Hingga malam ini aku terbaring di atas ranjang, aku masih teringat pertemuan
itu. Di koridor kampus, ketika sepasang mata kita bersitatap, ratusan volt
listrik mengalir begitu saja dalam dadaku, dan jantungku berdetak cepat dan
tubuhku bergetar hebat. Ya, di pertemuan mata kita yang hanya beberapa detik
itu, membuatku jadi berkhayal bagaimana jika aku bisa mendapatkanmu kelak.
Mungkin bisa aku buat PLTC (Pembangkit Listrik Tenaga Cinta), sehingga kota
yang keseringan mati lampu ini bisa terus terang benderang selama kita bersama.
Di malam yang gelap gulita ini aku asyik menerawang setiap pertemuan mata
kita di koridor kampus. Pertemuan yang baru terjadi setelah empat tahun kita
kuliah. Padahal aku telah memerhatikanmu dari semenjak empat tahun lalu, kita
masih sama-sama dipaksa makan petai mentah oleh para senior, memicing-micing
dan berkerut-kerut bibir tipismu merasakan pahit setiap kunyahannya, lucu
sekali kelihatannya.
Aih, waktu itu aku hanya asyik memandangimu dari kejauhan. Semenjak itu
wajahmu tidak luput dari perhatianku di setiap perjumpaan acak kita di kampus,
di koridor fakultas, maupun di kafe, seperti secara otomatis saja wajahmu
tersimpan dalam memoriku, sehingga setiap kurasakan kehadiranmu dalam radius
duapuluh meter saja, mata ini secara alamiah menyorotmu.
Dan aku hanya berani memandangimu dari kejauhan, untuk aku berpura-pura
berpaling kembali setelah sepuluh langkah jarak berhadapan denganmu. Begitulah
selalu setiap bertemu denganmu. Dan jika kau pikir hobiku ini aneh, biarlah.
Aku hanya tidak berani untuk berkenalan dengan wanita asing di jalan yang aku
anggap menarik. Jadi, cukuplah memandangi wajahmu menjadi pengobat hatiku yang
sepi ini. Meskipun banyak yang bilang wajahku tampan, berkenalan denganmu
adalah ibarat kata-kata serupa tembok besar lebar tinggi berlumut yang harus
aku panjat, yang mustahil.
Namun hari itu, setelah empat tahun aku hanya bisa memandangimu dari
jauh, tak sengaja sepasang mata kita bertemu, lebih lima detik lamanya mata
kita saling lekat saling menyelami hati. Sebuah pembicaraan tanpa kata yang
mendebarkan. Aku seperti memasuki suatu masa dalam jiwamu, ketika kita
berkejar-kejaran di sebuah taman rindang, saling berbagi gelak tawa seraya
bergandengan tangan, hingga tiba di depan pohon yang ditumbuhi buah bidara tak
berduri, menggoda kita untuk memetiknya. Dan dengan bidara itu kita saling
bersuapan kasih sayang. Betapa melalui mata itu aku seperti mengenalmu sudah
sekian lama. Entah pada suatu masa apa.
Dan dimulai semenjak hari itu, saat kita berpapasan setiap harinya aku
tidak lagi menikmati wajahmu secara sepihak. Di setiap pertemuan singkat itu
mata kita selalu bertemu, terpaku selama lima detik menyadari keberadaan masing-masing,
menikmati pertemuan singkat itu. Namun hingga kamu memakai toga, tak juga aku
berani berkenalan dan meminta nomormu.
Hal tersebut sebenarnya bukan tanpa usaha. Layaknya seorang informan
professional, mengumpulkan data tentangmu tanpa sepengetahuanmu sudah menjadi
hobiku, ya, sebuah kesenangan melebihi kesenanganku membaca buku dan berlari. Namamu kudapati dari temanku yang
kebetulan satu daerah asal denganmu; Ridha. Aih, kau tahu, nama kita hanya
berbeda di ujung fokalnya saja. Juga aku tahu buku terakhir yang kau baca dari
kartu perpustakaanmu yang aku dapati di perpustakaan fakultas kita; Metamorphosis-nya
Franz Kafka?! Gila, pikirku
terkejut mendapati judul buku dan pengarangnya di kartu pustakamu. Wanita mana
yang mau membaca karya sastra yang seserius Metamorphosis? Pastinya isi kepalamu
tak sembarangan, sungguh jarang kutemui wanita cantik dan pintar sekaligus.
Tersenyum kuberkhayal kita berdua asyik berdiskusi mengenai buku itu.
Pernah beberapa kali aku berusaha mencuri kesempatan di setiap pertemuan
kita, setelah lima detik pertemuan mata itu, aku menyapamu, “halo… Eh… Anu…
Saya sudah lama memerhatikanmu. Dan sepertinya akan menyenangkan kalau kita
bisa berteman dan mengenal satu sama lain.” Atau di kesempatan lain, ketika kau
dengan sengaja menjatuhkan sapu tanganmu di depanku, aku memungutnya yang
secara tak sengaja juga kau coba pungut, ujung jari kita bersentuhan, mata
kita kembali bersitatap selama lebih dari lima detik. Atau di kesempatan lain,
ketika kau sedang duduk-duduk di koridor bersama teman-temanmu, dengan gagah
berani dan gaya berjalan Pak Dekan kudekati kau sambil menyodorkan telpon genggamku, meminta
nomormu. Dan beberapa skenario klise lain yang hanya terjadi dalam imajinasiku.
Ya, hanya dalam otakku, ketika kita berpapasan untuk saling memunggungi lagi.
Setiap aku sadari keberadaanmu sudah tidak ada lagi di kampus semakin aku
merutuki diri, kenapa perkenalan itu hanya terjadi dalam khayalku. Hingga aku
juga menyalahkan kodratku sebagai lelaki, kenapa harus kami dulu, kaum Adam
yang melulu memulai tindakan, kenapa harus kami yang terlihat agresif sedangkan
kaum Hawa hanya pasif menunggu didekati. Apakah memang begitu kodratnya; lelaki
sebagai subjek sedangkan perempuan menjadi objeknya. Ah, betapa timpang
peraturan purba itu. Namun kenapa di hadapanmu peraturan seperti itu juga tidak
berlaku bagiku. Apakah kau mau berpikir bahwa aku bukanlah lelaki. Tidak,
sesungguhnya aku hanya menginginkan kita sederajat.
Lama aku merenung-renungi pemikiran konyol itu akhirnya, tiba juga masaku
memakai toga, tanpa ada seorang kekasih pun mendampingiku. Mungkin tak akan pernah
kudapati wanita sepertimu. Seperti kata temanku: “Tuhan itu maha adil, wanita itu meskipun kurang
pada pikirannya tetapi dilebihkan pada keindahannya. Kita para Adam, meskipun
telah menaklukkan kerajaan di seberang benua sekalipun, akan langsung tunduk
dengan keindahan yang dimiliki oleh wanita, seakan-akan segalanya hanyalah
sia-sia dibandingkan mendapati hati sang wanita,” kata temanku itu padaku suatu
hari di kafe. Lantas dengan idealismeku sendiri aku menjawabnya: “ya, aku setuju mengenai
keindahan seorang wanita itu tiada taranya, bahkan para seniman, pelukis atau
penyair sekalipun sampai-sampai kesulitan mentransformasikan keindahan mereka
dengan media bahasa ataupun cat warna. Tetapi bukankah dengan begitu wanita
hanya menjadi objek kita, tak ubahnya seperti lukisan wanita telanjang abad Renaisanse
yang kita nikmati di sudut ruangan yang dingin atau sajak-sajak cintanya
Chairil Anwar yang kita baca dalam sunyi. Ya, layaknya seorang gadis cilik yang
baru mendapatkan hadiah boneka Barbie pada hari ulang tahunnya. Sang gadis
dengan sesukanya memainkan bonekanya tetapi tidak bercakap-cakap dengannya
(boneka itu cantik tetapi tidak memiliki jiwa dan kesadaran).” Dan aku pikir
kau pun akan marah dengan pernyataan arogan seperti itu.
Setelah aku wisuda dari kampus ini tak kutemui lagi mata seperti matamu.
Kebanyakan wanita yang berpapasan denganku hanya menoleh ke arahku sepicingan
mata, padahal sudah sengaja aku memperhatikan matanya lamat-lamat dengan tatapan
yang sengaja aku sipitkan sedikit agar terlihat seksi, tetapi tatapanku diacuhkan begitu
saja. Bahkan banyak wanita yang tidak menoleh ke arahku sedikitpun, mereka asyik
tertawa dengan teman-temannya atau berangkulan dengan kekasihnya, seakan aku
hanya salah satu tong sampah di sudut gang. Akan tetapi bukan berarti aku tidak
pernah mengajak seorang wanita pun berkencan. Bahkan aku tidak bisa menghitung berapa. Kebanyakan karena aku
tertarik pada buah dadanya yang padat, atau pantatnya yang kencang atau tubuh
dan lenggak-lenggoknya seperti kucing rumahan yang mendapatkan perawatan eksklusif
oleh pemiliknya. Namun wanita seperti itu tidak membawa kesan setelah kencan
pertama. Sebab tak kulihat sesuatu di matanya. Tidak seperti matamu.
Apakah kau pikir aku ini gila, memiliki kelainan jiwa dan bersikap
obsesif impulsif terhadap matamu. Buanglah jauh-jauh anggapmu itu, aku hanya
percaya pada cinta pada pandangan pertama—meskipun kau bukanlah wanita pertama
yang aku taksir. Kebanyakan meraka aku dapati dengan mudah dan aku tinggalkan
juga dengan mudah, karena mata mereka tidak memiliki kesan mendalam. Memang aku
agak idealis terhadap yang satu ini, karena kau tahu, aku membayangkan akan
hidup hingga ajal nanti dengan seorang wanita, seorang teman hidupku kelak,
jadi sifat perfeksionisku terhadap hal ini sebab aku tidak mau mengambil risiko
bahwa pernikahan kami akan goyah sebab tidak didasari cinta yang kuat, atau cinta
sejati yang datangnya dari jiwa. Dan kenapa mata, sebab sudah menjadi pendapat
umum bahwa mata adalah jendela kita melihat ke dalam jiwa seseorang. Seperti
Brida dalam novel “Brida” karangan Paulo Coelho yang mencari belahan jiwanya
melalui mata. Dia yakin pasangan jiwanya adalah seseorang yang memiliki cahaya
di pupil matanya ketika bertemu dengan matanya. Dan aku pun meyakini itu.
Dan kau tahu, aku melihat cahaya itu di bola matamu. Cahaya yang
berkasnya tak pernah hilang dalam ingatanku meskipun kita telah berpisah.
Cahaya yang membuatku ekstase hanya dengan mengkhayalkannya, membayangkan
pertemuan kita kembali. Dan pada saat itu aku tak akan segan-segan langsung
mengajakmu menikah. Mungkin kita akan membangun sebuah rumah di tepi telaga,
yang ketika sore hari kita bisa berdiskusi mengenai “Di Beranda Ini Angin Tak
Kedengaran Lagi” milik Goenawan Muhamad, sambil menyaksikan semburat senja yang
menyiram telaga dan membikin permukaan airnya menjadi berkilau merah keperakan,
dan sepasang anak kita berkejaran di tamannya.
Betapa konyol jika aku terus mengkhayalkan pertemuan denganmu itu, yang
tentunya semakin mustahil dan putus asa aku dibuatnya. Sebab umurku kini sudah
hampir empat puluh tahun, dan ibuku terus saja memperingatkan agar segera
menikah karena dia ingin sekali menimang cucu dariku—beliau yang sudah tiga
kali bercerai dan tidak bahagia dengan suami terakhirnya (pengalaman ibu tidak
ingin aku ulangi di kehidupanku).
Sekarang aku ingin meliput sebuah Bank Donor Mata (aku lupa memberitahumu
bahwa sekarang aku telah menjadi seorang jurnalis. Dan aku cukup dipandang oleh
masyarakat karena tulisan-tulisanku). Hal ini aku lakukan karena aku tertarik
terhadap seorang pasien (yang merupakan tetangga dekatku) yang bisa kembali
melihat setelah mendapatkan transplantasi mata gratis dari rumah donor itu.
Mungkin aku bisa membuat sebuah feature yang
menarik tentangnya.
Aku baru sampai di Bank Donor Mata tersebut. Usai mewawancari beberapa
narasumber yang terlibat, yang aku butuhkan pernyataannya (pimpinan rumah,
dokter spesialis mata yang bekerja dan beberapa pasien, ada juga pendonor yang
berniat menghibahkan matanya setelah meninggal), aku berkeliling ruangan untuk
melengkapi data yang aku perlukan. Tibalah aku di ruangan tempat penyimpanan
mata. Ratusan pasang mata disimpan di sebuah tabung dengan cairan pengawet pada
ruangan bersuhu dingin, dan diletakkan pada rak-rak bersusun-susun, bertingkat-tingkat
seperti rak buku. Di setiap tabungnya tertera kode-kode untuk menandai
identitas masing-masing mata (mungkin agar sesuai dengan keperluan pasien yang
membutuhkan mata tersebut). Aku perhatikan, kebanyakan pupil mata berwarna
hitam, beberapa berwarna biru dan kuning keemasan (aku tak pernah menyangka ada
orang asing yang mendonorkan matanya di sini). Lama aku merenungi ratusan
pasang mata tersebut, betapa dahulu mereka adalah milik orang-orang yang pernah
hidup. Aku jadi merasa jijik dan mual memikirkannya, dan tak terasa tubuhku mulai
merinding sebab suhu dingin yang menggigit kulitku. Aku memutuskan segera pergi.
Pada saat aku mengalihkan mata ke arah pintu keluar, tiba-tiba saja
sebuah tabung di sudut arah pintu membikin aku terpaku menatapnya. Sepasang
mata yang seakan menatapku. Aku seperti mengenali mata itu. Sepasang mata coklat
yang ditengah pupilnya memancarkan cahaya, yang entah kenapa terasa begitu
akrab di masa lalu entah pada masa apa.
Hizbul Ridho, Padang: 2 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar