Kemarau sudah berlangsung tujuh bulan lebih, dan semenjak tiga hari lalu hutan larangan yang tak jauh berada di belakang rumah gadang Jando Puti terbakar hebat. Apinya tak berhenti melahap segala hijau. Usai ashar yang berkabut asap, di antara derai air matanya Jando Puti berdoa nyala api itu susut. Pukul 3.25 seketika air tumpah dari langit awan pekat. Tidak seperti suara sebuah berkah, hujan itu turun deras menimbulkan bunyi gemuruh yang mengerikan di atas atap seng dan ijuk rumah gadang ibu yang ditinggalkan anak-anaknya itu.
Rumah gadang itu kayunya jelaga, selalu menyusul bunyi keriut saat Jando Puti yang sebatang kara melangkah di permukaan lantainya. Jando Puti bersandar di jendela lanjur tepi. Sebagai pengganti mata kataraknya yang tak dapat melihat curahan hujan, ia mengulurkan kedua tangannya, menampung pintalan air hujan yang menjulur dari atap.
Jando Puti bersyukur doanya dikabulkan. Ia meyakini doanya yang lain juga segera dikabulkan. Keyakinan itu datang kepadanya semenjak hari-hari belakangan Tuhan memberinya pertanda melalui mimpi: Ada air. Banyak air. Moh Malin, anaknya berjalan di atas permukaan air luas, berjalan menghampirinya. Tak lama kemudian Jando Puti tenggelam. Didatangi oleh mimpi yang sama di malam-malam sepinya, wanita tua itu tidak bisa menyimpulkan apakah ini mimpi buruk atau indah. Yang terang baginya adalah kerinduannya yang makin membuncah.
Meskipun kabut asap perlahan mengurai Jando Puti tidak dapat melihat siapa yang berjalan di halaman rumahnya menuju tangga utama. Di bawah payung pola pelangi, seseorang berjalan hati-hati menyusuri batu kerikil yang basah diguyur hujan. Tanpa membasuh kaki di batu ceper bawah tangga, orang itu berpegangan erat pada pegangan tangga, kakinya hati-hati menapaki berjenjang naik bertangga turun yang rapuh dan licin.
“Engkau kah itu Siti?” kata Jando Puti. Nada suaranya ditinggikan mencoba melawan gemuruh hujan.
“Ambo,” kata Siti begitu tiba di lanjur.
Suaranya terdengar tak membosankan seperti biasa. Jando Puti tidak tahu apakah itu disebabkan oleh berkah yang dibawa hujan atau yang lain. Namun intuisi wanita tua membuatnya bertanya pula apakah pengurusnya itu membawa kabar untuk dirinya.
“Hujan-hujan begini, tentunya kau membawa kabar untuk nenek tua kesepian ini?”
Siti melipat payung pelanginya yang basah dan menyandarkannya di tonggak. “Mande duduklah dulu. Alah makan? Alah salat Mande?”
Jando Puti hanya mengangguk menjawab pertanyaan Siti. Ia menarik sepasang tangannya yang menampung hujan, mengusapnya ke wajah seperti berwudu. Lalu Jando Puti berjalan menuju dipan tua yang tersampir di sebelah jendela. Rumah gadang itu sudah menjadi bagian dirinya sendiri. Semenjak lima tahun katarak, telapak tangan dan kakinya yang menggantikan matanya untuk melihat. Jando Puti berjalan dibimbing oleh tekstur lantai kayu yang dibaca oleh telapak kakinya, dan duduk di dipan itu.
“Apa kabar?”
“Kabar baik, Nde. Si Malin pulang. Inyo sedang di Minang kini!”
Air wajah Jando Puti berubah menyatakan tak percaya. Siti meyakinkan berita yang dibawanya itu. Ia mengaku mendapat kabar dari Balai Batu Baun. Petugas balai desa menyampaikan Moh Malin berada di Minang bersama tiga orang ilmu bumi kampusnya. Dan esok mereka akan singgah di Batu Baun sebagai bagian rangkaian penelitiannya.
“Singgah?” Suara Jando Puti bergetar. “Ndak pulang Malin, Siti?” Matanya berembun.
“Itu cuma bahasa, Mande. Inyo pulang taragak Mande mah.”
“Alah sukses Malin mah.” Air mata Jando Puti tercurah tak mau kalah dengan derasnya hujan.
“Iyo, alah sukses Malin, Mande.”
Di perkampungan yang menjalar di tepian batang air, dikangkang anak-anak Bukit Barisan, sudah lama Jando Puti hidup sendiri di rumah gadang kajang padati, yang gonjongnya tak sampai, di hulu persimpangan aliran sungai Batu Baun.
Warga kampung yang jatuh iba sudah pernah menawarkannya untuk tinggal di permukaan tanah yang lebih landai, khawatir tonggak tuo rumah gadang itu bisa runtuh sewaktu-waktu diterjang badai atau diguncang gempa. Namun Jando Puti kukuh tak mau diajak turun. Sifat keras napas yang turun temurun diwarisi nenekmoyangnya membuatnya ingin lahir, tumbuh dan mati di rumah pusaka sukunya.
Meskipun kesepian dan akan mati sendirian, Jando Puti sudah mewasiatkan kepada siapa pun agar ia dikubur di tanah pusaka, di antara pohon-pohon cengkeh dan pala yang tertanam subur di belakang pekarangan rumahnya.
Meskipun Moh Malin yang selalu diimpikan Jando Puti, sesungguhnya, ia memiliki lima anak; tiga anak gadis dan dua bujang. Pasca menikah tiga anak gadisnya tidak tinggal bersamanya, sebab mereka menikah dengan pemuda dari negeri jauh. Dua di antaranya menikah dengan lelaki Jawa, dengan alasan kelembutan dan penguasaan rumah tangga. Mereka tidak ingin menikah dengan pria Minang yang keras kepala. Yang lain semenjak menjadi tenaga kerja wanita di negeri Jiran, lupa jalan pulang sebab telah beranak pinak dengan putra Malay. Satu-satunya abang Moh Malin, Zainal, memang menikahi gadis kampung setempat, tapi ia terlalu sibuk main domino, menenggak tuak, memelihara anjing buruan, berburu babi, dan menambang batu dan pasir di hulu batang air. Sewaktu-waktu Zainal pulang juga ke rumah, sekadar singgah sebentar melihat apakah ada samba lado tanak di balik tudung dapur rumah leluhurnya.
Malam hari hujan rinai, kabut asap sisa pembakaran hutan larangan tipis menyelimuti bukit-bukit dan perkampungan yang berada di sela-selanya.
Sepanjang malam, Jando Puti hanya memikirkan anak bungsunya. Tentunya ia sulit mengetahui seperti apa rupa Moh Malin kini, ia juga tidak dapat mengenalinya dari suara sebab, hanya suara kanak Moh Malin yang terekam di kepalanya. Melalui mimpinya Moh Malin akan serupa mantan suaminya, yang meninggalkannya tanpa kata talak, pulang ke negeri Pasai pada saat Moh Malin masih bergelantung di buah dadanya.
Seperti biasa Siti datang ke rumah Jando Puti pada saat matahari naik sepenggalah. Di pagi yang gerimis itu, Siti sudah mendapati Jando Puti duduk di dipan mahoni tua di lanjur tepi, menunggu anak bungsunya kembali.
“Alah datang Malin, Siti?”
“Alun ado kabanyo Mande.”
Jando Puti menunggu dengan cemas. Siti berlalu ke dalam rumah, mengerjakan asistensinya mencuci baju kurung, sarung, kutang, menyapu setiap lanjur, menanak nasi dengan air dilebihkan, merebus pucuk daun parancih, membuat baledang balado.
Selesai melakukan itu semua Siti pamit, meninggalkan Jando Puti yang sudah terbiasa dengan kesunyian. Seperti biasa, Siti merasa tak perlu mengawani Jando Puti untuk bercakap. Ia beranggapan upahnya hanya dibayar untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah tak sanggup lagi dikerjakan wanita tua itu.
“Nanti ambo beri kabar kalau Malin sudah ada Mande. Jangan turun ke bawah seorang, dih.”
Dalam kesendirian masa tuanya, tak banyak yang bisa dilakukan Jando Puti selain bercakap-cakap dengan arwah leluhur dan mengenang anak-anaknya yang jauh. Sewaktu katarak belum mengungkungnya, ia terbiasa menyibukkan diri pergi ke hutan kelola di belakang rumah di sela-sela bukit, memetik cengkeh. Atau ia memanen pala dan asam kandis untuk dijemurnya di pekarangan rumah. Kini tak lagi ia diperbolehkan mengerjakan itu semua. Meskipun saat kesunyiannya begitu menyayat dan aroma getah pala masak, asam kandis dan harum cengkeh menggodanya ke parak, ia nekat juga turun meraba anak tangga ke pekarangan.
Ia hapal betul jumlah anak tangga menuju halaman. Berpegangan dengan pegangan tangga, ia menghitung jumlahnya dan begitu hitungan delapan adalah bumi. Lalu kerikil, rerumput Jepang, dan ia serahkan langkahnya kepada aroma asam kandis, sebab itulah yang paling dekat dengan rumah gadang. Ia tak tahan juga untuk semakin masuk ke dalam hutan mengikuti aroma cengkeh. Begitu ia melangkah ke hamparan pohon-pohon cengkeh yang bergelombang dan bersemak ia terjerembap, dan pada saat itu Zainal datang bersama tiga anjing buruannya dari kedalaman hutan larangan, menemukan ibu kandungnya tersungkur dan hendak berdiri.
“Amak gaek. Yayai, sedang apa di sini?”
“Metik cengkeh.”
“Awak alah tuo. Alah baun tanah. Di rumah se lah lai.”
Zainal memikul ibu kandungnya kembali ke rumah gadang. Tubuh Jando Puti ringkih, jauh lebih ringan dari batang-batang kayu yang secara sembunyi diurusi Zainal. Tubuh Jando Puti terguncang-guncang di punggung anaknya itu seperti sekarung asam kandis kering yang biasa diangkutnya. Dari mana waang, kata Jando Puti. Dari hutan larangan… Bukan urusan amak gaek, jawab Zainal.
Kemudian Zainal memperingati Siti untuk melarang ibunya keluar rumah.
Jando Puti tak pernah merindukan Zainal. Justru ia terganggu apabila anak nomor duanya itu muncul di rumah gadang. Jando Puti semakin merindukan Moh Malin sehingga gemerisik ranting pohon asam kandis pun ia sangka sebagai langkah kedatangan anak bungsunya. Dari pekarangan terdengar langkah-langkah kaki yang kasar menggerus kerikil. Suara langkah itu begitu banyak dan saling menyusul. Jando Puti berdiri.
“Engkau itu Malin?”
“Bukan, Amak Gaek,” kata Zainal tanpa mendehem.
Zainal datang bersama tiga kawannya biasa berburu dan menambang, dengan satu orang petugas polisi sektor berwajah masam. Kepada Jando Puti ia mengatakan hendak menuju hutan larangan sambil menyusuri sungai memeriksa akibat yang ditimbulkan hutan yang terbakar. Apabila tak turun hujan mungkin api itu masih terus merambat. Pada saat Zainal datang hujan gerimis, langit masih mendung. Dilihat dari gelagat langit hujan yang lebih lebat masih akan turun. Jando Puti tak tahu bagaimana keadaan batang air setelah hujan. Semenjak kemarau, sungai yang bebatuannya berserak itu secara mengkhawatirkan hampir kering. Hujan semalaman tentunya sudah bisa membuat ikan-ikan berenang riang.
Zainal mengajak gerombolannya untuk naik ke dapur, melibas apa yang ada di balik tudung nasi. Selesai makan ia tanpa acuh pamit hendak bertolak ke hutan. Jando Puti menghentikannya sebentar, bertanya, apakah ia tidak tahu kalau adiknya akan berada di Batu Baun. Kenangan Zainal kepada Moh Malin hanyalah kejailannya kepada adik bungsunya itu.
“Kalau memang inyo pulang, kabari Mak Gaek.”
Selang beberapa lama, Siti datang agak tergesa membawa kabar. Ia berlari menapaki anak tangga memanggil Mande Mande.
“Malin sedang di balai desa kini Mande. Ambo alah menyuruhnyo singgah.”
“Alhamdulillah.” Jando Puti menahan bendungan air matanya.
Bersama tim ilmu buminya Moh Malin menyusuri jalan yang tak begitu lebar mendaki, pemandangan di matanya tak sehijau yang ada di memori. Ia berjalan dibimbing oleh aroma asam kandis yang khas, membuatnya terkenang masa kecil. Di sebelahnya adalah Jennifer, seorang rekan, kekasih sekaligus aktivis Greenpeace asal Britania Raya. Dua orang lain adalah mahasiswa magang yang ikut tur penelitian Moh Malin. Rombongan itu sudah banyak mengunjungi daerah-daerah pelosok Nusantara untuk meneliti keadaan alamnya. Kali ini pun mereka membawa agenda pemetaan kerusakan alam sehingga, kedatangan mereka jauh dari kesan pelancong, lebih-lebih seperti himpunan peziarah yang sedang menjalani perjalanan spiritual.
Begitu kabut tipis menyingkap gonjong tak sampai rumah gadang itu, mereka dapat melihat dua orang wanita berada di depan tangga sedang berdiri menghadap mereka. Jando Puti membujuk Siti untuk membimbingnya menuruni tangga, menunggu Moh Malin di halaman.
Wanita tua itu tak dapat melihat apa yang ada di ujung pandangannya. Tapi ia dapat mendengar gemerisik langkah-langkah berat dan aroma tubuh dari negeri jauh mendekat. Malin, getarnya dalam hati.
Tapak kakinya melangkah meraba-raba tanah tak sabar untuk memeluk anak bungsunya itu. Hati Moh Malin bergetar demi melihat wanita tua yang pernah melahirkannya tertatih berjalan ke arahnya. Di matanya Jando Puti adalah bumi itu sendiri dengan mata ikan aquarium, tua dan terabaikan. Ia bersalah tak pernah ingat pulang.
“Engkau kah itu Malin?” lenguh Jando Puti. Ia tidak dapat melihat Moh Malin, tidak pula dapat menciri bau tubuhnya.
“Saya Bundo.” Moh Malin tak segera memeluk ibunya. Ia berjalan perlahan ke arah Jando Puti, merentangkan tangannya.
Jando Puti langsung mencekaunya, meraba-raba wajahnya. Ia dapat mengenali pahatan tulang dagu, cekung pipi dan pipih hidung anaknya itu, matanya yang agak tersembunyi di ceruk dahi, alisnya yang tebal, rambutnya kaku kawat, seperti cetakan mantan suaminya sendiri.
Jando Puti tidak mengatakan apa pun terkenang mantan suaminya. Kemudian ia meraba pergelangan lengan kanan Moh Malin, menjamah sikunya. Di situ ia menemukan surih luka yang ia kenal sebagai tanda kenakalan Moh Malin sewaktu kecil saat mengejar ayam jantan di pekarangan, tersandung batu, terjerembap, koyak. Tak kuasa ia memeluk anak bungsunya itu.
“Alah gadang anak Bundo.”
Malin tak mengatakan satu kata pun. Ia terpejam, mencium aroma kemiri dari rambut ibunya.
Jennifer terenyuh mendapati pemandangan melodramatis antara ibu dan anak itu. Ia tidak dapat melakukan apa pun selain mengalihkan perhaitan ke hamparan, dan terkenang sendiri dengan ibunya yang telah berpulang ke rahim bumi. Sebagai aktivis lingkungan hidup ia mengabdikan seluruh hidupnya kepada bumi.
Hujan berangsur menderas. Mereka bergegas menuju lanjur. Dengan tersipu, Moh Malin mengenalkan Jennifer kepada ibunya. Jennifer sudah empat tahun di Nusantara dan sudah lumayan menguasai bahasa. Berat hati Moh Malin menyampaikan ia tidak akan lama di Minang dan berniat mengajak Jando Puti ke perantauan. Jando Puti ingin, sangat ingin ikut dengan anaknya ke negeri jauh. Tapi ia teringat janjinya kepada leluhur.
Bagaimanapun ia adalah pewaris terakhir pusaka. Anak-anak perempuannya tidak ada yang meneruskan garis sukunya, dan kepada leluhur ia kembali.
“Bundo tidak bisa Malin.”
“Tapi Bundo… Malin tidak tega melihat Bundo hidup sendirian di sini. Malin juga tidak bisa lama—”
Jando Puti tak kuasa meredam air matanya, “Bundo salat zuhur dulu.” Ia tertatih ke dinding penutup malu, mencurahkan air mata di bilik alung buniang, di permukaan sajadah yang selalu lembap dan usang.
Hujan mereda, dan rombongan itu bersiap menyusuri tepian batang air dan memeriksa bantaran hingga hutan larangan.
Moh Malin beserta rombongan mengenakan mantel hujan mereka, berpamitan dengan Jando Puti. Moh Malin menyampaikan akan menginap di rumah gadang malam ini. Mereka pun berangkat ditemani oleh seorang petugas balai desa.
Hujan menderas pada saat mereka menyusuri jalan setapak, menuntut mereka berhati-hati melangkah. Dalam perjalanan itu, dengan logat setempatnya, petugas balai desa memberitahu bahwa sesungguhnya berita kebakaran hutan yang berlangsung tiga hari lalu itu sudah sampai kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Namun tidak ada respon dengan alasan medan yang terlampau sulit untuk dilalui pemadam dan sarana yang tak lengkap.
Kebakaran hutan itu sendiri tak diketahui alasannya. Obrolan kedai yang tak serius menyebutkan itu diakibatkan oleh cuaca yang terlampau kering dan matahari yang terlampau terik, dan obrolan surau mengatakan itu disebabkan oleh murka Tuhan kepada pelaku pembalakan liar. Beberapa petani sekali waktu sempat memergok segerombol orang sedang menggergaji pohon banio. Begitu kejadian itu dilaporkan ke polisi sektor, tak ada tindakan berarti dengan seribu alasan menunda.
Sampai di bantaran batang air Moh Malin mencoba mengais kenangan masa kecilnya di sungai itu. Tempat ia biasa berjemur hingga legam di atas batu besar bak telur reptil purbawi, salto dari batang pohon timbalan yang menjuntai di atas palungan, berenang mengejar kilau ikan yang tampak dari permukaan air jernih. Bebatuan besar yang terhampar di sepanjang sungai itu tak terlihat lagi, tempat ia dulu biasa melompat-lompat menyusurinya menuju pemandian tersembunyi.
Ia kecewa tak menemukan kenangan itu di antara arus warna tanah yang deras menghempas dan bergolak, membawa batang pisang, patahan kayu marsawa dan gelondongan merantih. Petugas balai desa mengatakan, bebatuan dan pasir yang dikandung batang air ini adalah tambang penyambung hidup. Mereka dapat melihat beberapa bantaran yang terkikis mekanis untuk jalur truk angkut.
Rombongan itu terus menyusuri bantaran sungai ke arah hulu. Mereka melangkahi galur dengan hati-hati, permukaan tanah di bawah mereka bergoyang. Semakin ke atas, di kaki-kaki bukit sawah-sawah terbengkalai menghampar, bertingkat-tingkat di sana-sini, tak jauh dari batang air. Dulu masih menyemak merantih yang tegak dari kaki bukit hingga bantaran sungai, kenang Moh Malin.
Kemudian mereka sampai di pertemuan dua sungai. Secara mengejutkan, banyak gelondong kayu yang tersendat di aliran yang berjenjang itu. Di antara tumpukan kayu marsawa dan banio air tercurah mencari jalan keluar, merantih dan timbalan tersendat, meloncat saat terdesak. Bendungan gelondongan dan bebatuan itu cukup tinggi sehingga permukaan sungai di atasnya menggenang, menciptakan waduk yang luas dan mengkhawatirkan.
Kecuali petugas balai desa yang kesadarannya telah lama tumpul, wajah mereka pucat. Mereka tak membuang waktu berada di sana dan melanjutkan perjalanan menuju hutan larangan yang terbelah di hulu sungai. Tak ada yang dapat mereka katakan saat memandang hutan larangan itu selain fasad panjang dan luas terbentang ke masa depan. Tak ada hijau atau coklat, tak ada kupu-kupu berkepak kuning, tak ada burung berbulu biru. Tak ada. Hujan tempias di atas pangkal-pangkal pohon yang hitam dan buntung, di atas daun-daun mati.
Rombongan itu kembali menyusuri galur menuju hilir seperti domba turun gunung membawa firasat alam. Awan pekat tak bertepi menggantung rendah di atas kepala mereka, terlihat hendak runtuh.
Moh Malin tahu mereka datang sudah terlalu terlambat. Enam jam hujan lebat seharusnya sudah bisa menyapu apa pun yang berada di sepanjang batang air dan bantarannya. Moh Malin mendesak petugas balai desa dan dua mahasiswa magang penelitiannya untuk menyebarkan peringatan ke warga desa. Prioritas pertamanya adalah evakuasi seligat mungkin.
Begitu Moh Malin dan Jennifer tiba di pekarangan rumah Jando Puti, hujan deras seketika menjadi lebat. Ia berdebar, wajah kekasihnya pucat bercahaya. Mereka berlari menaiki jenjang memanggil Bundo Bundo. Wanita tua itu terlihat tenggelam dalam dipan tua.
“Bundo ayo ikut kami!”
“Ada apa anak kandung? Suaramu seperti orang yang diburu maut.”
“Kita tidak punya banyak waktu, Bundo. Pakailah jas hujan ini. Naiklah ke pundak Malin!”
Jando Puti tak terkejut, sepanjang hidupnya ia terbiasa mengakrabi guncangan. Dan maklumat yang datang dari anaknya itu menjawab mimpi-mimpinya belakangan bahwa anak bungsunya datang untuk membawa kabar akhir hidupnya.
Inilah saatnya ia memenuhi janjinya kepada leluhur menyatu dengan bumi dan aroma tanah. Ia bersyukur telah bertemu Moh Malin dan baginya tidak ada lagi selain kepasrahan, menerima segala jadi.
Bebulir hujan sebesar kelereng menumbuk-numbuk atap, mengguncang tonggak tuo dan sendi-sendi tak berpaku rumah gadang itu. Moh Malin mendesak ibunya untuk ikut dengannya, namun Jando Puti menolak dengan senyum pasrah keibuan.
Anak bungsu yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di perantauan dan hampir melupakan tanah kelahirannya itu tersungkur di depan lutut rapuh ibunya. Ia merengek, meraung seperti ia dulu tak diberi izin berenang di batang air. Air matanya mengalir, Jando Puti tak bisa membedakannya dengan hujan yang tumpah di luar.
Rombongan yang membawa ramalan buruk itu sudah menyiarkan penemuan mereka dengan toa surau. Tak diperlukan lagi istilah teknis atau keresmian untuk menyebarkan kabar buruk itu. Warga kampung tidak begitu saja percaya kabar yang dibawa oleh orang asing yang bahkan tidak mengerti bahasa mereka. Namun dengan suara petugas balai desa yang dikenal lurus itu, dengan keengganan dan kemalasan waktu senja, mereka akhirnya berkumpul juga di balai desa untuk mendengar langsung apa yang mereka lihat dan akan terjadi.
Tak punya banyak waktu, beberapa pemuda yang menawarkan tenaganya menghitung jumlah warga yang berkumpul. Tak ada yang kurang kecuali Jando Puti, Moh Malin dan Jennifer, dan gerombolan Zainal. “Mereka akan menyusul. Sebaiknya kita bergegas.” Mereka berjalan membentuk pawai menuju bukit yang jauh dari bantaran batang air, berkanopi payung-payung berwarna hitam.
Zainal tak ditakdirkan bertemu dengan adik bungsunya. Begitu tiba di rumah gadang bersama gerombolan tanpa panik, sesaat yang lalu, Moh Malin bersama Jennifer sudah meluncur ke bawah menyusul yang lain. Setibanya di lanjur Zainal tanpa acuh melihat ibu kandungnya dan yang pertama keluar dari mulutnya adalah apakah masih ada nasi di dapur, kemudian baru ia menanyakan Moh Malin. Jando Puti menjawab nanti kau juga akan bertemu dengannya, nasi sudah tak ada. Begitukah, sebaiknya kami turun ke rumah mencari nasi, kata Zainal sebelum ia bergegas turun. Jando Puti menahannya, kau tergesa sekali, tak inginkah kau menemani amak uzur ini sebentar, terlebih hujan masih deras di luar, kau bisa menanak nasi dan makan di sini bersama kawan-kawanmu.
Melihat hujan yang berpintal-pintal menjulur ke tanah Zainal mengalah, ia pun berjalan ke dapur. Tiga orang kawannya dan satu polisi sektor itu sedang terlihat dungu menyalakan api dari macis yang basah dan tembakau rokok yang lembap. Jando Puti teringat sudah saatnya asar, dengan tenang ia berjalan ke belakang untuk berwudu, dan ingin sujud lebih lama.
Moh Malin dan Jennifer berlari di antara bulir-bulir hujan sebesar kerikil yang mendera tubuh mereka seperti rajam, namun tubuh mereka sudah terlalu kebas oleh kecemasan. Tidak hanya keselamatan warga Batu Baun, keselamatan kampung-kampung dan perumahan yang berada di sepanjang bantaran batang air hingga hilir juga dirasa sebagai tanggung jawab mereka. Begitu mendapati rumah-rumah dengan lampu menyala yang kosong, dan tiba di kantor balai desa, suara gemuruh guntur yang merambat di permukaan bumi terdengar dari belakang mereka.
Mereka tak tahu apakah kawan-kawan yang ikut bersama mereka tadi menemukan cara untuk memperingati kampung-kampung lain, tapi itu tidak lagi penting mengingat diri mereka sendiri sedang berlari di batas hidup dan mati selebar rambut.
Gemuruh guntur di belakang mereka terdengar semakin memekak membikin tuli segala yang ada. Insting penyelematan diri Moh Malin membuatnya mencari tempat tinggi terdekat. Ia menemukan tangga semen dan setapak menanjak menuju rumah-rumah yang menempel di bukit. Ia tertatih menuju jenjang itu dengan mengait Jennifer di telapak tangannya. Tiga langkah lagi sampai untuk mendaki anak tangga, Jennifer terjerembap, wajahnya meringis. Moh Malin mendesak kekasihnya beranjak sementara galodo datang mengepung.
*2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar