Jumat, 25 Desember 2015

Sepatu dengan Sayap Malaikat





Semalam bocah itu bermimpi sebelah sepatu Adidasnya memiliki sayap malaikat. Sepatu itu tampak baru dan bersih seperti pertama kali diberikan ayahnya, yang telah mati dua tahun lalu. Bocah itu berlari mengejar sebelah sepatunya yang memiliki sayap itu dengan sebelahnya lagi terpasang di kakinya. Tapi sepatu bersayap malaikat itu terbang semakin jauh dan bocah itu akhirnya berhenti, putus asa. Tak berapa lama kemudian sepatu itu kembali, dibawakan ayahnya. Meskipun aku membelinya dengan sangat murah dan bukan Adidas asli, tolong kau jaga dan rawat, kata ayahnya sebelum sang bocah terbangun.

Pagi itu sang bocah terburu-buru berangkat ke sekolahnya. Ia merasa sudah sedikit terlambat. Ia mandi bebek dan langsung mengenakan seragamnya dan memasukkan segela perlengkapan sekolahnya ke dalam tasnya. Begitu ia memakai kaus kaki dan hendak mengenakan sepatunya ia garuk-garuk kepala. Ia lupa di mana telah meletakkan sepatunya itu kemarin sepulang sekolah. Sang bocah memiliki kebiasan untuk melempar kemana saja sepatuya sesampainya di rumah. Tapi ia ingat, kemarin ia meletakkannya dengan hati-hati di luar di bawah jendela, dan benar saja, sang bocah menemukan sebelah sepatunya di tempat itu. Tapi tunggu dulu, sang bocah hanya melihat sebelah kanan sepatunya. Kemana sepatu yang satu lagi, pikir si bocah. Ia pun mengitari halaman kontrakan yang hanya memiliki empat kamar berjejer itu. Ia mencarinya di dekat pot, ia memeriksa rumput-rumput, semak-semak, dan tak menemukan sepatunya tersebut. sang bocah hampir putus asa. Ia melihat kearah kontrakan yang terletak paling pojok terbuka pintunya—kontrakan yang ditinggali seorang janda tua. Ia pun bergegas ke sana dengan mengenakan sebelah sepatu kanan Adidasnya itu.

“Memangnya aku ibumu!” kata janda itu dengan berang. “Aku tak mungkin menyimpan sepatu bututmu itu.” Dan sang janda tua pun langsung mengusir sang bocah seperti yang biasa ia lakukan kepada kucing yang selalu mencuri ikan asinnya.

Ia kembali dan terkulai lemas di teras kontrakannya. Sang bocah pun mulai terisak-isak sambil memandangi sebelah kanan sepatu yang dikenakannya itu. Sepatu itu sudah kumuh sekali, di sisi tapaknya dipenuhi bercak lumpur, talinya rompal di sana-sini seperti bekas gigitan tikus. Ia terisak dan teringat mimpi semalam. Tak mungkin sepatu itu terbang dengan sayap malaikat meninggalkan ia dan sebelah sepatunya itu. Ibunya masih belum kembali juga dari berjualan sayur keliling. Air mata menetes di permukaan sepatunya yang kumuh itu. Sepatu itu jadi sendirian sekarang, pikirnya. Melihat sepatunya yang hanya sebelah itu, pagi ini, sang bocah pun merasakan kesepian. Ia mengurungkan niat bersekolah. Betapa sesuatu baru berarti ketika sesuatu itu telah hilang.

Tak membutuhkan waktu lama bagi sang bocah untuk bersedih. Ia bukanlah anak cengeng dan bermewek-mewek dengan waktu lama bukanlah tipikalnya. Ia menolak anggapan bahwa sepatunya hilang sebab memiliki sayap dan terbang menjauh. Sang bocah mulai menyusun rasionalisasi tentang hilangnya sebelah sepatunya. Tak membutuhkan waktu lama baginya berpikir bahwa sepatunya telah dicuri. Di kampung tempat ia tinggal ini, segala macam pencurian sering terjadi.

Ia ingat kejadian minggu lalu, di tengah malam yang basah, tiba-tiba saja kerbau milik Pak Sanusi raib. Seisi kampung menjadi heboh dan tetangga-tetangga yang bersimpati ikut mencari kerbau yang hilang. Sang bocah pun ikut mencari, tapi hingga azan subuh berkumandang tak juga ditemukan kerbau milik Pak Sanusi.

Sang Bocah bersama tiga orang temannya kenal betul bentuk kerbau milik Pak Sanusi; kerbau itu tak terlu besar dan tak memiliki telinga kiri. Ketika mereka sedang berjalan kaki pulang sekolah, dengan tak sengaja mereka melihat kerbau itu tersampir di kebun belakang dekat rumah Abu Udik. Terkadang mereka mencari jalan memotong dengan melewati pematang sawah, kebun-kebun dan belakang rumah-ramah, dan di rumah Abu Udik-lah mereka mendapati kerbau tersebut.

Empat orang anak itu langsung berlari menuju rumah Pak Sanusi untuk melaporkan penemuan mereka. Dan beberapa saat kemudian Pak Sanusi bersamaan dengan belasan warga mendatangi rumah Abu Udik. Hampir saja Abu Udik tewas babak belur dihajar warga yang kalap. Pak Kades pun datang dan menyelamatkan nyawa Abu Udik yang hampir lepas dari tubuhnya. Ia hanyalah orang setengah gila yang kehilangan istri dan ternak-ternaknya, kata Pak Kades. Tidak seharusnya kita main hakim sendiri dan membunuh orang tidak waras yang sisa hidupnya nelangsa ini. Lagipula, kerbaumu itu hanya di letakkannya di belakang rumah dan ia rawat seakan kerbaunya sendiri yang hilang. Abu Udik hanyalah orang yang kesepian, kata Pak Kades panjang lebar kepada warga yang masih berang. Dan warga itu pun bubar dengan membawa serta kerbau Pak Sanusi. Karena dianggap tak mengganggu, Abu Udik masih dibiarkan tinggal di kampung itu. Pak Kades pun tak membiarkan peristiwa ini terdengar oleh telinga polisi.

Mungkin Abu Udik-lah pelakunya, pikir sang bocah, teringat peristiwa itu. Tapi, apa alasan sehingga Abu Udik harus mencuri sebelah sepatu bututnya. Abu Udik hanyalah lelaki malang yang kehilangan anak-istri serta ternak-ternaknya. Ia tak akan merasa bahagia hanya ditemani oleh sebelah sepatu butut. Buru-buru Sang Bocah menepis anggapan sesatnya.

Tapi siapa? Sang Bocah pun kembali berpikir dan mencari kemungkinan lain siapa pelaku yang telah mencuri sebelah sepatunya. Ia teringat, tiga hari lalu, beberapa kutang dan celana dalam milik Janda Tua raib begitu saja dalam keadaan sedang terjemur. Pencurian pakaian dalam itu sedang menjadi gosip hangat di kampung dengan ibu sang bocah sendiri sebagai penyebar gosip saat sedang berkeliling berjualan sayur. Dan semua warga diam-diam sepakat bahwa Pak Adem-lah pelaku pencurian pakaian dalam si Janda Tua. Hingga kini Pak Adem belum ditindak sebab warga belum menemukan bukti bahwa ialah pelakunya. Tapi beberapa kali, beberapa perawan di kampung itu mengaku pernah diintip oleh Pak Adem pada saat sedang mandi. Hanya orang mesum yang mau mencuri kutang dan kancut milik si Janda Tua. Itu hanya kutang dan kancut yang telah belel, kata si Janda Tua kepada Ibu setelah peristiwa itu. Si Janda Tua bercerita kepada ibu dengan perasaan bangga. Menjijikkan sekali kata ibu kepada sang bocah. Kenapa ia harus bangga bahwa pakaian dalam bututnya dicuri orang.

Awalnya sang bocah ingin menuduh Pak Adem yang telah mencuri sebelah sepatu bututnya itu. Tapi orang paling mesum sekalipun tak akan birahi dengan memandang sepatu bututnya. Sang bocah membayangkan Pak Adem onani dengan memandangi, dan mencium kutang dan kancut milik si Janda Tua, tapi ia tak bisa membayangkan Pak Adem melakukannya dengan menatap sepatunya. Tak mungkin Pak Adem pelakunya, pikir sang bocah. Tapi siapa?

Tepat saat sang bocah memikirkan kemungkinan pelaku lain, ibunya baru kembali dari berjualan sayur keliling.

“Loh? Kamu enggak sekolah Danung?” kata ibunya itu sambil memarkir gerobak sayur di depan kontrakan. Bocah yang dipanggil ibunya Danung itu hanya diam saja masih sambil memandangi sepatu sebelah kanannya yang kesepian. Ibunya melihat anaknya memakai seragam biru putih tapi hanya dengan sebelah sepatu yang terpasang. Ia melihat sekeliling dan tak melihat pasangan sepatu anaknya itu.

“Sepatumu hilang? Sudah kau cari baik-baik? Senin lalu ibu yang menemukan sebelah sepatumu itu tersangkut di gerobak dagangan ibu. Sekarang kau lempar kemana lagi?”

“Danung meletakkannya baik-baik di bawah jendela ini Bu. Dua-duanya,” kata Danung memandangi ibunya. “Danung menyesal tak merawatnya. Padahal itukan pemberian terakhir ayah.” Suaranya bergetar mengucapkan pengakuannya itu. Matanya berkaca-kaca, alis dan bibirnya melengkung ke bawah. Danung membendung sekuat tenaga rasa perih yang membuncah di dadanya. Ia tak mau dibilang anak cengeng.

“Kalau ia kembali Danung janji akan mencucinya setiap minggu. Danung juga janji akan meletakkannya baik-baik di bawah tempat tidur. Danung...”

“Ya sudah. Nanti Ibu akan mengutang kepada Pak Sanusi untuk membelikanmu sepatu yang baru. Sekarang gantilah dulu bajumu,” kata ibunya mengelus-elus pundak anak semata-wayangnya itu.

“Tapi itu pemberian Ayah. Satu-satunya...”

Ibunya berpikir sesaat lalu berkata, “semalam ibu melihat anjing buduk milik Kek Jero mondar-mandir di depan kontrakan kita. Ia seperti mengendus-ngendus mencari sesuatu...”

“Anjing Buduk Kek Jero yang hitam itu Bu?” tanya Danung antusias. Isaknya berhenti.

“Iya.”

Danung pun tergopoh-gopoh kedalam kontrakan. Lalu beberapa saat kemudian ia keluar sudah dengan baju bermain dan di tangan kirinya ia menggenggam pemukul kasti. Ia muluncur ke arah barat tanpa mengucapkan salam kepada ibunya. Ibu Danung memandang anaknya itu dengan heran. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi Danung sudah menghilang di balik pohon mangga.

Selepas azan isya, Danung kembali ke kontrakan dengan bersimbah peluh. Ibunya bertanya darimana saja kau membawa pentungan seperti itu. Aku mencari anjing kurab itu bu, jawab Danung. Apakah kau menemukannya, tanya ibunya kembali. Tidak, balas Danung singkat.

“Kalau aku ketemu anjing kurab sialan itu. Akan aku pukuli dia,” ketusnya setelah mandi.

“O alah, sejak kapan anak ibu jadi brutal seperti ini? Kan sudah ibu bilang. Kau sabar sajalah, besok sambil lewat di depan rumah Pak Sanusi, ibu akan meminjam uang untuk membeli sepatu yang baru. Sama persis seperti yang diberikan ayahmu.”

“Tapi itu pemberian satu-satunya dan terakhir Ayah. Danung enggak terima anjing buduk itu mencurinya.”

“Apakah kau punya bukti kalau anjing itu yang membawanya lari?”

“Pasti anjing itu yang melakukannya. Anjing buduk tak ada yang baik Bu. Lihat saja caranya menggaruk-garuk koreng di balik kupingnya. Menjijikkan.”

“Jangan sembarangan ngomong! Itu anjing Kek Jero. Meskipun sekarang budukan, semenjak ia lahir hingga setua ini telah menjadi keluarga Kek Jero. Apa lagi semenjak Kek Jero ditinggal mati istrinya.”

Dari balik pintu yang tertutup, terdengar suara anjing menggonggong. Danung tahu itu suara anjing buduk Kek Jero dan langsung mengambil tongkat kastinya lalu membuka pintu. Tepat di depan teras, anjing itu duduk dan di depannya tergeletak sepatu sebelah kiri Danung yang hilang. Aku tahu kau pencurinya, anjing buduk sialan, teriak Danung lalu ia bergegas menuju anjing tersebut. Danung langsung mengangkat tongkat kastinya dan mengarahkannya ke tubuh anjing tersebut. Anjing itu mengkaing-kaing kesakitan. Danung tak memberi ampun lalu ia ayunkan dengan keras pamungkas pemukul kastinya ke arah kepala anjing buduk sialan itu. Seketika anjing itu tak lagi mengeluarkan suara. Danung burur-buru mengambil sepatunya.

Seorang tetangga di sebelah kontrakan mereka, Pak Darsuma melihat aksi kekerasan terhadap binatang itu. Ia langsung menghampiri anjing itu dan memeriksanya. Innalillahi, kata pak Darsuma pelan. Ia langsung memanggil Danung.

“Kau telah membunuh anjing itu! Setan macam apa yang telah merasukimu?”

“Dia mencuri sepatuku,” bela Danung.

“Kau tolol. Ia tidak mencuri sepatumu. Tapi mengembalikannya! Ia tak mungkin mencuri sepatu jelekmu itu. Bahkan minggu lalu ia mengembalikan dompetku yang hilang di jalan!”

Sekitar lima ratus meter dari kontrakan Danung, Kek Jero menunggu anjing kesayangannya pulang. Kek Jero telah menyiapkan makanan anjing tersebut. kemana kau Bruno? Kata Kek Jero. Kalau hanya mengantarkan barang yang hilang di jalan kepada pemiliknya, tak akan selama ini, batin Kek Jero. Dan Kek Jero pun termenung sendirian memandangi potret istrinya yang telah lama meninggalkannya, sedang memeluk Bruno.

-Hizbul Ridho, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar