Kecuali
ia, Markopodo, tidak ada yang merokok dalam keluarganya dan keluarganya adalah
anti-perokok meskipun tidak bisa dikatakan pembenci-rokok. Mereka dapat toleran kepada Marko atas keputusannya untuk menghisap tembakau dan kebiasaan
barunya untuk membakar uang itu. Sebab kondisi Marko sebelum
merokok: ia gagal menikah dan berkali-kali mencoba bunuh diri. Keluarganya
selalu beranggapan merokok adalah cara yang lebih buruk untuk mati dibanding
menenggak racun pembunuh nyamuk, tapi Marko beralasan merokok justru
memperpanjang hidupnya. Sebab baik ibunya, ayah tirinya dan adik perempuannya
tidak ada yang menyentuh barang mubazir itu, mereka melarangnya merokok di
dalam rumah.
“Aku
kering dan menghisap membuatku selalu lembap.”
“Kami
tidak peduli.”
Tidak
lama setelah gagal menikah ia dipecat dari perusahaannya bekerja, dan ia
menilai kegagalannya menikah bukanlah sebab an
sich dirinya diberhentikan. Kepada keluarganya ia selalu beralasan dolar
semakin melambung dan biaya produksi ikut meroket dan perusahaan harus
memangkas hal-hal yang tidak berjalan efisien dan efektif dalam tubuhnya, salah
satunya adalah dirinya diantara puluhan karyawan yang diputus hubungan
kerjanya. Dan keluarganya menerima alasan yang dibuat-buat itu meskipun
diam-diam mereka, termasuk Marko, mengakui kinerjanya jadi berantakan. Semenjak
itu, dari sisa tabungannya yang lumayan, ia lebih banyak menghabiskan waktu
menghisap dan puntung-puntung rokok dan bungkus-bungkus rokok menggunung di
pekarangan rumahnya. Untuk menyalurkan naluri kreatifnya dan waktu luang yang
melimpah, sembari menghisap ia membuat sendiri bangku-bangku dari bungkusan
rokok yang disusun dengan penuh perhatian, tidak puas, ia hingga membuat
ranjang, lemari dan pot bunga.
Ia
selalu merokok persis di depan pintu rumah, duduk di bangku bungkusan rokok
yang dibuatnya, di beranda yang sekaligus berfungsi sebagai tempat menjemur
pakaian, garasi dan menerima tamu, dan siang itu angin yang biasanya membawa
debu kemarau tidak lewat di rumahnya. Ia bisa melihat benda-benda di
sekelilingnya begitu kering, pohon mangga simanalagi di seberang jalan, di
pekarangan kecil rumah tetangga, mematahkan batang rantingnya yang sudah
kehabisan air, daun-daunnya mulai kehilangan hijaunya. Selagi menghisap dan
menghembus asap ia memerhatikan reranting yang patah berderak ke permukaan
jalan konblok tanpa memerhatikan asap tembakaunya melayang ke dalam rumahnya.
Semua anggota keluarganya berada di dalam rumah.
Marko
terkejut ia tidak bisa melihat apa-apa di dalam daun pintu yang terbuka itu.
Kabut memenuhi ruang tamu. Tak lama kemudian dari dalam ia mendengar koor
ibunya, ayah tirinya dan adik perempuannya batuk-batuk. Dari kabut asap itu
mereka satu-persatu keluar dari dalam, ayahnya hanya memakai celana kolor bola
biru bernomor sembilan, adiknya masih mengenakan setelan piyama motif krisan,
ibunya dengan daster oranye yang dibungkus celemek hijau menggenggam sudip, dan
pakaian mereka semua tampak basah dan kulit mereka tanpa diduga merona merah.
Sepanjang kemarau ini baru kali itulah mereka terlihat segar meskipun tampak
dari raut wajahnya tidak senang terhadap ketidaksesuaian dengan musim.
“Kau
ingin membunuh kami, Marko!” kata ibunya sambil memeras ujung celemek hijaunya.
Ujung kainnya mengucurkan air.
“Betapa
baiknya dirimu membuat kami jadi perokok pasif,” kata ayah tirinya.
“Tak
ada laki-laki yang tertarik denganku lagi,” tangis adik perempuannya.
“Jangan
berlebihan. Lihatlah! Kalian terlihat bergairah,” bela Marko.
Marko
gagal menikah, dipecat dari kantornya, rupiah keok bertepatan dengan musim
kemarau yang mendera negeri itu hingga menyerang ruang-ruang privat sebuah
keluarga yang sama sekali tak tersentuh politik kecuali untuk memberikan dengan
sia-sia suaranya untuk pemilu lima tahun sekali. Tidak hanya sawah-sawah yang
gagal panen dan bangkai-bangkai ikan gabus bergelimpangan di celah-celah
retakan tanah, air pam milik pemerintah yang biasanya mengalir hingga kamar
mandi keluarga hanya cukup untuk mandi sekali sehari, dan pasangan-pasangan
yang telah menetapkan hari pernikahannya menunda pernikahannya hingga musim
penghujan—yang juga adalah musim kawin. Sebelum kemarau datang air begitu
melimpah hingga menenggelamkan sebuah kampung yang tanahnya rendah, dan
melebihi prediksi para peramal cuaca, kemarau dengan cepat tiba setelahnya.
Tidak
ada yang terlalu cepat meramal datangnya kemarau selain mantan tunangan Marko.
Di suatu malam minggu yang basah, ia melihat tanda-tanda awalnya di tubuh
Marko. Kontras dengan sekililingnya yang mengandung air, tubuh Marko begitu
kering, kulitnya kusik, bibirnya mengelupas seperti ular sendok yang berganti
kulit. Pada saat itulah mantan tunangannya itu dengan prasangka kewanitaannya
melihat masa depannya akan kemarau dengan Marko. Dua minggu kemudian Marko
mengetahui mantan tunangannya main mata dengan pawang hujan. Meskipun pada saat
kemarau sungguh datang dan pawang hujan perebut tunangannya itu hanya bisa
membuat tanah di bawahnya basah dengan air kencingnya itu, mantan tunangannya
berhenti mencintai lelaki manapun.
“Para
lelaki tak lagi memiliki cinta. Mereka semua kering.”
Waktu
itu pertengahan tahun dan sapi-sapi indukan di peternakan dekat perumahan Marko
tinggal hanya berhasil mengeluarkan susu satu hingga dua tetes sehari untuk
anak-anak mereka yang malang. Padang rumput di sebelah timur perumahan, meranggas
dan peternak khawatir memikirkan musim kurban yang datang sebulan lagi
sementara daging dan lemak pada sapi-sapinya menyusut perlahan dan mulai
menonjolkan ruas-ruas iga. “Ini kemarau terburuk semenjak kemerdekaan,” kata
peternak yang melihat mata sapinya tak lagi berlendir. Lalu mereka menggelar
doa bersama memohon Tuhan mempercepat musim penghujan. Salah seorang tua,
peserta doa bersama itu melewati jalan di depan Rumah Marko. “Ini kemarau
terburuk semenjak kemerdekaan.” Marko melihat orang tua bungkuk itu seperti
nyamuk yang tak lagi memiliki sayap, tak lagi menyimpan darah. Marko berdiri
merokok di jalan berkonblok itu setelah seisi rumahnya dipenuhi kabut asap dan
perabotan di rumahnya penuh dengan buliran embun, sofa di ruang tamu yang
terbuat dari kain dan busa menyerap air dan untuk sementara sofa-sofa itu di
jemur di luar rumah sementara ruang tamu diisi oleh bangku-bangku bungkusan
rokok buatan Marko. Matahari begitu terik sehingga tak mengizinkan langit
menjadi terlalu biru dan awan terlalu tebal.
“Berhentilah
hanya menjadi cerobong asap dan lakukanlah sesuatu yang berguna,” teriak ibunya
dari dalam rumah. Selain membuat perabotan dari kotak rokok, Marko secara iseng
menghitung berapa batang rokok yang telah dihisapnya dan hitungan terakhir yang
diingatnya adalah 9.999.999.999 dan memasuki dua belas digit ia tak tahu lagi
bagaimana menghitung batang rokok yang telah dihisapnya. Bosan membuat
perabotan, ia mengupas kertas yang membalut busa puntung rokoknya, menumpuknya
di pekarangan dan tumpukan busa puntung itu menggunung sepenuh kamarnya. “Tuhan
tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.” Begitulah ibunya selalu
menasehatinya dan ia melihat gunungan busa puntung itu tidak hanya sekadar sampah
sebagaimana tai bermanfaat menjadi pupuk atau gas metan.
Selagi
terus mengepul-ngepulkan asap ke udara Marko memandangi gunungan busa itu dan
membayangkan jamur bulan tumbuh subur di hamparannya dan ia bisa menjadi petani
jamur dan tak perlu lagi menjadi orang kantoran yang membosankan. Tapi jamur
tidak akan tumbuh jika tidak ada kelembapan, kelapukan. Begitu senja tiba Marko
memandangi tumpukan busa dan terus membayangkan jamur bulan tumbuh
perlahan-lahan. Ia membayangkannya dengan detail penuh meskipun tidak tahu
caranya bagaimana mendatangkan hujan sementara di televisi peramal cuaca
memprediksi, kemarau tahun ini akan lebih panjang dan masyarakat disarankan
untuk menghemat tenaganya dan cadangan air. Dan Marko masih berdiri di sana tak
putus-putusnya menghisap hingga langit benar-benar gelap dan di ruang spasial
itu kabut turun dari atas mengaburkan bentuk benda-benda.
“Aku
tidak pernah tahu malam kemarau bisa berkabut,” kata Marko setelah ia membakar
rokoknya yang kesekian. Di dalam kabut koreknya tidak bisa memantikkan api.
“Brengsek! Kabut ini begitu lembap dan mengandung air,” kata Marko. Ia mencari
daerah yang agak kering dan tidak begitu berkabut untuk menyalakan rokoknya dan
secara naluriah ia berjalan ke dalam rumahnya yang penuh penerangan.
Rokoknya
menyala begitu ia berada di dalam. Ibunya, ayah tirinya dan adiknya sedang
bersantai di ruang tengah menonton sinetron Cintaku
Hilang di Musim Kemarau, yang sedang digandrungi. “Ampun,” pekik Marko demi
melihat keluarganya itu menonton layaknya zombie. “Keluar kau Marko!” kata
ibunya. Marko kembali memasuki kabut.
Marko
memasuki kabut dengan meraba langkahnya, ia sempat menabrak pagar dan
terperosok ke selokan yang kering. Sejauh mata memandang hanya nyala api di
ujung puntung rokoknya yang terlihat. Ia baru menyadari kabut itu berbau
menyengat seperti ketika ia berada di ruangan kedap udara yang dipenuhi para
perokok. Dan Marko terkenang pengalamannya bersama mantan tunangannya di sebuah
bukit berkabut. Mantan tunangannya tidak pernah menyukai kabut sebab, katanya,
bau kabut bisa membuatmu kanker paru-paru, seperti asap rokok. “Ini bukan kabut
tapi asap pembakaran sampah,” katanya kepada mantan tunangannya. “Tapi memang
beginilah bau kabut,” kata mantan kekasihnya.
Ia
berdiri dan hanya berdiri selagi menghisap rokoknya. Hendak habis satu batang
sebelum baranya redup, ia sambung dengan batangan rokok yang baru. Marko
membayangkannya seperti orang yang berlari estafet. Di dalam kabut itu, selagi
ia membayangkan orang berlari estafet, seseorang berlari ke arahnya dan hampir
menabraknya. “Kau menghalangi jalan,” kata pria yang mengenakan kaus lengan
buntung dengan nomor cetak besar di dada itu, celana pendek dan sepatu kets
hijau stabilo, menggenggam tongkat estafet. Apakah kabut ini sedang
bersekongkol dengan mataku, pikir Marko demi melihat seorang pelari melewati
jalan tempatnya berdiri. Dadanya berdebar. Marko terus menyambung rokoknya,
kali ini tanpa membayangkan pelari estafet. Tapi ia teringat dengan Sir Isaac
Newton saat pertama kali menemukan teori gravitasi, di bawah pohon apel dan
begitulah kabut kembali bermain-main dengan matanya. Sebuah pohon apel yang
tidak terlalu tinggi mewujud tegak lurus di hadapannya, di akarnya duduk
seorang pria tua, pria tua serupa nyamuk yang tadi siang lewat di jalan yang
sama. Pria tua itu terbangun begitu tiga buah apel merah menimpa kepalanya. Ia
genggam salah satu apel itu, memandangnya lalu bergumam: aku bahkan sudah tidak
memiliki gigi untuk menikmati apel merah yang terlihat manis ini. Ia melihat
kebaradaan Marko yang memandanginya dan melempar sebuah apel merah itu. Tanpa
percaya, Marko menyambut apel itu yang dengan ragu ia yakini delusi belaka, dan
tangannya dengan sepenuh kenyataan menggenggam apel merah itu. Marko memandangi
buah apel itu dengan takjub.
“Kabut
menghasilkan imajinasi dan imajinasi membuat segala impian menjadi nyata.”
Eureka! Marko merasa sekaligus berpikir berada di antara jajaran para penemu.
Tak menunggu lama ia memejamkan matanya dan perlahan kabut kembali ke langit,
benda-benda di sekeliling kembali mewujud. Di langit, kabut semakin menggumpal
dan memadat menjadi awan-awan kelabu pekat. Siang hari yang terik tak mungkin
terdapat awan di langit tapi malam yang dengan ekstrim menciptakan hawa dingin
membantu Marko menghasilkan awan-awan yang tampak berat sehingga, seandainya
Tuhan tidak menciptakan lapisan stratosfer, awan-awan tebal itu bisa
sewaktu-waktu rubuh ke permukaan tanah. Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu
dengan sia-sia. Selembar daun putus asa di ujung ranting pohon mangga
simanalagi yang meranggas itu bergerak, lalu daun-daun di sekitarnya terlihat
gemetaran, dari permukaan daun-daun itu air meluncur turun tidak hendak melawan
gravitasi. Dan begitulah, di ruang spasial itu buliran air halus jatuh dari
awan membasahi hanya tiga blok perumahan itu. Buliran hujan yang berjumpa atap
perumahan menciptakan melodi yang sudah lama Marko rindukan. Ia merasakan
sekujur tubuhnya basah kuyup dan gunungan busa puntung di pekarangannya
mengandung air. Hujan tak berlangsung lama, lewat tengah malam awan-awan yang
tadinya menggantung di atas sudah tak terlihat lagi.
Kabut
telah hilang dan Marko baru menyadari ketiga anggota keluarganya menyaksikannya
dengan mata membelalak demi apa yang telah mereka lihat di hadapannya. “Kalau kau
ingin gila, gilalah sendiri!” kata ibunya lalu masuk ke dalam rumah. Adik
perempuan dan ayah tirinya hanya memandangnya jengkel dengan mimik wajah benci
yang dilebih-lebihkan. Marko tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan
kedua orang itu. “Aku pikir ekspresi berlebihan seperti itu hanya ada di
sinetron.” Adiknya membuang muka dan masuk tergesa ke dalam rumah. Ayah tirinya
yang kelihatan tolol mengikutinya di belakang.
Marko
juga tidak menyadari keberadaan seorang pria paruh baya berdiri berjarak lima
langkah darinya. Pria tua itu mengenakan peci dan menyelempangkan sarung motif
hijau merah di pundaknya. “Tuhan menjabah doa kami.” Ia itu sujud syukur
di atas susunan konblok yang basah.
“Doa
tanpa ikhtiar tidak ada gunanya Pak Tua,” kata Marko. Ujung-ujung rambutnya
meneteskan air hujan.
“Hanya
Tuhan yang bisa menghasilkan hujan, nak. Tidak satu pun manusia,” kata Pak Tua
itu sambil kepayahan berdiri. Lutut-lututnya terdengar berderit.
“Kita
punya imajinasi Pak Tua dan itu membuat kita berbeda.”
“Aku
hanya tahu cara berdoa.”
“Datanglah
besok pada jam-jam segini setelah kau berdoa. Ajari aku berdoa dan kau akan aku
ajari berimajinasi.”
Mereka
berjanji untuk bertemu di tempat yang sama dua jam lebih awal dari waktu itu.
Marko berkata, sudah lama lupa cara berdoa dan ia berharap Tuhan membantunya
menumbuhkan jamur bulan. Berdoalah, kata Pak Tua, setelah itu pergilah membeli
ragi jamur. Begitulah keesokan harinya Marko menghabiskan waktu mencari ragi
jamur dan ia tidak memberitahu keluarganya sehingga, anggota keluarganya agak
merasa asing dengan ketidakhadiran Marko di beranda rumah. Ia baru kembali
ketika langit sudah berubah menjadi merah.
Dari
mana saja kau, kata ibunya. Aku berdoa dan berusaha mewujudkannya, kata Marko.
Seperti hari kering lainnya, matahari tidak mengizinkan langit bersepuh awan
sedikit pun, tapi begitu malam tiba dan bulan tak penuh tampak menggantung di
langit barat, Marko akan merekayasa langit untuk mewujudkan setiap jamur bulan
sebanyak doa yang dipanjatkannya diam-diam di dalam hati. Pak Tua berpeci
berselempang sarung dan mengenakan celana pendek itu datang di waktu yang
dijanjikan.
“Aku
sudah berdoa meminta Tuhan menurunkan hujannya.”
Kepada Pak Tua itu Marko menjelaskan teori yang didapatnya kemarin malam. Bahwa tak
ada hujan tanpa awan dan tidak ada awan tanpa penguapan dan kita bisa
menciptakan penguapan artifisial dengan bara api. Baiklah, aku berpura-pura
mengerti, kata Pak Tua. Marko melanjutkan tanpa kata-kata, ia menyodorkan
sebatang rokok kepada Pak Tua dengan menyelipkannya ke sela bibirnya yang
mengerut. Kau lancang anak muda, kata Pak Tua itu. Ini bagian dari proses Pak
Tua, kata Marko. Kita mendapat dua keuntungan, rokok menderas aliran darah dan
merangsang otak lebih berpikir kreatif, sekaligus menghasilkan asap, yang jika
sudah terlalu banyak asap, maka kabut mewujud. “Dan di dalam kabut itulah
imajinasi mewujud kenyataan,” kata Marko mantap sambil memantik korek dan
membakar ujung rokok Pak Tua. Pak Tua menghisap rokoknya dan menghembuskannya
ke udara. “Kau sinting. Quran tidak pernah menyebutkan hal semacam ini.”
“Tidak
akan berubah suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri mengubahnya,” kata Marko
setelah ia membakar rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara perlahan
membentuk donat-donat yang melayang melebar.
“Kau
ngaco!”
“Mari
kita lanjutkan doa kita, Pak Tua. Doa kita sama adanya.”
Sepanjang
malam mereka terus menghisap tanpa henti meskipun hingga awal sepertiga malam,
tak ada yang terjadi, tidak pun kabut turun. Pak Tua mulai terbatuk dan menyatakan
kesangsiannya dengan kekesalan. Memasuki seperti tiga malam itu kabut tipis
yang mengaburkan bentuk-bentuk di sekelilingnya membungkam kekesalan Pak Tua. Perlahan-lahan
masing-masing mereka tidak bisa melihat satu sama lain selain noktah bara api
yang melayang-layang di udara. Mari kita terus berdoa, kata Marko.
Sebab doa adalah bentuk tertinggi dari imajinasi. Mereka terus berdoa dan terus
menghisap dan kabut menjadi semakin tebal. Subuh menjelang, pagi datang.
Sebelum pukul tujuh, asap kabut belum beranjak dari permukaan, dan mereka dapat
melihat bayangan matahari merangkak di langit timur. Pada saat itulah
kabut-kabut terangkat ke langit dan perlahan gumpalan awan hitam pekat membulat
di atas mereka. Orang-orang yang beraktifitas pagi dapat menyaksikan keganjilan
suasana pagi itu dengan awan hitam lebar yang menggantung di atas mereka
meskipun di sudut-sudut langit permukaannya begitu jernih. Matahari terasa
begitu hangat. Gumpalan awan yang tak lagi bisa menampung energinya menumpahkan
airnya seketika. Marko dan Pak Tua memandangi air yang turun, mendengar
derapnya seketika di atap rumah dan permukaan daun, berjoget dengan penuh
keriangan sambil saling berpegangan tangan. Tuhan Maha Pendengar, Tuhan Maha
Pendengar, kata Pak Tua. Mereka menari
di tengah hujan.
Hujan
turun hingga matahari sudah sampai di ubun-ubun kepala. Marko telah menabur
seluruh raginya di atas tumpukan kapas yang lembap. Apa yang akan kau lakukan
dengan hujan ini Pak Tua, katanya. Tidak ada nak, kata Pak Tua lalu tertawa.
Biarkan hujan ini memainkan perannya.
Malam
harinya Marko dan Pak Tua tidak lagi berdua menghasilkan kabut, para
pengangguran di perumahan kecil itu mengetahui apa yang Marko dan Pak Tua
lakukan dan mereka bergabung hingga berkumpullah enam puluh tujuh orang. Dan
setiap malam berganti para pengangguran dari perumahan tetangga,
kampung-kampung sebelah dan desa-desa jauh mengetahui kabar ini dari mulut ke
mulut dan semakin hari mereka menghasilkan gumpalan awan yang semakin lebar
untuk membasahi wilayah yang lebih luas. Para peternak di dekat perumahan itu
dapat mendengar lenguh tangis bahagia sapi-sapinya saat merasakan hujan datang
secara berkala.
“Semua
orang pada sinting,” kata ibu Marko demi melihat kerumunan orang ramai
bersesakan di depan rumahnya menghisap rokok dan menciptakan kabut lalu awan
dan pada akhirnya hujan. Bahkan suaminya yang sebelumnya tidak suka asap rokok
juga berada di antara kerumunan dengan alasan sosialisasi. “Mereka semua akan
mati terkena paru-paru basah, Ibu,” kata anak perempuannya yang mengintip di
balik jendela.
Di
minggu ketiga, di atas permukaan tumpukan busa yang lembap dan lapuk, jamur
bulan mulai tampak tumbuh. Betapa senang hati Marko melihatnya. Selagi ia
mengamati jamur-jamur mungil yang tumbuh itu, mantan tunangannya tiba dan
berdiri tak jauh di belakangnya.
“Aku
mendengar kau berhasil mendatangkan musim hujan lebih cepat dari seharusnya.”
“Bukan
aku. Tapi semua orang. Kami berdoa dan Tuhan mengabulkannya.”
“Kau
memulainya.”
“Aku
apalah. Hanya pengangguran yang tak ingin hatiku kering.”
Mereka
diam untuk beberapa lama. Tetap pada posisinya masing-masing. Marko memunggungi
tunangannya memerhatikan jamur-jamurnya. Mantan tunangannya memandangi punggung
Marko dengan harap.
“Apakah
kau berdoa untukku. Apakah kau berdoa agar musim hujan tiba dan melanjutkan
pernikahan kita.”
Markopodo tak menjawab apa pun. Ia menghitung jamur-jamurnya tumbuh sebanyak doa yang dipanjatkannya.
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar