Minggu, 23 Agustus 2020

Lelaki Hanyut Paling Tampan di Dunia oleh Gabriel Garcia Marquez











Anak-anak pertama yang melihat tonjolan gelap timbul tenggelam yang mendekat dari arah laut mengira itu adalah kapal musuh. Lalu mereka melihatnya tak memiliki bendera ataupun tiang dan kemudian mereka berpikir itu adalah seekor paus. Namun ketika benda itu terdampar di pantai, mereka menanggalkan rumpunan rumput laut, tentakel ubur-ubur, dan menyisakan ikan dan serpihan sampah, dan barulah kemudian mereka melihat bahwa benda itu adalah seseorang yang hanyut.

Mereka telah bermain dengannya sepanjang siang, menguburnya di dalam pasir dan menggalinya kembali ke permukaan, di saat secara kebetulan seseorang melihat mereka dan menyebarkan peringatan di desa. Seorang pria yang membawanya ke rumah terdekat memperhatikan bahwa ia memberat lebih daripada mayat manapun yang pernah mereka ketahui, hampir seberat seekor kuda, dan mereka mengatakan kepada satu sama lain bahwa mungkin seseorang yang hanyut itu telah mengambang terlalu lama dan air telah meresapi tulang-tulangnya. Ketika mereka membaringkannya di lantai mereka mengatakan seseorang yang hanyut itu lebih tinggi daripada yang lainnya sebab tidak cukup ruangan untuknya di rumah itu, tapi mereka mengira itu disebabkan oleh kemampuan untuk terus tumbuh setelah mati yang menjadi bagian alamiah dari orang hanyut tertentu. Ia memiliki aroma laut dan hanya bentuknya yang menunjukkan bahwa ini adalah mayat manusia.

Bahkan mereka tidak perlu membersihkan wajahnya untuk mengetahui bahwa mayat itu merupakan seorang asing. Kampung tersebut hanya terdiri dari dua puluh sekian rumah kayu dengan halaman bebatuan tanpa bunga dan tersebar di ujung semenanjung serupa gurun. Hanya sedikit daratan di sana sehingga ibu-ibu selalu merasa cemas kalau-kalau angin akan membawa anak-anak mereka dan beberapa kematian di antaranya, mereka harus dilemparkan ke jurang. Tapi lautnya tenang dan pemurah dan semua lelaki muat untuk tujuh perahu. Sehingga ketika mereka menemukan pria hanyut itu mereka sekadar melihat satu sama lain untuk memastikan mereka tak kurang satu pun.

Malamnya mereka tidak pergi melaut. Selagi para lelaki memastikan tidak ada warga yang hilang di desa-desa tetangga, para wanita tetap berada di belakang, merawat pria hanyut itu. Mereka membersihkan lumpur dengan pengepel rumput, mereka menanggalkan bebatuan bawah laut yang tersangkut di rambutnya, dan mereka menyisihkan serpihan sampah dengan alat untuk menyiangi ikan. Selagi mereka melakukannya mereka mendapati bahwa tumbuhan yang menempel di tubuhnya datang dari samudra jauh dan laut dalam dan pakaiannya compang-camping seakan ia telah berlayar melalui labirin karang. Mereka juga memerhatikan bahwa ia mati dengan harga diri, sebab tak terlihat tatapan kesepian dari orang hanyut lainnya yang terdampar dari laut atau tatapan putus asa dan lesu yang biasa terdapat pada orang hanyut di sungai. Tapi dengan selesainya membersihkan pria itu mereka menyadari orang seperti apa ia sebelumnya dan itu menyebabkan mereka tak sanggup bernapas. Tidak hanya ia yang paling tinggi, kuat, paling jantan, dan bertubuh kekar yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, tapi meskipun mereka menatap pria itu, tidak ada ruangan untuknya dalam imajinasi mereka.

Mereka tidak dapat menemukan ranjang yang cukup lebar untuk tempat pria itu berbaring atau tidak pula ada meja yang cukup kokoh untuk digunakan ketika ia terjaga. Celana hawai lelaki tertinggi di desa itu tidak akan muat, tidak pula kemeja hawai lelaki yang paling tambun, tidak pula sepatu milik orang desa yang telapak kakinya paling lebar. Terkesima dengan ukurannya yang besar dan keindahannya, para wanita kemudian memutuskan untuk membikinkannya beberapa celana terbuat dari potongan lebar layar dan sehelai kaus terbuat dari linen pengantin brabant sehingga ia dapat melanjutkan kematiannya dengan terhormat. Selagi mereka menjahit, duduk melingkar dan terpana kepada mayat di antara jahitan, terasa bagi mereka bahwa angin tidak pernah begitu kencang seperti sekarang tidak pula laut begitu tenang di malam itu dan mereka mengira bahwa perubahan ini ada hubungannya dengan mayat itu. Mereka berpikir seandainya saja lelaki menakjubkan itu pernah hidup di desa mereka, rumahnya pasti memiliki pintu yang paling lebar, langit-langit tertinggi, dan lantai terkokoh, rangka ranjangnya akan terbuat dari kerangka kapal ukuran sedang yang disangga dengan baut baja, dan istrinya menjadi wanita paling bahagia. Mereka berpikir bahwa ia akan memiliki otoritas berlimpah sehingga ia dapat menarik ikan keluar sesederhana memanggil nama mereka dan dengan begitu ia akan bekerja keras terhadap tanahnya sehingga mata air akan mencurah di antara bebatuan dan ia mampu menanam bunga-bunga di bukit terjal. Diam-diam mereka membandingkannya dengan lelaki mereka sendiri, berpikir bahwa sepanjang hidup mereka tidak mampu melakukan apa yang pria itu lakukan dalam satu malam, dan mereka berakhir dengan menyingkirkan lelakinya jauh di dalam hati sebagai yang terlemah, terkeji, dan makhluk paling tak berguna di atas bumi. Mereka menjelajah melewati labirin fantasi saat wanita yang paling tua, sebagai tetua, menatap pria hanyut itu dengan lebih penuh welasasih dibanding gairah, berkata lirih: "Ia memiliki wajah seseorang bernama Esteban.”

Memang benar. Sebagian besar mereka hanya perlu melihat sekali lagi kepadanya memastikan tak mungkin ia memiliki nama selain itu. Yang lebih keras kepala di antara mereka, yang paling muda, masih hidup dengan ilusi untuk beberapa jam bahwa ketika mereka  mengenakan pria itu pakaian dan ia berbaring di antara bunga-bunga di dalam sepatu berkulit paten, namanya mungkin saja Lautaro. Tapi itu hanya ilusi yang angkuh dan sia-sia. Tidak ada cukup kain terpal, celana yang dijahit asal itu terlalu ketat, dan kekuatan tersembunyi dalam hatinya mencopot kancing-kancing pakaiannya. Lewat tengah malam siulan angin mati dan laut jatuh menjadi hari Selasanya yang penuh kantuk. Kesunyian mengakhiri siapa pun yang meragu: ia adalah Esteban. Wanita yang telah memakaikannya baju, menyisir rambutnya, menggunting kukunya dan mencukurnya, tak tahan dengan rasa kasihan yang menggetarkan pada saat mereka harus menarik diri dari tubuhnya dengan menyeret-nyeret sepanjang pekarangan. Baru kemudian mereka mengerti betapa tidak bahagianya ia sebelumnya dengan tubuh sebesar itu semenjak itu menyusahkannya bahkan setelah kematian. Mereka dapat melihatnya dalam kehidupan, dikutuk untuk melalui pintu dengan menyamping, membenturkan kepalanya di palang, tetap berdiri selama kunjungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan singanya yang lembut dan magenta selagi nyonya rumah melihat kursinya yang paling tahan dan memohon kepadanya, ketakutan setengah mati, duduk di sana, Esteban, tolong, dan ia, bersandar ke dinding, tersenyum, tak usah risau, nyonya, aku tidak apa-apa di sini, tapak kakinya kasar dan pundaknya terbakar sebab telah melakukan hal yang sama berkali-kali kapan pun ia berkunjung, tidak apa-apa, nyonya, aku tidak apa-apa di sini, hanya menghindari rasa malu kalau merusak kursi, dan orang-orang yang tidak pernah tahu mengatakan jangan pergi Esteban, setidaknya tunggulah sampai kopinya siap, di mana orang-orang kemudian akan berbisik si dada besar akhirnya pergi, bagus sekali, orang tampan bodoh itu akhirnya pergi. Itulah yang dipikirkan para wanita di samping tubuh itu sesaat sebelum subuh. Setelahnya, ketika mereka menutup wajahnya dengan setangan sehingga cahaya tidak mengganggunya , ia terlihat mati selamanya, begitu tak berdaya, begitu mirip lelaki di desa itu sehingga aliran tangis pertama keluar dari hati mereka. Yang paling muda di antara mereka mulai tersedu. Yang lainnya, dari tersedu menjadi sesenggukan, sebab pria hanyut itu semakin terlihat seperti Esteban bagi mereka, begitulah mereka banyak tangisi, sebab ia lebih papa, paling damai, dan lelaki paling bertanggungjawab di atas bumi, kasihan Esteban. Sehingga pada saat para lelaki kembali membawa kabar bahwa pria hanyut itu tidak berasal dari desa tetangga manapun, para wanita mulai bersyukur di antara isak mereka.

“Terima kasih Tuhan,” mereka meratap, “dia milik kita!”

Para lelaki mengira kehebohan ini hanya kesembronoan khas wanita. Letih dengan pertanyaan-pertanyaan sulit saat malam, semua yang mereka inginkan adalah mengenyahkan pendatang baru mengganggu itu untuk selamanya sebelum matahari semakin terik di hari yang gersang dan tak berangin itu. Mereka membuat tandu menggunakan sisa bagian depan kapal dan tombak ikan, mengikatnya bersamaan dengan tali temali sehingga dapat menopang tubuh hingga mereka dapat membawanya ke jurang terjal. Mereka ingin mengikatkan anker dari kapal kargo ke tubuhnya sehingga ia dapat tenggelam dengan mudah ke dalam gelombang terdalam, tempat ikan-ikan buta dan penyelam mati dengan nostalgia berada, dan arus yang buruk tidak akan membawanya kembali ke tepi pantai, sebagaimana biasa terjadi pada mayat-mayat yang lain. Namun semakin mereka tergesa, semakin para wanita berpikir untuk mengulur-ngulur waktu. Mereka berjalan seperti induk ayam yang meradang, mematuk-matuk dengan jimat laut di dada mereka, beberapa merangsek di sisi yang lain untuk menaruh tulang lembusir untuk mendatangkan angin baik bagi lelaki hanyut, beberapa di sisi yang lain memasangkan gelang kompas kepadanya, dan setelah jibaku menjauhlah-dari-sana, wanita, menyingkarlah, lihat, kau hampir membuatku terjatuh di atas mayat itu, para lelaki mulai menaruh curiga kepada hati mereka dan mulai jengkel dengan kenapa begitu banyak dekorasi altar untuk orang asing itu, sebab tidak peduli berapa banyak pun kuku dan guci air suci yang ia miliki, ikan hiu tetap akan mengunyahnya, tapi para wanita tetap menumpuk rongsokan reliks mereka, berlari ke depan dan ke belakang, tersandung, selagi mereka melepaskan ratapan apa yang mereka lakukan tanpa air mata, sehingga para pria meledak dengan semenjak kapan ada kegaduhan hanya dengan adanya tubuh entah yang hanyut, seonggok daging di hari Selasa yang dingin. Salah satu wanita, malu sebab kurangnya rasa peduli, kemudian melepas setangan dari wajah mayat itu dan para lelaki menjadi tak bernapas.

Ia adalah Esteban. Tidak diperlukan mengulangnya untuk menyadari ia adalah Esteban. Kalau saja mereka memberitahu Sir Walter Raleigh, bahkan mereka terkesan dengan aksen bulenya, burung makau di pundaknya, ciuman khilaf pembunuh kanibalnya, tapi hanya ada satu Esteban di dunia ini dan di situlah ia, membentang bagai paus terdampar, tanpa sepatu, mengenakan celana kekecilan anak-anak, dan dengan kuku membatunya yang harus dikerat dengan pisau. Mereka hanya perlu menanggalkan setangan dari wajahnya untuk melihat bahwa ia malu, bahwa bukan salahnya ia begitu besar, begitu berat dan begitu tampan, dan kalau saja ia tahu hal semacam ini akan terjadi, ia akan mencari tempat yang lebih terpencil untuk hanyut, serius, aku bahkan akan mengebat leherku dengan anker sebuah galleon dan terjun dari tepi jurang terjal seperti seseorang yang tidak suka hal-hal yang dapat menyusahkan orang-orang sekarang dengan tubuh mati di hari Selasa ini, seperti yang kalian katakan, demi tidak seorang pun bersusah-payah dengan seonggok daging dingin kotor ini yang tidak ada hubungannya denganku. Begitu banyak kebenaran pada tingkahnya sehingga orang yang paling meragu sekali pun, seseorang yang merasakan kepahitan dari malam-malam tak berujung atas ketakutan di tengah laut bahwa wanita mereka akan letih memimpikan mereka dan mulai memimpikan sang pria hanyut, bahkan mereka yang lebih keras masih bergetar di sumsum tulang mereka pada ketulusan Esteban.

Begitulah awalnya mereka hingga mengadakan pemakaman termegah yang dapat mereka lakukan terhadap seorang pria hanyut yang diacuhkan. Beberapa wanita yang pergi untuk memetik bunga di desa-desa tetangga kembali beserta wanita lain yang tidak percaya dengan apa yang telah mereka dengar, dan wanita-wanita itu kembali dengan membawa lebih banyak bunga saat mereka melihat mayat itu, lalu mereka membawa lebih dan lebih banyak sehingga begitu banyak bunga dan begitu banyak orang sehingga sangat sulit untuk berjalan. Saat-saat terakhir betapa menyakitkan mereka memulangkan jenazah itu ke air sebagai yatim piatu dan mereka memilihkannya seorang ayah dan seorang ibu dari orang-orang terbaik, dan bibi-bibi, dan paman-paman, dan sepupu-sepupu, sehingga dengan begitu semua penduduk desa menjadi kerabatnya. Beberapa pelaut yang mendengar tangisannya dari kejauhan pergi menjauh dan orang-orang mendengar seorang yang membuatnya terikat di buritan kapal, teringat fabel kuno tentang Siren.  Selagi mereka berjuang untuk keistimewaan mengangkutnya di pundak mereka di sepanjang jalan setapak menuju tebing terjal, para lelaki dan wanita jadi tersadar untuk pertamakalinya gersangnya jalan-jalan, pekarangan yang tandus, impian mereka yang sempit seraya mereka menatap keindahan dan ketakjuban pria hanyut tersebut. Mereka membiarkannya pergi tanpa anker, sehingga ia dapat kembali kalau mengharapkannya dan kapan pun ia inginkan, dan mereka semua menahan napas untuk pecahan berabad-abad jenazah itu terjatuh menuju lubang yang dalam. Mereka tidak perlu melihat satu sama lain untuk menyadari keberadaan mereka tak lagi terberkahi, dan tidak akan pernah terberkahi. Namun mereka juga mengetahui mulai saat ini segalanya menjadi berbeda, bahwa rumah mereka akan memiliki pintu yang lebih lebar, langit-langit lebih tinggi, lantai lebih kokoh, sehingga kenangan akan Esteban dapat pergi kemana pun tanpa membentur palang dan sehingga tidak ada di masa yang akan datang seseorang berani berbisik si dada besar akhirnya mati, kasihan, pria tolol tampan itu akhirnya mati, sebab mereka akan mengecat muka rumah mereka dengan warna abu-abu untuk membikin kenangan Esteban abadi dan mereka akan membanting tulang untuk menggali mata air di antara bebatuan dan menanam bunga-bunga di jurang terjal sehingga di tahun-tahun yang akan datang para penumpang kapal pesiar akan terjaga, tercekik dengan aroma taman di atas laut tinggi, dan sang kapten akan turun ke bawah dari jembatan dengan seragamnya, dengan astrolabnya, bintang kutubnya, dan barisan medali perangnya dan, menunjuk ke arah bentangan mawar di horizon, ia akan berbicara dalam empat belas bahasa, lihat, di mana angin begitu tenang sehingga ia tertidur di bawah ranjang-ranjang, di sana, di mana sinar sang surya begitu silau sehingga bunga matahari tidak tahu menghadap kemana, ya, yang di sana, Desa Esteban itu.

-diterjemahkan oleh Hizbul Ridho dari terjemahan Inggris oleh Gregory Rabassa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar