Minggu, 13 Desember 2015

Keluarga Tumbuh pada Biji Jeruk Manis

Ini buah jeruk kesekian yang ia makan bersamaan dengan bijinya setelah lima tahun ia belajar berdamai dengan masa lalu. Ia teringat, pada siang yang kering itu, mereka sering menghabiskan waktu pada perpustakaan kampus yang koleksinya tak boleh dipinjampulang, dan ia begitu jengkel dengan pustakawan keriput itu, lalu ia curi tiga buku sekaligus: Das Kapital, Seribu Kunangkunang di Manhattan, dan Bukan Pasar Malam. Dan ia mengunyah buah jeruk itu untuk kesekian bersamaan dengan bijinya, yang ternyata tak pahit sebagaimana anggapan orangorang, dan ia mengenang kembali pembacaan tiga buku, yang kemudian ia kembalikan dua buku awal, dan menyimpan satu buku akhir sebagai oleholeh dari masa silam dan kemudian, menyadari tak memahami isinya samasekali.

"Setiap karya yang kubaca dan nikmati namun tak memahami isinya kusebut mantra!" katanya kepada seorang kawan, suatukali. Dan pada saat kesadarannya memuncak ia tulis pada kertas usang: sendiri-sendiri kita datang, beramairamai kita pulang, sebagaimana pasar malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar