Tiga hari sebelum kami menikah, Anne, calon istriku,
maksudku mantan calon istriku membatalkan pernikahan kami. Bukan karena ia tak
lagi mencintaiku. Tak. Ia pernah sangat mencintai diriku sebelum seorang
perampok yang panik, melesatkan peluru liarnya ke dada mantan kekasihku di sebuah
pusat perbelanjaan.
Aku tak tahu, apakah kematian tersebut sebuah Takdir Tuhan ataukah
sebuah kebetulan. Kau tahu, seperti seekor semut yang tak sengaja mati tersebab
terinjak sepatumu yang sedang melangkah. Tepat tiga hari sebelumnya, pada sabtu
malam musim semi yang hampir habis, saat kami baru saja selesai saling pagut,
di apartemenku, kami berdiskusi tentang kematian, maksudku sedikit berdebat
tentang hidup. Bisa jadi, kematian Anne adalah sebuah olok-olok Tuhan terhadap
Anne yang menolak maut.
Di atas ranjang yang kusut itu, Anne menerawang kehidupan kami setelah menikah nanti. Sambil mengelus-ngelus
dadaku ia berkata bahwa setelah menikah nanti ia yakin, musim semi tak akan
pernah sudah di rumah mungil yang nantinya akan kami tempati. Malam itu adalah
malam terakhir musim panas sebelum berganti menjadi gugur dengan udara yang
sedikit menggigit kulit dan daun-daun yang mulai menguning, coklat lalu luruh.
“Di rumah kita yang baru, musim semi akan abadi Rung,” suara
lembut Anne membelai gendang telingaku. “Dan maut akan terhisap air kloset seperti setelah kau
buang air.” Dia memang selalu puitis dan sedikit jenaka, bahkan kepada maut
sekali pun. Dan kecintaannya akan hidup seperti itu yang membuatku pernah memilihnya
sebagai teman hidup.
“Kau tahu, Aku sangat membenci Maut. Bagiku, maut adalah seorang
algojo bertubuh besar yang memegang tali gilotin yang sewaktu-waktu bisa
memancung kepalamu. Aku mau ia lesap di dalam kloset seperti tai.”
“Tapi kita mustahil menolak maut Anne.”
Anne menjadi ketergantungan alat-alat kosmetik semenjak umurnya berkepala
tiga. Ia rela mengeluarkan hampir seluruh uangnya hanya untuk implan silikon payudara dan cairan kimiawi penghilang kerut di wajah. Melalui
cara artifisial tersebut ia ingin seperti Barbie yang tak pernah lekang oleh waktu. Padahal, sesungguhnya, umur Anne seusia dengan ibuku yang berada
di kampung. Aku pernah diperlihatkan potretnya ketika ia berumur awal dua puluhan,
begitu kenes dan seksi namun masih tetap anggun. Dan dirinya yang
sekarang—maksudku hingga ia sebelum meninggal, masih sama seperti potret
dirinya tiga puluh tahun lalu itu. Sepertinya ia ingin membuat dirinya dalam
potret itu abadi seperti ia ingin membuat hidup ini abadi.
Namun ia hanya sedikit lebih puitis dibanding wanita yang
kecanduan bedah plastik seperti dirinya. Kau tahu, semakin puitis seseorang
semakin ia memandang hidup secara lebih manusiawi. Namun kemudian, melalui peluru yang tersesat di dada Anne, sepertinya
Tuhan ingin mengolok-ngolok usahanya agar menjadi abadi.
“Kau hanya bisa abadi di dalam puisi Anne.”
“Omong kosong.”
Semenjak itu, rasanya, musim panas menjadi sangat singkat
sesingkat kau membuka pintu, melangkah ke luar rumah—bahkan kau tak sempat melewati musim gugur sekalipun. Kau tidak hanya akan melihat musim dingin di luar rumah yang
bersalju dan pohon-pohon yang kaku dan langit yang sendu. Namun juga di tungku perapian, di atas sofa, di pemanggang roti, di
atas kompor. Lalu di atas ranjangmu, kau hanya akan melulu melihat salju.
Bahkan musim dingin menumpuk di dadamu.
Bagiku yang ditinggal olah seorang mantan calon istri yang mati tiga hari sebelum menikah, kesepian adalah tokoh antagonis yang mengacaukan konsep waktu. Kau akan coba berlindung ke dalam saat di mana musim semi bertahan di sudut-sudut ingatanmu.
Aku bertemu Anne di Fifth Avenue Central Park tempat sekawanan merpati sedang rakus
mematuki remah roti dari seorang tua yang saban hari mampir ke taman itu.
Rumput-rumput hijau yang menarikan lagu matahari dan kau akan bisa melihat tawa
derai anak-anak yang terbang bersama frisbee yang membentuk lengkung kurva
pelajaran matematika sekolah dasar. Di salah satu dipan taman itu, aku duduk sendirian, mengamati seorang tua dari blok
sebelah sedang menabur remah roti dan anak-anak yang melempar frisbee.
“Sedang musim apa di negaramu?”
Sekonyong-konyong seuntai suara wanita menerobos telingaku yang
sedang terbiasa mendengar desau angin musim panas yang tenang di taman itu. Seorang
wanita dengan paras aktris Hollywood yang baru aku tonton dua hari lalu—wajahnya
perpaduan antara Julia Robert dan Nicole Kitmen. Aku memandang matanya dan seberkas cahaya tiba-tiba meloncat dari pupil matanya itu ke pupil mataku, dan membikinku tergeragap untuk menjawab. Aku mencari rasionalisasi kenapa kepadaku, orang
asing yang duduk sendirian di sepetak taman di negara yang pura-pura adikuasa ini—namun masih menunjukkan hiperegonya yang
arogan di negara dunia
ketiga. Bisa jadi, karena aku adalah lelaki
berbadan kecil dengan kulit sawo matang yang terdampar di antara raksasa
bermata biru dan berambut pirang.
“Di negaraku cuma ada dua musim, atau mungkin cuma satu. Entahlah aku
tak begitu yakin. Di negaraku aku hanya melihat panas yang garang dan air yang
meluap yang berganti-ganti datang tanpa permisi, pulang tanpa diantar.
Seperti jailangkung.”
“Jailangkung? Apa pula itu jailangkung?”
Tadinya aku bermaksud berkelakar, namun aku lupa aku sedang berada
di negeri orang yang lebih akrab dengan film pahlawan super berkostum ketat dengan kolor di luar celana daripada sebuah boneka kerempeng dengan batok kelapa yang
dirasuki arwah yang berasal dari negeri antah berantah.
Namun di pertemuan pertamaku dengan Anne sore itu, aku harus memutar otak menjawab segala pertanyaannya dengan negeri yang menurutnya eksotis tersebut. Ia terus menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, hingga kami berada di atas ranjang apartemenku malam harinya. Jawaban-jawaban yang aku sendiri sulit menyusun argumen logis. Begitulah perjumpaan pertamaku dengan Anne hingga sebutir peluru yang sedang tak tahu harus melesat kemana akhirnya memilih dada Anne untuk tempat bersarangnya. Hingga di apartemenku hanya ada musim dingin yang abadi dan tiga musim lain yang terkelupas seperti kertas dinding yang digerogoti waktu.
“Kau tak bisa menolak maut Anne.” Aku berkata seperti itu tak lagi
kepada Anne yang dulu sering memelukku di ranjang ini. Mungkin aku berkata
demikian kepada setiap bunga yang dipajangnya di sudut-sudut kamar apartemen ini. Anne suka dengan bunga, apa saja,
terutama yang berasal dari timur jauh tempatku berasal.
“Sempatkanlah membawa melati ke sini, Rung.” Pada
suatu hari di bandara John F
Kennedy ia berkata demikian kepadaku sebelum
aku lepas landas pulang kampung.
“Tapi tunggu dulu,” suaranya lagi menahan diriku yang hendak
melangkah pergi. “Aku ingin yang terbuat dari plastik saja. Aku tak mau ia mati
bahkan sebelum sampai sini.”
Aku memandang bunga melati yang aku bawa itu terpajang kusam di
sudut kamar ini. Penuh debu dan kaku. Bahkan bunga plastik itu pun tak bisa
menyimpan keabadian. Anne dan hidup dan plastik dan puisi. Kekasihku itu,
maksudku mantan calon istriku seperti mengaduk ironi dalam dirinya. Kau tak
akan bisa puitis jika kau menyukai bunga plastik. Namun Anne melakukannya dan
Tuhan mengolok-oloknya.
Aku mencoba mengusir kesepianku dengan mengunjungi beberapa teman
di kota-kota sebelah—Connecticut, New Jersey. Di kota tempat Anne mati ini cuaca begitu
dingin dan salju menumpuk selapis demi selapis seperti sandwitch yang disimpan
terlalu lama dalam pendingin kulkas. Rumah-rumah
mati, pohon-pohon mati. Aku tak melihat seorang warga pun selagi aku
mengendarai mobil melewati kota ini. Bahkan aku tak lagi mendengar suara burung
bernyanyi. Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara ban mobil yang menggilas
salju.
Di kota-kota sebelah ini aku tak dapat menemukan seorang pun temanku. Beberapa
kali aku sampai di rumah dan apartemen mereka, namun tak pula aku dapati teman-temanku.
Aku coba memijit bel dan mengetuk pintu namun hanya bunyi bel dan ketukan kayu yang menggema-gema di dalam ruang kosong. Pada
akhirnya, aku kembali balik kanan dan
mengendarai mobilku pulang.
Di sepanjang perjalananku pulang, kembali terngiang setiap
pernyataan Anne terhadap maut. Baginya, maut adalah algojo empunya gilotin.
Seseorang yang divonis mati dengan gilotin sambil disaksikan ribuan pasang mata asing yang menyaksikan nanar kepalanya terpisah
dari badan tahu, jarak hidup dan mati hanya sepersekian sekon sebelum
pisau gilotin membelah leher si terhukum. Sambil menyaksikan ribuan pasang mata
yang dingin menatapnya, seakan pesakitan ini bukanlah bagian dari mereka,
seharusnya tahu, hidup tak lagi terdapat pada mata warga itu. Entah mereka memandang
ke arah mana, tak pula maut. Mungkin mereka hanya sedang menikmati sedikit
sensasi saat pisau yang beratnya ratusan kilo dan setajam silet itu membelah
kulit si pesakit seperti menyaksikan pertunjukkan akrobatik tong setan
yang berputar-putar di pasar malam.
Bagi si pesakitan itu sendiri, sepersekian sekon saat gilotin
memisahkan kepalanya dari tubuhnya, bahkan tak ia rasakan sakit
sekelumit pun. Rasa sakit hanya dirasakan oleh warga yang menyaksikan hukuman
mati itu bahkan ketika mereka bubar pulang ke rumah masing-masing kemudian menyantap makan malam sembari menahan mual di perut. Mungkin, Anne
memposisikan dirinya di antara kerumunan warga itu.
Namun sekarang, tak lagi ada pembunuhan semacam itu di negara mana pun dan Anne
sendiri tak pernah benar-benar menyaksikannya bahkan melalui video Youtube sekalipun. Mungkin pobia Anne terhadap maut hanyalah perasaan
jijiknya yang berkembang setelah melihat bangkai kucing yang membusuk dan penuh belatung, di suatu jalan yang acak dilaluinya.
Tapi apakah maut itu Anne. Kau menjadi sok tahu. Dan aku tak akan
pernah tahu. Malam bertambah dingin dan sepi. Dari luar terdengar suara pintu
diketuk-ketuk lalu disusul suara seorang gadis mungil yang berteriak namun masih terdengar
menggemaskan. Trick or treating.
Apakah sudah halloween. Ataukah waktu dan ruang memang sudah benar-benar kacau
di dalam jagatku.
“Aku akan menjahilimu atau terima permen ini,” kembali suara gadis
itu menggema, lucu dan menggemaskan. Di suatu waktu yang sama entah aku mendengar suara Anne dalam gadis tersebut, saling susul, membikin distorsi. Dan ada yang tak biasa dari kata-kata yang diucapkannya. Ia tidak meminta permen, justru menawarinya. Ini terdengar ganjil dari perayaan halloween yang biasa ketika bocah-bocah justru menginginkan permen dari orang yang didatangi mereka.
“Tok-tok-tok,” gema bunyi tangan mungil yang beradu dengan pintu. “Terima permen ini atau
kau akan kujahili. Hi-hi-hi” Kembali ucapan aneh itu memanggilku, tergelak. Dengan malas kulangkahkan
kakiku, lalu membuka pintu.
Tadinya aku pikir gadis mungil itu merupakan seorang
tetangguku yang biasa berlarian di lorong lantai apartemen ini. Namun belum pernah ku lihat ia di sekitar sini. Seorang gadis yang entah kenapa
sesuai imajinasiku sendiri. Namun berbeda dengan perayaan halloween biasanya ketika bocah-bocah mengenakan kostum siluman atau hantu yang menakutkan, justru ia mengenakan pakaian seperti gula-gula gagang yang menggemaskan.
“Tuan, terimalah permen ini dan kau akan terbebas dari kesepianmu.”
“Apakah sekarang Halloween dipercepat perayaannya?
Setahuku masih beberapa minggu lagi?”
Namun gadis mungil itu tidak menjawab pertanyaanku. Setelah menyerahkan sebuah permennya
ke genggaman tanganku ia melompat-lompat dengan riang menjauhi kamar apartemenku.
Aku berpikir betapa ganjil kejadian ini. Apakah ia hanya wahamku tentang kematian itu sendiri. Mungkin, kau salah Anne. Maut
bukanlah algojo empunya gilotin yang menyeramkan seperti yang selama ini kau
persepsikan. Bisa jadi, maut hanyalah seorang gadis mungil imut yang memberimu permen pada malam halloween. Sebuah permen
dengan pembungkus plastik bergambar bunga-bunga.
Perlahan kubuka bungkusan plastik permen dari gadis cilik
tersebut. Aku penasaran dengan rasanya. Apakah ia strawberri
ataukah nanas...
-Hizbul Ridho, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar