Jumat, 25 Desember 2015

Solilokui Sepasang Mata





Hingga malam ini aku terbaring di atas ranjang, aku masih teringat pertemuan itu. Di koridor kampus, ketika sepasang mata kita bersitatap, ratusan volt listrik mengalir begitu saja dalam dadaku, dan jantungku berdetak cepat dan tubuhku bergetar hebat. Ya, di pertemuan mata kita yang hanya beberapa detik itu, membuatku jadi berkhayal bagaimana jika aku bisa mendapatkanmu kelak. Mungkin bisa aku buat PLTC (Pembangkit Listrik Tenaga Cinta), sehingga kota yang keseringan mati lampu ini bisa terus terang benderang selama kita bersama.

Di malam yang gelap gulita ini aku asyik menerawang setiap pertemuan mata kita di koridor kampus. Pertemuan yang baru terjadi setelah empat tahun kita kuliah. Padahal aku telah memerhatikanmu dari semenjak empat tahun lalu, kita masih sama-sama dipaksa makan petai mentah oleh para senior, memicing-micing dan berkerut-kerut bibir tipismu merasakan pahit setiap kunyahannya, lucu sekali kelihatannya.

Aih, waktu itu aku hanya asyik memandangimu dari kejauhan. Semenjak itu wajahmu tidak luput dari perhatianku di setiap perjumpaan acak kita di kampus, di koridor fakultas, maupun di kafe, seperti secara otomatis saja wajahmu tersimpan dalam memoriku, sehingga setiap kurasakan kehadiranmu dalam radius duapuluh meter saja, mata ini secara alamiah menyorotmu.

Dan aku hanya berani memandangimu dari kejauhan, untuk aku berpura-pura berpaling kembali setelah sepuluh langkah jarak berhadapan denganmu. Begitulah selalu setiap bertemu denganmu. Dan jika kau pikir hobiku ini aneh, biarlah. Aku hanya tidak berani untuk berkenalan dengan wanita asing di jalan yang aku anggap menarik. Jadi, cukuplah memandangi wajahmu menjadi pengobat hatiku yang sepi ini. Meskipun banyak yang bilang wajahku tampan, berkenalan denganmu adalah ibarat kata-kata serupa tembok besar lebar tinggi berlumut yang harus aku panjat, yang mustahil.

Namun hari itu, setelah empat tahun aku hanya bisa memandangimu dari jauh, tak sengaja sepasang mata kita bertemu, lebih lima detik lamanya mata kita saling lekat saling menyelami hati. Sebuah pembicaraan tanpa kata yang mendebarkan. Aku seperti memasuki suatu masa dalam jiwamu, ketika kita berkejar-kejaran di sebuah taman rindang, saling berbagi gelak tawa seraya bergandengan tangan, hingga tiba di depan pohon yang ditumbuhi buah bidara tak berduri, menggoda kita untuk memetiknya. Dan dengan bidara itu kita saling bersuapan kasih sayang. Betapa melalui mata itu aku seperti mengenalmu sudah sekian lama. Entah pada suatu masa apa.

Dan dimulai semenjak hari itu, saat kita berpapasan setiap harinya aku tidak lagi menikmati wajahmu secara sepihak. Di setiap pertemuan singkat itu mata kita selalu bertemu, terpaku selama lima detik menyadari keberadaan masing-masing, menikmati pertemuan singkat itu. Namun hingga kamu memakai toga, tak juga aku berani berkenalan dan meminta nomormu.

Hal tersebut sebenarnya bukan tanpa usaha. Layaknya seorang informan professional, mengumpulkan data tentangmu tanpa sepengetahuanmu sudah menjadi hobiku, ya, sebuah kesenangan melebihi kesenanganku membaca buku dan berlari. Namamu kudapati dari temanku yang kebetulan satu daerah asal denganmu; Ridha. Aih, kau tahu, nama kita hanya berbeda di ujung fokalnya saja. Juga aku tahu buku terakhir yang kau baca dari kartu perpustakaanmu yang aku dapati di perpustakaan fakultas kita; Metamorphosis-nya Franz Kafka?! Gila, pikirku terkejut mendapati judul buku dan pengarangnya di kartu pustakamu. Wanita mana yang mau membaca karya sastra yang seserius Metamorphosis? Pastinya isi kepalamu tak sembarangan, sungguh jarang kutemui wanita cantik dan pintar sekaligus. Tersenyum kuberkhayal kita berdua asyik berdiskusi mengenai buku itu.  

Pernah beberapa kali aku berusaha mencuri kesempatan di setiap pertemuan kita, setelah lima detik pertemuan mata itu, aku menyapamu, “halo… Eh… Anu… Saya sudah lama memerhatikanmu. Dan sepertinya akan menyenangkan kalau kita bisa berteman dan mengenal satu sama lain.” Atau di kesempatan lain, ketika kau dengan sengaja menjatuhkan sapu tanganmu di depanku, aku memungutnya yang secara tak sengaja juga kau coba pungut, ujung jari kita bersentuhan, mata kita kembali bersitatap selama lebih dari lima detik. Atau di kesempatan lain, ketika kau sedang duduk-duduk di koridor bersama teman-temanmu, dengan gagah berani dan gaya berjalan Pak Dekan kudekati kau sambil menyodorkan telpon genggamku, meminta nomormu. Dan beberapa skenario klise lain yang hanya terjadi dalam imajinasiku. Ya, hanya dalam otakku, ketika kita berpapasan untuk saling memunggungi lagi.

Setiap aku sadari keberadaanmu sudah tidak ada lagi di kampus semakin aku merutuki diri, kenapa perkenalan itu hanya terjadi dalam khayalku. Hingga aku juga menyalahkan kodratku sebagai lelaki, kenapa harus kami dulu, kaum Adam yang melulu memulai tindakan, kenapa harus kami yang terlihat agresif sedangkan kaum Hawa hanya pasif menunggu didekati. Apakah memang begitu kodratnya; lelaki sebagai subjek sedangkan perempuan menjadi objeknya. Ah, betapa timpang peraturan purba itu. Namun kenapa di hadapanmu peraturan seperti itu juga tidak berlaku bagiku. Apakah kau mau berpikir bahwa aku bukanlah lelaki. Tidak, sesungguhnya aku hanya menginginkan kita sederajat.

Lama aku merenung-renungi pemikiran konyol itu akhirnya, tiba juga masaku memakai toga, tanpa ada seorang kekasih pun mendampingiku. Mungkin tak akan pernah kudapati wanita sepertimu. Seperti kata temanku: “Tuhan itu maha adil, wanita itu meskipun kurang pada pikirannya tetapi dilebihkan pada keindahannya. Kita para Adam, meskipun telah menaklukkan kerajaan di seberang benua sekalipun, akan langsung tunduk dengan keindahan yang dimiliki oleh wanita, seakan-akan segalanya hanyalah sia-sia dibandingkan mendapati hati sang wanita,” kata temanku itu padaku suatu hari di kafe. Lantas dengan idealismeku sendiri aku menjawabnya: “ya, aku setuju mengenai keindahan seorang wanita itu tiada taranya, bahkan para seniman, pelukis atau penyair sekalipun sampai-sampai kesulitan mentransformasikan keindahan mereka dengan media bahasa ataupun cat warna. Tetapi bukankah dengan begitu wanita hanya menjadi objek kita, tak ubahnya seperti lukisan wanita telanjang abad Renaisanse yang kita nikmati di sudut ruangan yang dingin atau sajak-sajak cintanya Chairil Anwar yang kita baca dalam sunyi. Ya, layaknya seorang gadis cilik yang baru mendapatkan hadiah boneka Barbie pada hari ulang tahunnya. Sang gadis dengan sesukanya memainkan bonekanya tetapi tidak bercakap-cakap dengannya (boneka itu cantik tetapi tidak memiliki jiwa dan kesadaran).” Dan aku pikir kau pun akan marah dengan pernyataan arogan seperti itu.

Setelah aku wisuda dari kampus ini tak kutemui lagi mata seperti matamu. Kebanyakan wanita yang berpapasan denganku hanya menoleh ke arahku sepicingan mata, padahal sudah sengaja aku memperhatikan matanya lamat-lamat dengan tatapan yang sengaja aku sipitkan sedikit agar terlihat seksi, tetapi tatapanku diacuhkan begitu saja. Bahkan banyak wanita yang tidak menoleh ke arahku sedikitpun, mereka asyik tertawa dengan teman-temannya atau berangkulan dengan kekasihnya, seakan aku hanya salah satu tong sampah di sudut gang. Akan tetapi bukan berarti aku tidak pernah mengajak seorang wanita pun berkencan. Bahkan aku tidak bisa menghitung berapa. Kebanyakan karena aku tertarik pada buah dadanya yang padat, atau pantatnya yang kencang atau tubuh dan lenggak-lenggoknya seperti kucing rumahan yang mendapatkan perawatan eksklusif oleh pemiliknya. Namun wanita seperti itu tidak membawa kesan setelah kencan pertama. Sebab tak kulihat sesuatu di matanya. Tidak seperti matamu.

Apakah kau pikir aku ini gila, memiliki kelainan jiwa dan bersikap obsesif impulsif terhadap matamu. Buanglah jauh-jauh anggapmu itu, aku hanya percaya pada cinta pada pandangan pertama—meskipun kau bukanlah wanita pertama yang aku taksir. Kebanyakan meraka aku dapati dengan mudah dan aku tinggalkan juga dengan mudah, karena mata mereka tidak memiliki kesan mendalam. Memang aku agak idealis terhadap yang satu ini, karena kau tahu, aku membayangkan akan hidup hingga ajal nanti dengan seorang wanita, seorang teman hidupku kelak, jadi sifat perfeksionisku terhadap hal ini sebab aku tidak mau mengambil risiko bahwa pernikahan kami akan goyah sebab tidak didasari cinta yang kuat, atau cinta sejati yang datangnya dari jiwa. Dan kenapa mata, sebab sudah menjadi pendapat umum bahwa mata adalah jendela kita melihat ke dalam jiwa seseorang. Seperti Brida dalam novel “Brida” karangan Paulo Coelho yang mencari belahan jiwanya melalui mata. Dia yakin pasangan jiwanya adalah seseorang yang memiliki cahaya di pupil matanya ketika bertemu dengan matanya. Dan aku pun meyakini itu.

Dan kau tahu, aku melihat cahaya itu di bola matamu. Cahaya yang berkasnya tak pernah hilang dalam ingatanku meskipun kita telah berpisah. Cahaya yang membuatku ekstase hanya dengan mengkhayalkannya, membayangkan pertemuan kita kembali. Dan pada saat itu aku tak akan segan-segan langsung mengajakmu menikah. Mungkin kita akan membangun sebuah rumah di tepi telaga, yang ketika sore hari kita bisa berdiskusi mengenai “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” milik Goenawan Muhamad, sambil menyaksikan semburat senja yang menyiram telaga dan membikin permukaan airnya menjadi berkilau merah keperakan, dan sepasang anak kita berkejaran di tamannya.

Betapa konyol jika aku terus mengkhayalkan pertemuan denganmu itu, yang tentunya semakin mustahil dan putus asa aku dibuatnya. Sebab umurku kini sudah hampir empat puluh tahun, dan ibuku terus saja memperingatkan agar segera menikah karena dia ingin sekali menimang cucu dariku—beliau yang sudah tiga kali bercerai dan tidak bahagia dengan suami terakhirnya (pengalaman ibu tidak ingin aku ulangi di kehidupanku).


Sekarang aku ingin meliput sebuah Bank Donor Mata (aku lupa memberitahumu bahwa sekarang aku telah menjadi seorang jurnalis. Dan aku cukup dipandang oleh masyarakat karena tulisan-tulisanku). Hal ini aku lakukan karena aku tertarik terhadap seorang pasien (yang merupakan tetangga dekatku) yang bisa kembali melihat setelah mendapatkan transplantasi mata gratis dari rumah donor itu. Mungkin aku bisa membuat sebuah feature yang menarik tentangnya.

Aku baru sampai di Bank Donor Mata tersebut. Usai mewawancari beberapa narasumber yang terlibat, yang aku butuhkan pernyataannya (pimpinan rumah, dokter spesialis mata yang bekerja dan beberapa pasien, ada juga pendonor yang berniat menghibahkan matanya setelah meninggal), aku berkeliling ruangan untuk melengkapi data yang aku perlukan. Tibalah aku di ruangan tempat penyimpanan mata. Ratusan pasang mata disimpan di sebuah tabung dengan cairan pengawet pada ruangan bersuhu dingin, dan diletakkan pada rak-rak bersusun-susun, bertingkat-tingkat seperti rak buku. Di setiap tabungnya tertera kode-kode untuk menandai identitas masing-masing mata (mungkin agar sesuai dengan keperluan pasien yang membutuhkan mata tersebut). Aku perhatikan, kebanyakan pupil mata berwarna hitam, beberapa berwarna biru dan kuning keemasan (aku tak pernah menyangka ada orang asing yang mendonorkan matanya di sini). Lama aku merenungi ratusan pasang mata tersebut, betapa dahulu mereka adalah milik orang-orang yang pernah hidup. Aku jadi merasa jijik dan mual memikirkannya, dan tak terasa tubuhku mulai merinding sebab suhu dingin yang menggigit kulitku. Aku memutuskan segera pergi.

Pada saat aku mengalihkan mata ke arah pintu keluar, tiba-tiba saja sebuah tabung di sudut arah pintu membikin aku terpaku menatapnya. Sepasang mata yang seakan menatapku. Aku seperti mengenali mata itu. Sepasang mata coklat yang ditengah pupilnya memancarkan cahaya, yang entah kenapa terasa begitu akrab di masa lalu entah pada masa apa.


Hizbul Ridho, Padang: 2 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar