Minggu, 23 Agustus 2020

Usai Pertemuan Pertama






Usai pertemuan pertama mereka, David Sahara mengendarai Honda Legendnya dengan bersiul-siul ria di sepanjang perjalanan pulang. Ia mengendarai Hondanya dengan kecepatan sedang sembari menyapai setiap orang yang ia temui di pinggir jalan; pedagang nasi goreng, pemuda-pemuda yang termenung dan para peronda. David Sahara tak pernah sebahagia ini semenjak tujuh tahun lalu.

Malam itu adalah kencan pertamanya dengan seorang wanita semenjak tujuh tahun. Selama tujuh tahun itu David mengabdikan dirinya di dapur sebuah restoran masakan timur, bercakap dengan peralatan memasak dan bahan-bahan segar dan bumbu-bumbu oriental, meskipun mereka belum pernah menjadi akrab.

Selama tujuh tahun itu ia merasakan tidak pernah akrab dengan pekerjaannya, padahal, menjadi koki bukan hanya cita-cita yang disebutkan ketika ia bocah kepada orang tuanya dan kepada gurunya, tapi juga satu-satunya yang ia kuasai. Di luar itu segala jenis pekerjaan centang parenang di tangannya jika tidak begitu asing. “Aku ingin bekerja dengan cinta,” katanya kepada siapa pun yang sempat berbincang dengannya perihal pekerjaan yang ideal. 

Pemahaman itu tidak hanya ia dapat dari buku motivasi Pekerjaanmu Bukan Karirmu, yang dibacanya berkali-kali berselang-seling dengan Sejarah Rempah-rempah Oriental, Filosofi di Balik Masakan Cina, dan Jalan Pedang Pemasak. Tapi juga, inti kenangan almarhum ibunya saat pertama kali ia memerhatikan ibunya memasak, membantunya, hingga makanan pertama yang dimasaknya sendiri, sebelum ibunya pergi meninggalkannya akibat kanker payudara.

“Ibuku bisa memasak telur mata sapi paling enak sedunia,” kata David kepada Gina, gadis yang dikencaninya setelah tujuh tahun. Gina merupakan seorang jurnalis tabloid politik. Mereka berjanji bertemu di dunia nyata setelah sempat berkenalan dan bercakap-cakap di dunia maya.

“Oh ya. Pantas saja matamu itu telur mata sapi. Bulat dan menggemaskan. Aku baru saja makan dan kembali lapar melihat matamu itu,” jawab Gina lalu terkekeh.

Itu merupakan salah satu percakapan mereka pada pertemuan pertama itu di sebuah kedai kopi di sudut kota di mana dari jendela mereka dapat melihat lampu-lampu gedung dan lampu-lampu jalan terpantul bias di permukaan sungai. Sungai itu lebar dan bersih, airnya tenang meskipun berwarna coklat pada siang hari. Di malam hari pemandangan sungai itu begitu berbeda dan menyenangkan bagi mereka berdua. Dan mereka mengungkapkan keindahan pantulan cahaya lampu di permukaan sungai. 

Setelah menyantap mi Aceh tanpa menyisakannya, Gina memesan secangkir kopi pahit, dan sepanjang percakapan mereka kopi itu telah diminum setengahnya. David memesan teh, juga tanpa gula. Gina sempat bertanya apakah nikmat minum teh tanpa gula. David justru menjawab, kau sendiri minum kopi pahit begitu. Mereka tertawa. Lalu David berkata, teh tanpa gula ini jadi penyeimbang wajahmu yang manis itu. Gina tertawa, matanya berbinar. Kopi pahit ini, lanjutnya, untuk menghilangkan rasa laparku karena mata telur mata sapimu.

Pertemuan pertama itu begitu penuh tawa di sela-sela percakapan mereka. Mereka hanya membicarakan pekerjaan mereka masing-masing. David dengan kesibukannya di dapur. Gina dengan hubungannya dengan para politikus dan artikel-artikelnya yang ia anggap tidak memiliki pengaruh apa pun, dan sebuah rumor kasus penggelembungan dana yang coba diungkapnya. 

Usai pertemuan itu David sudah terkenang dengan perbincangan mereka yang jujur dan lugu sehingga ia merasakan sifat kontrasnya dari obrolan artifisial yang sering ia rasakan. Mereka tidak menyatakan keinginan saling bertemu di ujung kencan itu selain bertukar nomor ponsel. David merasakan kamarnya terasa lebih sunyi dan sepi dari biasanya.

Usai pertemuan pertama itu, David tidak benar-benar langsung tertidur. Ia memikirkan kembali percakapan mereka, yang setelah dipikir-pikir tidak benar-benar jujur. Ia tidak menyampaikan bahwa selama tujuh tahun ia menjadi koki, selalu ia merasa ada yang kurang dari masakannya.

Tentu ia menjalani laku kokinya dengan disiplin seorang juru masak. Namun selalu ada yang kurang. Masakan yang dimasaknya selalu disisakan pelanggan, dan diam-diam ia selalu kembali mencicipi sisa masakannya itu.

Ia berusaha sekuat tenaga memasak dengan takaran bumbu yang tidak berlebih tidak juga kurang, dengan api yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil seperlunya. Memilih bahan-bahan makanan yang selalu segar, peralatan kering yang dicuci bersih, sebagaimana disiplin seorang juru masak. 

Tapi setiap ia mencicipi masakannya, ia hanya merasakan enak tanpa nikmat, dan setiap sendokan berikutnya rasa enak itu semakin berkurang. Ia berusaha memasak lebih baik dari itu dengan keyakinan akan kesempurnaan. Tapi selama tujuh tahun itu pasti selalu ada yang kurang, dan ia tidak menceritakannya kepada Gina.

Dibanding koki baru yang baru bekerja di dapurnya, dengan usia lima tahun lebih muda, tujuh tahun ia bergelut dengan dapur seperti kesia-siaan. Memang tidak seperti dirinya yang mempelajari masak-memasak dengan otodidak. Koki baru itu tembusan sebuah program kompetisi masak di televisi, yang begitu bekerja di dapur sama dengannya, langsung mendapat pujian dari rekan kerja yang lain, bos bahkan pelanggan.

“Aku yakin bulan ini omzet restoran kita akan berkali lipat,” kata si bos kepada koki baru itu.

“David, kau harus belajar darinya.” Ketika berbicara ludahnya terbang berpencar ke segala penjuru sehingga David selalu curiga bosnya penyebab masakan di restoran itu tidak pernah benar-benar lezat, dan dihabiskan pelanggan.

Sebelum kedatangan koki baru itu, restoran oriental itu tidak bisa dikatakan sepi, meskipun tidak bisa dikatakan begitu ramai. Letaknya yang berada di tengah kota dan dikelilingi kantor-kantor kecil, menjadikannya selalu dikunjungi pelanggan tetap pada jam-jam tertentu. Tapi semenjak kedatangan koki baru peserta kompetisi memasak di televisi itu—meskipun ia tidak memenanginya—restoran itu menjadi lebih ramai. Dan enam orang koki di dalam dapur yang tidak terlalu besar merupakan jumlah yang terlalu banyak.

“Pertemuan kita berikutnya kau harus memakai kacamata hitam. :D.” David menerima pesan singkat di ponsel pintarnya sesaat sebelum ia hendak tidur. Pesan itu datang bertubi-tubi. “Aku tidak mau terus2an lapar dan jadi gendut. :D.” “Kapan2 aku ingin mencicipi telur mata sapi yang katamu enak itu. :P.” David tersenyum membaca pesan singkat itu. “Jangan. Nanti kau ketagihan dan ingin bertemu aku terus. :P,” balas David. “Coba saja, kalau memang masakanmu enak. :D.” Setelah itu di dalam kamar yang tidak berpenerangan, David pun tertidur.


David berangkat bekerja dan untuk pertamakalinya dalam hidup ia menyatakan “I love Monday” meskipun ia tidak benar-benar membenci Senin. Bahkan ia menulis kalimat itu di status media sosialnya, setelah terbangun dari tidur ia menerima pesan lanjutan dari Gina: morning Apit. Buatlah masakan yang enak. Hari ini aku akan menemui narasumber penting untuk artikelku minggu ini. Hanya ibunya yang memanggil dirinya dengan sebutan Apit sebagai panggilan akrab dan sayang. Pagi itu Gina memanggilnya Apit, panggilan yang sudah lama tidak didengarnya dari siapa pun. Panggilan itu menimbulkan suasana akrab yang asing pada Senin paginya.

Pagi itu David mengendarai Honda Legendnya di antara kerumunan orang-orang yang berangkat ke kantor dan tidak lagi merasa depresi seperti pagi-pagi biasanya.

Ia sampai di restoran dan mengamati plang tulisan besar yang menggantung di atas pintu utama yang teralisnya terbuka sebagian: Jalan Timur. Dari luar jendela berkaca lebar, ia dapat melihat dua pramusaji yang dikenalnya tidak begitu akrab, dan seorang pramusaji magang berseragam hitam putih.

David melewati teralis itu dengan sedikit membungkuk dan orang pertama yang dilihatnya adalah si bos. Penampakannya begitu mencolok di dalam ruangan bercat krem itu, tubuhnya dibalut kemeja biru tua dengan dasi hitam strip merah, celana bahan khaki, dan sepatu vantupel yang terlihat kekecilan. Kulitnya begitu putih pucat. Dari jaraknya, David melihat sepasang mata bosnya seperti terpejam. Begitu siang tiba David tahu kulit putih bosnya akan berwarna kemerahan seperti udang rebus, dan kelenjar keringatnya akan menghasilkan lebih banyak cairan dibanding siapa pun yang berada di restoran itu.

Ia akan selalu melihat bosnya menggenggam setangan motif mawar sambil menginspeksi setiap pekerjaan anak buahnya. Sambil berbicara dengan satu dua orang, sekali-kali ia akan mengelap lehernya dan berbicara dengan semangat yang berlebihan, tak sadar liurnya berterbangan ke segala arah.

“Kau tampak berbeda pagi ini David,” kata bosnya.

“Demi kejayaan Jalan Timur!” kata David menyenangkan hati si bos. Ia selalu berdiri menjaga jarak aman darinya.

Bosnya menepuk-nepuk pundak David, pukulannya terasa keras seperti hantaman.

“Kejayaan Jalan Timur ada di tangan kokiku yang handal-handal,” kata bosnya mengembangkan senyum profesional. “Apakah kau termasuk David?”

“Tentu saja. Aku bisa bertahan selama ini.” David berusaha menyembunyikan getaran keragauan pada kata-katanya.

“Tidak hanya bertahan David. Tapi omzet kita harus terus meningkat. Dan bulan ini akan luar biasa. Aku yakin bulan ini luar biasa. Kita beruntung memiliki Rino.”

David hanya mengangguk. Dan ia hendak menuju ke ruang belakang untuk berganti pakaian tapi bosnya menahannya.

“Kau tahu efisiensi?”

David mengangguk. Ia tahu akan merasa mual.

“Keuntungan tidak datang dari sifat boros. Dan aku benci sifat boros. Aku hanya butuh tiga orang pramu yang cekatan dan dapat tersenyum indah kepada pelanggan. Dan untuk di dapur. Aku hanya membutuhkan koki yang bisa memasak enak. Begini. Seminggu ini aku memberimu kesempatan. Aku harus dapat melihat progress-mu.”

David berlalu ke ruang belakang, membuka lacinya, mengganti jaket dan kemejanya dengan pakaian khusus memasak, memasang celemek hitam, menaruh topi koki di kepalanya.

Efektifitas, efisiensi, progres, profit dan omzet adalah kosa kata yang sering di dengarnya dari si bos. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya dan membuatnya merasa mual. Ia tidak pernah berhasil membuat mantra-mantra itu menjadi bumbu-bumbu yang lezat untuk masakannya.

Senin pagi itu sebelum memasuki dapur, David ingin menghapus status “I Love Monday” di akunnya. Tapi ia mengurungkan niat. Selama tujuh tahun bekerja di restoren itu ia tidak pernah melakukan kesalahan, meskipun tidak juga memiliki prestasi gemilang.

Selain ia, terdapat dua koki lain yang menurutnya acap melakukan kecerobohan. Salah satunya memang sangat lihai menjilat bokong si bos sedangkan yang lainnya adalah keponakan pemegang separuh lebih saham restoran. 

David merasa tidak pernah bekerja lebih buruk dari mereka. Bahkan terkadang kesalahan-kesalahan mereka ia juga yang tutupi. Tapi memang banyak cara agar bisa bertahan di suatu pekerjaan meskipun ia kukuh memilih disiplin seorang juru masak.

David dapat melihat kedua bocah koki tersebut berada di antara dua orang lainnya sedang melakukan rutinitas persiapan sebelum pelanggan datang memesan menu—di luar dugaan si anak baru belum muncul.

Dua orang lainnya adalah kepala koki Bang Demon dan asistennya Lee. Di luar pekerjaan Bang Demon adalah orang yang bijaksana dan ramah, tapi begitu ia berlaku sebagai kepala koki ia menjadi seperti namanya, terobsesi terhadap detail, dan apabila menemukan sedikit kesalahan pada pesanannya ia menjadi sangat marah kepada anak kokinya meskipun anak koki itu sebelumnya merupakan rekan kesayangannya.

Suatu hari, akibat kekeliruan seorang koki yang luput menerapkan pertama masuk pertama keluar, sapo tahu yang mereka sajikan mendapat komplain, padahal, sapo tahu adalah masakan yang populer dan mudah dibuat, namun yang memesananya adalah seorang bloger kuliner. Blogger itu dapat merasakan bahan tahu yang disajikan sudah lewat dari tenggat kedaluarsa pemakaiannya satu jam lalu, dengan kekenyalan tahunya yang berkurang.

Di dapur, Bang Demon meledakkan amarahnya kepada anak koki itu dan sambil mengacung-ngacungkan pisau dagingnya ia mengancamnya, sebaiknya kau memasak untuk nenekmu saja. Sudah kuberitahu iblis bersemayam dalam detail. Keesokan harinya anak koki itu tidak lagi pernah menampakkan batang hidungnya.

Asisten Lee datang kemudian, setelah Bang Demon membikin tiga orang koki berhenti bekerja di Jalan Timur. Kedatangannya benar-benar jadi penyejuk, di balik permukaan keseriusannya, Asisten Lee benar-benar menjadi penawar humor pada Bang Demon yang terlalu terobsesi pada detail, dan lupa cara tertawa. 

Keberadaannya berhasil membuat suasana dapur agak kendur meskipun mereka tetap tidak boleh luput dari detail dan tugas-tugas. Sebelum menu disajikan Asisten Lee memastikan tiga orang anak kokinya tak luput dari salah sedikit pun.

Seperti biasa sebelum memasak, mereka terlebih dahulu harus memastikan setiap perlengkapan tersedia dan berada di tempatnya seharusnya. Bahan-bahan yang terlebih dahulu masuk berada di depan bahan-bahan yang datang kemudian agar rotasi kesegaran terus berputar.

Tanpa diperintahkan Bang Demon, masing-masing koki melakukan pekerjaan yang belum dilakukan rekan lainnya, David memastikan first in first out terutama bahan laut seperti udang, kepiting, cumi atau sotom, dua orang koki yang lebih muda memastikan kebersihan dapur dengan menyeka setiap permukaan dengan kain microfiber, juga perlengkapan Chinese wok, panci, penggorengan, wajan, kuali, saringan, pisau daging yang digunakan untuk keperluan memotong lainnya, lalu ketersedian piring, keamanan dan kecukupan perapian tungku.

Asisten Lee memastikan higien pira oven dan Bang Demon memastikan rekannya bekerja sesuai idealnya. Rino datang di tengah kami melakukan persiapan, ia cengenges meminta maaf dan melaporkan keterlambatannya kepada Bang Demon. Tak biasanya ia terlambat dan Bang Demon selalu memaafkan kesalahan pertama rekannya. 

“Keterlambatan kedua kali berarti kau tidak layak bekerja di sini.”

Sangat jarang pelanggan datang sebelum pukul sepuluh. Menjelang itu mereka mengerjakan semua yang diperlukan tidak dengan tergesa-gesa juga tidak terlalu santai.

Ketika semua persiapan dipastikan Bang Demon sudai sesuai, serangkaian menu akhirnya menghampiri dapur, dua mapo tofu, tiga dumpling soup. Masing-masing telah bersiap pada posisinya, mereka semua selalu mendapatkan bagiannya masing-masing, dan adalah suatu kebanggaan dan tantangan apabila mendapat kepercayaan untuk memasak—meracik bumbu, menyiapkan bahan, mengolahnya dalam wajan.

Di saat belum banyak pesanan berdatangan, koki yang lebih muda mendapat kesempatan menambah jam terbang mereka, tentunya dengan pantauan Bang Demon atau Asisten Lee. 

Serangkaian menu terus datang dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama menunggu dan setiap menu harus disajikan dalam waktu dua puluh menit.

Mapo tofu dan dumpling adalah menu yang biasa dipesan pelanggan menjelang siang meskipun hingga malam hari menu itu masih tetap dipesan dengan varian menu makan siang seperti ayam kung pao, kepiting soka lada garam, bebek char siu, udang telur asin, dan cumi telur asin. Menjelang malam pelanggan mulai memilih bebek panggang peking atau ayam asam manis.

David telah mengenal menu-menu tersebut di luar kepala. Tapi Senin itu, adalah hari dalam seminggu yang biasanya frekuensi pelanggannya paling sedikit, namun kali ini di luar dugaan lebih banyak berdatangan. Bang Demon tidak memberikan banyak kesempatan untuknya menguasai pisau daging, sudip dan wajan. Ia lebih melakukan pekerjaan asistensi seperti menyediakan bahan-bahan untuk diolah koki yang diberi tugas, menyetok bahan-bahan yang datang dari distributor, mengisi bumbu-bumbu dan saus yang sudah habis, dan mencuci piring.

Perintah Bang Demon itu membuatnya merasa agak dikucilkan di dalam dapur yang tak henti diakrabinya selama tujuh tahun. Ia merasa kembali menjadi anak baru yang baru diberi tugas mengenal nama-nama dalam semesta dapur. 

Menjelang sore, Rino mengambil waktu istirahat sejamnya, dan akhirnya David mendapat kesempatan menguasai wajan. 

Adalah udang goreng dengan kacang mete, menu pertama yang diolahnya sendiri. Tanpa diduga, jantungnya berdebar saat berdiri di depan tungku, ia benar-benar merasa kembali ke masa tujuh tahun lalu saat awal-awal ia menjadi koki dan diberi tugas memasak pertamanya.

Tapi tentu saja ada yang berbeda. Pikirannya tidak lagi kacau oleh tiadanya pengalaman, kondisinya jauh dari perasaan cemas, tapi jantungnya berdebar, sesuatu yang hangat dan bersemangat menjalar dari debaran itu kesekujur tubuhnya.

David melihat bahan-bahan yang terhampar tampak lebih segar dari biasanya, udang-udang sebesar jempol begitu hidup dengan cangkang mengilau, daun bawang, paprika hijau, begitu hijau dan seperti baru saja dipetik, cabai merah kering seperti kulit nenek yang keriput secara alami, bawang putih seperti mutiara langka yang dikukus empuk, setengah mangkuk kacang mete berbau asap seperti baru saja disangrai, tepung jagung, cuka anggur merah, kecap, bahkan air tampak semurni asalinya.

Ia mencacah daun bawang menjadi potongan halus, meremuk bawang putih dengan sisi pisau daging, mencacah bawang merah, paprika hijau dalam potongan sedang, dengan fokus dan fase tiada tanding. Bang Demon menyaksikan ada kemantapan yang berbeda dari laku David selama ini, ritme dari langkah satu ke langkah lainnya begitu akustik, bahkan jeda pergerakan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tampak luwes dan alami. 

David mengocok campuran sausnya dalam mangkuk berlawan arah jarum jam, tak ada buih yang mengambang di permukaan saus. Kemudian ia mengaduk udang yang sudah dikupas dengan tepung jagung, setelah terlebih dahulu memanaskan genangan minyak sayur di atas wajan lebar.

Ketika ia merasakan wajahnya menjadi hangat dan agak memerah ia memasukkan udang-udang yang telah dilumuri tepung jagung itu ke dalam wajan, gemuruh hujan berbunyi di permukaan minyak yang membuih berloncat-loncat. Lalu ia berpindah ke wajan lain untuk menggoreng kacang mete. 

Belum berubah merah warna udang dan belum kecoklatan kacang mete, David bergeser ke wajan yang lebih kecil untuk menumis cabai kering, mencampurkannya dengan cacahan bawang putih, bawang merah, bunyi mendesis dan aroma tropis menguar dari wajan itu.

Dengan cekatan ia kembali pindah ke dua wajan lain untuk mengangkat udang yang sudah memerah dan kacang mete yang mencoklat, mengeringkannya.

Kemudian ia langsung kembali ke tumisan bawangnya, mengaduk-aduknya setengah menit, lalu mencampurnya dengan cacahan daun bawang, dan kembali mengaduknya selama setengah menit dengan mengayun-ngayunkan wajan ke depan ke belakang di udara.

Kemudian, ia mengangkat cabai yang sudah menguarkan aroma musim panas, lalu menuang campuran saus ke dalam minyak yang pas mendidih. Ia menambahkannya dengan udang dan kacang tadi, mengaduknya sebentar dan mengangkatnya ketika masakan itu sudah terlihat layu dan keemasan.

Ia sajikan ke dalam piring berbentuk oval dan meletakkannya di lubang pengambilan pesanan, lalu menekan bel tanda siap. Semua itu ia lakukan tak lebih dari 20 menit, debar di dadanya masih terasa, wajahnya memerah dan puas. Bang Demon mengamati pekerjaan rekan kerjanya itu tanpa berkedip.

“David!” panggil Bang Demon, “masih ada bebek char siu dan kepiting soka yang menunggumu. Tidak ada jeda sesaat.”

David menjawabnya dengan senyuman dan anggukan, dan ia kembali bergegas ke tempatnya semula, lebih mantap ia mengolah setiap bahannya, dengan perasaan berbeda selama tujuh tahun ini. 

Pada saat restauran itu tutup, tidak ada kata apa pun dari si bos terkait kinerjanya. Berpapasan dengannya, si bos memandangnya dalam diam, menyembunyikan pujian dan ucapan kepuasaan yang didapatnya dari pelanggan atas udang goreng dengan kacang mete buatan David. 

“Setiap sore aku akan kembali untuk menu ini,” kata pelanggan itu yang mengenalkan dirinya sebagai pemilik perusahaan percetakan yang berkantor di seberang jalan restoran. 

Kunjungan itu bukanlah yang pertama, meskipun tidak bisa dikatakan sering. Tapi pelanggan itu mengungkapkan ketersediaannya untuk kembali datang memesan menu yang sama.

Hari sudah gelap ketika David sampai di rumah, pesan-pesan singkat yang tidak sempat dibalas bertumpuk di layar ponselnya, ia melihat nama Gina tertera di dalamnya. 

“Hikz. Aku mendapatkan narasumber kunci untuk kasusku. Ikan kakap yang tidak diketahui orang.”

“Tapi aku sulit menembus informasi yang dimilikinya. Dia takut, karena yang dihadapinya politikus purnawirawan ternama. Dan dia berusaha mengalihkan topik. Dia seperti tembok besar.” 

“Aku hampir menyerah. :’(.”

David berpikir sebentar dan mencoba merangkai kata-kata, “Aku tidak mengerti jurnalistik ataupun politik.” Ia terkenang almarhum ibunya. “Buatlah ia nyaman untuk bercerita kepadamu.”

Gina baru membalas satu jam kemudian. “Maaf. Aku habis rapat redaksi. Caranya?” 

David tidak membalas pesan singkat Gina, rasa letihnya cepat hinggap seperti biasa. Mendengar alarm dari ponsel pintar di sebelah bantalnya, setengah sadar ia terbangun dan memeriksa layar ponselnya, dalam kantuknya ia buka pesan Gina, ia baca dalam ingatan yang belum terkumpul, dan kembali memicingkan mata masih menggenggam ponsel itu.


David baru tersadar belum membalas pesan singkat Gina sesudah berada di dapur restoran Jalan Timur. Dapur itu melarangnya untuk menggenggam perangkat elektronik apa pun sehingga ia berniat membalasnya pada saat istirahat. 

Ketika rutinitas persiapan, David sedikit bercanda dengan kawan-kawannya sekadar menyegarkan kesadaran bahwa mereka masih manusia.

Rino datang lebih awal dari biasanya dan tampak bersemangat meskipun ia mengatakan sedang tidak enak badan.

Asisten Lee berkelakar, rutinlah berkencan dengan wanita, kau lihat Bang Demon, dia jadi lebih santai semenjak menikah. Ia tertawa menggoda Bang Demon. Dengan gaya bijaksananya Bang Demon membenarkan, dibalik seorang koki handal harus ada seorang wanita yang menyukai masakanmu dengan tulus, dan mengkritik kekurangannya tanpa ampun. Mereka semua tertawa dalam keseriusan mereka mengerjakan rutinitas dapur.

Bang Demon melanjutkan, ngomong-ngomong si bos akan memberi kita bonus apabila targetnya tercapai bulan ini. Mereka sudah lumayan lama tidak mendengar kata-kata itu. David sudah lupa kapan terakhir kali mendengar ada bonus di akhir bulan pekerjaannya.

Bang Demon dulu pernah bercerita, sewaktu dia menjadi anak koki di dapur ini, kepala kokinya adalah penggagas restoran ini sendiri, seorang peranakan yang sebelum tinggal di Indonesia menghabiskan waktunya berpindah-pindah restoran di daratan Cina.

Dia memasak seperti master kung-fu. Dahulu dapur kita tidak tertutup seperti ini sehingga pelanggan senang menyaksikan Kakak Liu memperagakan keahliannya. Para pelanggan mengaku dengan melihat atraksi itu, selera makan mereka berkali lipat dan bonus adalah kata yang biasa kami dengar. Kepadaku Kakak Liu berkata, aku terlahir sebagai juru masak dan dapur adalah dunia kecilku. Semenjak serangan jantung yang dialaminya, perlahan-lahan restoran ini berkurang pelanggannya, meskipun segelintir pelanggan setia acap datang ke restoran ini dan merindukan masakan Kakak Liu.

“Aku sudah mencoba untuk menirunya tapi tidak akan pernah seperti dia. Dan Kakak Liu berpesan, lebih dari sekadar aksi gilaku, yang lebih baik adalah bagaimana membuat pelanggan merasakan masakan kita seperti ibu mereka sendiri yang buat.”

Mengingat cerita bang Demon mengenai koki penggagas restoran ini, David selalu terkenang kepada ibunya. Kecuali di hari-hari besar, ibunya tidak pernah memasak masakan yang rumit. Tapi di lingkungan tetangga, ia dikenal sebagai orang yang dapat mengubah seseorang lewat masakannya. Diam-diam orang-orang mengakuinya sebagai sejenis tabib, meskipun ibunya menolak membuka praktek pengobatan, sebab memang ia tidak mengerti ilmu pengobatan. 

Aku hanya tahu bagaimana bercakap-cakap dengan sayur-sayuran, daging, dan bumbu-bumbu, kenang David. Itu mirip perumpamaan nasi akan menangis kalau tidak dihabiskan. Tapi ibu selalu berhasil membuat anak pembenci nasi dapat lahap memakannya, juga anak pembenci sayuran, dan gadis yang hilang selera makan sebab patah hati.

Kau tahu kenapa mereka menolak makan, kata ibunya kepada David kecil suatu kali. David menggeleng. Karena pemasaknya tidak berhasil membujuk bahan-bahan itu akrab dengan mereka. Mereka hanyalah sadistis yang memberlakukan beras, sayur, daging dan bumbu-bumbu persis seperti fasis.

David mengingat cerita Bang Demon dan mengenang ibunya dan berpikir apakah ia sendiri terlahir sebagai juru masak dan bisa akrab dengan bahan-bahan seperti yang hampir tidak bisa dipercayai, dikatakan ibunya?

Mempercayai ucapan ibunya secara membabi buta, ia pernah dengan sinting, secara harfiah, berusaha berbincang dengan kangkung. Ia menginterogasi sisa potongan kangkung yang berhasil menyembuhkan insomnia salah seorang tetangganya dengan cah kangkung terasi buatan ibunya. David menggenggam setengah ikat kangkung yang masih bersisa kesegarannya dan bertanya, menurutmu apakah ibuku orang yang galak? Ia menunggu kangkung itu berbicara tapi David tak mendapatkan apa-apa.

Di dapur dengan penerangan cukup itu, David membuka pendingin bahan makanan, ia memandang seisinya dan entah bagaimana, mendengar sayur-sayur di dalam itu seperti berbisik-bisik riuh. Ia tidak mempercayai pendengarannya. Semenjak kemarin ia merasa ada yang berbisik-bisik di dapur itu namun ia mengira bahwa keramaian di ruang santaplah riuh itu berasal. Aku sudah tidak serenyah kemarin, kata kubis. Masaklah aku sebelum jam sore, kata kacang kapri. Ada ulat yang kekenyangan di tubuhku, kata kacang panjang.

David terkejut dengan suara-suara itu, sepertinya aku sudah butuh piknik, pikirnya. Dan ia meraba kubis berkata itu, helai kubis itu tampak sedikit layu dan sembap, lalu ia memeriksa kacang panjang dan memotongnya sebatang, ulat kecil menggeliat keluar dari dalamnya. Ia menyingkirkannya. David memisahkan bahan-bahan yang sudah tidak elok lagi dimasak hari itu. Udang-udang yang seharusnya dimasak kemarin menimbulkan bau amis menyengat, ia gantikan dengan udang yang baru datang pagi tadi. Lebih dari kemarin, ia merasa lebih nyaman berada di antara mereka. Bahan-bahan itu.

Hari itu Bang Demon memerintahkan David menguasai tungku, berdampingan dengan Rino yang menangani tungku yang lain. David merasa, secara diam-diam Bang Demon mengatur persaingan di antara mereka. Siapa yang terbaik di antara mereka tentunya sulit dinilai, kecuali para pelanggan yang bisa dengan terus terang memuji atau mencaci, atau menyisakan, atau sama sekali tidak memakan pesanannya.

Rino dengan kepongahan bentuk rahang dan lebar bahunya menunjukkan kepada David bahwa ini adalah rivalitas. Tapi David tidak mau menganggapnya demikian, ia tidak mau bersaing dengan siapa pun. Tugasnya hanyalah membuat pelanggan kembali ke Jalan Timur.

Dibanding kemarin, Selasa itu pelanggan lebih banyak berdatangan, alamiah, mengingat secara bertahap menjelang akhir pekan jumlah pelanggan memang terus bertambah. Orang-orang berpakaian kantor atau berpakaian kasual duduk bertebaran di bangku-bangku yang tersedia. Setiap bangku tak begitu lama ditinggalkan kosong, datang pengunjung yang lain. Dua atau tiga pelanggan paruh baya sempat bertanya kepada si bos apakah Chef Liu sudah kembali memasak di restoran ini. Mereka merasakan keberadaannya dalam kelembutan jamur enoki yang dimakan, capcay kuah yang segar dan menerbitkan liur, kehangatan cah kailan.

Si boss secara diplomatis menjawab, koki kami adalah pewaris ilmu Chef Liu. Pemilik penerbitan di seberang jalan membawa tiga orang rekan kerjanya dan memberitahu si bos besok ia akan membawa seluruh anak buahnya untuk makan siang di restoran itu. Selasa itu adalah pertama kali kemeja si bos tak lembap oleh keringat, setangan motif mawarnya dilipat rapih dan diselipkan di kantong kemeja, kering dan menguarkan aroma parfum mawar.

Pada saat jam istirahat wajah David mengeras, ia menahan rasa kesal karena berkali-kali Rino mengganggu pekerjaannya. Bahkan Rino sempat membuatnya hampir terjatuh sebab kakinya yang iseng menyilang di jalannya menjemput jamur sitake.

Sambil mengoseng, di antara kepulan asap campuran tumisan capcay, mata mereka terus beradu dan bertengkar, mereka juga berebut untuk satu botol cuka anggur merah yang ada di antara mereka. 

Di luar itu, David dan Rino terus menjaga kualitas masakan mereka, meskipun beberapa makanan hampir saja melewati batas waktu dua puluh menit. Pada satu jam istirahat itu David berusaha menenangkan gejolak emosinya dengan mengatur napas, menghirupnya dalam, menghembusnya perlahan.

Ia membuka celemek dan menanggalkan topi kokinya, mengambil selpon pintar. Ia teringat untuk membalas pesan singkat Gina. “Lumayan menguras energi dan mentalku hari ini,” ketik David. “Tapi aku dapat menguasai diri. Ngomong-ngomong soal yang semalam, ibuku pernah bilang, puaskanlah perut, maka pembicaraan akan mengalir seperti sungai.” 

Selama sisa istirahat itu, Gina tidak membalas pesan balasan David. Ia menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan, dan menenangkan pikiran.

Memasuki malam, David terheran dengan kegigihan Rino mengganggunya, di luar pesanan yang silih berganti melelahkan untuk dikerjakan, Rino seperti memiliki tenaga tak berbatas terhadap kejailannya.

Keadaan itu menyebabkan kekesalan David terus terakumulasi hingga pengunjung menghilang dan pramusaji mulai membereskan bangku-bangku, mengelap permukaan meja dan mengepel lantai. Lampu-lampu ruangan restoran telah dimatikan.

Ubun-ubun kepala David begitu panas. Mereka berjalan beriringan ke parkiran karyawan. Bang Demon, Asisten Lee, Rino dan dua bocah lainnya pecah tawa setelah menggunjingkan si bos. Ini kebiasaan mereka di luar sepengetahuan si bos, semacam obat dari kegilaan rutinitas bekerja. Biasanya David dapat ikut tertawa bersama mereka, bahkan satu dua buah banyolan soal si bos sesekali dilontarkannya ketika sedang kesal. Namun malam itu ia tidak dapat tertawa mendengar lelucon-lelucon yang berlompatan dari rekan-rekannya. 

Masing-masing kendaraan mereka terpisah cukup jauh. Bang Demon dan Asisten Lee memisahkan diri, kemudian dua bocah lainnya. Tinggal David dan Rino berjalan beriringan menuju baris parkiran yang sama. Secara kebetulan ternyata kendaraan mereka bersisian. Rino memiliki Ninja. Mereka berjalan dalam diam dan mengenakan perlengkapan berkendara dalam diam. David mengenakan helmnya dan melihat Rino seperti mengatakan sesuatu kepadanya.

“Apa katamu?”

“Aku tidak mendengar ada pelanggan yang komplain terhadap masakanmu,” kata Rino tertawa.

“Maksudmu?”

“Aku berharap ada pelanggan yang berkata capcay kuahmu agak asin dan tengik. Tapi sepertinya lidahnya enggak peka.” Rino membuat-buat tawanya.

“Anjing! Aku sudah menakar saus dan bumbunya dengan pas. Jangan ngawur. Anjing!” Kepala David terasa panas dan mengepulkan asap.

“Padahal aku telah memasukkan upil di tumisanmu. Mungkin upilku terlalu hambar—”

David membuka kembali helmnya, dan mengayunkannya ke kepala Rino. Helm itu beradu dengan helm Rino menimbulkan suara hantaman yang keras. 

Rino terlempar ke aspal. Rino langsung berdiri dan memandang David yang mendekat. 

Ukuran tubuh mereka tampak tidak sebanding. David terlihat lebih ringkih. 

Namun David lebih dulu melayangkan tinjunya ke hidung Rino, kepalan tangannya tampak melesak ke dalam. 

Rino terhuyung sedikit dan membalas membabi-buta. Lengannya yang bisa dikatakan lebih kokoh berhasil merobohkan David.

Ia terjengkang di atas aspal, mengerjap-ngerjapkan mata, bintang-bintang tampak berputar di langit.

Rino tak menyia-nyiakan kesempatan dengan menendang sekuat tenaga tubuh David yang telentang.

David menahannya dalam posisi yang tak nyaman, lengannya agak terlambat menghalau sepakan Rino.

Tapi tak lama kemudian datang sepakan susulan dua dan tiga kali, dan kali ini David tidak berhasil menghalaunya. 

Ia merasa tak sanggup lagi berdiri. Badannya menggulung persis seperti bayi di dalam kandungan.

Ia merasakan badannya akan pecah berkeping-keping. 

Rino meludah ke samping, hampir mengenai David. 

Lalu ia menyeret dirinya ke Ninja, mengengkol, meraung-raungkan kenalpotnya dan berlalu. David masih berada di situ, mencoba memunguti harga dirinya yang berserak.

Usai pertengkaran itu David bersusah payah mencapai rumah. Ia sulit menjaga keseimbangan laju Hondanya. Akibat tak sempurna menangkis sepakan Rino, lengan kanannya bengkak dan berdenyut-denyut. Ia merasakan ada yang tanggal di dalamnya. Dalam keadaan berantakan seperti itu hilang keinginannya untuk mandi.  Ia mencoba mengangkat gayung untuk mengguyur diri tapi gayung berisi air itu terasa seberat ember berisi penuh. Ia berkaca dan terlihat luka lebam di sisi hidungnya. Luka itu masih berdenyut-denyut, juga lengan kanannya dan perutnya. 

Ia terhempas di atas kasur langsung tersadar selpon pintarnya mendengung-dengung. Ia mengambilnya dan mengangkat saluran yang telah terhubung.

“Hai Gin,” kata David. Suaranya begitu lelah.

“Halo Pit,” suara Gina dari seberang sana. “Kau tidak apa-apa?”

David enggan menceritakan pertengkarannya dengan Rino. “Hanya lelah. Hari ini lumayan padat.”

“Apakah aku menganggumu. Sepertinya kamu perlu segera tidur.”

“Aku memang berniat menelponmu, tapi kamu mendahuluiku.”

“Gombal. Eh, ngomong-ngomong soal pesanmu tadi. Aku mengerti maksudmu. Aku harus mengajaknya makan dulu kan supaya dia enak cerita?”

“Ibuku sering mengubah seseorang di atas meja makan.”

“Oh ya. Bagaimana ceritanya?”

“Hmm. Banyak. Salah satunya. Hmm. Dia berhasil membuat rujuk pasangan yang hampir bercerai. Singkatnya seperti itu.”

“Oh ya. Tapi kasus korupsi tidak bisa disamakan.”

“Ibuku bahkan pernah menggagalkan kematian orang yang sekarat.”

“Tidak bisa dipercaya. Terlampau fantastis.” Gina melanjutkan, “tapi narasumberku ini begitu pemilih dalam soal makanan. Nyinyir. Hari ini aku mengajaknya ke sebuah restoran Timur Tengah cukup terkenal di selatan kota. Setelah sendokan pertama dia tidak melanjutkan lagi makannya, dan nyinyir mengomentari makanan tersebut. Ia menyebut hobi wisata kuliner dan tidak banyak tempat yang dapat memuaskan perutnya. Dia mengatakan kepadaku urusan perut tidak hanya urusan kenyang, tapi lebih dalam lagi, pembebasan. Itu sebabnya rakyat miskin terus-terusanan miskin karena perut mereka belum terbebas. Sinting. Aku tidak mendapatkan apa-apa darinya hari ini. Tapi Jum’at aku harus sudah menulis artikelku, karena Sabtu adalah deadline.”

“Hmm. Kenapa tidak kau ajak dia ke restoran tempatku bekerja.”

“Besok?”

“Lusa.” David tersadar akan kondisi tangannya, dan ia tidak yakin tangannya itu akan segera sembuh.

Setelah memberi alamat Jalan Timur kepada Gina, mereka memutus sambungan telepon. Tak lama kemudian pelupuk mata David terasa begitu berat bagai ada seseorang yang menindihnya. 

Malam itu ia bermimpi buruk, kwetiau kering yang dimasaknya menjelma ular dan mematuki bibir pelanggannya. David terbangun dengan merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.

Pagi itu Bang Demon terheran melihat wajah David dan Rino memiliki memar merah kirmizi. David membalut lengan kanannya dengan perban. Bang Demon bertanya kepada mereka apa yang terjadi. 

David beralasan semalam motornya terpeleset, tapi tidak apa-apa. Ia meyakinkan Bang Demon dapat melaksanakan tugasnya seperti biasa. 

Rino berkilah ngantuk di jalan dan menubruk pohon, tapi tidak apa-apa, juga Ninjanya hanya sedikit ringsek. Kebetulan sekali, kata Bang Demon. 

Hari itu mereka berdua tampak memaksakan dirinya. Hal tersebut terlihat dari beberapa pelanggan yang tidak mau menunggu lama pesanannya datang. Si bos mencak-mencak di dapur dan menyalahkan kokinya, lebih keras kepada David. Bang Demon membela ini adalah tanggungjawabnya.

Tak sampai sore, Bang Demon jatuh kasihan dengan kondisi Rino dan memerintahkannya beristirahat lebih lama. Ia juga menawarkan hal yang sama kepada David, namun David menolaknya. Ia mengaku masih sanggup sampai restoran tutup.

Hari itu Bang Demon dan Asisten Lee lebih sibuk dari seharusnya, dan pengunjung tak putus-putus datang. 

Sepulang dari restoran, David terserang demam dan menggigil, tak nyenyak tidur sementara ia teringat keesokannya Gina bersama narasumbernya akan datang ke Jalan Timur.

David terbangun dari igau tidurnya dengan cara terjatuh ke lantai. Sepanjang tujuh tahun karirnya sebagai koki, tak pernah ia merasakan ketidakberdayaan sehebat ini. Sekali-kali ia alami juga demam, tapi tak menyurutkannya untuk pergi bertugas. 

Pagi itu bahkan untuk ke kamar mandi saja ia harus mengeluarkan tenaga lebih, terhuyung-huyung. Aku harus berangkat kerja. Aku harus berangkat kerja. Aku harus berangkat kerja. Demam dan nyeri sisa pertengkarannya tidak berkurang sedikit pun, dan di tengah rasa putus asa itu ia berdoa hari itu tidak menjadi kacau. 

Sebelum ia berangkat, Bang Demon meneleponnya menanyakan kondisinya, dan menyarankan agar beristirahat saja di rumah. David hanya menjawab hmm sebelum Bang Demon memutus saluran teleponnya.

Berangkat ke restoran yang jaraknya tiga kilometer dari rumahnya dalam kondisi seperti itu merupakan neraka. Ia memaksa dirinya mengendarai Hondanya dan beberapa kali mendapat umpatan dari pengendara arah berlawanan yang hampir saja menabraknya. Ia sampai di kantor setengah jam lebih lambat dari waktunya.

“Aku sudah menyuruhmu istirahat di rumah, kenapa kau masih memaksakan diri?” kata Bang Demon, nada suaranya meninggi, persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya yang nakal.

“Aku tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa. Kau pucat begitu.”

“Izinkan aku mengambil istirahat sejamku lebih awal. Setelah itu aku akan pulih.”

“Baiklah. Pakailah waktu sejammu. Setelah itu aku berharap kau bisa kembali seperti semula.”

Rino memandangi percakapan singkat antara David dan Bang Demon itu. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Ia mengikuti David ke bilik tempat mereka biasa beristirahat. David tidak begitu sadar ada seseorang di belakangnya. Pundaknya disentuh seseorang.

“Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.”

“Ini semua karena kesalahanku kau jadi begini. Aku dengar, dalam minggu ini bos sedang mempertimbangkanmu. Aku tak mau kehilangan seorang rekan handal.”

David tertawa sesaat sebelum kepalanya terasa berdenyut. Ia mengatakan, “Di dapur ini, aku memang harus bertengkar dulu dengan rekan-rekan sebelum menjadi kawan.”

Istirahat sejam lebih awal itu, ia tertidur dan kembali bermimpi kwetiau kering buatannya menjelma ular-ular dan mematuk salah seorang pelanggan. Ia tersentak bangun setelah di dalam mimpi itu si bos memecatnya. Terbangun, David tidak merasakan ada perbaikan berarti dengan kondisinya. Ia mencuci muka dan memasang tampang sehat, berharap Bang Demon dapat tertipu.

Di dapur semua orang tampak sibuk. Menjelang akhir pekan restoran itu memang lebih ramai. Bang Demon hanya sesaat menengoknya dan berteriak dari jaraknya, kau baikan? Aku luar biasa, balas David dibuat-buat. 

Penerangan dapur itu terasa menyengat mata David. Kepalanya terasa agak pusing. Tapi ia membulat mengendalikan dirinya. 

Ia mulai dengan membantu rekan-rekannya yang sibuk memasak. Linglung sebab semua orang tampak sibuk, dan tidak begitu peduli keberadaannya, ia memutuskan untuk membasuh piring. Piring-piring menumpuk berserakan di dalam dish washer. Ia membasuh piring-piring itu dengan tempo lebih lambat dari biasanya. Putaran tangannya yang konstan membuat kepalanya berdenyut. Selesai membersihkan semuanya, ia biarkan piring-piring itu kering sendirinya. 

Ia kembali ke dapur dan keadaanya tidak berubah seperti sebelum ia membasuh piring di pantry. Ia kembali berusaha membantu rekan-rekannya, tak lama kemudian Rino diperintahkan untuk mengambil waktu istirahatnya. Namun Bang Demon tidak memberi kesempatan David mengambil alih tempat Rino. Tugas itu justru diberikan kepada si bocah penjilat pantat bos, sementara si bocah anak pemegang saham sibuk berkonsentrasi memasak sesuatu di sebelahnya.

Kertas pesanan tak putus-putus mampir ke dapur. Dari celah pengambilan pesanan si bos berteriak kepada mereka, percepat kerja kalian! Beberapa pelanggan tampak tak sabar menunggu. Di mana Rino, kenapa dia tidak ada di saat seperti ini. Dalam tekanan pelanggan yang menunggu dan pesanan terus bertambah, si bocah penjilat pantat bos tak dapat menguasai dirinya. Ia tidak biasa menghadapi kondisi seperti ini, sebab hanyalah koki handal yang bisa mengendalikan diri dari tekanan seperti ini. Puncaknya,  ia menjatuhkan pesanan yang baru saja di buatnya, bunyi piring pecah, serpihan tahu berceceran di lantai.

Bang Demon sadar tidak mau membuang tenaganya untuk marah dalam keadaan seperti itu. Jiwa kepemimpinan dibutuhkan pada saat seperti ini. Ia menyuruh si penjilat pantat bos untuk membersihkan kebodohannya.

“David, kau gantikan dia di tungku.”

David langsung mengambil posisinya dan membaca pesanan yang tergantung di depannya. Ia berteriak O dan menepuk keras pipinya. Kepalanya berdenyut-denyut. Tapi tidak ada waktu baginya memikirkan kondisinya sendiri. Ia memejamkan mata, berusaha bernapas tenang. Ia hidu aroma dapur, rempah-rempah dan saus yang mengambang. Ia dengar keriuhan yang semakin intens di luar sana. Tanpa berpikir, badannya bergerak melaksanakan laku yang sudah tujuh tahun dilakoninya. Ia tidak memerintahkan tubuh dan pikirannya. Menu-menu yang terpampang mengantre itu begitu saja terhubung ke dalam pusat dirinya, saling tersambung dengan setiap partikel yang bergerak harmonis. Selama melakukannya, ia teringat Gina dan narasumbernya. Tidak mungkin ia dapat menyapanya dalam keadaan sibuk seperti ini. Namun setiap pesanan yang menghampirinya ia pastikan dikerjakan dengan kesempurnaan bulat. Di antara menu itu pasti adalah pesanan Gina dan narasumbernya. 

Rino kembali dari istiarahatnya, mereka saling bertukar senyum. Mereka tidak lagi berduel, melainkan berduet. Meskipun mereka menangani wajan yang berbeda dan mengerjakan menu yang berbeda, siapa pun yang menyaksikan mereka bekerja dapat membayangkan pasangan penari balet yang kompak seakan mereka terlahir untuk menari berpasangan. 

Keriuhan yang ada di ruang makan, yang tadinya terdengar mengancam telah berubah menjadi keakraban, dan riuh rendah antusias.

Di dapur, malam itu mereka begitu bulat, tak bercelah, tawa mengisi ujung pekerjaan mereka membersihkan dan membereskan peralatan. Di balik obralan di ujung pekerjaan yang santai setelah seharian berjibaku, diam-diam mereka mengakui hari itu adalah saat yang terbaik sepanjang pekerjaan mereka sebagai koki. 

Bang Demon merasakan kerinduan yang akrab, yang dulu acap dirasakannya pada saat bertugas bersama Kakak Liu. Bahkan si bocah penjilat pantat bos tidak lupa akan kesalahan yang tadi dibuatnya.

David terkejut mendapati Gina berada di sudut ruangan restoran itu, sedang menekuri laptopnya. Tiga orang pramusaji sedang membereskan bangku-bangku.

“Kau masih di sini rupanya.” David tidak bisa menutupi rasa senangnya. Matanya bercahaya.

“Aku sedang mengetik artikelku sembari menunggumu.” Cahaya mata David terpantul juga di mata Gina.

“Bagaiamana tadi dengan narasumbermu?”

“Dahsyat. Ia nyerocos seperti air sungai.”

“Selamat untukmu.”

“Berkatmu.”

David mengambil bangku yang sudah diletakkan tertelungkup di atas meja, di dekat Gina, dan mendudukinya, lengannya menyilang di puncak sandaran bangku, menopang wajahnya. Mereka bercakap-cakap sesaat. Dari belakang, rekan kerjanya bersiul-siul melihat David sedang bersama seorang wanita. Rino tampak bersemangat menggodanya. Dan mereka tertawa.

Gina menyela David yang sedang tersipu. Ia mengatakan, belum pernah ia percaya diri seperti ini selama tiga tahun menjadi jurnalis. Selama ini ia yakin, tulisannya tidak punya pengaruh apa-apa di tengah masyarakat. Ia tidak yakin ada yang mau membaca tulisannya. Selain tentu saja, media tempat ia bekerja tidak begitu besar, artikelnya, ia pikir, hanyalah rutinitas untuk mengisi halaman kosong.

Tapi kali ini artikelnya seperti menyemburkan energi yang berbeda, baru. Tentu saja tersebab bahan yang ia dapat hari ini. Ia biasa mengakrabi politikus supaya halamannya tidak pernah kosong, tapi diam-diam ia merasa mual dengan pekerjaannya. Sering kali ia mendapatkan amplop dari beberapa perbincangan, dan ia tidak bisa menolaknya, sebab tentu saja perusahaan tempat ia bekerja tidak membayar terlalu besar. Dan kebanyakan politikus adalah pengiklan rutin di tabloidnya, untuk itu redaksi memerintahkan Gina selalu membuat tulisan yang lunak terhadap mereka. Aku seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia, kata Gina.

“Tapi semenjak pertemu6an pertama kita. Aku seperti mendapatkan perspektif yang baru,” kata Gina. Suaranya terdengar malu-malu.

David meresapi pernyataan itu sejenak, tersenyum, lalu berkata, “Aku juga. Aku seperti menemukan apa yang kurang selama ini.”

“Apa itu?”

“Bumbu yang hanya dimiliki seorang juru koki. Yang selama ini digunakan ibuku.”

“Hmm. Aku tahu.” Pipi Gina berubah merah lembayung.

“Apa hayo?”

“Enggak mau ngasih tahu. Nanti ge-er.”

Mereka tertawa.

Seminggu berlalu semenjak pertemuan pertama mereka, dan tiga hari berlalu semenjak pertemuan tak terencana itu di Jalan Timur. Kinerja David tak kendur sedikit pun, namun tetap harus ada yang dikorbankan. Sebagaimana ucapan si bos bahwa dalam dapur Jalan Timur, enam koki adalah terlalu banyak. David tidak mendapat pujian dari pencapaiannya sejauh ini, tapi si bos menjawabnya dengan memberhentikan kerja si bocah koki penjilat. David merasa sedikit kasihan terhadapnya, terlepas dari sifatnya.

Ia mendapat kabar dari Gina bahwa artikelnya bikin geger ibu kota, dan media pesaing kalang kabut kebobolan. Di pertemuan mereka berikutnya Gina berniat merayakannya dengan David. Mereka merencanakan pertemuan itu akhir pekan depan di kedai kopi tempat mereka pertama bertemu, di mana di malam hari permukaan air sungai di luar kaca berkilauan oleh pantulan cahaya lampu. 

Menjelang akhir pekan David begitu bersemangat dalam bekerja, seperti perasaan David usai bertemu Gina. Namun entah kenapa ia tidak mendapat kabar dari Gina pada malam-malam menjelang pertemuan mereka. David berpikiran baik, pekerjaannya sebagai jurnalis tentu menyita waktunya kapan pun.

Sabtu malam itu diam-diam ia ingin memberi kejutan kepada Gina. Ia membawa telur mata sapi saus tiram. Ia sudah berada di meja kedai kopi tempat ia pertama kali bertemu Gina. Debaran jantungnya konstan, dan ia merasa kesepian berada di antara pasangan-pasangan yang bermesraan.

David mengalihkan pandangannya ke luar jendela mengamati bias pantulan cahaya lampu di permukaan air yang sedikit bergelombang. Memang pemandangan di luar jendela itu lebih asyik dinikmati berdua, pikirnya. Ia menopang dagunya dan tak menyadari aliran waktu yang berlalu. Ia mendapati pemandangan yang tak biasa di luar jendela. Beberapa orang berkumpul di bantaran sungai, menunjuk-nunjuk ke permukaannya. Ia penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Pintu kedai kopi itu terbuka dengan suara gemerincing giring-giring yang tergantung menghalangi. Seseorang masuk memberitahukan kepada seisi ruangan bahwa ada mayat wanita mengambang timbul tenggelam, menepi di bantaran sungai dekat dari kedai kopi itu.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar