Jumat, 25 Desember 2015

Penghapus Berbentuk Gadis Berjubah Yukata





Anelyze menjerit sejadi-jadinya setelah ia sadar penghapus pemberian ayahnya yang dibawa langsung dari Jepang hilang begitu saja. Ia tak akan menangis seperti itu jika ayahnya membelikannya banyak. Ia juga tak akan menjerit jika ini adalah penghapus pertamanya yang hilang di kelas. Namun ini adalah penghapus langka berbentuk gadis berjubah yukata dan menjadi penghapusnya yang keseribu sekiankalinya (entahlah, aku tak begitu ingat) hilang di kelas. Betapa ia tak tahan lagi dengan semua ini.

Waktu itu kelas akan menghadapi ujian bahasa Indonesia—mata pelajaran yang paling disenangi Anelyze, tepatnya ujian menulis puisi. Di sekolah ia dikenal sebagai gadis yang pandai menulis puisi—bahkan beberapa kali puisinya sempat dimuat di koran minggu pada halaman anak-anak. Namun Anelyze tak bisa membuat puisi dengan sekali jadi, oleh sebab itu penghapus adalah teman pensilnya saat menulis puisi.

Tapi Anelyze bukanlah gadis yang kikir. Sudah menjadi kebiasaan umum di kelas mana pun atau di sekolah mana pun di negeri ini kebiasaan meminjam pensil atau penghapus sudah menjadi budaya yang mengurat-mengakar. Entah pada tahun apa dan siapa yang memulainya kau pasti akan menemukan kebiasaan yang sama, sekali pun kau pindah sekolah belasan kali. Dan sepertinya juga, sudah menjadi hal lumrah jika ternyata pensil atau penghapusmu hilang begitu saja. Kau akan tersadar kalau perangkatmu itu hilang ketika kau membutuhkannya untuk membuat pe-er di rumah. Lalu kau akan mengutuki diri sebab keteledoranmu tak memintanya kembali. Ketika keesokan harinya kau teringat dan memintanya kembali kepada temanmu yang terakhir meminjam pasti ia selalu menjawab, “aku telah mengembalikannya. Tidakkah kau ingat?” Semerta-merta kau kembali mengingat kejadian sepele (kita selalu menganggapnya sepele) ketika teman yang meminjam penghapusmu mengembalikannya. Dan kau pun menjadi ragu terhadap dirimu sendiri. Tapi kau tak akan pernah bisa mendebat atau memaksanya. Sebab penghapus itu harganya sangat murah, bahkan mungkin kau menyimpannya selusin lagi di rumah. Kau jadi maklum dan mulai memakai penghapus cadanganmu yang selusin itu. Sering yang biasa (atau ketergantungan) untuk meminjam penghapusmu tidaklah hanya satu orang, bisa tiga orang sampai empat orang tergantung di mana kau duduk. Tentunya orang yang biasa meminjam penghapusmu adalah orang yang duduk melingkari dirimu—terkadang juga anak dari bangku seberang sebab di tempatnya tidak seorang pun mau meminjamkan penghapus.

Tapi, hari kapan kelas akan memulai ujian bahasa Indonesianya, Anelyze meraung sejadi-jadinya sehingga kau akan dapat mendengar suara tangisnya dari kantin sekolah. Ronidin sebagai ketua kelas langsung terkejut dan gelagapan mendapati salah satu sahabatnya menangis seperti orang gila. “Hei An, kenapa kau menangis seperti itu?” Dengan wajah sedikit panik ia coba mencari tahu kenapa Anelyze meraung sejadi-jadinya, lalu sambil terisak-isak dan suara yang terpotong-potong seperti ketika kau mendengarkan gramaphone yang rusak ia berkata penghapusnya telah hilang. Tadinya Ronidin ingin tertawa, tapi ia ingin menunjukkan sedikit empati (setidaknya ia berpura-pura untuk itu) lalu menjawab dengan nada sedikit mengejek (ia tidak bisa menyembunyikannya), “Hei, tenanglah! Kau tidak kehilangan ibumu.” Tapi Analyze malah meraung lebih keras dengan menaikkan suaranya tiga oktaf sebab lukanya kehilangan pensil jadi berlapis dengan kenangannya kehilangan ibu. Sehingga, tangisnya kali ini terdengar sampai satu blok dari sekolah. Ronidin semakin panik dan seluruh isi kelas menutup telinganya sebab tak mau gendang telinga meraka pecah—bahkan kaca jendela hingga bergetar. Lalu Ronidin pun tergopoh-gopoh keluar kelas menuju ruangan guru untuk memanggil wali kelas meraka, Ibu Sulastri.

Ibu Sulastri datang tergopoh-gopoh menuju kelas lalu disusul Ronidin yang masih menyisakan kepanikannya (Ia merasa gagal menjadi ketua kelas). Melihat Ibu Guru menghampirinya membikin Anelyze sedikit lega lalu menurunkan raungannya lima oktaf. Sambil terisak-isak ia mengadu bahwa penghapusnya telah dicuri seseorang dan tidak seorang pun mau mengaku. Seketika Bu Sulastri, guru yang dikenal lembut dan penyayang tersebut namun sewaktu-waktu bisa menjadi sangat killer (selalu secara periodik setiap sebulan sekali Ibu Sulastri menunjukkan wajah iblisnya) mengadakan sidak dan seketika kelas menjadi tegang dan mencekam. Bagai sebuah sidang tipikor Ibu Sulastri meminta tertuduh untuk berdiri di depan untuk memberikan kesaksian mengenai siapa yang telah mencuri penghapus made in Japan milik Analyze. Masih sambil terisak-isak Analyze duduk di pojok sebelah kiri sedang Bu Sulastri dan Ronidin berada di tengah. Di depan papan white board agak ke kiri (di dekat pintu) tiga orang tertuduh telah berdiri untuk didakwa. Mereka adalah Cahyo, Bram dan Surti—yang ditunjuk Analyze sebagai orang terakhir yang diketahuinya meminjam penghapus pemberian ayahnya tersebut.

Sesungguhnya Annalzye tidak begitu ingat siapa yang pertama kali meminjam penghapusnya. Dia hanya ingat ketiga anak ini, Cahyo Bram dan Surti meminjam secara bergantian pada saat jam pelajaran Matematika. Waktu itu Pak Daud memberikan soal pecahan yang cukup sulit sehingga masing-masing anak tidak bisa mengerjakan soalnya sekali jadi. Namun, sebab saking seringnya ketiga anak ini meminjam penghapus Analyze ia sampai hapal kebiasaan dan latar belakang masing-masing untuk meminjam kepada Analyze. Maklum, untuk soal minjam-meminjam Analyze termasuk orang yang murah hati di kelas. Tapi kemurahhatian Annalyze untuk meminjamkan penghapus jadi disalahartikan oleh teman-temannya, terkhusus mereka bertiga ini, yang dari kebiasaan menjadi ketergantungan.

Di antara mereka bertiga adalah Cahyo yang duduk paling dekat dengan Analyze, yaitu persis di belakangnya. Cahyo bukanlah anak lelaki yang kekurangan uang jajan dari orangtuanya, meminjam penghapus hanyalah alibinya untuk melakukan modus utamanya mendekat ke arah Analyze, yakni untuk mencontek setiap tugas dan ulangan yang dituliskan Analyze. Dalam sekali membuat tugas atau ulangan, Analyze bisa menghitung sekurang-kurangnya sepuluh kali Cahyo meminjam penghapus Analyze dengan mata yang memindai setiap tulisan yang ditorehkannya di lembar jawaban. Analyze membiarkan Cahyo melakukan itu karena ia adalah murid yang baik hati bahkan untuk mencontekkan lembar jawaban. Dan Cahyo juga cerdik dalam mencontek sebab ia tak menyalin semua jawaban yang ditulis Anelyze melainkan dengan sengaja membuat jawaban yang keliru di satu atau dua nomor sehangga guru pun dengan mudah terkecoh.

Sedangkan Bram adalah anak yang rela berjalan lima belas langkah menuju meja Analyze hanya untuk meminjam penghapus. Bram berdalih tak ada teman-teman di sekitarnya yang mau meminjamkan penghapus. Ia termasuk yang tak begitu peduli terhadap perlengkapan sekolah, seluruh peralatan menulisnya adalah hasil meminjam dari murid lain—bahkan buku tulisnya adalah buku adiknya yang ia ambil diam-diam sebelum berangkat sekolah. Untuk pensil, biasa ia pinjam dari adik kelas yang naksir kepadanya dan untuk penghapus Bram hanya bisa meminjam kepada Analyze yang baik hati. “Kau adalah satu-satunya temanku yang baik hati yang mau meminjamkan penghapusnya,” puji Bram suatu hari kepada Analyze yang membikin pipi Analyze merona merah kirmizi , yang padahal, kata-kata itu telah ia ucapkan sebelumnya kepada adik kelas yang mengidolakannya. Namun sebab jarak meja Analyze dan Bram cukup jauh (sepanjang 15 langkah), frekuensi meminjam Bram tak sebanyak Cahyo yang duduk tepat di belakang Analyze. Lagi pula, meskipun tak acuh, Bram adalah salah satu anak terpintar di kelas. Sehingga ia hanya akan meminjam penghapus jika memang jawaban yang ia perhitungkan untuk benar ternyata keliru. “Lagi-lagi harus meminjam penghapus.”

Di antara ketiga orang tersebut adalah Surti murid cewek yang paling absurd dalam meminjam penghapus. Sudah menjadi rahasia umum di kelas bahwa sebenarnya ia memiliki tiga buah penghapus yang unyu-unyu berbentuk buah pisang, semangka dan apel yang tak pernah sekalipun dipakainyahanya tersimpan dalam kotak pensilnya. Sebelum terbiasa meminjam penghapus Analyze, Surti membuat insiden kecil dengan bertengkar dengan teman sebangkunya Ruri sebab masalah penghapus. Ruri tak mau meminjamkan penghapusnya ke Surti sebab tahu, Surti telah memiliki penghapusnya sendiri. Tapi Surti tetap ngotot untuk meminjam penghapus kepada Ruri sehingga terjadilah pertengkaran itu—yang membuat Ronidin kewalahan melerai kedua bocah gadis yang belum lagi menstruasi. Keesokannya Ruri tak mau lagi duduk semeja dengan Surti yang menjadikan mereka, perang dingin hingga perang proxy, sampai saat ini. Semenjak itu Analyze dengan sedikit kerelaan coba meminjamkan penghapusnya kepada Surti meskipun ia tahu Surti memiliki penghapusnya sendiri—balakangan Analyze diam-diam jengkel sebab ia tak seberani Ruri untuk menolak meminjamkan penghapusnya.

Nah, di hari hilangnya penghapus Analyze yang dibawa langsung oleh ayahnya dari Jepang itu ketiga anak ini—Cahyo, Bram dan Surti, cukup intens meminjam penghapus Analyze.

“Coba kau ingat lagi An, siapa yang terakhir kali meminjam penghapusmu,” kata Ibu Sulastri kepada Analyze yang sedang memandangi ketiga kawannya yang tertuduh tersebut bergantian. Analyze memandangi ketiga anak tersebut dengan seksama namun justru tangisnya pecah sebab ia tak bisa mengingat. Ibu Sulastri menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berujar: “Apakah ada saksi terhadap kasus hilangnya penghapus Analyze?” Namun setiap anak hanya bungkam dan bergeming memandang kehadapan seperti barisan patung-patung bodhisattwa Jizoo. Masing-masing anak sadar kalau mereka pernah meminjam penghapus Analyze, bahkan ada yang tak mengembalikannya. Mereka dengan sadar tidak ingin terlibat di perkara ini. Masing-masing menatap teman yang berada di sebelahnya lalu mengangkat bahu.

“Kalau tak ada yang mau mengaku. Sekarang, Ibu ingin meminta kepada seseorang yang memiliki jiwa kesatria untuk mengakui perbuatannya. Ibu tak ingin menuduh salah seorang yang berdiri di depan. Ini adalah kesempatan baik untuk menjadi contoh kepada teman-teman yang lain tentang pentingnya berbuat jujur. Bukankah begitu Bram, Cahyo, Surti?”

Bram, Cahyo dan Surti hanya diam terpaku. Bram masih santai berdiri sedari awal dia berdiri di sana, ia merasa sudah mengembalikan penghapus itu ke Analyze sewaktu terakhir kali ia meminjam. Cahyo dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang tampak cengenges, ia lupa apakah telah mengembalikannya atau belum. Sedangkan Surti dengan raut muka cemberut dan wajah yang bersimbah peluh lebih terlihat mencurigakan dibanding dua temannya yang lain yang dituduh Analyze. Surti teringat, terakhir kali penghapus berbentuk gadis Jepang berjubah yukata itu berada di mejanya. Namun sesaat sebelum Analyze meraung sebab penghapusnya raib, Surti baru tersadar kalau penghapus itu telah lenyap di mejanya. Antara ragu dan yakin ia teringat ada seruas tangan yang berkelebat di atas mejanya saat ia sedang fokus mengerjakan tugas Matematika. Namun Surti tak bisa memastikan tangan siapa. Ia semakin cemas kalau-kalau Ia dituduh telah mencuri atau menghilangkan penghapus yang sangat berharga bagi empunya tersebut.

Di antara wajah-wajah tegang patung Jizoo tersebut terdapat seraut wajah sedang kesulitan menahan senyum. Adalah wajah Ruri, yang matanya bergantian berpindah-pindah dari wajah Ibu Sulastri, Analyze dan Surti. Adakah sebenarnya Ruri yang menyimpan penghapus Analyze? Tak ada yang tahu. Di delam kelas itu, penghapus siapa saja bisa berada di meja mana saja dalam waktu yang tak terlalu lama. Kau tak akan pernah tahu sampai mana penghapusmu bermuara pada saat jam pelajaran berlangsung. Perpindahan penghapus dari tangan satu ke tangan lain begitu dinamis dan acak seperti rumus matrix rumit seorang Nobel Matematikawan, sehingga kita yang menganggap penghapus adalah barang remeh menjadi maklum dengan kehilangannya. Namun, Analyze sudah sering kehilangan penghapus dan sudah muak dengan permainan “Di mana penghapusmu berada sekarang?” Lebih-lebih, itu adalah barang kesayangan pemberian ayahnya yang baru pulang dari Jepang.

Di antara wajah-wajah yang semakin bosan menunggu, bibir Ruri lebar menyeringai bak topeng wanita iblis dari drama Noh, lalu dengan mantap dan suara lantang khas aktris teater Kabuki ia angkat tangan kirinya dan mengacungkan jari telunjuk tepat ke batang hidung Surti: 

“Saya melihat Surti yang menyembunyikannya, Bu!”

-Hizbul Ridho, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar