Minggu, 23 Agustus 2020

Alkisah Abraham dan Laila








Alkisah di sebuah desa di timur, hidup seorang saudagar memiliki koin emas begitu banyak, yang apabila koin-koin emas itu disusun sanggup menutupi seluruh desa tersebut. Saudagar itu bernama Laurent. Tak ada lagi yang ia punya selain uang. Istri tercintanya telah lama mati dan mereka tak pernah memiliki anak. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan memancing di laut saat malam dan berburu babi di hutan saat siang, sedangkan segunung koin emasnya ia simpan di suatu kamar di rumahnya dan menganggapnya tak pernah ada.

Pada suatu hari di saat ia pergi berburu, sebelum sampai hutan ia menemukan seorang bayi lelaki dengan tali pusar masih tersambung, berbaring di atas daun pisang, di bawah pohon ambon rindang, sedang diintai oleh ajak yang kelaparan. Laurent menembak ajak itu sesaat sebelum moncong tajam berliurnya mencabik tubuh bayi malang itu. Semenjak bayi itu diintai ajak ia tak menangis, dan ia tak menangis mendengar salak peluru dari senapan Laurent. Ia mencabut pisau belatinya dan memotong plasenta sang bayi. Lalu ia menggendongnya, membawanya pulang dan menganggapnya anak sendiri.

Saudagar itu memberinya nama Abraham, dan kepada Abraham akan ia ajarkan sebagaimana alam mengajarinya menjadi lelaki. Padamulanya Laurent mengajari Abraham menyebut kata ayah, dan sampai berumur sepuluh tahun tak ada yang ia ajari selain menyebut nama benda-benda. Ia mengajarinya menyebut nama-nama di rumahnya. Setelah menguasainya Laurent mengajaknya ke pantai saat senja, lalu melaut. Sembari memancing di atas perahu ia mengajari anaknya menyebut nama-nama ikan. Lalu mereka menikmati langit malam bertabur bintang, dan mengajarinya menyebut nama-nama bintang. Laurent juga mengajak Abraham berburu di hutan, dan mengajarinya menyebut nama-nama dalam hutan. Ia mengajarinya menyebut nama binatang yang boleh diburu dan tidak boleh diburu, yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. Lebih dari itu ia mengajarinya nama babi hutan sebab binatang itulah yang wajib diburu namun tak boleh dimakan. “Sebab babi itu lambang ketamakan, anakku. Sekali-kali kau boleh membunuh ajak apabila sedang menyelamatkan bayi yatim piatu,” katanya diiringi tawa derai.

Di masa remaja Abraham, Laurent mulai mengajarinya menyebut nama-nama tak berwujud, dan mulai mengajarinya berhitung. Dari semua nama-nama adalah cinta yang paling sering disebutkan Laurent. Abraham dapat menghitung ayahnya menyebut cinta sebanyak 1001 kali, kasih-sayang 999 kali. Namun tak seperti nama-nama yang berwujud, Laurent sulit menjelaskan kepada anaknya tentang nama-nama itu.

“Ayah, kenapa aku harus menyebut kasih bersama kata sayang?” tanya Abraham suatu kali.

“Sebab masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, anakku. Sama halnya tidak ada kau tanpa ada aku,” kata Laurent.

Abraham tak mengerti. “Lalu apa itu cinta, Ayah?”

“Cinta itu seperti Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpanya. Kau dapat merasakannya tapi tak dapat melihatnya. Dia ada di sini, dan ada di mana-mana,” kata Laurent sembari menunjuk dada kiri Abraham, menunjuk dada kirinya sendiri, dan memutar jari telunjuknya di atas kepala.

Cinta adalah Tuhan adalah konsep yang semakin tak dipahami Abraham. Saat itu juga Abraham mulai berjalan-jalan sendiri tanpa ditemani ayahnya. Ia berjalan ke pasar dan begitu banyak benda hutan dan benda laut ditukarkan dengan kertas dan kepingan. Abraham tak tahu nama benda yang dipertukarkan itu, dan ia bertanya kepada salah seorang pedagang, apa itu? Ini uang. Kau tidak bisa hidup tanpa ini, nak. Abraham pulang lalu menceritakan penemuannya kepada Laurent.

“Pedagang itu bilang, kita tak  bisa hidup tanpa uang. Apakah uang itu cinta, apakah uang itu Tuhan, ayah?”

Mendengar kata uang dari mulut anaknya Laurent terbatuk. Batuknya mendengking-dengking, menggema di seisi rumah, merambat di udara, berhembus ke hutan, mengejutkan tiga ekor burung yang sedang tertidur. Burung-burung itu tersentak terbang, mencari pohon yang tak ada suara batuk manusia. Belakangan Laurent sering terbatuk, dan ia menyembunyikan batuk darahnya dari Abraham.

“Uang bukan cinta, bukan Tuhan, anakku. Uang seperti darah.”

“Aku tak paham, ayah.”

“Kelak kau akan memahaminya.”

“Kenapa ayah tidak pernah mengajariku kata uang?”

“Aku tak ingin mengajarimu kata kehilangan.”

Sore itu Abraham berjalan-jalan di desa tak tahu kemana sembari membawa kata cinta, Tuhan, kehilangan di kepala. Mungkin aku dapat menemukannya di laut, pikirnya. Ia pun ke pantai, lalu mengayuh perahu ke tengah laut. Malam itu ia melemparkan kail pancingnya ke laut, dan berharap Tuhan datang kepadanya. Tak berapa lama ia melihat semburat air di tengah laut tenang, lalu sesosok ikan raksasa muncul ke permukaan, melompat sesaat dan menghempas kembali ke kedalaman. Kau hanya paus, katanya.

Kail pancingnya tak juga tersentuh oleh ikan. Abraham memandangi langit malam dan ia menemukan bulan sabit melengkung tersenyum kepadanya. Jangan hanya tersenyum. Katakan sesuatu, katanya. Bulan hanya tersenyum, berjam-jam tak mengatakan sesuatu. Letih menengadah memandangi bulan tersenyum, dan kail pancingnya tak juga disambar ikan, Abraham menguap lalu menyandarkan pancingnya. Saat Abraham tertidur bandul pancingnya tenggelam. Baramundi menyambar kailnya, membawa serta senar dan tongkatnya ke kedalaman.

Pagi hari seekor camar bertengger di ujung perahu, dan melesat begitu menyadari seorang manusia terbangun di dalam perahu. Abraham melihat camar itu terbang tak membawa apa pun. Ia tersadar akan pancingnya dan mengedarkan pandangannya ke seisi perahu. Tidak ada. Wajah Abraham mengerut dan ia tahu siapa yang akan ia tuduh. Beraninya kau muncul di saat aku tidur. Apakah kau ingin bermain denganku, Tuhan. Perahunya dihempas gelombang ke kiri dan ke kanan, lalu ke kiri lagi. Hanya terdengar desir gelombang, dan tangis camar di kejauhan. Abraham pun pulang ke rumah, dan begitu sampai kamar ayahnya, Laurent sedang terbaring di ranjangnya.

“Ayah!” kata Abraham. “Tadi malam, di laut, Tuhan menemuiku.”

Mendengar celoteh anaknya Laurent tertawa, lalu terbatuk. Dengking batuknya mengguncang ranjang.

“Oh ya. Seperti apa rupanya?”

“Tidak tahu. Waktu aku tidur ia datang mengendap-endap di perahu, lalu mencuri pancingku. Aku tahu ayah, pasti Tuhan yang mencurinya.”

Laurent kembali tertawa. Abraham jengkel menyaksikan ayahnya hanya tertawa dan terbatuk. Jangan hanya tertawa ayah, katanya. “Oh! Aku akan ke hutan. Barangkali aku dapat menemukan pancingku di sana. Dan jika beruntung aku juga dapat memergoki Tuhan sedang menggulung senar pancingku.”

Maka berlarilah Abraham ke hutan membawa serta senapannya. Di dalam hutan ia berjalan hati-hati sambil mengacungkan moncong senapannya ke segala arah. Ia mendengar angin melalui punggungnya, membelai tengkuknya. Dan ia arahkan senapannya ke belakang. Ia tetap seperti itu sementara degup jantungnya menjadi tak beraturan. Ia memasang kupingnya, memejamkan matanya, mendengar segala bunyi; tawa burung, jerit kera, tangis pilu ajak, gemerisik daun jatuh, dengkung kodok, kerik jangkrik merapal tasbih.

Abraham mendengar gemeretak langkah kaki, engkaukah itu Tuhan, dan ia membuka matanya. Ia melihat kelebatan di balik pohon-pohon. Ia pun memusatkan matanya ke titik itu, dan kelebatan itu melesat ke balik semak-semak. Abraham berjinjit mencari posisi agar pandangannya dapat melihat jelas. Babi hutan. Abraham mengarahkan moncong senapannya ke arah babi hutan itu. Babi hutan itu menguik melakukan sesuatu yang tak dimengerti Abraham. Ia memusatkan sasarannya ke perut babi hutan itu, meletakkan jari telunjuknya di pelatuk. Di saat ia mantap menarik pelatuknya, suara kuik yang lain terdengar dari balik semak, kecil dan bersusul-susul. Tiga ekor babi hutan mungil muncul memanggil-manggil induknya. Mereka berlari-lari kecil ke arah perut induknya, masing-masing mencari susu menggelantung nganggur.

Abraham melonggarkan genggaman senapannya dan terpaku menyaksikan tiga ekor babi hutan kecil menyundul-nyundul girang susu induknya. Khawatir mengganggu keintiman itu, Abraham berkata dalam hati, engkaukah itu Tuhan, yang menyamar menjadi induk babi hutan.

Abraham berlari-lari kecil keluar dari hutan  menuju rumahnya. Ia ingin segera bertanya kepada ayahnya perihal Tuhan yang menyusui, yang sebelum ini diwajibkan ayahnya untuk dibunuh. Sesampainya di rumah ia bergegas ke kamar ayahnya, dan menemukan ayahnya masih dalam posisi seperti ia meninggalkannya. Mata Laurent terpejam, Abraham coba memanggil ayah. Mata Laurent masih terpejam, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Abraham merasakan kekosongan mengisi jantungnya. Ia guncang tubuh ayahnya, ia panggil ayahnya. Bangun ayah, bangun ayah. Demi Tuhan bangunlah. Aku ingin bertanya kepadamu. Bangunlah ayah. Ayah. Ayah.

Untuk pertama kalinya Abraham memahami kata kehilangan, dan kekosongan di jantungnya menjalar ke dadanya, mengalir ke setiap pembuluh, mendorong air mata yang selama ini tak pernah dialaminya menggenang, meluap ke pipi, mengalir ke bibir, mengajarinya kata cinta. Ia guncang pakaian ayahnya, meraung memanggil ayah namun yang keluar dari bibir hanya kata cinta, Tuhan, cinta, laut, hutan.

Abraham tak berhenti meluapkan air mata, hingga membasahi pakaiannya. Dalam keadaan itu, ia gendong ayahnya, membawanya keluar rumah. Bebulir air matanya menetesi wajah Laurent. Abraham membawa tubuh itu ke belakang rumah, terus berjalan hingga sampai di bawah pohon ambon tempat ia dulu ditemukan. Ia menggalinya lubang dan ketika luas dan dalamnya sudah cukup, ia letakkan tubuh ayahnya di relung. Ia mengubur tubuh itu, dan di papan yang ditanam di kepala gundukannya ia goreskan nama, Laurent. Di bawah nama itu ia torehkan sebuah kalimat: darimu kukenal nama-nama.

Setelah itu Abraham tertidur, dan ketika terbangun ia berhasrat melakukan sebuah perjalanan. Ia meninggalkan kuburan ayahnya, meninggalkan rumahnya, mengikuti jalan yang membelah desa ke arah barat. Ia meninggalkan desa, dan berharap di barat ia menemukan Tuhan. Khawatir Tuhan tiba-tiba datang mengejutkannya ia berjalan dalam keadaan tertidur, dan tertidur dalam keadaan terjaga. Selama seribu satu malam, Abraham menyeberangi sungai, menapaki bukit, melewati lembah, hingga ia sampai di sebuah desa yang ukurannya jauh lebih besar dari desanya.

Desa itu begitu ramai oleh manusia hingga di manapun Abraham melangkah ia dapat menjumpai manusia, berbagai macam manusia, dari manusia bertubuh tambun sehingga mereka harus menyamping untuk memasuki pintu, hingga manusia bertubuh tulang sehingga mereka leluasa melalui gorong-gorong. Pohon-pohon tak bercabang, tak berdaun kokoh menjulang lebih tinggi dari pohon paling purba yang pernah dilihat Abraham di hutan. Di jalan-jalan ia melihat orang-orang menunggangi gerobak tak berkuda. Abraham menyusuri setiap jalan, namun tak juga menemukan Tuhan.

Abraham duduk di sudut dipan panjang berkanopi. Orang-orang yang duduk berjajar dengannya terheran-heran demi melihat seseorang berperadaban berbeda dengan mereka. Gerobak seukuran paus datang mendekat, meraung-raung, memuntahkan asap hitam dari lubang pantatnya, menyelinap di udara, masuk ke lubang hidung orang-orang, mengendap di paru-paru. Abraham melihat orang-orang bergegas menaikinya, dan tinggalah ia dengan seseorang lain. Ia melirik wajah orang itu, matanya memandang jauh entah kemana.

“Permisi. Anu. Apakah kau tahu alamat Tuhan?”

Mata orang itu kembali fokus. Ia melirik Abraham sambil melontarkan kata, apa. Abraham mengulangi pertanyaannya. Mendengar pertanyaan seperti itu, pria itu melepaskan tawanya. Ia memegangi perutnya kegelian. Ia tertawa dan berusaha mengambil napas. Kau sinting apa gila, kata pria itu. Ia terkekeh mengelus-ngelus dada. Apa aku salah bertanya begitu, kata Abraham polos. Tidak. Tidak. Hanya saja, di kota ini hanya orang sinting yang mencari Tuhan. Abraham tak mengatakan apa pun. Gerobak lain seukuran gajah datang mendekat. Pria itu berdiri, dan sebelum naik gerobak itu ia berkata kepada Abraham, orang-orang tak lagi mencari Tuhan, saudara. Orang-orang mencari uang. Kau bisa hidup tanpa Tuhan, tapi tak bisa hidup tanpa uang.

Abraham terkenang perkataan ayahnya. Dan benar saja, kemanapun Abraham melangkah ia dapat melihat uang. Abraham menyaksikan uang mengalir berputar tiada henti. Di tempat-tempat megah ia dapat melihat uang mengalir deras bak banjir bandang, di tempat-tempat kumuh uang menetes satu-satu dari keran di musim kering. Abraham merenungi orang-orang yang terbawa arus uang itu tapi ia tak memahami apa yang telah hilang. Ia memikirkan perkataan ayahnya, aku tak ingin mengajarimu tentang kehilangan, nak. Abraham tak punya uang, tapi ia kehilangan ayahnya.

Merenungi kehilangan membikin tenggorokannya kering. Abraham melihat seseorang menukar uang dengan sebotol air. Abraham ingin minum tapi ia tak punya uang. Ada uang. Ada air. Uang menjadi air, menjadi darah. Aku tak punya uang, tapi bisakah kau memberiku air, katanya kepada pedagang air itu. Tak ada yang gratis, anak muda. Kau butuh uang untuk membeli air, kata pedagang air itu. Abraham memasang tampang memelas. Aih. Baiklah. Aku akan memberimu segelas, sesudah itu kau harus pergi.

Abraham menghabiskan airnya dengan tegukan-tegukan dalam. Pedagang itu tertawa demi mendengar glup-glup-glup, dan jakun naik-turun di leher Abraham. Segaris air mengalir di dagunya, meluncur di lehernya, masuk ke dadanya.

“Kau memberiku air cuma-cuma. Pasti kau tahu alamat Tuhan?”

Sama seperti pria di halte tadi, pedagang air itu pun tertawa mendengar Abraham bertanya perihal Tuhan. Namun pedagang itu dapat segera menguasai dirinya. Dengarkan aku, anak muda. Sebelum aku waras, dulu aku pun sepertimu. Makanya aku kasihan melihatmu. Tapi kuingatkan kau, carilah uang sebanyak-banyaknya. Sebab aku mendengar, tak hanya air, sekarang orang sudah mulai menjual udara. Kau akan jadi orang pertama yang mati kalau tak bisa membeli udara.

Abraham berjalan menjauh sama sekali tak memahami perkataan pedagang air itu. Di desanya ia dapat menghirup udara sekehendak hatinya. Ia senang menghirup aroma asin udara di laut, lebih dari itu ia senang menghirup aroma intim udara di hutan. Berlama-lama di kota menjadikan Abraham semakin tak mengerti kewarasan penduduknya. Ia khawatir jika ia tinggal lebih lama lagi ia juga akan menjadi waras. Abraham tak mau menjadi waras. Ia ingin tetap sinting seperti apa yang dikatakan pria di halte.

Abraham menyusuri jalan membelah kota, hendak kembali ke desanya. Di simpang empat di mana gerobak-gerobak tersendat, ia mendapati seorang wanita bersimpuh di bawah lampu-lampu merah-kuning-hijau berganti-ganti.

Abraham melihat wanita itu menengadahkan sepasang telapak tangannya seperti berdoa. Tak ada seorang pun menyadari keberadaan wanita itu. Oh, hampir tak ada. Seorang pria tua menghampirinya. Pria tua itu menggenggam roti di tangannya. Wanita itu menyaksikannya membelah rotinya menjadi tujuh bongkahan dari tujuh bongkahan itu ia belah kembali menjadi remah-remah tak terbilang. Pria tua itu membagikan bagian remahnya kepada wanita itu, dan menebar sisanya kepada setiap orang yang ada di empat penjuru, sebelum menghilang.

Abraham terpaku melihat pria tua itu menebar remah rotinya ke empat penjuru, dan tersadar. Kemudian ia menghampiri wanita itu. Di balik pakaiannya yang gombal, di wajah kusamnya, Abraham melihat sepasang mata dengan seluruh bintang malam di dalamnya. Abraham terbius sebentar dan tersadar akan pria tua pembawa roti.

“Wanita, apakah kau tidak sadar pria tua yang memberimu roti itu adalah Tuhan?”

“Kau sinting. Ia hanya pria tua baik hati. Ia memang begitu. Sebulan sekali ia akan lewat di perempatan ini,” kata wanita itu.

Abraham menghela napasnya. Ia merasa telah melewatkan kesempatan bertemu Tuhan. Ia kembali memandangi wanita bermata malam itu.

“Di mana kau tinggal, wanita?” kata Abraham. “Apakah kau punya orangtua?”

“Aku tak punya rumah dan orangtua.”

“Kau bohong. Manusia harus memiliki orangtua dan rumah.”

“Aku gelandangan, sama seperti kau,” kata wanita itu menatap lekat wajah Abraham. “Baiklah gelandangan tampan. Kuberitahu kau, ayahku langit, ibuku bumi. Aku tinggal dengan ibuku.”

“Aku Abraham. Ayahku Laurent. Kau sendiri siapa namamu?”

“Aku punya banyak nama. Pria tua pembawa roti memanggilku Sarai. Orang-orang yang memberiku uang menamaiku Sarah. Gelandangan yang memakaiku di bak sampah menyebutku Sarap. Terserahkau mau panggil yang mana.”

“Aku tidak membawa roti, tidak pula punya uang. Aku juga tidak ingin memakaimu.”

“Terus?”

“Aku akan memanggilmu Laila. Matamu mengingatkanku dengan langit malam bertabur bintang. Aku ingin mengajakmu melihatnya bersamaku.”

“Apakah aku akan kenyang melihatnya bersamamu?”

“Ayahku mengajariku memancing. Kita bisa memancing.”

“Selagi aku bisa kenyang, baiklah.”

Bersama Laila, Abraham meninggalkan kota menuju desa. Mereka berjalan selama seribu satu malam. Abraham menuntun Laila melewati lembah, menggenggam erat tangannya saat mendaki bukit, menggendongnya menyeberangi sungai. Sesampainya di desa Abraham langsung membawa Laila ke kuburan ayahnya, mengenalkannya dan mengatakan mulai saat ini akan hidup bersamanya.

Sore itu Abraham mengajak Laila ke pantai, kemudian mendayung perahu ke tengah laut. Matahari terbenam menciptakan latar jingga di balik siluet tubuh mereka. Abraham mengajari Laila menikmati aroma asin laut, dan begitu malam bertabur bintang, ia mengajari wanitanya menyebut delapan puluh delapan rasi bintang. Mereka pun berlomba menghitung jumlah bintang, dan tak kuasa menghitung, mereka saling mengalah. Aku kalah. Tidak aku yang kalah. Begitu terus hingga suara perut mereka saling bersahutan. Mereka tertawa sembari rebah, sedangkan kail pancing mereka tak juga mengait ikan.

“Laut seluas ini tidak adakah ikan yang tersangkut kailmu?” kata Laila.

Bulan hanya separuh. Abraham dan Laila melihatnya seperti sedang menertawakan mereka. Tak lama kemudian terdengar gemuruh suara hujan tanpa hujan. Mereka bangkit. Ribuan ikan terbang meluncur melompat melayang melalui perahu mereka. Abraham mendekap Laila, dan ratusan ikan terbang menabrak tubuh mereka hingga terpelanting ke dalam perahu.

Selama tiga bulan ke depan mereka hanya memakan ikan terbang. Selama ini Laila tak menyangka ia dapat hidup tanpa menggunakan uang. Suatu hari di rumah, Abraham mengajak Laila memasuki sebuah kamar tempat ayahnya menyimpan gunungan keping emas. Laila menutup matanya begitu terkena kilau gunungan emas itu. Ia membayangkan dapat membeli apa pun dengan keping emas sebanyak itu. Hari lainnya, Laila begitu berhasrat terhadap daging dan membujuk Abraham untuk menggunakan sekeping emas untuk membelinya. Sebab ayahnya tak pernah mengajarinya menggunakan uang, Abraham tak mengabulkan permintaan Laila.

“Ayolah, please. Aku tahu cara menggunakannya. Aku ingin daging.”

“Tidak bisa, Laila. Kata ayah kau akan kehilangan kalau menggunakannya.”

“Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika aku memakan dagingmu.”

“Kalau itu membuatmu senang.”

Meskipun tinggal di rumah yang sama, mereka tidak tidur bersama. Abraham tak pernah tidur dengan orang lain, terlebih wanita. Lebih dari itu ia ingin tidur sendiri di kamar ayahnya, mengenang percakapan mereka. Laila tidur di sebuah kamar tak terpakai. Malam itu Abraham pura-pura berbincang dengan ayahnya tentang kota, dan ia memberitahunya tentang pria tua pembawa roti sebelum tertidur. Kamar itu tak berpenerangan, dan dalam kelam Abraham dapat mendengar suara tirai pintu yang terbuka, langkah-langkah kaki, ranjang yang berderit. Seseorang merangkak ke atas tubuhnya.

“Kau tak memberiku uang, maka malam ini aku makan dagingmu,” bisik Laila di telinga Abraham.

“Kalau itu membuatmu senang.”

Maka malam itu Laila menelanjangi Abraham, menelanjangi dirinya sendiri, lalu melumat daging lelaki itu. Langit malam menyelimuti desa, hutan, laut. Selama perjamuan intim itu Laila membawa Abraham dalam perjalanan menembus mega-mega, menghempas ke laut, menyelam di antara anemone dan ubur-ubur seperti pendar lampion, kemudian mereka ke hutan, melata di antara semak-semak, merayap di batang pohon, melompati dahan satu ke dahan lainnya, mengejutkan tiga ekor burung yang sedang tertidur. Burung-burung itu tersentak terbang mencari pohon yang tak ada desah suara manusia. Mereka kembali ke atas ranjang setelah perjalanan yang melelahkan.

“Kau senang sekarang?”

“Senang. Tapi takkan pernah puas.”

“Kau boleh memakan dagingku setiap malam.”

Setiap malam mereka mengadakan perjalanan di ranjang Laurent, hingga daging Abraham hampir tak tersisa, rambutnya berubah perak, janggutnya ia biarkan masai seperak rambutnya. Laila tetap seperti ketika mereka melihat migrasi ikan terbang. Ia menghasratkan anak dari rahimnya. Abraham hanya mengatakan, bersabarlah, hingga hari-hari berlalu dan Laila pun menjadi setua lelakinya. Di masa tuanya itu mereka merindukan sesosok anak berada di antara mereka. Dan di masa tuanya ini Abraham merasakan kehilangan tanpa terlebih dahulu melalui sebuah ada.

Mereka tak lagi mengadakan perjalanan, meskipun mereka sama-sama merindukan yang tak ada. Abraham mulai menghabiskan hari-harinya dengan melamun tanpa Laila. Ia melamun sendiri di atas perahu di tengah laut. Bosan melamun di laut, ia pergi ke hutan dan kembali melamun. Bosan melamun di hutan, ia pergi ke kuburan ayahnya di bawah pohon ambon. Ia berjalan ke kuburan ayahnya dan dari kejauhan ia dapat melihat seorang pria tua bersandar di pangkal pohon ambon di depan kuburan ayahnya. Ia mengiranya sebagai hantu ayahnya, namun begitu jarak mereka cukup dekat pria tua itu sama sekali tak mirip ayahnya. Semakin dekat pria tua itu justru mengingatkannya kepada sang pembawa roti.

“Apakah itu kau, Tuhan?”

Pria tua itu terbangun dari tidurnya dan seketika berdiri menepuk-nepuk pantatnya. Pria tua itu memiliki rambut dan janggut perak seperti milik Abraham.

“Oh, maaf. Apakah kau pemilik rumah itu?”

“Tidak. Itu milik ayahku, pria dalam kuburan ini.”

“Mohon maaf telah berada di sini tanpa seizinmu. Aku sedang mencari anak dombaku yang hilang. Adakah tuan melihatnya?”

“Aku pikir kau Tuhan, yang suka membawa roti itu.”

“Tidak-tidak. Aku hanya gembala tua biasa. Kalau kau bertemu dengan anak dombaku, tolong beritahu aku. Aku akan berada di desa ini sampai menemukannya.”

Mengetahui tak ada  Abraham di rumah, diam-diam Laila pergi ke ruang penyimpanan kepingan emas. Ia mengambil sekeping lalu bergegas ke pasar. Di pasar yang tak terlalu ramai itu Laila langsung menghampiri tempat penjual daging. Laila melihat penjual daging itu sedang mencincang-cincang daging menjadi potongan kecil, dan ia menelan ludahnya demi melihat potangan-potongan daging berwarna darah. Aku mau daging domba yang paling lembut seakan terasa seperti daging ikan, kata Laila. Kau beruntung, pagi ini aku mendapatkan anak domba tampan, kata penjual daging itu. Laila menyerahkan keping emasnya dan meraih bungkusan potongan dagingnya. Aku tak punya kembalian, nyonya. Ambil saja sisanya untukmu. Semoga Tuhan memberkatimu, nyonya.

Abraham pulang ke rumah menemukan Laila sedang berada di dapur. Uap panas mengepul-ngepul melalui pintu dapur menuju hidungnya. Ini aroma sup, pikirnya. Baunya enak, tapi mencurigakan. Abraham bertanya kepada Laila, sup apa yang sedang dimasaknya, sebab hanya dengan mencium aromanya ia serasa kembali muda. Laila mengatakan ini hanya sup barakuda, hasil pancingan Abraham sendiri. Di ruang makan, pasangan tua itu melahap sup barakuda tanpa berkata-kata. Laila tersenyum memuji rempah-rempah yang berhasil menyembunyikan bau domba dalam sup tersebut. Potongan daging di dalam sup itu memang lembut, seratnya begitu halus seperti daging barakuda sungguhan.

Usai makan mereka merasakan hawa di rumah begitu panas, berbulir-bulir keringat keluar dari pori-pori kulit mereka, membasahi baju yang mereka kenakan. Abraham tak tahan lagi dan membuka bajunya, kemudian celananya. Terbasuh oleh keringat membuat tubuh kering telanjangnya mengilat. Laila menatap tubuh telanjang itu dan menelan ludah. Tubuh wanita tua itu terasa terbakar dan kelaparan sekaligus. Laila menelanjangi dirinya, kulit keriputnya merona merah, dan aroma rempah-rempah menguar darinya. Abraham dan Laila berdiri, saling pandang dalam jarak yang tak begitu jauh. Setelah sekilan lama, malam itu, mereka kembali menghasratkan daging satu sama lain.

Di ranjang Laurent mereka tak lagi berkelana mengarungi ruang, namun waktu. Pasangan tua itu menjadi sepasang muda-mudi yang jatuh cinta dari pandangan pertama, menjadi sepasang remaja akil balik yang tak saling kenal, namun sudah lama akrab, menjadi sepasang bocah sepermainan, menyusut menjadi sepasang bayi kembar yang lahir dari rahim yang sama. Abraham sperma, Laila ovum. Abraham menggeliat-geliat menerobos dinding Laila, dan menggasing, menjadi segumpal darah, janin, dan bayi yang meringkuk.

Sembilan bulan kemudian Laila melahirkan bayi laki-laki. Selama sembilan bulan mengandung mereka berdebat mengenai nama bayi tersebut. Abraham mengajukan nama-nama yang ia ketahui di laut dan hutan; Baramundi, Mars, Elang. Laila tak kalah sengit mengajukan nama-nama terbaik di kota; Starbucks, Louis Vuitton, Mc Donald. Dan pada akhirnya mereka sepakat memberi nama bayi itu Malaya. Untuk mengenang negeri jauh di tenggara di mana kemakmuran dibagi rata, dan kedamaian bukan lagi utopia.

Begitu lahir Malaya tak langsung menyusu  Laila. Tak setetes pun air susu yang keluar dari pucuk payudaranya, dan Abraham harus bersusah payah mencari wanita menyesui yang bisa ia temui di desa. Dari tujuh wanita yang berhasil dikumpulkannya tak ada satu pun yang berhasil mengeluarkan air susunya. Dan Laila begitu nelangsa demi melihat bayi di pelukannya menangis seharian tak mendapatkan susu. Laila pun menitikkan air mata dan membasahi wajah anaknya. Bayi itu berhenti menangis begitu ia merasakan asin air mata ibunya di lidah, mulut mungilnya seperti moncong ikan yang menampung air hujan. Saat itu juga air susu Laila merembes di dadanya, dan Malaya merasakan air mata ibunya terlebih dulu sebelum merasakan air susunya.

Memiliki anak pertama di masa senjanya menjadikan Abraham dan Laila begitu mencintai Malaya. Mereka mencintainya melebihi apa pun di alam semesta. Malaya menyusu Laila hingga ia berumur lima tahun. Menjelang itu, tak ada nama-nama yang dipelajarinya, bahkan kata ayah dan ibu. Ia meminta apa pun yang diinginkannya dengan merengek, sebab itulah yang paling pertama dipelajarinya dan kuasai. Begitu lepas dari buah dada Laila, sebagaimana Laurent mengajari Abraham mengenal nama-nama, begitulah yang diajarinya kepada Malaya. Abraham mengajari anaknya nama-nama benda di rumah, laut, dan hutan, dan Malaya cepat menguasainya kecuali kata ibu dan ayah. Ia tetap merengek untuk memanggil Abraham dan Laila. Tak lagi merasakan susu ibunya, Malaya merengek meminta susu sapi. Dan sebab mereka tak memilikinya wanita tua itu membujuk lelaki tuanya untuk menggunakan sedikit koin emas Laurent, dan kali ini ia merelakannya, demi cintanya kepada sang anak. Mereka membelikannya satu tong susu setiap minggunya, tak cukup, mereka juga membelikannya enam puluh tiga butir telur ayam setiap minggunya. Malaya tak pernah kenyang hingga ia juga merengek kepada ibunya untuk membuatkannya sup daging domba. Kali ini Abraham berat hati mengabulkan keinginan anaknya, hingga Malaya meracaukan nama-nama yang telah dipelajarinya di laut dan hutan sebagai umpatan. Laila tak tega melihat anaknya seperti itu dan membujuk Abraham untuk menggunakan keping emas Laurent. Emas itu tak akan habis bahkan untuk membeli seratus ekor sapi, katanya.

Abraham kembali mengalah, dan Malaya pun mendapatkan sup daging dombanya. Ia menghabiskan satu ekor domba untuk dua minggu. Hingga bocah itu berumur sebelas tahun tubuhnya menjadi begitu melar dan berlemak, dan Abraham tak lagi bisa mengajak anaknya ke laut atau hutan. Malaya menghabiskan sebagian besar harinya di kamar, mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan merengek. Selesai makan ia akan tertidur, dan begitu bangun ia ingin buang air ke toilet. Susah payah ia berjalan ke kamar mandi, namun begitu bosan merundungnya sekali-kali ia pergi juga ke teras sekadar menghirup udara segar. Tak betah berlama-lama ia kembali ke kamar.

Suatu hari Malaya terbangun dan merasa lapar, namun setengah jam ia merengek orangtuanya tak juga muncul. Ia berjalan terisak mencari orangtuanya di seisi rumah namun tak juga ia temukan. Mungkin ibu ke pasar dan ayah ke hutan, pikirnya. Dan dari teras ia berbelok ke belakang rumah menuju hutan. Abraham tak pergi ke hutan, semalaman ia melaut dan baru bisa mendarat sebelum matahari menggantung di atas kepala. Malam itu laut badai dan perahu Abraham terhempas hingga titik yang lebih jauh. Di rumah ia tak menemukan Malaya dan di dapur Laila tua sedang menangis. Dapur itu berantakkan dengan potongan-potongan daging domba, dan sayur-sayuran berhamburan di sana-sini. Laila memeluk Abraham. Semenjak memiliki Malaya tubuh orangtua itu jadi begitu kering. Cinta mereka yang meluap menguras energi hidup mereka. Aku akan mencari Malaya, kata Abraham.

Abraham pergi ke hutan mencari anaknya. Sebelum sampai hutan, di hamparan padang rumput ia melihat buntalan putih bergerak-gerak di kejauhan. Mengira itu adalah Malaya, Abraham berlari-lari kecil menghampirinya, memanggil-manggil anaknya. Namun yang ditemukannya hanyalah seekor anak domba berbulu lebat yang tak henti mengunyah rerumputan. Matanya sayu, dan ia mengembik kepada Abraham.

Bukankah ini anak domba yang sedang dicari gembala tua, pikir Abraham. Ia pun menggiring anak domba itu ke rumahnya dan mengikatnya di pagar. Laila sedang menunggu kabar anaknya di teras, dan yang didapat Abraham hanyalah seekor anak domba. Pada saat itu tiba-tiba, di jalan, sembilan puluh sembilan domba mengembik-ngembik, berlari seperti awan-awan yang tertiup angin ke timur. Di belakang kawanan domba itu adalah gembala tua sedang sibuk menggiring dan menghalau domba-dombanya. Abraham memanggil gembala tua itu, dan mengatakan telah menemukan anak domba yang selama ini dicarinya. Akhirnya kutemukan si anak hilang, kata gembala tua. Ia lepas tali yang mengikat leher domba itu, lalu ia giring menuju kawanannya. Anak domba itu berlari riang bisa menggenapkan keluarganya. Gembala tua mohon pamit, dan kembali menghalau dan menggiring domba-dombanya melalui jalan ke arah timur. Abraham menyaksikannya menjauh seraya memikirkan pria tua pembawa roti, dan keberadaan Malaya.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar