Minggu, 23 Agustus 2020

Serangan Kedua ke Toko Roti oleh Haruki Murakami








Aku masih tidak begitu yakin apakah sudah membuat pilihan tepat dengan memberitahu istriku tentang serangan ke toko roti. Namun kemudian, itu tidak lagi menjadi pertanyaan benar atau salah. Dengan kata lain bisa saja pilihan salah bisa menghasilkan sesuatu yang baik, dan begitu juga sebaliknya. Aku sendiri meyakini bahwa faktanya kita tidak pernah memilih apa pun. Segalanya terjadi, atau tidak sama sekali.

Jika kau melihatnya seperti itu, begitu saja aku memberitahu istriku tentang serangan ke toko roti itu. Sesungguhnya aku tidak pernah merencanakan untuk menceritakannya—kenyataannya aku sama sekali lupa akan peristiwa tersebut—tetapi tentu saja itu bukanlah sesuatu yang akhirnya akan kau ceritakan.

Apa yang membuatku teringat pada serangan ke toko roti adalah rasa lapar yang tak tertahankan. Yang menyerang kami sebelum pukul dua dini hari. Sebelumnya kami telah makan ringan pukul enam sore, dan setelahnya merangkak ke ranjang pukul 9.30, lalu tidur. Untuk beberapa alasan kami terbangun hampir bersamaan. Beberapa menit kemudian, rasa pedih dengan kekuatan tornado dalam cerita Wizard of Oz menyerang kami. Sebuah rasa pedih kelaparan yang amat kuat.

Kulkas kami secara teknis berisi tak satu pun yang bisa dikategorikan sebagai makanan. Kami memiliki sebotol saus Prancis, enam kaleng bir, dua siung bawang merah yang telah mengerut, sebatang mentega dan pengharum kulkas. Hanya dengan dua minggu kehidupan pernikahan kami, kami belum lagi terbiasa dengan pemahaman pernikahan yang tepat terhadap aturan-aturan kebiasaan diet. Membiarkan segalanya begitu saja.

Waktu itu aku memiliki pekerjaan pada sebuah kantor advokat, dan ia (istriku) bekerja sebagai sekretaris di sebuah sekolah desain. Umurku sekitar 28 atau 29—kenapa aku tak begitu ingat tahun tepatnya kami menikah?—dan dia dua tahun delapan bulan lebih muda. Sehingga bahan makanan menjadi hal terakhir ada dalam benak kami.

Kami berdua merasa begitu lapar untuk kembali tidur, tetapi hanya berbaring seperti ini begitu membuat kami menderita. Di pihak lain, kami juga terlalu lapar untuk melakukan apa pun yang bermanfaat. Kenapa rasa lapar ini begitu membuat kami menderita?

Kami mencoba membuka kulkas dan berharap, dan berapa kali pun kami melihat ke dalam, isinya takkan pernah berubah. Bir dan bawang dan mentega dan saus dan pengharum. Bisa saja kami menumis bawang tersebut dengan mentega, tetapi dua siung bawang yang telah keriput itu mustahil membuat perut kami kenyang. Bawang tentu saja dimaksudkan dimakan dengan bahan makanan lain. Mereka bukanlah jenis makanan yang kau gunakan untuk memuaskan rasa laparmu.

“Apakah Nyonya mau saus Prancis yang ditumis dengan pengharum kulkas?”

Aku berharap ia mengacuhkan usahaku untuk melucu, dan tentu saja ia melakukannya. “Kita naik mobil yuk dan cari resto 24 jam,” kataku. “Di dekat jalan raya kayaknya ada deh.”

Ia menolak saranku. “Enggak bisa. Enggak mungkin kita pergi makan keluar tengah malam kayak gini.” Ia memang agak kolot seperti itu.

Aku menarik napas dan menghembuskannya lalu berkata, “enggak juga.”

Kapan pun istriku mengekspresikan pikirannya yang seperti itu, waktu itu, sesuatu menggema di dalam telingaku, seperti menerima sebuah pencerahan. Bisa saja itu sering terjadi pada pasangan baru menikah, aku tak tahu. Tapi ketika ia mengetakannya seperti itu, aku mulai berpikir bahwa rasa lapar ini begitu berbeda, bukan rasa lapar yang bisa dipuaskan dengan sekadar kebijaksanaan dengan pergi makan keluar di restoran 24 jam.

Sebuah rasa lapar yang tidak biasa. Dan apakah maksudnya?

Aku bisa menjelaskannya di sini dalam bentuk adegan film.

Satu, Aku sedang berada di dalam sebuah kapal berukuran kecil, mengambang di atas laut yang sepi. Dua, Aku melihat ke bawah laut dan di dalam air aku melihat puncak dari sebuah gunung berapi keluar menjulang dari lantai samudera. Tiga, puncak gunung berapi itu terlihat begitu dekat dengan permukaan laut, tapi seberapa dekat aku tak dapat memastikannya. Empat, hal tersebut disebabkan saking transparannya air laut hingga mengaburkan persepsi jarakku dari gunung berapi tersebut.

Gambaran tersebut bisa dikatakan cukup akurat, yang timbul dalam pikiranku untuk dua tiga detik, pada saat istriku menolak untuk pergi keluar mencari restoran 24 jam. Tidak hendak berusaha menjadi seperti Sigmund Freud, aku, tentu saja, tidak bisa menganalisis dengan presisi apa pun maksud dari gambaran tersebut. Namun secara intuisi aku tahu bahwa gambaran tersebut merupakan pencerahan. Yang kenapa—pada tingkat intensitas rasa laparku yang paling ganjil—aku begitu saja menyetujui pendapatnya (atau pernyataannya).

Kami melakukan satu-satunya yang dapat kami lakukan: membuka kaleng bir. Itu jauh lebih baik dari sekadar memakan bawang keriput tersebut. Ia tak begitu menyukai minum bir, sehingga kita membagi kalengnya, dua untuknya, empat untukku. Selagi aku menenggak kaleng pertama, ia mengobrak-abrik rak-rak di dapur seperti tupai pada bulan November. Akhirnya ia menemukan sebuah bungkus yang berisi empat buah kukis mentega sisa, yang terlupakan, lembut dan sedikit basah, tapi masing-masing kita memakannya dua buah, menikmati setiap remahnya.

Percuma. Seperti Sinai Peninsula yang luas dan tak berbatas, kukis mentega dan bir tersebut tidak menyisakan apa pun yang dapat meredakan rasa lapar kami.

Waktu mengalir perlahan seperti melalui lorong gelap usus ikan. Aku membaca tulisan yang tertera di permukaan kaleng aluminium bir. Aku memandang jam. Aku memerhatikan pintu kulkas. Aku membalikkan halaman koran kemarin. Aku menggunakan ujung kartu pos untuk mengais-ngais remah-remah yang berceceran di atas meja.

“Tak pernah aku selapar ini sepanjang hidupku,” katanya. “Apakah ini ada hubungannya dengan pernikahan.”

“Mungkin iya,” kataku. “Mungkin tidak.”

Selagi ia memikirkan makanan, aku bersandar di ujung kapalku dan melihat ke bawah ke puncak gunung berapi yang ada di bawah laut. Kejernihan dari air samudra yang terbentang di sekitar kapal memberiku perasaan gamang, sebagaimana jika sebuah rongga terbuka di suatu tempat di belakang kekusutan pusatku—yang kalau diterjemahkan menjadi sebuah gua terisolasi yang tak memiliki jalan masuk ataupun jalan keluar. Sesuatu hal tentang ketidakhadiran yang aneh ini—rasa dari realitas eksistensial dari yang tidak memiliki eksistensi. Menyerupai rasa takut yang melumpuhkan seperti ketika kau memanjat hingga puncak tertinggi menara gereja. Rasa lapar yang berkelindan dengan rasa takut terhadap ketinggian, merupakan hal yang baru bagiku.

Yang pada saat hal tersebut terjadi padaku, aku seperti pernah merasakan pengalaman yang sama. Perutku terasa begitu kosong dan lalu... ketika.... Oh aku teringat...

“Saat-saat aku menyerang sebuah toko roti,” aku mendengar diriku sendiri berkata demikian.

“Serangan ke toko roti? Maksudnya?”

Dan begitulah cerita itu dimulai.

“Aku pernah menggasak sebuah toko roti. Sudah lama sekali. Bukan toko roti yang besar. Tidak juga terkenal. Rasa rotinya juga biasa aja. Sebuah toko roti kecil rumahan yang terletak di ujung blok dari sebuah pertokoan. Seorang tua menjalankannya sendirian. Yang membikinnya pada pagi hari dan setelah semuanya terjual habis, ia tutup pada hari itu juga.”

“Kalau mau ngegasak toko kue, kenapa yang kayak gitu?”

“Hmm, enggak mungkinlah ngegasak toko kue gede. Karena kita cuma mau roti, bukan uang. Kami bukan perampok.”

“Kami? Siapa kami?”

“Waktu itu teman akrab. Sepuluh tahun lalu. Kita begitu gembel sehingga pasta gigi aja enggak bisa dibeli. Enggak juga punya makanan yang cukup. Kita melakukan berbagai hal yang tidak pantas hanya untuk mendapatkan makanan. Salah satunya menggasak toko roti.”

“Aku enggak paham.” Ia memicingkan matanya ke arahku. Matanya seperti sedang mencari bintang redup pada langit pagi. “Kenapa enggak kerja aja? Sehabis lulus sekolah biasanya bisa kerja, kan. Lebih mudah dibanding ngegasak sebuah toko roti.”

“Waktu itu kita enggak mau kerja.”

“Ya, tapi sekarang udah kerja kan?”

Aku mengangguk dan menenggak bir. Lalu aku menggosok pelipis mataku. Sebuah lumpur seperti bir telah mengalir perlahan di otakku dan bergelut dengan kelaparanku yang memedihkan.

“Waku berjalan. Orang-orang berubah,” kataku. “Balik ke kasur yuk. Kita harus bangun pagi nanti.”

“Aku enggak ngantuk. Aku pengen kamu menceritakanku tentang penggasakan toko roti itu.”

“Enggak ada yang perlu diceritakan. Enggak ada apa pun yang menarik.”

“Berhasil enggak?”

Aku mengurungkan niatku untuk kembali tidur dan membuka kaleng bir yang lain.  Sekali ia tertarik pada sebuah cerita ia harus mendengarkan semua kisahnya. Begitulah dirinya.

“Hmmm, bisa dikatakan berhasil. Bisa juga tidak. Kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi itu tidak bisa disebut sebuah perampokan. Tukang roti itu memberi kita rotinya sebelum kita ambil sendiri darinya.”

“Gratis?”

“Enggak juga. Itu yang sulit dijelaskan.” Aku menggelengkan kepala. “Pemilik toko kue itu penggila musik klasik, dan ketika kita sampai di sana, dia sedang mendengar sebuah album Wagner. Sehingga dia membuat sebuah kesepakatan dengan kami. Kalau kita bisa mendengarkan seluruh rekamanannya sampai habis, kita bisa membawa roti manapun yang diinginkan. Sesaat aku mendiskusikannya dengan sahabatku dan, oke. Tak ada yang terluka dengan kami melakukannya. Jadi kita menaruh pisau yang kita bawa ke dalam tas, menarik sepasang kursi, dan mendengarkan Tannhauser dan The Flying Dutchman yang sedang mengalun.”

“Dan setelah itu, kamu mendapatkan rotinya?”

“Tentu. Kebanyakan yang ada di toko. Kita taro di tas untuk dibawa pulang. Menghidupi kita untuk sekitar empat atau lima hari.” Kembali kucecap birku. Seperti ombak tak bersuara dari gempa bawah laut, kantukku menghempas kapalku perlahan.

“Tentu saja kita berhasil menyelesaikan misi. Kita mendapatkan rotinya. Tapi tidak bisa dibilang kita telah berbuat kriminimal. Itu lebih seperti sebuah pertukaran. Kami mendengar Wagner bersamanya, dan sebagai gantinya, kita mendapatkan roti. Bisa dikatakan, itu lebih seperti transaksi komersial.”

“Tapi mendengarkan Wagner bukan sebuah pekerjaan,” katanya.

“Oh bukan, sama sekali bukan. Kalau pemilik toko itu memaksa kita untuk mencuci piring atau membersihkan jendela, kita akan menyerangnya. Tapi dia tidak melakukannya. Semua yang dia pengen dari kita hanya mendengar rekaman musik Wagner. Itu seperti pemilik toko itu sedang mengutuk kami. Sekarang ketika aku memikirkannya, seharusnya waktu itu kami langsung aja mengancamnya dengan pisau dan menggasak rotinya. Maka takkan ada masalah setelah itu.”

“Apakah kamu bermasalah?”

Aku menggosok mataku kembali.

“Ya seperti itulah. Kamu tak bisa melakukan apa pun. Tapi beberapa hal mulai berubah setelah itu. Semacam titik balik. Seperti, aku kembali kuliah, dan lulus, dan aku mulai kerja di kantor advokat dan mengambil ujian bar, dan aku bertemu denganmu dan kita menikah. Aku tak pernah melakukan hal seperti itu lagi. Takkan ada lagi penggasakan toko roti.”

“Itu doang?”

“Yup, itu aja kok.” Aku meminum bir terakhirku. Sekarang semuanya, enam kaleng bir telah habis. Enam pembuka kaleng berserakan di asbak seperti tulang belulang ikan duyung.

Tentu saja tidak benar bahwa tak ada yang terjadi akibat dari serangan terhadap toko kue tersebut. Ada banyak hal yang berubah tapi aku tak ingin membicarakannya dengan istriku.

“Jadi, teman kamu ini, apa kabarnya sekarang?”

“Enggak tahu. Sesuatu terjadi, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, dan kita berhenti buat nongkrong bareng. Setelah itu aku tak lagi pernah menemuinya. Aku tak tahu kabarnya sekarang.”

Untuk sementara waktu ia tak mengatakan apa pun. Mungkin saja ia sedang merasakan aku tak menceritakan seluruh kisahnya. Tapi ia belum siap untuk menekanku menceritakannya.

“Tetap saja,” katanya,” itu alasan kalian enggak ketemu lagi kan? Penggasakan toko roti itu jadi alasan langsung.”

“Bisa jadi. Mungkin kejadian itu lebih intens dari yang kita berdua sadari. Kita berbincang tentang hubungan Wagner dengan roti tersebut berhari-hari setelahnya. Kita terus menanyai diri apakah telah melakukan tindakan yang benar. Tak ada yang terluka. Semua orang mendapatkan yang diinginkannya. Tukang roti itu—aku sampai saat ini tak bisa memahami kenapa dia melakukan apa yang dia lakukan—tapi ngomong-ngomong, dia berhasil dengan propaganda Wagnernya. Dan kami berhasil memenuhi mulut kami dengan roti.

“Meskipun demikian, kami merasakan telah berbuat kesalahan berat. Dan entah kenapa, kesalahan itu begitu saja berada di sana, tak terselesaikan, membikin bayangan gelap di hidup kami. Itulah kenapa aku menggunakan kata ‘kutukan’. Memang benar. Itu seperti sebuah kutukan.”

“Apakah kamu pikir kamu masih dikutuk?”

Aku memungut enam pembuka kaleng dari asbak dan menyusunnya menjadi sebuah gelang aluminium.

“Siapa yang tahu? Aku tak tahu. Aku berharap dunia ini penuh kutukan. Sulit mengatakan kutukan yang mana membuat sesuatu menjadi buruk.”

“Itu tidak benar.” Ia menatapku. “Kamu berpikir, ketika kamu memikirkannya. Dan kalau bukan kamu, dirimu sendiri, memutus kutukannya, dia akan menempel denganmu seperti sakit gigi. Dan akan menyiksamu hingga kamu mati. Dan tidak hanya kau. Aku juga.”

“Kamu juga?”

“Hmm, bukankah aku sekarang sahabat terbaikmu? Coba pikir kenapa kita menjadi begitu lapar? Aku tidak pernah sekalipun merasakan rasa lapar seperti ini semenjak aku menikahimu. Bukankah menurutmu ini abnormal? Kutukanmu mempengaruhi diriku juga.”

Aku mengangguk. Lalu aku memutus gelang pembuka kaleng itu dan mencampakkannya kembali kedalam asbak. Aku tidak tahu apakah yang dikatakannya benar, tapi aku merasakan dia sedang merencanakan sesuatu.

Perasaan lapar ini kembali menyerang kami, lebih kuat dari sebelumnya, dan membikinku sakit kepala. Setiap keroncong perutku seperti mengalir ke pusat kepalaku melalui sebuah kabel, sebagaiamana kalau dalam tubuhku dipasangi mesin yang rumit.

Aku kembali melongok ke gunung berapiku. Airnya bahkan lebih jernih dari sebelumnya—jauh lebih jernih. Kalau tidak melihatnya secara dekat, kau mungkin tak akan menyadari bahwa gunung itu ada di sana. Rasanya seperti, kapal ini sedang mengambang di atas udara, dengan tak satu pun penyangga. Aku dapat melihat setiap kerikil di dasar. Semua yang harus aku lakukan hanyalah menjangkau dan menyentuhnya.

“Kita baru saja tinggal bersama selama dua minggu,” katanya,” tapi selama ini aku terus merasakan sebuah kehadiran yang ganjil.” Ia memandangku tepat di mata dan meletakkan lengannya di atas meja, jari-jarinya menggempal. “Tentu, hingga saat ini aku tak menyadarinya sebagai sebuah kutukan. Segalanya telah jelas, kau dalam kutukan.”

“Keberadaan macam apa?”

“Seperti ada yang berat, permukaan berdebu yang sudah tak dicuci bertahun-tahun, menggantung di langit-langit.”

“Bisa jadi itu bukan kutukan. Itu hanya... Aku,” kataku tersenyum.

Ia tak tersenyum.

“Tidak. Bukan dirimu,” katanya.

“Oke, aku harap kau benar. Berharap itu memang kutukan. Apa yang bisa kita lakukan?”

“Gasak toko roti lain. Sesegera mungkin. Sekarang. Itu satu-satunya jalan.”

“Sekarang?”

“Ya, sekarang. Selagi kau lapar. Kau harus menuntaskan apa yang kau tinggalkan tak selesai.”

“Tapi ini tengah malam. Apakah ada yang buka?”

“Akan kita cari. Tokyo kota besar. Setidaknya ada satu toko roti yang buka 24 jam.”

***
Kita naik ke dalam Corolla tuaku dan mulai meluncur di jalan-jalan Tokyo pada pukul 2:30 malam, mencari toko roti. Di sanalah kita, aku membanting stir, ia duduk di bangku navigasi, kita berdua memindai jalanan seperti elang kelaparan sedang mencari mangsa. Terbaring di bangku belakang, panjang dan kaku seperti bangkai ikan, adalah shotgun otomatis Remington. Pelurunya bergemeretak di dalam saku rompi windbreaker istriku. Kita memiliki dua topeng ski di dalam kompartemen. Kenapa istriku memiliki shotgun, aku tak tahu. Atau topeng ski. Padahal tak satu pun dari kami pernah bermain ski. Tapi ia tak menjelaskan dan aku tak pula menanyakan. Kurasakan pernikahan memang aneh.

Tanpa cela tersenjatai, kami masih juga tak menemukan toko roti yang buka sepanjang malam. Aku mengemudi di sepanjang jalan lengang, dari Yoyogi ke Shinjuku, berbelok ke Yotsuya dan Akasaka, Aoyama, Hiroo, Roppongi, Daikayama, dan Shibuya. Tengah malam Tokyo memiliki segala macam orang dan toko tapi tidak toko roti.

Dua kali kami berpapasan dengan mobil patroli. Satu sedang berjaga-jaga di pinggir jalan, mencoba untuk menyimak apabila terdapat yang mencurigakan. Yang lainnya perlahan melewati kami dan berpapasan, yang pada akhirnya bergerak menjauh. Dua-duanya membuat diriku berkeringat, namun konsentrasi istriku tak pernah kendur. Ia mencari toko rotinya. Setiap kali ia mencoba untuk menggeser tubuhnya, peluru-peluru shotgun dalam sakunya gemeretak seperti gemerisik kapas di dalam bantal model lama.

“Lupakanlah,” kataku. “Tak mungkin ada toko kue yang masih buka pada jam segini. Kamu harus merencakan sesuatu hal seperti ini—“

“Hentikan mobilnya!”

Aku menginjak rem tiba-tiba.

“Inilah tempatnya,” katanya.

Toko-toko di sepanjang jalan tampak telah menutup daun pintunya, di sisinya tembok-tembok yang sunyi. Plang penanda pangkas rambut menggantung di tengah gelap seperti kacamata yang dingin dan terpelintir. Dua ratus meter dari situ terdapat plang penanda restoran cepat saji Mc Donald’s berbentuk hamburger, tapi tak ada lagi yang lain.

“Aku tak melihat ada toko roti,” kataku.

Tanpa berkata, ia membuka kompartemen dan mengambil sebuah gulungan baju. Menggenggamnya ia melangkah keluar mobil. Aku juga keluar mobil. Bertekuk di depan bemper, ia merobek kainnya dan menutup plat nomor mobil kami. Lalu ia melakukan hal yang sama di bemper belakang. Gerakannya begitu praktis dan efisien. Aku berdiri bersandar menyimaknya.

“Kita akan menggasak Mc Donald’s itu,” katanya, sedingin seperti ia sedang memberitahu menu makan malam.

“Mc Donald’s bukan roti,” aku menunjuk tempat itu kepadanya.

“Itu seperti toko roti,” katanya. “Terkadang kau harus kompromi. Ayolah.”

Aku mengendarai mobil ke arah Mc Donald’s dan memarkirnya di parkiran. Ia menyerahiku shotgun yang dibalut selimut.

“Aku tak akan pernah menembakkan pistol ini seumur hidupku,” aku memprotes.

“Kau tak perlu menembakkannya. Hanya dipegang. Oke? Lakukan seperti apa yang kukatakan. Kita akan ke dalam, dan segera setelah mereka mengatakan ‘Selamat datang di Mc Donald’ kita pakai topeng kita. Mengerti?”

“Mengerti, tapi—“

“Lalu kau arahkan shotgun itu ke wajah mereka dan buat mereka berkumpul. Ligat. Aku akan lakukan sisanya.”

“Tapi—“

“Berapa banyak hamburger yang kita butuhkan, tigapuluh?”

“Sepertinya.” Dengan melengos, aku mengambil shotgun darinya dan mengebatnya sedikit. Benda ini seberat samsak dan sehitam gelap malam.

“Apakah kita benar-benar harus melakukan ini?” Aku bertanya, separuh kepada diriku sendiri, separuh kepadanya.

“Tentu saja harus.”

Mengenakan topi Mc Donald’s, seorang gadis di belakang konter memberiku senyuman Mc Donald’s-nya dan mengatakan, “Selamat datang di Mc Donald’s.” Tak pernah terpikirkan olehku gadis sepertinya akan bekerja di Mc Donald’s selarut ini, sehingga kemunculannya membuatku sedikit pening beberapa saat. Namun hanya beberapa saat. Aku mendapati diriku kembali dan mengenakan topeng. Dihadapkan dengan duo bertopeng yang tiba-tiba ini, gadis itu tersentak.

Biasanya, manual pelayanan Mc Donald’s tidak menyediakan panduan apa pun mengenai situasi seperti sekarang ini. Gadis itu seperti hendak membentuk frasa setelah “Selamat datang di Mc Donald’s” tetapi mulutnya kelu dan kata-kata tidak keluar. Bahkan, seperti temaram bulan di langit subuh, isyarat senyuman profesional menggantung di ujung bibirnya.

Secepat yang aku bisa, aku membuka bungkusan shotgun dan mengarahkannya ke meja-meja, tetapi satu-satunya pelanggan hanya sepasang pemuda—mahasiswa, mungkin—yang wajahnya tertelungkup di meja plastik, tertidur. Kepala keduanya dan dua botol strawberry-milk-shake berbaris di meja tersebut terlihat seperti ukiran avant-garde. Mereka tertidur seperti tidurnya orang mati. Mereka sama sekali tak terganggu oleh operasi kami, sehingga aku mengarahkan shotgunku kembali ke konter.

Semuanya terdapat tiga petugas Mc Donald’s. Gadis yang berdiri di depan konter, manajer—seorang pria dengan wajah pucat serupa telur, mungkin berumur akhir dua puluhan—dan seorang lagi yang tampak seperti pelajar, berada di dapur—seseorang dengan rangka tubuh kurus dengan tak ada satu pun di wajahnya yang bisa dibaca sebagai ekspresi. Mereka berdiri berkumpul di belakang meja kasir, menatap ngeri ke arah moncong senapanku seperti turis yang mengintip ke bawah tembok Incan. Tak ada yang berteriak, tak ada yang membuat gerakan yang mengancam. Senjata ini begitu berat sehingga aku harus menaruh barrelnya di atas mesin kasir, jariku berada di pelatuknya.

“Aku akan memberimu uangnya,” kata si manajer, suaranya terdengar parau. “Mereka telah mengumpulkannya jam tujuh tadi, sehingga kami tidak punya terlalu banyak, tapi ambillah semuanya. Kami jamin.”

“Turunkan teralisnya dan matikan lampu plangnya,” kata istriku.

“Tunggu sebentar,” kata si manajer. “Saya tak bisa melakukannya. Saya harus bertanggungjawab kalau saya menutup tanpa izin.”

Istriku mengulangi permintaannya, dengan perlahan. Si manajer tampak tersontak.

“Sebaiknya kau menuruti apa yang dikatakannya,” aku memperingatinya.

Ia, si manajer, menatap moncong shotgun yang berada di atas register, lalu menatap istriku, dan kembali menatap shotgun. Akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada yang tak terhindarkan. Si manajer mematikan lampu plang penanda dan memencet tombol elektrik yang menurunkan daun penutup toko. Mataku tetap awas kepadanya, khawatir ia akan mengetuk alarm pencuri, tapi biasanya Mc Donald’s tak memiliki alarm pencuri. Bisa jadi sebab tak pernah ada yang mencoba merampoknya.

Daun penutupnya membikin suara gaduh pada saat tertutup, seperti ember kosong yang dihantam oleh pemukul baseball, namun sepasang pelanggan yang tertidur itu sama sekali tak terganggu. Berbicara tentang tidur lelap: aku hampir tak pernah menemukan hal seperti itu beberapa tahun belakangan.

“Tigapuluh Big Macs. Untuk dibawa pulang,” kata istriku.

“Bagaimana kalau uang saja,” mohon si manajer. “Aku akan memberimu lebih dari yang dibutuhkan. Kalian bisa membeli makanan di tempat lain. Ini akan menghancurkan penghitunganku dan—“

“Sebaiknya lakukan apa yang dia katakan,” kataku mengulang.

Mereka bertiga pergi ke area dapur dan mulai membuat tiga puluh Big Macs. Si pelajar memanggang burgernya, si manajer meletakkanya ke dalam roti, dan si gadis membungkusnya. Tak sepatah kata pun keluar dari mereka.

Aku bersandar ke kulkas besar, mengarahkan tembakan ke wajan. Pastel daging itu berjejer di atas wajan seperti polka dots berwarna coklat, mendesis. Aroma manis dari daging panggang menyelusup ke dalam setiap pori-poriku seperti sebuah serangan serangga berukuran mikro, mengendap dalam darahku, dan mengalir hingga ke pojok terjauh, lalu menabrak ke dalam goa laparku yang secara hermetis terselubung, menempel di dinding-dindingnya yang berwarna merah jambu.

Setumpuk burger terbungkus kertas putih mendekat ke arah kami. Ingin sekali kuraih dan mencebur ke dalamnya, namun aku tak yakin perbuatan semacam itu tak akan sesuai dengan tujuan kami. Aku harus menunggu. Di dalam area dapur yang panas, kulit di balik masker skiku mulai berkeringat.

Orang-orang Mc Donald’s itu mencuri pandang ke arah shotgunku. Aku menggaruk telinga dengan kelingking tangan kiriku. Telingaku selalu menjadi gatal saat cemas. Menusukkan jariku ke dalam telinga, membikin bedil di genggamanku bergoyang ke atas dan ke bawah, yang sepertinya mengganggu mereka. Tak mungkin senjata itu menembak tiba-tiba sebab aku menyalakan tombol pengamannya, tapi mereka tak mengetahuinya dan aku pun tak hendak memberitahu mereka.

Istriku menghitung hamburger yang telah selesai dan memasukkannya ke dalam tas belanja, semuanya terdapat lima belas.

“Kenapa kau melakukan ini semua?” tanya si gadis. “Kenapa kau tidak ambil saja uangnya dan beli sesuatu yang kau inginkan? Apa bagusnya memakan tiga puluh Big Macs?”

Aku menggelengkan kepala.

Istriku menjelaskan, “maafkan kami, sungguh. Tapi tak ada satu pun toko roti yang buka. Kalau ada satu saja yang buka kita bisa jadi sudah menggasak toko tersebut.”

Penjelasan itu membuat mereka puas. Setidaknya mereka tak lagi menanyakan pertanyaan apa pun. Lalu istriku memesan Cola ukuran besar kepada si gadis dan membayarnya.

“Kita mencuri roti, bukan yang lain,” katanya. Gadis itu menanggapi dengan gerakan kepala yang rumit, antara mengangguk dan menggeleng. Sepertinya ia hendak melakukannya secara bersamaan. Aku mengerti perasaannya.

Istriku kemudian mengeluarkan bola pembelit dari sakunya dan mengikat mereka bertiga di tiang dengan lihai sebagaimana ia menjahitkan buah baju.  Ia bertanya apakah jeratannya menyakitkan, atau apakah ada yang ingin ke toilet, tapi tak satu pun dari mereka berkata. Aku membungkus pistolnya dalam sebuah selimut, istriku memungut tas belanja kami dan kami keluar dari tempat ini. Sepasang pelanggan yang berada di meja masih tertidur, seperti sepasang ikan dasar laut. Apa yang menyebabkan mereka tertidur begitu dalam?

Kami mengemudi selama setengah jam, menemukan sebuah lapangan parkir kosong di sebelah sebuah gedung. Di sana kami memakan hamburger dan meminum Cola. Aku telah mengirim enam buah Big Macs jauh ke dasar gua perutku, dan istriku telah memakan empat. Masih tersisa dua puluh bungkus Big Macs di bangku belakang. Rasa lapar yang kita rasakan—yang seakan-akan akan berlangsung selamanya—lenyap seraya subuh pun turun. Cahaya pertama sang surya menyirami dinding tembok berwarna ungu yang kotor dan membikin baliho Sony Beta berkilau dengan intensitas yang memerihkan. Segera erangan ban truk di jalan bergabung dengan kicau burung. Radio Angkatan Bersenjata Amerika melantunkan musik koboi. Kami berbagi rokok. Setelah itu ia merebahkan kepalanya di pundakku.

“Tetap saja, apakah perlu kita melakukan hal ini?” tanyaku.

“Tentu saja!” dengan lenguhan panjang, ia tertidur di pundakku. Ia terasa selembut dan seringan anak kucing.

Sendirian, sekarang aku bersandar di ujung kapalku dan melihat ke dasar laut. Gunung berapi itu hilang. Ketenangan permukaan air laut memantulkan kebiruan langit. Gelombang kecil—seperti piyama sutra berkibar tertiup angin sepoi—memantul-mantul di sisi kapal. Tak ada lagi yang lain.
Aku merenggangkan diri di dasar kapal dan menutup mata, menunggu ombak untuk membawa kemana pun asalku.

--diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Hizbul Ridho, dari terjemahan Jepang oleh Jay Rubin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar