Jumat, 25 Desember 2015

Mimpi Indah Dalam Karung







Satu persatu anak-anak gembel itu digiring paksa ke atas mobil pikap oleh petugas ketertiban Kota Praja. Begitu banyaknya mereka, petugas sampai kewalahan untuk menjaring mereka semua, sebagian kecil berhasil diringkus namun sebagian besar lagi berhasil lolos. Bagai tikus-tikus got yang merasakan ada ancaman, dengan cepatnya mereka melesat lari lewat gorong-gorong, semak-semak belukar dan entah jalan tikus mana lagi yang hanya diketahui oleh mereka.

Melalui berita televisi, aku menyaksikan jumlah anak-anak gembel itu sudah mencapai ratusan yang tertangkap. Namun kabarnya itu baru sebagian kecil. Dalam beberapa minggu saja, anak-anak gembel serupa sudah menyebar ke kota-kota lain sampai ke kota-kota di seberang pulau, dan kota-kota negara tetangga. Fenomena ini menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan di televisi. Tidak hanya di berita pagi atau berita malam hingga talkshow dan infotainment pun asyik membicarakan fenomena ini.

Beberapa pakar ilmu politik, sosial, filsafat serta budaya diundang untuk menjelaskan fenomena ganjil ini. Namun mereka semua hanya bisa menerka-nerka musababnya. Salah satu talkshow yang dibawakan oleh seorang pelawak lebih gila lagi dengan mengundang pakar ilmu kegaiban untuk membicarakan fenomena ini, namun mereka hanya membicarakannya sambil tertawa-tawa.

Lalu anak-anak selebritas yang mewakili anak-anak lainnya menjadi korban fenomena ini ikut diwawancarai oleh wartawan infotaintment dan diundang di acara talkshow. Dengan polosnya, pernyataan anak-anak itu semua senada bahwa sejak fenomena ini terjadi anak-anak sebaya mereka sekarang setiap malamnya selalu mengalami mimpi buruk. Padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun mereka tidak menikmati mimpi-mimpi indah, sekalipun tidak bermimpi mereka akan dengan nyamannya terbangun di pagi hari, berangkat sekolah dengan perut kenyang sebab para pembantu rumah tangga telah menyediakan sarapan berupa susu segar dan roti sandwich isi keju, tomat dan salat, lalu diantar oleh para sopir mereka ke sekolah masing-masing.

Itu sebelum mereka bermimpi buruk, sekarang hampir setiap malam anak-anak ini dirundung insomnia. Ketika mereka memaksakan diri untuk tidur mereka hanya akan mengalami ketindihan dan berteriak-teriak histeris. Mereka pun menjadi enggan untuk pergi ke sekolah, lebih memilih mengurung diri di dalam kamar, enggan sarapan pagi juga mandi. Orangtua mereka yang tadinya super sibuk dengan bisnis perusahaan, mulai khawatir dengan apa yang terjadi terhadap anak-anak mereka. Mereka mengundang psikiater untuk datang ke rumah namun keadaan anak-anak ini tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Beberapa orangtua yang mulai putus asa membawa anaknya ke rumah sakit di negeri tetangga, beberapa lagi membawanya ke pelosok-pelosok daerah tempat dukun-dukun sakti berada. Namun tetap, di televisi yang aku tonton tidak ada perkembangan yang positif mengenai berita tersebut.

Setiap aku terbangun di pagi hari untuk menyiapkan barang daganganku, Tamil sudah terlelap di kontrakan yang kami tinggali bersama, dengan tersenyum. Sudah hampir sebulan aku tidak pernah berbicara kepadanya. Selalu ketika aku pulang dari menjajakan mainanku keliling kampung-kampung dia sudah tidak ada di rumah. Malam hari ketika aku berjalan pulang menyusuri kampung kami yang berada di pinggir jalur kereta, aku juga tidak menemukan anak-anak lain yang sebaya dengan Tamil. Kampung kami yang tadinya ramai oleh riuh-rendah suara anak-anak berlari bermain tak umpet kini terasa sedikit sunyi, hanya sesekali diramaikan oleh bisingnya deru kereta yang melintas di sebelah perkampungan ini.

Aku bertemu Tamil lima tahun lalu, di pasar tempat aku biasa menggelar lapak mainanku. Pada waktu itu aku melihatnya sedang mengamen hanya dengan menggunakan kecrekan yang ia buat dari tutup botol limun yang diratakan dengan cara ditumbuk dengan batu lalu dipaku di atas kayu kecil. Aku asyik memperhatikannya singgah dari warung nasi satu ke warung nasi lainnya menyanyikan lagu dangdut koplo terkenal yang sebenarnya tidak pantas untuk dinyanyikan anak seumurannya. Namun Tamil selalu berhasil membuat rumah makan tempat aku biasa makan terhibur. Sesekali aku memberinya koin lima ratus atau lembar seribu rupiah namun kali itu aku memutuskan mentraktirnya makan.

“Siapa namamu?” tanyaku kepada pengamen cilik itu di sela-sela mengunyah nasi.

“Tamil, Om,” jawabnya singkat. Dia memasukkan suapan terakhirnya ke mulut dan mengunyahnya dengan lahap seakan belum bertemu nasi berhari-hari. “Boleh saya tambah lagi nasinya Om?”

Sejak saat itu aku memutuskan untuk mengajaknya tinggal di kontrakan satu kamar yang baru aku sewa, sebuah kontrakan yang tak terawat di perkampungan kumuh pinggir kota. Dari ceritanya dia tidak punya rumah untuk pulang. Sudah setahun lebih dia tidur di jalan dan mencari makan dengan mengamen, sesekali dia mencuri juga sebab berhari-hari uang hasil ngamennya tidak cukup untuk membeli sekadar sebungkus nasi. Dia melarikan diri dari rumah ibunya sebab menurut pengakuannya, dia selalu disiksa. Setiap malam pria-pria berbeda silih berganti tidur di ranjang bersama ibunya, dan pria-pria itu tak pernah memberlakukannya dengan baik, sehingga dia selalu diusir keluar oleh ibunya sendiri. Sekarang dia berpikir tidak ada bedanya dia tidur di jalan atau tinggal bersama ibunya, toh dia tetap akan tidur di luar.

Setelah tinggal bersamaku Tamil tidak lagi mengamen, sekarang dia memilih untuk memulung sampah botol–botol minuman kemasan serta kaleng-kaleng yang terserak di pinggir jalan atau di tempat-tempat sampah, atau di selokan-selokan, atau di kali yang menggenang. Terkadang, ia memulung kardus. Sampah-sampah yang telah dia kumpulkan lalu dijualnya ke penadah rongsokan. Kegiatan memulungnya ini dimulai ketika dia berkenalan dengan seorang anak bernama Daud yang tinggal dengan seorang nenek renta. Berdua mereka berpetualang di jalan-jalan ibukota untuk mengais-ngais sampah yang sekiranya dapat mereka tukur dengan sebungkus nasi.


Suatu hari yang garang, mereka, Tamil dan Daud, berjalan di suatu komplek tempat rumah-rumah megah berada. Mereka takjub melihat di masing-masing rumah terdapat setidaknya terdapat dua sampai tiga mobil yang diparkir di depan garasi. Di sebelah mobil-mobil itu terkadang, juga terdapat satu atau dua motor yang sedang menganggur. Mereka terpana. Di suatu rumah, mereka melihat sebuah mobil sedan hitam mengkilat baru saja tiba. Pintu belakang mobil itu terbuka lalu keluarlah seorang gadis montok berkulit cahaya kemerahan turun dari mobil dengan riangnya lalu berlari ke arah rumahnya. “jangan lari-lari Non,” seorang pria tua berpeci menyusulnya turun dari pintu depan mobil itu. Tamil dan Daud hanya menyaksikan mereka masuk dengan tercenung.

Wah, asyik sekali ya, Mil, jadi anak itu,” ujar Daud. “Pasti mereka selalu dapat mimpi indah setiap malamnya.” Tamil tidak menjawabnya, dia malah diam seperti memikirkan sesuatu.

”Ud, bagaimana kalau nanti malam kita kembali kesini,” tiba-tiba Tamil melontarkan ide. Daud bertanya balik untuk apa. Sudah, pokoknya kau ikut saja nanti. Aku akan menunjukkan padamu sesuatu yang menyenangkan.”

Pada malam itu juga, dengan masih membawa karung masing-masing, mereka kembali ke perumahan itu persis di tempat mereka berdiri siangnya menyaksikan bocah gadis montok bercehaya kemerahan masuk ke rumah besar itu. Entah bagaimana caranya mereka berhasil lolos dari penjagaan malam satpam di depan gerbang komplek. Mungkin hanya mereka yang tahu caranya. Bagai tikus got yang bisa muncul di mana saja lewat jalan-jalan yang tidak diketahui orang. Entah bagaimana pula mereka berhasil masuk ke rumah besar tempat anak gadis montok bercahaya kemerahan itu tinggal. Mereka sampai di depan kamar anak gadis itu, pintu tidak terkunci dan dengan leluasanya mereka masuk mengendap-endap ke dalam kamar. Tamil dan Daud seketika merinding kedinginan, hembusan hawa dingin dari airconditioner membuat bulu halus mereka berdiri, dan mereka lipat kedua lengan mereka memeluk tubuh sendiri. Di ranjang besar berwarna gula-gula kapas itu tampak anak gadis yang tadi siang sedang tertidur lelap sambil tersenyum. Tidak beberapa lama kemudian mereka sudah keluar dari rumah tersebut lalu dari dalam rumah sekonyong-konyong terdengar pekik bocah gadis kehilangan. Seketika satpam-satpam berlari menuju rumah itu. Tamil dan Daud sudah lenyap entah kemana melewati jalan-jalan yang tidak diketahui. Rumah besar itu ramai oleh kerumunan hingga pagi menjelang sedang anak gadis montok bercahaya kemerahan itu tidak berhenti histeria.


Sejak saat itu, kami selalu terlelap tidur di pagi harinya dan bangun lagi selepas maghrib. Tidur kami penuh dengan mimpi-mimpi indah hasil curian dari bocah-bocah berkulit cahaya kemerahan. Kami jadi candu melakukan aksi yang sama dan melakukannya hampir setiap malam. Tamil memang gila, tidak puas dengan hasil mengumpulkan sampah yang hanya bisa ditukar dengan sebungkus nasi bisa-bisanya dia terpikir untuk mencuri mimpi-mimpi indah yang tak pernah kami alami sebelumnya.

Aksi kami berdua ini secara bisik-bisik kami ceritakan kepada teman-teman kami yang lain. Mereka mulai tertular untuk mencuri mimpi anak-anak yang tidur di dalam kamar berudara pegunungan. Beberapa teman kami yang suka ngelem malah meninggalkan kebiasaan menghirup lem sebab katanya, merasakan mimpi indah anak-anak itu justru lebih membikin candu. Mimpi-mimpi mereka kami masukkan kedalam karung tempat kami biasa menyimpan sampah kaleng dan botol. Tidak hanya mencuri mimpi indah mereka, namun juga menukarnya dengan mimpi buruk kami. Pagi harinya kami sudah sampai di rumah masing-masing lalu tidur dengan memeluk karung yang sudah penuh dengan mimpi indah. Aku sampai tidak menyangka kalau aksi kami begitu mewabah menjadi seperti sebuah hobi baru di kalangan anak-anak jalanan lainnya.


Malam ini, aku kembali tidak bertemu Tamil di kontrakan. Kampung ini pun tetap sepi dari keriuhan bocah-bocah biasanya bermain. Para orangtua sedang asyik bersantai di depan televisi sambil menikmati kopi, tak peduli keberadaan anak-anak mereka. Pemuda-pemuda berkumpul di warung kecil milik Nek Ijah, bermain gitar menyanyikan lagu-lagu rindu pelukan wanita. Di kontrakan, aku kembali menonton berita tentang fenomena yang sedang heboh terjadi di kota-kota besar. Anak-anak gelandangan yang tadinya tertangkap tiba-tiba dilepaskan begitu saja. Menurut petugas yang dimintai keterangan wartawan, mereka tidak menemukan alasan rasional untuk menangkap anak-anak itu. Mereka tidak mencuri benda berharga apa pun dari rumah-rumah megah yang mereka satroni. Penjelasan tentang mencuri dan menukar mimpi sama sekali tidak terdengar masuk akal. Maka tidak ada alasan bagi petugas Kota Praja untuk menahan mereka lebih lama.

Agak bosan dengan berita itu melulu aku menukar-nukar saluran televisi namun tetap saja hanya berita itu yang ditayangkan, hingga aku berhenti pada sebuah saluran televisi: Seorang anak penyanyi terkenal dimasukkan ke rumah sakit jiwa sebab kelakuannya yang sudah terlalu impulsif; benjerit-jerit histeris dengan rambut kusut-masai. Kemudian, kamera menyorot tembok kamar anak tersebut; di setiap sisi tembok terlihat coretan-coretan kasar bertuliskan: KEMBALIKAN MIMPI INDAH KAMI!


Hizbul Ridho, Tangerang, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar