempit. Jika bukanlah dua orang berkulit legam mengkilat yang terlihat
grasa-grusu di atas ring, Ani tak yakin ruangan ini pantas disebut sasana.
Ani
berdiri tepat di sisi ring tempat dua orang petinju sedang jual-beli pukulan.
Dilihatnya sekeliling tak ditemukan teman ayahnya yang dulu melatih di sasana ini. Mungkin paman
itu telah pensiun, pikirnya. Tiba-tiba seberkas darah menciprati wajahnya, yang membuatnya
kembali tersadar akan pertandingan yang berlangsung. Baku-hantam semakin intens
padahal itu bisa jadi hanya pertandingan persahabatan. Petinju di
sebelah kanan yang tubuhnya lebih pendek dan gempal, yang kilapan keringatnya
semakin menonjolkan ruas ototnya tampak kewalahan menangkis setiap jab yang coba dilancarkan lawannya.
Petinju satunya yang lebih tinggi dan ramping, menyembulkan wajah beringas
kesurupan setan, berupaya menghancurkan pertahanan peek a boo yang diperagakan oleh
lawannya. Seketika petinju yang lebih tinggi menghentikan serangan. Lawannya
yang lebih pendek, dari celah peek
a boo,
melihat lawannya menurunkan pertahan dan mendadak melancarkan serangan
balasan yang mengenai tepat di hidung lawannya, lalu ke hulu hati dan
kembali ke rahang dengan hook dan
kembali menyerang rusuk kiri dengan blow
yang diimprovisasi. Badan petinju yang lebih tinggi itu seketika tertekuk dan
petinju yang lebih pendek tak mau menyianyiakan kesempatan sasaran empuk yang
begitu terbukanya di wajah lawannya. Seperti mencomot goreng ikan tongkol
balado dari bawah tudung yang sengaja terbuka, petinju yang lebih pendek dan
gempal itu melesatkan uppercut pamungkas
ke rahang lawannya sekuat tenaga yang dibantu oleh putaran pinggang. Dan darah
kembali menciprat ke wajah Ani. Wasit memutuskan menghentikan pertandingan
setelah petinju yang lebih tinggi itu terkulai tak sadarkan diri di atas kanvas.
Mata Ani bergerak liar menyaksikan jibaku yang singkat antara dua orang petarung
itu. Lututnya lemas. Bukan pertama kalinya Ani menyaksikan tinju yang
berdarah-darah seperti ini. Ia paham seharusnya tidak lagi kaget melihat
pertandingan yang brutal itu. Namun baru kali ini kesadarannya begitu nyata
menyaksikan pertandingan tinju yang sengit seperti barusan dan sedikit
menyiutkan nyalinya. Sesudah pertandingan persahabatan tersebut Ani menyapa
seseorang yang mengaku pelatih dan memuji pertandingan barusan. Ani bertanya
apakah di Sasana ini ada petinju wanita dan tanpa berpikir panjang sang pelatih
berkata, ”Tak pernah ada. Wanita di kota ini lebih senang bersolek.”
Itu
kisah tujuh tahun lalu. Keputusan awalnya untuk mengarungi kerasnya olahraga
tinju dan menjadi satu-satunya petinju wanita di kota itu. Sesudah beberapa
minggu berlatih di Sasana tersebut barulah ia tahu, ternyata, di kota-kota lain
pun terdapat beberapa petinju wanita yang tangguh yang membuatnya semakin
bergairah untuk berlatih dan berhadapan dengan mereka.
Selesai
mandi dibawah pancuran air hangat Ani mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih
yang lembut dan bersih. Badannya serasa segar kembali. Ani membalut dadanya
dengan kain putih panjang serupa membalut luka dengan perban untuk menutupi
payudaranya yang tidak bisa disebut buah dada. Semenjak berlatih di Sasana
tujuh tahun lalu dan merasakan dadanya mulai mengembang, ia melilitkannya
dengan kencang untuk menghentikan pertumbuhannya. Ani tak pernah memakai bra
dan benci dengan buah dada yang menggelantung besar di dada wanita. Baginya
buah dada yang menggelantung adalah beban.
Kendati
demikian, Ani tak bisa menyangkal kenikmatan yang datang dari bagian tubuhnya
yang hanya bisa didapat dari bersentuhan dengan lelaki. Ia memiliki seorang
kekasih yang bukanlah petinju. Namanya Andre dan hanyalah seorang penonton yang
senang menyaksikan setiap pertandingannya. Suatu hari selepas Ani bertanding
dan kembali menang KO Andre menyapanya.
“Pertandingan
yang hebat sekali. Aku jadi sempat berpikir bahwa kau sebenarnya adalah
laki-laki yang menyamar jadi wanita. Jangan tersinggung! Ini hanya caraku
memujimu.”
“Apa
maksudmu?” jawab Ani singkat dengan pertanyaan. Pipinya merona
merah
seketika. Ia belum pernah mendapat pujian seperti itu dari ayahnya atau pelatihnya
atau teman-teman latihannya sekalipun. Perasaan aneh di dada ini membuat Ani
berkata di dalam hati, brengsek sekali cowok ini.
“Ya.
Aku terlalu mudah jatuh hati terhadap atlet wanita yang bermain hebat di
pertandingannya. Tapi kau jangan salah paham dulu. Mungkin ini hanya
kekagumanku saja. Tak lebih.”
“Terserah
kamulah.”
Dan
mereka pun tertawa bersama.
Beberapa
bulan kemudian mereka pun sudah tidur bersama—di tempat indekost Andre. Ani tak
tahu apa yang dialaminya barusan. Perasaan yang aneh namun panas dan ngilu dan
nikmat. Ia seperti mengalami kekalahan dan kemenangan sekaligus. Tapi perasaan
ini taklah sama dengan bertanding tinju, pikir Ani. Dan ia pun menjadi tak bisa
berhenti melakukannya lagi dan lagi.
Awalnya
Andre memperlakukan Ani dengan lembut namun semakin sering mereka
melakukannya semakin menampakkan tanda penaklukan Andre pada tubuh Ani. Andre
mulai menambahkan tamparan-tamparan ringan ke bagian tubuh Ani dan Ani pun
awalnya
merasa ini adalah bagian dari permainan. Tapi semakin hari,
semakin
Andre melakukannya dengan kasar ditambah jambakan di rambut lalu umpatan kasar
yang hanya bisa kau dengar di pasar anyar yang bau pesing. Ani merasa tak bisa
berontak namun tak lagi merasakan perasaan kemenangan dan kekalahan sekaligus
itu. Yang ia rasakan sekarang hanyalah kekalahan dan ditaklukan.
Lama
setelah Ani selalu menang di atas ring pelatihnya berbicara kepadanya seusai
sesi latihan. “Kau harus merasakan kekalahan Ani. Kekalahan itu tak buruk.
Dengan merasakan kekalahan kau bisa merasakan perasaan luar biasa pada saat kau
kembali menang.”
Dan
itulah yang dilakukannya pada setiap pertandingannya: keinginan untuk kalah.
Tetapi setelah berada di atas ring dan berhadap-hadapan dengan lawan keinginan
itu tak bisa benar-benar diraihnya. Di matanya, setiap gerakan yang dilakukan
oleh lawannya itu begitu lambat seperti adegan slow motion the Matrix. Dan kalah oleh lawan
seperti ini ia pikir tak akan mendapat kenikmatan seperti yang disampaikan
pelatihnya itu. Ani ingin kalah oleh lawan yang lebih kuat darinya.
Setiap
pertandingan ia lalui masih dengan kemenangan-kemenangan. Sebaliknya, bersama
Andre ia semakin kalah dan terhina. Malam itu Andre semakin kuasa saja terhadap
tubuhnya. Ani melakukannya tidak lagi dengan kenikmatan sedangkan Andre melakukannya
seperti orang kesurupan. Ani hampir-hampir pedih di sekujur tubuhnya. Tapi ia tetap
berpura-pura melenguh dan Andre menjambak rambut Ani semakin kasar dan
tiba-tiba saja melayangkan tamparan ke wajah Ani.
“Hei,
apa yang kau perbuat?”
“Maaf
sayang. Aku jadi semakin bersemangat.”
“Aku
pikir sudah saatnya aku menang darimu.”
“Apa
sayang, menang? Kau pikir ini tinju? Tidak sayang. Di ranjang, kau memang harus
kalah olehku. Kau harus menyerah. Karena di situlah letak kenikmatannya...”
Dan
melayanglah kepalan tinju kiri Ani ke wajah Andre yang membuatnya terjengkang. Ani senang
sekali menggunakan tangan kirinya itu di pertandingan. Sebab itu adalah kejutan untuk
musuh yang mengiranya petinju kanan. Andre merasakan sebuah batu besar
menghantam wajahnya. Lalu dengan perlahan seperti gerakan gemulai kucing Ani
menduduki tubuh Andre yang masih belum sadar betul sensasi neraka yang
didapatnya di wajah.
“O,
kau ingin bermain di atas sekarang. Lakukan itu pelacurku sayang! Bawa kudamu
ini menuju langit ketujuh!”
“Tentu.
Akan aku bawa kau ke neraka ketujuh.”
Dan
kembali hantaman di wajah lalu di hulu hati dan kembali ke wajah dan bibir dan
mata lalu pelipis. Ani melakukannya seperti ketika ia berlatih memukul samsak
di Sasana Kemuning Gading. Pelatihnya mencatat, Ani berhasil melesakkan seratus
duapuluh tiga pukulan dalam satu menit dan itu adalah rekor terbarunya. Dan di
atas tubuh Andre, Ani melepaskan pukulannya selama tiga menit. Setelah itu, Ani
menghentikan pukulannya, dan terengah-engah dan turun dari ranjang. Dalam keadaan
telanjang bersimbah peluh ia berdiri dan melihat tubuh yang tak
bergerak lagi milik Andre di atas ranjang kusut masai tersebut. Darah kental
menetes ke lantai dari ujung kepalan tinjunya.
-Hizbul Ridho, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar