Sudah enam belas tahun penduduk negeri itu
merindukan hujan. Semenjak pemerintahan diktator tumbang dan reformasi menjadi
demokrasi yang liar hujan berhenti turun di bumi negeri itu. Padahal, pada saat
pemerintahan diktator itu berkuasa, negeri itu dikenal sebagai negeri hujan.
Segala macam hasil bumi melimpah, rakyat di negeri itu hidup berkecukupan. Untuk
membuat negerinya tetap hidup pemerintahan yang baru memilih mengimpor segala kebutuhan.
Hutan-hutan diberangus
oleh para pengusaha
dan hujan sudah menjadi mitos yang hanya terdapat di negeri dongeng. Sekarang,
di jalan-jalan yang kering dan berdebu, di belakang bak truk-truk yang terjebak
macet, banyak poster bertuliskan slogan misterius seperti ini: Piye Kabare, Isih Penak Jamanku To?
Di tepi jalan yang macet
berkepanjangan itu sepasang bocah ingusan berseragam
merah putih beradu menatap matahari. Siapa yang berhasil menatap matahari lebih lama akan
ditraktir minuman dingin berperisa stroberi. Dan lima menit kemudian salah seorang jatuh terduduk dan memegangi
kepalanya.
“Aku nyerah Do!” kata Dabud sambil mengerjapkan matanya. Kepalanya
terasa pusing. “Matahari itu seperti mau masuk ke mataku.”
“Kau bodoh Bud. Mata tak menyerap matahari,” kata Nardo masih menatap matahari. “Aku menang dan
lagi-lagi kau harus mentraktirku!”
Butuh waktu agak lama bagi mereka
untuk sampai di rumah
masing-masing. Mereka berjalan dengan terhuyung-huyung dan mata yang
berkunang-kunang. Dalam hatinya Nardo mengakui ucapan temannya itu bahwa, matahari seperti hendak masuk ke mata mereka.
Nardo pulang sambil menggenggam minuman dingin berperisa stroberi. Saban hari bocah itu
merasa semakin
gerah saja dan setiap pulang sekolah ia perlu mencari akal bagaimana mendapat minuman
dingin dari
Dabud. Kemarin, Nardo menantang Dabud untuk membakar daun kering dengan lup. Dua hari lalu, mereka bertaruh berlama-lama berdiri dengan
kaki telanjang di permukaan aspal. Nardo semakin kehabisan ide taruhan dan mulai jengah dengan
permainan matahari.
Di rumahnya,
hanya dengan mengenakan kolor yang sudah
belel karetnya ia duduk bersila di depan kipas angin. Minuman
dingin berperisa stroberi yang ia seruput telah habis, menimbulkan bunyi gemuruh di lubang sedotannya.
Ia pun mengunyah batu es yang tersisa di dalamnya.
Saat
merasakan dinginnya es meleleh di lidahnya, Nardo teringat ucapan guru sejarah
mereka bahwa dulu, sebelum ia lahir, hujan sering turun. Saat musim hujan tiba, anak-anak seumurannya langsung berhamburan ke luar rumah untuk menyambut kedatangannya. Mereka bisa bermain apa
saja dengan hujan seperti melompati genangan, atau memperoleh uang
jajan dengan mengojek
payung, bahkan guru sejarah itu mengatakan dulu ia sanggup
menekel kaki teman bermainnya saat meluncur di genangan air berlumpur. Anak-anak di dalam kelas,
termasuk Nardo dan Dabud, takjub mendengar cerita gurunya seperti kisah ajaib
dari negeri dongeng. Nardo lahir setelah pemerintahan otoriter negeri itu lengser dan ia tak tahu
apa pun
mengenai keadaan negeri itu sebelumnya selain yang pernah diceritakan guru sejarah mereka.
Pasti menyenangkan bermain dengan
hujan, khayal
Nardo. Ia jenuh
bermain dengan matahari, dan ingin mencoba bermain dengan hujan seperti yang
diceritakan guru sejarahnya. Ia teringat sebuah kisah dongeng yang pernah dibacanya: Tentang seorang kesatria pemanah
bernama Hou Yi. Dahulu kala di negeri antah berantah, matahari berjumlah sepuluh. Bumi terlalu panas dengan matahari
sebanyak itu. Kemudian
Hou Yi berinisiatif membunuh sembilan matahari dengan panahnya, dan menyisakan satu matahari
agar bumi tetap hangat.
Tak mungkin matahari bisa mati hanya
dengan sekali panah, pikir Nardo. Tapi ia yakin, ada cara lain untuk menghilangkan pijar
panas yang terdapat pada matahari tanpa harus membunuhnya. Nardo dan Dabud sering melakukan
permainan yang bagi orang dewasa kering imajinasi adalah mustahil. Sebelum permainan
taruhan itu Nardo dan Dabud suka bermain dengan kertas. Ratusan origami burung mereka bentuk dan
terbangkan dalam angin kering yang berhembus mengangkasa. Ratusan burung kertas
itu mengepakkan
sayap-sayapnya di langit layaknya migrasi
burung kolibri saat musim berkembang biak. Orang-orang dewasa bertampang dungu melihat
pemandangan itu tanpa acuh dan berujar, “itu pasti fatamorgana akibat terik
matahari”. Bocah-bocah itu justru bersorak saat burung-burung kertas itu terbakar di atas langit. Bagi
mereka peristiwa itu sama sekali tak fantastis. Mereka dapat
menemukan keajaiban serupa hanya dengan bertanya kepada Mbah Google. Bagi
mereka, Mbah
Google lebih meyakinkan dibanding sabda nabi.
Pada gawai pintar pemberian
ayahnya Nardo
mengetik kata kunci: cara membunuh
matahari. Tak lama
kemudian, Mbah Google menjawab, mungkin maksudmu cara menyerap matahari. Setelah itu muncul ribuan laman yang
berisi cara-cara menyerap matahari. Nardo membuka laman teratas, dan kalimat pertama di laman blog itu berbunyi, kau tak akan bisa membunuh matahari.
Lalu kalimat berikutnya tertulis, namun kami tahu
cara menyerapnya dan
melenyapkan pijarnya. Upaya menyerap matahari tak akan sesulit apa yang
orang-orang dewasa bertampang dungu kering imajinasi itu bayangkan. Menyerap matahari akan semudah kau mengikuti langkah-langkah
berikut. Dan Nardo pun membaca setiap kata
dalam artikel itu seperti menyeruput minuman
dingin berperisa stroberi.
Bocah itu
berjalan menuju
tengah simpang empat yang saban hari terjebak macet. Jika kau ingin menyerap
matahari untuk menciptakan hujan, kau harus menemukan lokasi di mana hawa begitu panas, tulis
artikel tersebut. Dan tempat paling panas dan gerah yang ia ketahui adalah simpang empat yang
biasa ia lalui ketika pulang sekolah. Nardo mengenakan kostum hitam dengan bahan serat
kayu rumbia. Perpaduan warna hitam dan serat kayu rumbia adalah bahan yang
tepat untuk menyerap matahari, lagi yang tertulis. Nardo pun berdiri di tengah
simpang empat yang terjebak macet, dan mendongak menantang matahari yang menggantung
pongah di pucuk kepalanya. Pengendara yang kesal dan gerah memandanginya dengan heran. Apa yang dilakukan bocah itu, kata wajah mereka.
Nardo harus menatap matahari lebih lama
dibanding yang pernah ia lakukan ketika bertaruh dengan Dabud. Kau harus
melakukannya hingga kau tak bisa melihat apa pun selain cahaya yang begitu
silau seakan matahari melalap penglihatan dan sekelilingmu, tulis artikel itu. Para pengendara yang
terjebak macet di
perempatan itu lebih heran lagi demi menyaksikan kostum hitam yang dikenakan seorang bocah di
tengah mereka memancarkan cahaya menyilaukan. Mulanya mereka memicingkan mata sebab silau yang tak tertahankan, lalu pada saat membuka mata, kostum itu justru memancarkan
cahaya lembut seperti pendar lampu dari balik kelambu. Tak lama kemudian langit pun menjadi gelap, orang-orang tak
lagi dapat
melihat matahari di atas kepala mereka. Awan-awan berarak berkumpul seperti
anggota keluarga yang telah lama tak berjumpa.
Setelah itu, Nardo berlari menuju
pantai yang berjarak tak jauh dari simpang empat itu. Sesampainya di pantai ia
menanggalkannya, dan dalam keadaan telanjang bulat ia buntal kostum yang telah menyerap seluruh pijar matahari
itu, melemparnya ke laut. Ini adalah langkah terakhir yang tertulis di blog: kau harus melempar kostum itu ke laut untuk
mempercepat proses penguapan air menjadi gumpalan awan kumulonimbus yang pekat untuk menghasilkan
hujan. Di dalam laut, kostum itu berpendar-pendar seraya tenggelam menuju kedalaman.
Dabud datang berlari ke pantai untuk bergabung bersama
Nardo menunggu prosesi jatuhnya
hujan. Mereka
menyaksikan langit semakin gelap dan awan semakin pekat. Tak lama
kemudian ratusan bocah sebaya datang bergabung sambil meneriakkan jatuh-jatuh-jatuh, terdengar seperti
koor mantra pemanggil hujan. Mereka menyesaki garis pantai, mendongakkan kepala ke langit, menyaksikan proses turunnya
hujan seperti menunggu ritual kembang api pada perayaan tahun baru.
Setitik air selebar pasir menetes di kening Nardo yang menghadap
langit, lalu dua
tetes lagi di pipi, dan
setelah itu tiga bulir air sebesar biji jagung menabrak wajahnya, dan seketika buliran
hujan tak terbilang tumpah membasahi
wajah negeri itu.
Para
bocah langsung
bersorak kegirangan menyambut hujan yang sebelumnya hanya berupa mitos di negeri
dongeng. Mereka
semua serentak membuka baju, melemparnya ke langit, berlari tak tentu arah sambil
bertelanjang bulat. Kini langit
di negeri
itu dipenuhi oleh orkes bunyi guntur, hujan yang jatuh ke bumi dan sorak-sorai suara bocah.
Seminggu telah berlalu, hujan tak pernah berhenti
turun. Saban hari anak-anak tak jengah merayakannya dengan permainan yang
pernah disebutkan guru sejarah mereka di sekolah. Mereka melompati genangan, berselancar dengan pelepah nyiur, dan akhirnya Nardo dapat merasakan menekel kaki Dabud
saat meluncur di permukaan genangan air berlumpur.
Namun, keriangan itu tak berlangsung
selamanya. Seminggu lebih tak muncul matahari membikin mereka kehabisan baju untuk
dipakai. Setelahnya mereka tidak bermain di luar dan lebih memilih mengurung diri di atas sofa
hangat, mencangkung kedinginan di balik selimut.
Seorang wanita paruh baya tetangga Nardo yang berfirasat semua ini adalah ulahnya
mendatangi rumahnya, menggedor-gedor pintunya, dan berteriak:
“Anak setan! Tolong kau kembalikan
matahari! Sudah seminggu jemuranku tak kering. Aku tak punya lagi pakaian yang
bisa dipakai tau!”
Kemudian puluhan ibu-ibu menggenggam payung-payung berwarna-warni
turut mengerubungi
rumah bocah itu, mendesak
matahari dikembalikan. Bahkan beberapa membawa spanduk bertuliskan:
Kembalikan Matahari Kami!
Tentu saja peristiwa itu tak luput
dari wartawan
dan disiarkan di televisi. Dari televisi juga Nardo tahu, ratusan kampung tenggelam tersebab hujan berkepanjangan.
Di layar televisi ia melihat sebuah keluarga meringkuk kedinginan di atas atap rumah seraya cemas menyaksikan air yang meluap
menyentuh ujung jari kaki mereka. Karena tak pernah siap terhadap musim hujan yang tiba-tiba
dan berkepanjangan ini pemerintah di negeri itu kalang kabut. Semua instansi baik itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
Dinas Sosial,
Lingkungan Hidup
dan Klimatologi, tak luput Parlemen, sampai baku hantam sebab tak menemukan titik terang bagaimana
cara menanggulangi hujan yang tak pernah usai ini.
Nardo tak tahu harus berbuat
bagaiamana. Ia tak tahu akan seperti ini jadinya.
Dengan putus asa bocah itu pun kembali bertanya kepada Mbah Google perihal upaya
mengembalikan pijar matahari. Ia mengunjungi laman yang sama yang telah mengajarinya cara
menyerap matahari. Setelah membaca kembali artikel itu Nardo menyadari ternyata
terdapat notabene yang sebelum
ini abai dibacanya:
NB: Jika kau mengikuti
langkah-langkah di atas dan berhasil menyerap matahari, artikel ini tak bisa memberitahumu upaya untuk mengembalikannya. Tim
riset kami pun sedang berupaya mencari caranya. Kau bisa menunggunya hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
-Hizbul Ridho
-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar