Minggu, 23 Agustus 2020

Setelah Kelam di Apartemen Pairidaeza









Jatayu Dirgantara kembali melihat gagak itu bertengger di pembatas balkon sebelah kamarnya yang penghuninya tak pernah ia kenal melebihi senyum sosial.
           Di malam peralihan penghujan dan kering itu, ia mencoba mengusir igau demamnya semenjak kemarin, dengan botol vodka kedua, menyaksikan bulan sepenggal timbul tenggelam di antara awan-awan yang berarak ke utara, mendengar tangisan gagak.
Langit malam berwarna lembayung pada saat gagak itu melesat ke langit, dan di balkon yang sama dalam penglihatan sendunya Jatayu melihat seorang pria tersiram fluorosen, setengah telanjang melangkahkan kakinya perlahan ke tubir balkon, di mana batas antara keindahan, kesunyian dan kematian hanya segaris. 
Tato sepasang sayap kuyu berjejak di punggungnya. Jatayu menenggak sisa vodkanya tanpa acuh, dan pria bertato sayap itu memanjat pembatas balkon, tubuhnya terhempas angin kadang. Ia melihat ke bawah; jalan-jalan tergurat oleh cahaya-cahaya pastel memanjang dan pria itu melompat tanpa sayapnya mengepak.

Dua hari dalam demam, Jatayu mendapati dirinya menemui hal muskil semacam itu seperti, bau amis darah jauh di sisi lain sudut jalan, dan suara tangisan di suatu tempat. Ia sudah terbiasa mengusir itu semua dengan pil antidepresan dan musik pembunuh kesunyian dengan suara keras di telinga. 
Jatayu berjalan ke dalam kamar menyeret ujung kakinya, melempar botol vodka ke dalam keranjang sampah, yang dipenuhi tumpukan kaleng soda gembira sisa akhir pekan, mangkuk styrofoam mi instan yang sisa sulur minya membusuk, botol kosong vodka yang lain. 
Ia membuka kotak perabot mandi yang disesaki berbagai pil penopang hidup. Ia mengambil pil tidur tanpa mimpi, menenggaknya dengan segelas air putih yang dipatenkan dan tertidur seketika tanpa usaha hari-hari lampau.

Pagi hari, setelah ia turun dari kediamannya untuk berangkat ke kantor, Jatayu menyaksikan kerumunan orang di lapangan parkir utara Apartemen Pairidaeza. Warga apartemen yang singgah melepas penasaran sebentar sebelum tanpa acuh kembali ke kenyataan ilusifnya masing-masing. Empat orang asing yang sepertinya pewarta, menenteng kamera video, berseragam merah dan biru, sedang berhadap-hadapan dengan tiga orang satpam yang menghalangi.
Dua orang polisi menenteng tandu mengangkut pembungkus mayat berwarna cerah. Seorang lagi membuat marka korban dengan kapur. Jatayu menyaksikan aktivitas pagi yang tak biasa itu sebentar, tak mengira bahwa yang semalam disaksikannya bukanlah delusi igau demam.
Ia mendengar percakapan yang samar tentang motif kematian pria itu, dan seorang lagi ditemukan tewas di kamar yang sama dengan kelaminnya terpotong dan banyak darah menggenang dan mengering di lantai porselen.
Jatayu menyumpal telinganya dengan lagu pemompa suasana hati, dan menganggap pagi itu seperti pagi biasanya. Ia teringat, terkadang ia berpapasan dengan dua korban itu, dua pria yang tampak lebih akrab dari sekadar sahabat, tinggal di kamar apartemen yang sama, berbagi senyum sosial dengan tetangga satu lantainya.
Jatayu tak menyangka demam yang menggelayut di tubuhnya dua hari ini bisa begitu degil. Bahkan setelah pagi tadi ia menenggak dua butir antipiretik. Ia berjalan menuju stasiun yang tak jauh, melewati taman kanak-kanak yang pagi itu bocah-bocah bermain dengan riang di depan latar tokoh-tokoh kartun yang dilukis dengan buruk, mengenakan seragam pelangi, berkejaran satu sama lain, meluncur di atas papan seluncur dengan bibir melengkung senang. Ibu guru berwajah manis mengajak mereka untuk masuk ke kelas. Jatayu menyaksikan adegan itu dengan kepala pusing, pipi dan leher yang memanas.
Semenjak demam, punggungnya juga terasa nyeri, yang tak terasa lagi begitu ia sampai di dalam kereta hibah Jepang yang sesak oleh wajah-wajah anonim mengenakan pakaian terbaiknya bekerja dan orang-orang dari kelas sosial lebih rendah.
Dalam kesendirian ia menyimak raut wajah mereka dan seenaknya memberi nama; Si Jelita yang hidungnya seperti direkatkan, Si Botak yang aroma ketiaknya membikin udara gerbong semakin pengap, Si Cebol berwajah tembaga, yang berpura tidur tak peduli wanita hamil berdiri di hadapannya.
Juga ketika ia menghadapi jaringan jadwal penerbangan yang sengkarut di bandara pulau itu dari dalam kubikel kantor, mengurai kekusutannya dan menawarkannya kepada pelanggan dengan harga terbaik dan suara yang tersenyum.
Jatayu tak menghabiskan waktu lebih lama di kantornya untuk berbagi kerumitan tugas dengan rekan kerja, atau menonton aksi komedi romantis dengan wanita yang senyumnya paling manis dan buah dada paling indah seperti biasanya.
Usai menutup tugas yang tak akan pernah usai, punggungnya langsung berdenyut nyeri. Ia memutuskan segera kembali ke Apartemen Pairidaeza. Kali ini tanpa terlebih dahulu menenggak vodka di balkon sambil menyaksikan orang terjun ke lembah kematian.

Lift menuju lantai 57—lantainya—itu penuh sesak. Jatayu beruntung sebab orang setelahnya tak bisa naik serta dengan berlebihnya beban. Kerumunan yang saling berdesakan tapi tak saling menyapa itu tak butuh percakapan tur singkat menuju lantai masing-masing.
Namun Jatayu mendengar bisik-bisik dua orang wanita di belakang punggungnya, yang nyatanya terdengar lebih lantang dari perkiraan dua pembicara itu, sehingga segala percakapan pribadi yang agaknya memalukan itu terdengar oleh seisi lift.
Jatayu merasa kenal dengan salah satu suara tersebut, dan benar saja, tak lama setelah lift itu hampir sampai lantai kamarnya berada, dan kerumunan berkurang, seseorang menepuk pundaknya. Jatayu menoleh, adalah Seruni, tetangga yang baru dikenalnya tiga bulan ini. Mereka saling bertukar sapa hingga pintu lift menuju lantai 57 terbuka, dan saat Jatayu menyampaikan salam perpisahannya Seruni segera menekan tombol tutup sambil cekikikan.
“Sebaiknya kau mengawaniku minum di kafe lobi Jat, sebelum kau menyesal dan ingin bertemu denganku dalam mimpi,” kata Seruni. Ia terdengar kenes seperti biasa.
“Aku tak begitu enak badan,” keluh Jatayu.
Sebagaimana menghadapi setiap wanita yang selalu menarik perhatiannya, Jatayu tak pernah bisa menolak, setelah Seruni merayu, “saat bercakap denganku dan kita tertawa bersama demammu itu akan sirna.”

Mereka kembali ke lantai dasar, menuju lobi utama tempat pengembang apartemen itu mencoba mewujudkan tiruan taman eden dengan rujukan sembrono tiga kitab suci dan risalah yang ditulis oleh pendongeng paling lampau. 
Lobi itu dihiasi pohon-pohon artifisial rindang dengan daun-daun akrilik, dan pohon-pohon pisang plastik yang buahnya bersusun-susun, dan pohon-pohon bidara tak berduri yang buahnya berpernis merah, penanda-penanda dilarang meludah dan membuang ingus sebab tak ada yang membuang najis di surga, dipan-dipan, empat mata air yang tak pernah kekeringan. Mereka melewati taman itu, dan masuk ke dalam kedai kopi.
Jatayu memesan sebotol air mineral bersoda sementara Seruni memesan martini. Mereka duduk di bangku tempat mereka pernah bercakap. Kedai kopi itu tak begitu ramai, hanya diisi sepasang pemuda berseragam kantor dan seorang pemuda berwajah kesunyian di sudut lain. Sebuah lagu dari Bob Dylan, Blowing in the Wind melantun di seisi ruangan.
“Kau tahu kejadian tadi pagi?” kata Jatayu mencoba memulai percakapan.
“Aku pikir tak ada penghuni apartemen yang tidak tahu,” kata Seruni.
“Itu terjadi di sebelah kamarku,” bisik Jatayu. “Dan aku menyaksikan langsung pria itu terjun… Tadinya kupikir khayalan demamku.”
“Semoga bukan pertanda sial untukmu Jat. Hey, aku tak ingin tinggal lebih lama di tempat ini.”
“Kau pikir di kota ini, ada apartemen yang bersih dari riwat bunuh diri. Untuk itulah pengembang selalu melarang wartawan meliputnya.”
“Aku tak berencana tinggal di apartemen.”
“Kau mengumpulkan banyak uang rupanya.”
“Tidak juga.” Seruni tertawa lalu wajahnya berubah sendu. Ia menenggak martininya sekali tandas dan mengalihkan pandangan ke luar kaca. Replika taman surga itu dilalui oleh orang-orang yang pulang bekerja.
Jatayu menyimak wajah yang saat itu terlihat menguarkan cahaya dan mencuri pandang ke blusnya yang melembung. Payudaranya terlihat lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu. Bulu mata palsunya melentik indah di atas sepasang mata kucing hutannya, hidung bangirnya pipih mungil, dan halus kulit yang bisa membuat semut tergelincir.
Jatayu masih terkesima menyadari keajaiban kosmetika yang terlihat alami itu setelah suatu malam sempat mengunjungi kamar Seruni, lima lantai di atas lantai kamarnya. Mereka bertemu dalam kebetulan yang acak di dalam lift. Sebelum mengenalnya Jatayu menemukan Seruni adalah wanita tercantik di dalam lift sesak. Hampir seluruh wanita di apartemen itu tak lepas dari imbas gelombang Pop Korea, tapi tak ada yang sealamiah Seruni menirunya. Di setiap kesempatan, wanita rapuh itu justru terlihat lebih nyata dibanding selebritas serial drama.
Suatu kali Jatayu berada dalam kesempatan yang canggung dengan wanita berwajah Asia itu, berdua di dalam lift. Kesunyian janggal yang mengambang di antara mereka hanya diisi oleh suara penanda lantai dan gerakan mekanis pintu yang tertutup dan terbuka.
Mungkin inilah saatnya ia berkenalan dengan gadis yang diam-diam kecantikannya ia kagumi itu dan ia memikirkan beberapa teknik pendekatan yang tak terkesan agresif, membuatnya tertawa lalu menciumnya di  bibir sebelum pintu lift lantainya terbuka.
Imajinasi liar itu tak pernah jadi kenyataan. Jatayu menoleh ke langit-langit khawatir kelebatan imajinasinya mengambang di atas kepalanya. Pada saat yang bersamaan gadis yang kulitnya bercahaya itu juga turut melihat langit-langit, lalu mereka saling pandang, dalam pandangan yang saling menjerat, dan kembali memandangi pintu lift yang tertutup, masing-masing menahan senyum. Dalam keadaan seperti itu Jatayu merasa Apartemen Pairidaeza ini memiliki jumlah lantai yang tak terbilang, mengangkat mereka ke ruang hampa udara yang menyesakkan.
Ting. Bunyi penanda lantai menyelamatkan Jatayu dari kekedapan udara. Pintu lift terbuka dan ia keluar meninggalkan si cantik dalam kesendiriannya. “Hey,” sapa suara terindah pada momen itu. Jatayu menoleh ke dalam lift dan wanita berparas menjerat itu menyorongkan tas yang bukan miliknya. “Punyamu.” Jatayu berterima kasih dan tersenyum. Sebelum pintu lift menutup ia sempatkan menyebut namanya. Pintu tertutup perlahan memberi waktu gadis itu menyebutkan namanya: Seruni.
Di pertemuan-pertemuan acak mereka berikutnya, Seruni, dengan naluri kucing hutannya perlahan membuka cangkang Jatayu, apakah lelaki enigmatik yang baru dikenalnya menyimpan mutiara. Jatayu memiliki sifat elusif yang selalu membuat penasaran setiap wanita. Namun pada akhirnya mereka semua akan kecewa mengetahui cangkang indah itu hanya berisi kekosongan.
Mereka mulai saling sapa, sedikit basa-basi, saling melempar godaan tersembunyi, dari dalam lift, swalayan mini 24 jam, taman eden artifisial, hingga suatu malam mereka sampai di kamar Seruni. Aroma krisan merah merebak hingga sudut-sudut kamar. Pada saat itulah Jatayu menjumpai Seruni yang berbeda, tanpa bulu mata palsu, tanpa perona pipi, tanpa bayangan mata, polos dan muram dengan kaus longgar dan rambut yang tak tertata.
Malam itu Seruni mencurahkan pandangan optimisnya dalam hidup, benturan-benturan di masa lalu, romantisme imajiner pangeran berkuda putih, dan pada akhirnya menemukan seorang pria yang mampu menggandengnya hingga akhir bahagia selalu dan selamanya.
Ia adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan logistik yang memiliki bos perhatian kepada setiap anak buah dan perhatian berlebih kepada dirinya. Seruni menyampaikan, pada bosnya itulah ia menemukan sosok pangeran berkuda putihnya, seorang lelaki paruh baya berperut bundar dan mata yang menelanjangi.
Jatayu menyesap air mineral bersodanya dan merasakan punggungnya kembali terasa nyeri. Seruni sedang menggenggam martini keduanya.
“Sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing. Aku butuh tidur cepat.”
“Temani aku lebih lama lagi.”
Jatayu memandang Seruni. Ia merasakan ada perubahan tak terjelaskan dari tetangganya itu.
“Bagaimana kabar pangeranmu?”
Seruni melirik Jatayu, dagunya bertopang tangan.
“Dia telah memberiku banyak hal dan berjanji memberiku lebih banyak lagi. Dan dia berjanji memberiku rumah dengan kitten lucu di dalamnya. Weekend kemarin kami pergi ke Bali dan di sana dia berjanji mengajakku ke menara Eiffel dan di puncaknya dia berjanji akan mencumbuku. Dan dia berjanji menghabiskan malam-malam yang enggak akan habis di sudut bumi terindah, yang tak ada seorang pun yang kenal kami.”
Happily ever after,” timpal Jatayu.
Seruni menghela napas panjang. “Ia semakin banyak berjanji dan semakin sering menghindariku.” Napasnya tertahan. “Dia… Beralasan… Istrinya sedang butuh perhatian lebih darinya… Dan dia berjanji tapi menghindariku.”
Jatayu tak tahu harus berkata apa, tak menyangka kisah semacam ini benar ada. Punggungnya berkedut dan ia merasa sudah saatnya menelan sebutir pil pereda nyeri dan sebutir pil tidur tanpa mimpi.
Pada saat itu sekonyong-konyong Seruni menumpahkan air matanya. Ia menyembunyikan wajahnya dengan sepasang telapak tangan transparan, pundaknya terguncang-guncang. Lalu dengan segera ia mengusap pipi dan menyeka hidungnya, dan tak lama kemudian kembali menumpahkan air mata. Seruni sesenggukan dan coba membendung air matanya dengan memesan martini ketiga. Ia menghabiskan martininya segera, lalu melipat tubuhnya di atas meja.
Jatayu memandangnya sesaat dan mengira wanita itu tertidur karena mabuk. Kemudian ia membayar minuman mereka setelah menyimpulkan Seruni akan seperti itu hingga pagi.
Jatayu pun membopong Seruni di ketiaknya, menyeretnya menuju lift, melewati replika taman firdaus. Di dalam lift yang hanya ada mereka berdua, Seruni mengigau tentang tempat-tempat indah yang jauh, kitten Himalaya, dan bayi merangkak.
Sesampainya di depan kamar Seruni, Jatayu merogoh tas gadis itu mencari kunci kamarnya, membuka pintu lalu membaringkan gadis yang mengigau itu di ranjangnya. Jatayu membuka sepatu gadis itu, meluruskan kakinya di atas ranjang dan memandanginya sesaat.
Ia melihat saat itu Seruni tambah berisi, pinggulnya lebih padat, bulu-bulu halus yang tak pernah ada sebelumnya tumbuh di permukaan kulit betisnya. Kamar itu lebih berantakan dari biasanya, pakaian dalam terserak di sana-sini, kuah mi instan yang tertumpah di lantai, tiga kaleng bir kosong. Di ujung ranjangnya terdapat bola kristal berisi figura mungil sepasang pangeran dan putri dengan buliran salju mengambang, jauh dari realitas kamar satu dimensi itu.
Jatayu tak tahan lagi untuk segera berbaring di ranjangnya. Sepanjang jalan menuju kamarnya, punggungnya meradang. Ia merasakan punggung itu hendak tercabik. Sesampainya di kamar, Jatayu langsung menenggak pil yang ia butuhkan untuk tidur nyenyak, sebutir pereda nyeri, dan sebutir antipiretik agar esok demamnya hengkang.
Tak membutuhkan waktu tujuh menit untuknya menuju alam ketaksadaran. Alih-alih tidur pulas, malam itu ia bermimpi: tentang belasan gagak yang terbang di langit malam, melayang rendah menuju apartemennya dan menabraki kaca balkon menuju kamarnya.
Jatayu terbangun dan merasakan demamnya lenyap. Namun, usai mandi dan bercermin, masih dalam keadaan telanjang, ia mendapati dua buah tonjolan aneh di punggungnya. Sepasang tonjolan itu tak mengeluarkan nyeri seperti hari-hari sebelumnya. Ia menyentuhnya dengan melipat lengannya ke belakang, tak bulat, agak persegi. Ia mencari tahu di mesin pencari dan mendapati bahwa tonjolan itu adalah lipoma, semacam tumor jinak tak berbahaya.
Esok hari sepasang lipoma itu tumbuh semakin ganjil, seperti sepasang belikatnya yang tumbuh memanjang, hingga di hari ketiga lipoma itu sudah membentuknya sepasang sayap dengan bulu-bulu hitam halus yang baru tumbuh, cukup lebar hingga bisa melipat dan melingkupi tubuhnya. Sepasang sayap itu begitu mengganggu pergerakannya, segala benda yang menggantung dan tertata di meja berjatuhan mengenai sayap itu. Kemudian Jatayu membalut sepasang sayap itu seerat mungkin dengan perban hingga pada saat ia mengenakan kemeja dan jas tak ada orang yang begitu memperhatikan tonjolan ganjil di punggungnya. 
Ia berangkat ke kantor membawa serta paranoid dalam dirinya, melewati orang-orang dengan gugup, menghindari tatapan-tatapan ganjil yang mengarah ke punggungnya. Jatayu melewati taman kanak-kanak dan jantungnya berdegup mendapati bocah-bocah yang mengenakan sayap-sayap peri bertabur debu berkilau. Di stasiun ia menunggu datangnya kereta sembari waswas menyaksikan sepasang pemuda berkostum malaikat dengan sayap-sayap merpati buatan Daedalus.
Di dalam kubikelnya ia tak bisa berkonsentrasi mengurai jadwal penerbangan yang sengkarut. Beberapa jadwal bahkan hingga menunda penerbangannya berjam-jam, melayani keluhan pelanggan yang tak terima agenda mereka tertunda dan mendesak uang kembali, memutar kursi menghindari pandangan rekan-rekan kerja yang tertuju ke punggungnya yang menggelembung.
Di antara keriuhan dunia itu ia memikirkan Seruni, bagaimana kabarnya kini setelah terakhir kali mereka bertemu. Jatayu memeriksa akun media sosialnya, dan di lini masa, ia mendapati status Seruni yang tak seperti biasanya.
Gadis itu selalu mempublikasikan curahan hati banal tentang makanan yang baru saja dimakannya di restoran termahal kota itu, tentang tas-tas bermerek teranyar yang baru didapatnya, dan kisah cinta picisan yang ia umbar berlebihan kepada khalayak dunia maya. Tapi sore itu, sebelum ia hendak pulang, Seruni justru mengumumkan kalimat putus asa mengenai negeri dongeng yang tak akan pernah ditemukannya.
Jatayu membaca status itu berulang-ulang dan merasakan firasat yang kelam. Ia orang pertama yang menempelkan sidik jari absen dan bergegas pulang menemui tetangganya itu sebelum semuanya terlambat. Sepanjang jalan pulang sepasang sayap gagak di balik balutan perbannya itu menggeliat sesak. Ia terus berusaha menghubungi Seruni, di mana gadis itu saat ini. Ia coba menghubungi selponnya berkali-kali tapi tak ada tanggapan. Ia coba membuat pemberitahuan di jejaring sosial terbatasnya tapi tak juga ada tanggapan.
Sesampainya di stasiun menuju Apartemen Pairidaeza Jatayu merasa butuh berlari, sepasang sayap yang terkungkung itu hendak berontak.
Ia berlari mendahului pawai panjang pegawai kantor yang menyeret-nyeret kaki mereka, melewati taman kanak-kanak yang jungkat-jungkitnya tak bergerak, ayunannya tak berayun, papan seluncur sepi lengang.
Sesampainya di halaman Apartemen Pairidaeza ia melihat kerumunan sedang menengadahkan pandangan ke puncak apartemen, beberapa orang menunjuk sebuah titik di atas itu. Sesosok siluet yang tak begitu jelas sedang berdiri di ambang kematian. Pikiran pertama yang menyerang Jatayu adalah: Seruni.
Ia pun bergegas menuju lobi utama, melewati taman surga imitasi, berlari menuju lift. Lift penuh sesak dan ia adalah orang terakhir yang masuk mendesak. Penanda kelebihan beban memekik, dan ia terpaksa keluar menaiki lift yang lain. Ia tekan-tekan tak sabar tombolnya agar lift satu itu lekas turun, tapi lift itu baru sampai lantai 30.
Terdesak waktu Jatayu memutuskan mendaki tangga darurat. Ia terus berlari menanjak hingga sepasang kakinya tampak tak menyentuh bumi, melompati tiga anak tangga sekaligus, mendaki, berputar, mendaki, berputar, menghitung setiap lantainya, 13, 14, 15…26, 27, 28… Begitu sampai lantai 40 ia berhenti, kakinya tak sanggup lagi melangkah ke lantai berikutnya. Ia menunduk bertopang lutut, tak ada waktu bahkan untuk sekadar menyeka keringat. 
Putus asa, Jatayu keluar dari pintu darurat itu mencari letak lift, melewati lorong dengan pintu-pintu kamar tertutup. Pada saat ia tergopoh mencari keberadaan lift, Jatayu mendengar lolong suara wanita baya dari salah satu kamar yang tertutup itu. “O-h tolong nak jangan kau lakukan itu.” Jatayu pun mencari-cari sumber suara itu. “Ya Tuhanku, selamatkanlah gadis itu.”
Jatayu mencari sumber lengking suara itu dan mendobrak pintunya. Seorang wanita sedang menengadah bertelekan penyangga balkon, menjaga lompatan jantungnya demi mendengar seseorang mendobrak pintu kamarnya.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk mencuri anak muda.”
Jatayu tak bisa menjelaskan, napasnya terlalu memburu. Dan pada detik itu terdengar koor pekikan jauh di bawah apartemen. Jatayu tak punya waktu lagi, ia membuka jasnya, merenggut buah kancing kemejanya, dan membuka pembalut sayapnya.
Ibu rumah tangga itu terjengkang demi mendapati sepasang sayap gelap membentang dari punggung pemuda asing itu dan memenuhi seisi kamar, menghempaskan segala benda di sekelilingnya.
“Tuhan mengirim malaikat pencabut nyawanya di kamarku.”
Pada saat itulah Seruni jatuh sekelebat melewati balkon kamar itu. Jatayu mengambil langkah lebar, lalu kakinya ia tolak di tubir balkon, melompat. Sepasang sayap kelamnya merekah, terlihat seperti sepasang telapak tangan pendosa menampung doa.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar