Satu persatu anak-anak gembel itu
digiring paksa ke atas mobil pikap oleh petugas ketertiban Kota Praja. Begitu banyaknya mereka,
petugas sampai kewalahan untuk menjaring mereka semua, sebagian kecil berhasil
diringkus namun sebagian besar lagi berhasil lolos. Bagai tikus-tikus got yang
merasakan ada ancaman, dengan cepatnya mereka melesat lari lewat gorong-gorong,
semak-semak belukar dan entah jalan tikus mana lagi yang hanya diketahui oleh mereka.
Melalui berita televisi, aku
menyaksikan jumlah anak-anak gembel itu sudah mencapai ratusan yang tertangkap.
Namun kabarnya itu baru sebagian kecil. Dalam beberapa minggu saja, anak-anak gembel
serupa sudah menyebar ke kota-kota lain sampai ke kota-kota di seberang pulau, dan
kota-kota negara tetangga. Fenomena ini menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan
di televisi. Tidak hanya di berita pagi atau berita malam hingga talkshow dan infotainment pun asyik membicarakan fenomena ini.
Beberapa pakar ilmu politik, sosial,
filsafat serta budaya diundang untuk menjelaskan fenomena ganjil ini. Namun
mereka semua hanya bisa menerka-nerka musababnya. Salah satu talkshow yang dibawakan oleh seorang
pelawak lebih gila lagi dengan mengundang pakar ilmu kegaiban untuk
membicarakan fenomena ini, namun mereka hanya membicarakannya sambil
tertawa-tawa.
Lalu anak-anak selebritas yang mewakili
anak-anak lainnya menjadi korban fenomena ini ikut diwawancarai oleh
wartawan infotaintment dan diundang
di acara talkshow. Dengan polosnya,
pernyataan anak-anak itu semua senada bahwa sejak fenomena ini terjadi
anak-anak sebaya mereka sekarang setiap malamnya selalu mengalami mimpi buruk.
Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun mereka tidak menikmati mimpi-mimpi
indah, sekalipun tidak bermimpi mereka akan dengan nyamannya terbangun di pagi
hari, berangkat sekolah dengan perut kenyang sebab para pembantu rumah tangga telah
menyediakan sarapan berupa susu segar dan roti sandwich isi keju, tomat dan salat, lalu diantar oleh para sopir mereka ke
sekolah masing-masing.
Itu sebelum mereka bermimpi buruk,
sekarang hampir setiap malam anak-anak ini dirundung insomnia. Ketika mereka memaksakan diri untuk tidur mereka hanya
akan mengalami ketindihan dan berteriak-teriak histeris. Mereka pun menjadi
enggan untuk pergi ke sekolah, lebih memilih mengurung diri di dalam kamar, enggan sarapan pagi
juga mandi. Orangtua mereka yang tadinya super sibuk dengan bisnis perusahaan,
mulai khawatir dengan apa yang terjadi terhadap anak-anak mereka. Mereka
mengundang psikiater untuk datang ke rumah namun keadaan anak-anak ini tidak
menunjukkan
perkembangan yang berarti. Beberapa orangtua yang mulai putus asa membawa anaknya
ke rumah sakit di negeri tetangga, beberapa lagi membawanya ke pelosok-pelosok
daerah tempat dukun-dukun sakti berada. Namun tetap, di televisi yang aku
tonton tidak ada perkembangan yang positif mengenai berita tersebut.
Setiap aku terbangun di pagi hari
untuk menyiapkan barang daganganku, Tamil sudah terlelap di kontrakan yang kami
tinggali bersama, dengan tersenyum. Sudah hampir sebulan aku tidak pernah
berbicara kepadanya. Selalu ketika aku pulang dari menjajakan mainanku keliling
kampung-kampung dia sudah tidak ada di rumah. Malam hari ketika aku berjalan pulang
menyusuri kampung kami yang berada di
pinggir jalur
kereta, aku juga tidak menemukan anak-anak lain yang sebaya dengan Tamil. Kampung kami
yang tadinya ramai oleh riuh-rendah suara anak-anak berlari bermain tak umpet
kini terasa sedikit sunyi, hanya sesekali diramaikan oleh bisingnya deru kereta yang melintas di
sebelah perkampungan ini.
Aku bertemu Tamil lima tahun lalu, di
pasar tempat aku biasa menggelar lapak mainanku. Pada waktu itu aku melihatnya sedang mengamen hanya dengan
menggunakan kecrekan yang ia buat dari tutup botol limun yang diratakan dengan
cara ditumbuk dengan batu lalu dipaku di atas kayu kecil. Aku asyik memperhatikannya singgah
dari warung nasi satu ke warung nasi lainnya menyanyikan lagu dangdut koplo
terkenal yang sebenarnya tidak pantas untuk dinyanyikan anak seumurannya. Namun
Tamil selalu berhasil membuat rumah makan tempat aku biasa makan terhibur.
Sesekali aku memberinya koin lima ratus atau lembar seribu rupiah namun kali itu aku memutuskan mentraktirnya makan.
“Siapa namamu?” tanyaku kepada pengamen cilik itu di sela-sela mengunyah nasi.
“Tamil, Om,” jawabnya singkat. Dia memasukkan suapan
terakhirnya ke mulut dan mengunyahnya dengan lahap seakan belum bertemu nasi
berhari-hari. “Boleh saya tambah lagi nasinya Om?”
Sejak saat itu aku memutuskan untuk
mengajaknya tinggal di kontrakan satu kamar yang baru aku sewa, sebuah
kontrakan yang tak terawat di perkampungan kumuh pinggir kota. Dari ceritanya dia tidak
punya rumah untuk pulang. Sudah setahun lebih dia tidur di jalan dan mencari
makan dengan mengamen, sesekali dia mencuri juga sebab berhari-hari uang hasil ngamennya tidak cukup untuk membeli sekadar sebungkus nasi. Dia
melarikan diri dari rumah ibunya sebab menurut pengakuannya, dia selalu disiksa. Setiap malam
pria-pria berbeda silih berganti tidur di ranjang bersama ibunya, dan
pria-pria itu tak pernah memberlakukannya dengan baik, sehingga dia selalu
diusir keluar oleh ibunya sendiri. Sekarang dia berpikir tidak ada bedanya dia tidur di jalan
atau tinggal bersama ibunya, toh dia
tetap akan tidur di luar.
Setelah tinggal bersamaku Tamil tidak
lagi mengamen, sekarang dia memilih untuk memulung sampah botol–botol minuman
kemasan serta kaleng-kaleng yang terserak di pinggir jalan atau di
tempat-tempat sampah, atau di selokan-selokan, atau di kali yang
menggenang.
Terkadang, ia
memulung kardus. Sampah-sampah yang telah dia kumpulkan lalu dijualnya ke
penadah rongsokan. Kegiatan memulungnya ini dimulai ketika dia berkenalan
dengan seorang anak bernama Daud yang tinggal dengan seorang nenek renta.
Berdua mereka berpetualang di jalan-jalan ibukota untuk mengais-ngais
sampah yang
sekiranya dapat mereka tukur dengan sebungkus nasi.
Suatu hari yang garang, mereka, Tamil dan
Daud, berjalan
di suatu komplek tempat rumah-rumah megah berada. Mereka takjub melihat di masing-masing rumah terdapat setidaknya terdapat dua sampai tiga mobil yang
diparkir di depan garasi. Di sebelah mobil-mobil itu terkadang, juga terdapat satu atau dua
motor yang sedang menganggur. Mereka terpana. Di suatu rumah, mereka melihat sebuah mobil
sedan hitam mengkilat baru saja tiba. Pintu belakang mobil itu terbuka
lalu keluarlah seorang gadis montok berkulit cahaya kemerahan turun dari mobil dengan
riangnya lalu berlari ke arah rumahnya. “jangan lari-lari Non,” seorang pria
tua berpeci menyusulnya turun dari pintu depan mobil itu. Tamil dan Daud hanya
menyaksikan mereka masuk dengan tercenung.
”Wah, asyik sekali ya, Mil, jadi anak itu,” ujar Daud. “Pasti mereka selalu dapat
mimpi indah setiap malamnya.” Tamil tidak menjawabnya, dia malah diam seperti
memikirkan sesuatu.
”Ud, bagaimana kalau nanti malam kita
kembali kesini,” tiba-tiba Tamil melontarkan ide. Daud bertanya balik untuk apa. “Sudah, pokoknya kau ikut saja
nanti. Aku akan menunjukkan padamu sesuatu yang menyenangkan.”
Pada malam itu juga, dengan
masih membawa karung masing-masing, mereka kembali ke perumahan itu persis di
tempat mereka berdiri siangnya menyaksikan bocah gadis montok bercehaya kemerahan masuk ke rumah besar itu. Entah
bagaimana caranya mereka berhasil lolos dari penjagaan malam satpam di depan
gerbang komplek. Mungkin
hanya mereka yang tahu caranya. Bagai tikus got yang bisa muncul di mana saja lewat jalan-jalan
yang tidak diketahui orang. Entah
bagaimana pula mereka berhasil masuk ke rumah besar tempat anak gadis montok
bercahaya kemerahan itu tinggal. Mereka sampai di depan kamar anak gadis itu, pintu tidak terkunci dan dengan leluasanya mereka
masuk mengendap-endap ke dalam kamar. Tamil dan Daud seketika merinding kedinginan, hembusan
hawa dingin dari airconditioner membuat
bulu halus mereka berdiri, dan mereka lipat kedua lengan mereka memeluk tubuh sendiri. Di ranjang besar
berwarna gula-gula kapas itu tampak anak gadis yang tadi siang sedang tertidur lelap sambil
tersenyum. Tidak beberapa lama kemudian mereka sudah keluar dari rumah tersebut
lalu dari dalam rumah sekonyong-konyong terdengar pekik bocah
gadis kehilangan. Seketika satpam-satpam berlari
menuju rumah itu. Tamil dan Daud sudah lenyap entah kemana melewati jalan-jalan yang
tidak diketahui. Rumah besar itu ramai oleh kerumunan hingga pagi menjelang sedang anak gadis
montok bercahaya kemerahan itu tidak berhenti histeria.
Sejak saat itu, kami selalu terlelap
tidur di pagi harinya dan bangun lagi selepas maghrib. Tidur kami penuh dengan mimpi-mimpi
indah hasil curian dari bocah-bocah berkulit cahaya kemerahan. Kami jadi candu melakukan aksi yang sama dan
melakukannya hampir
setiap malam. Tamil memang gila, tidak puas dengan hasil mengumpulkan sampah
yang hanya bisa ditukar dengan sebungkus nasi bisa-bisanya dia terpikir untuk
mencuri mimpi-mimpi indah yang tak pernah kami alami sebelumnya.
Aksi kami berdua ini secara bisik-bisik kami
ceritakan kepada teman-teman kami yang lain. Mereka mulai tertular untuk
mencuri mimpi anak-anak yang tidur di dalam kamar berudara pegunungan. Beberapa teman kami yang
suka ngelem malah meninggalkan kebiasaan menghirup
lem sebab
katanya,
merasakan mimpi indah anak-anak itu justru lebih membikin candu. Mimpi-mimpi mereka kami
masukkan kedalam karung
tempat kami biasa menyimpan sampah kaleng dan botol. Tidak hanya mencuri mimpi indah mereka, namun
juga menukarnya dengan mimpi buruk kami. Pagi
harinya kami sudah sampai di rumah masing-masing lalu tidur dengan memeluk
karung yang sudah penuh dengan mimpi indah. Aku sampai tidak menyangka kalau
aksi kami begitu mewabah menjadi seperti sebuah hobi baru di kalangan anak-anak
jalanan lainnya.
Malam ini, aku kembali tidak bertemu
Tamil di kontrakan. Kampung ini pun tetap sepi dari keriuhan
bocah-bocah biasanya bermain. Para orangtua sedang asyik bersantai di depan televisi sambil
menikmati kopi, tak peduli keberadaan anak-anak mereka. Pemuda-pemuda berkumpul di warung
kecil milik Nek Ijah, bermain gitar menyanyikan lagu-lagu rindu pelukan
wanita. Di kontrakan, aku kembali menonton berita
tentang fenomena yang sedang heboh terjadi di kota-kota besar. Anak-anak
gelandangan yang tadinya tertangkap tiba-tiba dilepaskan begitu saja. Menurut
petugas yang dimintai keterangan wartawan, mereka tidak menemukan alasan rasional untuk menangkap
anak-anak itu. Mereka tidak mencuri benda berharga apa pun dari rumah-rumah megah yang mereka satroni. Penjelasan tentang mencuri
dan menukar mimpi sama sekali tidak terdengar masuk akal. Maka tidak ada alasan bagi petugas Kota Praja untuk menahan mereka
lebih lama.
Agak bosan dengan berita itu melulu aku menukar-nukar saluran
televisi namun tetap saja hanya berita itu yang ditayangkan, hingga aku
berhenti pada sebuah saluran televisi: Seorang anak penyanyi terkenal
dimasukkan ke rumah sakit jiwa sebab kelakuannya yang sudah terlalu impulsif; benjerit-jerit histeris dengan rambut kusut-masai. Kemudian, kamera menyorot tembok kamar
anak tersebut;
di setiap
sisi tembok terlihat coretan-coretan kasar bertuliskan: KEMBALIKAN MIMPI INDAH
KAMI!
Hizbul Ridho, Tangerang, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar