Minggu, 23 Agustus 2020

Tidur oleh Haruki Murakami







Hari ini adalah hari ketujuhbelasku tanpa tidur.
Aku tidak sedang membicarakan insomnia. Aku tahu apa itu insomnia. Aku pernah mengalami sesuatu seperti itu sewaktu kuliah—sesuatu seperti itu—karena aku tidak yakin yang aku alami waktu itu apa yang tepat disebut orang-orang sebagai insomnia. Aku berharap dokter bisa memberitahunya. Tetapi aku tidak menemui dokter. Aku mengerti menemui dokter tidak membuatku lebih baik. Tidak pula aku memiliki alasan untuk memikirkannya. Sebut saja intuisi wanita—pun kurasakan tak dapat membantuku. Aku mengetahui belaka itulah yang akan disarankan mereka kepadaku.
Waktu itu, “sesuatu seperti insomnia”-ku berlangsung selama sebulan. Sepanjang waktu, aku benar-benar tidak pernah merasakan keinginan untuk tidur. Malam hari aku akan berada di ranjang dan mengatakan kepada diriku sendiri,”baiklah waktunya tidur.” Perkataan itu justru membikinku terjaga. Secara instan—seperti reflek terhadap keadaan. Semakin aku berusaha keras untuk tidur, semakin aku terjaga. Aku mencoba minum alkohol, aku mencoba pil tidur, tapi mereka sama sekali tak memiliki dampak apa pun.
Pada akhirnya, seraya langit mulai memancarkan cahaya pagi, aku merasakan akan terhanyut. Tetapi itu bukanlah tidur. Ujung-jung jariku hampir sama sekali menyentuh ujung terluar rasa tidur. Dan sepanjang itu, pikiranku benar-benar terjaga. Aku akan merasakan tanda-tanda mengantuk, namun pikiranku berada di sana, di ruangannya sendiri, di sisi lain tembok tembus pandang, memandangiku. Diriku yang fisik terhanyut dalam cahaya pagi yang lemah, dan selama itu aku bisa merasakan pikiranku menatap, bernapas, dekat di sebelahnya. Aku adalah tubuh yang ingin tertidur dan pikiran yang terjaga sekaligus.
Rasa kantuk yang tak selesai ini akan terus berlanjut sepanjang waktu. Kepalaku selalu berkabut. Aku tidak bisa memandang akurat kepada benda-benda di sekitarku—jarak, massa maupun teksturnya. Rasa kantuk ini akan terus menguasaiku secara berkala, seperti ombak yang berjarak satu sama lainnya: di dalam kereta bawah tanah, di dalam kelas, di meja makan malam. Pikiranku menyelinap jauh dari tubuhku. Dunia bergoyang tanpa suara. Aku akan menjatuhkan benda-benda. Pensilku, dompetku, garpuku akan terpelanting ke lantai. Semua yang aku inginkan hanya melempar diriku jatuh dan tertidur. Tapi aku tak bisa. Keadaan menyalang akan selalu berada di sisiku. Aku bisa merasakan bayangannya yang bikin gigil. Bayangan diriku sendiri. Aneh, aku bisa berpikir selagi rasa kantuk menguasaiku, aku berada dalam bayanganku sendiri. Aku akan berjalan dan makan dan berbicara dengan orang-orang dalam rasa kantukku. Dan anehnya tidak satu pun orang menyadarinya. Bulan itu aku kehilangan 6,8 kilogram berat tubuhku, dan tak ada yang menyadarinya. Tidak satu pun dalam keluargaku, tak seorang pun temanku atau teman satu kelasku, menyadari bahwa aku menjalani hidup sambil mengantuk.
Secara harfiah itu benar: aku menjalani hidup dengan rasa kantuk. Tubuhku tidak lagi bisa merasa lebih dari mayat yang hanyut. Eksistensiku, hidupku di dunia, terlihat bagai halusinasi. Angin kencang akan membuatku berpikir tubuhku akan dihempaskan hingga ujung bumi, menuju sebuah pulau yang tak pernah kulihat atau dengar, di mana tubuh dan pikiranku akan tercerai selamanya. Aku akan beritahu diriku, bertahanlah, tapi tak ada yang bisa kujadikan pegangan.
Dan kemudian, ketika malam datang, keterjagaan penuh yang intens akan kembali. Aku tak kuasa menahannya. Aku terkunci di intinya oleh kekuatan yang besar. Semua yang bisa kulakukan adalah terjaga hingga pagi, mata terbuka lebar di dalam kegelapan. Bahkan aku tidak bisa berpikir. Selagi terbaring, mendengarkan detak detik jarum jam, tak ada yang kulakukan selain nyalang dalam kegelapan seraya kegelapan itu perlahan dalam dan perlahan menipis.
Dan pada suatu hari hal itu berakhir begitu saja, tanpa permisi, tanpa sebab apa pun. Aku mulai kehilangan kesadaran di meja sarapan. Aku berdiri tanpa mengatakan apa pun. Mungkin aku tersandung meja. Aku berpikir seseorang sedang berbicara kepadaku. Tapi aku tidak begitu yakin. Aku terhuyung-huyung ke kamar, merangkak ke ranjang masih mengenakan pakaian, dan seketika tertidur. Aku tertidur seperti itu selama dua puluh tujuh jam. Ibuku menjadi alarm dan mencoba mengguncangku. Ia sampai menampar pipiku. Tapi aku tetap tertidur selama dua puluh tujuh jam tanpa henti. Dan ketika akhirnya aku terjaga, aku adalah diriku yang lama kembali. Mungkin.
Aku sama sekali tak mengerti kenapa menjadi insomniak lalu kenapa kondisi tersebut tersembuhkan begitu saja. Keadaan tersebut seperti awan hitam tebal yang dihembuskan dari suatu tempat oleh angin, sebuah awan yang pampat oleh hal-hal buruk yang tak kuketahui. Tak ada yang tahu dari mana benda seperti itu datang dan kemana menuju. Aku hanya bisa yakin bahwa hal tersebut menyerbuku untuk beberapa saat, dan kemudian hengkang.
Dalam keadaan tertentu, apa yang kualami saat ini tidak seperti insomnia, tidak sama sekali. Aku hanya tidak bisa tidur. Tidak sedetik pun. Di samping fakta sederhana itu, aku benar-benar normal. Aku tidak merasakan kantuk, dan pikiranku sejernih biasanya. Bahkan lebih jernih. Secara fisik pun aku normal: selera makanku baik-baik saja, aku tidak kelelahan. Dalam kondisi sehari-hari tidak ada yang salah denganku. Aku sekadar tidak bisa tidur.
Tidak pun suami dan anakku menyadari bahwa aku tidak tidur. Dan aku pun tidak memberitahunya. Aku tak ingin diberi tahu agar menemui seorang dokter. Aku yakin itu akan sia-sia. Aku tahu itu. Seperti sebelumnya. Ini adalah sesuatu yang harus aku atasi sendiri.
Sehingga mereka tak mencurigai apa pun. Di permukaan, hidup kami mengalir tak berubah. Damai. Rutin. Setelah aku melihat suami dan anakku berangkat, aku mengambil mobil dan pergi ke pasar. Suamiku dokter gigi. Kantornya sepuluh menit berkendara dari kondominium kami. Ia dan teman sekolah kedokteran giginya memiliki kantor tersebut sebagai rekanan. Dengan cara seperti itu mereka bisa menggaji seorang teknisi dan seorang resepsionis. Seorang rekan bisa menangani pasien rekan lain yang berlebih. Dua-duanya bagus, sehingga untuk sebuah kantor yang telah beroperasi selama lima tahun dan buka tanpa ikatan khusus apa pun, tempatnya benar-benar menghasilkan. Hampir terlalu menghasilkan. “Aku tidak ingin bekerja terlalu keras,” kata suamiku. “Tapi aku tidak bisa mengeluh.”
Dan aku selalu berkata,”benarkah tidak bisa.” Benar. Kita memang membutuhkan pinjaman bank yang tak sedikit untuk membuka tempat tersebut. Sebuah klinik dokter gigi membutuhkan investasi besar untuk perangkatnya. Dan persaingannya begitu sengit. Pasien tak langsung memenuhi klinikmu begitu dibuka. Banyak klinik dokter gigi gagal sebab kurangnya pasien.
Sebelum itu, kami begitu muda dan miskin dan kami memiliki bayi. Tak ada yang dapat menjamin kami akan selamat di dunia yang keras seperti ini. Tapi kenyataannya kami selamat, dengan satu cara dan lainnya. Lima tahun. Kami benar-benar tak bisa mengeluh. Kami masih memiliki hampir dua per tiga sisa hutang yang harus dibayar.
“Aku mengerti kenapa kau mendapatkan begitu banyak pasien,” aku selalu mengatakan kepadanya. “Itu karena kamu begitu tampan.”
Itu adalah banyolan kecil kami. Ia sama sekali tidak tampan. Bahkan sebenarnya wajahnya terlihat aneh. Bahkan hingga saat ini aku masih heran kenapa aku menikahi pria berwajah aneh ini. Padahal aku pernah memiliki pacar yang jauh lebih tampan.
Apa yang membikin wajahnya begitu aneh? Aku tak paham. Wajahnya tidak tampan, tapi tak pula buruk. Tidak juga tipe wajah yang orang-orang sebut berkarakter. Sejujurnya, “asing,” adalah kata-kata yang cocok. Atau lebih akurat lagi bisa dikatakan tak memiliki ciri yang tegas. Tapi pasti ada unsur yang membuat wajahnya tak memiliki ciri yang tegas, dan jika aku bisa menggapai apa pun itu, aku mungkin bisa mengerti keasingannya secara keseluruhan. Sekali waktu aku pernah mencoba menggambar wajahnya, tapi tak mampu. Aku tidak bisa ingat bagaimana rupanya. Aku duduk mengenggam pensil diletakkan di atas kertas dan tak bisa menggores. Aku ternganga heran. Bagaimana mungkin kamu bisa tinggal begitu lama dengan seorang pria dan sama sekali tidak bisa mengingat bentuk wajahnya? Aku tahu cara mengenalinya, tentu. Aku bahkan bisa memperoleh gambaran mentalnya kapan pun. Namun ketika ingin menggambar wajahnya, aku sadari tidak ingat satu pun tentang wajahnya. Apa yang bisa aku lakukan? Rasanya seperti berlari ke dalam tembok tak terlihat.  Satu hal yang bisa aku ingat hanyalah wajahnya yang aneh.
Kenangan hal tersebut sering membuatku gugup.
Namun tetap saja, ia adalah orang yang banyak disukai orang-orang. Tentu itu nilai tambah besar dalam bisnisnya, tapi kupikir ia akan meraih sukses dalam hal apa pun. Orang-orang merasa nyaman berbicara kepadanya. Tak pernah kujumpai seseorang sepertinya sebelumnya. Semua kawan wanitaku menyukai belaka dirinya. Dan tentu saja aku menyukainya. Bahkan mencintainya. Tapi jujur aku tidak benar-benar menyukainya.
Bagaimanapun, ia tersenyum dengan alami, lugu seperti halnya bocah. Tidak banyak pria dewasa dapat melakukannya. Dan aku kira kau berharap seorang dokter gigi pasti memiliki gigi yang bagus, yang tentu saja dimilikinya.
“Bukan salahku aku begitu ganteng,” ia selalu menjawab demikian saat kami menikmati lelucon kecil kami. Kamilah satu-satunya yang mengerti maksudnya. Itu adalah cara kami mengakui kenyataan—fakta bahwa kami pada akhirnya dapat melalui kesulitan hidup—dan hal tersebut sebuah ritual penting bagi kami.
Ia mengendarai Sentranya keluar dari garasi parkir kondo setiap pukul 8:15 pagi. Anak kami berada di bangku di sebelahnya. Sekolah Dasarnya berada di perjalanan menuju klinik. “Hati-hati,” kataku. “Jangan khawatir,” jawabnya. Selalu merupakan dialog yang sama. Aku tidak bisa memikirkan cara lain lagi. Aku harus mengatakannya. “berhati-hatilah.” Dan suamiku akan menjawab,”Tidak perlu khawatir.” Ia menyalakan mesin mobilnya, memasang kaset Haydn atau Mozart ke dalam stereo mobil, dan bersenandung riang bersama musik itu. Dua laki-lakiku itu selalu melambai kepadaku pada saat keluar. Tangan mereka bergerak tepat dengan cara yang sama setiap harinya. Hal tersebut hampir terlihat aneh. Mereka menyandarkan kepala tepat di sudut yang sama dan membalikkan telapak tangannya kearahku, menggerakkannya perlahan dari sisi ke sisi dengan cara yang sama, seperti mereka telah dilatih sebelumnya oleh seorang koreografer.
Aku memiliki mobilku sendiri, sebuah Honda Civic bekas. Seorang kawan wanita menjualnya kepadaku dua tahun lalu. Salah satu bempernya ringsek, dan desain bodinya begitu tua, dengan bercak karat. Spidometernya telah melampaui 150 ribu kilometer. Terkadang sebulan sekali atau dua kali mobil itu hampir mustahil dihidupkan. Tetap saja, tak begitu buruk setelah diperbaiki. Jika kau merawatnya layaknya bayi dan mendiamkannya selama 10 menit lebih, mesinnya akan menyala dengan bunyi brumm yang lumayan. Oh, hmm, segalanya—semua orang—sekali atau dua kali sebulan akan memukulnya dengan keras. Itulah hidup. Suamiku memanggil mobilku “keledaimu”. Aku tak peduli. Itulah milikku.
Aku mengendarai Civicku ke pasar swalayan. Setelah berbelanja, aku membersihkan rumah dan mencuci  baju. Lalu aku menyiapkan makan siang. Aku menunjukkan performa tugas pagiku dengan ringkas, gerakan yang efisien. Jika memungkinkan, aku ingin menyelesaikan persiapan makan malam pagi ini juga. Dan siang hari akan menjadi milikku.
Suamiku akan pulang ke rumah untuk makan. Ia tak suka makan di luar. Menurutnya restoran terlalu ramai, makanannya tidak enak, dan bau rokok akan menempel di bajunya. Ia lebih suka makan di rumah, meskipun sedikit lebih jauh. Tetap saja aku tak menyiapkan makan siang yang begitu mewah. Aku akan memanaskan makanan sisa di microwave atau merebus mi instan. Sehingga aku tidak memerlukan persiapan banyak. Dan tentu saja lebih menyenangkan  makan bersama suamiku daripada sendirian dan tak ada siapa pun untuk diajak bicara.
Sebelumnya, pada saat klinik suamiku baru saja dimulai, belum begitu banyak pasien yang datang saat siang sehingga kami, aku dan suamiku, akan menuju ranjang setelah makan. Saat itu adalah yang paling menyenangkan bersamanya. Segalanya terdengar berbisik, dan sinar matahari siang yang lembut memasuki kamar. Waktu itu kami begitu muda dan bahagia.
Kami masih berbahagia tentu saja. Aku benar-benar merasakannya. Tidak ada masalah rumah tangga yang membayangi kami. Aku mencintai dan memercayainya. Dan aku meyakini ia memiliki perasaaan yang sama. Namun sedikit demi sedikit, seraya bulan dan tahun berganti, hidupmu akan berubah. Begitulah. Tidak ada yang bisa kau perbuat. Sekarang jatah siang kami telah direnggut oleh kesibukan. Usai makan siang, suamiku menggosok giginya, tergesa menuju mobilnya dan kembali ke klinik. Gigi-gigi yang sakit sedang menunggunya di klinik. Tapi tak apa. Kami berdua mengerti kamu tak bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan.
Setelah suamiku kembali ke kantornya, aku mengambil pakaian mandi dan handuk dan berkendara menuju klab atletis di lungkungan sekitar. Aku berenang untuk setengah jam. Aku menguras tenagaku. Sebenarnya aku tidak begitu gandrung berenang: aku hanya ingin tidak ada lemak yang menempel. Aku selalu menyukai bentuk tubuhku. Meskipun sebenarnya aku tidak begitu menyukai wajahku sendiri. Tidak buruk, tapi aku tidak pernah benar-benar menyukainya. Tubuhku adalah masalah lain. Aku suka berdiri telanjang di depan kaca. Aku sering mempelajari garis lembut yang kulihat di kaca, vitalitasnya yang seimbang. Aku tidak begitu yakin apa gerangan, tapi aku merasakan sesuatu di dalamnya begitu penting bagiku. Apa pun itu aku tak ingin kehilangannya.
Umurku tiga puluh. Saat kau mencapai tiga puluh kau menyadari itu bukan akhir dunia. Secara khusus aku tidak begitu gembira menjadi tua, tapi segalanya menjadi lebih mudah. Ini adalah pertanyaan terhadap sikap. Yang aku pahami, tentu: kalau wanita berumur tiga puluh mencintai tubuhnya dan secara serius tetap ingin menjaganya tampak bagus, ia harus melakukan usaha-usaha tertentu. Aku mempelajarinya dari ibuku. Ia dahulu adalah wanita yang ramping, cantik, tapi tidak lagi. Aku tak ingin hal yang sama terjadi padaku.
Setelah berenang, aku memanfaatkan waktu siangku dengan berbagai cara. Terkadang aku akan berputar-putar di mal dan toko-toko. Terkadang aku akan langsung pulang ke rumah, meringkuk di atas sofa, dan membaca buku atau mendengarkan radio, atau sekadar beristirahat. Biasanya anakku akan tiba dari sekolahnya. Aku membantunya mengganti seragamnya dengan pakaian bermain, dan memberinya kudapan. Setelah selesai memakan kudapannya ia akan bermain keluar dengan kawannya. Ia terlalu muda untuk pergi ke tempat les, dan kita tidak menyuruhnya mengambil les piano atau semacamnya. “Biarkan ia bermain,” kata suamiku. “Biarkan ia tumbuh secara alami.” Ketika anakku meninggalkan rumah, aku melakukan dialog ringan yang sama kepada anakku sebagaimana selalu kulakukan dengan suamiku. “Hati-hati ya,” kataku, dan ia menjawab, “jangan khawatir.”
Selagi sore merangkak, aku mulai menyiapkan makan malam. Anakku selalu kembali pada pukul enam. Ia menonton kartun di TV. Jika tidak ada pasien gawat darurat, suamiku tiba di rumah sebelum pukul tujuh. Ia tidak suka minum sedikit pun dan tidak begitu suka bersosialisasi tanpa juntrungan. Ia selalu langsung menuju rumah setelah bekerja.
Kami bertiga akan berbincang selama makan malam, kebanyakan tentang kegiatan yang kami lakukan seharian. Anakku yang paling banyak berbicara. Segala yang terjadi dalam hidupnya begitu segar dan penuh misteri. Ia berbicara dan kami mengomentarinya. Usai makan malam ia akan melakukan kegemarannya—menonton televisi atau membaca atau bermain permainan tertentu dengan suamiku. Pada saat ia memiliki tugas sekolah ia akan mengunci dirinya di kamar dan mengerjakannya. Ia beranjak tidur pukul 8.30. Aku mengintipnya dan mengelus rambutnya dan mengatakan selamat malam kepadanya dan mematikan lampu.
Dan inilah saatnya suami dan istri bersama. Ia duduk di sofa, membaca koran dan sesekali berbicara kepadaku tentang pasien-pasiennya atau tentang berita di dalam koran. Lalu ia mendengarkan Haydn atau Mozart. Aku tidak begitu mempermasalahkan mendengarkan musik, tetapi aku sama sekali tidak bisa membedakan antara kedua komposer itu. Terdengar sama saja bagiku. Ketika aku mengatakannya demikian kepada suamiku, ia memberitahu tak ada masalah. “Semuanya terdengar indah. Itu yang terpenting.”
“Seperti kamu,” kataku.
“Seperti aku,” ia mejawab dengan senyum lebar. Ia tampak begitu senang.
Itulah hidupku—hidupku sebelum aku berhenti tidur—setiap harinya benar-benar pengulangan dari hari sebelumnya. Aku terbiasa menulis diari, tapi kalau aku lupa menulisnya untuk dua tiga hari, aku kehilangan jejak tentang apa yang terjadi di hari apa. Kemarin bisa jadi kemarin lusa, atau begitu sebaliknya. Terkadang aku terheran, hidup macam apa yang aku jalani. Tidak pula bisa kukatakan hidupku kosong. Aku sekadar terheran-heran. Pada saat aku kehilangan garis tegas antara hari satu dengan hari lainnya. Pada kenyataannya aku adalah bagian dari hidup yang demikian, hidup yang telah menelanku seluruhnya. Kenyataannya jejak langkahku telah sirna sebelum aku memiliki kesempatan untuk berputar arah dan menyimaknya.
Pada saat aku merasakan hal demikian, aku akan memandangi wajahku di kaca kamar mandi—sekadar memandanginya selama lima belas menit, pikiranku sama sekali kosong. Aku menatap wajahku sebagaimana memandangi sebuah benda fisik, dan secara perlahan aku kehilangan hubungan dengannya, menjadi sekadar sesuatu yang pernah hadir bersamaan diriku hadir. Dan sebuah kesadaran muncul: hal seperti ini terjadi pada saat ini juga. Tak ada hubungannya dengan jejak langkah. Realitas dan aku, mengada secara berkala pada saat ini. Itulah yang terpenting.
Tetapi aku tidak lagi bisa tidur. Ketika aku berhenti tertidur, aku berhenti menulis diari.

Aku mengingatnya dengan kejelasan sempurna saat aku kehilangan kemampuan untuk tidur. Aku mengalami mimpi yang menjijikkan—sebuah mimpi yang gelap dan berlendir. Aku tidak begitu ingat perihal apa mimpi tersebut, tapi aku ingat bagaimana rasanya: tidak menyenangkan dan mengerikan. Aku terbangun saat momen memuncak—benar-benar terjaga dengan sebuah awal, sebagaimana bila sesuatu menyeretku kembali ke dalam momen terakhir dari sebuah titik balik yang fatal. Kalau pada saat itu aku tetap terbenam detik berikutnya, aku akan tersesat selamanya. Setelah aku terbangun, napasku tersengal dengan rasa sakit. Lengan dan kakiku terasa kaku. Aku terbaring lumpuh, mendengarkan hembusan napasku yang memburu, sebagaimana bila aku ditarik merenggang di lantai dalam gua besar.
“Itu hanya mimpi,” aku katakan kepada diriku sendiri, dan aku menunggu hingga napasku menjadi tenang. Terbaring kaku di punggungku, aku merasakan jantungku bekerja secara kasar, paru-paruku memacu darah dengan kontraksi seperti hembusan besar yang lambat. Aku mulai bertanya-tanya pukul berapa sekarang. Aku ingin melihat jam tetapi aku tidak cukup mampu memutar kepalaku. Sesaat setelahnya, aku seperti menangkap kelebatan sesuatu di kaki ranjang, sesuatu seperti bayangan besar yang samar. Aku menghela napas. Jantungku, paru-paruku, segalanya yang berada dalam tubuhku, seperti membeku begitu saja. Aku terpaku melihat bayangan besar itu.
Pada saat aku fokus memandangnya, bayangan itu mulai membentuk wujud nyata, saperti ia telah menungguku untuk menyadari keberadaannya. Garis-garis terluarnya menjadi tegas, dan mulai mewujud sebuah bentuk, dengan rinci. Itu adalah penampakan pria tua suram mengenakan kaus hitam ketat. Rambutnya abu-abu dan pendek, pipinya cekung. Ia berdiri tenang di antara kakiku. Ia tak mengatakan apa pun, namun matanya yang tajam memandangku. Matanya lebar, dan aku dapat melihat jejaring merah di dalamnya. Wajah lelaki tua itu sama sekali tanpa ekspresi. Tak memberitahuku apa-apa. Seperti sebuah permulaan kegelapan.
Aku menyadari ini bukan lagi mimpi. Aku telah terjaga. Tidak hanya terjaga, tetapi mataku terbuka lebar. Tidak, ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan. Dan dalam realitas ini seorang pria tua berdiri di dekat kaki ranjangku. Aku harus melakukan sesuatu—menyalakan lampu, membangunkan suamiku, menjerit. Aku berusaha bergerak. Aku bertarung untuk membuat lambungku bekerja, namun tak berhasil. Aku tidak bisa menggerakan satu jari pun. Ketika segalanya menjadi jelas bahwa aku sama sekali tidak bisa bergerak, diriku dipenuhi ancaman keputusasaan, rasa takut purba yang tak pernah kualami sebelumnya, seperti kengerian yang timbul diam-diam dari dinding masa lalu yang tak berdasar. Aku berusaha menjerit, namun aku tak mampu menghasilkan suara atau bahkan menggerakkan lidah. Semua yang bisa aku lakukan adalah menatap nanar kepada si pria tua.
Sekarang aku melihat ia sedang menggenggam sesuatu—sebuah benda bulat, panjang dan pipih yang bersinar putih. Selagi aku menatap benda tersebut, aku bertanya-tanya apa itu gerangan, bentuknya semakin jelas terlihat sebagaimana bayangan sebelumnya. Sebuah cerek. Setelah beberapa saat, pria itu mengangkat cerek itu dan mulai menuang air yang berada di dalamnya ke permukaan kakiku. Aku tidak bisa merasakan airnya. Aku bisa melihatnya dan mendengar percikannya di permukaan kakiku, namun tak juga aku merasakan apa pun.
Pria tua itu menuang air ke kakiku lagi dan lagi. Aneh—berapa banyak pun ia menuang, cerek itu tak pernah kekeringan. Aku mulai khawatir kakiku akan lapuk dan meleleh. Ya tentu saja kakiku akan lapuk. Apa lagi yang bisa mereka lakukan dengan begitu banyak air seperti itu? Ketika hal tersebut terjadi bahwa kakiku lapuk dan meleleh, aku tak bisa tahan lagi.
Aku memejamkan mata dan mengeluarkan teriakan sekeras mungkin dengan mengerahkan segenap kemampuan jiwa dan ragaku. Namun suara itu tidak pernah keluar, ia justru bergetar tanpa suara di dalam, mencabikku, menghentikan jantungku. Segala yang berada di kepalaku menjadi putih untuk sesaat seraya teriakan itu menekan setiap pembuluhku. Sesuatu di dalam tubuhku mati. Sesuatu meleleh, meninggalkan ruang hampa yang bergetar. Sebuah ledakan cahaya membakar apa pun yang bergantung di tubuhku.
Ketika aku membuka mata, lelaki tua itu lenyap. Cerek itu lenyap. Alas kasurnya kering, dan tak ada pertanda bahwa segala yang berada di sekitar kakiku basah. Namun tubuhku, bersimbah peluh, begitu banyak peluh, lebih banyak keringat dari yang bisa aku bayangkan dapat dihasilkan seorang manusia. Dan lagi, tidak terbantahkan, adalah keringat yang keluar dari tubuhku.
Aku menggerakan satu jari. Lalu yang lainnya, dan sisanya. Berikutnya aku menekuk tanganku dan kemudian kakiku. Aku memutar-mutar pergelengan kaki dan menekuk lututku. Gerakannya tak seperti biasanya, tapi setidaknya ia bergerak. Setelah memeriksa semua bagian tubuhku dapat bekerja, aku menenangkan diriku dalam posisi duduk. Dalam cahaya remang dari lampu jalan yang menembus kamarku, aku memindai sekeliling ruangan dari sudut ke sudut. Sama sekali tidak terlihat ada pria tua.
Jam di dekat bantalku menunjukkan pukul 12.30. Aku hanya tertidur selama satu jam setengah. Suamiku tertidur pulas di ranjangnya. Napasnya sampai tak terdengar. Ia selalu tidur seperti itu, seakan seluruh aktifitas mentalnya dilenyapkan. Hampir tidak ada yang bisa membangunkannya.
Aku beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Aku melempar gaun malamku yang lepek keringat ke dalam mesin cuci dan menyiram tubuhku dengan air. Setelah mengenakan piyama segar aku melangkah ke ruang utama, menyalakan lampu lantai di sebelah sofa, dan duduk di sana meminum segelas penuh brandy. Aku hampir tidak pernah minum. Bukan karena fisikku tidak mengizinkanku untuk minum, sebagaimana suamiku. Kenyataannya dulu aku sering minum, namun setelah menikahinya aku berhenti begitu saja. Terkadang sewaktu aku sulit tidur aku akan sedikit mencecap brandy, namun malam itu aku seperti ingin meminum segelas penuh untuk menghilangkan ketegangan.
Satu-satunya minuman beralkohol di rumah kami adalah Remy Martin yang kami simpan dalam buket. Merupakan pemberian. Aku tak begitu ingat siapa yang telah memberinya, sudah lama sekali. Botolnya sudah tersaput debu. Kami tidak memiliki gelas brandy sesungguhnya sehingga aku menuangkannya begitu saja ke dalam botol air biasa, dan mencecapnya perlahan.
Pasti aku terkena reprep, pikirku. Tak pernah kualami hal semacam itu sebelumnya, tapi aku pernah mendengar tentang kejadian reprep dari teman kampusku yang pernah mengalaminya. Segalanya menjadi terlalu jelas, katanya. Kau tidak akan mempercayai bahwa itu adalah mimpi. “Aku tidak percaya bahwa itu adalah mimpi ketika hal itu terjadi, dan sekarang aku tetap tidak mempercayainya.” Tepat seperti yang aku rasakan. Tentu saja seharusnya itu hanyalah mimpi—sejenis mimpi yang tidak terasa seperti mimpi.
Meskipun ancamannya telah hengkang, gemetar tubuhku tidak juga berhenti. Terasa di kulitku. Seperti getaran air setelah gempa bumi. Aku bisa melihat getaran halusnya. Pekikanku menyebabkannya. Jeritan yang tidak pernah menemukan bentuk suaranya tetap terkunci di tubuhku, membuatnya bergetar.
Aku menutup mata dan kembali menenggak brandy. Rasa hangatnya menyebar dari tenggorokanku ke perutku. Sensasinya terasa begitu nyata.
Aku memikirkan anakku. Jantungku kembali berdebar. Aku tergopoh dari sofa menuju kamarnya. Ia tampak tertidur pulas, satu tangannya menyilang di mulutnya, yang lainnya terlentang, terlihat begitu nyaman dan damai sebagaimana suamiku. Aku meluruskan selimutnya. Apapun itu yang telah memporak-porandakan tidurku, ternyata hanya menimpa diriku seorang. Mereka tidak merasakan apa pun.
Aku kembali ke ruang keluarga dan pikiranku berkelana. Tidak sedikit pun aku merasakan kantuk.
Aku memutuskan untuk menambah brandy-ku. Faktanya, aku kepingin minum alkohol lebih banyak dari itu. Aku kepingin lebih menghangatkan tubuhku, untuk lebih mengendurkan syaraf-syarafku, dan kembali merasakan rasa pahit yang keras itu lagi di mulutku. Setelah beberapa kesangsian, aku memutuskan menolaknya. Aku tidak ingin mulai mabuk-mabukan. Aku meletakkan brandy itu kembali di bufet, membawa gelas ke tempat cucian di dapur dan mencucinya. Aku menemukan beberapa stroberi di kulkas dan memakannya.
Aku merasakan getaran yang ada di kulitku hampir sirna.
Apa dan siapa lelaki tua berbalut hitam itu? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini seumur hidupku. Pakaian hitamnya begitu aneh, seperti pakaian renang ketat, juga begitu kuno. Tidak pernah aku melihat hal semacam itu sebelumnya. Dan mata itu—merah dan tak pernah berkedip. Siapa ia sebenarnya? Kenapa ia menuangkan air ke kakiku? Dan kenapa ia melakukan hal semacam itu?
Aku hanya bisa bertanya dan tak menemukan jawabannya.
Saat temanku terkena reprep itu, ia menghabiskan malamnya  di rumah tunangannya. Selagi ia terbaring tidur, seorang pria pemberang awal lima puluhan mendekatinya dan memerintahnya untuk hengkang dari rumah. Selagi hal tersebut terjadi ia tak bisa bergerak. Dan seperti yang aku alami ia bersimbah peluh. Ia yakin itu adalah hantu ayah tunangannya, yang memerintahkannya untuk pergi dari rumah. Namun ketika ia meminta untuk melihat foto ayah tunangannya keesokan harinya, rautnya sama sekali berbeda. “Aku pasti merasa tegang,” ia menyimpulkan. “Mungkin itu penyebabnya.”
Tapi aku tidak merasa tegang. Dan ini adalah rumahku. Seharusnya tidak ada sesuatu pun yang dapat mengancamku. Kenapa aku jadi terkena reprep.
Aku menggelengkan kepala. Berhenti berpikir, kataku kepada diri sendiri. Tidak ada gunanya. Aku sekadar bermimpi yang begitu nyata, tak lebih. Mungkin saja itu adalah akumulasi rasa lelahku. Permainan tenis yang aku lakukan kemarin lusa pasti jadi penyebabnya. Aku bertemu seorang teman di klab atletis dan ia mengajakku bermain tenis dan aku bermain terlalu menguras tenaga, itu saja. Tentu—untuk beberapa saat, lengan dan kakiku terasa letih dan berat setelahnya.
Setelah aku menghabiskan stroberi, aku merenggangkan badan dan mencoba memejamkan mata.
Aku sama sekali tak mengantuk. Bagus, pikirku. Aku benar-benar tidak ingin tidur.
Aku berpikir untuk membaca buku hingga kelelahan. Aku beranjak ke kamar tidur dan mengambil sebuah novel dari rak buku. Suamiku sama sekali tidak terganggu pada saat aku menyalakan lampu untuk mencarinya. Aku memilih Anna Karenina. Aku sedang mood untuk membaca novel Rusia yang panjang, dan aku hanya pernah membaca Anna Karenina sekali, dulu sekali, mungkin sewaktu sekolah menengah. Aku hanya ingat beberapa hal kecil dari buku tersebut: kalimat pertamanya,”Seluruh keluarga bahagia serupa satu sama lain, setiap keluarga yang tak bahagia, tak bahagia dengan caranya masing-masing,” dan pada akhirnya tokoh perempuannya melemparkan dirinya ke bawah kereta. Dan baris pertama novel tersebut merujuk pada bunuh diri pamungkas itu. Apakah terdapat adegan di pacuan kuda dalam novel tersebut? Atau terdapat di novel lain?
Tidak ada masalah, aku kembali ke sofa dan membuka bukunya. Sepertinya sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak duduk santai dan membaca buku? Betul, dulu aku sering menghabiskan waktu setengah jam atau satu jam waktu privasiku di siang hari dengan buku terbuka. Kegiatan tersebut tidak bisa disebut membaca buku. Aku selalu mendapati diriku memikirkan hal-hal lain—anakku, atau berbelanja, atau pembeku kulkas yang perlu diperbaiki, atau teringat sesuatu yang harus aku pakai untuk pesta pernikahan seorang kerabat, atau operasi perut yang dijalani ayahku bulan lalu. Hal-hal semacam itu membuat pikiranku terhanyut, dan akan tumbuh bercabang menjadi jutaan arah. Setelah beberapa halaman aku menyadari satu-satunya yang hilang adalah waktu, dan aku begitu sulit membalik halaman.
Tanpa sadar, aku menjadi terbiasa dengan gaya hidup tanpa buku. Betapa aneh, sekarang, ketika aku memikirkannya. Membaca telah menjadi pusat hidupku semasa muda. Aku telah membaca setiap buku yang berada di perpustakaan sekolah, dan selalu setiap pilihan kegiatanku jatuh kepada buku. Aku bahkan menyisihkan sebagian uang jajan untuk membeli buku yang ingin aku baca. Dan hal tersebut berlangsung dari sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Tak ada yang membaca buku sebanyak yang aku lakukan. Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan kedua orang tuaku bekerja, sehingga tak ada yang begitu memperhatikanku. Aku bisa membaca sendirian sebanyak yang aku inginkan. Aku selalu mengikuti lomba menulis essai tentang buku sehingga aku bisa memenangkannya dan mendapat sertifikat untuk mendapatkan lebih banyak buku. Dan aku selalu menang. Di universitas aku mengambil jurusan Sastra Inggris dan mendapatkan nilai yang baik. Skripsiku tentang Katherine Mansfield meraih penghormatan tertinggi, dan dosen pembimbingku menyarankanku melanjutkan sekolah ke tingkat selanjutnya. Meskipun aku kepingin keliling dunia, tapi aku mengatahui bahwa aku bukanlah peneliti. Aku sekadar menikmati membaca buku. Dan meskipun aku ingin melanjutkan belajar, keluargaku tidak memiliki finansial yang cukup untuk mengirimku ke sekolah lanjutan. Bukan berarti kami begitu miskin, tapi masih terdapat dua orang adik perempuanku yang masih bersekolah, jadi ketika aku wisuda aku harus menghidupi diriku sendiri.
Kapan aku terakhir membaca buku? Dan buku apa yang aku baca? Aku tidak dapat mengingat apa pun. Kenapa kehidupan seseorang harus benar-benar berubah? Kemana diriku yang dulu pergi, yang terbiasa membaca buku? Apa maksud dari hari-hari tersebut—dan gairah intens yang hampir tidak normal itu bagiku?

Malam itu, aku mendapati diriku membaca Anna Karenina dengan konsentrasi penuh. Aku terus membalik halaman tanpa memikirkan apa pun. Dalam sekali duduk, aku membaca hingga adegan tempat Anna dan Vronsky pertama kali bertemu di stasiun kereta Moscow. Pada titik itu, aku menyelipkan pembatas buku dan menuangkan diriku segelas brandy yang lain.
Meskipun tidak pernah terjadi padaku sebelumnya, aku tidak bisa tahan berpikir betapa aneh novel ini. Kau tak akan bertemu dengan tokoh utama wanitanya hingga Bab 18. Aku penasaran apakah itu tak terlihat biasa bagi pembaca di zaman Tolstoy. Apa yang mereka lakukan ketika buku tersebut berlangsung dengan deskripsi rinci perihal hidup tokoh minor bernama Oblonsky—hanya duduk manis menunggu tokoh perempuan cantik itu muncul? Mungkin seperti itu. Mungkin orang-orang di zaman tersebut memiliki waktu luang berlimpah untuk dibunuh—setidaknya bagi masyarakat pembaca novel.
Dan aku menyadari betapa larut waktu. Pukul tiga pagi! Dan tetap aku tidak tertidur.
Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak merasakan kantuk. Aku berpikir, sebaiknya aku melanjutkan membaca. Aku gandrung untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap ceritanya. Tapi aku harus tidur.
Aku teringat siksaanku dengan insomnia dan bagaimana aku melewati setiap harinya, terkurung dalam awan. Tidak, tak pernah lagi. Waktu itu aku masihlah seorang pelajar. Masih mungkin hal semacam itu dapat terjadi kepadaku. Tapi tidak sekarang, pikirku. Sekarang aku seorang istri. Seorang ibu. Aku memiliki tanggung jawab. Aku harus membuatkan suamiku makan siang dan mengurus anakku.
Bahkan jika aku pergi ke tempat tidur sekarang, aku tahu aku tak akan tidur sepicingan mata pun.
Aku menggelengkan kepala.
Hadapilah, aku sekadar tak mengantuk. Aku mengingatkan diriku dan aku ingin membaca sisa bukunya.
Aku melengos dan mencuri pandang ke arah buku tebal yang terletak di meja. Dan begitulah. Aku tercebur ke dalam Anna Karenina dan tetap membaca hingga matahari muncul. Anna dan Vronsky saling tatap di ruang bola dan jatuh ke dalam cinta yang terkutuk. Anna hancur berkeping ketika Vronsky terjatuh dari kudanya di pacuan (nah, ternyata ada adegan pacuan kudanya!) dan mengakui dosanya kepada suaminya. Aku berada di sana bersama Vronsky ketika ia melecut kudanya melewati rintangan. Aku mendengar kerumunan menyemangatinya. Dan aku berada di sana di stan menyaksikan kudanya tersungkur. Saat jendela perlahan terang dengan cahaya pagi, aku menaruh buku dan beranjak ke dapur membikin segelas kopi. Pikiranku dipenuhi oleh adegan-adegan novel dan dengan rasa lapar yang sangat melupakan pikiran lainnya. Aku memotong dua roti, dan menaburinya dengan mentega dan mastar dan memiliki roti lapis keju.  Serangan rasa laparku hampir tak tertahankan. Betapa jarang aku merasakan rasa lapar demikian. Aku mengalami kesulitan bernapas, aku begitu lapar. Sepotong roti lapis isi tidak membuatku kenyang jadi aku membuatnya kembali, dan kembali membuat kopi.
Kepada suamiku aku tidak mengatakan apa pun, baik itu mengenai reprepku atau malamku tanpa tidur. Tidak juga aku berniat menyembunyikannya darinya. Hanya saja aku beranggapan tidak ada gunanya memberitahunya. Apa bagusnya kalau aku beritahu? Dan selain itu, aku sekadar melewati malam tanpa tidur. Hal-hal semacam itu sering dialami orang.
Aku membuatkan suamiku kopi seperti biasanya dan memberikan anakku segelas susu hangat. Suamiku memakan roti panggangnya dan anakku memakan semangkuk sereal. Suamiku membaca korannya sekilas dan anakku menyenandungkan lagu baru yang baru dipelajarinya di sekolah. Mereka berdua masuk ke Sentra dan berangkat. “Hati-hati,” kataku kepada suami. “Jangan khawatir,” katanya. Mereka berdua melambaikan tangan. Pagi seperti biasa.
Setelah mereka pergi, aku duduk di sofa dan berpikir bagaiamana aku akan menghabiskan hariku. Apa yang harus aku lakukan? Aku beranjak ke dapur untuk memeriksa isi kulkas. Sepertinya aku tak perlu berbelanja. Kami memiliki roti, susu, dan telur, dan ada daging di pendingin. Setumpuk sayur, juga. Segalanya yang aku butuhkan hingga makan siang esok hari.
Aku ada urusan di bank, tapi bukan sesuatu yang harus aku urus segera. Tak akan menyakitkan jika aku sedikit membiarkannya sedikit lebih lama.
Aku kembali ke sofa dan mulai membaca sisa Anna Karenina. Hingga pembacaan itu, aku tidak menyadari betapa sedikit yang aku ingat terhadap apa yang terjadi di dalam buku. Aku tak mendapatkan gambaran apa pun—tokoh, adegan, tidak ada. Aku seperti membaca buku baru sama sekali. Betapa aneh. Aku pasti benar-benar terlibat secara mendalam pada saat pertama kali membacanya, tapi sekarang tak ada yang kuingat. Tanpa sepengetahuanku, kenangan semua yang bergetar, perasaan jengkel, telah lenyap.
Apa kemudian, waktu yang aku habiskan begitu banyak untuk membaca buku ini? Apa artinya?
Aku berhenti membaca dan memikirkannya untuk beberapa saat. Tak ada satu pun yang masuk akal bagiku, meskipun, segera aku kehilangan jejak tentang apa yang aku pikirkan sebelumnya. Aku mendapati diriku sedang terpana memandang pohon yang berdiri di luar jendela. Aku menggelengkan kepala dan kembali membaca buku.
Di pertengahan lebih Bab 3, aku menemukan beberapa remah cokelat yang tersangkut di antara halaman. Aku pasti pernah memakan cokelat dulu pada saat membaca novel ini di bangku sekolah. Dulu aku terbiasa membaca sambil makan. Terpikirkan olehku, aku sudah lama tidak menyentuh cokelat semenjak pernikahanku. Suamiku tidak suka aku memakan yang manis-manis, dan kami hampir tidak pernah memberikannya kepada anak kami. Kami juga tidak biasa menyimpannya di rumah.
Selagi aku memandangi noda cokelat yang telah memutih, lebih dari satu dekade yang lalu, aku berhasrat menginginkan yang sungguhan. Aku kepingin memakan cokelat selagi membaca Anna Karenina, sebagaimana aku lakukan di waktu lampau. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Setiap sel dari tubuhku tampak terengah-engah dengan rasa lapar terhadap cokelat.
Aku memasukkan kardigan melalui pundakku dan menaiki elevator turun. Aku berjalan lurus ke toko permen di sekitar dan membeli dua batang cokelat susu yang terlihat paling manis. Sesegera mungkin aku meninggalkan toko, aku merobek bungkusnya terbuka dan memakannya selagi berjalan pulang. Rasa lezat dari cokelat susu menyebar di mulutku. Aku dapat merasakan rasa manisnya langsung lesap ke dalam setiap bagian tubuhku. Aku melanjutkan makan di elevator, menenggelamkan diriku di dalam aroma luar biasa yang mengisi ruangan kecil ini.
Langsung menuju sofa, aku mulai membaca Anna Karenina dan memakan cokelat. Aku sama sekali tidak mengantuk. Aku juga tidak merasakan kelelahan secara fisik. Aku bisa seperti ini membaca selamanya. Ketika aku menghabiskan batang cokelat pertamaku, aku membuka batang yang kedua dan memakan separuhnya. Sekitar dua pertiga bacaanku di Bab 3, aku melihat jam, tujuh-empat puluh.
Suamiku akan segera pulang. Aku menutup buku dan tergesa ke dapur. Aku mengisi air di dalam pot dan menyalakan gas. Aku mencacah daun bawang dan mengambil segenggam mi gandum dan merebusnya. Selagi airnya memanas, aku mencuci beberapa rumput laut kering, memotongnya, dan memberinya sedikit cuka. Aku mengambil satu balok tahu dari kulkas dan memotong-motongnya menjadi bagian kecil. Pada akhirnya, aku pergi ke kamar mandi, mencuci mulut untuk menghilangkan bau cokelat.
Hampir pada saat yang tepat airnya mendidih, suamiku berjalan masuk. Ia selesai bekerja dan waktunya lebih cepat dibanding biasanya, katanya.
Bersama, kita makan mi gandum, suamiku berbicara tentang perangkat kantor baru yang sedang ia pertimbangka untuk klinik, sebuah mesin yang dapat mengangkat kotoran dari gigi pasien lebih baik dari yang pernah ia gunakan, dan hanya membutuhkan waktu singkat. Sebagaimana semua perlengkapan semacam itu, tentu saja agak mahal, tapi akan terbayar sesegera mungkin. Lebih banyak dan lebih banyak lagi pasien yang akhir-akhir ini datang untuk membersihkan gigi.
“Bagaimana menurutmu?” ia bertanya.
Aku tidak ingin memikirkan flak di gigi orang-orang, dan secara khusus aku tidak ingin mendengarkan atau memikirkan selagi aku makan. Pikiranku dipenuhi gambaran samar Vronsky yang terjatuh dari kuda. Tapi tentu saja aku tidak memberi tahu suamiku. Ia benar-benar serius memikirkan perangkatnya. Aku bertanya harganya dan berpura-pura memikirkannya. “Kenapa tidak beli saja kalau memang butuh?” kataku. “Bagaimana pun akan menghasilkan uang. Lagipula kau tidak menggunakannya untuk bersenang-senang.”
“Betul,” katanya. “Aku tidak mungkin menggunakannya untuk lucu-lucuan.” Lalu ia melanjutkan memakan minya dalam hening.
Bertengger di atas batang pohon di luar jendela, sepasang burung berukuran besar berkicau. Aku melihatnya setengah tersadar. Aku tidak mengantuk. Sama sekali tidak mengantuk. Kenapa tidak?
Seraya membersihkan meja, suamiku duduk di sofa membaca korannya. Anna Karenina terletak di sebelahnya, tapi ia tampak tak menyadarinya. Ia tak begitu berminat apakah aku membaca buku.
Setelah aku selesai mencuci piring, suamiku mengatakan, “Aku punya kejutan menyenangkan. Coba tebak?”
“Aku tidak tahu,” kataku.
“Pasien siangku yang pertama menunda kunjungannya. Aku tidak perlu kembali ke kantor hingga setengah dua.” Ia tersenyum.
Aku tidak dapat memahami bagaimana bisa ini menjadi sebuah kejutan menyenangkan. Aku heran kenapa tidak bisa.
Aku baru menyadarinya ketika suamiku berdiri dan mengajakku ke kamar tidur. Aku sama sekali tidak berhasrat melakukannya. Aku tidak mengerti kenapa aku harus bersetubuh. Semua yang aku inginkan adalah kembali kepada bukuku. Aku ingin merenggangkan diri sendirian di sofa dan mengunyah cokelat selagi membalik halaman Anna Karenina. Sepanjang waktu aku mencuci piring pikiranku hanya dipenuhi Vronsky dan bagaimana pengarang seperti Tolstoy begitu ahli mengatur tokoh-tokohnya. Ia menjabarkan tokoh-tokohnya dengan presisi yang luar biasa. Tapi presisi itu entah bagaimana menolak mereka sebagai pengorbanan. Dan ini akhirnya—
Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening.
“Maaf ya, hari ini aku sedikit pening. Waktunya tidak tepat sekali.”
Aku sering mengalami sakit kepala yang sangat, sehingga ia menerima begitu saja penjelesanku tanpa dumel.
“Sebaiknya  kau berbaring dan beristirahat,” katanya. “Kau bekerja terlalu keras.”
“Tak seburuk itu,” kataku.
Ia bersantai di sofa hingga pukul satu, dan mendengarkan musik dan membaca Koran. Dan ia membicarakan perlengkapan prakteknya lagi. Kamu membawa barang-barang berteknologi tinggi dan akan usang setelah dua-tiga tahun… sehingga kamu harus mengganti segalanya… yang benar-benar menghasilkan uang adalah perusahaan perangkat—obrolan semacam itu. Aku memberikan beberapa anggukan, tapi aku tak terlalu mendengarkan.
Setelah suamiku kembali ke kliniknya, aku lipat koran sisa bacanya dan menepuk-nepuk bantal sofa hingga kembali mengembang. Lalu aku bersandar di mulut jendela, memperhatikan ruangan. Aku tidak bisa memahami apa yang telah terjadi. Kenapa aku tak terkantuk? Hari-hari yang telah lalu, aku terkadang bergadang, tapi tak pernah terjaga selama ini. Biasanya, aku sudah tertidur pulas setelah berjam-jam tidak tidur, jika tidak mengantuk, rasa lelah yang mustahil. Tapi saat ini sama sekali tidak ada rasa kantuk. Pikiranku benar-benar jernih.
Aku melangkah ke dapur dan memanaskan kopi. Aku berpikir, sekarang apa yang harus aku lakukan? Tentu saja aku ingin membaca Anna Karenina, tapi aku juga ingin pergi ke kolam untuk berenang. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku ingin menempa tubuhku dengan melatihnya hingga batasnya. Menempanya—dari apa? Aku menghabiskan beberapa saat untuk merenunginya. Menempanya dengan apa?
Aku tidak tahu.
Tapi hal ini, apa pun itu, sesuatu semacam kabut seperti ini, menggantung di tubuhku seperti semacam potensi tertentu. Aku ingin memberinya nama, tapi kata menolak hadir dari pikiranku. Aku kesulitan mencari kata yang tepat untuk benda-benda. Aku yakin Tolstoy akan mampu mengeluarkan kata-kata yang tepat.
Pada akhirnya aku memasukkan pakaian renangku ke tas, sebagaimana biasa, mengendarai Civic menuju klab atletis. Hanya terdapat dua orang lainnya di kolam—seorang lelaki muda dan wanita paruh baya—tapi aku tidak mengenalya. Seorang penjaga kolam yang tampak bosan sedang bertugas.
Aku mengganti pakaianku, memasang kacamata renang, dan berenang selama tiga puluh menit biasanya. Tapi tiga puluh menit tidak cukup. Aku berenang untuk lima belas menit lagi, memungkasinya dengan mengayuh dengan kecepatan tinggi selama dua kali putaran. Aku kehabisan napas, tapi aku tetap tak merasakan apa pun selain energi yang terus masuk ke dalam tubuhku. Pengunjung lainnya menatapku ketika aku meninggalkan kolam renang.
Saat itu pukul tiga kurang sedikit, aku berkendara menuju bank dan menyelesaikan urusanku. Aku mempertimbangkan untuk berbelanja di supermarket, tapi aku memutuskan untuk langsung menuju rumah. Di sana, di tempat aku meninggalkannya aku memungut Anna Karenina, memakan sisa cokelat. Pada saat anakku kembali pada pukul empat, aku memberinya segelas jus dan beberapa agar-agar buah yang telah kubuat. Lalu aku mulai menyiapkan makan malam. Aku mengeluarkan beberapa daging dari pendingin dan memotong sayuran. Aku membuat kuah miso dan menanak nasi. Aku melakukannya dengan efisiensi mekanis yang mengerikan.
Aku kembali ke Anna Karenina.
Aku tak lelah.

Pada pukul sepuluh, aku beranjak ke ranjang, berpura-pura sedang tertidur di sebelah suamiku. Ia langsung tertidur sesegera mungkin, secepat lampu dimatikan, bagai terdapat koneksi paraler antara lampu dan otaknya.
Mengherankan. Orang semacam itu sungguh langka. Lebih banyak orang-orang yang memiliki permasalahan tidur. Bukan hanya mereka mendapati bahwa mereka sulit untuk tidur, tapi suara dan gerakan seberkas pun akan membuatnya terjaga sepanjang sisa malam.
Tidak suamiku. Sekali  ia tertidur, tak ada yang bisa membangunkannya hingga pagi. Kami baru menikah ketika aku sadari betapa aneh keadaannya. Aku bahkan hingga bereksperimen dengan apa yang dapat membangunkannya. Aku memercikkan air ke wajahnya, dan menggelitik hidungnya dengan sikat—hal-hal semacam itu. Tidak satu pun aku berhasil membangunkannya. Jika aku terus melakukannya aku dapat membuatnya menguap, tapi hanya itu. Dan ia tak pernah bermimpi. Setidaknya ia tak dapat mengingat tentang apa mimpinya. Tak perlu dikatakan lagi, ia tidak pernah mengalami reprepan. Ia hanya tidur. Seperti kura-kura yang terkubur di dalam lumpur.
Mengherankan.  Tapi hal semacam itu membantu rutinitas malamku menjadi cepat.
Setelah sepuluh menit berbaring di sebelahnya, aku akan beranjak dari ranjang. Aku akan pergi ke ruang keluarga, menghidupkan lampu lantai, dan menuang segelas brandy. Lalu aku akan duduk di sofa dan membaca buku, mencecap sedikit brandy dan membiarkan cairan lembutnya mengaliri lidahku. Kapan pun aku merasa menginginkannya, aku akan memakan sepotong kukis atau cokelat yang aku sembunyikan di buket. Setelah sesaat, pagi pun tiba. Ketika itu terjadi, aku akan menutup bukuku dan merebus segelas kopi. Lalu aku akan membuat roti lapis isi dan memakannya.
Hari-hariku menjadi teratur kembali.
Aku akan bergegas mengerjakan pekerjaan rumahku dan menghabiskan sisa pagi dengan membaca. Sebelum siang menjelang aku akan meletakkan buku dan menyiapkan makan siang suamiku. Ketika ia pergi, sebelum pukul satu, aku berkendara ke klab dan berenang. Aku akan berenang selama sejam penuh. Ketika aku berhenti tidur, tiga puluh menit tak pernah cukup. Selagi aku berada di dalam air, aku berkonsentrasi penuh untuk berenang. tak ada yang aku pikirkan selain bagaimana menggerakkan tubuhku seefektif mungkin, dan aku akan menarik napas dan menghembuskan napas dengan keteraturan sempurna. Kalau aku bertemu seorang kenalan, aku tak banyak berkata—sekadar tegur sapa. Aku menolak segala undangan. “Maaf,” akan kukatakan. “Aku langsung ke rumah hari ini. Ada yang perlu aku kerjakan.” Aku tidak ingin terlibat dengan siapa pun. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku dalam gosip berkepanjangan. Ketika aku lelah berenang, yang aku pikirkan hanyalah segera pulang dan membaca.
Aku terus bergerak—berbelanja, memasak, bermain dengan anak, bersetubuh dengan suamiku. Ketika aku terbiasa dengannya, betapa mudah dijalani. Semua yang harus aku lakukan hanyalah memutus koneksi antara pikiranku dan tubuhku. Ketika tubuhku menjalani urusannya, pikiranku akan mengambang di ruang terdalamnya. Aku mengurus rumah tanpa pikiran apa pun di kepala, memberikan kudapan ke anakku, berbincang dengan suami.
Setelah aku menyerah untuk tidur, begitu saja muncul kepadaku, pemahaman, betapa sederhananya kenyataan. Sekadar kenyataan. Sekadar pekerjaan rumah. Sekadar sebuah rumah. Seperti menjalani mesin sederhana. Ketika kau mempelajari menggunakanya, ternyata hanya masalah pengulangan. Kau memencet tombol ini dan menarik tuas ini. Kau menyesuaikan tenaganya, menyalakan lampu, memasang waktu. Hal yang sama berulang kali.
Tentu saja akan ada variasi di sana-sini. Ibu mertuaku makan malam bersama kami. Hari Minggu, kami bertiga pergi ke kebun binatang. Anakku terserang diare.
Tapi tidak ada satu pun dari rutinitas itu yang mempengaruhi keberadaanku. Mereka melewatiku begitu saja seperti angin sepoi yang sunyi. Aku berbincang dengan ibu mertua, membikin makan malam untuk kami berempat, mengambil foto di depan kandang beruang, meletakkan botol berisi air panas di atas perut anakku dan memberinya obat.
Tidak ada yang menyadari bahwa aku telah berubah—bahwa aku telah sepenuhnya menyerah untuk tidur, bahwa aku menggunakan seluruh waktuku untuk membaca—dan ratusan mil—dari realitas. Tak peduli seberapa mekanisnya aku bekerja, tak peduli betapa sedikitnya cinta dan emosi yang aku investasikan untuk menangani realitas, suamiku dan anakku dan ibu mertuaku menganggapku sebagaimana selalu. Jika ada, mereka justru tampak nyaman denganku.
Dan begitulah seminggu berlalu.
Sekali keterjagaan konstanku memasuki minggu keduanya, aku mulai khawatir. Hal ini benar-benar tak normal. Orang-orang pasti tidur. Semua orang tidur. Sekali waktu beberapa tahun lalu, aku pernah membaca tentang sebuah bentuk siksaan di mana korbannya dicegah untuk tidur. Sesuatu yang dilakukan Nazi, aku pikir. Mereka akan mengunci orang tersebut pada ruangan yang sempit, menjaga agar pelupuk matanya tetap terbuka, dan terus menembakkan sinar ke wajahnya dan membikin suara gaduh tanpa henti. Akhirnya, orang itu menjadi gila dan mati.
Aku tak bisa mengingat seberapa lama artikel itu mengatakan untuk mengatur hal gila seperti itu, tapi pasti tidak lebih dari tiga empat hari. Dalam kasusku, sepekan penuh telah berlalu. Ini benar-benar sudah terlalu banyak. Tapi tetap, kesehatanku tak menderita. Lebih dari itu, aku memiliki banyak energi dibanding sebelumnya.
Suatu hari setelah mandi, aku berdiri telanjang di depan kaca. Aku terheran-heran menemukan tubuhku tampil meletup oleh vitalitas. Aku menekuri setiap incinya, dari kepala hingga kaki, tapi aku tak menemukan sedikit pun petunjuk ada daging yang berlebih, tidak sekerut pun. Tentu saja aku tidak lagi memiliki tubuh seorang gadis muda, tapi kulitku jauh lebih bersinar, lebih kencang dari sebelumnya. Aku mencubit sedikit dagingku yang berada di sekitar pinggul dan merasakan kekerasannya, dengan kelenturan yang luar biasa.
Aku sumringah mendapati diriku lebih cantik dari yang aku sadari. Aku tampak lebih muda dari sebelumnya dan hal ini hampir membuatku terkejut. Aku bisa saja melewati umur dua puluh empat. Kulitku begitu lembut. Mataku tampak terang, bibir lembab. Area bayangan yang berada di tulang pipiku (salah satu fitur yang paling aku benci dari diriku) tidak lagi terlihat—sama sekali. Aku duduk dan menatap wajahku di permukaan kaca selama tiga puluh menit yang menyenangkan. Aku mempelajarinya dari segala sisi, secara objektif. Tidak salah lagi: aku begitu cantik.
Apa yang sedang terjadi terhadapku?
Aku bermaksud menemui seorang dokter.
Aku memiliki dokter yang telah menjagaku semenjak aku seorang bocah dan yang membuatku merasa dekat, tapi semakin aku memikirkan bagaimana ia akan bereaksi terhadap ceritaku, semakin enggan aku ingin memberitahunya. Apakah ia akan percaya kata-kataku? Bisa saja ia berpikir aku gila jika aku katakan aku belum tidur selama seminggu. Dan ia akan menganggapnya sebagai salah satu jenis insomnia neurotis. Tapi kalau ia percaya aku mengatakan kebenaran, mungkin saja ia akan mengirimku ke rumah sakit penelitian besar untuk pengecekan.
Dan lalu apa yang akan terjadi?
Aku akan dikunci dan dikirim dari satu lab ke lab lainnya untuk dijadikan bahan eksperimen. Mereka akan melakukan EEG dan EKG dan analisis urin dan darah, dan pemindaian kejiwaan dan yang lainnya.
Aku tidak bisa melakukannya. Aku sekadar ingin tetap seperti ini dan dengan tenang membaca bukuku. Aku menginginkan satu jam berenangku setiap harinya. Aku inginkan kebebasan. Itulah yang aku inginkan lebih dari apa pun. Aku tak ingin pergi ke rumah sakit manapun. Dan, bahkan jika mereka tetap membawaku ke rumah sakit, apa yang akan mereka temukan? Mereka akan lakukan segunung tes dan memformulasikan segunung hipotesis, dan hanya itu. Aku tidak ingin terkunci dalam ruangan seperti itu.
Suatu siang, aku pergi ke perpustakaan dan membaca beberapa buku. Beberapa buku yang dapat aku temukan itu tak memberitahuku banyak. Faktanya, mereka semua hanya punya satu hal untuk disampaikan: bahwa tidur itu beristirahat. Seperti mematikan mesin mobil. Kalau kau terus menghidupkan mesinnya, cepat atau lambat ia akan rusak. Mesin yang bergerak pasti menghasilkan pembakaran, dan akumulasi panasnya membuat letih mesin itu sendiri—itulah, akhirnya, yang disebut tidur. Dalam diri manusia, tidur menyediakan peristirahatan baik untuk tubuh dan jiwa. Ketika seseorang rebah dan mengistirahatkan otot-ototnya, ia perlahan-lahan menutup mata dan memutus proses berpikir. Dan pikiran yang berlebih melepaskan energi listrik dalam bentuk mimpi.
Sebuah buku mejelaskannya dengan mengagumkan. Pengarangnya meyakini bahwa seorang manusia, oleh sifat alamiahnya, tidak memiliki kemampuan untuk melarikan diri dari tujuan istimewa tertentu. Baik dalam proses berpikirnya maupun dalam gerakan tubuh mereka. Orang-orang secara tidak sadar membentuk aksinya dan tujuan pikirannya sendiri, di mana dalam kondisi normal tak akan pernah menghilang. Dengan kata lain, orang-orang hidup di  penjara tujuannya sendiri. Apa yang menggerakan tujuan ini dan menjaganya tetap dalam kondisi—sehingga organisme ini tidak memakai seperti tumit sepatu lakukan, pada sudut tertentu, sebagaimana pengarang itu maksud—tak ada hal lain selain tidur. Tidur secara terapis menentang tujuan pikiran. Dalam tidur, orang-orang secara alami melemaskan otot-otot yang secara konsisten digunakan hanya satu arah; tidur dengan kata lain menenangkan dan menyediakan pemulihan sirkuit pikiran yang telah digunakan dalam satu arah. Beginilah cara orang-orang mendinginkan dirinya. Tidur adalah sebuah aksi yang telah diprogram, dengan karma yang tak terhindarkan, ke dalam kerja manusia, dan tak ada yang dapat menyangkalnya. Kalau seorang manusia menyangkalnya, keadaan dasar manusia itu terancam.
“Maksud?” aku bertanya kepada diriku sendiri.
Satu-satunya tujuan diriku yang dapat aku pikirkan hanyalah pekerjaan rumah—ritme itu yang terus aku jaga dari hari ke hari seperti mesin yang tak berperasaan. Memasak, berbelanja, mencuci dan mengasuh: apa kegiatan tersebut kalau bukan “tujuan”? aku sanggup melakukannya bahkan dengan mata terpejam. Tinggal menekan tombol. Menarik tuasnya, sesegera mungkin, realitas pergi jauh. Gerakan fisik yang sama lagi dan lagi. Tujuan. Mereka mengkonsumsiku, menggunakanku seperti tumit sepatu. Aku perlu tidur untuk mengaturnya dan mendinginkannya.
Apa itu?
Aku kembali membaca artikelnya, dengan konsentrasi penuh. Dan aku mengangguk. Yup, hampir pasti, itulah maksudnya.
Lalu, apa hidupku ini? Perlahan aku dihabiskan oleh tujuanku sendiri dan kemudian tidur untuk memperbaiki kerusakannya. Hidupku tak lebih dari pengulangan dari lingkaran ini. Tidak kemana-mana.
Duduk di meja perpustakaan, aku menggelengkan kepala.
Aku tidak tidur! Dan bagaimana jika aku menjadi gila? Bagaimana kalau aku kehilangan pijakan kedirianku? Aku tidak akan dihabisi oleh tujuanku sendiri. Jika tidur tidak lebih dari perbaikan berkala bagian tubuhku yang telah usang, aku tak lagi menginginkannnya. Aku tidak lagi membutuhkannya. Dagingku mungkin telah terkikis, tapi pikiranku menjadi milikku. Aku akan menjaganya. Aku tidak akan menyerahkannya lagi. Aku tidak ingin disembuhkan. Aku tidak akan tidur.
Aku meninggalkan perpustakaan dengan determinasi baru.
***
Sekarang ketaksanggupan untuk tidur berhenti membuatku ngeri. Apa yang harus ditakutkan? Pikirkan untungnya! Sekarang jam-jam dari mulai pukul sepuluh malam hingga enam pagi menjadi milikku. Hingga sekarang, sepertiga malam telah digunakan untuk tidur. Tapi tidak lagi. Tidak lagi. Sekarang semuanya jadi milikku, milikku, bukan orang lain, semuanya milikku. Aku dapat menggunakan waktu ini dengan cara apa pun yang aku suka. Takkan ada yang menghalangiku. Tidak akan ada yang menuntutku. Tentu. Aku telah memperlebar hidupku. Aku telah meningkatkannya sepertiga.
Kamu mungkin akan memberitahuku bahwa hal ini tak normal secara biologis. Dan mungkin saja kau benar. Mungkin suatu hari di masa depan aku harus membayar hutang yang telah aku bangun dengan melanjutkan ketaknormalan biologis seperti ini. Mungkin hidup akan mencoba mengumpulkan di bagian yang berlebih—keuntungan yang aku bayar saat ini. Ini hipotesis tidak berdasar, tapi tak pula ada dasar untuk menegasinya, dan bagaimanapun ini terasa benar. Yang artinya pada akhirnya, neraca keseimbangan dan waktu yang dipinjam akan habis.
Sejujurnya, aku tak begitu peduli, meskipun aku harus mati muda. Hal terbaik yang harus dilakukan terhadap sebuah hipotesis adalah dengan membiarkannya berjalan. Sekarang, setidaknya, aku memperluas hidupku, dan ini luar biasa. Tanganku tak lagi kosong. Di sinilah aku hidup, dan aku dapat merasakannya. Betapa nyata. Aku tak lagi merasa terkikis. Atau setidaknya ada bagian diriku yang tak terkikis, dan inilah yang memberiku perasaan nyata yang intens dari menjadi hidup. Hidup dari perasaan seperti ini mungkin tak akan berlangsung selamanya, tapi tidak akan berarti sama sekali. Sekarang aku melihatnya dengan kejernihan absolut.
Setelah memeriksa bahwa suamiku tertidur, aku akan pergi duduk ke sofa di ruang tengah, minum brandy sendirian, dan membuka buku. Aku membaca Anna Karenina untuk ketiga kalinya.  Setiap waktunya aku menemukan hal baru. Novel tebal ini penuh dengan wahyu dan pencerahan. Seperti kotak China, dunia dari novel berisi dunia yang lebih kecil lagi, dan di dalamnya masih terdapat dunia yang lebih kecil. Bersama, dunia tersebut menjadi satu kesatuan semesta, dan semesta tersebut menunggu dijelajah oleh pembaca. Aku yang lama sudah sanggup untuk memahami pecahan terkecil darinya, tapi tatapanku dari aku yang baru ini sanggup menekan hingga pengertian sempurna intinya. Aku tahu dengan tepat apa yang ingin disampaikan Tolstoy, apa yang diinginkan pembacanya dapat dari buku; aku dapat melihat bagaimana pesannya secara organis, mengkristal sebagai sebuah novel, dan apa yang berada di dalam novel telah melampaui pengarangnya sendiri.
Tidak peduli seberapa kerasnya aku berkonsentrasi aku tidak pernah lelah. Setelah membaca Anna Karenina sebanyak mungkin yang aku bisa, aku membaca Dostoyevski. Aku dapat membaca dari buku satu ke buku lainnya dengan konsentrasi melimpah dan tak pernah lelah. Aku dapat memahami pesan yang paling sulit tanpa usaha sedikit pun. Dan aku meresponnya dengan perasaan mendalam.
Aku merasa bahwa aku memang dimaksudkan untuk seperti ini. Dengan mengacuhkan tidur aku telah memperluas diriku. Kekuatan untuk konsentrasi adalah yang paling penting. Hidup tanpa kekuatan seperti ini akan seperti membuka mata tanpa melihat apa pun.
Akhirnya, botol brandy-ku habis. Aku telah meminumnya hampir oleh diriku sendiri. Aku pergi ke departemen gormet pada sebuah toko besar untuk membeli sebotol Remy Martin. Selagi aku di sana, aku berpikir, aku mungkin juga perlu membeli sebotol anggur merah. Dan segelas Kristal brandy. Dan cokelat dan kukis.
Terkadang selagi membaca aku akan menjadi terlalu bersemangat. Ketika hal tersebut terjadi, aku akan menaruh bukuku dan melakukan sedikit latihan fisik—melakukan gerak badan atau sekadar berjalan keliling ruangan. Kalau sedang berhasrat aku akan berkendara malam. Aku mengganti baju, mengambil Civic, dan berkendara tanpa juntrungan di sekitar lingkungan sekitar. Terkadang aku akan singgah di restoran cepat saji untuk secangkir kopi, tapi berurusan dengan orang lain begitu mengganggu sehingga aku sering tetap di mobil. Aku berhenti di beberapa titik yang terlihat aman dan membiarkan pikiranku menjelajah. Atau aku akan berkendara sampai pelabuhan dan melihat kapal-kapal.
Satu kali, aku ditegur oleh seorang polisi. Waktu itu pukul dua tiga puluh pagi dan aku parkir di bawah lampu di sekitar dermaga, mendengarkan stereo mobil dan memandang lampu-lampu kapal berlalu. Ia mengetuk kaca mobil, aku menurunkan kacanya. Ia muda dan tampan, dan sangat sopan. Aku menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak bisa tidur. Ia menanyai lisensi berkendaraku dan menekurinya sebentar. “Ada pembunuhan di sini bulan lalu,” katanya. “Tiga orang menyerang sepasang pemuda. Mereka membunuh prianya dan memperkosa wanitanya.” Aku teringat pernah membaca artikel tentang itu. Aku mengangguk. “Kalau tidak ada urusan apa pun di sini, bu, kamu lebih baik tidak berada di sekitar sini.” Aku berterima kasih dan mengatakan akan pergi. Ia mengembalikan lisensiku. Aku menghidupkan mobil.
Itu sekali waktu seseorang berbicara kepadaku. Biasanya, aku akan berputar-putar melewati jalan-jalan untuk sejam lebih dan tidak ada yang akan mengganggu. Lalu aku akan parkir di garasi bawah tanah. Tepat di sebelah Sintra putih suamiku; ia di atas, tidur nyenyak di dalam kegelapan. Aku mendengarkan gemeretak mesin panas yang sedang mendingin, dan ketika suaranya mati, aku pergi ke atas.
Hal pertama yang aku lakukan begitu sampai di dalam adalah memastikan suamiku masih tertidur. Dan ia selalu tertidur. Lalu aku memeriksa kamar anakku, yang juga selalu tertidur nyenyak. Mereka tak tahu apa pun. Mereka meyakini dunia sebagaimana biasanya, tak pernah berubah. Tapi mereka salah. Dunia berubah dalam keadaan yang sama sekali tak mereka kira. Banyak berubah. Tidak akan sama lagi.
Suatu waktu, aku berdiri dan memandangi wajah suamiku yang tertidur. Aku mendengar suara gaduh di dalam kamar tidur. Jam waker berada di lantai. Ia mungkin tak sengaja menendangnya selagi tidur. Tapi ia tertidur senyenyak biasanya, sama sekali tidak menyadari yang telah dilakukannya. Apa yang bisa membangunkan pria ini? Aku memungut jam itu dan meletakkannya kembali di meja malam. Lalu aku melipat tanganku dan menatap suamiku. Sudah berapa lama—tahunan kah?—semenjak terakhir kali aku menekuri wajahnya yang tertidur?
Aku sering melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan kami. Menatap wajahnya membuatku nyaman dan berada dalam suasana damai. Aku akan aman selama ia tetap tertidur damai seperti itu, kataku kepada diri sendiri. Itulah, sebanyak aku menghabiskan waktu memandang wajahnya yang tertidur seperti ini.
Tapi entah semenjak kapan, aku tak lagi melanjutkan kebiasan ini. Kapan aku berhenti melakukannya? Aku mencoba mengingat. Mungkin terjadi pada saat ibu mertuaku dan aku dalam keadaan cekcok untuk memberi nama anakku. Dia adalah orang yang menjalankan agama secara fanatik, dan telah bertanya kepada pendetanya untuk memberi nama kepada bayiku. Aku tidak begitu ingat nama yang diberikannya, tapi aku tak bermaksud membiarkan pendeta apa pun memberi nama anakku. Kami bertengkar cukup sengit pada saat itu, tapi suamiku tak dapat mengatakan apa pun kepada kami berdua. Ia hanya berdiri dan coba menenangkan kami.
Setelah itu aku kehilangan perasaan bahwa suamiku adalah pelindungku. Sesuatu yang aku inginkan ada di suamiku telah gagal ia berikan. Semua yang ia lakukan hanya membuatku berang. Ini terjadi sudah lama sekali tentu saja. Ibu mertuaku dan diriku juga sudah berbaikan lama. Aku memberikan nama putraku apa yang aku ingin berikan kepadanya. Aku dan suamiku juga berbaikan dengan segera.
Aku benar-benar yakin saat itu adalah akhir aku memandang wajahnya di kala tidur.
Jadi di sini aku berdiri memandangi tidurnya senyenyak biasanya. Satu kakinya yang terbuka tersangkut di bawah selimut dalam posisi yang ganjil—begitu aneh sehingga kaki itu tampak seperti milik orang lain. Kaki itu begitu gempal dan besar. Mulut suamiku menganga, bibir bawahnya terjuntai. Sesekali hidungnya akan mengempis. Ada tai lalat di bawah matanya yang menggangguku. Begitu besar dan mencolok. Ada yang mencolok dari cara matanya terpejam, kelopak matanya kendur, dan ditutupi oleh daging manusia. Ia terlihat begitu dungu. Inilah apa yang mereka sebut “mati kepada dunia.” Benar-benar buruk rupa! Ia tertidur dengan wajah buruk seperti itu! Terlalu menjijikan, kupikir. Dahulu ia tak mungkin seperti ini. Aku yakin ia memiliki wajah yang jauh lebih baik pada saat pertama kali kami menikah, wajah yang kencang dan waspada. Bahkan pada saat tertidur nyenyak, wajahnya tak mungkin bergumpal seperti itu.
Aku mencoba mengingat bagaimana bentuk wajah tidurnya waktu itu, tapi aku tidak dapat mengingatnya, meskipun berusaha keras. Semua yang aku yakini adalah ia tidak mungkin memiliki wajah mengerikan seperti ini. Atau aku hanya menipu diriku sendiri? Mungkin ia memang selalu terlihat seperti ini di dalam tidurnya dan aku sedang dimanjakan oleh proyeksi emosi tertentu. Aku yakin itulah yang akan dikatakan ibuku. Pemikiran semacam itu adalah keahliannya. “Kasmaran hanya berlangsung dua tahun—paling lama tiga tahun,” ia selalu bersitegang. “Kau adalah pengantin baru,” aku yakin ia akan berkata kepadaku seperti itu sekarang. “Tentu saja suami kecilmu akan terlihat tampan dalam tidurnya.”
Aku yakin ia akan mengatakannya demikian, tapi aku juga yakin ia salah mengira. Ia bertambah jelek dari tahun ke tahun. Ketegasan telah lama hengkang dari wajahnya. Begitulah tumbuh menjadi tua. Ia sekarang tampak tua dan lelah. Menua. Ia mungkin akan bertambah buruk bertahun-tahun kemudian, tentu saja. Dan aku tak punya pilihan lain selain menyesuaikan diri.
Aku melenguh seraya berdiri di sana, lenguhan yang panjang, dan berisik, tapi tentu saja ia tak terganggu sedikit pun. Lenguhan terkeras di dunia tidak akan bisa membangunkannya.
Aku meninggalkan kamar tidur dan berjalan menuju ruang utama. Aku menuangkan diriku brandy dan mulai membaca. Tapi ada sesuatu yang tak mengizinkanku berkonsentrasi. Aku meletakkan buku dan berjalan menuju kamar putraku. Membuka pintu, aku menatap wajahnya di antara cahaya yang masuk dari koridor. Ia tertidur senyenyak yang dilakukan suamiku. Sebagaimana biasa. Aku memandanginya dalam tidurnya, melihat wajahnya yang lembut dan hampir tak memiliki garis tegas. Wajahnya berbeda dari wajah suamiku: wajahnya tetap wajah seorang bocah, tentu saja. Kulitnya tetap bercahaya: tak ada yang seronok dari kelihatannya.
Dan masih saja, sesuatu tentang wajah anakku menggangguku. Aku sama sekali tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Apa yang membuatku seperti ini? Aku berdiri di sana, menatap, dengan lengan terlipat. Tentu saja aku mencintai anakku, mencintainya dengan berlimpah. Tapi tetap tak disangkal lagi, ada sesuatu yang menggangguku, membuatku kesal.
Aku menggelengkan kepala.
Aku menutup mataku dan terus terpejam seperti itu. Lalu aku membukanya dan menatap wajah anakku kembali. Lalu hal tersebut menyerangku. Apa yang menggangguku terhadap wajah tidur anakku adalah wajah itu terlihat begitu mirip dengan wajah suamiku. Dan terlihat persis seperti wajah ibu mertuaku. Keras kepala, puas diri. Hal itu mengalir dalam darah mereka—sejenis arogansi yang aku benci dari keluarga suamiku. Tentu, suamiku baik untukku. Ia manis dan lembut dan kehati-hatiannya terhadap perasaanku juga. Ia tak pernah bermain-main dengan wanita lain, dan ia pekerja keras. Ia serius dan baik kepada semua orang. Semua temanku mengatakan betapa beruntungnya aku memilikinya. Dan aku tidak dapat menyalahkannya. Yang tentu saja terkadang membuatku getir. Kesalahannya yang hampir tidak ada membuat kekakuan yang aneh, di luar imajinasi. Itu juga membuatku jengkel.
Dan ekspresi seperti itu pulalah yang dimiliki anakku di wajahnya yang tertidur.
Aku kembali menggeleng. Bocah kecil ini benar-benar asing bagiku. Bahkan ketika ia tumbuh besar, ia tak pernah bisa memahamiku, persis sebagaimana suamiku sulit memahami perasaanku sekarang.
Aku mencintai anakku, tak dapat dipertanyakan lagi. Tapi aku merasakan suatu hari aku tidak lagi dapat menyayangi anakku dengan intensitas yang sama. Bukan pikiran keibuan tentu. Sebagian besar ibu tidak akan pernah berpikir seperti itu. Tapi selagi aku berdiri di sini memandanginya tertidur, aku mengetahui belaka bahwa suatu hari aku akan memandang rendah kepadanya.
Pikiran semacam itu membuatku begitu sedih. Aku menutup pintunya dan mematikan lampu koridor. Aku berjalan menuju sofa ruang utama, duduk, dan membuka bukuku. setelah membaca beberapa halaman, aku menutupnya lagi.  Aku menatap jam. Pukul tiga kurang.
Aku termenung beberapa hari semenjak aku berhenti tidur. Keterjagaan ini dimulai sebelum Rabu berakhir. Yang membuatnya menjadi hari ketujuhbelas. Tidak sekejap tidur pun semenjak tujuh belas hari lalu. Tujuh belas hari dan tujuh belas malam. Aku bahkan tidak dapat mengingat bagaimana rasanya tidur.
Aku memejamkan mata dan mencoba mengingat sensasi tidur, tapi yang hadir di dalam diriku adalah kegelapan terbangun. Kegelapan penuh keterjagaan: yang muncul dipikiranku adalah kematian.
Apakah aku akan mati?
Dan jika aku mati sekarang, sudah sampai mana pencapaian hidupku?
Tak mungkin aku sanggup menjawabnya.
Baiklah, apa itu kematian?
Hingga saat ini, aku membayangkan tidur sebagai sejenis kematian. Aku membayangkan kematian sebagai perpanjangan tidur. Keadaan tidur yang jauh lebih dalam dibanding tidur biasa. Tidur yang meniadakan semua kesadaran. Istirahat abadi. Kegelapan total.
Sekarang aku terheran-heran apakah aku salah. Bisa saja kematian merupakan keadaan yang seluruhnya tak sama dengan tidur, suatu kategori yang berbeda sama sekali—seperti keterjagaan penuh kegelapan yang dalam dan tak berujung, yang aku lihat sekarang.
Tidak, itu menjadi terlalu mengerikan. Jika keadaan mati bukanlah istirahat bagi kita, lalu apa yang akan menebus kehidupan yang tak sempurna kita, yang penuh kepenatan? Akhirnya tidak ada yang mengetahui apa itu kematian. Siapa yang benar-benar pernah melihatnya? Tidak satu pun. Kecuali orang yang telah mati. Tidak ada makhluk hidup yang mengetahui apa itu kematian. Mereka hanya bisa menerka-nerka. Dan terkaan terbaik tetap saja sebuah terkaan. Mungkin kematian adalah sejenis istirah, tapi logika tidak bisa memahaminya. Satu-satunya cara untuk mencari tahu apa itu kematian adalah dengan mati. Kematian bisa jadi segalanya.
Teror yang intens memenuhiku saat memikirkannya. Bulu kudukku merinding. Mataku tetap tertutup rapat. Aku kehilangan kuasa untuk membukanya. Aku menatap kegelapan tebal yang tertanam di hadapanku, sebuah kegelapan yang dalam dan tanpa harapan seperti semesta ini sendiri. Aku merasa sendirian. Pikiranku dalam konsentrasi yang dalam dan terus bertambah. Kalau aku menginginkannya, aku bisa melihat di kedalaman yang sangat dari alam semesta. Tapi aku memutuskan untuk tidak melihatnya. Terlalu cepat untuk itu.
Kalau kematian seperti ini, kalau kematian berarti terjaga secara abadi dan menatap kegelapan seperti ini, apa yang dapat aku lakukan?
Setidaknya aku membayangkan membuka mataku. Aku menenggak brandy yang tersisa di gelasku.
Aku menanggalkan piyama dan mengenakan jins, kaus oblong, dan jaket. Aku mengikat rambutku ke belakang menjadi ekor kuda yang erat, menyembunyikannya di balik jaket, dan memasang topi baseball milik suamiku. Di kaca, aku terlihat seperti seorang bocah. Bagus. Aku memasang sepatu dan turun menuju garasi.
Aku melesat di belakang kemudi, memutar kunci, dan mendengarkan deru suara mesin. Terdengar normal. Tangan di setiran, aku mengambil beberapa kali napas panjang. Aku menarik kopling dan mengendarainya keluar gedung. Mobilnya berjalan lebih baik dari biasanya, terlihat seperti berseluncur di atas lembaran es. Dengan mudah aku mengganti koplingnya, meninggalkan lingkungan dan memasuki jalan tol ke Yokohama.
Ini masih pukul tiga di pagi hari, tapi jumlah mobil di jalan masih sedikit. Truk besar berlalu, membikin bumi bergetar selagi ia menuju timur. Orang-orang itu tidak tidur saat malam. Mereka tidur pada siang hari dan bekerja pada malam hari untuk efisiensi lebih.
Sia-sia saja. Aku dapat bekerja siang dan malam. Aku tak harus tidur.
Keadaan biologis yang tak alami ini, maksudku, tapi siapa yang benar-benar peduli apa itu alami? Mereka menyimpulkannya dengan induktif. Aku lebih dari itu. A priori. Sebuah lompatan evolusi. Seorang wanita yang tidak perlu tidur. Perluasan kesadaran.
Aku harus tersenyum. A priori. Lompatan evolusi.
Mendengarkan radio mobil aku berkendara menuju pelabuhan. Aku ingin mendengarkan musik klasik, tapi aku tidak dapat menemukan stasiun radio yang menyiarkannya pada malam hari. Music rock jepang bodoh. Lagu-lagu cinta yang terlalu manis untuk mengeroposkan gigimu. Aku menyerah untuk mencari dan mendengarkannya. Mereka membuatku berada di tempat yang jauh, lebih jauh dari Mozart dan Haydn.
Aku memasuki sebuah tempat parkir yang luas di hadapan taman air mancur dan mematikan mesin. Tempat ini merupakan area yang paling terang, di bawah lampu penerangan, yang terbuka lebar sepanjang malam. Hanya satu mobil yang terparkir di sini—sebuah mobil tua putih, dua pintu seperti jenis yang sering digunakan anak muda. Mungkin saja ada sepasang anak muda di sana, bercinta—tidak memiliki uang untuk kamar hotel. Untuk menghindari masalah, aku menarik topiku rendah, mencoba agar tidak terlihat seperti wanita. Aku memeriksa seluruh pintuku, masih tertutup.
Setengah sadar, aku membiarkan mataku menjelajahi kegelapan di sekeliling, dan tiba-tiba aku terkenang sebuah perjalanan dengan mantan pacarku pada tahun pertama kuliahku. Kita parkir dan bercumbu dengan dahysat. Ia tidak bisa berhenti, katanya, dan ia memintaku untuk mengizinkannya memasukiku. Tapi aku menolak. Kedua tangan berada di stir, mendengarkan musik, aku kembali mencoba mengingat adegannya, tapi aku tidak dapat mengingat wajahnya. Sepertinya semua sudah terjadi lama sekali.
Semua kenangan yang aku miliki sebelum aku berhenti tidur seperti menjauh dengan kecepatan tinggi. Terasa aneh, seperti kalau aku yang dahulu terbiasa tidur setiap malam, bukanlah diriku sesungguhnya, dan kenangan yang aku miliki sebelum itu tidak benar-benar milikku. Beginilah orang-orang berubah. Tapi tidak ada orang yang menyadarinya. Tidak ada yang memerhatikannya. Hanya aku yang tahu apa yang terjadi. Aku dapat mencoba memberitahu mereka, tapi mereka tidak akan mengerti. Mereka tidak akan percaya. Atau kalau mereka percaya, mereka sama sekali tidak dapat merasakan apa yang aku rasakan. Mereka hanya akan melihatku sebagai sebuah ancaman dari pandangan dunia mereka yang induktif.
Aku berubah. Benar-benar berubah.
Berapa lama aku duduk di sini? Tangan bersandar di stir. Mata tertutup. Menatap ke dalam kegelapan yang tidak tertidur.
Tiba-tiba aku menyadari keberadaan manusia, dan aku mendapati diriku kembali. Ada seseorang di luar sana. Aku membuka mataku dan melihat sekeliling. Seseorang sedang berada di luar mobil. Mencoba untuk membuka pintu. Tapi pintu terkunci. Bayangan gelap di kedua sisi mobil, di masing-masing pintu. Tidak bisa melihat wajah mereka. Tidak bisa memastikan pakaian mereka. Hanya dua bayangan gelap, berdiri di sana.
Terhimpit di antara mereka, Civicku terasa mungil—seperti kotak pastry kecil. Mereka coba membongkar dari masing-masing sisi. Sebuah tinju dipukulkan di sisi kanan jendela. Aku tahu mereka bukan polisi. Seorang polisi tidak akan menghantam jendela seperti itu dan tidak akan pernah mengguncang mobilku. Aku menahan napas. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa berpikir lurus. Ketiakku berkeringat. Aku harus keluar dari sini. Kuncinya. Putar kuncinya. Aku menjangkau kunci dan memutarnya ke kanan. Starternya menyala.
Mesinnya tidak dapat hidup. Tanganku gemetar. Aku menutup mata dan memutar kuncinya lagi. Ini tidak baik. Sebuah suara seperti kuku-kuku yang mencakar dinding besar. Mesinnya berputar dan berputar. Orang-orang itu—bayangan gelap itu—tetap mengguncang mobilku. Goyangannya semakin besar dan besar. Mereka hendak menjatuhkanku.
Ada yang salah, tenanglah dan berpikir, dan segalanya akan baik-baik saja. Berpikirlah. Berpikir. Perlahan. Hati-hati. Ada sesuatu yang salah.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Tapi apa? Aku tidak tahu. Pikiranku kelu penuh oleh kegelapan yang tebal. Ini tidak akan membuatku kemana-mana. Tanganku gemetar. Aku mencoba menarik kunci dan memasukkannya lagi. Tapi tanganku yang gemetaran tidak dapat menemukan kuncinya. Aku mencoba lagi dan menjatuhkan kuncinya. Aku merunduk dan berusaha menjangkaunya. Tapi aku tidak dapat meraihnya. Mobil ini terguncang ke belakang dan ke depan. Kepalaku menghantam stir.
Aku tidak akan pernah meraih kunci. Aku terjatuh menghadap bangku, menutup wajahku dengan tangan. Aku menangis. Semua yang aku bisa hanya menangis. Air mataku terus mengalir. Terkunci di ruangan sempit ini, aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Ini tengah malam. Orang-orang itu terus mengguncang mobil ke depan dan ke belakang. Mereka hendak membaliknya. 

--diterjemahkan dengan bebas oleh Hizbul Ridho dari terjemahan bahasa Inggris oleh Jay Rubin




Tidak ada komentar:

Posting Komentar