Minggu, 23 Agustus 2020

Freeze! oleh Edgar Keret







Tiba-tiba saja aku dapat melakukannya. Aku mengatakan “Freeze!” dan semua orang akan membeku begitu saja di tengah jalan. Mobil-mobil, sepeda-sepeda, bahkan skuter motor kecil yang digunakan kurir, mereka semua berhenti pada jalurnya masing-masing. Dan aku akan berjalan melalui mereka hingga aku menemukan gadis-gadis paling cantik. Aku akan mengatakan kepada mereka untuk meletakkan barang belanjaan atau aku akan menyuruh mereka turun dari bus, membawa mereka pulang dan menyetubuhi mereka. Betapa menyenangkan—sangat-sangat menyenangkan. “Freeze!” “Kemari!” “Berbaring di ranjang!” dan setelah itu, gubrak-gabruk-gubrak-gabruk. Gadis-gadis yang aku dapatkan benar-benar luar biasa, seperti model sampul majalah. Aku merasa ajaib. Aku merasa seperti raja. Hingga ibuku menegurku.

Ia mengatakan kepadaku ia tidak sepenuhnya setuju. Aku mengatakan kepadanya tidak ada yang perlu disetujui. Aku mengatakan begitu saja gadis-gadis itu untuk datang, dan mereka datang. Bukan berarti aku memperkosa mereka atau semacam itu. “Tuhan melarangnya,” kata ibuku. “Perbuatan semacam itu sangat tidak manusiawi, tidak ada ikatan emosi. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi aku punya perasaan mendalam bahwa kau tidak benar-benar terhubung dengan mereka. Lalu aku mengatakan kepada ibuku untuk menyimpan perasaan mendalam itu sendiri untuknya. Ia mengatakan sesuatu lalu aku membalasnya mengatakan sesuatu dan ia membalas dengan kembali mengatakan sesuatu lalu aku katakan “Freeze!” dan membiarkannya berdiri di sana di tengah jalan Reiness di tengah guyuran hujan. Semenjak itu, tidak pernah lagi sama. Apa yang telah ia katakan tiba-tiba menggangguku, perihal aku tidak terhubung. Aku tetap menyetubuhi gadis-gadis, tapi sekarang aku tidak lagi merasa terhubung. Segalanya runtuh. Saat pertama kali aku mengira bahwa itu disebabkan oleh suaranya. Sehingga aku mengatakan, “Bersuaralah!” Dan gadis-gadis itu akan membuat segala macam suara: Mickey Mouse, Jackhammers, peniruan tokoh politik tertentu. Ini mimpi buruk. Aku harus menunjukkan kepada mereka kata-kata sesunggunya yang kuingin mereka katakan. “Aaaah, aaaah,” “Enak banget,” “Lebih kencang.” Hal-hal semacam itu. Dan mereka mengulangi kata-kata itu ketika kami bersetubuh, meskipun selalu menirukan intonasiku. “Oh, oh, jangan berhenti. Bentar lagi sampai,” kata mereka, terbaring di sana memunggung, mata mereka sayu. Aku tahu mereka hanya berpura-pura dan itu membuatku begitu marah sehingga aku ingin mencekik mereka. “Jika kau tidak menginginkannya,” aku membentak beberapa kali, “tidak usah dikatakan,” tapi aku tetap tidak bisa membangkitkannya. Ini benar-benar menekanku—benar-bener membuatku depresi.

Aku membutuhkan waktu sebelum aku menyadari apa yang brengsek dari ini semua. Masalahnya adalah, aku tetap menjadi terlalu spesifik. Sehingga pada titik tertentu, aku menyadarinya dan memberikan mereka arahan yang lebih umum seperti, “berlagaklah selayaknya kamu menikmatinya,” dan ketika perasaan yang mereka palsukan itu mulai menggangguku, aku hanya mengatakan, “Nikmatilah.” Ini mengerikan—ini benar-benar jadi mengerikan. Mereka menjerit. Hingga mereka mencakar punggungku. Lalu mereka mengatakan, “Kaulah yang terbaik.” Tidakkah kau lihat apa yang sedang aku gambarkan? Para model, gadis pembawa acara, gadis peramal cuaca—di ranjangku. Mengatakan akulah yang terbaik.

Kecuali itu lalu, mengetahui mereka berada di sana hanya karena aku mengatakannya, mereka mulai menggangguku. Perasaan ini—gelombang otak—menyerangku tiba-tiba. Aku sedang berjalan melalui jalan Reiness, di mana Gordon berada, dan di sana masih ada ibuku, masih berdiri di sana di mana aku meninggalkannya terlihat memelas, dan tiba-tiba aku berpikir: ini tidaklah nyata. Tidak akan pernah menjadi nyata. Sebab tidak ada di antara mereka yang mengapresiasiku. Tidak ada di antara mereka yang benar-benar menginginkanku apa adanya. Dan jika mereka tidak bersamaku untuk diriku sesungguhnya, lalu untuk apa ini semua? Semenjak saat itu, aku memutuskan menghentikan ini dan mulai mengajak gadis dengan cara biasa. Ini menyebalkan. Gadis-gadis yang dulu biasa aku setubuhi berdiri di jalan, bersandar di kotak surat, dan tidak hendak memberikan nomor mereka. Mereka mengatakan kepadaku, napasku bau, atau aku bukanlah tipe mereka, atau mereka telah memiliki pacar, atau yang lainnya. Suram—ini sungguh-sungguh suram. Tapi aku begitu menginginkan hubungan yang asali sehingga meskipun hasrat untuk kembali menyetubuhi mereka seperti dulu begitu membuncah, aku tidak lagi melakukannya.

Setelah tiga bulan bagaikan neraka, aku melihat gadis rupawan dari iklan jus apel itu berjalan menuruni jalan Ibnu Gvirol. Aku mencoba berbincang dengannya. Lalu aku berusaha membuatnya tertawa. Lalu kami berjalan melalui toko bunga, lalu aku mencoba memberinya bunga—tapi bahkan ia tidak menengok kepadaku sedikit pun. Ketika kami sampai di Rabin Square, terdapat sebuah Mazda kecil yang menunggunya dengan seorang model pria di bangku kemudi, seorang pria dari iklan keripik kentang. Hampir saja ia hendak masuk ke dalam mobil dan melaju menjauh. Aku tidak tahu harus melakukan apa, dan tanpa menyadari apa yang aku lakukan, aku menjerit “Freeze!” Gadis itu berhenti di posisinya. Juga semua orang. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, orang-orang membeku. Aku menatap gadis itu, dan ia benar-benar secantik yang terlihat di iklan. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Namun aku juga tidak bisa membiarkannya pergi. Di sisi lain, kalau seandainya ia mau bersamaku, aku menginginkannya memang karena beginilah aku—sebab diri dalam diriku, bukan karena aku memerintahkannya. Dan ketika aku memikirkannya. Solusi itu datang begitu saja seperti momen epiphany. Aku menggenggam lengannya, aku menatap matanya dan mengatakan, “Cintai aku apa adanya, karena diriku yang sebenarnya.” Lalu aku membawanya kembali ke apartemenku dan menyetubuhinya seperti orang gila. Ia menjerit dan menancapkan kuku-kukunya di punggungku dan mengatakan, “Lakukan itu, oh yes, lakukan itu kepadaku.” Dan ia mencintaiku. Tidak bohong, ia benar-benar mencintaiku. Ia mencintaiku apa adanya.


-diterjemahkan dengan bebas dari bahasa Inggris oleh Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar