Semalam bocah itu bermimpi sebelah
sepatu Adidasnya memiliki sayap malaikat. Sepatu itu tampak baru dan bersih
seperti pertama kali diberikan ayahnya, yang telah mati dua tahun lalu. Bocah itu
berlari mengejar sebelah sepatunya yang memiliki sayap itu dengan sebelahnya
lagi terpasang di kakinya. Tapi sepatu bersayap malaikat itu terbang semakin
jauh dan bocah itu akhirnya berhenti, putus asa. Tak berapa lama kemudian sepatu
itu kembali, dibawakan ayahnya. Meskipun aku membelinya dengan sangat murah dan
bukan Adidas asli, tolong kau jaga dan rawat, kata ayahnya sebelum sang bocah
terbangun.
Pagi itu sang bocah terburu-buru
berangkat ke sekolahnya. Ia merasa sudah sedikit terlambat. Ia mandi bebek dan langsung mengenakan seragamnya dan memasukkan segela perlengkapan
sekolahnya ke dalam tasnya. Begitu ia memakai kaus kaki dan hendak mengenakan
sepatunya ia garuk-garuk kepala. Ia lupa di mana telah meletakkan sepatunya itu
kemarin sepulang sekolah. Sang bocah memiliki kebiasan untuk melempar kemana
saja sepatuya sesampainya di rumah. Tapi ia ingat, kemarin ia meletakkannya
dengan hati-hati di luar di bawah jendela, dan benar saja, sang bocah menemukan
sebelah sepatunya di tempat itu. Tapi tunggu dulu, sang bocah hanya melihat
sebelah kanan sepatunya. Kemana sepatu yang satu lagi, pikir si bocah. Ia pun
mengitari halaman kontrakan yang hanya memiliki empat kamar berjejer itu. Ia
mencarinya di dekat pot, ia memeriksa rumput-rumput, semak-semak, dan tak menemukan sepatunya
tersebut. sang
bocah hampir putus asa. Ia melihat kearah kontrakan yang terletak paling pojok
terbuka pintunya—kontrakan yang ditinggali seorang janda tua. Ia pun
bergegas ke sana dengan mengenakan sebelah sepatu kanan Adidasnya itu.
“Memangnya aku ibumu!” kata janda itu
dengan berang. “Aku tak mungkin menyimpan sepatu bututmu itu.” Dan sang janda
tua pun langsung mengusir sang bocah seperti yang biasa ia lakukan kepada
kucing yang selalu mencuri ikan asinnya.
Ia kembali dan terkulai lemas di
teras kontrakannya. Sang bocah pun mulai terisak-isak sambil memandangi
sebelah kanan sepatu yang dikenakannya itu. Sepatu itu sudah kumuh sekali, di
sisi tapaknya dipenuhi bercak lumpur, talinya rompal di sana-sini seperti bekas
gigitan tikus. Ia terisak dan teringat mimpi semalam. Tak mungkin sepatu itu
terbang dengan sayap malaikat meninggalkan ia dan sebelah sepatunya itu. Ibunya
masih belum kembali juga dari berjualan sayur keliling. Air mata menetes di
permukaan sepatunya yang kumuh itu. Sepatu itu jadi sendirian sekarang,
pikirnya. Melihat sepatunya yang hanya sebelah itu, pagi ini, sang bocah pun
merasakan kesepian. Ia mengurungkan niat bersekolah. Betapa sesuatu baru
berarti ketika sesuatu itu telah hilang.
Tak membutuhkan waktu lama bagi sang
bocah untuk bersedih. Ia bukanlah anak cengeng dan bermewek-mewek dengan
waktu lama bukanlah tipikalnya. Ia menolak anggapan bahwa sepatunya hilang sebab memiliki sayap dan terbang menjauh. Sang bocah mulai menyusun
rasionalisasi tentang hilangnya sebelah sepatunya. Tak membutuhkan waktu lama
baginya berpikir bahwa sepatunya telah dicuri. Di kampung tempat ia tinggal
ini, segala macam pencurian sering terjadi.
Ia ingat kejadian minggu lalu, di
tengah malam yang basah, tiba-tiba saja kerbau milik Pak Sanusi raib. Seisi
kampung menjadi heboh dan tetangga-tetangga yang bersimpati ikut mencari kerbau
yang hilang. Sang bocah pun ikut mencari, tapi
hingga azan subuh berkumandang tak juga ditemukan kerbau milik Pak Sanusi.
Sang Bocah bersama tiga orang
temannya kenal betul bentuk kerbau milik Pak Sanusi; kerbau itu tak terlu besar
dan tak memiliki telinga kiri. Ketika mereka sedang berjalan kaki pulang
sekolah, dengan tak sengaja mereka melihat kerbau itu tersampir di kebun
belakang dekat rumah Abu Udik. Terkadang mereka mencari jalan memotong dengan
melewati pematang sawah, kebun-kebun dan belakang rumah-ramah, dan di rumah Abu Udik-lah mereka
mendapati kerbau tersebut.
Empat orang anak itu langsung berlari
menuju rumah Pak Sanusi untuk melaporkan penemuan mereka. Dan beberapa saat
kemudian Pak Sanusi bersamaan dengan belasan warga mendatangi rumah Abu Udik.
Hampir saja Abu Udik tewas babak belur dihajar warga yang kalap. Pak Kades pun
datang dan menyelamatkan nyawa Abu Udik yang hampir lepas dari tubuhnya. Ia
hanyalah orang setengah gila yang kehilangan istri dan ternak-ternaknya, kata
Pak Kades. Tidak seharusnya kita main hakim sendiri dan membunuh orang tidak
waras yang sisa hidupnya nelangsa ini. Lagipula, kerbaumu itu hanya di
letakkannya di belakang rumah dan ia rawat seakan kerbaunya sendiri yang hilang.
Abu Udik hanyalah orang yang kesepian, kata Pak Kades panjang lebar kepada
warga yang masih berang. Dan warga itu pun bubar dengan membawa serta kerbau Pak
Sanusi. Karena dianggap tak mengganggu, Abu Udik masih dibiarkan tinggal di
kampung itu. Pak Kades pun tak membiarkan peristiwa ini terdengar oleh telinga
polisi.
Mungkin Abu Udik-lah pelakunya, pikir sang bocah, teringat peristiwa itu. Tapi, apa alasan sehingga Abu Udik harus
mencuri sebelah sepatu bututnya. Abu Udik hanyalah lelaki malang yang kehilangan
anak-istri serta ternak-ternaknya. Ia tak akan merasa bahagia hanya ditemani
oleh sebelah sepatu butut. Buru-buru Sang Bocah menepis anggapan sesatnya.
Tapi siapa? Sang Bocah pun kembali
berpikir dan mencari kemungkinan lain siapa pelaku yang telah mencuri sebelah
sepatunya. Ia teringat, tiga hari lalu, beberapa kutang dan celana dalam milik
Janda Tua raib begitu saja dalam keadaan sedang terjemur. Pencurian pakaian
dalam itu sedang menjadi gosip hangat di kampung dengan ibu sang bocah sendiri
sebagai penyebar gosip saat sedang berkeliling berjualan sayur. Dan semua warga
diam-diam sepakat bahwa Pak Adem-lah pelaku pencurian pakaian dalam si Janda
Tua. Hingga kini Pak Adem belum ditindak sebab warga belum menemukan bukti
bahwa ialah pelakunya. Tapi beberapa kali, beberapa perawan di kampung itu
mengaku pernah diintip oleh Pak Adem pada saat sedang mandi. Hanya orang mesum
yang mau mencuri kutang dan kancut milik si Janda Tua. Itu hanya kutang dan
kancut yang telah belel, kata si Janda Tua kepada Ibu setelah peristiwa itu. Si
Janda Tua bercerita kepada ibu dengan perasaan bangga. Menjijikkan sekali kata
ibu kepada sang bocah. Kenapa ia harus bangga bahwa pakaian dalam bututnya
dicuri orang.
Awalnya sang bocah ingin menuduh Pak
Adem yang telah mencuri sebelah sepatu bututnya itu. Tapi orang paling mesum
sekalipun tak akan birahi dengan memandang sepatu bututnya. Sang bocah
membayangkan Pak Adem onani dengan memandangi, dan mencium kutang dan kancut milik si
Janda Tua, tapi ia tak bisa membayangkan Pak Adem melakukannya dengan menatap sepatunya. Tak mungkin Pak
Adem pelakunya, pikir sang bocah. Tapi siapa?
Tepat saat sang bocah memikirkan
kemungkinan pelaku lain, ibunya baru kembali dari berjualan sayur keliling.
“Loh? Kamu enggak sekolah Danung?” kata
ibunya itu sambil memarkir gerobak sayur di depan kontrakan. Bocah yang
dipanggil ibunya Danung itu hanya diam saja masih sambil memandangi sepatu
sebelah kanannya yang kesepian. Ibunya melihat anaknya memakai seragam biru
putih tapi hanya dengan sebelah sepatu yang terpasang. Ia melihat sekeliling
dan tak melihat pasangan sepatu anaknya itu.
“Sepatumu hilang? Sudah kau cari
baik-baik? Senin lalu ibu yang menemukan sebelah sepatumu itu tersangkut di
gerobak dagangan ibu. Sekarang kau lempar kemana lagi?”
“Danung meletakkannya baik-baik di
bawah jendela ini Bu. Dua-duanya,” kata Danung memandangi ibunya. “Danung
menyesal tak merawatnya. Padahal itukan pemberian terakhir ayah.” Suaranya
bergetar mengucapkan pengakuannya itu. Matanya berkaca-kaca, alis dan bibirnya
melengkung ke bawah. Danung membendung sekuat tenaga rasa perih yang membuncah
di dadanya. Ia tak mau dibilang anak cengeng.
“Kalau ia kembali Danung janji akan
mencucinya setiap minggu. Danung juga janji akan meletakkannya baik-baik di
bawah tempat tidur. Danung...”
“Ya sudah. Nanti Ibu akan mengutang
kepada Pak Sanusi untuk membelikanmu sepatu yang baru. Sekarang gantilah dulu
bajumu,” kata ibunya mengelus-elus pundak anak semata-wayangnya itu.
“Tapi itu pemberian Ayah.
Satu-satunya...”
Ibunya berpikir sesaat lalu berkata,
“semalam ibu melihat anjing
buduk milik Kek Jero mondar-mandir di depan kontrakan kita. Ia seperti
mengendus-ngendus mencari sesuatu...”
“Anjing Buduk Kek Jero yang hitam itu Bu?”
tanya Danung antusias. Isaknya berhenti.
“Iya.”
Danung pun tergopoh-gopoh kedalam
kontrakan. Lalu beberapa saat kemudian ia keluar sudah dengan baju bermain dan
di tangan kirinya ia menggenggam pemukul kasti. Ia muluncur ke arah barat tanpa
mengucapkan salam kepada ibunya. Ibu Danung memandang anaknya itu dengan heran.
Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi Danung sudah menghilang di balik
pohon mangga.
Selepas azan isya, Danung kembali ke
kontrakan dengan bersimbah peluh. Ibunya bertanya darimana saja kau membawa
pentungan seperti itu. Aku mencari anjing kurab itu bu, jawab Danung. Apakah
kau menemukannya, tanya ibunya kembali. Tidak, balas Danung singkat.
“Kalau aku ketemu anjing kurab sialan
itu. Akan aku pukuli dia,” ketusnya setelah mandi.
“O alah, sejak kapan anak ibu jadi
brutal seperti ini? Kan sudah ibu bilang. Kau sabar sajalah, besok sambil lewat
di depan rumah Pak Sanusi, ibu akan meminjam uang untuk membeli sepatu yang
baru. Sama persis seperti yang diberikan ayahmu.”
“Tapi itu pemberian satu-satunya dan
terakhir Ayah. Danung enggak terima anjing buduk itu mencurinya.”
“Apakah kau punya bukti kalau anjing
itu yang membawanya lari?”
“Pasti anjing itu yang melakukannya.
Anjing buduk tak ada yang baik Bu. Lihat saja caranya menggaruk-garuk koreng di
balik kupingnya. Menjijikkan.”
“Jangan sembarangan ngomong! Itu
anjing Kek Jero. Meskipun sekarang budukan, semenjak ia lahir hingga setua ini
telah menjadi keluarga Kek Jero. Apa lagi semenjak Kek Jero ditinggal mati
istrinya.”
Dari balik pintu yang tertutup, terdengar
suara anjing menggonggong. Danung tahu itu suara anjing buduk Kek Jero dan langsung
mengambil tongkat kastinya lalu membuka pintu. Tepat di depan teras,
anjing itu duduk dan di depannya tergeletak sepatu sebelah kiri Danung yang
hilang. Aku tahu kau pencurinya, anjing buduk sialan, teriak Danung lalu ia
bergegas menuju anjing tersebut. Danung langsung mengangkat tongkat kastinya
dan mengarahkannya ke tubuh anjing tersebut. Anjing itu mengkaing-kaing kesakitan.
Danung tak memberi ampun lalu ia ayunkan dengan keras pamungkas pemukul kastinya ke arah
kepala anjing buduk sialan itu. Seketika anjing itu tak lagi mengeluarkan
suara. Danung burur-buru mengambil sepatunya.
Seorang tetangga di sebelah kontrakan
mereka, Pak Darsuma melihat aksi kekerasan terhadap binatang itu. Ia langsung
menghampiri anjing itu dan memeriksanya. Innalillahi, kata pak Darsuma pelan.
Ia langsung memanggil Danung.
“Kau telah membunuh anjing itu! Setan
macam apa yang telah merasukimu?”
“Dia mencuri sepatuku,” bela Danung.
“Kau tolol. Ia tidak mencuri
sepatumu. Tapi mengembalikannya! Ia tak mungkin mencuri sepatu jelekmu itu.
Bahkan minggu lalu ia mengembalikan dompetku yang hilang di jalan!”
Sekitar lima ratus meter dari
kontrakan Danung, Kek Jero menunggu anjing kesayangannya pulang. Kek Jero telah
menyiapkan makanan anjing tersebut. kemana kau Bruno? Kata Kek Jero. Kalau hanya
mengantarkan barang yang hilang di jalan kepada pemiliknya, tak akan selama
ini, batin Kek Jero. Dan Kek Jero pun termenung sendirian memandangi potret
istrinya yang telah lama meninggalkannya, sedang memeluk Bruno.
-Hizbul Ridho, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar