Minggu, 13 Desember 2015

Hal yang Sederhana

Awalnya sepele saja, Miftah menyiapkan sarapanpagi suaminya tidak seperti pagipagi biasa. Sup tanpa garam, kopi dengan tiga sendok gulapasir. Dan itu membikin suaminya, Basarah, tak berbicara dengannya hampir seminggu ini, kecuali pertengkaran yang semakin sengit, semakin runcing. Sebelum menyiapkan sarapan itu, malamnya Miftah demam ringan, agak pusing, sedikit mual, dan ia tertidur dengan mimpi Basarah menyimpan wanita idaman lain.

"Aku mengandung, mas. Anak pertama kita," ia ingin menyampaikannya kepada Basarah, berita gembira itu. Ia kepingin berterus terang meskipun ia tak pernah pandai melakukannya. Ia teringat alasan memutuskan menerima pinangan lelaki itu: Basarah mengerti apa yang ingin disampaikannya tanpa Miftah mengatakannya, lewat gerakgeriknya, kerling matanya, tinggirendah melodi nadasuaranya. Tapi kali ini ia ingin berterusterang kepada suaminya, yang berbaring di sebelahnya.

Semenjak pagi itu, suaminya selalu memunggunginya. Tak lagi ia lihat dada naikturun dari hembus halus napas Basarah. Hanya terdengar dengkurbising engsel pintu berkarat dihempashempas angin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar