Minggu, 23 Agustus 2020

Proses Kreatif Seorang Pengarang Muda










Igi Sentosa kembali ke realitas, setelah tenggelam dalam fantasinya, di antara tumpukan buku klasik dan kontemporer berdebu dan naskah-naskah cerita gagal, pada hari pertama pensiun ayahnya, Budi Sentosa. Mantan walikota itu menggelar kenduri pencapaiannya dalam hidup dengan mengundang rombongan pasar malam selama seminggu, organ tunggal semalam suntuk, pembagian sembako gratis kepada tiga ribu warga miskin yang berujung kericuhan kecil dan menewaskan tiga orang jompo.

Di lantai tiga rumah megah itu, yang adalah tiruan taman gantung Babilonia, Budi Sentosa berpidato di hadapan istrinya dan dua anaknya yang lain, di depan tamu undangan baik politikus pendukungnya maupun rival, pengusaha, purnawirawan, pendekar, dan sedikit orang yang merangkap politikus, pengusaha, purnawirawan sekaligus. Budi membayangkan kenduri ini semacam epilog obituarium pemakamannya kelak, dengan keramaian yang mengantar jenazahnya, dimakamkan di antara pahlaman kemerdekaan, tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh penting.

“Aku membayangkan kematianku akan semeriah ini. Tak ada lagi antagonisme. Baik kawan maupun lawan berkumpul dan mengadakan pencapaian yang sama. Si kaya mengayomi si miskin. Dan setiap hari adalah perayaan,” kata Budi Sentosa menutup pidatonya di depan khalayak yang disambut dengan tepuk tangan berdiri, siul-siul iseng, dan puji-pujian namanya.

Tak jauh dari taman gantung itu, di dalam kamarnya Igi Sentosa dapat mendengar pidato ayahnya yang dibawa oleh angin kering melalui jendela terbuka. Ia mencatat setiap kata yang dilontarkan ayahnya dan terinspirasi, semacam ephipany samar untuk menulis cerita lainnya. Kisah-kisah yang selama ini ia tulis selalu berakhir di keranjang sampah. Ia kesal setengah mati sebab tak menemukan suara yang tepat untuk menuangkan idenya. Ia hanya merasa dunia rekaannya begitu jauh: patung yang menangis, ikan aquarium yang berbicara, ratusan merpati yang menabrak kaca jendela.

Budi Sentosa undur dari jabatan walikota pada saat ia berada di puncak capaian politik, setelah mendadak demam ringan dan dilarikan ke rumah sakit. Berdasar diagnosa, seorang dokter meramal umurnya tak akan lebih dari lima puluh tahun. Saat itu Budi secara senyap diintai tujuh penyebab serangan jantung, dapat berujung komplikasi dan pecahnya pembuluh arteri. Dokter menyarankannya untuk menjauhkan diri dari pikiran-pikiran yang serius dan tujuh kenikmatan dunia yang menggerogoti tubuh dan jiwanya.

Usai perayaan berlebihan itu, Budi Sentosa untuk pertama kalinya merasakan kemerdekaan berkumpul dengan keluarganya di ruang utama, di hadapan televisi layar datar memenuhi separuh dinding kedap suara, dan buah-buahan tropis yang selalu tersedia. Ia memandangi sepasang anaknya yang memantulkan cerminan dirinya dan istrinya selagi muda, mendadak terserang nostalgia. Betapa cepat berlalunya waktu, pikirnya.

Budi Sentosa adalah sosok yang telah menyusuri berbagai arus pemikiran. Darah bangsawan yang mengaliri pembuluh nadinya mengantarnya dengan mulus hingga meraih tujuh kenikmatan dunia yang tak akan pernah diraih orang kebanyakan. Ia menjadi seorang pemuda yang mencintai sosialisme, membaca kitab-kitab marxisme sebatas kulit dan menjadi salah satu aktivis barisan depan demonstran yang bersuara lantang menentang kediktatoran Sang Jenderal Besar, mendesak konstitusi negara diamandemen dari demokrasi palsu totalitarian menjadi sosialisme yang menebarkan kesejahteraan sampai ke penduduk buta huruf di pelosok. Pada tahun ketujuh sebelum ia terancam gagal kuliah, Budi menyelesaikan skripsi tebal berhasil pujian, bergabung dengan partai politik berlambang akasia, dan berjanji mewujudkan cita-cita besarnya itu. Pada tahun itu juga ia menikahi Centini, kembang desa yang ia taksir semenjak bocah, dan di tahun-tahun berikutnya dikaruniai sepasang bayi tampan dan cantik. Di tengah jalan karir politiknya, seperti kebanyakan aktivis yang menjadi politikus masa itu, ia terserang wabah amnesia dan menjadi salah satu politikus muda yang mendukung perubahan undang-undang tata kelola minyak dan gas untuk privatisasi. Pada saat itulah ia mendapat kesadaran baru dan menjadi seorang liberal. Menurutnya hanya liberalisme yang dapat membebaskan kemiskinan akut rakyat miskin. Budi terpilih menjadi anggota dewan dan ikut andil dalam proyek pembangunan kilang gas alam cair di konstituennya. Di ujung periode keduanya menjadi anggota dewan ia mendapatkan dana besar untuk maju pada pemilihan walikota, dan sudah diduga berhasil meraih kemenangan. Berhasil mempertahankan kekuasaanya pada pemilu kedua merubahnya menjadi seorang konservatif. Pada saat itu ia mendapat pujian atas berubahnya wajah kota menjadi lebih modern dan kenes, meskipun desa-desa di sekelilingnya tak pernah berubah semenjak berabad-abad lalu. Pada puncak pencapaiannya itulah, ia terserang demam ringan, dan dari hasil diagnosa dokter, umurnya tak akan sampai separuh abad. Kebiasaannya seperti menghisap cerutu tanpa putus, melahap gulai babat, tengkleng kambing dan steak sapi asap tanpa kenal waktu, tak pernah berolahraga, perlahan membikinnya diintai penyakit dari empat penjuru, yang dapat berujung serangan jantung koroner.

Pada saat ia melihat cerminan dirinya pada Raja Bumi Sentosa, Budi Sentosa dapat merelakan jabatannya, dan ia mendapatkan ide mensuksesi anak sulungnya untuk maju pada pemilihan walikota berikutnya.

Selama seminggu Budi coba mendalami anak sulungnya, ia berkesimpulan Raja Bumi hanya memiliki sifat petualang, penakluk dan abai alamiah. Anaknya itu hanya mewarisi ketampanan masa mudanya tanpa sedikit pun sifat kepemimpinan dan siasat. Raja Bumi dilahirkan pada saat Budi adalah seorang sosialis, tapi kehidupan keluarga itu tetap liberal bahkan setelah Budi menjadi konservatif. Raja Bumi menjalani masa mudanya dengan menaklukkan puncak-puncak gunung yang tersebar di penjuru Nusantara, dan meniduri setiap gadis yang ditemuinya di kota. Ia bahkan tidak bisa menghitung adakah perawan kota yang belum pernah berakhir seranjang dengannya.

Budi Sentosa terbaring di ranjang awannya, dalam selimut beludru, memikirkan anak sulungnya itu. Di sebelahnya adalah Centini Sentosa, tampak seperti paus terdampar yang dehidrasi. Budi terperangah memandang istrinya, nyaris tak ada keindahan yang tersisa dari istrinya selain polesan kosmetik yang gagal menipu waktu. Di saat ia masih merenungi anak sulungnya, dengan satu tarikan napas, istrinya mencerocos tanpa jeda perihal hari-hari yang lewat di rumah tanpa dirinya. Budi tak menemukan lagi keelokan tutur kata dimiliki perempuan yang kecantikannya melulur itu.

“Dengarkan aku, Cinta!” kata Budi mengelus tengkuk istrinya seperti upaya menjinakkan binatang buas.

“Iya Sayangku,” kata Centini melembut, mengambil napas.

“Raja memiliki ketampanan aktor laga dan aku hanya perlu satu bulan untuk menggosok cara bicaranya dan mengajarinya pidato-pidato pencuri simpati rakyat.”

“Okay Sayang. Asal itu enggak mengganggu kesehatanmu.”


Minggu siang yang kering itu untuk pertamakalinya keluarga Sentosa berkumpul bersama. Igi juga hadir di sana setelah dibujuk dengan susah payah oleh Centini. Budi terkejut mendapati anggota keluarga yang belum pernah dilihatnya duduk di antara mereka di meja makan. Ia tak pernah ingat pernah memiliki anak ketiga, dan wajah Igi sama sekali tak mirip siapa pun dalam keluarga itu. “Tuhan selalu membuat kejutan tak terduga,” kata Budi kepada keluarganya.

Igi memandang satu per satu wajah setiap anggota keluarga dan mencoba mengidentifikasi diri dengan mereka. Ini pertama kalinya ia bertatap muka dengan ayahnya, sebelumnya ia hanya mengenal ayahnya melalui kliping-kliping koran tentang proyek siluman yang menyeret namanya tapi tak pernah menyentuhnya. Budi menanam benih Igi dalam euforia kemenangannya menjadi anggota dewan, dan Centini melahirkannya pada saat anggota dewan itu sedang sibuk dengan rapat-rapat perubahan undang-undang yang membatasi gerak pemodal asing. Centini sendiri hanya menyusui Igi sebulan masa persalinannya dan setelah itu anak bungsunya itu diserahkan sepenuhnya kepada susu sapi dan pengasuh. Satu-satunya manusia yang membuat Igi merasa memiliki dan kehilangan adalah kakak perempuannya, Jinniah Sentosa. Naluri keibuan yang datang terlalu dini menjadikan Jinniah seorang ibu, kakak dan kekasih satu-satunya bagi Igi. Ialah yang merebut Igi balita dari pengasuh yang tak acuh merawat, coba menyusui adiknya itu seakan anaknya sendiri, mengajaknya mandi bersama seperti sepasang kekasih, hingga Igi tumbuh dengan paru-paru terinfeksi racun aroma mawar tubuh wanita. Ketika Jinniah penuh merekah dan menghasratkan anak dari rahimnya sendiri, ia hilang dari keseharian Igi, lebih banyak menghabiskan waktu melompat-lompat dari mal satu ke mal lain, pesta satu ke pesta lain, mencari pangeran berkuda putih. Jinniah yang pertama mengajari Igi tentang patah hati. Dan obsesi mencari perhatian Jinniah membuat Igi coba menirukan abangnya, Raja Bumi. Di matanya Raja Bumi adalah simbol kejantanan. Ia meniru Raja Bumi, namun tak pernah sanggup mendaki hingga puncak gunung paling rendah sekalipun. Tubuhnya terlalu ringkih untuk itu, dan napasnya terlalu singkat. Ia juga coba mendekati setiap wanita menawan yang ditemuinya, namun Igi hanya mendapati patah hati satu demi patah hati lainnya. Ia tak akan pernah lagi bisa menarik perhatian Jinniah, hingga dewasa ini, demi tetap bertemu, Igi rela menjadi semacam perantara rahasia cinta terlarang kakak terindahnya itu dengan seorang pemuda petani, sahabat masa bocah Raja Bumi. Kepada Igi Jinniah menitipkan surat cinta resiprokal tentang gairah tak tertahan, dan tempat-tempat pertemuan rahasia yang hanya mereka dan Tuhan tahu. Sebelum menyerahkan surat merah jambu beraroma mawar itu Igi selalu sempat membacanya terlebih dahulu, menyalinnya seraya merasakan patah hati yang kadung menjadi candu.


Sebulan menjalani laku pensiunnya, menjauhkan diri dari kenikmatan yang meracuni kesehatan, menjalani program diet ketat, berlari di treadmill sebab udara desa tak baik lagi untuk paru-parunya, Budi Sentosa justru dilarikan ke rumah sakit. Ia mendengar kabar Raja Bumi terlibat skandal dengan seorang penyanyi dangdut binal sedang naik daun dengan goyang panorama yang membikin lelaki hilang akal.

Di kamar VIP tempat pelayanan rumah sakit diutamakan, Budi terbaring, dan baru siuman dari kolaps. Tak lebih dari dua puluh orang lingkar dalam yang masih memiliki pengaruh di kota menjenguknya. Mereka membawa kabar perkembangan isu yang membelit anak sulungnya, dan berbagai usulan antisipasi agar skandal tersebut tidak terus digoreng lawan politik mereka. Meskipun pemilihan walikota belum lagi tiba, sebuah baliho raksasa di pusat kota telah memampang potret besar Raja Bumi tersenyum dengan jargon politik yang lebih terdengar seperti iklan sabun.

Aroma lavender dan bau antiseptik berebut menyerobot hidung Budi. Semenjak para pembesuk meninggalkan ruangan, Centini tanpa ampun mencerocos soal kesehatan suaminya. Kombinasi antara lavender, antiseptik dan kebawelan istrinya membikin kepala mantan walikota itu pening. Ia menyuruh Centini untuk meninggalkannya pulang ke rumah. Raja Bumi tak ada di kamar itu dan tidak diketahui keberadaannya. Jinniah menghilang setelah membawa karangan lavender segar, menatanya di meja kecil di sebelah ranjang ayahnya. Budi hanya melihat keberadaan Igi dalam ruangan itu, menatapnya dan tak tahu apa yang dipikirkan anak bungsunya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa begitu kesepian, dan ajal yang membayang di ujung hidungnya membuncahkan hasratnya untuk berkisah, perihal sudut-sudut hati yang hanya dirinya dan Tuhan tahu. Ia memandang Igi dan menggenggam punggung tangan anaknya, lalu berkisah, agak terbata sebab bahasa politik yang dikuasainya tak bisa mewakili. Dan Igi mendengarkan kisah ayahnya dalam keterasingan yang terasa akrab.

Sebulan sebelum pemilihan wali kota digelar, dalam posisi mencangkung di toilet kamarnya Budi sampai juga pada napas terakhirnya. Sebelumnya ia habis menyantap seporsi gulai babat santan kental, dan menghisap tanpa putus tiga batang cerutu yang disimpannya di tempat tersembunyi. Tak lama kemudian ia merasakan hasrat buang hajat, dan tak mengetahui maut telah menunggunya di kamar mandi. Betapa beruntungnya mantan wali kota itu sebab tak akan pernah ada kematian yang begitu melegakan selain terasa seperti buang tai. Centini menemukan suaminya tersenyum dengan ekspresi tak-ada-lagi-yang-ingin-kucapai-dalam-hidup. Centini merasa bersyukur dan kehilangan sekaligus. Ia bersyukur suaminya tak mati menderita mengetahui perihal Jinniah yang mengandung tanpa pernikahan, oleh seorang pemuda petani, sahabat masa kecil Raja Bumi.

Tak seperti keinginannya akan kematian yang ditangisi khalayak, yang diiringi oleh sedu sedan kehilangan, dan ratapan apakah-masih-ada-pemimpin-sepertimu-kelak, prosesi pemakamannya hanya dihadiri keluarga dan handai tolan, bahkan istri dan ketiga anaknya tak tahu cara menangisi kepergiannya. Sepekan setelah pemakaman itu, pemilihan walikota dilaksanakan dan orang-orang sudah melupakannya sama sekali. Meskipun Raja Bumi mewarisi gaya berpidatonya, dan di atas panggung kampanye pemilihan wali kota berhasil memukat simpati rakyat sebelum pada akhirnya kalah oleh lawan politik tersebab politik uang, dan gempuran kampanye hitam mengenai skandalnya dengan penyanyi dangdut kebanggaan kota. Penyanyi dangdut itu bernyanyi pada kampanye akbar calon walikota pesaing, membius rakyat dengan goyangan panorama, dan membikin mereka senewen dalam memilih. Pemuda petani yang menggarap Jinniah seakan menggarap sawah milik ayahnya sendiri, juga diketahui sebagai anggota tim sukses musuh politiknya, menebarkan desas-desus yang membikin kediaman Sentosa berbau bangkai, dan membikin warga kampung antipati dengan tidak mencoblos wajah Raja Bumi saat hari pemilihan.

Seminggu setelah kematian ayahnya dan tak hirau hiruk pikuk pemilihan wali kota, Igi kembali membaca salinan pidato pensiun ayahnya. Setelah membaca, segalanya terang benderang. Ia mulai menuliskan kalimat pertama kisah yang dibayangkannya dapat menjadi novel setebal tiga ratus halaman, dan tak berhenti menulis selama sembilan bulan, tak terganggu orkes keroncong perut, keringat mengkristal, dan gigi yang berlumut. Setelah naskah pertama selesai ia menghabiskan waktu dua bulan untuk menulis ulang, memangkas narasi bertele, menulis ulang, memangkas deskripsi tak perlu, menulis ulang hingga darah mengucur dari sela-sela jarinya. Ia menulis seperti dirasuki jin, menuangkan apa yang dicecapnya dari keluarganya, mengganti nama mereka, membumbuinya dengan intrik politik dan skandal cinta terlarang. Dan setelah melalui swasunting berdarah, jadilah cerita pendek tak lebih dari tujuh halaman.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar