Jumat, 25 Desember 2015

Berlari




Ayahnya pernah bilang: jika kau ingin bahagia maka berlarilah. Berlarilah secepat mumelangkah, berlarilah sejauh kakimu mampu. Melia menganggap kata-kata ayahnya itu sebagai mantra. Tak hanya sekadar kutipan tokoh dunia yang melegenda. Malah, kata-kata tersebut ia tuliskan di selembar kertas yang ia tempel di cermin kamarnya, ia baca lima kali setelah bangun di pagi hari, dan lima kali sebelum tidur di malam hari.

Pada suatu hari Melia pernah bertanya kepada ayahnya: Pa, kenapa manusia harus berlari. Waktu itu ia masih berumur lima tahun dan belum lagi bersekolah. Melia yang berumur lima tahun adalah Melia si tukang tanya. Ayahnya yang baru selesai berlari langsung memerankan tugasnya, si penjawab. Karena ada yang ingin dikejarnya, Nak. Jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Dan yakinlah kau akan meraihnya.

Melia si tukang tanya sebenarnya tak begitu paham jawaban yang disampaikan ayahnya itu. Namun kata-kata ayahnya itu tidak mampir kedalam kesadarannya yang masih gelap melainkan langsung melesap kedalam alam bawah sadarnya. Melia tak memahami perkataan ayahnya tersebut dengan anggukan, namun menjawabnya langsung dengan berlari.

Ketika mulai bersekolah Melia juga mulai berlari. Segala kegiatan yang menuntutnya menggerakkan tungkai kakinya ia gunakan untuk berlari. Apa saja. Saat teman-temannya berjalan dengan diantar orangtua ke sekolah yang berada beberapa blok dari rumahnya ia justru memilih berlari. Saat Melia menggerakkan kakinya untuk berlari, perkataan ayahnya juga kembali menggema di otak. Jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Maka jadilah ia berlari ke sekolah saat teman-temannya yang lain berjalan atau diantar orangtua mereka dengan sepeda motor.

“Kenapa kau tidak naik motor saja ke sekolah?” tanya seorang teman sekelasnya yang saban hari heran melihat Melia berlari menuju sekolah. Kawannya ini jengkel motor yang ditumpanginya terus dikejar oleh Melia yang berlari, dan selalu berhasil melampaui.

Melia tak berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan temannya tersebut: karena ayahku yang bilang, jika kau ingin menggapai sesuatu maka berlarilah. Karena aku ingin menggapai sekolah maka aku berlari.

“Kau sinting!” kata temannya makin jengkel. Melia hanya tersenyum.

Seorang guru matematika yang terkenal killer turut jengkel melihat Melia selalu berlari kemana pun ia menuju di sekolah—ke kelas, ke kantin, ke ruangan guru, di koridor-koridor kelas. Yang membuat Melia harus terus berlari di saat orang lain justru berjalan kaki.

“Kenapa terus berlari di saat anak-anak lain berjalan?”

Lalu Melia menjawab persis seperti yang dilakukannya kepada temannya yang bertanya. Lalu Pak Guru Matematika yang sungutnya melengkung seperti gonjong rumah gadang itu langsung menghukumnya berdiri di kaki tiang bendera merah putih yang berkibar di bawah terik musim panas. Tetapi Melia tetap saja nakal, dengan menutup mata dan membayangkan berlari di tengah padang rumput savana yang berangin, ia mengusir panas yang menyengat kulitnya sambil berlari di tempat.

Pada suatu hari Melia bertanya: Pa, kemana Ibu? Kemudian dengan jeda yang cukup panjang ayahnya tak lantas menjawab dan Melia kembali mengulangi pertanyaanya: Pa, kemana ibu? Ibumu lari dengan bapak lain, jawab ayahnya setelah Melia mengulang pertanyaan itu melulu seperti rekaman yang diulang-ulang. Kenapa ibu berlari dengan bapak lain bukan dengan Papa. Karena dengan Papa, ibu tidak merasa bahagia. Kau hanya seorang pelari, kata ibumu saat sembilan bulan mengandungmu. Ibumu melanjutkan, mau makan apa kau dengan berlari. Lantas setelah melahirkanmu ibumu langsung melarikan diri bersama seorang juragan beras di kota sebelah.

“Jika kau menghendaki sesuatu maka berlarilah karena berlari bisa membuatmu bahagia.”

Namun Melia berhenti berlari. Ia teringat pelarian ibunya dengan juragan beras tak lama setelah melahirkannya. Ia pergi ke sekolah dengan berjalan namun lebih lambat dari pejalan kaki biasanya sebab kepalanya dibebani oleh kisah pelariah ibunya. Kini ia berjalan kaki seperti siput yang berjalan di atas daun talas.

Kebiasaannya berlari lalu mendadak menjadi pejalan kaki membuat sebenarnya keterkejutan tersendiri bagi tubuhnya yang terbiasa berlari. Sebelum ia masuk sekolah dulu Melia selalu mencerna jawaban dari ayahnya dengan tubuhnya. Namun setelah ia bersekolah, dan guru bahasa mengajarinya cara membuat kalimat yang baik dan benar, ia mulai mencerna jawaban dari ayahnya tersebut dengan otaknya, yang membuat ia menjadi terus berpikir, berpikir, dan menjadi pejalan kaki. Dari sebelumnya terbiasa berlari dan sekonyong-konyong berjalan kaki, sesungguhnya, tak biasa bagi tubuh Melia melakukannya. Ia berjalan selambat selambat siput berpadu dengan gerakan terpatah-patah seperti tarian robot. Ini membuat teman-temannya di sekolah dan guru-gurunya tercengang melihat perubahan tiba-tiba Melia.

“Kenapa sekarang kau berhenti berlari? Namun kenapa jalanmu seperti kakek peot terkena setruk begitu?” tanya temannya yang terkejut melihat Melia yang tiba-tiba berjalan bagai robot siput berjalan di permukaan aspal kering berdebu.

“Ibu memilih berlari dengan orang lain. Karena itu bisa membuatnya bahagia.” Temannya tak mengerti. Melia tak melanjutkan ucapannya. Gurunya tak menghukumnya berjemur melainkan menaruh iba terhadap perubahan sikap muridnya yang mendadak seperti itu. Gurunya mengizinkannya untuk beristirahat di rumah untuk beberapa hari.

Ia melihat ibunya. Atau wanita yang mirip ibunya. Entahlah. Melia merasa melihat ibunya saat ia sedang melintasi pasar untuk pulang ke rumah. Yang jelas ia yakin perawakan wanita itu persis dengan potret satu-satunya ibunya yang masih di simpan oleh ayahnya yang akhir-akhir ini sering dipandangnya.

Ibu, teriak Melia di antara kerumunan orang. Kemudian, seperti terdengar bunyi klik di otaknya ia langsung berlari melewati kerumunan menuju wanita yang dikiranya ibu. Larinya semakin kencang dan semakin mantap tolakan tungkainya. Ia berlari setengah menari melewati kerumunan. Sesampainya Melia di belakang wanita yang dikiranya ibu, ia langsung menggegam tangan kiri wanita tersebut yang kemudian membuatnya tersentak dan terkejut.

Wanita yang dikiranya ibu itu menoleh dan Melia kecewa. Hidung wanita itu besar seperti jambu, tak seperti hidung ibunya yang bangir. Kelebatan hitam lewat di latar adegan tersebut. Tak disangka seorang penjambret memanfaatkan momen itu dengan mencopet si wanita yang dikira ibu namun berhidung jambu. Wanita itu memekik, copet-copet-copet. Dan secara naluriah Melia yang sedang kecewa tak menemukan ibu, mengejar penjambret itu yang sudah menghilang di antara kerumunan orang lalu lalang di pasar.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Melia untuk menyusul penjambret itu. Seketika ia rasa dapat menjangkaunya, Melia langsung melompat ke tubuh penjambret itu lalu disusul orang-orang lain yang terhasut teriakan copet dari si wanita yang dikira ibu namun berhidung jambu. Si penjambret babak belur tapi tak sampai tewas sebab polisi yang sedang berpatroli di sektiar pasar langsung bisa mencium bau kegaduhan. Melia disambut oleh kerumunan karena dianggap sebagai pahlawan.


Esoknya di sebuah surat kabar pagi sebuah berita tentang aksi Melia menggagalkan aksi penjambretan terpampang di halaman utama. Tampak fotonya sedang diberi penghargaan oleh polisi setempat. Isi artikel yang mendalam mengenai kebiasaan Melia berlari menggugah banyak orang. Pada akhir berita tersebut terdapat kutipan perkataannya yang juga merupakan ucapan ayahnya—yang menerbitkan rasa haru bagi banyak pembaca. Sebuah perusaan produsen sepatu sport langsung mendatanginya untuk menawari kontrak pembuatan sebuah iklan sepatu keluaran terbaru. Sebuah rumah produksi film televisi langsung menawarinya kontrak sebuah FTV kisah keluarga yang dipenuhi adegan berlari dengan latar Bali. Dan cabang olahraga atletis tempat ayahnya dulu berlatih ingin mengontrak Melia untuk pesta olahraga Asia Tenggara tahun depan. Sekarang, Melia berlari untuk dibayar.

Dengan kesibukan super padat, Melia tak lagi bisa berlari sekehendak hati. Ia hanya bisa berlari ketika ia diperintahkan berlari. Ketika ia ketahuan berlari sembunyi-sembunyi di kamar hotelnya, beberapa perusahaan tempat Melia terikat kontrak memberinya SP 1 dan memperingatkannya untuk berhenti berlari sembunyi-sembunyi. “Bahkan kau tak boleh berlari di dalam mimpimu!” ancam manajernya dengan suara lantang yang meloncat dari telepon pintar yang baru saja dimilikinya. Melia jengkel, di luar jendela, Melia melihat anak-anak berlari mengejar bayangnya sendiri.

Tiba-tiba Melia teringat ayahnya. “Jika kau ingin bahagia maka berlarilah, Nak. Berlarilah untuk menggapai tujuanmu.” Melia masih berlari namun tak lagi berbahagia. Ia iri melihat anak-anak bebas berlari di luar jendela. Sekarang Melia berlari bukan untuk berlari itu sendiri. Kini ia merasakan berlari hanya sekadar rutinitas yang dipaksakan. Seperti robot yang berlari. Ia teringat ibunya yang berlari menjauhi ayahnya dan dirinya yang bayi. Ibu berlari untuk kebahagiaannya sendiri.

Melia tak bisa begini. Diam-diam Melia berlari dalam pembuluh nadi. Di setiap detak jantung dalam rusuk-rusuk kiri. Sehingga perusahan yang mengontraknya itu tak tahu Melia berlari sembunyi-sembunyi di pembuluh darahnya sendiri. Aku harus pulang menemui Ayah, kata Melia sambil berlari melewati salah satu bilik jantungnya, terus hingga jaringan sirkuit di otak cerebrumnya. Aku ingin kembali menanyakan kenapa aku mesti berlari. Melia sangsi, kutipan ayahnya yang jadi mantra itu tak berlaku lagi. Melia tetap berlari, namun tetap tak berbahagia.

Maka, Melia melarikan diri dari segala kontrak yang telah mengikatnya. Melia berlari tak mau berhenti hingga sampai di depan rumahnya yang sepi. Mendapati tak ada ayah di dalam, lututnya lemas, Melia susah payah menopang tumitnya agar tak menyentuh lantai. Ke mana Papa pergi, katanya dalam hati. Apakah Papa juga berlari mengejar kebahagiaannya sendiri. Di dalam rumah Melia hanya bergeming namun otaknya terus berlari, berputar-berputar bak pemain akrobat dalam tong setan. Sepeninggalannya di luar rumah ia tak tahu, ternyata, ayahnya telah dibawa sang waktu berlari. Tapi ke mana? Lalu ia berlari menyusuri jalan tak tahu kemana sambil merutuki waktu yang telah melarikan ayahnya.

Juragan beras melarikan ibu.

Waktu melarikan ayah.

Melia berlari di atas aspal mencari ayah yang digondol waktu. Ia tak peduli lagi dengan ibu yang melarikan diri. Ia hanya ingin mengejar ayahnya tapi ia tak paham kemana waktu melarikan ayahnya. Di mana kau, Pa? Apakah sekarang kau sedang mengejar matahari, Pa? Untuk apa aku berlari, Pa?

Seonggok tanah iseng menungkai kaki Melia yang sedang berlari. Ia tersungkur. Lalu merutuki gundukan tanah tersebut. Betapa terkejut ia di kepala gundukan tanah tersebut tertanam sebongkah batu yang menggoreskan nama ayahnya. Air matanya meluncur berlari seperti sekawanan domba yang menuruni gunung.

Kenapa kau menyuruhku berlari kalau pada akhirnya kau berhenti. Apakah ini jawabanmu, Pa. Manusia berlari untuk berhenti. Domba-domba telah berhenti berlari menuruni gunung dari pelupuk matanya. Ayahnya telah berlari untuk berhenti. Namun Melia tahu, waktu masih memburunya dan ia tak mau disergap waktu sementara matahari sedang membayang di bilik hari. Melia terus berlari menuju entah yang abadi.

-Hizbul Ridho, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar