Jumat, 25 Desember 2015

Lelaki yang Jujur dan Wanita yang Kesepian





Entah kenapa aku begitu saja mendengarkan dia bercerita, dengan khidmat. Bukan kisah petualangan yang menegangkan atau kisah romantis yang mengharukan atau cerita konyol yang memecah tawa. Melainkan cerita yang begitu gelap dan murung. Cerita yang tak seharusnya dikisahkan kepada wanita yang duduk sendirian di sudut bar, yang baru saja dia temui. Namun di sebuah bar yang penerangannya remang dan murung ini aku begitu saja mendengarkannya bercerita.

Kau pernah merasakan betapa kangennya kepada kekasihmu?” sekonyong-konyong dia berkata demikian. Dia berkata seperti itu dengan pandangan kosong ke depan seakan tidak berkata kepada siapa pun tidak pula diriku. Tapi entah kenapa aku merasa pertanyaan tersebut ditujukannya kepadaku.

Aku hanya menjawabnya singkat dengan kata ya dan sebuah anggukan lemah.

Sudah tiga tahun aku dipenjara. Dan hari ini aku pun dibebaskan. Betapa senang hatiku akhirnya aku dapat pulang ke rumah dan bertemu lagi dengan istriku dan anakku yang baru berumur tiga tahun.”

Dia berhenti sejenak lalu menenggak birnya.

“Begitu sampai di depan rumah betapa hancurnya hatiku. Dari jendela, aku melihat istriku dan anakku sedang bercengkrama dengan seorang pria asing. Anakku memanggilnya Ayah dan lelaki itu memeluk istriku dan mengecup keningnya.” Dia berhenti lagi, lalu menghabiskan tegukan birnya yang terakhir. Kemudian dia memanggil bartender untuk menambah birnya. Sedikit pun dia tidak memandang ke arahku, dia seperti melakukan monolog terhadap dirinya sendiri. Namun tetap saja aku mendengarkannya berkisah.

Padamulanya aku berpikir bahwa dia sama saja dengan lelaki paruh baya yang biasa mendekatiku di bar yang remang dan murung ini. Lelaki yang mentraktirku minum untuk setelahnya dapat mereka tiduri di losmen murah yang berada dekat bar ini atau yang mereka anggap dapat membawaku ke rumah lalu mencumbuku. Lelaki yang menginginkan cinta satu malam dan saat pagi datang bahkan aroma tengik tubuh mereka sudah tak tercium lagi.

Kebanyakan lelaki di bar ini entah kenapa semuanya sama di mataku, duduk di sebelahku lalu dengan gaya sok keren menjentikkan jari-jarinya ke bartender meminta dua gelas bir diantarkan lalu gelas yang satu ditawari kepadaku, memandang mataku dan tersenyum lalu melontarkan macam-macam kalimat manis yang mereka pikir dapat menarik perhatianku.

Beberapa lelaki yang mendekatiku itu, terkadang menarik juga. Beberapa mendekatiku dengan gaya yang berbeda. Ada yang senang menceritakan kisah-kisah petualangannya layaknya film-film besutan Quentin Tarantino. Ada yang bercerita bahwa dia adalah tipe lelaki yang setia menunggu mantan kekasihnya kembali-bersama seperti trilogy Before Sunrise besutan Richard Linklater, yang menerbitkan romantismeku. Ada juga yang lihai membuat lelucon tentang dirinya sendiri dan keadaan seperti film-film besutan Woody Allen, sehingga tak kuasa kumenahan diri untuk tertawa. Beberapa diantaranya lagi entah, aku mau saja dibawanya ke losmen atau ke apartemennya lalu mereka cumbui, yang ketika pagi merekah mereka sudah tak ada lagi. Hanya meninggalkan beberapa lembar uang dan penyesalan dan air mata di atas ranjang kusut.

Namun lelaki satu ini tampak berbeda. Dia tidak menatap mataku seperti laki-laki lainnya. Dia juga tidak menyentuh punggung tanganku atau menunjukkan bahwa dia adalah lelaki yang tangguh dan gagah. Justru dia memperlihatkan bahasa tubuh sebaliknya: seorang pesakitan yang rapuh dan kosong yang tidak memiliki tujuan hidup lagi.

“Aku melihat dengan penuh amarah lelaki yang bersama istriku dan anakku dan timbul rasa jijikku,” dia bercerita dengan suara datar, nyaris tak terdengar. ”Tapi aku menjadi bingung dan heran dan tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya aku masuk lalu meninju lelaki itu di pelipisnya tapi...” Dia kembali menenggak birnya, kali ini dengan tegukan-tegukan dalam yang menggema di kerongkongannya, hingga tandas, lalu dia meminta segelas lagi kepada bartender.

Aku menjadi enggan... Aku tak tahu... Aku seperti melihat diriku sendiri di dalam sana. Semakin aku pandangi lelaki itu semakin aku ragu dan yakin sekaligus. Laki-laki itu persis sekali seperti diriku. Rambutnya, hidungnya yang bangir, tawanya yang derai. Dan cara dia menatap istriku dan cara dia bermain-main dengan anakku.”

Sampai di sini aku mulai tidak mengerti ceritanya. Jangan bilang dia juga salah satu lelaki yang ingin menjeratku dengan cerita yang tak masuk akal seperti fiksi-fiksi pendek Jorge Luis Borges yang membingungkan. Dan aku pun menyelanya, “ tunggu dulu. Sebelumnya kenapa kau sampai dipenjara?”

Aku bertanya sambil menatapnya dan dia tetap saja tidak memandangku.

Aku memperkosa seorang wanita,” katanya dengan nada serius.

“Memperkosa?”

Ya, aku memperkosa wanita, bosku sendiri. Dan tidak itu saja, aku juga membunuhnya dan melemparnya dari lantai 16,” tambahnya lalu menenggak birnya. Setiap tegukannya begitu berat seakan dia telah menyesal menceritakannya kepada seorang wanita yang bahkan tidak dia ketahui namanya. Akhirnya aku pun meminum birku.

Kau jangan bercanda!?” tanyaku lagi masih tak percaya.

Aku memang bercanda. Bukan karna itu aku dipenjara.”

Brengsek, umpatku dalam hati. Apa maksud lelaki ini. Dia masih saja tidak menatapku, masih saja seperti bersolilokui dengan suara lirih hampir tak terdengar hingga mungkin, hanya hatinya sendiri yang dapat mendengar, dengan tatapan kosong ke hadapan seakan aku bukanlah seorang wanita yang menarik perhatiannya seakan aku sekadar suara lain dari kepalanya sendiri. Aku tidak mengerti. Apakah ini teknik terbaru untuk mendapatkan wanita yang duduk sendirian di bar.

Hei, kau jangan bercanda,” kataku sedikit meradang dan tak terasa bir di gelasku telah tandas dan tanpa menatap gelasku, dia kembali memanggil bartender, memesan yang baru untukku. Dia seakan tak peduli dengan hardikanku yang terdengar setengah mabuk itu.

Baiklah, aku akan mengatakan yang sesungguhnya.” Dia menyela perkataannya dengan menenggak bir lalu melanjutkan, “ aku hanya seorang sial yang malam itu bensin motorku habis, dan aku terpaksa mendorongnya. Begitu jauh aku mendorong, tapi tak juga kutemukan pom bensin untuk mengisinya. Ketika aku sampai di  sebuah pom bensin sialnya telah tutup, mungkin telah terlalu malam. Dan aku pun kembali mendorongnya berharap ada warung yang menjual bensin eceran. Aku mendorong motorku sejauh tiga kilo lalu aku berbelok ke sebuah warung di tepi stasiun kereta, yang tampak penuh penerangan dan ramai. Tapi dari kejauhan salah seorang yang nongkrong di warung itu berteriak ke arahku, dan aku pun bingung. Kemudian tanpa ada alasan yang jelas, mereka mengejarku lalu menghantamku dan memukul kepalaku dengan kayu hingga aku tersungkur dan mereka menendangku, menginjak-injakku. Dalam kalap dan tak berdaya kerumunan itu berteriak-teriak: bakar-bakar-bakar. Aku tak lagi punya kuasa atas tubuhku sendiri, tapi kemudian datang suara beberapa orang menyelamatkanku dari amuk masa tersebut. Namun aku tidak juga dilepaskan malah dijebloskan ke penjara atas tuduhan curanmor.”

Dia berhenti sampai di situ dan menenggak birnya sampai habis. Tegukannya begitu kasar seperti menahan amarah atas kekonyolan hidup. Sudah empat gelas yang habis dia minum namun tampaknya dia sama sekali tidak mabuk, sedangkan dua gelas yang kuminum nyaris membuatku mabuk. Kali ini, aku ingin percaya kisahnya, tapi cerita ini tak kalah muskhilnya. Jika dia memang bermaksud mengajakku tidur sungguh aku tak tertarik sama sekali. Sungguh tidak… Aku kembali memandanginya, masih seorang lelaki ringkih yang sebersit pun tak tampak percik birahi dari matanya.

Kali ini aku ingin percaya kepadamu,” kataku. Aku baru tersadar suaraku sudah terdengar sengau.

Aku bercanda,” katanya singkat, lirih dan dalam, seperti berbisik ke udara.

Babi, kembali umpatku dalam hati. Kali ini aku ingin mengumpat ke kupingnya keras-keras menyebutkan seluruh nama binatang yang dilarang ada di surga namun diizinkan menghuni neraka untuk menyiksa manusia-manusia. Namun kemudian aku justru berteriak kepada bartender,tambah satu lagi birnya!” Dan bartender itu pun segera mengantarkan segelas bir kepadaku, yang langsung aku tenggak dalam-dalam hingga hanya tersisa sedikit saja di permukaan gelas.

Hei, lelaki aneh!” kataku dengan suara yang terdengar agak mabuk, “jika kau pikir bisa membuatku tertarik denganmu dengan segala ceritamu itu, sebaiknya kau simpan saja ceritamu yang lain-lain.” Aku berkata demikian sembari mengangkat gelasku kearahnya tinggi-tinggi dan air yang tinggal sedikit itu terguncang-guncang hingga bibir gelas dan tumpah berpercikan ke udara. Cahaya lampu neon yang remang dari langit-langit bar membikin percikan bir itu berkilauan merupa rasi bintang Leo.

Dia hanya terdiam, masih seperti pertama kali duduk di sebelahku, tidak menggubris ocehanku seakan aku memang ada dan tak mengada di sampingnya. Aku mengusap-ngusap rambutku dengan sedikit kasar. Entah kenapa aku jadi gusar sendiri. Sejujurnya aku tidak begitu peduli. Aku tidak ingin peduli. Namun lelaki asing yang berada di sebelahku ini sekurangnya, mengingatkanku kepada suamiku yang sudah tiga tahun ini pergi meninggalkanku. Aku terus memandanginya lekat-lekat sambil sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya, memindai setiap jengkal sosoknya.

Tiba-tiba dia menolehkan wajahnya ke arahku dan aku yang sedang memindai dirinya tak bisa untuk tak menatap matanya. Sepasang bola mata yang rapuh dan murung dan dalam namun ada secercah kegelian yang terpancar di permukaannya.

Baiklah. Kali ini aku tidak akan berbohong kepadamu. Istriku hanya tahu aku bekerja pada sebuah instansi pemerintahan mengurusi uang orang banyak. Saking banyaknya pekerjaanku aku jadi sering pulang larut atau bahkan menginap di kantor. Terkadang aku juga pergi dinas ke luar kota. Namun pekerjaanku yang banyak dan menjemukan itu tidak mengurangi rasa cintaku kepada istriku dan benih yang dikandungnya saat itu. Pekerjaanku sering membuatku berurusan dengan orang-orang besar, orang-orang yang uangnya melimpah-limpah itu. Dan karena proses di instansiku terlalu berbelit-belit tak jarang aku menerima pelicin untuk sekedar memperlancar usaha mereka.”

Dia berhenti sejenak, aku masih menunggunya melanjutkan.

Aku tidak tahu… Pada suatu malam tiba-tiba saja polisi meringkusku. Mereka menuduhku telah terlibat praktek penyogokan...”

Kau korupsi?” tiba-tiba saja aku menyelanya.

Iya, aku korupsi. Di malam peringkusanku itu, teman-temanku yang berada di sana hanya menatapku digiring seakan mereka tidak pernah mengenaliku. Aku melihat mata mereka semua dengan penuh kebencian...”

Tunggu dulu! Aku tidak percaya,” seruku lagi, memotongnya. “Aku bilang kau jangan melucu lagi! Itu cara yang buruk untuk menarik hati seorang wanita yang kesepian di bar, kawan,” aku pun tertawa. Tawa lantang dan membahana sehingga seluruh pengunjung bar menengokku dengan wajah heran.

Kali ini aku tidak melucu.”

“Ha-ha-ha. Mana ada pencuri yang mengaku!Aku terpingkal-pingkal sambil memegang perutku kegelian.

Aku memandangnya masih sambil menahan geli. Namun dia tidak lagi memandangku sekadar mencoba meyakinkan pengakuannya. Hanya sekali itu saja mata kami berpapasan. Sekarang dia malah terlihat semakin ringkih dan rapuh dan kosong. Jika itu adalah teknik baru untuk mendapatkan wanita yang kesepian di bar maka itu adalah kekonyolan dan aku yakin tidak ada wanita mana pun yang akan tertarik, bahkan nenek-nenek sekalipun.

Sekonyong-konyong dia genggam punggung tanganku dan aku pun tersentak dan dia layangkan beberapa lembar uang ke arah barternder, lalu mengait lenganku berjalan ke arah pintu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin karena mabuk. Tetapi, mustahil aku tertarik kepada lelaki ini.

Ikutlah denganku, temani aku malam ini, dan—.”

Kemana?”

Kemana saja. Dan—


“Aku tidak ingin ke losmen kotor itu. Lebih baik kita ke rumahku. Anakku sedang tidur...”


-Hizbul Ridho, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar