Alkisah
di sebuah desa di timur, hidup seorang saudagar memiliki koin emas begitu banyak, yang
apabila koin-koin emas itu disusun sanggup menutupi seluruh desa tersebut. Saudagar itu bernama Laurent. Tak ada lagi yang ia punya selain uang. Istri tercintanya telah lama mati dan
mereka tak pernah memiliki anak. Ia menghabiskan
sisa hidupnya dengan memancing di laut saat malam dan berburu babi di hutan
saat siang, sedangkan segunung koin emasnya ia simpan di suatu kamar di
rumahnya dan menganggapnya tak pernah ada.
Pada
suatu hari di saat ia pergi berburu, sebelum sampai hutan ia menemukan seorang
bayi lelaki dengan tali pusar masih tersambung, berbaring di atas daun pisang,
di bawah pohon ambon rindang, sedang diintai oleh ajak yang kelaparan. Laurent
menembak ajak itu sesaat sebelum moncong tajam berliurnya mencabik tubuh bayi
malang itu. Semenjak bayi itu diintai ajak ia tak menangis, dan ia tak menangis
mendengar salak peluru dari senapan Laurent. Ia mencabut pisau belatinya dan
memotong plasenta sang bayi. Lalu ia menggendongnya, membawanya pulang dan
menganggapnya anak sendiri.
Saudagar
itu memberinya nama Abraham, dan kepada Abraham akan ia ajarkan sebagaimana
alam mengajarinya menjadi lelaki. Padamulanya Laurent mengajari Abraham menyebut
kata ayah, dan sampai berumur sepuluh tahun tak ada yang ia ajari selain
menyebut nama benda-benda. Ia mengajarinya menyebut nama-nama di rumahnya.
Setelah menguasainya Laurent mengajaknya ke pantai saat senja, lalu melaut.
Sembari memancing di atas perahu ia mengajari anaknya menyebut nama-nama ikan.
Lalu mereka menikmati langit malam bertabur bintang, dan mengajarinya menyebut
nama-nama bintang. Laurent juga mengajak Abraham berburu di hutan, dan
mengajarinya menyebut nama-nama dalam hutan. Ia mengajarinya menyebut nama
binatang yang boleh diburu dan tidak boleh diburu, yang boleh dimakan dan tidak
boleh dimakan. Lebih dari itu ia mengajarinya nama babi hutan sebab binatang
itulah yang wajib diburu namun tak boleh dimakan. “Sebab babi itu lambang
ketamakan, anakku. Sekali-kali kau boleh membunuh ajak apabila sedang
menyelamatkan bayi yatim piatu,” katanya diiringi tawa derai.
Di
masa remaja Abraham, Laurent mulai mengajarinya menyebut nama-nama tak
berwujud, dan mulai mengajarinya berhitung. Dari semua nama-nama adalah cinta
yang paling sering disebutkan Laurent. Abraham dapat menghitung ayahnya
menyebut cinta sebanyak 1001 kali, kasih-sayang 999 kali. Namun tak seperti
nama-nama yang berwujud, Laurent sulit menjelaskan kepada anaknya tentang nama-nama
itu.
“Ayah,
kenapa aku harus menyebut kasih bersama kata sayang?” tanya Abraham suatu kali.
“Sebab
masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, anakku. Sama halnya tidak ada kau
tanpa ada aku,” kata Laurent.
Abraham
tak mengerti. “Lalu apa itu cinta, Ayah?”
“Cinta
itu seperti Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpanya. Kau dapat merasakannya tapi
tak dapat melihatnya. Dia ada di sini, dan ada di mana-mana,” kata Laurent
sembari menunjuk dada kiri Abraham, menunjuk dada kirinya sendiri, dan memutar
jari telunjuknya di atas kepala.
Cinta
adalah Tuhan adalah konsep yang semakin tak dipahami Abraham. Saat itu juga
Abraham mulai berjalan-jalan sendiri tanpa ditemani ayahnya. Ia berjalan ke
pasar dan begitu banyak benda hutan dan benda laut ditukarkan dengan kertas dan
kepingan. Abraham tak tahu nama benda yang dipertukarkan itu, dan ia bertanya
kepada salah seorang pedagang, apa itu? Ini uang. Kau tidak bisa hidup tanpa
ini, nak. Abraham pulang lalu menceritakan penemuannya kepada Laurent.
“Pedagang
itu bilang, kita tak bisa hidup tanpa
uang. Apakah uang itu cinta, apakah uang itu Tuhan, ayah?”
Mendengar
kata uang dari mulut anaknya Laurent terbatuk. Batuknya mendengking-dengking,
menggema di seisi rumah, merambat di udara, berhembus ke hutan, mengejutkan
tiga ekor burung yang sedang tertidur. Burung-burung itu tersentak terbang,
mencari pohon yang tak ada suara batuk manusia. Belakangan Laurent sering
terbatuk, dan ia menyembunyikan batuk darahnya dari Abraham.
“Uang
bukan cinta, bukan Tuhan, anakku. Uang seperti darah.”
“Aku
tak paham, ayah.”
“Kelak
kau akan memahaminya.”
“Kenapa
ayah tidak pernah mengajariku kata uang?”
“Aku
tak ingin mengajarimu kata kehilangan.”
Sore
itu Abraham berjalan-jalan di desa tak tahu kemana sembari membawa kata cinta,
Tuhan, kehilangan di kepala. Mungkin aku dapat menemukannya di laut, pikirnya. Ia
pun ke pantai, lalu mengayuh perahu ke tengah laut. Malam itu ia melemparkan
kail pancingnya ke laut, dan berharap Tuhan datang kepadanya. Tak berapa lama
ia melihat semburat air di tengah laut tenang, lalu sesosok ikan raksasa muncul
ke permukaan, melompat sesaat dan menghempas kembali ke kedalaman. Kau hanya
paus, katanya.
Kail
pancingnya tak juga tersentuh oleh ikan. Abraham memandangi langit malam dan ia
menemukan bulan sabit melengkung tersenyum kepadanya. Jangan hanya tersenyum.
Katakan sesuatu, katanya. Bulan hanya tersenyum, berjam-jam tak mengatakan
sesuatu. Letih menengadah memandangi bulan tersenyum, dan kail pancingnya tak
juga disambar ikan, Abraham menguap lalu menyandarkan pancingnya. Saat Abraham
tertidur bandul pancingnya tenggelam. Baramundi menyambar kailnya, membawa
serta senar dan tongkatnya ke kedalaman.
Pagi
hari seekor camar bertengger di ujung perahu, dan melesat begitu menyadari
seorang manusia terbangun di dalam perahu. Abraham melihat camar itu terbang
tak membawa apa pun. Ia tersadar akan pancingnya dan mengedarkan pandangannya
ke seisi perahu. Tidak ada. Wajah Abraham mengerut dan ia tahu siapa yang akan
ia tuduh. Beraninya kau muncul di saat aku tidur. Apakah kau ingin bermain denganku,
Tuhan. Perahunya dihempas gelombang ke kiri dan ke kanan, lalu ke kiri lagi. Hanya
terdengar desir gelombang, dan tangis camar di kejauhan. Abraham pun pulang ke
rumah, dan begitu sampai kamar ayahnya, Laurent sedang terbaring di ranjangnya.
“Ayah!”
kata Abraham. “Tadi malam, di laut, Tuhan menemuiku.”
Mendengar
celoteh anaknya Laurent tertawa, lalu terbatuk. Dengking batuknya mengguncang
ranjang.
“Oh
ya. Seperti apa rupanya?”
“Tidak
tahu. Waktu aku tidur ia datang mengendap-endap di perahu, lalu mencuri
pancingku. Aku tahu ayah, pasti Tuhan yang mencurinya.”
Laurent
kembali tertawa. Abraham jengkel menyaksikan ayahnya hanya tertawa dan
terbatuk. Jangan hanya tertawa ayah, katanya. “Oh! Aku akan ke hutan.
Barangkali aku dapat menemukan pancingku di sana. Dan jika beruntung aku juga
dapat memergoki Tuhan sedang menggulung senar pancingku.”
Maka berlarilah Abraham ke hutan membawa serta senapannya. Di dalam hutan ia berjalan hati-hati sambil mengacungkan moncong senapannya ke segala arah. Ia mendengar angin melalui punggungnya, membelai tengkuknya. Dan ia arahkan senapannya ke belakang. Ia tetap seperti itu sementara degup jantungnya menjadi tak beraturan. Ia memasang kupingnya, memejamkan matanya, mendengar segala bunyi; tawa burung, jerit kera, tangis pilu ajak, gemerisik daun jatuh, dengkung kodok, kerik jangkrik merapal tasbih.
Abraham
mendengar gemeretak langkah kaki, engkaukah itu Tuhan, dan ia membuka matanya.
Ia melihat kelebatan di balik pohon-pohon. Ia pun memusatkan matanya ke titik
itu, dan kelebatan itu melesat ke balik semak-semak. Abraham berjinjit mencari
posisi agar pandangannya dapat melihat jelas. Babi hutan. Abraham mengarahkan
moncong senapannya ke arah babi hutan itu. Babi hutan itu menguik melakukan
sesuatu yang tak dimengerti Abraham. Ia memusatkan sasarannya ke perut babi
hutan itu, meletakkan jari telunjuknya di pelatuk. Di saat ia mantap menarik
pelatuknya, suara kuik yang lain terdengar dari balik semak, kecil dan bersusul-susul.
Tiga ekor babi hutan mungil muncul memanggil-manggil induknya. Mereka
berlari-lari kecil ke arah perut induknya, masing-masing mencari susu
menggelantung nganggur.
Abraham
melonggarkan genggaman senapannya dan terpaku menyaksikan tiga ekor babi hutan
kecil menyundul-nyundul girang susu induknya. Khawatir mengganggu keintiman
itu, Abraham berkata dalam hati, engkaukah itu Tuhan, yang menyamar menjadi
induk babi hutan.
Abraham
berlari-lari kecil keluar dari hutan menuju rumahnya. Ia ingin segera bertanya
kepada ayahnya perihal Tuhan yang menyusui, yang sebelum ini diwajibkan ayahnya
untuk dibunuh. Sesampainya di rumah ia bergegas ke kamar ayahnya, dan menemukan
ayahnya masih dalam posisi seperti ia meninggalkannya. Mata Laurent terpejam,
Abraham coba memanggil ayah. Mata Laurent masih terpejam, tubuhnya tak bergerak
sedikit pun. Abraham merasakan kekosongan mengisi jantungnya. Ia guncang tubuh
ayahnya, ia panggil ayahnya. Bangun ayah, bangun ayah. Demi Tuhan bangunlah.
Aku ingin bertanya kepadamu. Bangunlah ayah. Ayah. Ayah.
Untuk
pertama kalinya Abraham memahami kata kehilangan, dan kekosongan di jantungnya
menjalar ke dadanya, mengalir ke setiap pembuluh, mendorong air mata yang
selama ini tak pernah dialaminya menggenang, meluap ke pipi, mengalir ke bibir,
mengajarinya kata cinta. Ia guncang pakaian ayahnya, meraung memanggil ayah
namun yang keluar dari bibir hanya kata cinta, Tuhan, cinta, laut, hutan.
Abraham
tak berhenti meluapkan air mata, hingga membasahi pakaiannya. Dalam keadaan
itu, ia gendong ayahnya, membawanya keluar rumah. Bebulir air matanya menetesi
wajah Laurent. Abraham membawa tubuh itu ke belakang rumah, terus berjalan
hingga sampai di bawah pohon ambon tempat ia dulu ditemukan. Ia menggalinya
lubang dan ketika luas dan dalamnya sudah cukup, ia letakkan tubuh ayahnya di
relung. Ia mengubur tubuh itu, dan di papan yang ditanam di kepala gundukannya
ia goreskan nama, Laurent. Di bawah nama itu ia torehkan sebuah kalimat: darimu
kukenal nama-nama.
Setelah
itu Abraham tertidur, dan ketika terbangun ia berhasrat melakukan sebuah
perjalanan. Ia meninggalkan kuburan ayahnya, meninggalkan rumahnya, mengikuti
jalan yang membelah desa ke arah barat. Ia meninggalkan desa, dan berharap di
barat ia menemukan Tuhan. Khawatir Tuhan tiba-tiba datang mengejutkannya ia
berjalan dalam keadaan tertidur, dan tertidur dalam keadaan terjaga. Selama
seribu satu malam, Abraham menyeberangi sungai, menapaki bukit, melewati
lembah, hingga ia sampai di sebuah desa yang ukurannya jauh lebih besar dari
desanya.
Desa
itu begitu ramai oleh manusia hingga di manapun Abraham melangkah ia dapat
menjumpai manusia, berbagai macam manusia, dari manusia bertubuh tambun
sehingga mereka harus menyamping untuk memasuki pintu, hingga manusia bertubuh
tulang sehingga mereka leluasa melalui gorong-gorong. Pohon-pohon tak
bercabang, tak berdaun kokoh menjulang lebih tinggi dari pohon paling purba
yang pernah dilihat Abraham di hutan. Di jalan-jalan ia melihat orang-orang
menunggangi gerobak tak berkuda. Abraham menyusuri setiap jalan, namun tak juga
menemukan Tuhan.
Abraham
duduk di sudut dipan panjang berkanopi. Orang-orang yang duduk berjajar
dengannya terheran-heran demi melihat seseorang berperadaban berbeda dengan
mereka. Gerobak seukuran paus datang mendekat, meraung-raung, memuntahkan asap
hitam dari lubang pantatnya, menyelinap di udara, masuk ke lubang hidung
orang-orang, mengendap di paru-paru. Abraham melihat orang-orang bergegas menaikinya,
dan tinggalah ia dengan seseorang lain. Ia melirik wajah orang itu, matanya memandang
jauh entah kemana.
“Permisi.
Anu. Apakah kau tahu alamat Tuhan?”
Mata
orang itu kembali fokus. Ia melirik Abraham sambil melontarkan kata, apa.
Abraham mengulangi pertanyaannya. Mendengar pertanyaan seperti itu, pria itu
melepaskan tawanya. Ia memegangi perutnya kegelian. Ia tertawa dan berusaha
mengambil napas. Kau sinting apa gila, kata pria itu. Ia terkekeh
mengelus-ngelus dada. Apa aku salah bertanya begitu, kata Abraham polos. Tidak.
Tidak. Hanya saja, di kota ini hanya orang sinting yang mencari Tuhan. Abraham
tak mengatakan apa pun. Gerobak lain seukuran gajah datang mendekat. Pria itu
berdiri, dan sebelum naik gerobak itu ia berkata kepada Abraham, orang-orang
tak lagi mencari Tuhan, saudara. Orang-orang mencari uang. Kau bisa hidup tanpa
Tuhan, tapi tak bisa hidup tanpa uang.
Abraham
terkenang perkataan ayahnya. Dan benar saja, kemanapun Abraham melangkah ia
dapat melihat uang. Abraham menyaksikan uang mengalir berputar tiada henti. Di
tempat-tempat megah ia dapat melihat uang mengalir deras bak banjir bandang, di
tempat-tempat kumuh uang menetes satu-satu dari keran di musim kering. Abraham
merenungi orang-orang yang terbawa arus uang itu tapi ia tak memahami apa yang
telah hilang. Ia memikirkan perkataan ayahnya, aku tak ingin mengajarimu tentang
kehilangan, nak. Abraham tak punya uang, tapi ia kehilangan ayahnya.
Merenungi
kehilangan membikin tenggorokannya kering. Abraham melihat seseorang menukar
uang dengan sebotol air. Abraham ingin minum tapi ia tak punya uang. Ada uang.
Ada air. Uang menjadi air, menjadi darah. Aku tak punya uang, tapi bisakah kau
memberiku air, katanya kepada pedagang air itu. Tak ada yang gratis, anak muda.
Kau butuh uang untuk membeli air, kata pedagang air itu. Abraham memasang
tampang memelas. Aih. Baiklah. Aku akan memberimu segelas, sesudah itu kau
harus pergi.
Abraham
menghabiskan airnya dengan tegukan-tegukan dalam. Pedagang itu tertawa demi
mendengar glup-glup-glup, dan jakun naik-turun di leher Abraham. Segaris air
mengalir di dagunya, meluncur di lehernya, masuk ke dadanya.
“Kau
memberiku air cuma-cuma. Pasti kau tahu alamat Tuhan?”
Sama
seperti pria di halte tadi, pedagang air itu pun tertawa mendengar Abraham
bertanya perihal Tuhan. Namun pedagang itu dapat segera menguasai dirinya. Dengarkan
aku, anak muda. Sebelum aku waras, dulu aku pun sepertimu. Makanya aku kasihan
melihatmu. Tapi kuingatkan kau, carilah uang sebanyak-banyaknya. Sebab aku
mendengar, tak hanya air, sekarang orang sudah mulai menjual udara. Kau akan
jadi orang pertama yang mati kalau tak bisa membeli udara.
Abraham
berjalan menjauh sama sekali tak memahami perkataan pedagang air itu. Di
desanya ia dapat menghirup udara sekehendak hatinya. Ia senang menghirup aroma
asin udara di laut, lebih dari itu ia senang menghirup aroma intim udara di
hutan. Berlama-lama di kota menjadikan Abraham semakin tak mengerti kewarasan
penduduknya. Ia khawatir jika ia tinggal lebih lama lagi ia juga akan menjadi
waras. Abraham tak mau menjadi waras. Ia ingin tetap sinting seperti apa yang
dikatakan pria di halte.
Abraham
menyusuri jalan membelah kota, hendak kembali ke desanya. Di simpang empat di
mana gerobak-gerobak tersendat, ia mendapati seorang wanita bersimpuh di bawah
lampu-lampu merah-kuning-hijau berganti-ganti.
Abraham
melihat wanita itu menengadahkan sepasang telapak tangannya seperti berdoa. Tak
ada seorang pun menyadari keberadaan wanita itu. Oh, hampir tak ada. Seorang
pria tua menghampirinya. Pria tua itu menggenggam roti di tangannya. Wanita itu
menyaksikannya membelah rotinya menjadi tujuh bongkahan dari tujuh bongkahan
itu ia belah kembali menjadi remah-remah tak terbilang. Pria tua itu membagikan
bagian remahnya kepada wanita itu, dan menebar sisanya kepada setiap orang yang
ada di empat penjuru, sebelum menghilang.
Abraham
terpaku melihat pria tua itu menebar remah rotinya ke empat penjuru, dan
tersadar. Kemudian ia menghampiri wanita itu. Di balik pakaiannya yang gombal,
di wajah kusamnya, Abraham melihat sepasang mata dengan seluruh bintang malam
di dalamnya. Abraham terbius sebentar dan tersadar akan pria tua pembawa roti.
“Wanita,
apakah kau tidak sadar pria tua yang memberimu roti itu adalah Tuhan?”
“Kau
sinting. Ia hanya pria tua baik hati. Ia memang begitu. Sebulan sekali ia akan
lewat di perempatan ini,” kata wanita itu.
Abraham
menghela napasnya. Ia merasa telah melewatkan kesempatan bertemu Tuhan. Ia
kembali memandangi wanita bermata malam itu.
“Di
mana kau tinggal, wanita?” kata Abraham. “Apakah kau punya orangtua?”
“Aku
tak punya rumah dan orangtua.”
“Kau
bohong. Manusia harus memiliki orangtua dan rumah.”
“Aku
gelandangan, sama seperti kau,” kata wanita itu menatap lekat wajah Abraham.
“Baiklah gelandangan tampan. Kuberitahu kau, ayahku langit, ibuku bumi. Aku
tinggal dengan ibuku.”
“Aku
Abraham. Ayahku Laurent. Kau sendiri siapa namamu?”
“Aku
punya banyak nama. Pria tua pembawa roti memanggilku Sarai. Orang-orang yang
memberiku uang menamaiku Sarah. Gelandangan yang memakaiku di bak sampah
menyebutku Sarap. Terserahkau mau panggil yang mana.”
“Aku
tidak membawa roti, tidak pula punya uang. Aku juga tidak ingin memakaimu.”
“Terus?”
“Aku
akan memanggilmu Laila. Matamu mengingatkanku dengan langit malam bertabur
bintang. Aku ingin mengajakmu melihatnya bersamaku.”
“Apakah
aku akan kenyang melihatnya bersamamu?”
“Ayahku
mengajariku memancing. Kita bisa memancing.”
“Selagi
aku bisa kenyang, baiklah.”
Bersama
Laila, Abraham meninggalkan kota menuju desa. Mereka berjalan selama seribu
satu malam. Abraham menuntun Laila melewati lembah, menggenggam erat tangannya
saat mendaki bukit, menggendongnya menyeberangi sungai. Sesampainya di desa
Abraham langsung membawa Laila ke kuburan ayahnya, mengenalkannya dan
mengatakan mulai saat ini akan hidup bersamanya.
Sore
itu Abraham mengajak Laila ke pantai, kemudian mendayung perahu ke tengah laut.
Matahari terbenam menciptakan latar jingga di balik siluet tubuh mereka.
Abraham mengajari Laila menikmati aroma asin laut, dan begitu malam bertabur
bintang, ia mengajari wanitanya menyebut delapan puluh delapan rasi bintang.
Mereka pun berlomba menghitung jumlah bintang, dan tak kuasa menghitung, mereka
saling mengalah. Aku kalah. Tidak aku yang kalah. Begitu terus hingga suara
perut mereka saling bersahutan. Mereka tertawa sembari rebah, sedangkan kail
pancing mereka tak juga mengait ikan.
“Laut
seluas ini tidak adakah ikan yang tersangkut kailmu?” kata Laila.
Bulan
hanya separuh. Abraham dan Laila melihatnya seperti sedang menertawakan mereka.
Tak lama kemudian terdengar gemuruh suara hujan tanpa hujan. Mereka bangkit.
Ribuan ikan terbang meluncur melompat melayang melalui perahu mereka. Abraham
mendekap Laila, dan ratusan ikan terbang menabrak tubuh mereka hingga
terpelanting ke dalam perahu.
Selama
tiga bulan ke depan mereka hanya memakan ikan terbang. Selama ini Laila tak
menyangka ia dapat hidup tanpa menggunakan uang. Suatu hari di rumah, Abraham
mengajak Laila memasuki sebuah kamar tempat ayahnya menyimpan gunungan keping emas.
Laila menutup matanya begitu terkena kilau gunungan emas itu. Ia membayangkan
dapat membeli apa pun dengan keping emas sebanyak itu. Hari lainnya, Laila
begitu berhasrat terhadap daging dan membujuk Abraham untuk menggunakan
sekeping emas untuk membelinya. Sebab ayahnya tak pernah mengajarinya
menggunakan uang, Abraham tak mengabulkan permintaan Laila.
“Ayolah,
please. Aku tahu cara menggunakannya.
Aku ingin daging.”
“Tidak
bisa, Laila. Kata ayah kau akan kehilangan kalau menggunakannya.”
“Baiklah.
Tapi jangan salahkan aku jika aku memakan dagingmu.”
“Kalau
itu membuatmu senang.”
Meskipun
tinggal di rumah yang sama, mereka tidak tidur bersama. Abraham tak pernah
tidur dengan orang lain, terlebih wanita. Lebih dari itu ia ingin tidur sendiri
di kamar ayahnya, mengenang percakapan mereka. Laila tidur di sebuah kamar tak
terpakai. Malam itu Abraham pura-pura berbincang dengan ayahnya tentang kota,
dan ia memberitahunya tentang pria tua pembawa roti sebelum tertidur. Kamar itu
tak berpenerangan, dan dalam kelam Abraham dapat mendengar suara tirai pintu
yang terbuka, langkah-langkah kaki, ranjang yang berderit. Seseorang merangkak
ke atas tubuhnya.
“Kau
tak memberiku uang, maka malam ini aku makan dagingmu,” bisik Laila di telinga
Abraham.
“Kalau
itu membuatmu senang.”
Maka
malam itu Laila menelanjangi Abraham, menelanjangi dirinya sendiri, lalu
melumat daging lelaki itu. Langit malam menyelimuti desa, hutan, laut. Selama
perjamuan intim itu Laila membawa Abraham dalam perjalanan menembus mega-mega,
menghempas ke laut, menyelam di antara anemone dan ubur-ubur seperti pendar
lampion, kemudian mereka ke hutan, melata di antara semak-semak, merayap di
batang pohon, melompati dahan satu ke dahan lainnya, mengejutkan tiga ekor
burung yang sedang tertidur. Burung-burung itu tersentak terbang mencari pohon
yang tak ada desah suara manusia. Mereka kembali ke atas ranjang setelah
perjalanan yang melelahkan.
“Kau
senang sekarang?”
“Senang.
Tapi takkan pernah puas.”
“Kau
boleh memakan dagingku setiap malam.”
Setiap
malam mereka mengadakan perjalanan di ranjang Laurent, hingga daging Abraham
hampir tak tersisa, rambutnya berubah perak, janggutnya ia biarkan masai
seperak rambutnya. Laila tetap seperti ketika mereka melihat migrasi ikan
terbang. Ia menghasratkan anak dari rahimnya. Abraham hanya mengatakan,
bersabarlah, hingga hari-hari berlalu dan Laila pun menjadi setua lelakinya. Di
masa tuanya itu mereka merindukan sesosok anak berada di antara mereka. Dan di
masa tuanya ini Abraham merasakan kehilangan tanpa terlebih dahulu melalui
sebuah ada.
Mereka
tak lagi mengadakan perjalanan, meskipun mereka sama-sama merindukan yang tak ada.
Abraham mulai menghabiskan hari-harinya dengan melamun tanpa Laila. Ia melamun
sendiri di atas perahu di tengah laut. Bosan melamun di laut, ia pergi ke hutan
dan kembali melamun. Bosan melamun di hutan, ia pergi ke kuburan ayahnya di
bawah pohon ambon. Ia berjalan ke kuburan ayahnya dan dari kejauhan ia dapat
melihat seorang pria tua bersandar di pangkal pohon ambon di depan kuburan
ayahnya. Ia mengiranya sebagai hantu ayahnya, namun begitu jarak mereka cukup
dekat pria tua itu sama sekali tak mirip ayahnya. Semakin dekat pria tua itu
justru mengingatkannya kepada sang pembawa roti.
“Apakah
itu kau, Tuhan?”
Pria
tua itu terbangun dari tidurnya dan seketika berdiri menepuk-nepuk pantatnya.
Pria tua itu memiliki rambut dan janggut perak seperti milik Abraham.
“Oh,
maaf. Apakah kau pemilik rumah itu?”
“Tidak.
Itu milik ayahku, pria dalam kuburan ini.”
“Mohon
maaf telah berada di sini tanpa seizinmu. Aku sedang mencari anak dombaku yang
hilang. Adakah tuan melihatnya?”
“Aku
pikir kau Tuhan, yang suka membawa roti itu.”
“Tidak-tidak.
Aku hanya gembala tua biasa. Kalau kau bertemu dengan anak dombaku, tolong
beritahu aku. Aku akan berada di desa ini sampai menemukannya.”
Mengetahui
tak ada Abraham di rumah, diam-diam
Laila pergi ke ruang penyimpanan kepingan emas. Ia mengambil sekeping lalu
bergegas ke pasar. Di pasar yang tak terlalu ramai itu Laila langsung
menghampiri tempat penjual daging. Laila melihat penjual daging itu sedang
mencincang-cincang daging menjadi potongan kecil, dan ia menelan ludahnya demi melihat
potangan-potongan daging berwarna darah. Aku mau daging domba yang paling
lembut seakan terasa seperti daging ikan, kata Laila. Kau beruntung, pagi ini
aku mendapatkan anak domba tampan, kata penjual daging itu. Laila menyerahkan
keping emasnya dan meraih bungkusan potongan dagingnya. Aku tak punya kembalian,
nyonya. Ambil saja sisanya untukmu. Semoga Tuhan memberkatimu, nyonya.
Abraham
pulang ke rumah menemukan Laila sedang berada di dapur. Uap panas
mengepul-ngepul melalui pintu dapur menuju hidungnya. Ini aroma sup, pikirnya.
Baunya enak, tapi mencurigakan. Abraham bertanya kepada Laila, sup apa yang
sedang dimasaknya, sebab hanya dengan mencium aromanya ia serasa kembali muda.
Laila mengatakan ini hanya sup barakuda, hasil pancingan Abraham sendiri. Di
ruang makan, pasangan tua itu melahap sup barakuda tanpa berkata-kata. Laila
tersenyum memuji rempah-rempah yang berhasil menyembunyikan bau domba dalam sup
tersebut. Potongan daging di dalam sup itu memang lembut, seratnya begitu halus
seperti daging barakuda sungguhan.
Usai
makan mereka merasakan hawa di rumah begitu panas, berbulir-bulir keringat
keluar dari pori-pori kulit mereka, membasahi baju yang mereka kenakan. Abraham
tak tahan lagi dan membuka bajunya, kemudian celananya. Terbasuh oleh keringat
membuat tubuh kering telanjangnya mengilat. Laila menatap tubuh telanjang itu
dan menelan ludah. Tubuh wanita tua itu terasa terbakar dan kelaparan
sekaligus. Laila menelanjangi dirinya, kulit keriputnya merona merah, dan aroma
rempah-rempah menguar darinya. Abraham dan Laila berdiri, saling pandang dalam
jarak yang tak begitu jauh. Setelah sekilan lama, malam itu, mereka kembali menghasratkan
daging satu sama lain.
Di
ranjang Laurent mereka tak lagi berkelana mengarungi ruang, namun waktu. Pasangan
tua itu menjadi sepasang muda-mudi yang jatuh cinta dari pandangan pertama,
menjadi sepasang remaja akil balik yang tak saling kenal, namun sudah lama
akrab, menjadi sepasang bocah sepermainan, menyusut menjadi sepasang bayi
kembar yang lahir dari rahim yang sama. Abraham sperma, Laila ovum. Abraham
menggeliat-geliat menerobos dinding Laila, dan menggasing, menjadi segumpal
darah, janin, dan bayi yang meringkuk.
Sembilan
bulan kemudian Laila melahirkan bayi laki-laki. Selama sembilan bulan
mengandung mereka berdebat mengenai nama bayi tersebut. Abraham mengajukan
nama-nama yang ia ketahui di laut dan hutan; Baramundi, Mars, Elang. Laila tak
kalah sengit mengajukan nama-nama terbaik di kota; Starbucks, Louis Vuitton, Mc
Donald. Dan pada akhirnya mereka sepakat memberi nama bayi itu Malaya. Untuk
mengenang negeri jauh di tenggara di mana kemakmuran dibagi rata, dan kedamaian
bukan lagi utopia.
Begitu
lahir Malaya tak langsung menyusu Laila.
Tak setetes pun air susu yang keluar dari pucuk payudaranya, dan Abraham harus
bersusah payah mencari wanita menyesui yang bisa ia temui di desa. Dari tujuh
wanita yang berhasil dikumpulkannya tak ada satu pun yang berhasil mengeluarkan
air susunya. Dan Laila begitu nelangsa demi melihat bayi di pelukannya menangis
seharian tak mendapatkan susu. Laila pun menitikkan air mata dan membasahi
wajah anaknya. Bayi itu berhenti menangis begitu ia merasakan asin air mata
ibunya di lidah, mulut mungilnya seperti moncong ikan yang menampung air hujan.
Saat itu juga air susu Laila merembes di dadanya, dan Malaya merasakan air mata
ibunya terlebih dulu sebelum merasakan air susunya.
Memiliki
anak pertama di masa senjanya menjadikan Abraham dan Laila begitu mencintai
Malaya. Mereka mencintainya melebihi apa pun di alam semesta. Malaya menyusu
Laila hingga ia berumur lima tahun. Menjelang itu, tak ada nama-nama yang
dipelajarinya, bahkan kata ayah dan ibu. Ia meminta apa pun yang diinginkannya
dengan merengek, sebab itulah yang paling pertama dipelajarinya dan kuasai.
Begitu lepas dari buah dada Laila, sebagaimana Laurent mengajari Abraham
mengenal nama-nama, begitulah yang diajarinya kepada Malaya. Abraham mengajari
anaknya nama-nama benda di rumah, laut, dan hutan, dan Malaya cepat
menguasainya kecuali kata ibu dan ayah. Ia tetap merengek untuk memanggil
Abraham dan Laila. Tak lagi merasakan susu ibunya, Malaya merengek meminta susu
sapi. Dan sebab mereka tak memilikinya wanita tua itu membujuk lelaki tuanya
untuk menggunakan sedikit koin emas Laurent, dan kali ini ia merelakannya, demi
cintanya kepada sang anak. Mereka membelikannya satu tong susu setiap
minggunya, tak cukup, mereka juga membelikannya enam puluh tiga butir telur
ayam setiap minggunya. Malaya tak pernah kenyang hingga ia juga merengek kepada
ibunya untuk membuatkannya sup daging domba. Kali ini Abraham berat hati
mengabulkan keinginan anaknya, hingga Malaya meracaukan nama-nama yang telah
dipelajarinya di laut dan hutan sebagai umpatan. Laila tak tega melihat anaknya
seperti itu dan membujuk Abraham untuk menggunakan keping emas Laurent. Emas
itu tak akan habis bahkan untuk membeli seratus ekor sapi, katanya.
Abraham
kembali mengalah, dan Malaya pun mendapatkan sup daging dombanya. Ia
menghabiskan satu ekor domba untuk dua minggu. Hingga bocah itu berumur sebelas
tahun tubuhnya menjadi begitu melar dan berlemak, dan Abraham tak lagi bisa
mengajak anaknya ke laut atau hutan. Malaya menghabiskan sebagian besar harinya
di kamar, mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan merengek. Selesai makan
ia akan tertidur, dan begitu bangun ia ingin buang air ke toilet. Susah payah
ia berjalan ke kamar mandi, namun begitu bosan merundungnya sekali-kali ia
pergi juga ke teras sekadar menghirup udara segar. Tak betah berlama-lama ia
kembali ke kamar.
Suatu
hari Malaya terbangun dan merasa lapar, namun setengah jam ia merengek orangtuanya
tak juga muncul. Ia berjalan terisak mencari orangtuanya di seisi rumah namun
tak juga ia temukan. Mungkin ibu ke pasar dan ayah ke hutan, pikirnya. Dan dari
teras ia berbelok ke belakang rumah menuju hutan. Abraham tak pergi ke hutan,
semalaman ia melaut dan baru bisa mendarat sebelum matahari menggantung di atas
kepala. Malam itu laut badai dan perahu Abraham terhempas hingga titik yang
lebih jauh. Di rumah ia tak menemukan Malaya dan di dapur Laila tua sedang
menangis. Dapur itu berantakkan dengan potongan-potongan daging domba, dan
sayur-sayuran berhamburan di sana-sini. Laila memeluk Abraham. Semenjak
memiliki Malaya tubuh orangtua itu jadi begitu kering. Cinta mereka yang meluap
menguras energi hidup mereka. Aku akan mencari Malaya, kata Abraham.
Abraham
pergi ke hutan mencari anaknya. Sebelum sampai hutan, di hamparan padang rumput
ia melihat buntalan putih bergerak-gerak di kejauhan. Mengira itu adalah
Malaya, Abraham berlari-lari kecil menghampirinya, memanggil-manggil anaknya.
Namun yang ditemukannya hanyalah seekor anak domba berbulu lebat yang tak henti
mengunyah rerumputan. Matanya sayu, dan ia mengembik kepada Abraham.
Bukankah
ini anak domba yang sedang dicari gembala tua, pikir Abraham. Ia pun menggiring
anak domba itu ke rumahnya dan mengikatnya di pagar. Laila sedang menunggu
kabar anaknya di teras, dan yang didapat Abraham hanyalah seekor anak domba. Pada saat
itu tiba-tiba, di jalan, sembilan puluh sembilan domba mengembik-ngembik, berlari seperti awan-awan
yang tertiup angin ke timur. Di belakang kawanan domba itu adalah gembala tua
sedang sibuk menggiring dan menghalau domba-dombanya. Abraham memanggil gembala
tua itu, dan mengatakan telah menemukan anak domba yang selama ini dicarinya. Akhirnya
kutemukan si anak hilang, kata gembala tua. Ia lepas tali yang mengikat leher
domba itu, lalu ia giring menuju kawanannya. Anak domba itu berlari riang bisa
menggenapkan keluarganya. Gembala tua mohon pamit, dan kembali menghalau dan
menggiring domba-dombanya melalui jalan ke arah timur. Abraham menyaksikannya
menjauh seraya memikirkan pria tua pembawa roti, dan keberadaan Malaya.
-Hizbul Ridho
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar