Minggu, 23 Agustus 2020

Monolog Isabel Saat Menyaksikan Hujan di Macondo oleh Gabriel Garcia Marquiez






Musim hujan jatuh pada Minggu saat orang-orang keluar dari gereja. Sabtu malam benar-benar mencekik. Namun bahkan, pada Minggu pagi tak ada yang mengira hari akan hujan. Setelah kebaktian, sebelum kami para wanita sempat menemukan gagang payung kami, sebuah awan gelap dan tebal dan lebar berhembus, berpilin menyapu debu dan bulu bulan Mei. Seseorang di sebelahku berkata: “Angin ini mengandung air.” Dan aku pun mengetahuinya bahkan sebelum itu. Saat kami keluar dari gereja aku terguncang oleh gerakan halus di dalam perutku. Para lelaki berlarian ke rumah-rumah terdekat dengan satu tangan menahan topi mereka, dan tangan yang lain menggenggam saputangan melindungi wajah mereka dari angin dan badai debu. Lalu hujan pun jatuh. Dan langit kelabu. Seperti ubur-ubur yang mengambang satu depa di atas kepala kami.

Sepanjang sisa pagi aku dan ibu tiriku duduk di susuran tangga, bahagia mengetahui hujan akan memulihkan bunga rosemary yang kehausan dan akar wangi di pot-pot bunga setelah tujuh bulan kemarau yang hebat dan debu yang menghanguskan. Pada siang hari gaung dari bumi berhenti dan aroma tanah basah, dan tumbuh-tumbuhan hidup berkelindan dengan aroma sejuk dan bergairah dari hujan pada rosemary. Saat jam makan siang, ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei pertanda akan ada pasang yang baik.” Tersenyum, dilingkupi oleh sinar musim yang baru, ibu tiriku berkata kepadaku: “Begitulah yang aku dengar saat kotbah.” Dan ayahku tersenyum. Dan dia makan dengan selera yang bagus, hingga membiarkan makanannya dimamah dengan santai di sebelah susuran tangga, senyap, matanya tertutup, tapi tak tertidur, sebagaimana jika sedang berpikir bahwa dia sedang bermimpi saat terjaga.

Dalam satu nada hujan terus turun sepanjang siang. Dalam kesatuan dan intensitas yang mendamaikan kau dapat mendengar air jatuh, sebagaimana saat kau berada dalam perjalanan di kereta sepanjang siang. Namun tanpa disadari, hujan terlalu dalam menghunjam kedalam kesadaran kami. Senin subuh, ketika kami menutup pintu untuk menghindari tempiasnya, percik air beku yang berterbangan masuk dari halaman mengisi penuh kesadaran kami oleh hujan. Dan pada Senin pagi hujan telah meluap dari kesadaran kami. Ibu tiriku dan aku pergi melihat keadaan taman. Tanah keras yang kelabu dari bulan Mei telah mengubah malam menjadi gelap dan pengap seperti sabun murahan. Leleran air mulai meleleh dari pot-pot bunga. “Aku pikir telah terlalu banyak air sepanjang malam,” kata ibu tiriku. Dan aku mendapati dia telah berhenti tersenyum, dan kegembiraannya yang kemarin telah berganti menjadi keseriusan yang longgar dan menjenuhkan. “Mungkin Ibu benar,” kataku. “Lebih baik memanggil orang-orang Indian ke beranda sampai hujan reda.” Dan begitulah yang mereka lakukan, selagi hujan turun semakin lebat seperti pohon besar tumbuh di atas pohon besar lain. Ayahku duduk di tempat yang sama tempat dia berada pada Minggu siang, namun dia tidak lagi berbicara tentang hujan. Dia berkata: “Aku pasti tidak dapat tidur nyenyak semalam karena aku bangun dengan punggung keram.” Dan dia tetap berada di sana, duduk di susuran tangga dengan kakinya bertele bangku dan kepalanya menoleh ke arah taman kosong. Hanya saat senja, setelah makan siang, dia berkata: “Sepertinya langit tidak akan pernah cerah lagi.” Dan aku teringat pada bulan-bulan yang gerah. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan menyenangkan tempat kami seakan mati tertimpa waktu, pakaian kami melekati tubuh, mendengar dengung yang keras kepala dan membosankan dari waktu yang tak pernah berlalu. Aku memandang dinding-dinding yang tersapu oleh riak-riak pantulan cahaya dari air. Aku memandang taman mungil, kosong untuk pertamakalinya, dan melati menyemak di dinding, setia dengan kenangan ibuku. Aku memandang ayahku duduk di kursi goyang, tulang punggungnya yang kepayahan disandarkan di bantal dan sepasang matanya yang sedih tersesat dalam labirin hujan. Aku terkenang malam-malam bulan Agustus yang, tak ada yang dapat didengar dari kesunyian mengagumkannya selain suara seribu tahun bumi ciptakan pada putaran berkarat, dan tak berminyak porosnya. Sekonyong-konyong aku dikuasai kesedihan yang tak tertanggungkan.

Sebagaimana Minggu, hujan terus turun sepanjang Senin. Namun kali ini hujan tampaknya turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan pahit sedang berlangsung di dalam hatiku. Saat senja sebuah suara di sebelah kursiku berkata: “Hujan ini membosankan.” Tanpa menoleh, aku menyadari itu suara Martin. Aku tahu dia sedang berbicara di kursi sebelah, dengan ekspresi dingin dan mengagumkan yang tak berubah, tidak semenjak subuh bulan Desember yang murung itu, ketika dia baru menjadi suamiku. Sudah lima bulan berlalu semenjak itu. Sekarang aku akan memiliki seorang bayi. Dan Martin berada di sebelahku mengatakan hujan yang bikin dia jenuh. “Tidak menjenuhkan,” kataku. “Hanya saja terasa menyedihkan bagiku, dengan taman kosong itu dan pohon-pohon malang yang tak bisa masuk.” Lalu aku menatapnya dan Martin tidak ada lagi di sana. Itu hanya suara yang mengatakan kepadaku. “Sepertinya langit tidak akan pernah cerah lagi,” dan ketika kuarahkan pandanganku ke suara tersebut aku hanya mendapati kursi kosong.

Pada Selasa pagi kami menemukan seekor sapi di taman. Terlihat seperti semenanjung tanah liat dalam ketidakberdayaannya yang keras, tapak-tapaknya terbenam di lumpur dan kepalanya bengkok. Sepanjang pagi para Indian mencoba menariknya dengan tongkat-tongkat dan batu-batu. Tapi sapi itu tetap di situ, tak dapat diganggu gugat, kokoh, tapak-tapaknya tetap terbenam kedalam lumpur dan kepalanya tersiksa hujan. Para Indian tetap memaksanya hingga kesabaran ayahku habis. “Biarkan dia di situ,” katanya. “Dia akan pergi dengan cara dia datang.”

Selasa saat matahari terbenam, air hujan jatuh sengit dan menyakitkan, seperti kain kapan yang menyelimuti jantung. Hawa dingin pada pagi pertama mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Hawa tidak dingin tidak pula panas; seperti suhu saat meriang. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit dikatakan apa yang lebih bisa diterima, kulit yang telanjang atau sentuhan kain terhadap kulit. Semua aktifitas rumah berhenti. Kami duduk di beranda tapi tak lagi menatap hujan seperti pertama kali. Kami tak lagi merasa hujan jatuh. Kami tidak lagi melihat apa pun selain garis-garis terluar pohon-pohon di dalam kabut, dengan matahari yang tampak sedih dan terkucilkan yang tertinggal pada bibirmu seperti rasa yang sama ketika kau terbangun setelah bermimpi tentang orang asing. Aku tahu bahwa ini hari Selasa dan aku terkenang dengan si kembar dari Saint Jerome, gadis-gadis buta yang datang ke rumah setiap pekan menyanyikan kami lagu sederhana, sayu oleh keajaiban pahit tak terlindungi dari suara mereka. Di atas hujan itu aku mendengar gumam senandung si kembar buta dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkerumun, menunggu hujan berhenti turun sehingga mereka dapat keluar dan bernyanyi. Aku berpikir, si kembar dari Saint Jerome tidak akan datang hari itu, tidak pula wanita pengemis akan ada di beranda setelah tidur siang, sebagaimana setiap Selasa, meminta setangkai daun mint dari cabang abadi.

Hari itu kami kehabisan makanan. Saat istirahat siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Namun sebenarnya, kami belum makan semenjak Senin sore dan semenjak itu kami telah berhenti berpikir. Kami tak berdaya, terseret hujan, jatuh lumpuh secara alamiah dengan sikap pasrah. Hanya si sapi yang bergerak saat siang. Sekonyong-konyong suara yang dalam, mengguncangnya dari dalam, dan, dengan kekuatan yang lebih besar, tapak-tapaknya tenggelam kedalam lumpur. Lalu dia berdiri tak bergerak selama setengah jam, sebagaimana jika dia telah mati tapi tidak bisa roboh sebab kebiasaan untuk tetap hidup mencegahnya untuk roboh, hingga kebiasaannya melemah. Lalu diasilangkan kaki-kaki depannya (paha-pahanya yang gelap dan bercahaya tetap terangkat dengan usaha terakhir yang nelangsa) dan menenggelamkan moncongnya yang berliur kedalam lumpur, menyerahkan berat tubuhnya sendiri dalam kesenyapan, berangsur-angsur, dari perayaan bermartabat keruntuhan total. “Dia sampai sejauh itu,” seseorang berkata di belakangku. Dan aku pun menoleh ke ambang melihat wanita pengemis pada hari Selasa, yang telah datang menembus badai untuk meminta setangkai daun mint.

Mungkin pada hari Rabu aku jadi terbiasa dengan keadaan ini, pada saat di ruang tengah aku menemukan meja ditekankan ke dinding, perabotan ditumpuk di atasnya, dan di sisi lain, di sebuah sandaran yang disiapkan menjelang malam terdapat bagasi dan kotak-kotak penyimpanan alat-alat. Pemandangan ini menghasilkan perasaan kosong yang mengerikan di dalam diriku. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam. Rumah dalam keadaan berantakan. Para Indian Guajiro telanjang dada dan kaki, dengan celana tergulung hingga lutut, sedang membawa perabotan kedalam ruang makan. Dalam ekspresi jantan mereka, dalam ketekunan yang sedang dikerjakannya, dapat terlihat rasa frustrasi mereka yang kejam, tampak terpinggirkan dan terhinakan saat berada dalam hujan. Aku bergerak tanpa arah, tanpa hasrat. Aku merasa menjadi janda yang terkucilkan, yang ditabur ganggang dan lumut, dengan jamur payung lembut dan lengket, yang dipupuk oleh tumbuh-tumbuhan menjijikkan yang berasal dari kepengapan dan bayangan. Aku sedang berada di ruang tengah merenungi hamparan pemandangan dari tumpukan perabot ketika aku mendengar suara ibu tiriku memperingatkanku dari ruangannya bahwa aku bisa terkena radang paru-paru. Aku baru menyadari ternyata air telah setinggi pergelangan kakiku, dan rumah kebanjiran, lantai digenangi oleh permukaan tebal dan kental, air mati.

Pada Rabu siang, subuh tidak pernah berhenti berakhir. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah datang sepenuhnya, mendahului waktu dengan irama hujan yang pelan dan menyedihkan dan monoton di halaman. Senja menjadi begitu prematur, lembut dan murung, tumbuh di antara kesunyian orang-orang Guajiro yang bersandar di bangku-bangku menentang dinding, ditaklukan oleh alam yang rusuh. Itu keadaan ketika berita-berita mulai berdatangan dari luar. Tak ada seorang pun yang membawanya ke rumah. Berita-berita itu datang begitu saja, dengan saksama, sendiri-sendiri, seakan terbawa lumpur yang mengalir dari jalan-jalan dan membawa serta banyak dan semakin banyak lagi perabotan rumah, yang hanya menyisakan serpihan puing-puing, sampah-sampah dan bangkai binatang. Meskipun seandainya terjadi pada Minggu, ketika hujan masih sekadar peringatan dari musim baru yang akan datang, dibutuhkan dua hari untuk mengetahuinya dari rumah kami. Dan pada Rabu kabar-kabar itu datang seakan dimuntahkan dari pusat pusaran badai. Dari kabar-kabar itu diketahui bahwa gereja terendam banjir dan runtuh sebagaimana yang diperkirakan. Seseorang yang tidak punya alasan untuk mengetahuinya mengatakan malam itu: “Kereta tidak bisa menyebrangi jembatan semenjak Senin. Sepertinya sungai telah menyeret relnya.” Juga diketahui si wanita gila telah lenyap dari ranjangnya dan ditemukan mengambang di halaman.

Merinding, dikuasai rasa takut akan banjir, aku duduk di kursi goyang dengan menyelipkan kakiku dan mataku terpaku pada kelembaban dari kegelapan total kabut. Ibu tiriku muncul di ambang pintu, menenteng lampu tinggi-tinggi, kepalanya mengacung. Dia terlihat seperti hantu di rumah ini yang sebelumnya tak pernah aku takuti sebab aku sendiri berbagai nuansa supranatural dengannya. Dia mendekatiku. Dia masih mengangkat kepala dan lampunya tinggi-tinggi di udara, dan dia menerobos air yang menggenang di beranda. “Kita mesti berdoa sekarang,” katanya. Dan aku dapat melihat jelas wajahnya yang keriput dan kering, seakan dia baru saja bangkit dari kubur atau seakan dia diciptakan dari unsur yang berbeda dari manusia biasa. Dia berada di seberangku dengan rosario di tangan, mengatakan: “Kita mesti berdoa sekarang. Air telah menguak kuburan dan sekarang jenazah-jenazah malang itu mengambang di pemakaman.”

Mungkin saja aku tertidur sebentar malam itu ketika aku terbangun dengan rasa mual sebab bau masam menekan seperti berasal dari tubuh membusuk. Aku mengguncang kuat-kuat tubuh Martin, yang sedang mendengkur di sebelahku. “Tidakkah kau menyadarinya?” tanyaku kepadanya. Dan dia mengatakan: “Apa?” Dan aku berkata: “Bau ini. Ini pasti jenazah-jenazah yang hanyut hingga ke jalan.” Aku ngeri dengan pikiranku sendiri, tapi kemudian Martin malah memunggungiku menghadap dinding dan dengan suara parau dan mengantuk dia berkata: “Itu hanya sesuatu yang kaubuat-buat. Wanita hamil selalu paranoid.”

Pada Kamis subuh bau tersebut tidak tercium lagi, perasaan akan jarak pun hilang. Haluan waktu, yang geram semenjak kemarin lusa, lenyap sepenuhnya. Dan tidak ada lagi Kamis. Yang sebelumnya disebut hari Kamis hanyalah benda serupa agar-agar yang menjadi bagian untuk menyingkap hari Jumat. Tak ada lelaki atau wanita di sana. Ibu tiriku, ayahku, dan orang-orang Indian tampak seperti timbunan lemak yang sulit bergerak di tengah rawa musim dingin. Ayahku berkata kepadaku: “Jangan beranjak dari sini sebelum diperintahkan,” dan suaranya terdengar jauh dan mengambang seakan tidak berasal dari pendengaran melainkan sentuhan, satu-satunya indra yang masih berfungsi.

Namun ayahku tidak kembali: dia tersesat di cuaca. Sehingga ketika malam tiba aku memanggil ibu tiriku, memintanya menemaniku ke kamar tidur. Malam itu tidurku damai dan nyenyak, yang berlangsung sepanjang malam. Hari berikutnya suasana tetap sama, tanpa warna, tanpa bau, dan tanpa temperatur apa pun. Segera setelah aku terbangun, aku melompat ke kursi, dan tetap berada di sana tanpa bergerak sedikitpun, sebab sesuatu berkata kepadaku bahwa masih ada sebagian kesadaranku yang belum terjaga sepenuhnya. Kemudian aku mendengar siul kereta. Siul yang panjang dan sedih dari kereta yang berusaha terlepas dari badai. Pasti di suatu tempat cuaca telah cerah, pikirku, dan sebuah suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya, menoleh. Dan aku melihat ibu tiriku dengan lengan panjangnya yang kurus searah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan aku bertanya kepadanya: “Bisakah kau mendegar?” Dan dia berkata, ya, mungkin cuaca sudah cerah di perbatasan dan mereka sudah memperbaiki relnya. Kemudian dia membawakanku nampan yang berisi sarapan rebus-rebusan. Aromanya seperti saus bawang dan mentega, ternyata sepiring sup. Masih dalam keadaan bingung, aku bertanya kepada ibu tiriku jam berapa sekarang. Dan dia, dengan tenang, dan suara tertahan, berkata: “Mungkin sekitar jam setengah tiga.” Setelah semuanya, kereta tidak lagi terlambat bukan.” Aku berkata: “Setengah tiga! Bagaimana bisa aku tidur begini lama. Rasanya tidak lebih dari jam tiga.” Dan aku, gemetar, merasakan piring lepas dari jari-jariku: “Setengah tiga hari Jumat,” kataku. Dan dia, dengan ketenangan yang ganjil: “Setengah tiga hari Kamis, nak. Masih setengah tiga hari Kamis.”


Aku tidak tahu berapa lama aku tenggelam dalam keadaan berjalan sambil tertidur seperti ini, ketika kesadaran kehilangan nilainya. Aku hanya mengetahui bahwa setelah berjam-jam yang tak dapat dihitung aku mendengar sebuah suara dari kamar sebelah. Sebuah suara yang berkata: “Sekarang kau bisa menggulung kasurnya ke sisi ini.” Suara itu terdengar lelah, namun bukan jenis suara orang sakit, lebih-lebih seperti penyembuhan. Lalu kau mendengar suara batu bata di dalam air. Aku tetap bertahan sebelum aku menyadari aku berada dalam posisi rebah. Lalu aku merasakan kekosongan yang dahsyat. Aku merasakan keraguan dan kesenyapan yang kejam dari rumah ini, ketidakberdayaan raksasa yang mempengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba aku merasa hatiku menjadi batu membeku. Aku mati, pikirku. Tuhan, aku mati. Aku melompat dari ranjang, berteriak: “Ada! Ada!” Suara Martin yang tak menyenangkan menjawabku dari seberang sana. “Mereka tidak dapat mendengarmu, mereka telah berada di sisi luar sekarang.” Aku menyadarinya bahwa cuaca telah menjadi cerah dan di sekeliling kami kesunyian menghampar, keindahan yang menenangkan, misterius dan dalam, keadaan sempurna yang begitu serupa dengan maut. Kemudian samar terdengar langkah-langkah kaki di beranda. Sebuah suara yang jelas dan bernyawa. Kemudian angin sepoi yang sejuk menggoyang daun pintu, menimbulkan bunyi ketukan, dan tubuh yang utuh dan tegap, seperti buah masak, tenggelam kedalam waduk di halaman. Sesuatu di udara mengungkap kehadiran seseorang tak kasat mata tersenyum di kegelapan. Tuhanku, pikirku, pusing oleh bauran waktu. Hal semacam ini tidak akan mengejutkanku sekarang, kalau memang mereka datang untuk mengajakku pergi kebaktian Minggu terakhir.

-Diterjemahkan oleh Hizbul Ridho dari terjemahan bahasa Inggris oleh Gregory Rabassa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar