Minggu, 23 Agustus 2020

Upaya Menyerap Matahari








Sudah enam belas tahun penduduk negeri itu merindukan hujan. Semenjak pemerintahan diktator tumbang dan reformasi menjadi demokrasi yang liar hujan berhenti turun di bumi negeri itu. Padahal, pada saat pemerintahan diktator itu berkuasa, negeri itu dikenal sebagai negeri hujan. Segala macam hasil bumi melimpah, rakyat di negeri itu hidup berkecukupan. Untuk membuat negerinya tetap hidup pemerintahan yang baru memilih mengimpor segala kebutuhan. Hutan-hutan diberangus oleh para pengusaha dan hujan sudah menjadi mitos yang hanya terdapat di negeri dongeng. Sekarang, di jalan-jalan yang kering dan berdebu, di belakang bak truk-truk yang terjebak macet, banyak poster bertuliskan slogan misterius seperti ini: Piye Kabare, Isih Penak Jamanku To?

Di tepi jalan yang macet berkepanjangan itu sepasang bocah ingusan berseragam merah putih beradu menatap matahari. Siapa yang berhasil menatap matahari lebih lama akan ditraktir minuman dingin berperisa stroberi. Dan lima menit kemudian salah seorang jatuh terduduk dan memegangi kepalanya.

“Aku nyerah Do!” kata Dabud sambil mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing. “Matahari itu seperti mau masuk ke mataku.”

“Kau bodoh Bud. Mata tak menyerap matahari,” kata Nardo masih menatap matahari. “Aku menang dan lagi-lagi kau harus mentraktirku!”

Butuh waktu agak lama bagi mereka untuk sampai di rumah masing-masing. Mereka berjalan dengan terhuyung-huyung dan mata yang berkunang-kunang. Dalam hatinya Nardo mengakui ucapan temannya itu bahwa, matahari seperti hendak masuk ke mata mereka. Nardo pulang sambil menggenggam minuman dingin berperisa stroberi. Saban hari bocah itu merasa semakin gerah saja dan setiap pulang sekolah ia perlu mencari akal bagaimana mendapat minuman dingin dari Dabud. Kemarin, Nardo menantang Dabud untuk membakar daun kering dengan lup. Dua hari lalu, mereka bertaruh berlama-lama berdiri dengan kaki telanjang di permukaan aspal. Nardo semakin kehabisan ide taruhan dan mulai jengah dengan permainan matahari.

Di rumahnya, hanya dengan mengenakan kolor yang sudah belel karetnya ia duduk bersila di depan kipas angin. Minuman dingin berperisa stroberi yang ia seruput telah habis, menimbulkan bunyi gemuruh di lubang sedotannya. Ia pun mengunyah batu es yang tersisa di dalamnya.

Saat merasakan dinginnya es meleleh di lidahnya, Nardo teringat ucapan guru sejarah mereka bahwa dulu, sebelum ia lahir, hujan sering turun. Saat musim hujan tiba, anak-anak seumurannya langsung berhamburan ke luar rumah untuk menyambut kedatangannya. Mereka bisa bermain apa saja dengan hujan seperti melompati genangan, atau memperoleh uang jajan dengan mengojek payung, bahkan guru sejarah itu mengatakan dulu ia sanggup menekel kaki teman bermainnya saat meluncur di genangan air berlumpur. Anak-anak di dalam kelas, termasuk Nardo dan Dabud, takjub mendengar cerita gurunya seperti kisah ajaib dari negeri dongeng. Nardo lahir setelah pemerintahan otoriter negeri itu lengser dan ia tak tahu apa pun mengenai keadaan negeri itu sebelumnya selain yang pernah diceritakan guru sejarah mereka.

Pasti menyenangkan bermain dengan hujan, khayal Nardo. Ia jenuh bermain dengan matahari, dan ingin mencoba bermain dengan hujan seperti yang diceritakan guru sejarahnya. Ia teringat sebuah kisah dongeng yang pernah dibacanya: Tentang seorang kesatria pemanah bernama Hou Yi. Dahulu kala di negeri antah berantah, matahari berjumlah sepuluh. Bumi terlalu panas dengan matahari sebanyak itu. Kemudian Hou Yi berinisiatif membunuh sembilan matahari dengan panahnya, dan menyisakan satu matahari agar bumi tetap hangat.

Tak mungkin matahari bisa mati hanya dengan sekali panah, pikir Nardo. Tapi ia yakin, ada cara lain untuk menghilangkan pijar panas yang terdapat pada matahari tanpa harus membunuhnya. Nardo dan Dabud sering melakukan permainan yang bagi orang dewasa kering imajinasi adalah mustahil. Sebelum permainan taruhan itu Nardo dan Dabud suka bermain dengan kertas. Ratusan origami burung mereka bentuk dan terbangkan dalam angin kering yang berhembus mengangkasa. Ratusan burung kertas itu mengepakkan sayap-sayapnya di langit layaknya migrasi burung kolibri saat musim berkembang biak. Orang-orang dewasa bertampang dungu melihat pemandangan itu tanpa acuh dan berujar, “itu pasti fatamorgana akibat terik matahari”. Bocah-bocah itu justru bersorak saat burung-burung kertas itu terbakar di atas langit. Bagi mereka peristiwa itu sama sekali tak fantastis. Mereka dapat menemukan keajaiban serupa hanya dengan bertanya kepada Mbah Google. Bagi mereka, Mbah Google lebih meyakinkan dibanding sabda nabi.

Pada gawai pintar pemberian ayahnya Nardo mengetik kata kunci: cara membunuh matahari. Tak lama kemudian, Mbah Google menjawab, mungkin maksudmu cara menyerap matahari. Setelah itu muncul ribuan laman yang berisi cara-cara menyerap matahari. Nardo membuka laman teratas, dan kalimat pertama di laman blog itu berbunyi, kau tak akan bisa membunuh matahari. Lalu kalimat berikutnya tertulis, namun kami tahu cara menyerapnya dan melenyapkan pijarnya. Upaya menyerap matahari tak akan sesulit apa yang orang-orang dewasa bertampang dungu kering imajinasi itu bayangkan. Menyerap matahari akan semudah kau mengikuti langkah-langkah berikut. Dan Nardo pun membaca setiap kata dalam artikel itu seperti menyeruput minuman dingin berperisa stroberi.


Bocah itu berjalan menuju tengah simpang empat yang saban hari terjebak macet. Jika kau ingin menyerap matahari untuk menciptakan hujan, kau harus menemukan lokasi di mana hawa begitu panas, tulis artikel tersebut. Dan tempat paling panas dan gerah yang ia ketahui adalah simpang empat yang biasa ia lalui ketika pulang sekolah. Nardo mengenakan kostum hitam dengan bahan serat kayu rumbia. Perpaduan warna hitam dan serat kayu rumbia adalah bahan yang tepat untuk menyerap matahari, lagi yang tertulis. Nardo pun berdiri di tengah simpang empat yang terjebak macet, dan mendongak menantang matahari yang menggantung pongah di pucuk kepalanya. Pengendara yang kesal dan gerah memandanginya dengan heran. Apa yang dilakukan bocah itu, kata wajah mereka.

Nardo harus menatap matahari lebih lama dibanding yang pernah ia lakukan ketika bertaruh dengan Dabud. Kau harus melakukannya hingga kau tak bisa melihat apa pun selain cahaya yang begitu silau seakan matahari melalap penglihatan dan sekelilingmu, tulis artikel itu. Para pengendara yang terjebak macet di perempatan itu lebih heran lagi demi menyaksikan kostum hitam yang dikenakan seorang bocah di tengah mereka memancarkan cahaya menyilaukan. Mulanya mereka memicingkan mata sebab silau yang tak tertahankan, lalu pada saat membuka mata, kostum itu justru memancarkan cahaya lembut seperti pendar lampu dari balik kelambu. Tak lama kemudian langit pun menjadi gelap, orang-orang tak lagi dapat melihat matahari di atas kepala mereka. Awan-awan berarak berkumpul seperti anggota keluarga yang telah lama tak berjumpa.

Setelah itu, Nardo berlari menuju pantai yang berjarak tak jauh dari simpang empat itu. Sesampainya di pantai ia menanggalkannya, dan dalam keadaan telanjang bulat ia buntal kostum yang telah menyerap seluruh pijar matahari itu, melemparnya ke laut. Ini adalah langkah terakhir yang tertulis di blog: kau harus melempar kostum itu ke laut untuk mempercepat proses penguapan air menjadi gumpalan awan kumulonimbus yang pekat untuk menghasilkan hujan. Di dalam laut, kostum itu berpendar-pendar seraya tenggelam menuju kedalaman.

Dabud datang berlari ke pantai untuk bergabung bersama Nardo menunggu prosesi jatuhnya hujan. Mereka menyaksikan langit semakin gelap dan awan semakin pekat. Tak lama kemudian ratusan bocah sebaya datang bergabung sambil meneriakkan jatuh-jatuh-jatuh, terdengar seperti koor mantra pemanggil hujan. Mereka menyesaki garis pantai, mendongakkan kepala ke langit, menyaksikan proses turunnya hujan seperti menunggu ritual kembang api pada perayaan tahun baru.

Setitik air selebar pasir menetes di kening Nardo yang menghadap langit, lalu dua tetes lagi di pipi, dan setelah itu tiga bulir air sebesar biji jagung menabrak wajahnya, dan seketika buliran hujan tak terbilang tumpah membasahi wajah negeri itu. Para bocah langsung bersorak kegirangan menyambut hujan yang sebelumnya hanya berupa mitos di negeri dongeng. Mereka semua serentak membuka baju, melemparnya ke langit, berlari tak tentu arah sambil bertelanjang bulat. Kini langit di negeri itu dipenuhi oleh orkes bunyi guntur, hujan yang jatuh ke bumi dan sorak-sorai suara bocah.


Seminggu telah berlalu, hujan tak pernah berhenti turun. Saban hari anak-anak tak jengah merayakannya dengan permainan yang pernah disebutkan guru sejarah mereka di sekolah. Mereka melompati genangan, berselancar dengan pelepah nyiur, dan akhirnya Nardo dapat merasakan menekel kaki Dabud saat meluncur di permukaan genangan air berlumpur.

Namun, keriangan itu tak berlangsung selamanya. Seminggu lebih tak muncul matahari membikin mereka kehabisan baju untuk dipakai. Setelahnya mereka tidak bermain di luar dan lebih memilih mengurung diri di atas sofa hangat, mencangkung kedinginan di balik selimut.

Seorang wanita paruh baya tetangga Nardo yang berfirasat semua ini adalah ulahnya mendatangi rumahnya, menggedor-gedor pintunya, dan berteriak:

“Anak setan! Tolong kau kembalikan matahari! Sudah seminggu jemuranku tak kering. Aku tak punya lagi pakaian yang bisa dipakai tau!”

Kemudian puluhan ibu-ibu menggenggam payung-payung berwarna-warni turut mengerubungi rumah bocah itu, mendesak matahari dikembalikan. Bahkan beberapa membawa spanduk bertuliskan: Kembalikan Matahari Kami!

Tentu saja peristiwa itu tak luput dari wartawan dan disiarkan di televisi. Dari televisi juga Nardo tahu, ratusan kampung tenggelam tersebab hujan berkepanjangan. Di layar televisi ia melihat sebuah keluarga meringkuk kedinginan di atas atap rumah seraya cemas menyaksikan air yang meluap menyentuh ujung jari kaki mereka. Karena tak pernah siap terhadap musim hujan yang tiba-tiba dan berkepanjangan ini pemerintah di negeri itu kalang kabut. Semua instansi baik itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Dinas Sosial, Lingkungan Hidup dan Klimatologi, tak luput Parlemen, sampai baku hantam sebab tak menemukan titik terang bagaimana cara menanggulangi hujan yang tak pernah usai ini.

Nardo tak tahu harus berbuat bagaiamana. Ia tak tahu akan seperti ini jadinya. Dengan putus asa bocah itu pun kembali bertanya kepada Mbah Google perihal upaya mengembalikan pijar matahari. Ia mengunjungi laman yang sama yang telah mengajarinya cara menyerap matahari. Setelah membaca kembali artikel itu Nardo menyadari ternyata terdapat notabene yang sebelum ini abai dibacanya:


NB: Jika kau mengikuti langkah-langkah di atas dan berhasil menyerap matahari, artikel ini tak bisa memberitahumu upaya untuk mengembalikannya. Tim riset kami pun sedang berupaya mencari caranya. Kau bisa menunggunya hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

-Hizbul Ridho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar