Minggu, 23 Agustus 2020

Dalam Kabut









Kecuali ia, Markopodo, tidak ada yang merokok dalam keluarganya dan keluarganya adalah anti-perokok meskipun tidak bisa dikatakan pembenci-rokok. Mereka dapat toleran kepada Marko atas keputusannya untuk menghisap tembakau dan kebiasaan barunya untuk membakar uang itu. Sebab kondisi Marko sebelum merokok: ia gagal menikah dan berkali-kali mencoba bunuh diri. Keluarganya selalu beranggapan merokok adalah cara yang lebih buruk untuk mati dibanding menenggak racun pembunuh nyamuk, tapi Marko beralasan merokok justru memperpanjang hidupnya. Sebab baik ibunya, ayah tirinya dan adik perempuannya tidak ada yang menyentuh barang mubazir itu, mereka melarangnya merokok di dalam rumah.

“Aku kering dan menghisap membuatku selalu lembap.”

“Kami tidak peduli.”

Tidak lama setelah gagal menikah ia dipecat dari perusahaannya bekerja, dan ia menilai kegagalannya menikah bukanlah sebab an sich dirinya diberhentikan. Kepada keluarganya ia selalu beralasan dolar semakin melambung dan biaya produksi ikut meroket dan perusahaan harus memangkas hal-hal yang tidak berjalan efisien dan efektif dalam tubuhnya, salah satunya adalah dirinya diantara puluhan karyawan yang diputus hubungan kerjanya. Dan keluarganya menerima alasan yang dibuat-buat itu meskipun diam-diam mereka, termasuk Marko, mengakui kinerjanya jadi berantakan. Semenjak itu, dari sisa tabungannya yang lumayan, ia lebih banyak menghabiskan waktu menghisap dan puntung-puntung rokok dan bungkus-bungkus rokok menggunung di pekarangan rumahnya. Untuk menyalurkan naluri kreatifnya dan waktu luang yang melimpah, sembari menghisap ia membuat sendiri bangku-bangku dari bungkusan rokok yang disusun dengan penuh perhatian, tidak puas, ia hingga membuat ranjang, lemari dan pot bunga.

Ia selalu merokok persis di depan pintu rumah, duduk di bangku bungkusan rokok yang dibuatnya, di beranda yang sekaligus berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, garasi dan menerima tamu, dan siang itu angin yang biasanya membawa debu kemarau tidak lewat di rumahnya. Ia bisa melihat benda-benda di sekelilingnya begitu kering, pohon mangga simanalagi di seberang jalan, di pekarangan kecil rumah tetangga, mematahkan batang rantingnya yang sudah kehabisan air, daun-daunnya mulai kehilangan hijaunya. Selagi menghisap dan menghembus asap ia memerhatikan reranting yang patah berderak ke permukaan jalan konblok tanpa memerhatikan asap tembakaunya melayang ke dalam rumahnya. Semua anggota keluarganya berada di dalam rumah.

Marko terkejut ia tidak bisa melihat apa-apa di dalam daun pintu yang terbuka itu. Kabut memenuhi ruang tamu. Tak lama kemudian dari dalam ia mendengar koor ibunya, ayah tirinya dan adik perempuannya batuk-batuk. Dari kabut asap itu mereka satu-persatu keluar dari dalam, ayahnya hanya memakai celana kolor bola biru bernomor sembilan, adiknya masih mengenakan setelan piyama motif krisan, ibunya dengan daster oranye yang dibungkus celemek hijau menggenggam sudip, dan pakaian mereka semua tampak basah dan kulit mereka tanpa diduga merona merah. Sepanjang kemarau ini baru kali itulah mereka terlihat segar meskipun tampak dari raut wajahnya tidak senang terhadap ketidaksesuaian dengan musim.

“Kau ingin membunuh kami, Marko!” kata ibunya sambil memeras ujung celemek hijaunya. Ujung kainnya mengucurkan air.

“Betapa baiknya dirimu membuat kami jadi perokok pasif,” kata ayah tirinya.

“Tak ada laki-laki yang tertarik denganku lagi,” tangis adik perempuannya.

“Jangan berlebihan. Lihatlah! Kalian terlihat bergairah,” bela Marko.

Marko gagal menikah, dipecat dari kantornya, rupiah keok bertepatan dengan musim kemarau yang mendera negeri itu hingga menyerang ruang-ruang privat sebuah keluarga yang sama sekali tak tersentuh politik kecuali untuk memberikan dengan sia-sia suaranya untuk pemilu lima tahun sekali. Tidak hanya sawah-sawah yang gagal panen dan bangkai-bangkai ikan gabus bergelimpangan di celah-celah retakan tanah, air pam milik pemerintah yang biasanya mengalir hingga kamar mandi keluarga hanya cukup untuk mandi sekali sehari, dan pasangan-pasangan yang telah menetapkan hari pernikahannya menunda pernikahannya hingga musim penghujan—yang juga adalah musim kawin. Sebelum kemarau datang air begitu melimpah hingga menenggelamkan sebuah kampung yang tanahnya rendah, dan melebihi prediksi para peramal cuaca, kemarau dengan cepat tiba setelahnya.

Tidak ada yang terlalu cepat meramal datangnya kemarau selain mantan tunangan Marko. Di suatu malam minggu yang basah, ia melihat tanda-tanda awalnya di tubuh Marko. Kontras dengan sekililingnya yang mengandung air, tubuh Marko begitu kering, kulitnya kusik, bibirnya mengelupas seperti ular sendok yang berganti kulit. Pada saat itulah mantan tunangannya itu dengan prasangka kewanitaannya melihat masa depannya akan kemarau dengan Marko. Dua minggu kemudian Marko mengetahui mantan tunangannya main mata dengan pawang hujan. Meskipun pada saat kemarau sungguh datang dan pawang hujan perebut tunangannya itu hanya bisa membuat tanah di bawahnya basah dengan air kencingnya itu, mantan tunangannya berhenti mencintai lelaki manapun.

“Para lelaki tak lagi memiliki cinta. Mereka semua kering.”

Waktu itu pertengahan tahun dan sapi-sapi indukan di peternakan dekat perumahan Marko tinggal hanya berhasil mengeluarkan susu satu hingga dua tetes sehari untuk anak-anak mereka yang malang. Padang rumput di sebelah timur perumahan, meranggas dan peternak khawatir memikirkan musim kurban yang datang sebulan lagi sementara daging dan lemak pada sapi-sapinya menyusut perlahan dan mulai menonjolkan ruas-ruas iga. “Ini kemarau terburuk semenjak kemerdekaan,” kata peternak yang melihat mata sapinya tak lagi berlendir. Lalu mereka menggelar doa bersama memohon Tuhan mempercepat musim penghujan. Salah seorang tua, peserta doa bersama itu melewati jalan di depan Rumah Marko. “Ini kemarau terburuk semenjak kemerdekaan.” Marko melihat orang tua bungkuk itu seperti nyamuk yang tak lagi memiliki sayap, tak lagi menyimpan darah. Marko berdiri merokok di jalan berkonblok itu setelah seisi rumahnya dipenuhi kabut asap dan perabotan di rumahnya penuh dengan buliran embun, sofa di ruang tamu yang terbuat dari kain dan busa menyerap air dan untuk sementara sofa-sofa itu di jemur di luar rumah sementara ruang tamu diisi oleh bangku-bangku bungkusan rokok buatan Marko. Matahari begitu terik sehingga tak mengizinkan langit menjadi terlalu biru dan awan terlalu tebal.

“Berhentilah hanya menjadi cerobong asap dan lakukanlah sesuatu yang berguna,” teriak ibunya dari dalam rumah. Selain membuat perabotan dari kotak rokok, Marko secara iseng menghitung berapa batang rokok yang telah dihisapnya dan hitungan terakhir yang diingatnya adalah 9.999.999.999 dan memasuki dua belas digit ia tak tahu lagi bagaimana menghitung batang rokok yang telah dihisapnya. Bosan membuat perabotan, ia mengupas kertas yang membalut busa puntung rokoknya, menumpuknya di pekarangan dan tumpukan busa puntung itu menggunung sepenuh kamarnya. “Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.” Begitulah ibunya selalu menasehatinya dan ia melihat gunungan busa puntung itu tidak hanya sekadar sampah sebagaimana tai bermanfaat menjadi pupuk atau gas metan.

Selagi terus mengepul-ngepulkan asap ke udara Marko memandangi gunungan busa itu dan membayangkan jamur bulan tumbuh subur di hamparannya dan ia bisa menjadi petani jamur dan tak perlu lagi menjadi orang kantoran yang membosankan. Tapi jamur tidak akan tumbuh jika tidak ada kelembapan, kelapukan. Begitu senja tiba Marko memandangi tumpukan busa dan terus membayangkan jamur bulan tumbuh perlahan-lahan. Ia membayangkannya dengan detail penuh meskipun tidak tahu caranya bagaimana mendatangkan hujan sementara di televisi peramal cuaca memprediksi, kemarau tahun ini akan lebih panjang dan masyarakat disarankan untuk menghemat tenaganya dan cadangan air. Dan Marko masih berdiri di sana tak putus-putusnya menghisap hingga langit benar-benar gelap dan di ruang spasial itu kabut turun dari atas mengaburkan bentuk benda-benda.

“Aku tidak pernah tahu malam kemarau bisa berkabut,” kata Marko setelah ia membakar rokoknya yang kesekian. Di dalam kabut koreknya tidak bisa memantikkan api. “Brengsek! Kabut ini begitu lembap dan mengandung air,” kata Marko. Ia mencari daerah yang agak kering dan tidak begitu berkabut untuk menyalakan rokoknya dan secara naluriah ia berjalan ke dalam rumahnya yang penuh penerangan.

Rokoknya menyala begitu ia berada di dalam. Ibunya, ayah tirinya dan adiknya sedang bersantai di ruang tengah menonton sinetron Cintaku Hilang di Musim Kemarau, yang sedang digandrungi. “Ampun,” pekik Marko demi melihat keluarganya itu menonton layaknya zombie. “Keluar kau Marko!” kata ibunya. Marko kembali memasuki kabut.

Marko memasuki kabut dengan meraba langkahnya, ia sempat menabrak pagar dan terperosok ke selokan yang kering. Sejauh mata memandang hanya nyala api di ujung puntung rokoknya yang terlihat. Ia baru menyadari kabut itu berbau menyengat seperti ketika ia berada di ruangan kedap udara yang dipenuhi para perokok. Dan Marko terkenang pengalamannya bersama mantan tunangannya di sebuah bukit berkabut. Mantan tunangannya tidak pernah menyukai kabut sebab, katanya, bau kabut bisa membuatmu kanker paru-paru, seperti asap rokok. “Ini bukan kabut tapi asap pembakaran sampah,” katanya kepada mantan tunangannya. “Tapi memang beginilah bau kabut,” kata mantan kekasihnya.

Ia berdiri dan hanya berdiri selagi menghisap rokoknya. Hendak habis satu batang sebelum baranya redup, ia sambung dengan batangan rokok yang baru. Marko membayangkannya seperti orang yang berlari estafet. Di dalam kabut itu, selagi ia membayangkan orang berlari estafet, seseorang berlari ke arahnya dan hampir menabraknya. “Kau menghalangi jalan,” kata pria yang mengenakan kaus lengan buntung dengan nomor cetak besar di dada itu, celana pendek dan sepatu kets hijau stabilo, menggenggam tongkat estafet. Apakah kabut ini sedang bersekongkol dengan mataku, pikir Marko demi melihat seorang pelari melewati jalan tempatnya berdiri. Dadanya berdebar. Marko terus menyambung rokoknya, kali ini tanpa membayangkan pelari estafet. Tapi ia teringat dengan Sir Isaac Newton saat pertama kali menemukan teori gravitasi, di bawah pohon apel dan begitulah kabut kembali bermain-main dengan matanya. Sebuah pohon apel yang tidak terlalu tinggi mewujud tegak lurus di hadapannya, di akarnya duduk seorang pria tua, pria tua serupa nyamuk yang tadi siang lewat di jalan yang sama. Pria tua itu terbangun begitu tiga buah apel merah menimpa kepalanya. Ia genggam salah satu apel itu, memandangnya lalu bergumam: aku bahkan sudah tidak memiliki gigi untuk menikmati apel merah yang terlihat manis ini. Ia melihat kebaradaan Marko yang memandanginya dan melempar sebuah apel merah itu. Tanpa percaya, Marko menyambut apel itu yang dengan ragu ia yakini delusi belaka, dan tangannya dengan sepenuh kenyataan menggenggam apel merah itu. Marko memandangi buah apel itu dengan takjub.

“Kabut menghasilkan imajinasi dan imajinasi membuat segala impian menjadi nyata.” Eureka! Marko merasa sekaligus berpikir berada di antara jajaran para penemu. Tak menunggu lama ia memejamkan matanya dan perlahan kabut kembali ke langit, benda-benda di sekeliling kembali mewujud. Di langit, kabut semakin menggumpal dan memadat menjadi awan-awan kelabu pekat. Siang hari yang terik tak mungkin terdapat awan di langit tapi malam yang dengan ekstrim menciptakan hawa dingin membantu Marko menghasilkan awan-awan yang tampak berat sehingga, seandainya Tuhan tidak menciptakan lapisan stratosfer, awan-awan tebal itu bisa sewaktu-waktu rubuh ke permukaan tanah. Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Selembar daun putus asa di ujung ranting pohon mangga simanalagi yang meranggas itu bergerak, lalu daun-daun di sekitarnya terlihat gemetaran, dari permukaan daun-daun itu air meluncur turun tidak hendak melawan gravitasi. Dan begitulah, di ruang spasial itu buliran air halus jatuh dari awan membasahi hanya tiga blok perumahan itu. Buliran hujan yang berjumpa atap perumahan menciptakan melodi yang sudah lama Marko rindukan. Ia merasakan sekujur tubuhnya basah kuyup dan gunungan busa puntung di pekarangannya mengandung air. Hujan tak berlangsung lama, lewat tengah malam awan-awan yang tadinya menggantung di atas sudah tak terlihat lagi.

Kabut telah hilang dan Marko baru menyadari ketiga anggota keluarganya menyaksikannya dengan mata membelalak demi apa yang telah mereka lihat di hadapannya. “Kalau kau ingin gila, gilalah sendiri!” kata ibunya lalu masuk ke dalam rumah. Adik perempuan dan ayah tirinya hanya memandangnya jengkel dengan mimik wajah benci yang dilebih-lebihkan. Marko tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan kedua orang itu. “Aku pikir ekspresi berlebihan seperti itu hanya ada di sinetron.” Adiknya membuang muka dan masuk tergesa ke dalam rumah. Ayah tirinya yang kelihatan tolol mengikutinya di belakang.

Marko juga tidak menyadari keberadaan seorang pria paruh baya berdiri berjarak lima langkah darinya. Pria tua itu mengenakan peci dan menyelempangkan sarung motif hijau merah di pundaknya. “Tuhan menjabah doa kami.” Ia itu sujud syukur di atas susunan konblok yang basah.

“Doa tanpa ikhtiar tidak ada gunanya Pak Tua,” kata Marko. Ujung-ujung rambutnya meneteskan air hujan.

“Hanya Tuhan yang bisa menghasilkan hujan, nak. Tidak satu pun manusia,” kata Pak Tua itu sambil kepayahan berdiri. Lutut-lututnya terdengar berderit.

“Kita punya imajinasi Pak Tua dan itu membuat kita berbeda.”

“Aku hanya tahu cara berdoa.”

“Datanglah besok pada jam-jam segini setelah kau berdoa. Ajari aku berdoa dan kau akan aku ajari berimajinasi.”

Mereka berjanji untuk bertemu di tempat yang sama dua jam lebih awal dari waktu itu. Marko berkata, sudah lama lupa cara berdoa dan ia berharap Tuhan membantunya menumbuhkan jamur bulan. Berdoalah, kata Pak Tua, setelah itu pergilah membeli ragi jamur. Begitulah keesokan harinya Marko menghabiskan waktu mencari ragi jamur dan ia tidak memberitahu keluarganya sehingga, anggota keluarganya agak merasa asing dengan ketidakhadiran Marko di beranda rumah. Ia baru kembali ketika langit sudah berubah menjadi merah.

Dari mana saja kau, kata ibunya. Aku berdoa dan berusaha mewujudkannya, kata Marko. Seperti hari kering lainnya, matahari tidak mengizinkan langit bersepuh awan sedikit pun, tapi begitu malam tiba dan bulan tak penuh tampak menggantung di langit barat, Marko akan merekayasa langit untuk mewujudkan setiap jamur bulan sebanyak doa yang dipanjatkannya diam-diam di dalam hati. Pak Tua berpeci berselempang sarung dan mengenakan celana pendek itu datang di waktu yang dijanjikan.

“Aku sudah berdoa meminta Tuhan menurunkan hujannya.”

Kepada Pak Tua itu Marko menjelaskan teori yang didapatnya kemarin malam. Bahwa tak ada hujan tanpa awan dan tidak ada awan tanpa penguapan dan kita bisa menciptakan penguapan artifisial dengan bara api. Baiklah, aku berpura-pura mengerti, kata Pak Tua. Marko melanjutkan tanpa kata-kata, ia menyodorkan sebatang rokok kepada Pak Tua dengan menyelipkannya ke sela bibirnya yang mengerut. Kau lancang anak muda, kata Pak Tua itu. Ini bagian dari proses Pak Tua, kata Marko. Kita mendapat dua keuntungan, rokok menderas aliran darah dan merangsang otak lebih berpikir kreatif, sekaligus menghasilkan asap, yang jika sudah terlalu banyak asap, maka kabut mewujud. “Dan di dalam kabut itulah imajinasi mewujud kenyataan,” kata Marko mantap sambil memantik korek dan membakar ujung rokok Pak Tua. Pak Tua menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. “Kau sinting. Quran tidak pernah menyebutkan hal semacam ini.”

“Tidak akan berubah suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri mengubahnya,” kata Marko setelah ia membakar rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara perlahan membentuk donat-donat yang melayang melebar.


“Kau ngaco!”

“Mari kita lanjutkan doa kita, Pak Tua. Doa kita sama adanya.”

Sepanjang malam mereka terus menghisap tanpa henti meskipun hingga awal sepertiga malam, tak ada yang terjadi, tidak pun kabut turun. Pak Tua mulai terbatuk dan menyatakan kesangsiannya dengan kekesalan. Memasuki seperti tiga malam itu kabut tipis yang mengaburkan bentuk-bentuk di sekelilingnya membungkam kekesalan Pak Tua. Perlahan-lahan masing-masing mereka tidak bisa melihat satu sama lain selain noktah bara api yang melayang-layang di udara. Mari kita terus berdoa, kata Marko. Sebab doa adalah bentuk tertinggi dari imajinasi. Mereka terus berdoa dan terus menghisap dan kabut menjadi semakin tebal. Subuh menjelang, pagi datang. Sebelum pukul tujuh, asap kabut belum beranjak dari permukaan, dan mereka dapat melihat bayangan matahari merangkak di langit timur. Pada saat itulah kabut-kabut terangkat ke langit dan perlahan gumpalan awan hitam pekat membulat di atas mereka. Orang-orang yang beraktifitas pagi dapat menyaksikan keganjilan suasana pagi itu dengan awan hitam lebar yang menggantung di atas mereka meskipun di sudut-sudut langit permukaannya begitu jernih. Matahari terasa begitu hangat. Gumpalan awan yang tak lagi bisa menampung energinya menumpahkan airnya seketika. Marko dan Pak Tua memandangi air yang turun, mendengar derapnya seketika di atap rumah dan permukaan daun, berjoget dengan penuh keriangan sambil saling berpegangan tangan. Tuhan Maha Pendengar, Tuhan Maha Pendengar, kata Pak Tua.  Mereka menari di tengah hujan.

Hujan turun hingga matahari sudah sampai di ubun-ubun kepala. Marko telah menabur seluruh raginya di atas tumpukan kapas yang lembap. Apa yang akan kau lakukan dengan hujan ini Pak Tua, katanya. Tidak ada nak, kata Pak Tua lalu tertawa. Biarkan hujan ini memainkan perannya.

Malam harinya Marko dan Pak Tua tidak lagi berdua menghasilkan kabut, para pengangguran di perumahan kecil itu mengetahui apa yang Marko dan Pak Tua lakukan dan mereka bergabung hingga berkumpullah enam puluh tujuh orang. Dan setiap malam berganti para pengangguran dari perumahan tetangga, kampung-kampung sebelah dan desa-desa jauh mengetahui kabar ini dari mulut ke mulut dan semakin hari mereka menghasilkan gumpalan awan yang semakin lebar untuk membasahi wilayah yang lebih luas. Para peternak di dekat perumahan itu dapat mendengar lenguh tangis bahagia sapi-sapinya saat merasakan hujan datang secara berkala.

“Semua orang pada sinting,” kata ibu Marko demi melihat kerumunan orang ramai bersesakan di depan rumahnya menghisap rokok dan menciptakan kabut lalu awan dan pada akhirnya hujan. Bahkan suaminya yang sebelumnya tidak suka asap rokok juga berada di antara kerumunan dengan alasan sosialisasi. “Mereka semua akan mati terkena paru-paru basah, Ibu,” kata anak perempuannya yang mengintip di balik jendela.

Di minggu ketiga, di atas permukaan tumpukan busa yang lembap dan lapuk, jamur bulan mulai tampak tumbuh. Betapa senang hati Marko melihatnya. Selagi ia mengamati jamur-jamur mungil yang tumbuh itu, mantan tunangannya tiba dan berdiri tak jauh di belakangnya.

“Aku mendengar kau berhasil mendatangkan musim hujan lebih cepat dari seharusnya.”

“Bukan aku. Tapi semua orang. Kami berdoa dan Tuhan mengabulkannya.”

“Kau memulainya.”

“Aku apalah. Hanya pengangguran yang tak ingin hatiku kering.”

Mereka diam untuk beberapa lama. Tetap pada posisinya masing-masing. Marko memunggungi tunangannya memerhatikan jamur-jamurnya. Mantan tunangannya memandangi punggung Marko dengan harap.

“Apakah kau berdoa untukku. Apakah kau berdoa agar musim hujan tiba dan melanjutkan pernikahan kita.”

Markopodo tak menjawab apa pun. Ia menghitung jamur-jamurnya tumbuh sebanyak doa yang dipanjatkannya.


-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar