Minggu, 23 Agustus 2020

Kosong Isi







Setelah berminggu-minggu bocah-bocah sekolah dasar itu mati bosan sebab tak menemukan permainan baru, tiba-tiba saja pedagang itu muncul pada Senin yang berangin setelah upacara bendera yang membosankan, duduk di kursi lipat yang dibawanya di sisi kiri gerbang sekolah, membentangkan dagangannya berupa anak-anak ayam dengan bulu berbagai warna kecuali hitam dan putih, menyesaki kandang persegi berjaring kawat, bercericip ria. Dari kejauhan, di antara gerobak siomay yang muram dan agar-agar berperisa buatan, kandang itu tampak sedang mengurung pelangi, dan menjadi penarik perhatian setiap bocah sekolah dasar yang menginjakkan kaki di gerbang pada jam istirahat.

Penjual anak ayam gaul—begitu anak-anak menyebutnya—tak sama dengan penjual burung pipit yang pernah singgah ke sekolahannya. Penampilannya juga tak sama dengan para pedagang umumnya, yang anak-anak selalu panggil dengan sebutan abang tanpa embel nama. Di antara pedagang-pedagang bertubuh kecil dan kulit legam, penjual anak ayam gaul tampak seperti Gulliver di Negeri Kurcaci. Di balik topi bundar kusam yang hampir selalu menutupi matanya, rambutnya seperti bulu anak ayam. Dani tak begitu peduli dengan para penjual yang berada di gerbang sekolah tersebut. Ia hanya peduli menginginkan sesuatu dan membelinya, sebatas itu. Sekali waktu Dani berpapasan dengan mata pedagang itu, yang biasanya tertutup bayangan: sepasang mata biru yang dalam dan membius. Dani membeli anak ayam berwarna biru, dan berlalu masih dalam hipnosis mata biru si pedagang anak ayam.

Dari mulai peletokan hingga kartu dengan gambar-gambar suprapahlawan telah dimainkan Dani pada musim-musimnya yang singkat, dan sesungguhnya ia pernah memelihara burung-burung pipit warna-warni yang dijual di depan sekolahnya itu. Setiap hari ia hanya akan menghabiskan uang jajannya, lima ribu perak, untuk membeli burung pipit berbagai warna. Pulang sekolah, dengan tenang ia tenteng burung tersebut dalam sangkarnya yang sempit: berlompat-lompat ke sana kemari tapi tak bisa membentang sayapnya. Semenjak kehilangan adik-adiknya yang tak sempat dilahirkan, Dani jatuh iba kepada burung-burung dalam sangkar sempit itu. Sebelum sampai rumah ia perlu melalui pematang sawah, merasakan angin berhembus menggoyang-goyang bentangan padi yang mulai menguning, dan mengibarkan rambutnya.

Sangkar burung pipit yang dibuat seadanya itu bergoyang-goyang tertiup angin, Dani mengangkat kandang itu hingga berada sejajar dengan dadanya, lalu ia buka penutupnya dan burung pipit itu sekelebat melesat ke udara, berputar-putar di atas hamparan sawah dan terbang tinggi ke angkasa, menjadi noktah biru. Lima ribu rupiah untuk sebuah momen pelepasan burung adalah kesenangan mewah yang dimilikinya sendiri. Ia membeli burung pipit berbagai macam warna itu setiap hari hingga tak ada lagi burung pipit yang dijual.

Ia pulang ke rumahnya yang berjarak satu kilometer dari sekolahan. Melalui bantaran sungai lalu berbelok ke jalur rel dengan hamparan kerikil tak berbatas, lalu melewati pohon-pohon waru yang berjajar di antara rel dan berbelok meniti pematang yang membelah sawah menuju kampungnya. Hamparan sawah itu kering kerontang, tempat ia pernah melepas tujuh puluh delapan ekor burung pipit berbagai warna. Tiga bulan lalu, para petani memanen padinya yang telah merunduk setelah puluhan ekor burung pipit terlebih dahulu menyerbu hamparan padi yang menguning itu. Ia menerka-nerka apakah sekawanan burung pipit itu merupakan burung-burung yang pernah dilepasnya. Ia membayangkan puluhan burung pipit berbagai warna itu menyerbu sawah layaknya pelangi runtuh. Pertengahan tahun itu, sebab hama burung berkali lipat dari biasanya, para petani hampir mengalami gagal panen. Tak banyak gabah bagus yang dihasilkan, sebab sebagian telah dicuri oleh puluhan burung pipit, dan sebab burung-burung itu terbang menyerupai pelangi, para petani kesulitan menghalaunya, bak menghadapi delusi. Para petani memburu semua burung pipit berwarna itu tapi tak menemukannya di mana pun di areal persawahan ataupun semak-semak atau pohon-pohon mahoni dan waru yang berada di sekitar sawah. Mereka lenyap seperti pelangi yang secara alamiah sirna, dan untuk melampiaskan kesal yang sudah sampai ubun-ubun, para petani memburu ratusan belalang, puluhan bekicot dan belasan kadal, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang sebagai santapan. Mereka biasa menumisnya, atau menjadikannya satai dengan kuah kecap atau menggorengnya kering dan menyantapnya sambil terheran kemana perginya puluhan burung pipit berwarna pelangi itu.

Menenteng anak ayamnya yang berwarna biru, Dani merindukan hijaunya hamparan sawah. Ia bergegas menuju rumahnya tanpa melupakan keseimbangan pijakan saat melalui pematang

Semenjak bocah-bocah lain di kampungnya membeli burung pipit untuk biasanya mereka siksa, Dani tak lagi ingin bermain dengan kawan-kawannya bahkan karibnya sekalipun, Muljoto, anak tukang ikan yang, memiliki jiwa petualang. Bersamanya Dani banyak menghabiskan waktunya di pematang sawah, di semak-semak alang-alang dan di atas pohon seri tua di tengah lapangan tempat warga kampung belajar mengendarai motor. Sebelum para petani menghabisinya, mereka akan menangkap belalang pocong, belalang sembah atau kadal dan mengurungnya dalam sebuah plastik es yang terlebih dahulu diisi oleh hembusan napas. Mereka akan memanjat pohon seri tua, mengumpulkan buahnya yang masak atau setengah masak dan melahapnya perlahan sambil memainkan binatang kecil tangkapan mereka.

Sekali waktu Dani bertanya ke Muljoto, yang biasa ia panggil Mul saja, apakah tidak apa-apa kalau belalang-belalang itu atau kadal yang ekornya buntung itu terkurung di dalam plastik tanpa lubang udara sedikitpun. Muljoto menjawab:

“Aku sudah memberinya napas buatan,” katanya tak peduli. “Lagi pula setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

Ia mengetahui belaka ayah Muljoto tewas terjatuh dari lantai empat pada proyek gedung tempatnya menjadi tukang, dan untuk menghidupi Muljoto dan adiknya, ibunya menyewakan tenaganya mencuci dan mensetrika pakaian warga kampung yang tak memiliki waktu melakukannya. Belalang-belalang itu dan kadal buntung akan mati keesokan harinya dan mereka akan mengulangi penangkapan yang sama.

Semenjak ibu Dani berkali-kali keguguran dan Dani begitu kecewa dan kesepian, bocah kelas lima Sekolah Dasar itu tak lagi bermain dengan Muljoto. Menyadari binatang-binatang tak berdosa itu akan mati keesokan harinya dengan cara dikurung demikian semakin ia ingat adik-adiknya yang tak sempat hadir di rumah mereka, semakin ia bertambah kesepian.

“Kali ini akan kau lepas ke mana anak ayam itu,” kata ibunya sesampainya ia di rumah. Dani hanya mengangkat bahunya.

“Orang-orang biasanya memeliharanya hingga besar lalu menjadikannya goreng ayam balado atau kalio,” ibunya melanjutkan. “Namun bocah seumuran kamu memeliharanya hanya untuk membunuhnya. Paling lama lima hari dan anak ayam lucu itu akan kehilangan nyawanya.”

Pintu rumah Dani selalu terbuka. Keluarga itu akan membiarkan angin dan debu masuk ke rumah. Ibu Dani, Hasanah, bisa menyapu hingga lima belas kali sehari hanya untuk menjaga lantai rumah mereka tak ditumpuki debu. Rumah mereka begitu sumpak dan atap yang terbuat dari seng menjadikannya semakin klaustro kala tertutup. Sehingga mereka akan selalu membukanya hingga waktu tidur tiba. Celakanya, kelengahan yang sekali-kali muncul karena satu dan lain hal menjadikan ikan tongkol asam pedas Hasanah selalu hilang satu atau dua potong dan mengetahui belaka itu adalah perbuatan si garong dengan bulu belang macannya dan mata kiri cacatnya. Hasanah pernah memergokinya di dapur dan untuk beberapa saat mereka akan bertatapan, terpaku di tempat masing-masing, seperti saat-saat senyap menegangkan sebelum duel. Hasanah berlari menggapai sapu dan memukul si garong dengan sepenuh dendam. Si garong begitu gesit sehingga, hingga pintu depan ia mengejarnya, tak pula sapu Hasanah mengenai tubuh si garong. Sesampainya di depan pintu, si garong berhenti berlari, menoleh ke arah hasanah yang mengatur napasnya, menggenggam sapu. 

“Ngeoong,” dengan suaranya yang kasar si garong berlalu.

Pada hari pertama Dani membawa anak ayam berbulu birunya ke rumah, tak sengaja si garong melewati muka rumah mereka. Berhenti di depan pintu yang terbuka lebar dan memandangi anak ayam Dani dengan retina mata menyempit. Sebulan tak menampakkan ekornya yang belang, si garong itu tampak lebih kurus dari biasanya: ruas-ruas iga tercetak di permukaan kulit perutnya.

“Oalah. Kau harus menjaga anak ayam itu kalau tidak ingin dicaplok si garong,” seru Hasanah kepada anak semata wayangnya.

Tak seperti hari-hari biasa, malam harinya Dani terus terjaga, ia terganggu mendengar derap langkah-langkah kecil di atas atap dan membayangkannya sebagai langkah si garong yang sedang mengintai anak ayamnya, menunggunya lengah tertidur. Dani telah memastikan setiap pintu, setiap jendela, setiap lubang, setiap celah telah tertutup rapat dan mustahil belaka bagi si garong menyelinap ke rumah. Di atas kasur lipatnya, Dani berbaring menghadap kanan memandangi anak ayamnya sedang tertidur. Ia memberi kandang anak ayamnya lampu lima watt agar tetap hangat. Di bawah remang penerangan lampu itu, anak ayam berwarna biru itu tampak seperti mainan belaka dengan tuas mekanis di punggungnya. Dengan si garong yang berkeliaran di luar, Dani tak berniat melepas anak ayamnya yang berwarna biru itu seperti ia selalu lakukan terhadap burung-burung pipitnya. Ia akan memeliharanya dan membuktikan kepada ibunya, Hasanah, bahwa ia bisa merawat anak ayam itu hingga besar. Meskipun tak pernah terpikir olehnya untuk menjadikannya gulai kalio atau goreng balado.

Malam itu ia terus terjaga dan secara tak sadar tertidur begitu mendengar lantunan azan subuh dari masjid terdekat. Di saat lansia-lansia terbangun dan berjalan terseok-seok ke masjid, bocah itu tertidur pulas dan memimpikan puluhan burung pipitnya yang berwarna pelangi bertengger di atap rumahnya, bercericip ria.

Begitu melihat di dalam kandang mungil di sebelah kasur lipatnya tak tampak anak ayam berbulu biru, Dani terbangun dengan terkesiap dan napas yang tersengal. Dengan cepat rohnya kembali ke dalam dirinya. Si garong telah mencuri anak ayam itu? Ia merasa perlu mencari ibunya. Tapi sambil berteriak-teriak memanggil ibu ibu ibu ia akan memeriksa jendela, pintu dapur yang menghubungkan halaman belakang dan setiap celah dan semuanya masih tertutup seperti sedia kala. Ia tak pula menemukan jejak si garong di antaranya. Selagi ia memanggil-manggil ibunya, Hasanah muncul dari pintu depan menenteng bahan-bahan keperluan dagangnya. Ia berjualan gado-gado di depan rumahnya dan dari situ mereka memiliki penghasilan tambahan yang lumayan. Hal Itu ia lakukan mengingat suaminya, ayah Dani, Badrudin, tidak menghasilkan cukup uang dari pekerjaannya sebagai buruh di pabrik kaleng. Sebab pabriknya yang terletak cukup jauh dari kampung mereka, Badrudin hanya pulang sebulan sekali. Dan sudah dua minggu Badrudin tidak pulang ke rumah, di saat Dani kehilangan anak ayam berwarna biru. Di jam dinding waktu menunjukkan pukul 6.30 dan biasanya Dani sudah bersiap berangkat sekolah.

“Ibu. Anak ayamku hilang!?” kata Dani kepada ibunya dengan nada panik.

“Benarkah?” kata Hasanah. “Pas ibu mau keluar tadi masih ada kok.”

“Tapi sekarang dia tak ada di kandangnya,” isak Dani.

Dan mereka pun menuju tempat kandang ayam mungil itu berada. Di perjalanan Hasanah memerintahkan Dani untuk segera mandi dan bersiap berangkat sekolah. Tapi Dani menggeleng. Aku harus menemukan anak ayamku dulu, katanya.

Hasanah melihat kandang ayam itu tak terbuka, tak pula terbalik. Dia berada di tempatnya semula tanpa bergeser sedikit pun. Mereka tak bisa membuktikan bahwa si garonglah yang diam-diam mencuri anak ayam itu. Tapi kecurigaan pertama pasti menuju kepadanya.

“Sudahlah. Relakan. Kau bisa membelinya lagi,” kata Hasanah kepada Dani, berusaha bijak. Ia mengelus-ngelus rambut anaknya.

“Tapi bu—“

Dani berangkat sekolah dengan hati berat. Sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu lima belas menit itu, pikirannya bertanya-tanya kenapa anak ayam itu hilang begitu saja, tanpa jejak dan tanda sedikit pun. Namun ia tak menemukan jawaban apa pun selain membayangkan si garong entah bagaimana caranya atau lewat celah apa berjinjit-jinjit ke kandang ayam tersebut, membuka perlahan pintu kandangnya, dan menculik anak ayam itu tanpa membangunkannya sama sekali, membawanya layaknya menjinjing anak kucing kesayangan. Tapi cara demikian menurutnya mustahil. Dengan perasaan sedih yang diam-diam menggelayutinya hari itu, sepulang sekolah ia putuskan membeli anak ayam lainnya.

Ia melewati waktu belajar di kelas nyaris dengan kepala kosong. Guru-guru datang silih berganti menjelaskan subjek dengan kejenuhan mengupas kentang-kentang. Teman-temannya sibuk sendiri-sendiri, mendengarkan, pura-pura mendengarkan, ngobrol berbisik dengan kawan sebangku, menjaili kawannya yang terlihat bodoh. Begitu pelajaran usai ia bergegas keluar kelas menuju gerbang sekolah. Anak-anak menghambur keluar kelas seperti burung-burung pipit yang terbebas dari rasa bosan di dalam sangkar.

Di gerbang, Dani terkesiap melihat antrian di depan abang penjual anak ayam. Tidak seperti antrian bank tentunya. Ia bertanya-tanya apakah anak-anak itu juga kehilangan anak ayamnya sama seperti dirinya. Dan ia ikut mengantre entah di baris yang mana. Dani bertanya kepada seorang bocah ingusan di depannya apakah anak ayammu hilang atau apa?

“Aku melemparnya setinggi langit supaya dia terbang. Tapi lemparan kesekian justru membuat nyawanya terbang saat mendarat,” kata bocah ingusan tersebut.

Dani bertanya kepada beberapa anak-anak yang mengantre yang dapat ditanyainya. Sebagian besar memiliki jawaban beragam dengan akhir kematian si anak ayam, namun beberapa baru pertama kali membeli dan berniat untuk memberinya sayap buatan untuk mereka terbangkan ke langit. Dan tibalah giliran Dani membeli, berhadapan dengan penjual anak ayam bertubuh raksasa itu. Puluhan anak ayam warna-warni di dalam kandang itu tampak mungil di hadapan si pedagang, dan saking besarnya jari-jari tangannya ia hingga menggunakan sumpit untuk mengambil anak ayam yang dibeli.

Anak-anak ayam di dalam kandang itu penuh sesak seperti pertama kali ia melihatnya, seakan, kandang ayam itu bisa menghasilkan sendiri piyiknya dari ruang hampa. Di balik topi bundar pedagang anak ayam gaul itu, Dani sama sekali tak dapat melihat matanya: sepasang mata biru itu tertutup oleh bayangan topi, tapi pedagang bertubuh besar itu terlihat tersenyum kepadanya. Kau mau warna apa anak manis? Katanya dengan logat asing yang pertama kali didengar Dani. Dani menunjuk anak ayam yang dipilihnya, namun karena kandang itu penuh sesak, pedagang itu tidak yakin dengan apa yang ditunjuk Dani. Sebutkanlah warnanya, katanya lagi. Merah bang. Dengan sumpitnya pedagang itu mengambil sembarang anak ayam berwarna merah yang ada di dalam. Toh semuanya terlihat sama.

“Lain kali panggil saya Albert,” kata penjual anak ayam gaul itu.

Dani mengangguk, menyerahkan lima lembar seribuan, mengambil anak ayamnya yang telah diberi kandang mungil, berlalu meninggalkan penjual yang mengaku bernama Albert itu. Nama yang belum pernah didengarnya, pikirnya.

Dani sampai di rumah dan mendapati Hasanah sedang melayani seorang pelanggan—seorang ibu tambun mengenakan daster motif mawar. Setiap bunga di permukaan tubuh pembeli itu mengembang seperti terlalu banyak diberi air. Ia mengucapkan salam dan berlalu ke dalam rumah, mencopot sepatunya dengan tumit kaki lainnya, berjalan ke dalam masih mengenakan kaus kaki. Kali ini ia tidak ingin ayamnya hilang lagi. Pasti itu ulah si garong, pikirnya. Sehingga ia mencari cara agar si garong tidak dapat mencuri anak ayamnya untuk kedua kali. Usai Hasanah melayani pembeli dengan mawar mengembang itu Dani bertanya kepada ibunya, supaya si garong tidak lagi mencuri anak ayamnya.

“Kau bisa terjaga sepanjang malam menjaga anak ayammu?” saran Hasanah.

“Mustahil,” kata Dani tanpa berpikir. “Aku akan mengantuk begitu subuh tiba.”

Ibunya berpikir untuk beberapa saat, dan timbul ide untuk memasang perangkap di sekeliling kandang ayam mungil itu. Kau brilian ibu, kata Dani berlari dan memeluk ibunya. Sebelum si garong ada di lingkungan mereka, tikus menjadi penguasa malam bagi warga yang tertidur pulas. Tikus-tikus pengerat ini akan meninggalkan jejak gigitannya di pakaian-pakaian gombal, ikan asin, dan kaki yang tak pernah dicuci sebelum tidur. Mengatasi itu, Hasanah terbiasa menyiapkan banyak perangkap tikus di setiap sudut-sudut rumah yang biasa dilalui mereka, meletakkan potongan kecil ikan asin sebagai umpannya dan selalu berhasil menjeratnya, meskipun tikus-tikus itu dengan menjengkelkan tak pernah berkurang. Dan muncul si garong, yang awalnya dianggap sebagai pahlawan karena berhasil mengurangi populasi tikus pengerat, tapi di sisi lain, merupakan ancaman bagi rumah-rumah yang tak waspada terhadap makanannya.

Hasanah masih menyimpan perangkap tikus tersebut, tujuh unit, dengan taring masih setajam dulu meskipun telah berkarat. Dibantu Hasanah, tujuh unit perangkap tikus itu diletakkan mengelilingi kandang anak ayam berwarna merah itu, hingga tidak ada lagi celah bagi si garong melewatinya untuk menjangkau kandang ayam itu. Hasanah merasa tidak perlu meletakkan umpan sebab piyik berwarna itu secara tidak langsung sudah menjadi umpannya. Sedikit saja si garong menyentuh perangkap tikus itu maka taring-taringnya yang tajam dengan kuat merobek kaki si garong. Namun seharian ini, Hasanah tidak melihat keberadaan si garong di sekitar rumah mereka. Ia mengatakan kepada anaknya, malam ini tidak ada yang berani mengganggu anak ayammu dan Dani tersenyum lega mendengarnya.

Waktunya untuk pergi tidur sudah tiba, 9.30, dan setelah menggosok gigi dan mencuci kaki, Dani lekas berbaring di kasur lipatnya, menghadap ke arah anak ayamnya. Piyik itu masih bercericip meskipun terlihat mengantuk. Dani menyimak loteng dan ia tidak mendengar sedikit pun derap langkah kaki kucing di atas. Memandangi tujuh unit perangkap yang menganga lebar, dan suara cericip piyiknya yang konstan perlahan, Dani diserang rasa kantuk. Ia segera tertidur dan malam itu berlalu dengan cepat tanpa ia memimpikan burung-burung pipitnya.

Dani terbangun lebih awal dengan mendengar lantunan azan subuh dari masjid terdekat, tanpa ia mendengar cericip anak ayam berbulu merahnya. Ia membuka matanya perlahan dan langsung menatap kandang ayam tersebut. Dani mengusap-ngusap matanya. Tujuh unit perangkap itu utuh tak tersentuh seperti pertama kali diletakkan di sana. Kandang ayam itu pun utuh tanpa bergeser sedikit pun. Tapi anak ayamnya lenyap. Dani tidak menemukan gumpalan bulu berwarna merah mencolok di dalamnya. Dani hendak menangis. Ia ingin menangis mendapati anak ayamnya kembali hilang, tapi ia tidak dapat mengeluarkan air mata. Kehilangan untuk kedua kalinya membuatnya jengkel sehingga ia ingin menangis sekeras-kerasnya. Tapi anak ayamnya yang hilang begitu saja, tanpa jejak apa pun membikin kelenjar matanya tidak bisa memproduksi air mata. Malam bagai pesulap yang licik.

Dani tidak mengatakan apa pun mengenai hilangnya anak ayamnya kepada Hasanah. Ia menganggapnya percuma. Memberitahu hal muskil tersebut kepada ibunya tak membuat anak ayamnya kembali. Sepanjang hari itu ia begitu jengkel dan dendam tak beralasan entah kepada apa. Dani memutuskan akan terus membeli anak ayam dan mencari tahu apakah si garong benar-benar punya cara ninja untuk mencuri anak ayamnya, atau diam-diam selagi ia tidur seorang pesulap muncul tiba-tiba di rumahnya dan memperagakan cara melenyapkan anak ayam tanpa jejak.

Usai sekolah Dani bergegas menuju Albert. Melihat pedagang itu ia tersadar penampakan Albert mirip pesulap yang pernah ia lihat tampil di televisi. Kali itu Dani adalah pembeli terakhir dan ia beruntung masih tersisa seekor anak ayam berbulu kuning. Kau beruntung anak ayamnya masih tersisa satu, kata Albert. Setelah mendapatkan anak ayamnya Dani masih berdiri di sana berhadap-hadapan dengan Albert. Ia berpikir untuk memberitahu, dua kali anak ayamnya hilang tanpa sebab. Seperti biasa, Albert memandangi Dani dari dalam bayangan topi bundarnya. Apa lagi, kata Albert tersenyum. Dani menggeleng. Kembalilah besok. Apakah aku harus membeli anak ayam tiap hari, kata Dani akhirnya. Anak-anak lain melakukannya… Dengan berbagai alasan tentunya… Well, kebanyakan mati di hari pertama mereka memeliharanya. Tenang saja, aku masih punya ribuan anak ayam untuk kau miliki. Anak ayamku hilang tiba-tiba tapi aku tak tahu kenapa, Dani ingin mengatakannya tapi ia simpan saja di kepalanya. Ia berbalik tanpa mengatakan apa pun.

Malam itu Dani bertekat bergadang menjaga anak ayamnya. Hari itu ia tidak merasakan keberadaan si garong, setidaknya itu yang dikatakan Hasanah. Dani semakin curiga ada yang tidak beres dengan hilangnya anak-anak ayamnya tapi ia tidak tahu sebabnya. Dani teringat acara sulap di televisi yang pernah ditontonnya. Pesulap itu memasukkan kelinci ke topi hitam tingginya dan kelinci itu hilang seketika, dan pesulap itu kembali memunculkannya dari dalam topi hitam tinggi yang kosong itu.

Esok hari adalah Minggu sehingga ia tidak perlu khawatir untuk terlambat berangkat sekolah. Dani teringat perkataan Albert untuk kembali menemuinya besok. Apakah Albert tidak tahu bahwa besok adalah Minggu. Dani memandang anak ayamnya yang kuning. Ia memberinya butiran beras, anak ayam itu menghabiskan waktu mematuk-matuknya. Sekarang anak ayam itu tampak terkantuk. Dani tidak ingin terkantuk lalu tertidur dan kembali kehilangan anak ayamnya.

Sebelum Hasanah pergi tidur terlebih dahulu ia mengatakan kepada anaknya bahwa Senin nanti ayahnya akan pulang. Dani tidak terlalu bersemangat mendengarnya. Di mata Dani, Badrudin adalah ayah yang agak pendiam, setidaknya itu yang ia ingat dari sosok ayahnya. Namun suatu kali Hasanah pernah bilang Badrudin tidak sependiam itu sesungguhnya. Ia adalah perayu yang handal, kata ibunya kepada Dani berkelakar, tak peduli apakah anaknya mengerti ucapannya atau tidak. Itulah kenapa ibu tertipu olehnya dan jadilah kamu. Tapi Badrudin sudah bertahun-tahun tidak banyak bicara kepada anaknya selain basa-basi apakah sudah makan, apakah sudah mandi, bagaimana sekolahmu, tidak lebih. Samar-samar Dani mengingat ayahnya pernah bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di pabrik kaleng, tapi Dani tidak yakin apakah ayahnya benar-benar pernah menceritakan kepadanya tentang pabrik kaleng itu. Mungkin karena Dani tidak mengerti yang dibicarakan ayahnya. Kecuali satu kalimat tanya yang ia ingat jelas pernah dilontarkan ayahnya kepadanya: kau mau adik? Dan Dani menjawabnya dengan mau yang panjang dan anggukan yang semangat.

Tapi adik Dani tidak pernah muncul di dalam keluarga itu. Selama sembilan bulan Hasanah mengandung, Dani tidak sabar menunggu kedatangan anggota keluarga baru. Dan di saat-saat itu Badrudin lebih sering pulang ke rumah khawatir istrinya bisa melahirkan kapan pun. Sebulan terakhir masa kehamilan itu mereka memikirkan banyak nama bayi dari Timur Tengah, Eropa ataupun Asia Timur Jauh dan mereka berakhir dengan keputusan untuk memberi nama anak kedua mereka Danu apabila laki-laki, Dina apabila perempuan. Tibalah malam di mana Hasanah merasakan mulas yang tak tertahankan seakan seluruh isi tubuhnya ingin keluar. Badrudin berada di sisi Hasanah. Dani cemas dan tak mengerti keadaan ibunya. Tetaplah di rumah, kata Badrudin kepada anaknya. Malam itu juga Badrudin membawa istrinya ke rumah bersalin 24 jam yang berada di luar kampung tersebut, dan tidak akan pulang hingga keesokan harinya.

Pagi berikutnya Dani terbangun dengan kesiapan menyambut pendatang baru mungil di rumahnya. Ia bertekat akan menjadi abang yang baik bagi adiknya. Setengah tersadar ia berlari menuju kamar orang tuanya. Di sana terdapat Badrudin, sedang duduk bersandar di tepi ranjang, tertunduk. Hasanah berbaring di atas ranjang, berselimut. Perutnya tak lagi membulat tapi Dani tidak mendengar suara tangisan bayi di kamar itu, tidak pula ia menemukan keberadaannya. Hari itu ia mengenal kosa kata baru, memahaminya dengan segenap hati: gugur.

Tiga tahun berlalu semenjak kejadian tersebut. Dan selama tiga tahun itu ibunya selalu hamil. Namun selalu gagal menghadirkan sesosok adik untuk dirinya. Memikirkan itu Dani jadi tidak mengantuk sama sekali. Dengan bertelekan tangan, ia melihat anak ayamnya tertidur hangat di bawah penerangan lampu lima watt. Malam itu Dani menekuri makna kehilangan.

Tik tak tik tak, bunyi jarum jam di dinding yang menjenuhkan tidak berhasil membuatnya terkantuk. Dani menunjukkan wajah garang menantang setiap rasa kantuk yang sewaktu-waktu menyerangnya. Waktu beringsut dan ia pasrah bahwa di Minggu pagi ia tidak akan sempat menonton serial kartun kesayangannya. Meskipun malam beranjak dan subuh pada akhirnya tiba, bayang-bayang benda di dalam kamar itu tetap konstan pada tempatnya, cahaya lampu membikinnya abadi. Anak ayam berbulu kuning itu tertidur, tampak bernapas perlahan, mata terpejamnya bergerak-gerak seolah makhluk mungil itu tidak benar-benar tertidur. Tidur-tidur ayam kata orang-orang, yang terkadang dilakukan Dani pada saat Badrudin pulang dan membikin suara gaduh bersama Hasanah di malam-malam yang dingin. Saat tidur-tidur ayam itu suara gaduh dari kamar orangtuanya membuatnya terkenang dengan permainan yang sekali-sekali dilakukannya dengan Muljoto, dan beberapa anak gadis, dan seorang anak bawang. Kosong kosong isi isi. Aku minta anak. Namanya siapa…

Bukan tanpa alasan Dani selalu semakin terkantuk begitu mendengar lantunan azan subuh dari masjid dekat rumahnya. Muazin itu selalu melantunkan azan dengan suara jernih, dan syahdu dan lembut. Warga kampung yang kurang iman pasti semakin mengubur diri mereka di dalam kasur begitu mendengar suara azan muazin, dan hanya lansia yang menganggapnya panggilan menuju hari esok. Tidak tidur sehari semalam suara muazin yang syahdu itu kali ini memiliki efek bius yang lebih dahsyat dibanding obat tidur. Dani bertarung hebat untuk melawan rasa kantuk yang menggelayutinya semakin berat, berat dan dalam. Dengan mata yang terbuka separuh, dengan ruas-ruas merah menjalari matanya ia berusaha tetap fokus menatap anak ayamnya. Masih di sana. Assolatulkhorumminannaum. Bait itu membikin matanya semakin sulit terbuka. Ia hanya dapat melihat segaris horizon dengan anak ayamnya sebagai pusat. Dan bait kedua: lebih baik salat daripada tidur, akhirnya membuatnya menutup mata sama sekali. Pandangannya gelap dan ia tidak dapat melihat anak ayamnya. Kesadarannya perlahan sirna tapi Dani tidak ingin itu terjadi. Ia berusaha keras. Dani membanting setan kantuk yang menggelayuti matanya dan membuka matanya lebar dengan sontak.

Anak ayam berbulu kuning itu sudah tidak ada di kandangnya. Sepersekian detik ia memejamkan matanya makhluk mungil itu benar-benar lenyap dari jagat kenyataan. Matanya yang telah menipunya atau dunia ini yang mentah-mentah menipunya? Dani ingin segera bertemu Albert memastikan garib pengalamannya itu.

Setelah tertidur selama lima jam, pukul sepuluh pagi Dani meluncur ke sekolahnya. Tentu saja gedung sekolah pada hari itu sama sekali tidak memiliki aktivitas belajar-mengajar, tak pula terdapat pelbagai macam pedagang yang biasa berkumpul di halaman gerbang sekolah. Meskipun hari libur, Dani memegang perkataan Albert dan berharap pedagang aneh itu benar-benar berada di tempatnya semula. Sampai di gerbang sekolah di mana tidak ada keriuhan biasanya, Dani melihat keberadaan Albert seperti melihat hantu yang biasa menghuni gedung sekolah. Albert di sana, di tempatnya biasa, dengan kandang yang kali ini tidak berisi anak-anak ayam berwarna pelangi yang selalu rewel, melainkan telur-telur dengan susunan yang rapih, dan corak warna-warni seperti telur paskah. Dani berjalan menghampiri Albert dan berharap ia sedang bermimpi.

“Kau tidak perlu bercerita apa-apa.” kata Albert, masih dengan logatnya yang terdengar asing, seakan suara itu berasal dari negeri antah-berantah.

“Albert… Apakah kau berada dalam mimpiku? Apakah saat ini aku sedang bermimpi?” kata Dani. Ia masih berharap keganjilan ini adalah mimpi. Anak-anak ayamnya yang hilang, dan telur-telur paskah yang berada di dalam kandang, dan Albert yang datang dari negeri entah.

“Kau boleh menganggapnya demikian,” kata Albert. “Tentu, di dalam mimpi apa pun dapat terjadi, tapi kau tidak dapat menguasai mimpimu. Sekalipun kau seorang diktator.”

“Kalau ini memang betul… Aku ingin terjaga dan melihat anak-anak ayamku berada di kandangnya. Aku ingin merawatnya sampai besar.”

“Tidak perlu,” lanjut Albert. “Cukup bawa telur-telur ini pulang ke rumahmu.”

“Apakah telur-telur itu akan menetaskan anak-anak ayam lainnya?”

“Semacam itu. Tapi aku tidak memberimu dengan cuma-cuma. Kau tetap harus membayarnya seharga anak ayam yang biasa kau beli.”

Dani mengangguk.

“Setiap hari, selama seminggu ke depan. Kau harus mendatangiku untuk membeli sebutir telur, dengan warna berbeda. Kau harus ingat telah membeli warna apa sehingga esok, tidak membeli warna yang salah. Setelah itu dengarkan… Kau letakkan telur-telur itu di bawah tempat tidur orangtuamu.”

“Apakah telur-telur itu akan menetas di bawah kasur ibuku?”

“Semacam itu.”

“Apakah aku perlu melakukannya?”

“Kau tidak usah banyak tanya. Lakukan saja.”

“Lagipula… Siapa kau sesungguhnya Albert. Dari mana asalmu? Kau pedagang yang aneh.”

“Sebaiknya kau pulang dan tidurlah. Aku tahu kau bergadang semalaman dan kurang tidur.”

“Tapi… Bukankah ini mimpi. Kenapa aku harus tidur di dalam mimpiku?”

Albert menggaruk-garuk topi bundarnya, “Yaa… Di mimpimu ini, kau harus tidur kalau ingin terjaga. Sekarang pulanglah dan mimpikan burung-burung pipitmu.”

Dani tidak memusingkan darimana Albert tahu bahwa ia sering memimpikan burung-burung pipitnya. Ia berjalan pulang dan berharap bisa terbang ke rumahnya sebab ia masih mengira ini pasti mimpi. Bersusah payah Dani membayangkan terbang seperti burung-burung pipitnya terbang, Dani tidak juga bisa melayang. Dani harus berjalan melewati jalan yang biasa ia lalui. Mimpi yang aneh, pikir Dani. Bahkan aku tidak dapat terbang di dalam mimpiku sendiri.

Sebagaimana perintah Albert, lelah berjalan, sesampainya di rumah, Dani menyeret tubuhnya menuju kasur lipatnya, ia sudah tak tahan dan ingin segera tidur, atau ingin terjaga dari mimpinya. Ia menghempaskan tubuhnya segera setelah melihat kasur lipatnya. Dan rasa kantuk yang dahsyat menyeret kesadarannya ke dalam kegelapan. Sepanjang siang, Dani memimpikan burung-burung pipitnya, tidak lagi berada di atas atap. Mereka berada di dalam rumah dan burung-burung pipit itu dengan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu bertengger di setiap sudut rumahnya, di atas televisi, di atas kursi, di atas lemari, di atas batangan ranjang, di mana-mana, bercericip tiada henti.

Senin, sepulang sekolah Dani mendapati ayahnya, Badrudin sudah berada di rumah, menyalami tanganya yang jari-jarinya berukuran besar. Dani merasakan betapa tebal dan kasar kulit telapak tangan ayahnya. Menggenggam Djarum di tangan sebelah kirinya, Badrudin menepuk-nepuk rambut anaknya. Kau sudah bertambah tinggi sedikit, kata Badrudin tersenyum. Hari itu Dani melihat Hasanah tampak lebih ceria dibanding hari-hari di mana Badrudin tidak berada di rumah. Tak ada pelanggan yang sedang memesan gado-gadonya, tapi Hasanah bersenandung riang. Sepanjang hari hingga malam tiba, Dani akan terheran-heran melihat polah Hasanah, bahkan Dani menghirup wangi mawar liar mengikuti kemana pun Hasanah berjalan.

Kepada Badrudin, Dani berusaha bercerita mengenai tiga ekor anak ayamnya yang hilang belakangan, dengan agak rinci, dan keganjilan-keganjilan yang ditemuinya. Dengan kejengkelan khas kanak-kanak, ia menuduh si garong sebagai terduga utama, tapi sampai saat ini belum juga berhasil menemukannya di sekitar. Dani juga bercerita mengenai Albert, pedagang anak ayam gaul eksentrik di sekolahannya. Badrudin mendengarkan anaknya bercerita dan sekali-kali di antara diam Dani memikirkan kalimat yang tepat untuk menyampaikan, ia menjawab oh ya, benarkah, wah, dengan tersenyum. Sesungguhnya di waktu-waktu lampau ayahnya pulang ke rumah, Dani tidak pernah memiliki hasrat bercerita seperti ini. Tapi kali ini ia merasa ingin bercerita kepada ayahnya. Tentu ia tidak ingin menceritakan bagian telur berwarna yang harus ia beli dari Albert, ia juga tidak menceritakan bahwa, diam-diam telur berwarna merah itu telah diletakkan di bawah ranjang Hasanah. Dani juga tidak menceritakan bahwa telur itu begitu ringan seakan tidak ada isi di balik cangkangnya selain hampa.

Setelah Dani menceritakan kisahnya, untuk membunuh rasa sunyi yang ganjil di antara ayah dan anak itu, Badrudin juga ingin menceritakan seberkas kehidupannya di pabrik kaleng. Ia merasa tak perlu menganggap serius kisah anaknya. Badrudin bercerita ia memiliki seorang kepala pengawas bertubuh buncit dan berkepala pelontos dengan tampang India Tamil. Pak Badar namanya. Badrudin telah mengenal baik Pak Badar semenjak tujuh tahun lalu. Di sela-sela istirahat kerja, Pak Badar bercerita kepada Badrudin mengenai dirinya, dan keluarganya. Pak Badar memiliki seorang istri pribumi yang berasal dari daerah perbukitan yang sejuk. Ia memiliki tiga anak yang masing-masing berjarak dua tahun. Anak pertamanya, laki-laki, sangat mirip dengannya, dengan ciri India Tamil yang melekat kental. Tapi anak keduanya, tidak mirip dengan kakaknya sama sekali, tidak pula dengan ibunya, hidungnya besar, rambutnya keriting, kulitnya kasar. Anak ketiganya semakin tidak memiliki ciri-ciri kakak-kakaknya, matanya sipit, hidungnya mancung mungil, kulitnya seputih susu. Kepada Badrudin, Pak Badar bercerita, betapa heran ia mendapati perbedaan ketiga anak-anaknya itu, meskipun toh kakak beradik tak mesti kembar identik. Tapi Pak Badar bertanya-tanya kenapa anak kedua dan ketiganya sama sekali tak mirip dirinya, atau istrinya. Kepada Dani, Badrudin bercerita, Pak Badar sudah ratusan kali menceritakan perbedaan ciri ketiga anaknya tersebut, dan saat ini istrinya sedang hamil tua, dan Pak Badar sedang menunggu-nunggu apakah anak keempatnya akan mirip dirinya atau istrinya, atau seperti anak kedua dan ketiganya, sama sekali berbeda. Ceritanya ia hentikan sampai di situ. Badrudin tidak memberitahu Dani bahwa apabila anak Pak Badar betul-betul sama sekali berbeda, ia akan menganggap ada yang tidak beres dengan bininya dan akan mencari tahu kebenarannya.

“Apakah nanti… Kalau aku punya adik… Juga tidak mirip denganku?” tanya Dani sekonyong.

“Pasti dia akan mirip kau. Karena wajahmu adalah perpaduan wajah ayah dan ibu,” jawab Badrudin bangga dengan ketampanan anaknya, yang tentu saja diwarisi oleh perpaduan wajah Hasanah dan dirinya.

Malam itu Dani tidur-tidur ayam. Kamar tempat Hasanah dan Badrudin berada membikin suara gaduh. Ia mendengar derit rintih ranjang, dan sekali-sekali lenguhan panjang yang tak serupa dengan suara ibunya di siang hari. Dani memikirkan telur berwarna merah di bawah ranjang itu. Dani masih terheran-heran dengan isinya yang kosong. Selama sepekan Badrudin berada di rumah, setiap malam, Dani akan mengalami peristiwa yang sama. Dani juga meletakkan telur-telur dengan warna lainnya setiap harinya, yang dibelinya dari Albert. Setelah tujuh warna sudah lengkap, kau kubur telur-telur itu di halaman belakang rumahmu, kata Albert di hari terakhir ia berada di sekolah. Setelah itu Albert tidak lagi berjualan, dan Dani tidak akan pernah menemuinya lagi. Terkadang Dani merindukan keganjilan keberadaan Albert. Tapi tidak lagi semenjak, setelah sembilan bulan Dani mengubur telur-telurnya, Hasanah, pada akhirnya, melahirkan anak keduanya. Bayi mungil merah itu begitu mirip abangnya, namun dalam bentuk feminim. Bayi itu secantik Hasanah.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar