Ayahnya
pernah bilang: jika
kau ingin bahagia maka berlarilah. Berlarilah secepat mumelangkah, berlarilah sejauh kakimu mampu. Melia
menganggap kata-kata ayahnya itu sebagai mantra. Tak hanya sekadar kutipan
tokoh dunia yang melegenda. Malah, kata-kata tersebut ia tuliskan di selembar kertas yang ia tempel di
cermin kamarnya, ia baca lima kali setelah bangun di pagi hari, dan lima kali
sebelum tidur di malam hari.
Pada
suatu hari Melia pernah bertanya kepada ayahnya: Pa, kenapa manusia harus
berlari. Waktu itu ia masih berumur lima tahun dan belum lagi bersekolah. Melia
yang berumur lima tahun adalah Melia si tukang tanya. Ayahnya yang baru selesai
berlari langsung memerankan tugasnya, si penjawab. Karena ada yang ingin
dikejarnya, Nak.
Jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Dan yakinlah kau akan meraihnya.
Melia
si tukang tanya sebenarnya tak begitu paham jawaban yang disampaikan ayahnya
itu. Namun kata-kata ayahnya
itu
tidak mampir kedalam
kesadarannya yang masih gelap melainkan langsung melesap kedalam alam bawah sadarnya.
Melia tak memahami perkataan ayahnya tersebut dengan anggukan, namun menjawabnya langsung dengan berlari.
Ketika
mulai bersekolah Melia juga mulai berlari. Segala kegiatan yang menuntutnya
menggerakkan
tungkai kakinya ia gunakan untuk berlari. Apa saja. Saat teman-temannya
berjalan dengan diantar orangtua ke sekolah yang berada beberapa blok dari
rumahnya ia justru memilih berlari. Saat Melia menggerakkan kakinya untuk
berlari, perkataan ayahnya juga kembali menggema
di otak. Jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Maka jadilah ia
berlari ke sekolah saat teman-temannya yang lain berjalan atau diantar orangtua mereka dengan sepeda motor.
“Kenapa
kau tidak naik motor saja ke sekolah?” tanya seorang teman sekelasnya yang
saban hari heran melihat Melia berlari menuju sekolah. Kawannya ini jengkel
motor yang ditumpanginya terus dikejar oleh Melia yang berlari, dan selalu berhasil
melampaui.
Melia
tak berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan temannya tersebut: karena ayahku yang
bilang, jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Karena aku ingin
menggapai sekolah maka aku berlari.
“Kau
sinting!” kata temannya makin jengkel. Melia hanya tersenyum.
Seorang
guru matematika yang terkenal killer turut jengkel melihat Melia
selalu berlari kemana pun ia menuju di sekolah—ke kelas, ke kantin, ke ruangan
guru, di koridor-koridor kelas. Yang membuat Melia harus terus berlari di saat
orang lain justru berjalan kaki.
“Kenapa
terus berlari di saat anak-anak lain berjalan?”
Lalu
Melia menjawab persis seperti yang dilakukannya kepada temannya yang bertanya.
Lalu Pak Guru Matematika yang sungutnya melengkung seperti gonjong rumah gadang
itu langsung menghukumnya berdiri di kaki tiang bendera merah putih yang
berkibar di bawah terik musim panas. Tetapi Melia tetap saja nakal, dengan
menutup mata dan membayangkan berlari di tengah padang rumput savana yang
berangin, ia mengusir panas yang menyengat kulitnya sambil berlari di tempat.
Pada
suatu hari Melia bertanya: Pa, kemana Ibu?
Kemudian
dengan jeda yang cukup panjang ayahnya tak lantas
menjawab dan Melia kembali mengulangi pertanyaanya: Pa, kemana ibu? Ibumu lari
dengan bapak
lain, jawab ayahnya setelah Melia mengulang pertanyaan itu melulu seperti
rekaman yang diulang-ulang. Kenapa ibu berlari dengan bapak lain bukan dengan Papa. Karena dengan Papa, ibu tidak merasa
bahagia. Kau hanya seorang pelari, kata ibumu saat sembilan bulan mengandungmu.
Ibumu melanjutkan, mau makan apa kau dengan berlari. Lantas setelah
melahirkanmu ibumu langsung melarikan diri bersama seorang juragan beras di
kota sebelah.
“Jika
kau menghendaki sesuatu maka berlarilah karena berlari bisa membuatmu bahagia.”
Namun
Melia berhenti berlari. Ia teringat pelarian ibunya dengan juragan beras tak lama setelah
melahirkannya. Ia pergi ke sekolah dengan berjalan namun lebih lambat dari
pejalan kaki biasanya sebab
kepalanya dibebani
oleh kisah pelariah ibunya. Kini ia berjalan kaki seperti siput yang berjalan di atas
daun talas.
Kebiasaannya
berlari lalu mendadak menjadi pejalan kaki membuat sebenarnya keterkejutan tersendiri bagi tubuhnya
yang terbiasa berlari. Sebelum ia masuk sekolah dulu Melia selalu mencerna
jawaban dari ayahnya dengan tubuhnya. Namun setelah ia bersekolah, dan guru
bahasa mengajarinya cara membuat kalimat yang baik dan benar, ia mulai mencerna
jawaban dari ayahnya tersebut dengan otaknya, yang membuat ia menjadi terus
berpikir, berpikir,
dan menjadi pejalan kaki. Dari sebelumnya terbiasa berlari dan sekonyong-konyong
berjalan kaki, sesungguhnya, tak biasa bagi tubuh Melia melakukannya. Ia
berjalan selambat selambat siput
berpadu
dengan gerakan terpatah-patah
seperti tarian robot. Ini membuat teman-temannya di sekolah dan guru-gurunya tercengang melihat perubahan
tiba-tiba Melia.
“Kenapa
sekarang kau berhenti berlari? Namun kenapa jalanmu seperti kakek peot terkena setruk begitu?” tanya
temannya yang terkejut melihat Melia yang tiba-tiba berjalan bagai robot siput berjalan di permukaan aspal kering berdebu.
“Ibu
memilih berlari dengan orang lain. Karena itu bisa membuatnya bahagia.”
Temannya tak mengerti. Melia tak melanjutkan ucapannya. Gurunya tak
menghukumnya berjemur melainkan menaruh iba terhadap perubahan sikap muridnya
yang mendadak seperti itu. Gurunya mengizinkannya untuk beristirahat di rumah
untuk beberapa hari.
Ia
melihat ibunya. Atau wanita yang mirip ibunya. Entahlah. Melia merasa melihat
ibunya saat ia sedang melintasi pasar untuk pulang ke rumah. Yang jelas ia
yakin perawakan wanita itu persis dengan potret satu-satunya ibunya yang masih
di simpan oleh ayahnya yang akhir-akhir ini sering dipandangnya.
Ibu,
teriak Melia di antara kerumunan orang. Kemudian,
seperti terdengar bunyi
klik di otaknya ia langsung berlari melewati kerumunan menuju wanita yang
dikiranya
ibu. Larinya semakin kencang dan semakin mantap tolakan tungkainya. Ia berlari
setengah menari melewati kerumunan. Sesampainya Melia di belakang wanita yang
dikiranya ibu, ia langsung menggegam tangan kiri wanita tersebut yang kemudian membuatnya tersentak dan terkejut.
Wanita
yang dikiranya ibu itu menoleh dan
Melia kecewa. Hidung wanita itu besar seperti jambu, tak seperti hidung ibunya yang bangir.
Kelebatan hitam lewat di latar adegan tersebut. Tak disangka seorang penjambret
memanfaatkan momen itu dengan mencopet
si wanita yang dikira ibu namun
berhidung jambu. Wanita itu memekik,
copet-copet-copet.
Dan secara naluriah
Melia yang sedang
kecewa tak menemukan ibu,
mengejar penjambret itu yang sudah menghilang di antara kerumunan orang lalu
lalang di pasar.
Tak
membutuhkan waktu lama bagi Melia untuk menyusul penjambret itu. Seketika ia
rasa dapat menjangkaunya, Melia langsung melompat ke tubuh penjambret itu lalu disusul orang-orang
lain yang terhasut teriakan copet
dari si wanita yang dikira ibu namun berhidung jambu. Si penjambret babak belur
tapi tak sampai tewas
sebab
polisi yang sedang berpatroli di sektiar pasar langsung bisa mencium bau
kegaduhan. Melia disambut oleh kerumunan karena dianggap sebagai pahlawan.
Esoknya
di sebuah surat kabar pagi sebuah berita tentang aksi Melia menggagalkan aksi
penjambretan terpampang di halaman utama. Tampak fotonya sedang diberi
penghargaan oleh polisi setempat. Isi artikel yang mendalam mengenai kebiasaan
Melia berlari menggugah banyak orang. Pada akhir berita tersebut terdapat
kutipan perkataannya yang juga merupakan ucapan ayahnya—yang menerbitkan rasa
haru bagi banyak pembaca. Sebuah perusaan produsen sepatu sport langsung mendatanginya untuk menawari kontrak pembuatan
sebuah iklan sepatu keluaran terbaru. Sebuah rumah produksi film televisi
langsung menawarinya kontrak sebuah FTV kisah keluarga yang dipenuhi adegan
berlari dengan latar Bali. Dan cabang
olahraga atletis tempat ayahnya dulu berlatih ingin
mengontrak Melia untuk pesta olahraga Asia Tenggara tahun depan. Sekarang, Melia berlari untuk
dibayar.
Dengan
kesibukan super padat, Melia tak lagi bisa berlari sekehendak hati. Ia hanya bisa
berlari ketika ia diperintahkan
berlari. Ketika ia ketahuan berlari sembunyi-sembunyi di kamar hotelnya,
beberapa perusahaan tempat Melia terikat kontrak memberinya SP 1 dan
memperingatkannya
untuk berhenti berlari sembunyi-sembunyi. “Bahkan kau tak boleh berlari di
dalam mimpimu!” ancam manajernya
dengan suara lantang yang meloncat dari telepon pintar yang baru saja
dimilikinya. Melia jengkel, di luar jendela, Melia melihat anak-anak berlari
mengejar bayangnya sendiri.
Tiba-tiba
Melia teringat ayahnya. “Jika kau ingin bahagia maka berlarilah, Nak. Berlarilah untuk menggapai
tujuanmu.” Melia masih berlari namun tak lagi berbahagia. Ia iri melihat
anak-anak bebas berlari di luar jendela. Sekarang Melia berlari bukan untuk
berlari itu sendiri. Kini ia merasakan berlari hanya sekadar rutinitas yang
dipaksakan. Seperti robot yang berlari. Ia teringat ibunya yang berlari
menjauhi ayahnya dan dirinya yang bayi. Ibu berlari untuk kebahagiaannya
sendiri.
Melia
tak bisa begini. Diam-diam Melia berlari dalam
pembuluh nadi.
Di setiap detak jantung dalam rusuk-rusuk
kiri. Sehingga perusahan yang mengontraknya itu tak tahu Melia
berlari sembunyi-sembunyi di pembuluh darahnya sendiri. Aku harus pulang menemui Ayah, kata
Melia sambil berlari melewati salah satu bilik jantungnya, terus hingga jaringan sirkuit di otak cerebrumnya.
Aku ingin kembali menanyakan kenapa aku mesti berlari. Melia sangsi, kutipan ayahnya
yang jadi mantra itu
tak berlaku lagi.
Melia tetap berlari, namun
tetap tak berbahagia.
Maka,
Melia melarikan diri dari segala kontrak yang telah mengikatnya. Melia berlari
tak mau berhenti hingga sampai di depan rumahnya yang sepi. Mendapati tak ada ayah di dalam, lututnya lemas, Melia susah
payah menopang tumitnya agar tak menyentuh lantai. Ke mana Papa pergi, katanya dalam
hati. Apakah Papa
juga berlari mengejar kebahagiaannya sendiri. Di dalam rumah Melia hanya bergeming namun
otaknya terus
berlari, berputar-berputar bak pemain akrobat
dalam tong setan. Sepeninggalannya di luar rumah ia tak
tahu,
ternyata,
ayahnya telah dibawa sang waktu berlari. Tapi ke mana? Lalu ia berlari
menyusuri jalan tak tahu kemana sambil merutuki waktu yang telah melarikan
ayahnya.
Juragan
beras melarikan ibu.
Waktu
melarikan ayah.
Melia
berlari di atas aspal mencari ayah yang digondol waktu. Ia tak peduli lagi
dengan ibu yang melarikan diri. Ia hanya ingin mengejar ayahnya tapi ia tak
paham kemana waktu melarikan ayahnya.
Di mana kau, Pa? Apakah sekarang kau sedang mengejar
matahari, Pa?
Untuk apa aku berlari, Pa?
Seonggok tanah iseng menungkai kaki Melia yang sedang berlari. Ia tersungkur. Lalu merutuki gundukan tanah tersebut. Betapa terkejut ia di kepala gundukan tanah tersebut tertanam sebongkah batu yang menggoreskan nama ayahnya. Air matanya meluncur berlari seperti sekawanan domba yang menuruni gunung.
Kenapa
kau menyuruhku berlari kalau pada akhirnya kau berhenti. Apakah ini jawabanmu, Pa. Manusia berlari untuk berhenti.
Domba-domba telah berhenti berlari menuruni gunung dari pelupuk matanya. Ayahnya telah berlari
untuk berhenti. Namun Melia tahu, waktu masih memburunya dan ia tak mau disergap waktu sementara matahari sedang membayang di bilik hari. Melia terus berlari menuju entah yang abadi.
-Hizbul Ridho, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar