Anelyze
menjerit sejadi-jadinya setelah ia sadar penghapus pemberian ayahnya yang dibawa langsung dari Jepang hilang begitu saja. Ia tak akan menangis seperti itu jika
ayahnya membelikannya banyak. Ia juga tak akan menjerit jika ini adalah
penghapus pertamanya yang hilang di kelas. Namun ini adalah penghapus langka
berbentuk gadis berjubah yukata dan menjadi penghapusnya yang keseribu sekiankalinya (entahlah, aku tak begitu ingat)
hilang di kelas. Betapa ia tak tahan lagi dengan semua ini.
Waktu
itu kelas akan menghadapi ujian bahasa Indonesia—mata
pelajaran
yang paling disenangi Anelyze, tepatnya ujian menulis puisi. Di sekolah ia dikenal sebagai
gadis yang pandai menulis puisi—bahkan beberapa kali puisinya sempat dimuat di
koran minggu pada halaman anak-anak. Namun Anelyze tak bisa membuat puisi
dengan sekali jadi, oleh sebab
itu penghapus adalah teman pensilnya saat menulis puisi.
Tapi
Anelyze bukanlah gadis
yang kikir. Sudah menjadi kebiasaan
umum di kelas mana pun atau di sekolah mana pun di negeri ini kebiasaan
meminjam pensil atau penghapus sudah menjadi budaya yang mengurat-mengakar.
Entah pada tahun apa dan siapa yang memulainya kau pasti akan menemukan
kebiasaan yang sama, sekali pun kau pindah sekolah belasan kali. Dan sepertinya
juga,
sudah menjadi hal lumrah jika ternyata pensil atau penghapusmu hilang begitu
saja. Kau akan tersadar kalau perangkatmu itu hilang ketika kau membutuhkannya
untuk membuat pe-er
di rumah. Lalu kau akan mengutuki diri sebab
keteledoranmu tak memintanya kembali.
Ketika keesokan harinya kau teringat dan memintanya kembali kepada temanmu yang
terakhir
meminjam pasti ia selalu menjawab, “aku
telah mengembalikannya. Tidakkah kau ingat?”
Semerta-merta kau kembali mengingat kejadian sepele (kita selalu menganggapnya
sepele) ketika teman yang meminjam penghapusmu mengembalikannya. Dan kau pun
menjadi ragu terhadap dirimu sendiri. Tapi kau tak akan pernah bisa mendebat
atau memaksanya. Sebab
penghapus itu harganya sangat murah, bahkan mungkin kau menyimpannya selusin
lagi di rumah. Kau jadi maklum dan mulai memakai penghapus cadanganmu yang
selusin itu. Sering yang biasa (atau ketergantungan) untuk meminjam penghapusmu
tidaklah hanya satu orang, bisa tiga orang sampai empat orang tergantung di
mana kau duduk. Tentunya orang yang biasa meminjam penghapusmu adalah orang
yang duduk melingkari dirimu—terkadang juga anak dari bangku seberang sebab di tempatnya tidak seorang pun mau meminjamkan
penghapus.
Tapi,
hari kapan
kelas akan memulai ujian bahasa Indonesianya,
Anelyze meraung sejadi-jadinya sehingga kau akan dapat mendengar suara
tangisnya dari kantin sekolah. Ronidin sebagai ketua kelas langsung terkejut
dan gelagapan mendapati salah satu sahabatnya menangis seperti orang gila. “Hei
An, kenapa kau menangis seperti itu?” Dengan
wajah sedikit panik ia coba mencari tahu kenapa Anelyze meraung sejadi-jadinya,
lalu sambil terisak-isak dan suara yang terpotong-potong seperti ketika kau
mendengarkan gramaphone yang rusak ia berkata penghapusnya telah hilang. Tadinya
Ronidin ingin tertawa, tapi ia ingin menunjukkan sedikit empati (setidaknya ia
berpura-pura untuk itu) lalu menjawab dengan nada sedikit mengejek (ia tidak
bisa menyembunyikannya), “Hei, tenanglah! Kau tidak kehilangan ibumu.” Tapi
Analyze malah
meraung lebih keras dengan menaikkan
suaranya tiga oktaf sebab
lukanya kehilangan pensil jadi berlapis dengan kenangannya kehilangan ibu. Sehingga, tangisnya kali ini
terdengar sampai satu blok dari sekolah. Ronidin semakin panik dan seluruh isi
kelas menutup telinganya sebab
tak mau gendang telinga meraka pecah—bahkan
kaca jendela hingga bergetar. Lalu Ronidin pun tergopoh-gopoh
keluar kelas menuju ruangan guru untuk memanggil wali kelas meraka, Ibu
Sulastri.
Ibu Sulastri datang
tergopoh-gopoh menuju kelas lalu disusul Ronidin yang masih menyisakan
kepanikannya (Ia merasa gagal menjadi ketua kelas). Melihat Ibu Guru menghampirinya
membikin
Anelyze sedikit lega lalu
menurunkan raungannya lima oktaf. Sambil terisak-isak ia mengadu bahwa
penghapusnya telah dicuri seseorang dan tidak seorang pun mau mengaku. Seketika Bu
Sulastri, guru yang dikenal lembut dan penyayang tersebut namun sewaktu-waktu
bisa menjadi sangat killer (selalu
secara periodik setiap sebulan sekali Ibu
Sulastri menunjukkan wajah
iblisnya) mengadakan sidak dan seketika kelas
menjadi tegang dan mencekam. Bagai sebuah sidang tipikor Ibu Sulastri meminta
tertuduh untuk berdiri di depan untuk
memberikan kesaksian mengenai siapa yang telah
mencuri penghapus made in Japan milik Analyze. Masih
sambil terisak-isak Analyze duduk di pojok sebelah kiri sedang Bu Sulastri dan
Ronidin berada di tengah. Di depan papan white
board agak ke kiri (di dekat pintu)
tiga orang tertuduh telah berdiri untuk didakwa. Mereka adalah Cahyo, Bram dan
Surti—yang ditunjuk Analyze sebagai orang terakhir yang diketahuinya meminjam
penghapus pemberian ayahnya tersebut.
Sesungguhnya
Annalzye tidak begitu ingat siapa yang pertama kali meminjam penghapusnya. Dia
hanya ingat ketiga anak ini, Cahyo Bram dan Surti meminjam secara bergantian
pada saat jam pelajaran Matematika. Waktu itu Pak Daud memberikan soal pecahan
yang cukup sulit sehingga masing-masing anak tidak bisa mengerjakan soalnya sekali
jadi. Namun, sebab
saking seringnya ketiga anak ini meminjam penghapus Analyze ia sampai hapal kebiasaan
dan latar belakang masing-masing
untuk meminjam kepada Analyze. Maklum, untuk soal minjam-meminjam Analyze
termasuk orang yang murah hati di kelas. Tapi kemurahhatian Annalyze untuk meminjamkan
penghapus jadi disalahartikan oleh teman-temannya, terkhusus mereka bertiga ini, yang
dari kebiasaan menjadi ketergantungan.
Di
antara mereka bertiga adalah Cahyo yang duduk paling dekat dengan Analyze,
yaitu persis di belakangnya. Cahyo bukanlah anak lelaki yang kekurangan uang
jajan dari orangtuanya,
meminjam
penghapus hanyalah alibinya untuk melakukan modus utamanya mendekat ke arah
Analyze, yakni
untuk mencontek setiap tugas dan ulangan yang dituliskan Analyze. Dalam sekali
membuat tugas atau ulangan, Analyze bisa menghitung sekurang-kurangnya sepuluh kali
Cahyo meminjam penghapus Analyze dengan mata yang memindai setiap tulisan yang
ditorehkannya di lembar jawaban. Analyze membiarkan Cahyo melakukan itu karena
ia adalah murid yang baik hati bahkan untuk mencontekkan lembar jawaban. Dan
Cahyo juga cerdik dalam mencontek sebab
ia tak menyalin semua jawaban yang ditulis Anelyze melainkan dengan sengaja
membuat jawaban yang keliru di satu atau dua nomor sehangga guru pun dengan
mudah terkecoh.
Sedangkan
Bram adalah anak yang rela berjalan lima belas langkah menuju meja Analyze
hanya untuk meminjam penghapus. Bram berdalih tak ada teman-teman di sekitarnya
yang mau meminjamkan penghapus. Ia termasuk yang tak begitu peduli terhadap perlengkapan
sekolah, seluruh peralatan menulisnya adalah hasil meminjam dari murid
lain—bahkan buku tulisnya adalah buku adiknya yang ia ambil diam-diam sebelum
berangkat sekolah. Untuk pensil,
biasa ia pinjam dari adik kelas yang naksir kepadanya dan untuk penghapus Bram
hanya bisa meminjam kepada
Analyze yang baik hati. “Kau adalah satu-satunya temanku yang baik hati yang
mau meminjamkan penghapusnya,” puji Bram suatu hari kepada Analyze yang membikin pipi Analyze merona merah kirmizi , yang padahal, kata-kata itu telah
ia ucapkan sebelumnya
kepada adik kelas yang mengidolakannya. Namun sebab jarak meja Analyze dan Bram cukup jauh
(sepanjang
15 langkah),
frekuensi meminjam Bram tak sebanyak Cahyo yang duduk tepat di belakang Analyze.
Lagi pula, meskipun tak
acuh,
Bram adalah salah satu anak terpintar di kelas. Sehingga ia hanya akan meminjam
penghapus jika memang jawaban yang ia perhitungkan untuk benar ternyata keliru.
“Lagi-lagi harus meminjam penghapus.”
Di
antara ketiga orang tersebut adalah Surti murid cewek yang paling absurd dalam
meminjam penghapus. Sudah menjadi rahasia umum di kelas bahwa sebenarnya ia
memiliki tiga buah penghapus yang unyu-unyu berbentuk buah pisang, semangka dan
apel yang tak pernah sekalipun dipakainya—hanya
tersimpan dalam kotak pensilnya. Sebelum terbiasa meminjam penghapus Analyze,
Surti membuat insiden kecil dengan bertengkar dengan teman sebangkunya Ruri sebab masalah penghapus.
Ruri tak mau meminjamkan penghapusnya ke Surti sebab tahu, Surti telah memiliki
penghapusnya sendiri. Tapi Surti tetap ngotot untuk meminjam penghapus kepada Ruri sehingga
terjadilah pertengkaran itu—yang membuat Ronidin kewalahan melerai kedua bocah gadis yang belum lagi menstruasi.
Keesokannya Ruri tak mau lagi duduk semeja dengan Surti yang menjadikan mereka, perang dingin hingga perang proxy, sampai saat ini. Semenjak
itu Analyze dengan sedikit kerelaan
coba meminjamkan penghapusnya kepada Surti meskipun ia tahu Surti memiliki
penghapusnya sendiri—balakangan Analyze diam-diam
jengkel sebab
ia tak seberani Ruri untuk menolak meminjamkan penghapusnya.
Nah,
di hari hilangnya penghapus Analyze yang dibawa langsung oleh ayahnya dari
Jepang itu ketiga anak ini—Cahyo, Bram dan Surti,
cukup intens meminjam penghapus Analyze.
“Coba
kau ingat lagi An, siapa yang terakhir kali meminjam penghapusmu,” kata Ibu Sulastri kepada Analyze
yang sedang memandangi ketiga kawannya yang tertuduh tersebut bergantian.
Analyze memandangi ketiga anak tersebut dengan seksama namun justru tangisnya
pecah sebab
ia tak bisa mengingat.
Ibu
Sulastri menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berujar: “Apakah ada saksi
terhadap kasus hilangnya penghapus Analyze?” Namun setiap anak hanya bungkam dan
bergeming memandang kehadapan
seperti barisan
patung-patung bodhisattwa
Jizoo. Masing-masing anak sadar kalau mereka pernah meminjam
penghapus Analyze,
bahkan ada yang tak mengembalikannya. Mereka dengan sadar tidak ingin terlibat
di perkara ini. Masing-masing menatap
teman yang berada di sebelahnya lalu mengangkat bahu.
“Kalau
tak ada yang mau mengaku. Sekarang, Ibu ingin meminta kepada seseorang yang
memiliki jiwa kesatria untuk mengakui perbuatannya. Ibu tak ingin menuduh salah
seorang yang berdiri di depan. Ini adalah kesempatan baik untuk menjadi contoh
kepada teman-teman yang lain tentang pentingnya berbuat jujur. Bukankah begitu
Bram, Cahyo, Surti?”
Bram,
Cahyo dan Surti hanya diam terpaku. Bram masih santai berdiri sedari awal dia
berdiri di sana, ia merasa sudah mengembalikan penghapus itu ke Analyze sewaktu terakhir kali ia
meminjam. Cahyo dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang tampak
cengenges, ia lupa apakah telah mengembalikannya atau belum. Sedangkan Surti
dengan raut muka cemberut dan wajah yang bersimbah peluh lebih terlihat
mencurigakan dibanding dua temannya yang lain yang dituduh Analyze. Surti teringat, terakhir kali penghapus berbentuk
gadis Jepang
berjubah yukata
itu berada di mejanya. Namun sesaat sebelum Analyze meraung sebab penghapusnya raib, Surti baru tersadar kalau penghapus
itu telah lenyap di mejanya. Antara ragu dan yakin ia teringat ada seruas tangan yang berkelebat
di atas mejanya saat ia sedang fokus mengerjakan tugas Matematika. Namun Surti tak bisa
memastikan tangan siapa. Ia semakin cemas kalau-kalau
Ia dituduh telah mencuri atau menghilangkan penghapus yang sangat berharga bagi
empunya tersebut.
Di
antara wajah-wajah
tegang patung Jizoo tersebut terdapat seraut
wajah sedang kesulitan
menahan senyum. Adalah wajah Ruri,
yang matanya bergantian berpindah-pindah dari wajah Ibu Sulastri,
Analyze dan Surti. Adakah sebenarnya Ruri yang menyimpan penghapus Analyze? Tak
ada yang tahu. Di delam kelas itu, penghapus siapa saja bisa berada di meja mana saja dalam waktu yang
tak terlalu lama. Kau tak akan pernah tahu sampai mana penghapusmu bermuara
pada saat jam pelajaran berlangsung. Perpindahan penghapus dari tangan satu ke
tangan lain begitu dinamis dan acak
seperti rumus matrix rumit seorang Nobel Matematikawan,
sehingga kita yang menganggap penghapus adalah barang remeh menjadi maklum
dengan kehilangannya. Namun, Analyze sudah sering kehilangan penghapus dan sudah muak dengan
permainan “Di mana penghapusmu berada sekarang?” Lebih-lebih, itu adalah barang kesayangan
pemberian ayahnya yang baru pulang dari Jepang.
Di
antara wajah-wajah yang semakin bosan menunggu, bibir Ruri lebar menyeringai bak topeng wanita iblis dari drama Noh,
lalu dengan mantap dan suara lantang
khas aktris teater Kabuki ia angkat tangan
kirinya dan mengacungkan jari telunjuk tepat ke batang hidung Surti:
“Saya
melihat Surti yang menyembunyikannya, Bu!”
-Hizbul Ridho, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar