Entah kenapa aku begitu saja mendengarkan dia bercerita, dengan khidmat. Bukan kisah petualangan yang menegangkan atau kisah romantis yang mengharukan atau cerita konyol yang memecah tawa. Melainkan cerita yang begitu gelap dan murung. Cerita yang tak seharusnya dikisahkan kepada wanita yang duduk sendirian di sudut bar, yang baru saja dia temui. Namun di sebuah bar yang penerangannya remang dan murung ini aku begitu saja mendengarkannya bercerita.
“Kau pernah merasakan
betapa kangennya kepada kekasihmu?” sekonyong-konyong dia berkata demikian.
Dia berkata seperti itu dengan pandangan kosong ke depan seakan tidak berkata
kepada siapa pun tidak pula
diriku. Tapi entah kenapa aku merasa
pertanyaan tersebut ditujukannya kepadaku.
Aku
hanya menjawabnya singkat dengan kata ya dan sebuah anggukan lemah.
“Sudah tiga tahun aku dipenjara.
Dan hari ini aku pun dibebaskan. Betapa senang hatiku
akhirnya aku dapat pulang ke rumah dan bertemu lagi dengan istriku dan anakku
yang baru berumur tiga
tahun.”
Dia
berhenti sejenak lalu menenggak birnya.
“Begitu
sampai di depan rumah betapa hancurnya hatiku. Dari jendela, aku melihat istriku dan anakku
sedang bercengkrama dengan seorang
pria asing. Anakku memanggilnya Ayah dan lelaki
itu memeluk istriku dan mengecup
keningnya.” Dia berhenti lagi, lalu menghabiskan
tegukan birnya yang terakhir. Kemudian
dia memanggil bartender untuk menambah birnya. Sedikit pun dia
tidak memandang ke arahku, dia seperti melakukan monolog terhadap dirinya
sendiri. Namun tetap saja aku mendengarkannya berkisah.
Padamulanya
aku berpikir bahwa dia sama saja dengan lelaki
paruh baya yang biasa mendekatiku di bar yang remang dan murung ini. Lelaki yang mentraktirku minum untuk
setelahnya dapat mereka tiduri di losmen murah yang berada dekat bar ini atau yang mereka
anggap dapat membawaku ke rumah lalu mencumbuku. Lelaki yang menginginkan
cinta satu malam dan saat pagi datang bahkan aroma tengik tubuh mereka sudah tak tercium lagi.
Kebanyakan
lelaki
di bar ini
entah kenapa
semuanya sama di mataku, duduk di sebelahku lalu dengan gaya sok
keren menjentikkan jari-jarinya
ke bartender meminta dua gelas bir diantarkan lalu gelas yang satu ditawari kepadaku, memandang mataku dan
tersenyum lalu
melontarkan macam-macam kalimat manis yang mereka pikir dapat menarik
perhatianku.
Beberapa
lelaki
yang mendekatiku itu,
terkadang
menarik juga.
Beberapa mendekatiku dengan gaya yang berbeda. Ada yang senang menceritakan
kisah-kisah petualangannya layaknya film-film besutan Quentin Tarantino. Ada yang bercerita
bahwa dia adalah tipe lelaki yang
setia menunggu mantan kekasihnya kembali-bersama seperti trilogy Before Sunrise besutan
Richard Linklater, yang menerbitkan romantismeku.
Ada juga yang lihai
membuat lelucon tentang dirinya sendiri dan keadaan seperti film-film besutan Woody Allen,
sehingga tak kuasa kumenahan
diri untuk tertawa. Beberapa diantaranya lagi entah, aku mau saja
dibawanya ke losmen atau ke apartemennya lalu
mereka cumbui,
yang
ketika pagi merekah
mereka sudah tak ada lagi.
Hanya meninggalkan beberapa lembar uang dan
penyesalan dan air mata
di atas ranjang kusut.
Namun lelaki satu ini tampak berbeda. Dia tidak
menatap mataku seperti laki-laki lainnya. Dia juga tidak menyentuh punggung
tanganku atau menunjukkan
bahwa dia adalah lelaki yang tangguh dan gagah. Justru dia memperlihatkan
bahasa tubuh sebaliknya:
seorang pesakitan yang rapuh dan kosong yang tidak memiliki tujuan hidup lagi.
“Aku
melihat dengan penuh amarah lelaki
yang bersama istriku dan anakku dan timbul rasa jijikku,” dia bercerita dengan
suara datar, nyaris tak terdengar. ”Tapi aku menjadi bingung dan heran dan tak
tahu harus berbuat
apa. Ingin rasanya aku masuk lalu meninju lelaki itu di pelipisnya tapi...” Dia
kembali menenggak birnya, kali ini dengan tegukan-tegukan dalam yang menggema di kerongkongannya,
hingga tandas, lalu dia meminta segelas lagi kepada bartender.
“Aku menjadi enggan... Aku tak tahu... Aku seperti melihat
diriku sendiri di dalam sana. Semakin aku pandangi lelaki itu semakin aku ragu
dan yakin sekaligus. Laki-laki itu persis sekali seperti diriku. Rambutnya,
hidungnya yang bangir, tawanya yang derai. Dan cara dia menatap istriku dan
cara dia bermain-main dengan anakku.”
Sampai
di sini aku mulai tidak mengerti ceritanya. Jangan bilang dia juga salah satu lelaki yang ingin
menjeratku dengan cerita yang tak masuk akal seperti fiksi-fiksi pendek Jorge
Luis Borges yang membingungkan. Dan aku pun menyelanya, “ tunggu dulu.
Sebelumnya kenapa kau sampai dipenjara?”
Aku
bertanya sambil menatapnya dan dia tetap
saja tidak
memandangku.
“Aku memperkosa seorang
wanita,” katanya dengan nada serius.
“Memperkosa?”
“Ya, aku memperkosa
wanita,
bosku sendiri.
Dan tidak itu saja,
aku juga membunuhnya dan melemparnya dari lantai 16,” tambahnya lalu
menenggak birnya. Setiap tegukannya begitu berat seakan dia telah menyesal
menceritakannya
kepada seorang wanita yang
bahkan tidak dia ketahui namanya. Akhirnya aku pun meminum
birku.
“Kau jangan bercanda!?”
tanyaku lagi masih tak percaya.
“Aku memang bercanda. Bukan karna
itu aku dipenjara.”
Brengsek, umpatku dalam hati.
Apa maksud lelaki
ini. Dia masih saja tidak menatapku, masih saja seperti bersolilokui dengan
suara lirih hampir tak terdengar hingga mungkin, hanya hatinya sendiri yang dapat
mendengar, dengan tatapan kosong
ke hadapan
seakan aku bukanlah seorang wanita yang menarik perhatiannya seakan aku sekadar suara lain dari
kepalanya sendiri. Aku tidak mengerti. Apakah ini teknik terbaru untuk
mendapatkan wanita yang duduk sendirian di bar.
“Hei, kau jangan
bercanda,” kataku sedikit meradang dan tak terasa bir di gelasku telah tandas dan tanpa menatap gelasku,
dia kembali
memanggil bartender,
memesan yang baru untukku. Dia seakan tak peduli dengan hardikanku yang
terdengar setengah mabuk itu.
“Baiklah, aku akan
mengatakan yang sesungguhnya.” Dia menyela perkataannya dengan menenggak bir
lalu melanjutkan, “ aku hanya seorang sial yang malam itu bensin motorku habis, dan aku terpaksa
mendorongnya. Begitu jauh aku
mendorong, tapi
tak juga kutemukan
pom bensin untuk mengisinya. Ketika aku sampai di sebuah pom
bensin sialnya telah tutup, mungkin telah terlalu malam. Dan aku pun kembali mendorongnya
berharap ada warung yang menjual bensin eceran.
Aku
mendorong motorku sejauh tiga kilo lalu aku berbelok ke sebuah warung di tepi stasiun kereta,
yang tampak penuh penerangan
dan ramai. Tapi dari
kejauhan salah seorang yang nongkrong di warung itu berteriak ke arahku, dan aku pun bingung. Kemudian tanpa ada alasan yang jelas, mereka mengejarku lalu
menghantamku dan
memukul kepalaku dengan kayu hingga aku tersungkur
dan mereka menendangku,
menginjak-injakku. Dalam
kalap
dan tak berdaya kerumunan itu
berteriak-teriak: bakar-bakar-bakar. Aku tak lagi punya kuasa atas tubuhku sendiri, tapi
kemudian datang suara beberapa orang menyelamatkanku dari amuk masa tersebut. Namun aku tidak juga
dilepaskan malah dijebloskan
ke penjara atas tuduhan curanmor.”
Dia
berhenti sampai di situ dan menenggak birnya sampai habis. Tegukannya begitu kasar seperti menahan
amarah atas kekonyolan hidup.
Sudah empat gelas yang habis dia minum namun tampaknya dia sama sekali tidak
mabuk,
sedangkan dua gelas yang kuminum nyaris membuatku mabuk.
Kali ini, aku
ingin percaya kisahnya,
tapi cerita ini tak kalah muskhilnya.
Jika dia memang bermaksud mengajakku tidur sungguh aku tak tertarik sama
sekali. Sungguh tidak… Aku
kembali memandanginya, masih seorang lelaki ringkih yang sebersit pun tak tampak percik birahi dari matanya.
“Kali ini aku ingin
percaya kepadamu,” kataku. Aku baru tersadar
suaraku sudah terdengar sengau.
“Aku bercanda,” katanya
singkat, lirih dan dalam, seperti berbisik ke
udara.
Babi, kembali umpatku dalam hati. Kali ini aku ingin
mengumpat ke kupingnya keras-keras menyebutkan seluruh nama binatang yang dilarang ada di surga namun diizinkan menghuni neraka untuk menyiksa manusia-manusia.
Namun kemudian aku
justru berteriak kepada bartender,
“tambah
satu lagi birnya!” Dan
bartender itu pun segera mengantarkan segelas bir kepadaku, yang langsung aku tenggak
dalam-dalam hingga hanya tersisa sedikit saja di permukaan gelas.
“Hei, lelaki aneh!” kataku dengan
suara yang terdengar agak mabuk, “jika kau pikir bisa membuatku tertarik
denganmu dengan segala ceritamu itu, sebaiknya kau simpan saja ceritamu yang lain-lain.”
Aku berkata demikian
sembari
mengangkat gelasku kearahnya
tinggi-tinggi dan air yang tinggal sedikit itu
terguncang-guncang hingga bibir
gelas dan
tumpah berpercikan
ke udara. Cahaya lampu neon yang remang dari
langit-langit bar membikin percikan bir itu berkilauan merupa rasi bintang Leo.
Dia
hanya terdiam, masih seperti pertama kali duduk
di sebelahku, tidak
menggubris ocehanku seakan aku memang ada
dan tak mengada
di sampingnya. Aku mengusap-ngusap rambutku dengan sedikit kasar. Entah kenapa
aku jadi gusar sendiri. Sejujurnya aku tidak begitu peduli. Aku tidak ingin
peduli. Namun lelaki asing
yang berada di sebelahku ini
sekurangnya,
mengingatkanku kepada suamiku yang
sudah tiga tahun ini pergi meninggalkanku. Aku terus
memandanginya lekat-lekat sambil sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya, memindai setiap jengkal sosoknya.
Tiba-tiba
dia menolehkan
wajahnya ke arahku dan aku yang sedang memindai
dirinya tak bisa untuk tak menatap
matanya. Sepasang bola mata yang rapuh dan
murung dan dalam namun
ada secercah
kegelian yang terpancar di permukaannya.
“Baiklah. Kali ini aku tidak akan berbohong
kepadamu. Istriku hanya tahu aku bekerja pada sebuah instansi pemerintahan
mengurusi uang orang banyak. Saking banyaknya pekerjaanku aku jadi sering pulang larut
atau bahkan menginap di kantor. Terkadang aku juga pergi dinas ke luar kota.
Namun pekerjaanku yang banyak dan menjemukan itu tidak mengurangi rasa cintaku
kepada istriku dan benih yang dikandungnya saat itu. Pekerjaanku sering membuatku
berurusan dengan orang-orang besar, orang-orang yang uangnya melimpah-limpah itu. Dan karena proses di
instansiku terlalu berbelit-belit
tak jarang aku menerima pelicin untuk sekedar memperlancar usaha mereka.”
Dia berhenti sejenak, aku masih menunggunya
melanjutkan.
“Aku tidak tahu… Pada suatu malam
tiba-tiba saja polisi meringkusku. Mereka menuduhku telah terlibat praktek
penyogokan...”
“Kau korupsi?” tiba-tiba
saja aku menyelanya.
“Iya, aku korupsi. Di
malam peringkusanku itu, teman-temanku yang berada di sana hanya menatapku digiring seakan
mereka tidak pernah mengenaliku.
Aku melihat mata mereka semua dengan penuh kebencian...”
“Tunggu dulu! Aku tidak
percaya,” seruku lagi, memotongnya. “Aku
bilang kau jangan melucu lagi! Itu cara yang buruk untuk menarik hati seorang
wanita yang kesepian di bar,
kawan,” aku pun tertawa. Tawa lantang
dan membahana sehingga seluruh
pengunjung bar
menengokku dengan wajah heran.
“Kali ini aku tidak
melucu.”
“Ha-ha-ha. Mana ada pencuri
yang mengaku!”
Aku
terpingkal-pingkal sambil memegang perutku kegelian.
Aku
memandangnya masih sambil menahan geli. Namun dia tidak lagi memandangku sekadar mencoba meyakinkan
pengakuannya. Hanya sekali itu saja mata kami
berpapasan. Sekarang
dia malah terlihat semakin ringkih dan rapuh dan kosong. Jika itu adalah teknik
baru untuk mendapatkan wanita yang kesepian di bar maka itu adalah kekonyolan
dan aku yakin tidak ada wanita mana pun yang akan tertarik, bahkan nenek-nenek sekalipun.
Sekonyong-konyong
dia genggam punggung tanganku dan aku pun tersentak dan dia layangkan beberapa lembar uang ke arah barternder, lalu mengait lenganku berjalan ke
arah pintu. Aku
tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin karena mabuk. Tetapi, mustahil
aku tertarik kepada lelaki ini.
“Ikutlah denganku,
temani aku malam ini, dan—.”
“Kemana?”
“Kemana saja. Dan—”
“Aku
tidak ingin ke losmen kotor itu. Lebih baik kita
ke rumahku.
Anakku
sedang tidur...”
-Hizbul Ridho, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar