Usai pertemuan pertama mereka, David Sahara mengendarai
Honda Legendnya dengan bersiul-siul ria di sepanjang perjalanan pulang. Ia mengendarai Hondanya dengan kecepatan sedang sembari menyapai setiap orang yang ia temui di pinggir jalan; pedagang nasi goreng,
pemuda-pemuda yang termenung dan para peronda. David Sahara tak pernah
sebahagia ini semenjak tujuh tahun lalu.
Malam itu adalah kencan pertamanya dengan seorang wanita
semenjak tujuh tahun. Selama tujuh tahun itu David
mengabdikan dirinya di dapur sebuah restoran masakan timur, bercakap dengan
peralatan memasak dan bahan-bahan segar dan bumbu-bumbu oriental, meskipun
mereka belum pernah menjadi akrab.
Selama tujuh tahun itu ia merasakan tidak pernah akrab
dengan pekerjaannya, padahal, menjadi koki bukan hanya cita-cita yang
disebutkan ketika ia bocah kepada orang tuanya dan kepada gurunya, tapi juga
satu-satunya yang ia kuasai. Di luar itu segala jenis pekerjaan centang
parenang di tangannya jika tidak begitu asing. “Aku ingin bekerja dengan
cinta,” katanya kepada siapa pun yang sempat berbincang dengannya perihal
pekerjaan yang ideal.
Pemahaman itu tidak hanya ia dapat dari buku motivasi Pekerjaanmu Bukan Karirmu, yang
dibacanya berkali-kali berselang-seling dengan Sejarah Rempah-rempah Oriental, Filosofi di Balik Masakan Cina, dan
Jalan Pedang Pemasak. Tapi juga, inti
kenangan almarhum ibunya saat pertama kali ia memerhatikan ibunya memasak, membantunya,
hingga makanan pertama yang dimasaknya sendiri, sebelum ibunya pergi
meninggalkannya akibat kanker payudara.
“Ibuku bisa memasak telur mata sapi paling enak sedunia,”
kata David kepada Gina, gadis yang dikencaninya setelah tujuh tahun. Gina merupakan
seorang jurnalis tabloid politik. Mereka berjanji bertemu di dunia nyata
setelah sempat berkenalan dan bercakap-cakap di dunia maya.
“Oh ya. Pantas saja matamu itu telur mata sapi. Bulat dan
menggemaskan. Aku baru saja makan dan kembali lapar melihat matamu itu,” jawab
Gina lalu terkekeh.
Itu merupakan salah satu percakapan mereka pada pertemuan
pertama itu di sebuah kedai kopi di sudut kota di mana dari jendela mereka
dapat melihat lampu-lampu gedung dan lampu-lampu jalan terpantul bias di
permukaan sungai. Sungai itu lebar dan bersih, airnya tenang meskipun berwarna coklat
pada siang hari. Di malam hari pemandangan sungai itu begitu berbeda dan
menyenangkan bagi mereka berdua. Dan mereka mengungkapkan keindahan pantulan
cahaya lampu di permukaan sungai.
Setelah menyantap mi Aceh tanpa menyisakannya,
Gina memesan secangkir kopi pahit, dan sepanjang percakapan mereka kopi itu telah
diminum setengahnya. David memesan teh, juga tanpa gula. Gina sempat bertanya
apakah nikmat minum teh tanpa gula. David justru menjawab, kau sendiri minum
kopi pahit begitu. Mereka tertawa. Lalu David berkata, teh tanpa gula ini jadi
penyeimbang wajahmu yang manis itu. Gina tertawa, matanya berbinar. Kopi pahit
ini, lanjutnya, untuk menghilangkan rasa laparku karena mata telur mata sapimu.
Pertemuan pertama itu begitu penuh tawa di sela-sela
percakapan mereka. Mereka hanya membicarakan pekerjaan mereka masing-masing.
David dengan kesibukannya di dapur. Gina dengan hubungannya dengan para
politikus dan artikel-artikelnya yang ia anggap tidak memiliki pengaruh apa pun,
dan sebuah rumor kasus penggelembungan dana yang coba diungkapnya.
Usai
pertemuan itu David sudah terkenang dengan perbincangan mereka yang jujur dan
lugu sehingga ia merasakan sifat kontrasnya dari obrolan artifisial yang sering
ia rasakan. Mereka tidak menyatakan keinginan saling bertemu di ujung kencan
itu selain bertukar nomor ponsel. David merasakan kamarnya terasa lebih sunyi
dan sepi dari biasanya.
Usai pertemuan pertama itu, David tidak benar-benar langsung
tertidur. Ia memikirkan kembali percakapan mereka, yang setelah dipikir-pikir tidak benar-benar
jujur. Ia tidak menyampaikan bahwa selama tujuh tahun ia menjadi koki, selalu
ia merasa ada yang kurang dari masakannya.
Tentu ia menjalani laku kokinya
dengan disiplin seorang juru masak. Namun selalu ada yang kurang. Masakan yang
dimasaknya selalu disisakan pelanggan, dan diam-diam ia selalu kembali
mencicipi sisa masakannya itu.
Ia berusaha sekuat tenaga memasak dengan takaran
bumbu yang tidak berlebih tidak juga kurang, dengan api yang tidak terlalu
besar juga tidak terlalu kecil seperlunya. Memilih bahan-bahan makanan yang
selalu segar, peralatan kering yang dicuci bersih, sebagaimana disiplin seorang
juru masak.
Tapi setiap ia mencicipi masakannya, ia hanya merasakan enak tanpa
nikmat, dan setiap sendokan berikutnya rasa enak itu semakin berkurang. Ia
berusaha memasak lebih baik dari itu dengan keyakinan akan kesempurnaan. Tapi
selama tujuh tahun itu pasti selalu ada yang kurang, dan ia tidak
menceritakannya kepada Gina.
Dibanding koki baru yang baru bekerja di dapurnya, dengan
usia lima tahun lebih muda, tujuh tahun ia bergelut dengan dapur seperti
kesia-siaan. Memang tidak seperti dirinya yang mempelajari masak-memasak dengan
otodidak. Koki baru itu tembusan sebuah program kompetisi masak di
televisi, yang begitu bekerja di dapur sama dengannya, langsung mendapat pujian
dari rekan kerja yang lain, bos bahkan pelanggan.
“Aku yakin bulan ini omzet
restoran kita akan berkali lipat,” kata si bos kepada
koki baru itu.
“David, kau harus belajar darinya.” Ketika berbicara ludahnya terbang
berpencar ke segala penjuru sehingga David selalu curiga bosnya penyebab
masakan di restoran itu tidak pernah benar-benar lezat, dan dihabiskan
pelanggan.
Sebelum kedatangan koki baru itu, restoran oriental itu tidak bisa
dikatakan sepi, meskipun tidak bisa dikatakan begitu ramai. Letaknya yang
berada di tengah kota dan dikelilingi kantor-kantor kecil, menjadikannya selalu
dikunjungi pelanggan tetap pada jam-jam tertentu. Tapi semenjak kedatangan koki
baru peserta kompetisi memasak di televisi itu—meskipun ia tidak memenanginya—restoran
itu menjadi lebih ramai. Dan enam orang koki di dalam dapur yang tidak terlalu
besar merupakan jumlah yang terlalu banyak.
“Pertemuan kita berikutnya kau harus memakai kacamata hitam.
:D.” David menerima pesan singkat di ponsel pintarnya sesaat sebelum ia hendak
tidur. Pesan itu datang bertubi-tubi. “Aku tidak mau terus2an lapar dan jadi
gendut. :D.” “Kapan2 aku ingin mencicipi telur mata sapi yang katamu enak itu.
:P.” David tersenyum membaca pesan singkat itu. “Jangan. Nanti kau ketagihan
dan ingin bertemu aku terus. :P,” balas David. “Coba saja, kalau memang
masakanmu enak. :D.” Setelah itu di dalam kamar yang tidak berpenerangan, David
pun tertidur.
David berangkat bekerja dan untuk pertamakalinya dalam hidup
ia menyatakan “I love Monday” meskipun ia tidak benar-benar membenci Senin.
Bahkan ia menulis kalimat itu di status media sosialnya, setelah terbangun dari
tidur ia menerima pesan lanjutan dari Gina: morning Apit. Buatlah masakan yang
enak. Hari ini aku akan menemui narasumber penting untuk artikelku minggu ini.
Hanya ibunya yang memanggil dirinya dengan sebutan Apit sebagai panggilan akrab
dan sayang. Pagi itu Gina memanggilnya Apit, panggilan yang sudah lama tidak
didengarnya dari siapa pun. Panggilan itu menimbulkan suasana akrab yang asing
pada Senin paginya.
Pagi itu David mengendarai Honda Legendnya di antara
kerumunan orang-orang yang berangkat ke kantor dan tidak lagi merasa depresi seperti
pagi-pagi biasanya.
Ia sampai di restoran dan mengamati plang
tulisan besar yang menggantung di atas pintu utama yang teralisnya terbuka
sebagian: Jalan Timur. Dari luar jendela berkaca lebar, ia dapat melihat dua
pramusaji yang dikenalnya tidak begitu akrab, dan seorang pramusaji magang
berseragam hitam putih.
David melewati teralis itu dengan sedikit membungkuk
dan orang pertama yang dilihatnya adalah si bos. Penampakannya begitu mencolok
di dalam ruangan bercat krem itu, tubuhnya dibalut kemeja biru tua
dengan dasi hitam strip merah, celana bahan khaki, dan sepatu vantupel yang
terlihat kekecilan. Kulitnya begitu putih pucat. Dari jaraknya, David melihat
sepasang mata bosnya seperti terpejam. Begitu siang tiba David tahu kulit putih
bosnya akan berwarna kemerahan seperti udang rebus, dan kelenjar keringatnya
akan menghasilkan lebih banyak cairan dibanding siapa pun yang berada di
restoran itu.
Ia akan selalu melihat bosnya menggenggam setangan motif mawar
sambil menginspeksi setiap pekerjaan anak buahnya. Sambil berbicara dengan satu
dua orang, sekali-kali ia akan mengelap lehernya dan berbicara dengan semangat
yang berlebihan, tak sadar liurnya berterbangan ke segala arah.
“Kau tampak berbeda pagi ini David,” kata bosnya.
“Demi kejayaan Jalan Timur!” kata David menyenangkan hati si
bos. Ia selalu berdiri menjaga jarak aman darinya.
Bosnya menepuk-nepuk pundak David, pukulannya terasa keras
seperti hantaman.
“Kejayaan Jalan Timur ada di tangan kokiku yang
handal-handal,” kata bosnya mengembangkan senyum profesional. “Apakah kau
termasuk David?”
“Tentu saja. Aku bisa bertahan selama ini.” David berusaha
menyembunyikan getaran keragauan pada kata-katanya.
“Tidak hanya bertahan David. Tapi omzet kita harus terus
meningkat. Dan bulan ini akan luar biasa. Aku yakin bulan ini luar biasa. Kita
beruntung memiliki Rino.”
David hanya mengangguk. Dan ia hendak menuju ke ruang
belakang untuk berganti pakaian tapi bosnya menahannya.
“Kau tahu efisiensi?”
David mengangguk. Ia tahu akan merasa mual.
“Keuntungan tidak datang dari sifat boros. Dan aku benci
sifat boros. Aku hanya butuh tiga orang pramu yang cekatan dan dapat tersenyum
indah kepada pelanggan. Dan untuk di dapur. Aku hanya membutuhkan koki yang
bisa memasak enak. Begini. Seminggu ini aku memberimu kesempatan. Aku harus
dapat melihat progress-mu.”
David berlalu ke ruang belakang, membuka lacinya, mengganti
jaket dan kemejanya dengan pakaian khusus memasak, memasang celemek hitam,
menaruh topi koki di kepalanya.
Efektifitas, efisiensi, progres, profit dan
omzet adalah kosa kata yang sering di dengarnya dari si bos. Kata-kata itu
terus terngiang di kepalanya dan membuatnya merasa mual. Ia tidak pernah
berhasil membuat mantra-mantra itu menjadi bumbu-bumbu yang lezat untuk
masakannya.
Senin pagi itu sebelum memasuki dapur, David ingin menghapus status
“I Love Monday” di akunnya. Tapi ia mengurungkan niat. Selama tujuh tahun
bekerja di restoren itu ia tidak pernah melakukan kesalahan, meskipun tidak
juga memiliki prestasi gemilang.
Selain ia, terdapat dua koki lain yang
menurutnya acap melakukan kecerobohan. Salah satunya memang sangat lihai
menjilat bokong si bos sedangkan yang lainnya adalah keponakan pemegang separuh
lebih saham restoran.
David merasa tidak pernah bekerja lebih buruk dari
mereka. Bahkan terkadang kesalahan-kesalahan mereka ia juga yang tutupi. Tapi
memang banyak cara agar bisa bertahan di suatu pekerjaan meskipun ia kukuh
memilih disiplin seorang juru masak.
David dapat melihat kedua bocah koki tersebut berada di
antara dua orang lainnya sedang melakukan rutinitas persiapan sebelum pelanggan
datang memesan menu—di luar dugaan si anak baru belum muncul.
Dua orang lainnya
adalah kepala koki Bang Demon dan asistennya Lee. Di luar pekerjaan Bang Demon
adalah orang yang bijaksana dan ramah, tapi begitu ia berlaku sebagai kepala
koki ia menjadi seperti namanya, terobsesi terhadap detail, dan apabila
menemukan sedikit kesalahan pada pesanannya ia menjadi sangat marah kepada anak
kokinya meskipun anak koki itu sebelumnya merupakan rekan kesayangannya.
Suatu
hari, akibat kekeliruan seorang koki yang luput menerapkan pertama masuk
pertama keluar, sapo tahu yang mereka sajikan mendapat komplain, padahal, sapo
tahu adalah masakan yang populer dan mudah dibuat, namun yang memesananya
adalah seorang bloger kuliner. Blogger itu dapat merasakan bahan tahu yang disajikan
sudah lewat dari tenggat kedaluarsa pemakaiannya satu jam lalu, dengan
kekenyalan tahunya yang berkurang.
Di dapur, Bang Demon meledakkan
amarahnya kepada anak koki itu dan sambil mengacung-ngacungkan pisau dagingnya
ia mengancamnya, sebaiknya kau memasak untuk nenekmu saja. Sudah kuberitahu
iblis bersemayam dalam detail. Keesokan harinya anak koki itu tidak lagi pernah
menampakkan batang hidungnya.
Asisten Lee datang kemudian, setelah Bang Demon
membikin tiga orang koki berhenti bekerja di Jalan Timur. Kedatangannya
benar-benar jadi penyejuk, di balik permukaan keseriusannya, Asisten Lee
benar-benar menjadi penawar humor pada Bang Demon yang terlalu terobsesi pada
detail, dan lupa cara tertawa.
Keberadaannya berhasil membuat suasana dapur
agak kendur meskipun mereka tetap tidak boleh luput dari detail dan tugas-tugas.
Sebelum menu disajikan Asisten Lee memastikan tiga orang anak kokinya tak luput
dari salah sedikit pun.
Seperti biasa sebelum memasak, mereka terlebih dahulu harus
memastikan setiap perlengkapan tersedia dan berada di tempatnya seharusnya. Bahan-bahan yang terlebih dahulu masuk berada di depan bahan-bahan yang datang
kemudian agar rotasi kesegaran terus berputar.
Tanpa diperintahkan Bang Demon,
masing-masing koki melakukan pekerjaan yang belum dilakukan rekan lainnya,
David memastikan first in first out terutama bahan laut seperti udang,
kepiting, cumi atau sotom, dua orang koki yang lebih muda memastikan kebersihan
dapur dengan menyeka setiap permukaan dengan kain microfiber, juga perlengkapan Chinese wok, panci, penggorengan,
wajan, kuali, saringan, pisau daging yang digunakan untuk keperluan memotong
lainnya, lalu ketersedian piring, keamanan dan kecukupan perapian tungku.
Asisten Lee memastikan higien pira oven dan Bang Demon memastikan rekannya
bekerja sesuai idealnya. Rino datang di tengah kami melakukan persiapan, ia
cengenges meminta maaf dan melaporkan keterlambatannya kepada Bang Demon. Tak
biasanya ia terlambat dan Bang Demon selalu memaafkan kesalahan pertama
rekannya.
“Keterlambatan kedua kali berarti kau tidak layak bekerja di sini.”
Sangat jarang pelanggan datang sebelum pukul sepuluh. Menjelang itu mereka mengerjakan semua yang diperlukan tidak dengan tergesa-gesa
juga tidak terlalu santai.
Ketika semua persiapan dipastikan Bang Demon sudai
sesuai, serangkaian menu akhirnya menghampiri dapur, dua mapo tofu, tiga dumpling
soup. Masing-masing telah bersiap pada posisinya, mereka semua selalu
mendapatkan bagiannya masing-masing, dan adalah suatu kebanggaan dan tantangan
apabila mendapat kepercayaan untuk memasak—meracik bumbu, menyiapkan bahan,
mengolahnya dalam wajan.
Di saat belum banyak pesanan berdatangan, koki yang lebih
muda mendapat kesempatan menambah jam terbang mereka, tentunya dengan pantauan
Bang Demon atau Asisten Lee.
Serangkaian menu terus datang dalam rentang waktu
yang tidak terlalu lama menunggu dan setiap menu harus disajikan dalam waktu
dua puluh menit.
Mapo tofu dan dumpling adalah menu yang biasa dipesan
pelanggan menjelang siang meskipun hingga malam hari menu itu masih tetap
dipesan dengan varian menu makan siang seperti ayam kung pao, kepiting soka
lada garam, bebek char siu, udang telur asin, dan cumi telur asin. Menjelang
malam pelanggan mulai memilih bebek panggang peking atau ayam asam manis.
David telah mengenal menu-menu tersebut di luar kepala. Tapi
Senin itu, adalah hari dalam seminggu yang biasanya frekuensi pelanggannya
paling sedikit, namun kali ini di luar dugaan lebih banyak berdatangan. Bang Demon
tidak memberikan banyak kesempatan untuknya menguasai pisau daging, sudip dan
wajan. Ia lebih melakukan pekerjaan asistensi seperti menyediakan bahan-bahan
untuk diolah koki yang diberi tugas, menyetok bahan-bahan yang datang dari
distributor, mengisi bumbu-bumbu dan saus yang sudah habis, dan mencuci piring.
Perintah Bang Demon itu membuatnya merasa agak dikucilkan di
dalam dapur yang tak henti diakrabinya selama tujuh tahun. Ia merasa kembali
menjadi anak baru yang baru diberi tugas mengenal nama-nama dalam semesta
dapur.
Menjelang sore, Rino mengambil waktu istirahat sejamnya, dan akhirnya
David mendapat kesempatan menguasai wajan.
Adalah udang goreng dengan kacang
mete, menu pertama yang diolahnya sendiri. Tanpa diduga, jantungnya berdebar
saat berdiri di depan tungku, ia benar-benar merasa kembali ke masa tujuh tahun
lalu saat awal-awal ia menjadi koki dan diberi tugas memasak pertamanya.
Tapi
tentu saja ada yang berbeda. Pikirannya tidak lagi kacau oleh tiadanya
pengalaman, kondisinya jauh dari perasaan cemas, tapi jantungnya berdebar, sesuatu
yang hangat dan bersemangat menjalar dari debaran itu kesekujur tubuhnya.
David melihat bahan-bahan yang terhampar tampak lebih segar
dari biasanya, udang-udang sebesar jempol begitu hidup dengan cangkang mengilau,
daun bawang, paprika hijau, begitu hijau dan seperti baru saja dipetik, cabai
merah kering seperti kulit nenek yang keriput secara alami, bawang putih seperti
mutiara langka yang dikukus empuk, setengah mangkuk kacang mete berbau asap
seperti baru saja disangrai, tepung jagung, cuka anggur merah, kecap, bahkan
air tampak semurni asalinya.
Ia mencacah daun bawang menjadi potongan halus, meremuk
bawang putih dengan sisi pisau daging, mencacah bawang merah, paprika hijau
dalam potongan sedang, dengan fokus dan fase tiada tanding. Bang Demon
menyaksikan ada kemantapan yang berbeda dari laku David selama ini, ritme dari langkah satu ke langkah lainnya begitu akustik, bahkan jeda
pergerakan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tampak luwes dan alami.
David
mengocok campuran sausnya dalam mangkuk berlawan arah jarum jam, tak ada buih
yang mengambang di permukaan saus. Kemudian ia mengaduk udang yang sudah
dikupas dengan tepung jagung, setelah terlebih dahulu memanaskan genangan
minyak sayur di atas wajan lebar.
Ketika ia merasakan wajahnya menjadi hangat
dan agak memerah ia memasukkan udang-udang yang telah dilumuri tepung jagung
itu ke dalam wajan, gemuruh hujan berbunyi di permukaan minyak yang membuih berloncat-loncat.
Lalu ia berpindah ke wajan lain untuk menggoreng kacang mete.
Belum berubah
merah warna udang dan belum kecoklatan kacang mete, David bergeser ke wajan yang
lebih kecil untuk menumis cabai kering, mencampurkannya dengan cacahan bawang
putih, bawang merah, bunyi mendesis dan aroma tropis menguar dari wajan itu.
Dengan cekatan ia kembali pindah ke dua wajan lain untuk mengangkat udang yang
sudah memerah dan kacang mete yang mencoklat, mengeringkannya.
Kemudian ia
langsung kembali ke tumisan bawangnya, mengaduk-aduknya setengah menit, lalu
mencampurnya dengan cacahan daun bawang, dan kembali mengaduknya selama
setengah menit dengan mengayun-ngayunkan wajan ke depan ke belakang di udara.
Kemudian, ia mengangkat cabai yang sudah menguarkan aroma musim panas, lalu
menuang campuran saus ke dalam minyak yang pas mendidih. Ia menambahkannya
dengan udang dan kacang tadi, mengaduknya sebentar dan mengangkatnya ketika
masakan itu sudah terlihat layu dan keemasan.
Ia sajikan ke dalam piring
berbentuk oval dan meletakkannya di lubang pengambilan pesanan, lalu menekan
bel tanda siap. Semua itu ia lakukan tak lebih dari 20 menit, debar di dadanya
masih terasa, wajahnya memerah dan puas. Bang Demon mengamati pekerjaan rekan kerjanya itu tanpa berkedip.
“David!” panggil Bang Demon, “masih ada bebek char siu dan
kepiting soka yang menunggumu. Tidak ada jeda sesaat.”
David menjawabnya dengan senyuman dan anggukan, dan ia
kembali bergegas ke tempatnya semula, lebih mantap ia mengolah setiap bahannya, dengan perasaan berbeda selama tujuh tahun ini.
Pada saat
restauran itu tutup, tidak ada kata apa pun dari si bos terkait kinerjanya.
Berpapasan dengannya, si bos memandangnya dalam diam, menyembunyikan pujian dan
ucapan kepuasaan yang didapatnya dari pelanggan atas udang goreng dengan kacang
mete buatan David.
“Setiap sore aku akan kembali untuk menu ini,” kata
pelanggan itu yang mengenalkan dirinya sebagai pemilik perusahaan percetakan
yang berkantor di seberang jalan restoran.
Kunjungan itu bukanlah yang pertama,
meskipun tidak bisa dikatakan sering. Tapi pelanggan itu mengungkapkan
ketersediaannya untuk kembali datang memesan menu yang sama.
Hari sudah gelap ketika David sampai di rumah, pesan-pesan
singkat yang tidak sempat dibalas bertumpuk di layar ponselnya, ia melihat nama
Gina tertera di dalamnya.
“Hikz. Aku mendapatkan narasumber kunci untuk
kasusku. Ikan kakap yang tidak diketahui orang.”
“Tapi aku sulit menembus
informasi yang dimilikinya. Dia takut, karena yang dihadapinya politikus
purnawirawan ternama. Dan dia berusaha mengalihkan topik. Dia seperti tembok
besar.”
“Aku hampir menyerah. :’(.”
David berpikir sebentar dan mencoba
merangkai kata-kata, “Aku tidak mengerti jurnalistik ataupun politik.” Ia
terkenang almarhum ibunya. “Buatlah ia nyaman untuk bercerita kepadamu.”
Gina
baru membalas satu jam kemudian. “Maaf. Aku habis rapat redaksi. Caranya?”
David tidak membalas pesan singkat Gina, rasa letihnya cepat hinggap seperti
biasa. Mendengar alarm dari ponsel pintar di sebelah bantalnya, setengah sadar
ia terbangun dan memeriksa layar ponselnya, dalam kantuknya ia buka pesan Gina,
ia baca dalam ingatan yang belum terkumpul, dan kembali memicingkan mata masih
menggenggam ponsel itu.
David baru tersadar
belum membalas pesan singkat Gina sesudah berada di dapur restoran Jalan Timur.
Dapur itu melarangnya untuk menggenggam perangkat elektronik apa pun sehingga
ia berniat membalasnya pada saat istirahat.
Ketika rutinitas persiapan,
David sedikit bercanda dengan kawan-kawannya sekadar menyegarkan kesadaran
bahwa mereka masih manusia.
Rino datang lebih awal dari biasanya dan tampak
bersemangat meskipun ia mengatakan sedang tidak enak badan.
Asisten Lee
berkelakar, rutinlah berkencan dengan wanita, kau lihat Bang Demon, dia jadi
lebih santai semenjak menikah. Ia tertawa menggoda Bang Demon. Dengan gaya
bijaksananya Bang Demon membenarkan, dibalik seorang koki handal harus ada
seorang wanita yang menyukai masakanmu dengan tulus, dan mengkritik
kekurangannya tanpa ampun. Mereka semua tertawa dalam keseriusan mereka
mengerjakan rutinitas dapur.
Bang Demon melanjutkan, ngomong-ngomong si bos
akan memberi kita bonus apabila targetnya tercapai bulan ini. Mereka sudah
lumayan lama tidak mendengar kata-kata itu. David sudah lupa kapan terakhir
kali mendengar ada bonus di akhir bulan pekerjaannya.
Bang Demon dulu pernah
bercerita, sewaktu dia menjadi anak koki di dapur ini, kepala kokinya adalah
penggagas restoran ini sendiri, seorang peranakan yang sebelum tinggal di
Indonesia menghabiskan waktunya berpindah-pindah restoran di daratan Cina.
Dia
memasak seperti master kung-fu. Dahulu dapur kita tidak tertutup seperti ini
sehingga pelanggan senang menyaksikan Kakak Liu memperagakan keahliannya. Para
pelanggan mengaku dengan melihat atraksi itu, selera makan mereka berkali lipat
dan bonus adalah kata yang biasa kami dengar. Kepadaku Kakak Liu berkata, aku
terlahir sebagai juru masak dan dapur adalah dunia kecilku. Semenjak serangan
jantung yang dialaminya, perlahan-lahan restoran ini berkurang pelanggannya,
meskipun segelintir pelanggan setia acap datang ke restoran ini dan merindukan
masakan Kakak Liu.
“Aku sudah mencoba untuk menirunya tapi tidak akan pernah
seperti dia. Dan Kakak Liu berpesan, lebih dari sekadar aksi gilaku, yang lebih
baik adalah bagaimana membuat pelanggan merasakan masakan kita seperti ibu
mereka sendiri yang buat.”
Mengingat cerita bang Demon mengenai koki penggagas restoran
ini, David selalu terkenang kepada ibunya. Kecuali di hari-hari besar, ibunya
tidak pernah memasak masakan yang rumit. Tapi di lingkungan tetangga, ia
dikenal sebagai orang yang dapat mengubah seseorang lewat masakannya. Diam-diam
orang-orang mengakuinya sebagai sejenis tabib, meskipun ibunya menolak membuka
praktek pengobatan, sebab memang ia tidak mengerti ilmu pengobatan.
Aku hanya
tahu bagaimana bercakap-cakap dengan sayur-sayuran, daging, dan bumbu-bumbu,
kenang David. Itu mirip perumpamaan nasi akan menangis kalau tidak dihabiskan.
Tapi ibu selalu berhasil membuat anak pembenci nasi dapat lahap memakannya,
juga anak pembenci sayuran, dan gadis yang hilang selera makan sebab patah
hati.
Kau tahu kenapa mereka menolak makan, kata ibunya kepada David kecil
suatu kali. David menggeleng. Karena pemasaknya tidak berhasil membujuk
bahan-bahan itu akrab dengan mereka. Mereka hanyalah sadistis yang
memberlakukan beras, sayur, daging dan bumbu-bumbu persis seperti fasis.
David mengingat cerita Bang Demon dan mengenang ibunya dan
berpikir apakah ia sendiri terlahir sebagai juru masak dan bisa akrab dengan
bahan-bahan seperti yang hampir tidak bisa dipercayai, dikatakan ibunya?
Mempercayai ucapan ibunya secara membabi buta, ia pernah dengan sinting, secara
harfiah, berusaha berbincang dengan kangkung. Ia menginterogasi sisa potongan kangkung yang berhasil menyembuhkan
insomnia salah seorang tetangganya dengan cah kangkung terasi buatan ibunya.
David menggenggam setengah ikat kangkung yang masih bersisa kesegarannya dan
bertanya, menurutmu apakah ibuku orang yang galak? Ia menunggu kangkung itu
berbicara tapi David tak mendapatkan apa-apa.
Di dapur dengan penerangan cukup itu, David membuka
pendingin bahan makanan, ia memandang seisinya dan entah bagaimana, mendengar
sayur-sayur di dalam itu seperti berbisik-bisik riuh. Ia tidak mempercayai
pendengarannya. Semenjak kemarin ia merasa ada yang berbisik-bisik di dapur itu
namun ia mengira bahwa keramaian di ruang santaplah riuh itu berasal. Aku sudah
tidak serenyah kemarin, kata kubis. Masaklah aku sebelum jam sore, kata kacang
kapri. Ada ulat yang kekenyangan di tubuhku, kata kacang panjang.
David
terkejut dengan suara-suara itu, sepertinya aku sudah butuh piknik, pikirnya. Dan
ia meraba kubis berkata itu, helai kubis itu tampak sedikit layu dan sembap,
lalu ia memeriksa kacang panjang dan memotongnya sebatang, ulat kecil
menggeliat keluar dari dalamnya. Ia menyingkirkannya. David memisahkan
bahan-bahan yang sudah tidak elok lagi dimasak hari itu. Udang-udang yang
seharusnya dimasak kemarin menimbulkan bau amis menyengat, ia gantikan dengan
udang yang baru datang pagi tadi. Lebih dari kemarin, ia merasa lebih nyaman
berada di antara mereka. Bahan-bahan itu.
Hari itu Bang Demon memerintahkan David menguasai tungku,
berdampingan dengan Rino yang menangani tungku yang lain. David merasa, secara
diam-diam Bang Demon mengatur persaingan di antara mereka. Siapa yang terbaik
di antara mereka tentunya sulit dinilai, kecuali para pelanggan yang bisa
dengan terus terang memuji atau mencaci, atau menyisakan, atau sama sekali
tidak memakan pesanannya.
Rino dengan kepongahan bentuk rahang dan lebar
bahunya menunjukkan kepada David bahwa ini adalah rivalitas. Tapi David tidak
mau menganggapnya demikian, ia tidak mau bersaing dengan siapa pun. Tugasnya
hanyalah membuat pelanggan kembali ke Jalan Timur.
Dibanding kemarin, Selasa itu pelanggan lebih banyak berdatangan,
alamiah, mengingat secara bertahap menjelang akhir pekan jumlah pelanggan
memang terus bertambah. Orang-orang berpakaian kantor atau berpakaian kasual
duduk bertebaran di bangku-bangku yang tersedia. Setiap bangku tak begitu lama
ditinggalkan kosong, datang pengunjung yang lain. Dua atau tiga pelanggan paruh
baya sempat bertanya kepada si bos apakah Chef Liu sudah kembali memasak di
restoran ini. Mereka merasakan keberadaannya dalam kelembutan jamur enoki yang
dimakan, capcay kuah yang segar dan menerbitkan liur, kehangatan cah kailan.
Si
boss secara diplomatis menjawab, koki kami adalah pewaris ilmu Chef Liu.
Pemilik penerbitan di seberang jalan membawa tiga orang rekan kerjanya dan memberitahu
si bos besok ia akan membawa seluruh anak buahnya untuk makan siang di restoran
itu. Selasa itu adalah pertama kali kemeja si bos tak lembap oleh keringat,
setangan motif mawarnya dilipat rapih dan diselipkan di kantong kemeja, kering
dan menguarkan aroma parfum mawar.
Pada saat jam istirahat wajah David mengeras, ia menahan
rasa kesal karena berkali-kali Rino mengganggu pekerjaannya. Bahkan Rino sempat
membuatnya hampir terjatuh sebab kakinya yang iseng menyilang di jalannya
menjemput jamur sitake.
Sambil mengoseng, di antara kepulan asap campuran
tumisan capcay, mata mereka terus beradu dan bertengkar, mereka juga berebut
untuk satu botol cuka anggur merah yang ada di antara mereka.
Di luar itu, David
dan Rino terus menjaga kualitas masakan mereka, meskipun beberapa makanan
hampir saja melewati batas waktu dua puluh menit. Pada satu jam istirahat itu
David berusaha menenangkan gejolak emosinya dengan mengatur napas, menghirupnya
dalam, menghembusnya perlahan.
Ia membuka celemek dan menanggalkan topi
kokinya, mengambil selpon pintar. Ia teringat untuk membalas pesan singkat
Gina. “Lumayan menguras energi dan mentalku hari ini,” ketik David. “Tapi aku
dapat menguasai diri. Ngomong-ngomong soal yang semalam, ibuku pernah bilang,
puaskanlah perut, maka pembicaraan akan mengalir seperti sungai.”
Selama sisa
istirahat itu, Gina tidak membalas pesan balasan David. Ia menghabiskan waktu
istirahatnya untuk makan, dan menenangkan pikiran.
Memasuki malam, David terheran dengan kegigihan Rino
mengganggunya, di luar pesanan yang silih berganti melelahkan untuk dikerjakan,
Rino seperti memiliki tenaga tak berbatas terhadap kejailannya.
Keadaan itu
menyebabkan kekesalan David terus terakumulasi hingga pengunjung menghilang dan
pramusaji mulai membereskan bangku-bangku, mengelap permukaan meja dan mengepel
lantai. Lampu-lampu ruangan restoran telah dimatikan.
Ubun-ubun kepala David
begitu panas. Mereka berjalan beriringan ke parkiran karyawan. Bang Demon,
Asisten Lee, Rino dan dua bocah lainnya pecah tawa setelah menggunjingkan si bos.
Ini kebiasaan mereka di luar sepengetahuan si bos, semacam obat dari kegilaan
rutinitas bekerja. Biasanya David dapat ikut tertawa bersama mereka, bahkan
satu dua buah banyolan soal si bos sesekali dilontarkannya ketika sedang kesal.
Namun malam itu ia tidak dapat tertawa mendengar lelucon-lelucon yang berlompatan
dari rekan-rekannya.
Masing-masing kendaraan mereka terpisah cukup jauh. Bang
Demon dan Asisten Lee memisahkan diri, kemudian dua bocah lainnya. Tinggal
David dan Rino berjalan beriringan menuju baris parkiran yang sama. Secara
kebetulan ternyata kendaraan mereka bersisian. Rino memiliki Ninja. Mereka
berjalan dalam diam dan mengenakan perlengkapan berkendara dalam diam. David
mengenakan helmnya dan melihat Rino seperti mengatakan sesuatu kepadanya.
“Apa katamu?”
“Aku tidak mendengar ada pelanggan yang komplain terhadap
masakanmu,” kata Rino tertawa.
“Maksudmu?”
“Aku berharap ada pelanggan yang berkata capcay kuahmu agak
asin dan tengik. Tapi sepertinya lidahnya enggak peka.” Rino membuat-buat
tawanya.
“Anjing! Aku sudah menakar saus dan bumbunya dengan pas.
Jangan ngawur. Anjing!” Kepala David terasa panas dan mengepulkan asap.
“Padahal aku telah memasukkan upil di tumisanmu. Mungkin upilku
terlalu hambar—”
David membuka kembali helmnya, dan mengayunkannya ke kepala
Rino. Helm itu beradu dengan helm Rino menimbulkan suara hantaman yang keras.
Rino terlempar ke aspal. Rino langsung berdiri dan memandang David yang
mendekat.
Ukuran tubuh mereka tampak tidak sebanding. David terlihat lebih
ringkih.
Namun David lebih dulu melayangkan tinjunya ke hidung Rino, kepalan
tangannya tampak melesak ke dalam.
Rino terhuyung sedikit dan membalas
membabi-buta. Lengannya yang bisa dikatakan lebih kokoh berhasil merobohkan
David.
Ia terjengkang di atas aspal, mengerjap-ngerjapkan mata, bintang-bintang
tampak berputar di langit.
Rino tak menyia-nyiakan kesempatan dengan menendang
sekuat tenaga tubuh David yang telentang.
David menahannya dalam posisi yang
tak nyaman, lengannya agak terlambat menghalau sepakan Rino.
Tapi tak lama
kemudian datang sepakan susulan dua dan tiga kali, dan kali ini David tidak
berhasil menghalaunya.
Ia merasa tak sanggup lagi berdiri. Badannya menggulung
persis seperti bayi di dalam kandungan.
Ia merasakan badannya akan pecah
berkeping-keping.
Rino meludah ke samping, hampir mengenai David.
Lalu ia
menyeret dirinya ke Ninja, mengengkol, meraung-raungkan kenalpotnya dan
berlalu. David masih berada di situ, mencoba memunguti harga dirinya yang
berserak.
Usai pertengkaran itu David bersusah payah mencapai rumah.
Ia sulit menjaga keseimbangan laju Hondanya. Akibat tak sempurna menangkis
sepakan Rino, lengan kanannya bengkak dan berdenyut-denyut. Ia merasakan ada
yang tanggal di dalamnya. Dalam keadaan berantakan seperti itu hilang
keinginannya untuk mandi. Ia mencoba
mengangkat gayung untuk mengguyur diri tapi gayung berisi air itu terasa
seberat ember berisi penuh. Ia berkaca dan terlihat luka lebam di sisi
hidungnya. Luka itu masih berdenyut-denyut, juga lengan kanannya dan perutnya.
Ia terhempas di atas kasur langsung tersadar selpon pintarnya
mendengung-dengung. Ia mengambilnya dan mengangkat saluran yang telah
terhubung.
“Hai Gin,” kata David. Suaranya begitu lelah.
“Halo Pit,” suara Gina dari seberang sana. “Kau tidak
apa-apa?”
David enggan menceritakan pertengkarannya dengan Rino.
“Hanya lelah. Hari ini lumayan padat.”
“Apakah aku menganggumu. Sepertinya kamu perlu segera
tidur.”
“Aku memang berniat menelponmu, tapi kamu mendahuluiku.”
“Gombal. Eh, ngomong-ngomong soal pesanmu tadi. Aku mengerti
maksudmu. Aku harus mengajaknya makan dulu kan supaya dia enak cerita?”
“Ibuku sering mengubah seseorang di atas meja makan.”
“Oh ya. Bagaimana ceritanya?”
“Hmm. Banyak. Salah satunya. Hmm. Dia berhasil membuat rujuk
pasangan yang hampir bercerai. Singkatnya seperti itu.”
“Oh ya. Tapi kasus korupsi tidak bisa disamakan.”
“Ibuku bahkan pernah menggagalkan kematian orang yang
sekarat.”
“Tidak bisa dipercaya. Terlampau fantastis.” Gina
melanjutkan, “tapi narasumberku ini begitu pemilih dalam soal makanan. Nyinyir.
Hari ini aku mengajaknya ke sebuah restoran Timur Tengah cukup terkenal di
selatan kota. Setelah sendokan pertama dia tidak melanjutkan lagi makannya, dan
nyinyir mengomentari makanan tersebut. Ia menyebut hobi wisata kuliner dan
tidak banyak tempat yang dapat memuaskan perutnya. Dia mengatakan kepadaku
urusan perut tidak hanya urusan kenyang, tapi lebih dalam lagi, pembebasan. Itu
sebabnya rakyat miskin terus-terusanan miskin karena perut mereka belum
terbebas. Sinting. Aku tidak mendapatkan apa-apa darinya hari ini. Tapi Jum’at
aku harus sudah menulis artikelku, karena Sabtu adalah deadline.”
“Hmm. Kenapa tidak kau ajak dia ke restoran tempatku
bekerja.”
“Besok?”
“Lusa.” David tersadar akan kondisi tangannya, dan ia tidak
yakin tangannya itu akan segera sembuh.
Setelah memberi alamat Jalan Timur kepada Gina, mereka
memutus sambungan telepon. Tak lama kemudian pelupuk mata David terasa
begitu berat bagai ada seseorang yang menindihnya.
Malam itu ia bermimpi buruk,
kwetiau kering yang dimasaknya menjelma ular dan mematuki bibir pelanggannya.
David terbangun dengan merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
Pagi itu Bang Demon terheran melihat wajah David dan Rino
memiliki memar merah kirmizi. David membalut lengan kanannya dengan perban.
Bang Demon bertanya kepada mereka apa yang terjadi.
David beralasan semalam
motornya terpeleset, tapi tidak apa-apa. Ia meyakinkan Bang Demon dapat
melaksanakan tugasnya seperti biasa.
Rino berkilah ngantuk di jalan dan
menubruk pohon, tapi tidak apa-apa, juga Ninjanya hanya sedikit ringsek.
Kebetulan sekali, kata Bang Demon.
Hari itu mereka berdua tampak memaksakan
dirinya. Hal tersebut terlihat dari beberapa pelanggan yang tidak mau menunggu
lama pesanannya datang. Si bos mencak-mencak di dapur dan menyalahkan kokinya,
lebih keras kepada David. Bang Demon membela ini adalah tanggungjawabnya.
Tak
sampai sore, Bang Demon jatuh kasihan dengan kondisi Rino dan memerintahkannya
beristirahat lebih lama. Ia juga menawarkan hal yang sama kepada David, namun
David menolaknya. Ia mengaku masih sanggup sampai restoran tutup.
Hari itu Bang Demon dan Asisten Lee lebih sibuk dari seharusnya, dan pengunjung tak
putus-putus datang.
Sepulang dari restoran, David terserang demam dan
menggigil, tak nyenyak tidur sementara ia teringat keesokannya Gina bersama
narasumbernya akan datang ke Jalan Timur.
David terbangun dari igau tidurnya dengan cara terjatuh ke
lantai. Sepanjang tujuh tahun karirnya sebagai koki, tak pernah ia merasakan
ketidakberdayaan sehebat ini. Sekali-kali ia alami juga demam, tapi tak
menyurutkannya untuk pergi bertugas.
Pagi itu bahkan untuk ke kamar mandi saja
ia harus mengeluarkan tenaga lebih, terhuyung-huyung. Aku harus berangkat
kerja. Aku harus berangkat kerja. Aku harus berangkat kerja. Demam dan nyeri
sisa pertengkarannya tidak berkurang sedikit pun, dan di tengah rasa putus asa
itu ia berdoa hari itu tidak menjadi kacau.
Sebelum ia berangkat, Bang Demon
meneleponnya menanyakan kondisinya, dan menyarankan agar beristirahat saja di
rumah. David hanya menjawab hmm sebelum Bang Demon memutus saluran teleponnya.
Berangkat ke restoran yang jaraknya tiga kilometer dari
rumahnya dalam kondisi seperti itu merupakan neraka. Ia memaksa dirinya mengendarai
Hondanya dan beberapa kali mendapat umpatan dari pengendara arah berlawanan
yang hampir saja menabraknya. Ia sampai di kantor setengah jam lebih lambat
dari waktunya.
“Aku sudah menyuruhmu istirahat di rumah, kenapa kau masih
memaksakan diri?” kata Bang Demon, nada suaranya meninggi, persis seperti
seorang ibu yang memarahi anaknya yang nakal.
“Aku tidak apa-apa.”
“Apanya yang tidak apa-apa. Kau pucat begitu.”
“Izinkan aku mengambil istirahat sejamku lebih awal. Setelah
itu aku akan pulih.”
“Baiklah. Pakailah waktu sejammu. Setelah itu aku berharap
kau bisa kembali seperti semula.”
Rino memandangi percakapan singkat antara David dan Bang
Demon itu. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Ia mengikuti David ke bilik
tempat mereka biasa beristirahat. David tidak begitu sadar ada seseorang di
belakangnya. Pundaknya disentuh seseorang.
“Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa.”
“Ini semua karena kesalahanku kau jadi begini. Aku dengar,
dalam minggu ini bos sedang mempertimbangkanmu. Aku tak mau kehilangan seorang
rekan handal.”
David tertawa sesaat sebelum kepalanya terasa berdenyut. Ia
mengatakan, “Di dapur ini, aku memang harus bertengkar dulu dengan rekan-rekan
sebelum menjadi kawan.”
Istirahat sejam lebih awal itu, ia tertidur dan kembali
bermimpi kwetiau kering buatannya menjelma ular-ular dan mematuk salah seorang
pelanggan. Ia tersentak bangun setelah di dalam mimpi itu si bos memecatnya.
Terbangun, David tidak merasakan ada perbaikan berarti dengan kondisinya. Ia
mencuci muka dan memasang tampang sehat, berharap Bang Demon dapat tertipu.
Di dapur semua orang tampak sibuk. Menjelang akhir pekan
restoran itu memang lebih ramai. Bang Demon hanya sesaat menengoknya dan
berteriak dari jaraknya, kau baikan? Aku luar biasa, balas David dibuat-buat.
Penerangan dapur itu terasa menyengat mata David. Kepalanya terasa agak pusing.
Tapi ia membulat mengendalikan dirinya.
Ia mulai dengan membantu rekan-rekannya
yang sibuk memasak. Linglung sebab semua orang tampak sibuk, dan tidak begitu
peduli keberadaannya, ia memutuskan untuk membasuh piring. Piring-piring
menumpuk berserakan di dalam dish washer.
Ia membasuh piring-piring itu dengan tempo lebih lambat dari biasanya. Putaran
tangannya yang konstan membuat kepalanya berdenyut. Selesai membersihkan
semuanya, ia biarkan piring-piring itu kering sendirinya.
Ia kembali ke dapur
dan keadaanya tidak berubah seperti sebelum ia membasuh piring di pantry. Ia kembali berusaha membantu
rekan-rekannya, tak lama kemudian Rino diperintahkan untuk mengambil waktu
istirahatnya. Namun Bang Demon tidak memberi kesempatan David mengambil alih
tempat Rino. Tugas itu justru diberikan kepada si bocah penjilat pantat bos,
sementara si bocah anak pemegang saham sibuk berkonsentrasi memasak sesuatu di sebelahnya.
Kertas pesanan tak putus-putus mampir ke dapur. Dari celah
pengambilan pesanan si bos berteriak kepada mereka, percepat kerja kalian!
Beberapa pelanggan tampak tak sabar menunggu. Di mana Rino, kenapa dia tidak
ada di saat seperti ini. Dalam tekanan pelanggan yang menunggu dan pesanan
terus bertambah, si bocah penjilat pantat bos tak dapat menguasai dirinya. Ia
tidak biasa menghadapi kondisi seperti ini, sebab hanyalah koki handal yang
bisa mengendalikan diri dari tekanan seperti ini. Puncaknya, ia menjatuhkan pesanan yang baru saja di
buatnya, bunyi piring pecah, serpihan tahu berceceran di lantai.
Bang Demon
sadar tidak mau membuang tenaganya untuk marah dalam keadaan seperti itu. Jiwa
kepemimpinan dibutuhkan pada saat seperti ini. Ia menyuruh si penjilat pantat
bos untuk membersihkan kebodohannya.
“David, kau gantikan dia di tungku.”
David langsung mengambil posisinya dan membaca pesanan yang
tergantung di depannya. Ia berteriak O dan menepuk keras pipinya. Kepalanya
berdenyut-denyut. Tapi tidak ada waktu baginya memikirkan kondisinya sendiri.
Ia memejamkan mata, berusaha bernapas tenang. Ia hidu aroma dapur,
rempah-rempah dan saus yang mengambang. Ia dengar keriuhan yang semakin intens
di luar sana. Tanpa berpikir, badannya bergerak melaksanakan laku yang sudah
tujuh tahun dilakoninya. Ia tidak memerintahkan tubuh dan pikirannya. Menu-menu
yang terpampang mengantre itu begitu saja terhubung ke dalam pusat dirinya,
saling tersambung dengan setiap partikel yang bergerak harmonis. Selama
melakukannya, ia teringat Gina dan narasumbernya. Tidak mungkin ia dapat
menyapanya dalam keadaan sibuk seperti ini. Namun setiap pesanan yang
menghampirinya ia pastikan dikerjakan dengan kesempurnaan bulat. Di antara menu
itu pasti adalah pesanan Gina dan narasumbernya.
Rino kembali dari
istiarahatnya, mereka saling bertukar senyum. Mereka tidak lagi berduel,
melainkan berduet. Meskipun mereka menangani wajan yang berbeda dan mengerjakan
menu yang berbeda, siapa pun yang menyaksikan mereka bekerja dapat membayangkan
pasangan penari balet yang kompak seakan mereka terlahir untuk menari
berpasangan.
Keriuhan yang ada di ruang makan, yang tadinya terdengar mengancam
telah berubah menjadi keakraban, dan riuh rendah antusias.
Di dapur, malam itu mereka begitu bulat, tak bercelah, tawa
mengisi ujung pekerjaan mereka membersihkan dan membereskan peralatan. Di balik
obralan di ujung pekerjaan yang santai setelah seharian berjibaku, diam-diam
mereka mengakui hari itu adalah saat yang terbaik sepanjang pekerjaan mereka
sebagai koki.
Bang Demon merasakan kerinduan yang akrab, yang dulu acap
dirasakannya pada saat bertugas bersama Kakak Liu. Bahkan si bocah penjilat
pantat bos tidak lupa akan kesalahan yang tadi dibuatnya.
David terkejut mendapati Gina berada di sudut ruangan
restoran itu, sedang menekuri laptopnya. Tiga orang pramusaji sedang
membereskan bangku-bangku.
“Kau masih di sini rupanya.” David tidak bisa menutupi rasa
senangnya. Matanya bercahaya.
“Aku sedang mengetik artikelku sembari menunggumu.” Cahaya
mata David terpantul juga di mata Gina.
“Bagaiamana tadi dengan narasumbermu?”
“Dahsyat. Ia nyerocos seperti air sungai.”
“Selamat untukmu.”
“Berkatmu.”
David mengambil bangku yang sudah diletakkan tertelungkup di
atas meja, di dekat Gina, dan mendudukinya, lengannya menyilang di puncak
sandaran bangku, menopang wajahnya. Mereka bercakap-cakap sesaat. Dari belakang,
rekan kerjanya bersiul-siul melihat David sedang bersama seorang wanita. Rino
tampak bersemangat menggodanya. Dan mereka tertawa.
Gina menyela David yang
sedang tersipu. Ia mengatakan, belum pernah ia percaya diri seperti ini selama
tiga tahun menjadi jurnalis. Selama ini ia yakin, tulisannya tidak punya pengaruh
apa-apa di tengah masyarakat. Ia tidak yakin ada yang mau membaca tulisannya.
Selain tentu saja, media tempat ia bekerja tidak begitu besar, artikelnya, ia
pikir, hanyalah rutinitas untuk mengisi halaman kosong.
Tapi kali ini
artikelnya seperti menyemburkan energi yang berbeda, baru. Tentu saja tersebab
bahan yang ia dapat hari ini. Ia biasa mengakrabi politikus supaya halamannya
tidak pernah kosong, tapi diam-diam ia merasa mual dengan pekerjaannya. Sering kali
ia mendapatkan amplop dari beberapa perbincangan, dan ia tidak bisa menolaknya,
sebab tentu saja perusahaan tempat ia bekerja tidak membayar terlalu besar. Dan
kebanyakan politikus adalah pengiklan rutin di tabloidnya, untuk itu redaksi
memerintahkan Gina selalu membuat tulisan yang lunak terhadap mereka. Aku
seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia, kata Gina.
“Tapi semenjak pertemu6an pertama kita. Aku seperti
mendapatkan perspektif yang baru,” kata Gina. Suaranya terdengar malu-malu.
David meresapi pernyataan itu sejenak, tersenyum, lalu
berkata, “Aku juga. Aku seperti menemukan apa yang kurang selama ini.”
“Apa itu?”
“Bumbu yang hanya dimiliki seorang juru koki. Yang selama
ini digunakan ibuku.”
“Hmm. Aku tahu.” Pipi Gina berubah merah lembayung.
“Apa hayo?”
“Enggak mau ngasih tahu. Nanti ge-er.”
Mereka tertawa.
Seminggu berlalu semenjak pertemuan pertama mereka, dan tiga
hari berlalu semenjak pertemuan tak terencana itu di Jalan Timur. Kinerja David
tak kendur sedikit pun, namun tetap harus ada yang dikorbankan. Sebagaimana
ucapan si bos bahwa dalam dapur Jalan Timur, enam koki adalah terlalu banyak.
David tidak mendapat pujian dari pencapaiannya sejauh ini, tapi si bos
menjawabnya dengan memberhentikan kerja si bocah koki penjilat. David merasa
sedikit kasihan terhadapnya, terlepas dari sifatnya.
Ia mendapat kabar dari Gina bahwa artikelnya bikin geger ibu
kota, dan media pesaing kalang kabut kebobolan. Di pertemuan mereka berikutnya
Gina berniat merayakannya dengan David. Mereka merencanakan pertemuan itu akhir
pekan depan di kedai kopi tempat mereka pertama bertemu, di mana di malam hari
permukaan air sungai di luar kaca berkilauan oleh pantulan cahaya lampu.
Menjelang akhir pekan David begitu bersemangat dalam bekerja, seperti perasaan
David usai bertemu Gina. Namun entah kenapa ia tidak mendapat kabar dari Gina
pada malam-malam menjelang pertemuan mereka. David berpikiran baik,
pekerjaannya sebagai jurnalis tentu menyita waktunya kapan pun.
Sabtu malam itu diam-diam ia ingin memberi kejutan kepada
Gina. Ia membawa telur mata sapi saus tiram. Ia sudah berada di meja kedai kopi
tempat ia pertama kali bertemu Gina. Debaran jantungnya konstan, dan ia merasa
kesepian berada di antara pasangan-pasangan yang bermesraan.
David mengalihkan pandangannya
ke luar jendela mengamati bias pantulan cahaya lampu di permukaan air yang
sedikit bergelombang. Memang pemandangan di luar jendela itu lebih asyik dinikmati
berdua, pikirnya. Ia menopang dagunya dan tak menyadari aliran waktu yang
berlalu. Ia mendapati pemandangan yang tak biasa di luar jendela. Beberapa
orang berkumpul di bantaran sungai, menunjuk-nunjuk ke permukaannya. Ia
penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Pintu kedai kopi itu terbuka dengan
suara gemerincing giring-giring yang tergantung menghalangi. Seseorang masuk memberitahukan kepada seisi ruangan bahwa ada
mayat wanita mengambang timbul tenggelam, menepi di bantaran sungai dekat dari
kedai kopi itu.
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar