Minggu, 23 Agustus 2020

Rumah Prajurit oleh Ernest Hemingway






Krebs pergi berperang dari sekolah Metodist di Kansas. Terdapat sebuah foto yang menunjukkan ia berada di antara saudara seperjuangannya, semuanya menggunakan kerah dengan gaya yang tinggi dan sama. Ia terdaftar di Angkatan Laut pada 1917 dan tidak kembali ke Amerika Serikat hingga divisi kedua kembali dari Rhein di musim panas 1919.

Terdapat sebuah foto yang menunjukkan bahwa ia berada di sungai Rhein dengan dua gadis Jerman dan kopral yang lain. Krebs dan kopralnya terlihat terlalu besar dengan seragamnya. Gadis-gadis Jerman tersebut tidak cantik. Sungai Rhein itu tidak tampak dalam foto.

Pada saat Krebs kembali ke kampung halamannya di Oklahoma, penyambutan pahlawan perang telah usai. Ia kembali terlalu terlambat. Orang-orang kota yang mengikuti wajib militer telah disambut dengan rumit pada saat mereka kembali. Sambutannya begitu penuh histeria. Sekarang reaksinya tertanam. Orang-orang tampak berpikir, terlalu menggelikan bagi Krebs kembali begitu terlambat, bertahun-tahun setelah perang usai.

Untuk pertamam kali, Krebs yang pernah berada di Belleau Wood, Soissons, Champagne, St Mihiel dan di Argonne, sama sekali tidak ingin membicarakan perihal perang. Setelah itu ia merasakan kebutuhan untuk membicarakan perang tapi tidak seorang pun yang ingin mendengarkannya. Kotanya telah mendengar terlalu banyak kisah kejam yang dicampur-baurkan dengan kebenaran. Krebs menemukan bahwa untuk didengarkan sama sekali, ia harus berbohong, dan setelah ia melakukannya dua kali, ia juga, memiliki reaksi menentang perang dan menentang pembicaraan itu sendiri. Rasa benci terhadap segalanya yang terjadi kepadanya selama perang muncul sebab kebohongan yang disampaikannya sendiri. Semua masa yang membuatnya merasa sejuk dan jernih di dalam dirinya ketika ia memikirkan perang, waktu-waktu yang begitu lampau ketika ia telah melakukan sesuatu, satu-satunya seorang manusia lakukan, dengan mudah dan alami, saat ia mungkin melakukan hal lain, sekarang kehilangan kesejukannya, kualitas yang bernilai kemudian hilang begitu saja.

Kebohongannya merupakan kebohongan yang tidak penting dan terdiri dari hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri yang orang lain telah lihat, lakukan atau dengar, dan menyatakannnya sebagai fakta yang kejadiannya ia ragukan sendiri akrab bagi seluruh prajurit. Bahkan kebohongannya sendiri tidak terlalu sensasional di ruang biliar. Para kenalannya, yang telah mendengarkan tentang gadis Jerman yang ditemukan dirantai dengan senapan-senapan mesin di hutan Argonne, dan yang tidak memahami senapan mesin Jerman manapun tidak berantai, tidak tergetar oleh ceritanya.

Krebs merasa mual dalam mengalami kisah yang tidak benar dan dilebih-lebihkan, dan ketika terkadang ia bertemu dengan orang lain yang juga benar-benar pernah menjadi prajurit dan mereka berbincang untuk beberapa menit di ruang ganti dansa ia dapat berlagak layaknya prajurit tua di antara prajurit lainnya: bahwa ia telah mengalami, rasa ngeri yang memualkan. Dengan cara seperti ini ia kehilangan segalanya.

Saat-saat seperti ini, di akhir musim panas, ia terlambat tidur di ranjang, pergi berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam sebuah buku, makan siang di rumah, membaca di serambi depan hingga ia bosan dan kemudian berjalan mengelilingi kota untuk menghabiskan jam-jam terpanas siang itu di ruang biliar yang gelap dan sejuk. Ia gandrung bermain biliar.

Sorenya ia berlatih klarinet, lalu luntang-lantung di kota, membaca dan pergi ke tempat tidur. Ia tetaplah pahlawan bagi kedua adik perempuannya. Ibunya akan memberinya sarapan kalau ia memintanya. Ibunya sering masuk ke kamarnya ketika ia berada di ranjang dan menanyainya tentang perang, tapi perhatiannya selalu kemana-mana. Ayahnya sendiri tidak mengatakan apa pun.

Sebelum Krebs pergi berperang ia tidak pernah dibiarkan memakai mobil keluarga. Ayahnya memiliki bisnis properti dan selalu menginginkan mobilnya berada di bawah kendalinya ketika ia membutuhkannya mengantar pelanggan ke luar kota untuk menunjukkan mereka properti peternakan. Mobilnya selalu berdiri di luar bangunan First Nasional Bank di mana ayahnya memiliki kantor di lantai dua. Sekarang, setelah perang, mobilnya masih tetap sama.

Tidak ada yang berubah di kota itu kecuali gadis-gadis muda yang telah tumbuh dewasa. Tapi mereka hidup dalam dunia yang rumit dari penegasan perkawanan dan pergeseran permusuhan, yang membuat Krebs tidak memiliki daya untuk menerobosnya. Ia senang melihat gadis-gadis itu. Begitu banyak gadis berpenampilan menarik. Kebanyakan di antara mereka memiliki potongan rambut pendek. Ketika ia pergi berperang hanya gadis kecil yang memiliki potongan rambut seperti itu atau gadis-gadis lebih tua dari itu. Mereka semua menggunakan sweater dan kaos setinggi pinggang dengan kerah Belanda. Begitulah ciri mereka. Ia senang melihat mereka di serambi depan ketika mereka berjalan kaki di bawah bayang-bayang pohon. Ia senang dengan kerah belanda di atas sweater mereka. Ia senang dengan kaus kaki sutra dan flat shoes mereka. Ia senang dengan rambut bob mereka dan cara mereka berjalan.

Ketika ia berada di kota, daya tarik mereka baginya tidak begitu kuat. Ia tidak menyukai mereka ketika ia melihat mereka di kedai es krim Yunani. Ia tidak begitu benar-benar menginginkan mereka. Mereka terlalu rumit. Ada sesuatu yang lain. Dengan gamang ia menginginkan seorang gadis tapi ia tidak ingin menghabiskan waktu panjang untuk mendapatkannya. Ia tidak ingin terlibat dengan intrik dan politiknya. Ia tidak ingin berpacaran. Ia tidak ingin menceritakan lebih banyak kebohongan. Tidak ada gunanya.

Ia tidak ingin konsekuensi apa pun. Ia tidak lagi mau konsekuensi apa pun. Ia ingin hidup tanpa konsekuensi. Selain itu ia tidak terlalu membutuhkan seorang gadis. Angkatan perangnya telah memberitahunya demikian. Tidak masalah apabila kau berlagak memiliki seorang gadis. Hampir semua orang melakukannya. Tapi itu tidak selalu benar. Kau tidak membutuhkan seorang gadis. Itulah hal yang menggelikan. Pertama-tama seorang kawan berkoar betapa gadis-gadis ini tidak berarti apa-apa baginya, bahwa ia tak pernah memikirkannya, bahwa mereka tidak bisa menyentuhnya. Lalu seorang kawan yang lain berkoar bahwa ia tidak dapat hidup tanpa wanita, bahwa mereka harus memilikinya sepanjang waktu, bahwa mereka tidak bisa tidur tanpa mereka.

Semua itu bohong belaka. Keduanya bohong belaka. Kau tidak membutuhkan gadis kecuali kau memikirkannya. Ia mempelajarinya di angkatan. Lalu cepat atau lambat kau akan mendapatkan seorang gadis. Ketika kau benar-benar matang kau selalu mendapatkan seorang gadis. Kau tidak perlu berusaha memikirkannya. Cepat atau lambat akan tiba saatnya. Ia telah mempelajarinya di angkatan.

Sekarang ia menginginkan seorang gadis kalau gadis itu datang kepadanya dan tidak ingin berbincang. Tapi di sini di rumah, semuanya menjadi begitu rumit. Ia mengetahui ia tidak akan bisa melampauinya lagi. Ia tidak ingin melalui masalahnya. Hal-hal itu pernah dirasakannya dengan gadis Prancis dan gadis Jerman. Tidak terlalu banyak perbincangan. Kau tidak dapat berbicara banyak dan kau tidak perlu berbicara. Sesederhana itu dan kalian berteman. Ia memikirkan Prancis dan kemudian ia memikirkan Jerman. Secara keseluruhan ia lebih suka Jerman. Ia tidak ingin meninggalkan Jerman. Ia tidak ingin pulang ke rumah. Tetap, ia harus pulang ke rumah. Ia duduk di serambi depan.

Ia menyukai gadis yang berjalan sepanjang sisi lain jalanan. Ia menyukai penampilan mereka daripada penampilan gadis Prancis dan gadis Jerman. Tapi dunia tempat mereka berada berbeda dengan dunianya. Ia ingin memiliki salah seorang dari mereka. Tapi tidak ada gunanya. Mereka memiliki mode yang baik. Ia menyukai modenya. Menggairahkan. Tapi ia tidak dapat berbincang-bincang dengan mereka. Ia tidak begitu menginginkan salah satu di antara mereka. Tidak saat ini ketika segalanya membaik kembali.

Ia duduk di sana di serambi muka membaca buku perihal perang. Buku tersebut bercerita tentang sejarah dan ia membaca semua tentang pertarungan yang ia alami sendiri. Bacaannya adalah yang paling menarik dari semua yang pernah dibacanya. Ia berharap terdapat lebih banyak peta. Ia mencari dengan perasaan ringan semua sejarah yang baik untuk dibaca ketika mereka memiliki peta-peta dengan detail yang baik. Sekarang ia benar-benar mempelajari perihal perang. Ia selalu menjadi prajurit yang baik. Itu yang membuatnya berbeda.

Suatu pagi setelah sebulan ia berada di rumah ibunya mendatangi kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ia membersihkan celemeknya.

“Aku berbicara dengan ayahmu tadi malam, Harold,” katanya, “dan ia menginginkanmu menggunakan mobil di sore hari.”

“Ohh?” kata Kreb, dalam keadaan tak sepenuhnya terjaga. “Bawa mobil ke luar? Ohh?”

“Ya. Ayahmu merasakan untuk beberapa saat kau perlu membawa mobil ke luar di sore hari ketika kau menginginkannya tapi kami baru membicarakannya tadi malam.”

“Ibu yang mendesaknya,” ujar Krebs.

“Bukan. Ini saran ayahmu sendiri setelah kami membicarakannya.”

“Oho. Aku yakin ibu mendesaknya.” Krebs duduk di atas ranjang.

“Kau tidak ingin sarapan di bawah, Harold” kata ibunya.

“Segera setelah aku berpakaian,” kata Krebs.

Ibunya keluar dari kamarnya dan Krebs dapat mendengar ibunya menggoreng sesuatu di bawah tangga selagi ia mencuci muka, mencukur dan berpakaian untuk pergi ke bawah di ruang makan untuk sarapan. Selagi ia memakan sarapannya adik perempuannya membawa surat-surat ke dalam.

“Baiklah, Hare,” katanya. “Kau tukang tidur. Buat apa kau bangun?”

Krebs memandanginya. Ia menyukainya. Ia adalah adik perempuannya yang terbaik.

“Bawa koran?” katanya.

Adiknya menyerahkan Krebs harian Kansas City Star dan ia membuka sobek pembungkus coklatnya dan membukanya di halaman olahraga. Ia membuka lipat harian Star itu dan menyandarkannya di cerek dengan serealnya berada di samping sehingga ia dapat makan selagi membaca.

“Harold,” ibunya berdiri di jalan arah dapur, “Harold, tolong jangan kau acak-acak korannya. Ayahmu tidak dapat membaca the Star kalau kau mengacak-acaknya.”

“Aku tidak akan mengacak-acaknya,” kata Krebs.

Adik perempuannya duduk di meja dan memandanginya selagi ia membaca.

“Kami bermain di lapangan terbuka di sekolah siang ini,” katanya. “Aku yang akan melempar bolanya.”

“Bagus,” kata Krebs. “Bagaimana dengan bahumu yang lama?”

“Aku bisa melempar bola lebih baik dari kebanyakan cowok. Aku memberitahu mereka apa yang telah kau ajarkan kepadaku. Cewek-cewek lain juga tidak terlalu baik.”

“Begitukah?”

“Aku memberitahu mereka semua bahwa kau adalah pacarku. Bukankah kau pacarku, Hare?”

“Menurutmu.”

“Tidak bisakah abangmu menjadi pacarmu karena dia adalah abangmu sendiri?”

“Entahlah.”

“Kau pasti tahu. Tidak bisakah kau menjadi pacarku, Hare, kalau aku cukup dewasa dan kau menginginkannya?”

“Tentu saja. Kau gadisku sekarang.”

“Apakah aku benar-benar gadismu?”

“Tentu.”

“Apakah kau mencintaiku?”

“Ho oh.”

“Akankah kau selalu mencintaiku?”

“Tentu.”

“Akankah kau datang dan menontonku bermain indoor?”

“Mungkin.”

“Aw, Hare, kau tidak mencintaiku. Kalau kau mencintaiku, kau akan datang dan menontonku bermain indoor.”

Ibu Krebs masuk ke ruang makan dari dapur. Ia membawa piring berisi dua telur goreng dengan sedikit daging babi asap di atasnya dan sepiring kue gandum.

“Bisakah kau beranjak sebentar, Helen,” katanya. “Aku ingin berbicara dengan Harold.”

Ia meletakkan telur goreng dan daging babi asap di meja di hadapan Krebs dan membawa serta satu cerek sirup mapel untuk kue gandum. Lalu ia duduk bersebrangan meja dengan Krebs.

“Aku berharap kau meletakkan korannya sebentar, Harold,” katanya.

Krebs meletakkan korannya dan melipatnya.

“Sudah putuskan apa yang akan kau kerjakan, Harold?” kata ibunya, mencopot kacamatanya.

“Belum,” kata Krebs.

“Tidakkah kau berpikir sudah saatnya?” ibunya tidak mengatakannya dengan cara yang keji. Ia justru terlihat khawatir.

“Aku belum memikirkannya,” kata Krebs.

“Tuhan punya pekerjaan untuk dikerjakan setiap orang,” kata ibunya. “Tidak mungkin ada tangan yang menganggur di Kerajaannya.”

“Aku tidak dalam Kerajaannya,” kata Krebs.

“Tentu kita semua berada dalam Kerajaannya.”

Krebs merasa dipermalukan dan tersinggung seperti biasanya.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu Harold,” ibunya melanjutkan. “Aku mengetahui godaan yang telah kau ungkap. Aku tahu betapa lemah manusia. Aku tahu apa yang kakek tersayangmu, ayahku sendiri, ceritakan kepada kita tentang perang sipil dan aku telah mendoakanmu. Aku mendoakanmu sepanjang hari, Harold.”

Krebs memandangi daging babi asapnya mengeras di piringnya.

“Ayahmu juga khawatir,” ibunya melanjutkan. “Ia mengira kau telah kehilangan ambisi, sehingga kau tidak punya tujuan hidup yang jelas. Charley Simmons, seumuran denganmu, memiliki pekerjaan yang baik dan akan segera menikah. Bocah-bocah itu punya tujuan; mereka mengerti mau menuju ke mana; kau bisa lihat bocah-bocah itu seperti Charley Simmons, sedang menuju sesuatu yang berguna bagi masyarakat.”

Krebs tidak mengatakan apa pun.

“Jangan melihat seperti itu Harold,” kata ibunya. “Kau tahu betapa kami mencintaimu dan aku ingin memberitahumu tentang persoalan. Ayahmu tidak ingin merenggut kebebasanmu. Ia berpikir kau harus diizinkan memakai mobil. Kalau kau mau mengajak kencan beberapa gadis dengan mobil tersebut, kita tidak bisa tidak ikut senang. Kami ingin kau menikmati hidupmu. Tapi kau harus mencari pekerjaan Harold. Ayahmu tidak peduli kau mau mulai dari mana. Katanya pekerjaan apa pun terhormat untuk dijalani. Tapi kau harus memulainya. Dia memintaku untuk mengatakan kepadamu pagi ini sehingga kau bisa mampir di kantornya.”

“Sudah selesai?” ujar Krebs.

“Ya. Tidakkah kau menyayangi ibumu, Sayang?”

“Tidak,” kata Krebs.

Ibunya memandanginya dari seberang meja. Matanya berkilauan. Ia mulai menangis.

“Aku tidak menyayangi siapa pun,” kata Krebs.

Tidak ada baiknya. Ia tidak dapat memberitahunya. Ia tidak dapat membuatnya memahaminya. Menggelikan kalau mengatakannya. Ia hanya akan menyakitinya. Ia beranjak dan menggenggam tangan ibunya. Ibunya menangis dengan kepalanya ditopang lengan.

“Aku tidak bermaksud, Ibu,” katanya. “Aku hanya…  Marah terhadap sesuatu. Aku tidak bermaksud tidak menyayangimu.”

Ibunya tetap menangis. Krebs meletakkan tangannya di pundak ibunya.

“Tidakkah kau mempercayaiku, Ibu?”

Ibunya menggelengkan kepalanya.

“Tolong, tolong, Bu. Tolong percayalah kepadaku.”

“Baiklah,” kata ibunya dengan terisak. Ia memandangi Krebs. “Aku mempercayaimu Harold.”

Krebs mencium rambut ibunya. Ibunya melekatkan wajahnya ke wajah Krebs.

“Aku ibumu,” katanya. “Aku mendekapmu di dada ketika kau masih bayi mungil.”

Krebs merasa mual dan ingin muntah.

“Aku tahu itu, Mama,” katanya. “Aku akan mencoba menjadi anak baik untukmu.”

“Maukah kau berlutut dan berdoa denganku, Harold?” kata ibunya.

Mereka berlutut di samping meja makan dan ibu Krebs berdoa.

“Sekarang berdoalah, Harold,” katanya.

“Aku tidak bisa,” kata Krebs.

“Cobalah, Harold.”

“Tidak bisa.”

“Apakah kau ingin aku yang mendoakanmu?”

“Ya.”

Lalu ibunya mendoakannya dan mereka berdiri dan Krebs mencium ibunya dan ia pergi keluar rumah. Ia telah mencoba agar hidupnya tidak menjadi terlalu rumit. Tetap, tak ada di antaranya yang menyentuhnya. Ia merasa bersalah terhadap ibunya dan ibunya telah memaksanya untuk berbohong. Ia hendak pergi ke Kansas City dan mendapat pekerjaan dan ibunya akan merasa tenang kepadanya. Mungkin masih ada satu adegan sebelum ia pergi jauh. Ia tidak akan pergi ke kantor ayahnya. Ia akan melewatinya. Ia ingin hidupnya berjalan mulus. Begitulah seharusnya jalan hidupnya. Baiklah, semuanya berakhir sekarang. Ia akan pergi ke lapangan sekolahan dan menonton Helen bermain baseball di dalam ruangan.


  -Diterjemahkan dengan bebas oleh Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar