Setelah berminggu-minggu bocah-bocah
sekolah dasar itu mati bosan sebab tak menemukan permainan baru, tiba-tiba saja pedagang itu muncul pada Senin yang berangin
setelah upacara bendera yang membosankan, duduk di kursi lipat yang dibawanya di
sisi
kiri gerbang sekolah, membentangkan
dagangannya berupa anak-anak ayam dengan bulu berbagai warna kecuali hitam dan putih,
menyesaki kandang persegi
berjaring kawat, bercericip ria. Dari kejauhan, di antara gerobak siomay yang muram dan agar-agar
berperisa buatan, kandang itu tampak sedang mengurung pelangi, dan menjadi penarik
perhatian setiap bocah sekolah dasar yang menginjakkan kaki di
gerbang pada jam istirahat.
Penjual anak ayam gaul—begitu anak-anak
menyebutnya—tak sama dengan penjual burung pipit yang pernah singgah ke sekolahannya.
Penampilannya juga tak sama dengan para pedagang umumnya, yang anak-anak selalu
panggil dengan sebutan abang tanpa embel nama. Di antara pedagang-pedagang
bertubuh kecil dan kulit legam, penjual anak ayam gaul tampak seperti Gulliver di Negeri Kurcaci. Di balik topi bundar kusam yang hampir selalu menutupi matanya,
rambutnya seperti bulu anak ayam. Dani tak begitu peduli dengan para penjual yang berada di gerbang sekolah tersebut. Ia hanya peduli menginginkan sesuatu dan membelinya, sebatas itu. Sekali waktu Dani berpapasan dengan mata
pedagang itu, yang biasanya tertutup bayangan: sepasang mata biru yang dalam dan
membius. Dani membeli anak ayam berwarna biru, dan berlalu masih dalam hipnosis
mata biru si pedagang anak ayam.
Dari mulai peletokan hingga kartu dengan
gambar-gambar suprapahlawan telah dimainkan Dani pada musim-musimnya yang
singkat, dan sesungguhnya ia pernah memelihara burung-burung pipit warna-warni
yang dijual di depan sekolahnya itu. Setiap hari ia hanya akan menghabiskan
uang jajannya, lima ribu perak, untuk membeli burung pipit berbagai warna.
Pulang sekolah, dengan tenang ia tenteng burung tersebut dalam sangkarnya yang
sempit: berlompat-lompat ke sana kemari tapi tak bisa membentang sayapnya. Semenjak
kehilangan adik-adiknya yang tak sempat dilahirkan, Dani jatuh iba kepada
burung-burung dalam sangkar sempit itu. Sebelum sampai rumah ia perlu melalui
pematang sawah, merasakan angin berhembus menggoyang-goyang bentangan padi yang
mulai menguning, dan mengibarkan rambutnya.
Sangkar burung pipit yang dibuat seadanya itu bergoyang-goyang tertiup angin, Dani mengangkat kandang itu hingga berada sejajar dengan dadanya, lalu ia buka penutupnya dan burung pipit itu sekelebat melesat ke udara, berputar-putar di atas hamparan sawah dan terbang tinggi ke angkasa, menjadi noktah biru. Lima ribu rupiah untuk sebuah momen pelepasan burung adalah kesenangan mewah yang dimilikinya sendiri. Ia membeli burung pipit berbagai macam warna itu setiap hari hingga tak ada lagi burung pipit yang dijual.
Ia pulang ke rumahnya yang berjarak
satu kilometer dari sekolahan. Melalui bantaran sungai lalu berbelok ke jalur
rel dengan hamparan kerikil tak berbatas, lalu melewati pohon-pohon waru yang
berjajar di antara rel dan berbelok meniti pematang yang membelah sawah menuju kampungnya. Hamparan sawah itu
kering kerontang, tempat ia pernah melepas tujuh puluh delapan ekor burung
pipit berbagai warna. Tiga bulan lalu, para petani memanen padinya yang telah
merunduk setelah puluhan ekor burung pipit terlebih dahulu menyerbu hamparan
padi yang menguning itu. Ia menerka-nerka apakah sekawanan burung pipit itu
merupakan burung-burung yang pernah dilepasnya. Ia membayangkan puluhan burung
pipit berbagai warna itu menyerbu sawah layaknya pelangi runtuh. Pertengahan tahun
itu, sebab hama burung berkali lipat dari biasanya, para petani hampir
mengalami gagal panen. Tak banyak gabah bagus yang dihasilkan, sebab sebagian telah dicuri oleh puluhan burung pipit, dan sebab burung-burung itu terbang
menyerupai pelangi, para petani kesulitan menghalaunya, bak menghadapi
delusi. Para petani memburu semua burung pipit berwarna itu tapi tak
menemukannya di mana pun di areal persawahan ataupun semak-semak atau
pohon-pohon mahoni dan waru yang berada di sekitar sawah. Mereka lenyap seperti
pelangi yang secara alamiah sirna, dan untuk melampiaskan kesal yang sudah
sampai ubun-ubun, para petani memburu ratusan belalang, puluhan bekicot dan
belasan kadal, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang sebagai
santapan. Mereka biasa menumisnya, atau menjadikannya satai dengan kuah kecap
atau menggorengnya kering dan menyantapnya sambil terheran kemana perginya
puluhan burung pipit berwarna pelangi itu.
Menenteng anak ayamnya yang berwarna
biru, Dani merindukan hijaunya hamparan sawah. Ia bergegas menuju rumahnya
tanpa melupakan keseimbangan pijakan saat melalui pematang
Semenjak bocah-bocah lain di
kampungnya membeli burung pipit untuk biasanya mereka siksa, Dani tak lagi
ingin bermain dengan kawan-kawannya bahkan karibnya sekalipun, Muljoto, anak
tukang ikan yang, memiliki jiwa petualang. Bersamanya Dani banyak menghabiskan
waktunya di pematang sawah, di semak-semak alang-alang dan di atas pohon seri
tua di tengah lapangan tempat warga kampung belajar mengendarai motor. Sebelum
para petani menghabisinya, mereka akan menangkap belalang pocong, belalang
sembah atau kadal dan mengurungnya dalam sebuah plastik es yang terlebih dahulu
diisi oleh hembusan napas. Mereka akan memanjat pohon seri tua,
mengumpulkan buahnya yang masak atau setengah masak dan melahapnya perlahan
sambil memainkan binatang kecil tangkapan mereka.
Sekali waktu Dani bertanya ke
Muljoto, yang biasa ia panggil Mul saja, apakah tidak apa-apa kalau belalang-belalang
itu atau kadal yang ekornya buntung itu terkurung di dalam plastik tanpa lubang udara
sedikitpun. Muljoto menjawab:
“Aku sudah memberinya napas buatan,”
katanya tak peduli. “Lagi pula setiap yang bernyawa pasti akan mati.”
Ia mengetahui belaka ayah Muljoto
tewas terjatuh dari lantai empat pada proyek gedung tempatnya menjadi tukang, dan
untuk menghidupi Muljoto dan adiknya, ibunya menyewakan tenaganya mencuci dan
mensetrika pakaian warga kampung yang tak memiliki waktu melakukannya.
Belalang-belalang itu dan kadal buntung akan mati keesokan harinya dan mereka
akan mengulangi penangkapan yang sama.
Semenjak ibu Dani berkali-kali keguguran dan
Dani begitu kecewa dan kesepian, bocah kelas lima Sekolah Dasar itu tak lagi
bermain dengan Muljoto. Menyadari binatang-binatang tak berdosa itu akan mati
keesokan harinya dengan cara dikurung demikian semakin ia ingat adik-adiknya
yang tak sempat hadir di rumah mereka, semakin ia bertambah kesepian.
“Kali ini akan kau lepas ke mana
anak ayam itu,” kata ibunya sesampainya ia di rumah. Dani hanya mengangkat
bahunya.
“Orang-orang biasanya memeliharanya
hingga besar lalu menjadikannya goreng ayam balado atau kalio,” ibunya
melanjutkan. “Namun bocah seumuran kamu memeliharanya hanya untuk membunuhnya.
Paling lama lima hari dan anak ayam lucu itu akan kehilangan nyawanya.”
Pintu rumah Dani selalu terbuka.
Keluarga itu akan membiarkan angin dan debu masuk ke rumah. Ibu Dani, Hasanah,
bisa menyapu hingga lima belas kali sehari hanya untuk menjaga lantai rumah
mereka tak ditumpuki debu. Rumah mereka begitu sumpak dan atap yang terbuat
dari seng menjadikannya semakin klaustro kala tertutup. Sehingga mereka akan
selalu membukanya hingga waktu tidur tiba. Celakanya, kelengahan yang
sekali-kali muncul karena satu dan lain hal menjadikan ikan tongkol asam pedas
Hasanah selalu hilang satu atau dua potong dan mengetahui belaka itu adalah
perbuatan si garong dengan bulu belang macannya dan mata kiri cacatnya. Hasanah
pernah memergokinya di dapur dan untuk beberapa saat mereka akan bertatapan,
terpaku di tempat masing-masing, seperti saat-saat senyap menegangkan sebelum
duel. Hasanah berlari menggapai sapu dan memukul si garong dengan sepenuh
dendam. Si garong begitu gesit sehingga, hingga pintu depan ia mengejarnya, tak
pula sapu Hasanah mengenai tubuh si garong. Sesampainya di depan pintu, si
garong berhenti berlari, menoleh ke arah hasanah yang mengatur napasnya, menggenggam sapu.
“Ngeoong,” dengan suaranya yang kasar si garong berlalu.
Pada hari pertama Dani membawa anak
ayam berbulu birunya ke rumah, tak sengaja si garong melewati muka rumah mereka. Berhenti di depan pintu yang terbuka lebar dan memandangi anak ayam Dani
dengan retina mata menyempit. Sebulan tak menampakkan ekornya yang belang, si
garong itu tampak lebih kurus dari biasanya: ruas-ruas iga tercetak di permukaan
kulit perutnya.
“Oalah. Kau harus menjaga anak ayam
itu kalau tidak ingin dicaplok si garong,” seru Hasanah kepada anak semata
wayangnya.
Tak seperti hari-hari biasa, malam
harinya Dani terus terjaga, ia terganggu mendengar derap langkah-langkah
kecil di atas atap dan membayangkannya sebagai langkah si garong yang sedang
mengintai anak ayamnya, menunggunya lengah tertidur. Dani telah memastikan
setiap pintu, setiap jendela, setiap lubang, setiap celah telah tertutup rapat
dan mustahil belaka bagi si garong menyelinap ke rumah. Di atas kasur
lipatnya, Dani berbaring menghadap kanan memandangi anak ayamnya sedang
tertidur. Ia memberi kandang anak ayamnya lampu lima watt agar tetap hangat. Di
bawah remang penerangan lampu itu, anak ayam berwarna biru itu tampak seperti
mainan belaka dengan tuas mekanis di punggungnya. Dengan si garong yang
berkeliaran di luar, Dani tak berniat melepas anak ayamnya yang berwarna biru
itu seperti ia selalu lakukan terhadap burung-burung pipitnya. Ia akan
memeliharanya dan membuktikan kepada ibunya, Hasanah, bahwa ia bisa merawat
anak ayam itu hingga besar. Meskipun tak pernah terpikir olehnya untuk
menjadikannya gulai kalio atau goreng balado.
Malam itu ia terus terjaga dan
secara tak sadar tertidur begitu mendengar lantunan azan subuh dari masjid
terdekat. Di saat lansia-lansia terbangun dan berjalan terseok-seok ke masjid,
bocah itu tertidur pulas dan memimpikan puluhan burung pipitnya yang berwarna
pelangi bertengger di atap rumahnya, bercericip ria.
Begitu melihat di dalam kandang mungil di sebelah kasur lipatnya tak tampak anak ayam berbulu biru, Dani
terbangun dengan terkesiap dan napas yang tersengal. Dengan cepat rohnya
kembali ke dalam dirinya. Si garong telah mencuri anak ayam itu? Ia merasa
perlu mencari ibunya. Tapi sambil berteriak-teriak memanggil ibu ibu ibu ia
akan memeriksa jendela, pintu dapur yang menghubungkan halaman belakang dan
setiap celah dan semuanya masih tertutup seperti sedia kala. Ia tak pula
menemukan jejak si garong di antaranya. Selagi ia memanggil-manggil ibunya,
Hasanah muncul dari pintu depan menenteng bahan-bahan keperluan dagangnya. Ia
berjualan gado-gado di depan rumahnya dan dari situ mereka memiliki penghasilan
tambahan yang lumayan. Hal Itu ia lakukan mengingat suaminya, ayah Dani, Badrudin,
tidak menghasilkan cukup uang dari pekerjaannya sebagai buruh di pabrik kaleng.
Sebab pabriknya yang terletak cukup jauh dari kampung mereka, Badrudin hanya pulang
sebulan sekali. Dan sudah dua minggu Badrudin tidak pulang ke rumah, di saat
Dani kehilangan anak ayam berwarna biru. Di jam dinding waktu menunjukkan
pukul 6.30 dan biasanya Dani sudah bersiap berangkat sekolah.
“Ibu. Anak ayamku hilang!?” kata
Dani kepada ibunya dengan nada panik.
“Benarkah?” kata Hasanah. “Pas ibu
mau keluar tadi masih ada kok.”
“Tapi sekarang dia tak ada di
kandangnya,” isak Dani.
Dan mereka pun menuju tempat kandang
ayam mungil itu berada. Di perjalanan Hasanah memerintahkan Dani untuk segera
mandi dan bersiap berangkat sekolah. Tapi Dani menggeleng. Aku harus menemukan
anak ayamku dulu, katanya.
Hasanah melihat kandang ayam itu tak
terbuka, tak pula terbalik. Dia berada di tempatnya semula tanpa bergeser
sedikit pun. Mereka tak bisa membuktikan bahwa si garonglah yang diam-diam
mencuri anak ayam itu. Tapi kecurigaan pertama pasti menuju kepadanya.
“Sudahlah. Relakan. Kau bisa
membelinya lagi,” kata Hasanah kepada Dani, berusaha bijak. Ia mengelus-ngelus
rambut anaknya.
“Tapi bu—“
Dani berangkat sekolah
dengan hati berat. Sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu lima belas
menit itu, pikirannya bertanya-tanya kenapa anak ayam itu hilang begitu saja, tanpa
jejak dan tanda sedikit pun. Namun ia tak menemukan jawaban apa pun selain
membayangkan si garong entah bagaimana caranya atau lewat celah apa berjinjit-jinjit
ke kandang ayam tersebut, membuka perlahan pintu kandangnya, dan menculik anak
ayam itu tanpa membangunkannya sama sekali, membawanya layaknya menjinjing anak
kucing kesayangan. Tapi cara demikian menurutnya mustahil. Dengan perasaan
sedih yang diam-diam menggelayutinya hari itu, sepulang sekolah ia putuskan
membeli anak ayam lainnya.
Ia melewati waktu belajar di kelas
nyaris dengan kepala kosong. Guru-guru datang silih berganti menjelaskan subjek
dengan kejenuhan mengupas kentang-kentang. Teman-temannya sibuk
sendiri-sendiri, mendengarkan, pura-pura mendengarkan, ngobrol berbisik dengan
kawan sebangku, menjaili kawannya yang terlihat bodoh. Begitu pelajaran usai ia
bergegas keluar kelas menuju gerbang sekolah. Anak-anak menghambur keluar
kelas seperti burung-burung pipit yang terbebas dari rasa bosan di dalam sangkar.
Di gerbang, Dani terkesiap melihat
antrian di depan abang penjual anak ayam. Tidak seperti antrian bank tentunya.
Ia bertanya-tanya apakah anak-anak itu juga kehilangan anak ayamnya sama seperti
dirinya. Dan ia ikut mengantre entah di baris yang mana. Dani bertanya kepada
seorang bocah ingusan di depannya apakah anak ayammu hilang atau apa?
“Aku melemparnya setinggi langit
supaya dia terbang. Tapi lemparan kesekian justru membuat nyawanya terbang saat mendarat,” kata bocah ingusan tersebut.
Dani bertanya kepada beberapa anak-anak yang mengantre yang dapat ditanyainya. Sebagian besar memiliki jawaban
beragam dengan akhir kematian si anak ayam, namun beberapa baru pertama kali
membeli dan berniat untuk memberinya sayap buatan untuk mereka terbangkan ke
langit. Dan tibalah giliran Dani membeli, berhadapan dengan penjual anak ayam
bertubuh raksasa itu. Puluhan anak ayam warna-warni di dalam kandang itu tampak
mungil di hadapan si pedagang, dan saking besarnya jari-jari tangannya ia
hingga menggunakan sumpit untuk mengambil anak ayam yang dibeli.
Anak-anak ayam di dalam kandang itu
penuh sesak seperti pertama kali ia melihatnya, seakan, kandang ayam itu bisa
menghasilkan sendiri piyiknya dari ruang hampa. Di balik topi bundar pedagang anak ayam gaul itu,
Dani sama sekali tak dapat melihat matanya: sepasang mata biru itu tertutup
oleh bayangan topi, tapi pedagang bertubuh besar itu terlihat tersenyum
kepadanya. Kau mau warna apa anak manis? Katanya dengan logat asing yang
pertama kali didengar Dani. Dani menunjuk anak ayam yang dipilihnya, namun
karena kandang itu penuh sesak, pedagang itu tidak yakin dengan apa yang
ditunjuk Dani. Sebutkanlah warnanya, katanya lagi. Merah bang. Dengan sumpitnya
pedagang itu mengambil sembarang anak ayam berwarna merah yang ada di dalam.
Toh semuanya terlihat sama.
“Lain kali panggil saya Albert,”
kata penjual anak ayam gaul itu.
Dani mengangguk, menyerahkan lima
lembar seribuan, mengambil anak ayamnya yang telah diberi kandang mungil,
berlalu meninggalkan penjual yang mengaku bernama Albert itu. Nama yang
belum pernah didengarnya, pikirnya.
Dani sampai di rumah dan mendapati Hasanah
sedang melayani seorang pelanggan—seorang ibu tambun mengenakan daster motif
mawar. Setiap bunga di permukaan tubuh pembeli itu mengembang seperti terlalu
banyak diberi air. Ia mengucapkan salam dan berlalu ke dalam rumah, mencopot
sepatunya dengan tumit kaki lainnya, berjalan ke dalam masih mengenakan kaus
kaki. Kali ini ia tidak ingin ayamnya hilang lagi. Pasti itu ulah si garong,
pikirnya. Sehingga ia mencari cara agar si garong tidak dapat mencuri anak
ayamnya untuk kedua kali. Usai Hasanah melayani pembeli dengan mawar mengembang
itu Dani bertanya kepada ibunya, supaya si garong tidak lagi mencuri anak
ayamnya.
“Kau bisa terjaga sepanjang malam
menjaga anak ayammu?” saran Hasanah.
“Mustahil,” kata Dani tanpa
berpikir. “Aku akan mengantuk begitu subuh tiba.”
Ibunya berpikir untuk beberapa saat, dan timbul ide untuk memasang perangkap di sekeliling kandang ayam mungil itu.
Kau brilian ibu, kata Dani berlari dan memeluk ibunya. Sebelum si garong ada di
lingkungan mereka, tikus menjadi penguasa malam bagi warga yang tertidur pulas.
Tikus-tikus pengerat ini akan meninggalkan jejak gigitannya di pakaian-pakaian
gombal, ikan asin, dan kaki yang tak pernah dicuci sebelum tidur. Mengatasi
itu, Hasanah terbiasa menyiapkan banyak perangkap tikus di setiap sudut-sudut
rumah yang biasa dilalui mereka, meletakkan potongan kecil ikan asin sebagai
umpannya dan selalu berhasil menjeratnya, meskipun tikus-tikus itu dengan
menjengkelkan tak pernah berkurang. Dan muncul si garong, yang awalnya
dianggap sebagai pahlawan karena berhasil mengurangi populasi tikus pengerat,
tapi di sisi lain, merupakan ancaman bagi rumah-rumah yang tak waspada terhadap
makanannya.
Hasanah masih menyimpan perangkap
tikus tersebut, tujuh unit, dengan taring masih setajam dulu meskipun telah berkarat.
Dibantu Hasanah, tujuh unit perangkap tikus itu diletakkan mengelilingi kandang
anak ayam berwarna merah itu, hingga tidak ada lagi celah bagi si garong
melewatinya untuk menjangkau kandang ayam itu. Hasanah merasa tidak perlu
meletakkan umpan sebab piyik berwarna itu secara tidak langsung sudah menjadi
umpannya. Sedikit saja si garong menyentuh perangkap tikus itu maka
taring-taringnya yang tajam dengan kuat merobek kaki si garong. Namun seharian
ini, Hasanah tidak melihat keberadaan si garong di sekitar rumah mereka. Ia
mengatakan kepada anaknya, malam ini tidak ada yang berani mengganggu anak
ayammu dan Dani tersenyum lega mendengarnya.
Waktunya untuk pergi tidur sudah
tiba, 9.30, dan setelah menggosok gigi dan mencuci kaki, Dani lekas berbaring
di kasur lipatnya, menghadap ke arah anak ayamnya. Piyik itu masih bercericip
meskipun terlihat mengantuk. Dani menyimak loteng dan ia tidak mendengar
sedikit pun derap langkah kaki kucing di atas. Memandangi tujuh unit perangkap
yang menganga lebar, dan suara cericip piyiknya yang konstan perlahan, Dani
diserang rasa kantuk. Ia segera tertidur dan malam itu berlalu dengan cepat
tanpa ia memimpikan burung-burung pipitnya.
Dani terbangun lebih awal dengan
mendengar lantunan azan subuh dari masjid terdekat, tanpa ia mendengar cericip
anak ayam berbulu merahnya. Ia membuka matanya perlahan dan langsung menatap
kandang ayam tersebut. Dani mengusap-ngusap matanya. Tujuh unit perangkap itu
utuh tak tersentuh seperti pertama kali diletakkan di sana. Kandang ayam itu
pun utuh tanpa bergeser sedikit pun. Tapi anak ayamnya lenyap. Dani tidak
menemukan gumpalan bulu berwarna merah mencolok di dalamnya. Dani hendak
menangis. Ia ingin menangis mendapati anak ayamnya kembali hilang, tapi ia
tidak dapat mengeluarkan air mata. Kehilangan untuk kedua kalinya membuatnya
jengkel sehingga ia ingin menangis sekeras-kerasnya. Tapi anak ayamnya yang
hilang begitu saja, tanpa jejak apa pun membikin kelenjar matanya tidak bisa
memproduksi air mata. Malam bagai pesulap yang licik.
Dani tidak mengatakan apa pun
mengenai hilangnya anak ayamnya kepada Hasanah. Ia menganggapnya percuma.
Memberitahu hal muskil tersebut kepada ibunya tak membuat anak ayamnya kembali.
Sepanjang hari itu ia begitu jengkel dan dendam tak beralasan entah kepada apa.
Dani memutuskan akan terus membeli anak ayam dan mencari tahu apakah si garong
benar-benar punya cara ninja untuk mencuri anak ayamnya, atau diam-diam selagi
ia tidur seorang pesulap muncul tiba-tiba di rumahnya dan memperagakan cara
melenyapkan anak ayam tanpa jejak.
Usai sekolah Dani bergegas menuju
Albert. Melihat pedagang itu ia tersadar penampakan Albert mirip pesulap yang
pernah ia lihat tampil di televisi. Kali itu Dani adalah pembeli terakhir dan
ia beruntung masih tersisa seekor anak ayam berbulu kuning. Kau beruntung anak
ayamnya masih tersisa satu, kata Albert. Setelah mendapatkan anak ayamnya Dani
masih berdiri di sana berhadap-hadapan dengan Albert. Ia berpikir untuk
memberitahu, dua kali anak ayamnya hilang tanpa sebab. Seperti biasa, Albert
memandangi Dani dari dalam bayangan topi bundarnya. Apa lagi, kata Albert
tersenyum. Dani menggeleng. Kembalilah besok. Apakah aku harus membeli anak
ayam tiap hari, kata Dani akhirnya. Anak-anak lain melakukannya… Dengan
berbagai alasan tentunya… Well,
kebanyakan mati di hari pertama mereka memeliharanya. Tenang saja, aku masih
punya ribuan anak ayam untuk kau miliki. Anak ayamku hilang tiba-tiba tapi aku
tak tahu kenapa, Dani ingin mengatakannya tapi ia simpan saja di kepalanya. Ia
berbalik tanpa mengatakan apa pun.
Malam itu Dani bertekat bergadang
menjaga anak ayamnya. Hari itu ia tidak merasakan keberadaan si garong,
setidaknya itu yang dikatakan Hasanah. Dani semakin curiga ada yang tidak beres
dengan hilangnya anak-anak ayamnya tapi ia tidak tahu sebabnya. Dani teringat
acara sulap di televisi yang pernah ditontonnya. Pesulap itu memasukkan kelinci
ke topi hitam tingginya dan kelinci itu hilang seketika, dan pesulap itu
kembali memunculkannya dari dalam topi hitam tinggi yang kosong itu.
Esok hari adalah Minggu sehingga ia
tidak perlu khawatir untuk terlambat berangkat sekolah. Dani teringat perkataan
Albert untuk kembali menemuinya besok. Apakah Albert tidak tahu bahwa besok adalah Minggu.
Dani memandang anak ayamnya yang kuning.
Ia memberinya butiran beras, anak ayam itu menghabiskan waktu mematuk-matuknya.
Sekarang anak ayam itu tampak terkantuk. Dani tidak ingin terkantuk lalu tertidur
dan kembali kehilangan anak ayamnya.
Sebelum Hasanah pergi tidur terlebih
dahulu ia mengatakan kepada anaknya bahwa Senin nanti ayahnya akan pulang. Dani
tidak terlalu bersemangat mendengarnya. Di mata Dani, Badrudin adalah ayah yang
agak pendiam, setidaknya itu yang ia ingat dari sosok ayahnya. Namun suatu kali
Hasanah pernah bilang Badrudin tidak sependiam itu sesungguhnya. Ia adalah
perayu yang handal, kata ibunya kepada Dani berkelakar, tak peduli apakah
anaknya mengerti ucapannya atau tidak. Itulah kenapa ibu tertipu olehnya dan
jadilah kamu. Tapi Badrudin sudah bertahun-tahun tidak banyak bicara kepada
anaknya selain basa-basi apakah sudah makan, apakah sudah mandi, bagaimana
sekolahmu, tidak lebih. Samar-samar Dani mengingat ayahnya pernah bercerita
panjang lebar tentang kehidupannya di pabrik kaleng, tapi Dani tidak yakin
apakah ayahnya benar-benar pernah menceritakan kepadanya tentang pabrik kaleng
itu. Mungkin karena Dani tidak mengerti yang dibicarakan ayahnya. Kecuali satu
kalimat tanya yang ia ingat jelas pernah dilontarkan ayahnya kepadanya: kau mau
adik? Dan Dani menjawabnya dengan mau yang panjang dan anggukan yang semangat.
Tapi adik Dani tidak pernah muncul
di dalam keluarga itu. Selama sembilan bulan Hasanah mengandung, Dani tidak sabar
menunggu kedatangan anggota keluarga baru. Dan di saat-saat itu Badrudin lebih
sering pulang ke rumah khawatir istrinya bisa melahirkan kapan pun. Sebulan
terakhir masa kehamilan itu mereka memikirkan banyak nama bayi dari Timur
Tengah, Eropa ataupun Asia Timur Jauh dan mereka berakhir dengan keputusan untuk
memberi nama anak kedua mereka Danu apabila laki-laki, Dina apabila perempuan.
Tibalah malam di mana Hasanah merasakan mulas yang tak tertahankan seakan seluruh isi tubuhnya ingin keluar. Badrudin berada di sisi Hasanah. Dani cemas
dan tak mengerti keadaan ibunya. Tetaplah di rumah, kata Badrudin kepada
anaknya. Malam itu juga Badrudin membawa istrinya ke rumah bersalin 24 jam
yang berada di luar kampung tersebut, dan tidak akan pulang hingga keesokan
harinya.
Pagi berikutnya Dani terbangun
dengan kesiapan menyambut pendatang baru mungil di rumahnya. Ia bertekat akan
menjadi abang yang baik bagi adiknya. Setengah tersadar ia berlari menuju kamar
orang tuanya. Di sana terdapat Badrudin, sedang duduk bersandar di tepi
ranjang, tertunduk. Hasanah berbaring di atas ranjang, berselimut. Perutnya tak
lagi membulat tapi Dani tidak mendengar suara tangisan bayi di kamar itu, tidak
pula ia menemukan keberadaannya. Hari itu ia mengenal kosa kata baru,
memahaminya dengan segenap hati: gugur.
Tiga tahun berlalu semenjak kejadian
tersebut. Dan selama tiga tahun itu ibunya selalu hamil. Namun selalu gagal
menghadirkan sesosok adik untuk dirinya. Memikirkan itu Dani jadi tidak
mengantuk sama sekali. Dengan bertelekan tangan, ia melihat anak ayamnya
tertidur hangat di bawah penerangan lampu lima watt. Malam itu Dani menekuri
makna kehilangan.
Tik tak tik tak, bunyi jarum jam di
dinding yang menjenuhkan tidak berhasil membuatnya terkantuk. Dani menunjukkan
wajah garang menantang setiap rasa kantuk yang sewaktu-waktu menyerangnya.
Waktu beringsut dan ia pasrah bahwa di Minggu pagi ia tidak akan sempat
menonton serial kartun kesayangannya. Meskipun malam beranjak dan subuh pada
akhirnya tiba, bayang-bayang benda di dalam kamar itu tetap konstan pada
tempatnya, cahaya lampu membikinnya abadi. Anak ayam berbulu kuning itu tertidur,
tampak bernapas perlahan, mata terpejamnya bergerak-gerak seolah makhluk mungil
itu tidak benar-benar tertidur. Tidur-tidur ayam kata orang-orang, yang
terkadang dilakukan Dani pada saat Badrudin pulang dan membikin suara gaduh bersama
Hasanah di malam-malam yang dingin. Saat tidur-tidur ayam itu suara gaduh dari
kamar orangtuanya membuatnya terkenang dengan permainan yang sekali-sekali
dilakukannya dengan Muljoto, dan beberapa anak gadis, dan seorang anak bawang. Kosong kosong isi isi. Aku minta anak.
Namanya siapa…
Bukan tanpa alasan Dani selalu
semakin terkantuk begitu mendengar lantunan azan subuh dari masjid dekat
rumahnya. Muazin itu selalu melantunkan azan dengan suara jernih, dan syahdu
dan lembut. Warga kampung yang kurang iman pasti semakin mengubur diri mereka
di dalam kasur begitu mendengar suara azan muazin, dan hanya lansia yang
menganggapnya panggilan menuju hari esok. Tidak tidur sehari semalam suara
muazin yang syahdu itu kali ini memiliki efek bius yang lebih dahsyat dibanding obat tidur. Dani bertarung hebat untuk melawan rasa kantuk yang menggelayutinya
semakin berat, berat dan dalam. Dengan mata yang terbuka separuh, dengan
ruas-ruas merah menjalari matanya ia berusaha tetap fokus menatap anak ayamnya.
Masih di sana. Assolatulkhorumminannaum.
Bait itu membikin matanya semakin sulit terbuka. Ia hanya dapat melihat segaris
horizon dengan anak ayamnya sebagai pusat. Dan bait kedua: lebih baik salat
daripada tidur, akhirnya membuatnya menutup mata sama sekali. Pandangannya
gelap dan ia tidak dapat melihat anak ayamnya. Kesadarannya perlahan sirna tapi Dani tidak ingin itu terjadi. Ia berusaha keras. Dani membanting setan
kantuk yang menggelayuti matanya dan membuka matanya lebar dengan sontak.
Anak ayam berbulu kuning itu sudah
tidak ada di kandangnya. Sepersekian detik ia memejamkan matanya makhluk mungil
itu benar-benar lenyap dari jagat kenyataan. Matanya yang telah menipunya
atau dunia ini yang mentah-mentah menipunya? Dani ingin segera bertemu Albert
memastikan garib pengalamannya itu.
Setelah tertidur selama lima jam, pukul sepuluh
pagi Dani meluncur ke sekolahnya. Tentu saja gedung sekolah pada hari itu
sama sekali tidak memiliki aktivitas belajar-mengajar, tak pula terdapat
pelbagai macam pedagang yang biasa berkumpul di halaman gerbang sekolah.
Meskipun hari libur, Dani memegang perkataan Albert dan berharap pedagang aneh
itu benar-benar berada di tempatnya semula. Sampai di gerbang sekolah di mana
tidak ada keriuhan biasanya, Dani melihat keberadaan Albert seperti melihat
hantu yang biasa menghuni gedung sekolah. Albert di sana, di tempatnya biasa, dengan
kandang yang kali ini tidak berisi anak-anak ayam berwarna pelangi yang selalu
rewel, melainkan telur-telur dengan susunan yang rapih, dan
corak warna-warni seperti telur paskah. Dani berjalan menghampiri Albert dan
berharap ia sedang bermimpi.
“Kau tidak perlu bercerita apa-apa.”
kata Albert, masih dengan logatnya yang terdengar asing, seakan suara itu
berasal dari negeri antah-berantah.
“Albert… Apakah kau berada dalam
mimpiku? Apakah saat ini aku sedang bermimpi?” kata Dani. Ia masih berharap
keganjilan ini adalah mimpi. Anak-anak ayamnya yang hilang, dan telur-telur
paskah yang berada di dalam kandang, dan Albert yang datang dari negeri entah.
“Kau boleh menganggapnya demikian,”
kata Albert. “Tentu, di dalam mimpi apa pun dapat terjadi, tapi kau tidak dapat
menguasai mimpimu. Sekalipun kau seorang diktator.”
“Kalau ini memang betul… Aku ingin
terjaga dan melihat anak-anak ayamku berada di kandangnya. Aku ingin merawatnya
sampai besar.”
“Tidak perlu,” lanjut Albert. “Cukup
bawa telur-telur ini pulang ke rumahmu.”
“Apakah telur-telur itu akan
menetaskan anak-anak ayam lainnya?”
“Semacam itu. Tapi aku tidak
memberimu dengan cuma-cuma. Kau tetap harus membayarnya seharga anak ayam yang
biasa kau beli.”
Dani mengangguk.
“Setiap hari, selama seminggu ke
depan. Kau harus mendatangiku untuk membeli sebutir telur, dengan warna
berbeda. Kau harus ingat telah membeli warna apa sehingga esok, tidak membeli
warna yang salah. Setelah itu dengarkan… Kau letakkan telur-telur itu di bawah
tempat tidur orangtuamu.”
“Apakah telur-telur itu akan menetas
di bawah kasur ibuku?”
“Semacam itu.”
“Apakah aku perlu melakukannya?”
“Kau tidak usah banyak tanya. Lakukan
saja.”
“Lagipula… Siapa kau sesungguhnya
Albert. Dari mana asalmu? Kau pedagang yang aneh.”
“Sebaiknya kau pulang dan tidurlah.
Aku tahu kau bergadang semalaman dan kurang tidur.”
“Tapi… Bukankah ini mimpi. Kenapa
aku harus tidur di dalam mimpiku?”
Albert menggaruk-garuk topi
bundarnya, “Yaa… Di mimpimu ini, kau harus tidur kalau ingin terjaga. Sekarang
pulanglah dan mimpikan burung-burung pipitmu.”
Dani tidak memusingkan darimana
Albert tahu bahwa ia sering memimpikan burung-burung pipitnya. Ia berjalan pulang
dan berharap bisa terbang ke rumahnya sebab ia masih mengira ini pasti mimpi. Bersusah
payah Dani membayangkan terbang seperti burung-burung pipitnya terbang, Dani
tidak juga bisa melayang. Dani harus berjalan melewati jalan yang biasa ia
lalui. Mimpi yang aneh, pikir Dani. Bahkan aku tidak dapat terbang di dalam
mimpiku sendiri.
Sebagaimana perintah Albert, lelah
berjalan, sesampainya di rumah, Dani menyeret tubuhnya menuju kasur lipatnya,
ia sudah tak tahan dan ingin segera tidur, atau ingin terjaga dari mimpinya. Ia
menghempaskan tubuhnya segera setelah melihat kasur lipatnya. Dan rasa kantuk
yang dahsyat menyeret kesadarannya ke dalam kegelapan. Sepanjang siang, Dani
memimpikan burung-burung pipitnya, tidak lagi berada di atas atap. Mereka
berada di dalam rumah dan burung-burung pipit itu dengan warna merah, jingga,
kuning, hijau, biru, nila dan ungu bertengger di setiap sudut rumahnya, di atas
televisi, di atas kursi, di atas lemari, di atas batangan ranjang, di
mana-mana, bercericip tiada henti.
Senin, sepulang sekolah Dani
mendapati ayahnya, Badrudin sudah berada di rumah, menyalami tanganya yang
jari-jarinya berukuran besar. Dani merasakan betapa tebal dan kasar kulit
telapak tangan ayahnya. Menggenggam Djarum di tangan sebelah kirinya, Badrudin
menepuk-nepuk rambut anaknya. Kau sudah bertambah tinggi sedikit, kata Badrudin
tersenyum. Hari itu Dani melihat Hasanah tampak lebih ceria dibanding hari-hari
di mana Badrudin tidak berada di rumah. Tak ada pelanggan yang sedang memesan
gado-gadonya, tapi Hasanah bersenandung riang. Sepanjang hari hingga malam
tiba, Dani akan terheran-heran melihat polah Hasanah, bahkan Dani menghirup
wangi mawar liar mengikuti kemana pun Hasanah berjalan.
Kepada Badrudin, Dani berusaha
bercerita mengenai tiga ekor anak ayamnya yang hilang belakangan, dengan agak
rinci, dan keganjilan-keganjilan yang ditemuinya. Dengan kejengkelan khas
kanak-kanak, ia menuduh si garong sebagai terduga utama, tapi sampai saat ini belum
juga berhasil menemukannya di sekitar. Dani juga bercerita mengenai Albert,
pedagang anak ayam gaul eksentrik di sekolahannya. Badrudin mendengarkan
anaknya bercerita dan sekali-kali di antara diam Dani memikirkan kalimat yang
tepat untuk menyampaikan, ia menjawab oh ya, benarkah, wah, dengan tersenyum.
Sesungguhnya di waktu-waktu lampau ayahnya pulang ke rumah, Dani tidak pernah
memiliki hasrat bercerita seperti ini. Tapi kali ini ia merasa ingin bercerita
kepada ayahnya. Tentu ia tidak ingin menceritakan bagian telur berwarna yang
harus ia beli dari Albert, ia juga tidak menceritakan bahwa, diam-diam telur berwarna
merah itu telah diletakkan di bawah ranjang Hasanah. Dani juga tidak
menceritakan bahwa telur itu begitu ringan seakan tidak ada isi di balik
cangkangnya selain hampa.
Setelah Dani menceritakan kisahnya,
untuk membunuh rasa sunyi yang ganjil di antara ayah dan anak itu, Badrudin
juga ingin menceritakan seberkas kehidupannya di pabrik kaleng. Ia merasa tak
perlu menganggap serius kisah anaknya. Badrudin bercerita ia memiliki seorang
kepala pengawas bertubuh buncit dan berkepala pelontos dengan tampang India
Tamil. Pak Badar namanya. Badrudin telah mengenal baik Pak Badar semenjak tujuh
tahun lalu. Di sela-sela istirahat kerja, Pak Badar bercerita kepada Badrudin
mengenai dirinya, dan keluarganya. Pak Badar memiliki seorang istri pribumi
yang berasal dari daerah perbukitan yang sejuk. Ia memiliki tiga anak yang
masing-masing berjarak dua tahun. Anak pertamanya, laki-laki, sangat mirip
dengannya, dengan ciri India Tamil yang melekat kental. Tapi anak keduanya,
tidak mirip dengan kakaknya sama sekali, tidak pula dengan ibunya, hidungnya
besar, rambutnya keriting, kulitnya kasar. Anak ketiganya semakin tidak
memiliki ciri-ciri kakak-kakaknya, matanya sipit, hidungnya mancung mungil,
kulitnya seputih susu. Kepada Badrudin, Pak Badar bercerita, betapa heran ia
mendapati perbedaan ketiga anak-anaknya itu, meskipun toh kakak beradik tak mesti
kembar identik. Tapi Pak Badar bertanya-tanya kenapa anak kedua dan ketiganya
sama sekali tak mirip dirinya, atau istrinya. Kepada Dani, Badrudin bercerita,
Pak Badar sudah ratusan kali menceritakan perbedaan ciri ketiga anaknya
tersebut, dan saat ini istrinya sedang hamil tua, dan Pak Badar sedang
menunggu-nunggu apakah anak keempatnya akan mirip dirinya atau istrinya, atau
seperti anak kedua dan ketiganya, sama sekali berbeda. Ceritanya ia hentikan
sampai di situ. Badrudin tidak memberitahu Dani bahwa apabila anak Pak Badar
betul-betul sama sekali berbeda, ia akan menganggap ada yang tidak beres dengan
bininya dan akan mencari tahu kebenarannya.
“Apakah nanti… Kalau aku punya adik…
Juga tidak mirip denganku?” tanya Dani sekonyong.
“Pasti dia akan mirip kau. Karena
wajahmu adalah perpaduan wajah ayah dan ibu,” jawab Badrudin bangga dengan
ketampanan anaknya, yang tentu saja diwarisi oleh perpaduan wajah Hasanah dan
dirinya.
Malam itu Dani tidur-tidur ayam.
Kamar tempat Hasanah dan Badrudin berada membikin suara gaduh. Ia mendengar
derit rintih ranjang, dan sekali-sekali lenguhan panjang yang tak serupa dengan
suara ibunya di siang hari. Dani memikirkan telur berwarna merah di bawah
ranjang itu. Dani masih terheran-heran dengan isinya yang kosong. Selama
sepekan Badrudin berada di rumah, setiap malam, Dani akan mengalami peristiwa
yang sama. Dani juga meletakkan telur-telur dengan warna lainnya setiap harinya,
yang dibelinya dari Albert. Setelah tujuh warna sudah lengkap, kau kubur
telur-telur itu di halaman belakang rumahmu, kata Albert di hari terakhir ia
berada di sekolah. Setelah itu Albert tidak lagi berjualan, dan Dani tidak akan
pernah menemuinya lagi. Terkadang Dani merindukan keganjilan keberadaan Albert.
Tapi tidak lagi semenjak, setelah sembilan bulan Dani mengubur telur-telurnya,
Hasanah, pada akhirnya, melahirkan anak keduanya. Bayi mungil merah itu begitu
mirip abangnya, namun dalam bentuk feminim. Bayi itu secantik Hasanah.
-Hizbul Ridho
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar