Igi Sentosa kembali ke realitas, setelah tenggelam dalam fantasinya, di antara tumpukan buku klasik
dan kontemporer berdebu dan naskah-naskah cerita gagal, pada hari pertama
pensiun ayahnya, Budi Sentosa. Mantan walikota itu menggelar kenduri pencapaiannya
dalam hidup dengan mengundang rombongan pasar malam selama seminggu, organ
tunggal semalam suntuk, pembagian sembako gratis kepada tiga ribu warga miskin
yang berujung kericuhan kecil dan menewaskan tiga orang jompo.
Di lantai tiga rumah megah itu, yang
adalah tiruan taman gantung Babilonia, Budi Sentosa berpidato di hadapan
istrinya dan dua anaknya yang lain, di depan tamu undangan baik politikus
pendukungnya maupun rival, pengusaha, purnawirawan, pendekar, dan sedikit orang
yang merangkap politikus, pengusaha, purnawirawan sekaligus. Budi membayangkan
kenduri ini semacam epilog obituarium pemakamannya kelak, dengan keramaian yang
mengantar jenazahnya, dimakamkan di antara pahlaman kemerdekaan, tercatat dalam
sejarah sebagai salah satu tokoh penting.
“Aku membayangkan kematianku akan
semeriah ini. Tak ada lagi antagonisme. Baik kawan maupun lawan berkumpul dan
mengadakan pencapaian yang sama. Si kaya mengayomi si miskin. Dan setiap hari
adalah perayaan,” kata Budi Sentosa menutup pidatonya di depan khalayak yang
disambut dengan tepuk tangan berdiri, siul-siul iseng, dan puji-pujian namanya.
Tak jauh dari taman gantung itu, di
dalam kamarnya Igi Sentosa dapat mendengar pidato ayahnya yang dibawa oleh angin
kering melalui jendela terbuka. Ia mencatat setiap kata yang dilontarkan
ayahnya dan terinspirasi, semacam ephipany samar untuk menulis cerita lainnya.
Kisah-kisah yang selama ini ia tulis selalu berakhir di keranjang sampah. Ia
kesal setengah mati sebab tak menemukan suara yang tepat untuk menuangkan
idenya. Ia hanya merasa dunia rekaannya begitu jauh: patung yang menangis, ikan
aquarium yang berbicara, ratusan merpati yang menabrak kaca jendela.
Budi Sentosa undur dari jabatan walikota
pada saat ia berada di puncak capaian politik, setelah mendadak demam ringan
dan dilarikan ke rumah sakit. Berdasar diagnosa, seorang dokter meramal umurnya
tak akan lebih dari lima puluh tahun. Saat itu Budi secara senyap diintai tujuh
penyebab serangan jantung, dapat berujung komplikasi dan pecahnya pembuluh
arteri. Dokter menyarankannya untuk menjauhkan diri dari pikiran-pikiran yang
serius dan tujuh kenikmatan dunia yang menggerogoti tubuh dan jiwanya.
Usai perayaan berlebihan itu, Budi
Sentosa untuk pertama kalinya merasakan kemerdekaan berkumpul dengan
keluarganya di ruang utama, di hadapan televisi layar datar memenuhi separuh dinding kedap suara, dan buah-buahan tropis yang selalu tersedia. Ia memandangi sepasang
anaknya yang memantulkan cerminan dirinya dan istrinya selagi muda, mendadak
terserang nostalgia. Betapa cepat berlalunya waktu, pikirnya.
Budi Sentosa adalah sosok yang telah menyusuri
berbagai arus pemikiran. Darah bangsawan yang mengaliri pembuluh nadinya
mengantarnya dengan mulus hingga meraih tujuh kenikmatan dunia yang tak akan
pernah diraih orang kebanyakan. Ia menjadi seorang pemuda yang mencintai sosialisme,
membaca kitab-kitab marxisme sebatas kulit dan menjadi salah satu aktivis
barisan depan demonstran yang bersuara lantang menentang kediktatoran Sang Jenderal
Besar, mendesak konstitusi negara diamandemen dari demokrasi palsu totalitarian
menjadi sosialisme yang menebarkan kesejahteraan sampai ke penduduk buta huruf
di pelosok. Pada tahun ketujuh sebelum ia terancam gagal kuliah, Budi menyelesaikan
skripsi tebal berhasil pujian, bergabung dengan partai politik berlambang
akasia, dan berjanji mewujudkan cita-cita besarnya itu. Pada tahun itu juga ia
menikahi Centini, kembang desa yang ia taksir semenjak bocah, dan di
tahun-tahun berikutnya dikaruniai sepasang bayi tampan dan cantik. Di tengah
jalan karir politiknya, seperti kebanyakan aktivis yang menjadi politikus masa
itu, ia terserang wabah amnesia dan menjadi salah satu politikus muda yang
mendukung perubahan undang-undang tata kelola minyak dan gas untuk privatisasi. Pada saat
itulah ia mendapat kesadaran baru dan menjadi seorang liberal. Menurutnya hanya
liberalisme yang dapat membebaskan kemiskinan akut rakyat miskin. Budi terpilih
menjadi anggota dewan dan ikut andil dalam proyek pembangunan kilang gas alam cair di konstituennya. Di ujung periode keduanya menjadi anggota
dewan ia mendapatkan dana besar untuk maju pada pemilihan walikota, dan sudah
diduga berhasil meraih kemenangan. Berhasil mempertahankan kekuasaanya pada
pemilu kedua merubahnya menjadi seorang konservatif. Pada saat itu ia mendapat
pujian atas berubahnya wajah kota menjadi lebih modern dan kenes, meskipun
desa-desa di sekelilingnya tak pernah berubah semenjak berabad-abad lalu. Pada
puncak pencapaiannya itulah, ia terserang demam ringan, dan dari hasil diagnosa
dokter, umurnya tak akan sampai separuh abad. Kebiasaannya seperti menghisap
cerutu tanpa putus, melahap gulai babat, tengkleng kambing dan steak sapi asap tanpa kenal waktu, tak
pernah berolahraga, perlahan membikinnya diintai penyakit dari empat penjuru,
yang dapat berujung serangan jantung koroner.
Pada saat ia melihat cerminan dirinya
pada Raja Bumi Sentosa, Budi Sentosa dapat merelakan jabatannya, dan ia
mendapatkan ide mensuksesi anak sulungnya untuk maju pada pemilihan walikota
berikutnya.
Selama seminggu Budi coba mendalami
anak sulungnya, ia berkesimpulan Raja Bumi hanya memiliki sifat petualang,
penakluk dan abai alamiah. Anaknya itu hanya mewarisi ketampanan masa mudanya
tanpa sedikit pun sifat kepemimpinan dan siasat. Raja Bumi dilahirkan pada saat
Budi adalah seorang sosialis, tapi kehidupan keluarga itu tetap liberal bahkan
setelah Budi menjadi konservatif. Raja Bumi menjalani masa mudanya dengan
menaklukkan puncak-puncak gunung yang tersebar di penjuru Nusantara, dan
meniduri setiap gadis yang ditemuinya di kota. Ia bahkan tidak bisa menghitung
adakah perawan kota yang belum pernah berakhir seranjang dengannya.
Budi Sentosa terbaring di ranjang
awannya, dalam selimut beludru, memikirkan anak sulungnya itu. Di sebelahnya
adalah Centini Sentosa, tampak seperti paus terdampar yang dehidrasi. Budi
terperangah memandang istrinya, nyaris tak ada keindahan yang tersisa dari istrinya
selain polesan kosmetik yang gagal menipu waktu. Di saat ia masih merenungi
anak sulungnya, dengan satu tarikan napas, istrinya mencerocos tanpa jeda
perihal hari-hari yang lewat di rumah tanpa dirinya. Budi tak menemukan lagi
keelokan tutur kata dimiliki perempuan yang kecantikannya melulur itu.
“Dengarkan aku, Cinta!” kata Budi
mengelus tengkuk istrinya seperti upaya menjinakkan binatang buas.
“Iya Sayangku,” kata Centini
melembut, mengambil napas.
“Raja memiliki ketampanan aktor laga
dan aku hanya perlu satu bulan untuk menggosok cara bicaranya dan mengajarinya
pidato-pidato pencuri simpati rakyat.”
“Okay Sayang. Asal itu enggak
mengganggu kesehatanmu.”
Minggu siang yang kering itu untuk
pertamakalinya keluarga Sentosa berkumpul bersama. Igi juga hadir di sana
setelah dibujuk dengan susah payah oleh Centini. Budi terkejut mendapati
anggota keluarga yang belum pernah dilihatnya duduk di antara mereka di meja
makan. Ia tak pernah ingat pernah memiliki anak ketiga, dan wajah Igi sama
sekali tak mirip siapa pun dalam keluarga itu. “Tuhan selalu membuat kejutan
tak terduga,” kata Budi kepada keluarganya.
Igi memandang satu per satu wajah
setiap anggota keluarga dan mencoba mengidentifikasi diri dengan mereka. Ini
pertama kalinya ia bertatap muka dengan ayahnya, sebelumnya ia hanya mengenal
ayahnya melalui kliping-kliping koran tentang proyek siluman yang menyeret
namanya tapi tak pernah menyentuhnya. Budi menanam benih Igi dalam euforia
kemenangannya menjadi anggota dewan, dan Centini melahirkannya pada saat
anggota dewan itu sedang sibuk dengan rapat-rapat perubahan undang-undang yang
membatasi gerak pemodal asing. Centini sendiri hanya menyusui Igi sebulan masa
persalinannya dan setelah itu anak bungsunya itu diserahkan sepenuhnya kepada
susu sapi dan pengasuh. Satu-satunya manusia yang membuat Igi merasa memiliki
dan kehilangan adalah kakak perempuannya, Jinniah Sentosa. Naluri keibuan yang
datang terlalu dini menjadikan Jinniah seorang ibu, kakak dan kekasih
satu-satunya bagi Igi. Ialah yang merebut Igi balita dari pengasuh yang tak
acuh merawat, coba menyusui adiknya itu seakan anaknya sendiri, mengajaknya mandi
bersama seperti sepasang kekasih, hingga Igi tumbuh dengan paru-paru terinfeksi
racun aroma mawar tubuh wanita. Ketika Jinniah penuh merekah dan menghasratkan
anak dari rahimnya sendiri, ia hilang dari keseharian Igi, lebih banyak
menghabiskan waktu melompat-lompat dari mal satu ke mal lain, pesta satu ke pesta
lain, mencari pangeran berkuda putih. Jinniah yang pertama mengajari Igi
tentang patah hati. Dan obsesi mencari perhatian Jinniah membuat Igi coba
menirukan abangnya, Raja Bumi. Di matanya Raja Bumi adalah simbol kejantanan.
Ia meniru Raja Bumi, namun tak pernah sanggup mendaki hingga puncak gunung
paling rendah sekalipun. Tubuhnya terlalu ringkih untuk itu, dan napasnya
terlalu singkat. Ia juga coba mendekati setiap wanita menawan yang ditemuinya,
namun Igi hanya mendapati patah hati satu demi patah hati lainnya. Ia tak akan
pernah lagi bisa menarik perhatian Jinniah, hingga dewasa ini, demi tetap
bertemu, Igi rela menjadi semacam perantara rahasia cinta terlarang kakak
terindahnya itu dengan seorang pemuda petani, sahabat masa bocah Raja Bumi.
Kepada Igi Jinniah menitipkan surat cinta resiprokal tentang gairah tak
tertahan, dan tempat-tempat pertemuan rahasia yang hanya mereka dan Tuhan tahu.
Sebelum menyerahkan surat merah jambu beraroma mawar itu Igi selalu sempat
membacanya terlebih dahulu, menyalinnya seraya merasakan patah hati yang kadung
menjadi candu.
Sebulan menjalani laku pensiunnya,
menjauhkan diri dari kenikmatan yang meracuni kesehatan, menjalani program diet
ketat, berlari di treadmill sebab
udara desa tak baik lagi untuk paru-parunya, Budi Sentosa justru dilarikan ke
rumah sakit. Ia mendengar kabar Raja Bumi terlibat skandal dengan seorang
penyanyi dangdut binal sedang naik daun dengan goyang panorama yang membikin
lelaki hilang akal.
Di kamar VIP tempat pelayanan rumah
sakit diutamakan, Budi terbaring, dan baru siuman dari kolaps. Tak lebih dari
dua puluh orang lingkar dalam yang masih memiliki pengaruh di kota menjenguknya.
Mereka membawa kabar perkembangan isu yang membelit anak sulungnya, dan
berbagai usulan antisipasi agar skandal tersebut tidak terus digoreng lawan
politik mereka. Meskipun pemilihan walikota belum lagi tiba, sebuah baliho
raksasa di pusat kota telah memampang potret besar Raja Bumi tersenyum dengan
jargon politik yang lebih terdengar seperti iklan sabun.
Aroma lavender dan bau antiseptik
berebut menyerobot hidung Budi. Semenjak para pembesuk meninggalkan ruangan,
Centini tanpa ampun mencerocos soal kesehatan suaminya. Kombinasi antara
lavender, antiseptik dan kebawelan istrinya membikin kepala mantan walikota itu
pening. Ia menyuruh Centini untuk meninggalkannya pulang ke rumah. Raja Bumi
tak ada di kamar itu dan tidak diketahui keberadaannya. Jinniah menghilang
setelah membawa karangan lavender segar, menatanya di meja kecil di sebelah
ranjang ayahnya. Budi hanya melihat keberadaan Igi dalam ruangan itu,
menatapnya dan tak tahu apa yang dipikirkan anak bungsunya. Untuk pertama kali
dalam hidupnya ia merasa begitu kesepian, dan ajal yang membayang di ujung hidungnya
membuncahkan hasratnya untuk berkisah, perihal sudut-sudut hati yang hanya
dirinya dan Tuhan tahu. Ia memandang Igi dan menggenggam punggung tangan
anaknya, lalu berkisah, agak terbata sebab bahasa politik yang dikuasainya tak
bisa mewakili. Dan Igi mendengarkan kisah ayahnya dalam keterasingan yang
terasa akrab.
Sebulan sebelum pemilihan wali kota
digelar, dalam posisi mencangkung di toilet kamarnya Budi sampai juga pada napas
terakhirnya. Sebelumnya ia habis menyantap seporsi gulai babat santan kental,
dan menghisap tanpa putus tiga batang cerutu yang disimpannya di tempat
tersembunyi. Tak lama kemudian ia merasakan hasrat buang hajat, dan tak
mengetahui maut telah menunggunya di kamar mandi. Betapa beruntungnya mantan
wali kota itu sebab tak akan pernah ada kematian yang begitu melegakan selain
terasa seperti buang tai. Centini menemukan suaminya tersenyum dengan ekspresi
tak-ada-lagi-yang-ingin-kucapai-dalam-hidup. Centini merasa bersyukur dan
kehilangan sekaligus. Ia bersyukur suaminya tak mati menderita mengetahui
perihal Jinniah yang mengandung tanpa pernikahan, oleh seorang pemuda petani,
sahabat masa kecil Raja Bumi.
Tak seperti keinginannya akan
kematian yang ditangisi khalayak, yang diiringi oleh sedu sedan kehilangan, dan
ratapan apakah-masih-ada-pemimpin-sepertimu-kelak, prosesi pemakamannya hanya
dihadiri keluarga dan handai tolan, bahkan istri dan ketiga anaknya tak tahu
cara menangisi kepergiannya. Sepekan setelah pemakaman itu, pemilihan walikota
dilaksanakan dan orang-orang sudah melupakannya sama sekali. Meskipun Raja Bumi
mewarisi gaya berpidatonya, dan di atas panggung kampanye pemilihan wali kota
berhasil memukat simpati rakyat sebelum pada akhirnya kalah oleh lawan politik
tersebab politik uang, dan gempuran kampanye hitam mengenai skandalnya dengan penyanyi
dangdut kebanggaan kota. Penyanyi dangdut itu bernyanyi pada kampanye akbar
calon walikota pesaing, membius rakyat dengan goyangan panorama, dan membikin
mereka senewen dalam memilih. Pemuda petani yang menggarap Jinniah seakan
menggarap sawah milik ayahnya sendiri, juga diketahui sebagai anggota tim
sukses musuh politiknya, menebarkan desas-desus yang membikin kediaman Sentosa
berbau bangkai, dan membikin warga kampung antipati dengan tidak mencoblos
wajah Raja Bumi saat hari pemilihan.
Seminggu setelah kematian ayahnya dan
tak hirau hiruk pikuk pemilihan wali kota, Igi kembali membaca salinan pidato
pensiun ayahnya. Setelah membaca, segalanya terang benderang. Ia mulai menuliskan
kalimat pertama kisah yang dibayangkannya dapat menjadi novel setebal tiga
ratus halaman, dan tak berhenti menulis selama sembilan bulan, tak terganggu
orkes keroncong perut, keringat mengkristal, dan gigi yang berlumut. Setelah
naskah pertama selesai ia menghabiskan waktu dua bulan untuk menulis ulang,
memangkas narasi bertele, menulis ulang, memangkas deskripsi tak perlu, menulis
ulang hingga darah mengucur dari sela-sela jarinya. Ia menulis seperti dirasuki
jin, menuangkan apa yang dicecapnya dari keluarganya, mengganti nama mereka,
membumbuinya dengan intrik politik dan skandal cinta terlarang. Dan setelah
melalui swasunting berdarah, jadilah cerita pendek tak lebih dari tujuh halaman.
-Hizbul Ridho
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar